Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


XIE Lian mencoba menenangkan anak itu, “Jangan takut, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya ingin memeriksa lukamu.” Namun, anak itu tampak menekan tangannya lebih keras lagi pada salah satu wajahnya, hanya memperlihatkan satu mata obsidian besar miliknya, tampak panik. Tapi kepanikan ini bukan jenis kepanikan karena dirinya takut dipukuli, akan tetapi jenis kepanikan bahwa sesuatu mungkin akan ditemukan.

Melihat wajah kecil ini yang tampak setengah tertutup dan hanya memperlihatkan salah satu mata besar miliknya, Xie Lian tiba-tiba berpikir bahwa dia mungkin pernah melihat anak ini di suatu tempat dan Xie Lian tampak memicingkan matanya. Qi Rong melihat wajah kecewa yang terpasang di wajah Xie Lian dan menjelaskan, “Putra Mahkota sepupu, iblis kecil itu sudah merusak upacara akbar milikmu kemarin, jadi aku berniat untuk membalaskan dendam kepadanya untukmu. Jangan khawatir, aku berhati-hati, dia tidak akan mati.”

Benar saja, anak yang dipeluknya adalah anak yang jatuh dari tembok kota selama Prosesi Upacara Surgawi ShangYuan sehari sebelumnya!

Tidak heran jika Xie Lian pikir dia tampak begitu mengenali anak ini. Anak kecil ini bahkan belum berubah; dia masih mengenakan pakaian yang sama seperti hari sebelumnya, tetapi karena semua pukulan yang diterimanya dan tubuhnya telah diseret sebelumnya, tubuhnya tampak lebih kotor dan tidak terlihat seperti sebelumnya, bahkan anak ini tidak seperti anak yang sama seperti sebelumnya. Xie Lian tidak bisa menahan amarahnya lagi, “SIAPA YANG MEMBERIMU PERINTAH UNTUK MEMBALASKAN DENDAM UNTUKKU??? TIDAK ADA YANG PERLU DILAKUKAN TERHADAP ANAK INI, ANAK INI SAMA SEKALI TIDAK BERSALAH!”

Qi Rong mencoba membenarkan perlakuan yang sudah dia lakukan sendiri, “Tentu saja itu salahnya. Jika bukan karena dia, kamu tidak akan dimarahi oleh Kepala Pendeta!”

Keributan ini semakin tidak terkendali, dan kerumunan orang yang menonton menjadi lebih besar, semua orang saling berbisik. Saat itu, Mu Qing tampak mendekati mereka dan Qi Rong mengarahkan cambuknya kepadanya, ekspresinya yang tidak setuju dipenuhi dengan permusuhan, “Dan kamu! Kamu hanya seorang hamba rendahan. Hanya dari penampilannya aku bisa mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tahu tempatnya sendiri. Jika kamu tidak mendisiplinkannya, cepat atau lambat dia akan menggulingkan dan menginjakmu, tuannya sendiri. Aku membantumu untuk mendisiplinkannya, tetapi kamu berbalik dan membelanya sebagai gantinya, dan bahkan mengajariku. Sekarang Paman dan Bibi tidak hanya mengabaikan niat baik yang aku miliki, mereka bahkan menyita kereta emas milikku! Sepupu, itu adalah hadiah ulang tahunku! Aku sudah menginginkannya selama lebih dari dua tahun!!”

Mu Qing memberi Qi Rong sebuah pandangan yang sama sekali tidak terbaca. Xie Lian menghembuskan tawa dari amarahnya, “Aku tidak butuh niat baikmu, bukan seperti ini. Apakah kamu benar-benar membalaskan dendam untukku? Atau apakah kamu hanya ingin membalaskan dendam untuk dirimu sendiri?”

“…” Qi Rong berkata, “Sepupu, mengapa kamu mengatakan hal seperti itu padaku? Dan apakah yang aku lakukan begitu salah yang hanya mengikutimu??”

Xie Lian tidak bisa membantahnya, “Qi Rong, dengarkan aku. Mulai sekarang, Kamu tidak diperbolehkan untuk menyentuh anak ini. Bahkan seujung jari pun! APAKAH KAMU MENDENGARKU!”

Saat itu, Xie Lian tiba-tiba merasakan tarikan di lehernya. Dia berada di puncak amarahnya dan terkejut. Dia melihat ke bawah dan melihat anak kecil itu tampak tengah membenamkan wajahnya di dada Xie Lian, kedua tangannya dengan erat melingkari leher Xie Lian. Xie Lian merasakan tubuhnya bergetar tak terkendali dan mengira anak itu terluka. Dia bertanya dengan tergesa-gesa, “Ada apa?”

Anak kecil itu diselimuti lumpur, debu, dan darah, tampak begitu kotor dan tidak terawat, dan semua itu kini telah mengotori jubah putih Xie Lian, tetapi Xie Lian sama sekali tidak keberatan dengan semua itu. Dia dengan lembut menepuk punggung anak itu untuk menghiburnya dan berkata dengan suara lembut, “Aku akan membawamu ke dokter sekarang.”

