Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Buku 2: Putra Mahkota yang Menyenangkan Dewa


Pedang itu menusuk, menembus jantung sesosok iblis, dan membunuhnya sampai mati di tanah.

“Dengan berkah surgawi, Iblis dibunuh dan kejahatan ditundukkan!”

Di kedua sisi Jalan Utama Dewa Bela Diri, sorak-sorai meledak seperti arus samudera, mereka datang bak gelombang demi gelombang, satu demi satu dan jauh lebih tinggi. Di depan gerbang merah istana itu, tepatnya di halaman, dua kultivator yang tengah memainkan peran menjadi seorang dewa dan iblis membungkuk kepada kerumunan di sekitarnya dan berdiri bersebelahan satu sama lain. Pertandingan bela diri yang membuka pertunjukan itu begitu dipenuhi kegembiraan di kota; tidak hanya jalanan yang begitu ramai, bahkan atap rumah-rumah di sepanjang jalan dipenuhi oleh orang-orang yang begitu berani mendaki tempat itu, bertepuk tangan dan berteriak. Kerumunan orang disana benar-benar menjadi begitu liar.

Perayaan sebesar ini benar-benar dipenuhi oleh begitu banyak orang dan keramaian. Dalam sejarah Kerajaan Xian Le, jika festival ShangYuan2 semakin dekat, jika kita tidak pergi sekarang, kita akan kehilangan semua itu!”

Mendengar ini, Kepala Pendeta berdoa agar pasukan pemberontak tiba-tiba menyerang dan mengganggu Parade ShangYuan sepenuhnya.

Sakit kepalanya kambuh pada saat yang paling penting!

Jika sakit kepala ini dirasakan oleh orang lain, dia pasti sudah mengaum dengan amarah, bahkan mungkin tidak aneh jika orang itu akan mengangkat pedangnya untuk membunuh. Tetapi sakit kepala ini adalah bukti kebanggaan dan kegembiraannya, dan sesuatu yang sangat, sangat, sangat terhormat. Dia tidak bisa kalah dengan itu, dia tidak bisa berteriak padanya, dan dia pasti tidak bisa membunuhnya. Daripada membunuhnya, dia lebih mungkin bunuh diri!

Saat itu, seseorang berlari melintasi jalan istana berwarna hitam, bergegas menuju ke istana, berteriak, “Tuan Kepala Pendeta, mengapa parade belum dimulai? Waktunya akan segera berlalu, semua orang di luar tampak gelisah!”

Orang yang datang itu juga adalah seorang pemuda berusia enam belas atau tujuh belas tahun, tubuhnya tegak dan tinggi, kulitnya berwarna gandum, punggungnya membawa busur hitam panjang dan getaran putih salju. Bibirnya ditekan rapat, alisnya merajut. Bahkan pada usia yang begitu muda, matanya tampak begitu kuat dan teguh. Saat Kepala Pendeta melihatnya, dia segera meraih pemuda itu, “Feng Xin! Di mana Yang Mulia??”

Feng Xin terkejut, tetapi langsung tampak memahami sesuatu, dan dengan segera kemarahan memenuhi matanya, dia mengalihkan pandangannya ke Mu Qing. Adapun Mu Qing dia sudah memakai topeng iblisnya kembali tanpa kata, ekspresinya tak terlihat. Feng Xin berkata dengan sedih, “Tidak ada waktu untuk menjelaskan semua ini! Silakan mulai pawai segera, Yang Mulia Putra Mahkota tidak akan mengecewakanmu!”

Tidak ada jalan keluar. Membawa panggung besar tanpa Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa di atasnya adalah kematian; menunda prosesi dan melewatkan waktu yang kebetulan juga adalah kematian. Dengan putus asa, Kepala Pendeta melambaikan tangannya, “Mulai musiknya; kita berangkat!”