Anak itu tidak menanggapinya tetapi dia tampak memeluk Xie Lian lebih erat. Dia tampak begitu tegang dan tidak mau melepaskan pelukannya, seolah-olah garis hidupnya hanya berpegang pada Xie Lian. Qi Rong melihat bahwa Xie Lian tidak akan mengakui niat baiknya, hatinya hanya ditujukan pada orang luar ini, kemudian ketika Qi Rong melihat anak itu menodai jubah Xie Lian dengan darah dan lumpur dari tubuhnya, amarahnya kembali berkobar. Dia mengangkat cambuknya dan hendak memukul bagian belakang kepala anak itu. Feng Xin tampak berdiri di sampingnya, dan dalam sepersekian detik, kakinya tampak terbang dan menendang Qi rong tepat di lengannya.

Terdengar suara CRACK yang begitu keras dan Qi Rong menjerit, cambuk di tangannya jatuh ke tanah, dan lengan kanannya jatuh terkulai membentuk sudut yang tidak normal. Dia masih terdiam dan begitu tidak percaya dengan semua hal yang terjadi begitu singkat itu untuk sementara waktu sebelum dia perlahan mengangkat kepalanya, dia menatap Feng Xin, mengucapkan setiap kata, “Kau, BERANI-BERANINYA MEMATAHKAN LENGANKU!”

Kata-katanya terdengar begitu dingin. Hanya sampai setelah dia memberikan sebuah tendangan, Feng Xin kini sepenuhnya menyadari apa yang telah dia lakukan, dan wajahnya tampak berubah, tetapi wajah Mu Qing berubah lebih drastis dari perubahan wajah yang dialami dua orang lainnya.

Tidak peduli berapa banyak mereka membenci Qi Rong di belakangnya, itu adalah satu hal yang lain. Tetapi sebagai seorang pelayan pribadi, yang telah bertindak melampaui batas dan tanpa sengaja mematahkan lengan seorang bangsawan, adalah sesuatu hal yang sama sekali berbeda!

Xie Lian kini menyadari bahwa tangannya penuh dengan anak itu, dan di belakangnya sudah sangat dipenuhi dengan begitu banyak kerumunan penonton jadi dia tidak bisa mengelak jika Qi Rong benar-benar mendaratkan serangannya kepada anak itu, tetapi jika dia menghindarinya, dia juga pasti sudah berubah menjadi sepotong kue. Hanya saja, Qi Rong datang kepadanya dengan sebuah serangan dan semua itu sering terjadi dengan begitu tiba-tiba, Feng Xin bergerak terlalu cepat tanpa berpikir, Xie Lian tidak memiliki kesempatan untuk menghentikannya. Sekarang semuanya menjadi lebih penuh dengan kekacauan dan Xie Lian juga tidak punya waktu untuk berpikir. Pakaiannya basah oleh darah, jika mereka menunda lebih lama lagi, anak itu mungkin akan mati di sana. Xie Lian membuat keputusan sepersekian detik kemudian, menghirup napas dalam-dalam, dan berteriak dengan suara yang jelas, “SEMUA ORANG, JIKA SIAPAPUN DARI KALIAN TERSERET KE DALAM MASALAH INI PADA HARI INI, TOLONG CATAT SETIAP KERUSAKAN DAN KERUGIAN YANG KALIAN ALAMI. AKU AKAN MENGAMBIL SEMUA TANGGUNG JAWAB ITU TANPA KEGAGALAN SEDIKIT PUN!”

Kemudian, Xie Lian berbalik ke arah Feng Xin dan Mu Qing, “Selamatkan anak ini terlebih dahulu. Bawa Qi Rong pergi, dan jangan biarkan dia melanjutkan kekacauan di luar.” Ketika Xie Lian sudah menyelesaikan perintahnya, Xie Lian kemudian berlari menuju istana dengan anak itu yang masih berada di lengannya. Feng Xin ketika menerima perintah itu, ekspresinya kembali berubah menjadi lebih normal, dan kemudian mengambil Qi Rong yang masih mengamuk sebelum mengikuti Xie Lian di belakangnya. Para prajurit yang menjaga gerbang istana berpikir bahwa suatu hal yang aneh ketika mereka melihat Putra Mahkota berlari kembali hanya setelah beberapa saat yang lalu berjalan meninggalkan istana, tetapi tentu saja mereka tidak akan menghentikannya, Dengan demikian, Xie Lian berlari langsung menuju ke paviliun medis, dan memasuki paviliun itu meninggalkan Feng Xin dan Mu Qing di luar pintu dengan Qi Rong yang ditahan.

Putra Mahkota jarang kembali ke istana dan jarang mengajukan permintaan, sehingga para dokter kekaisaran dengan cepat bergegas melakukan tugas mereka. Xie Lian menempatkan anak kecil itu di kursi dan berkata, “Terima kasih sebelumnya, semuanya. Anak ini sudah dipukuli oleh sejumlah orang dewasa, dimasukkan ke dalam karung goni, dan diseret di jalan. Tolong periksa apakah ada cedera kepala yang dia alami terlebih dahulu, itu hal yang paling penting.”