Setelah menerima perintah itu, suara seruling dan dawai yang dipetik mulai dimainkan, dan ratusan prajurit kerajaan di depan prosesi itu berteriak, memulai pawai mereka, memimpin parade besar yang mengesankan. Mereka telah pergi!

Para prajurit di depan melambangkan jalan berduri dari dunia fana. Segera menyusul adalah gadis-gadis perawan yang dipilih secara khusus, begitu cantik dan anggun, keranjang di tangan mereka, para gadis mulai melemparkan bunga di udara seperti peri, membuka jalan dengan bunga dan mengisinya dengan aroma bunga itu. Para musisi menaiki kereta emas. Begitu pawai itu meninggalkan gerbang istana, banyak orang yang begitu kagum dan takjub melihatnya, mereka berjuang untuk menangkap bunga itu. Namun, tidak peduli seberapa megahnya, betapa agungnya, semua ini hanyalah tindakan pemanasan dan baru dimulai. Panggung besar yang mengapung, sebuah panggung megah akan segera muncul.

Enam belas kuda jantan putih mengenakan emas menarik sebuah panggung besar dari kedalaman gerbang istana, perlahan-lahan mulai terlihat di depan jutaan mata. Di atas panggung, iblis tampak berpakaian hitam, topeng mengerikan terpasang di wajahnya, sebuah pedang besar sepanjang sembilan kaki di depannya, dan dengan serius iblis itu segera mengubah tubuhnya ke posisi bertarung.

Jantung milik Kepala Pendeta tampak berdetak dengan keras dan begitu tegang, menunggu keajaiban. Namun, tidak ada keajaiban yang terjadi. Beberapa kerumunan mulai mengobrol. Di atas panggung tinggi, para bangsawan dan pangeran tampak mengerutkan kening, saling memandang, semua bertanya-tanya, “Apa yang terjadi? Kenapa Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa tidak ada di panggung?”

“Apakah Yang Mulia Putra Mahkota belum datang?”

“Di mana saudara Lian?”

Di tengah panggung tinggi duduk seorang lelaki yang tampak begitu bermartabat, tampan, dan disampingnya tampak seorang wanita bangsawan yang berwajah pucat, tampak begitu baik, dan ramah. Mereka berdua adalah Raja dan Ratu Kerajaan Xian Le. Tidak melihat orang yang seharusnya ada di sana, ratu tampak khawatir dan menatap raja. Raja memegang tangannya, menggunakan tatapannya untuk menghibur, menyuruhnya untuk tidak perlu khawatir, dan hanya perlu menonton dan melihat apa yang akan terjadi. Namun, kerumunan di bawah tidak memiliki siapa pun untuk menghibur mereka, dan mereka mulai berteriak dengan nyaring, teriakan yang sangat keras itu hampir bisa menaikkan atap. Kepala Pendeta berharap dia memiliki keberanian untuk bunuh diri. Namun, Mu Qing yang berada di atas panggung cukup tenang. Bahkan tanpa lawannya, dia masih tampak begitu tenang, mengurus misinya sendiri, dan CLANG, dia melempar pedangnya yang berat, meletakkannya tegak di depannya.

Melakukan putaran pembantaian yang mengerikan, pemuda berpakaian hitam itu begitu mengesankan kemudian mengakhiri tindakan pembukaannya sebagai ‘iblis’.

Dengan wajah dan bentuk tubuhnya, Mu Qing terlihat begitu lembut dan elegan seperti seorang murid yang lembut, tetapi pedang besar sepanjang sembilan kaki yang sangat berat miliknya masih diayunkan seperti pedang itu seolah-olah adalah bulu bercahaya di tangannya, seolah-olah pedang itu tidak berat sama sekali. Kelompok kultivator lain yang berperan sebagai iblis melompat ke atas panggung – mereka langsung dikalahkan, dan dengan segera diusir dari panggung. Pedang itu menari dengan begitu terampil, tenang dan begitu indah, dan membuat pertunjukan itu cukup menarik