Tim medis kekaisaran belum pernah melihat seorang bangsawan ataupun pangeran yang datang dengan membawa bayi liar yang begitu kotor untuk disembuhkan sebelumnya, tetapi mereka juga tahu bahwa yang perlu mereka lakukan adalah menjalankan apa pun perintah yang diberikan kepada mereka dan mereka semua mulai menjalankan perintah yang diberikan Xie Lian. Salah satu dari mereka berbicara, “Turunkan tanganmu dulu, anak kecil.”

Namun, meskipun anak muda itu jinak dalam pelukan Xie Lian sepanjang waktu, ia mulai memberontak saat itu dan dengan tegas menutupi sisi kanan wajahnya, menolak untuk melepaskannya apapun yang terjadi. Tidak peduli seberapa ahli dokter kekaisaran itu, jika pasien tidak mau bekerja sama, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Para dokter memandang Xie Lian, “Yang Mulia, bagaimana …?”

Xie Lian mengangkat tangannya, “Dia mungkin takut pada orang asing. Jangan khawatir, biarkan aku yang melakukannya.”

Anak itu sedang duduk di kursi dan Xie Lian tidak bisa menatap matanya sehingga dia membungkuk ke depan dan memiringkan kepalanya, “Siapa namamu?”

Mata besar anak itu menatapnya dengan penuh perhatian, matanya yang hitam layaknya obsidian memantulkan pantulan putih salju. Tatapan ini, jika harus dijelaskan, persis seperti yang dikatakan Feng Xin – “Dimiliki oleh iblis”, dan seharusnya tidak menjadi tatapan seorang anak.

Itu adalah jeda yang cukup lama sebelum anak itu menundukkan kepalanya, “… Hong …”

Suaranya terdengar begitu kecil dan lembut, bergumam, seakan tidak ingin mengatakannya, tetapi juga sedikit malu. Xie Lian hanya semacam mendengar kata “Hong”1 dan bertanya lagi, “Berapa umurmu?”

“Sepuluh.” Jawab anak itu.

Xie Lian hanya bertanya begitu saja, berharap untuk menurunkan penjagaannya, tetapi mendengar bahwa dia menjawab dengan “Sepuluh”, dia terkejut dan berpikir, ‘Aku pikir dia baru tujuh atau delapan tahun, tapi dia ternyata berumur sepuluh tahun? Anak ini benar-benar lemah dan begitu kurus.’

Setelah jeda, Xie Lian tersenyum lembut, “Para dokter akan merawat lukamu sekarang, jangan takut dan turunkan tanganmu, oke?”

Anak itu mendengar apa yang dikatakan Xie Lian dengan jelas, tetapi dengan ragu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa tidak?” Tanya Xie Lian.

Anak itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Jelek.”

Tanggapannya adalah satu-satunya kata yang dia katakan, dan tidak peduli bagaimana Xie Lian menenangkan anak itu, dia menolak untuk melepaskan tangannya. Xie Lian berjanji bahwa dia tidak akan menganggapnya jelek, bahwa dia tidak akan melihat, Xie Lian berkata bahwa dia akan berbalik dan tidak akan melihatnya, namun kedua usaha itu tidak juga berhasil. Usia yang begitu muda tetapi juga sangat keras kepala. Tanpa pilihan lain, dokter kekaisaran hanya bisa mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, membuatnya mengenali sejumlah jari, memastikan bahwa anak itu tidak merasa pusing atau sakit kepala, bahwa ia memahami apa yang dilihatnya dan apa yang ia pikirkan, kemudian mereka cenderung memeriksa luka fisiknya.

Ketika dokter kekaisaran melakukan tugasnya, mereka menjadi semakin kagum. Xie Lian berjaga di sebelahnya, mendengar suara heran mereka, dan bertanya, “Bagaimana keadaan anak ini?”

Salah satu dokter kekaisaran tidak bisa tidak bertanya, “Yang Mulia, apakah anak kecil ini benar-benar dipukuli dan diseret di jalan dengan karung goni?”

Xie Lian tidak bisa berkata apa-apa, “Apakah ada yang salah?”

Dokter kekaisaran menjawab, “Jika itu yang terjadi, maka … ini semua sangat menakjubkan. Aku belum pernah melihat orang yang begitu kuat seperti ini. Dia memiliki lima tulang rusuk yang patah dan satu kaki yang juga patah, sejumlah luka besar dan kecil, dan dengan semua itu dirasakan sekaligus, dia masih mampu menjaga dirinya tetap sadar dan bahkan mengobrol sambil duduk. Bahkan orang dewasa akan merasa kesulitan untuk melakukannya, tapi ini bahkan seorang anak berusia sepuluh tahun?”

Mendengar betapa parahnya cedera itu, Xie Lian menjadi lebih marah pada Qi Rong. Dia melihat ke arah anak itu dan melihat bahwa dia duduk di sana, di kursi itu seolah-olah dia tidak merasakan sakit, dan menatap Xie Lian sembunyi-sembunyi dengan mata kiri berwarna hitam besar itu. Ketika dia menyadari bahwa dia tertangkap basah oleh Xie Lian telah menatapnya, dia segera memalingkan wajahnya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Hong adalah kata untuk ‘merah’.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments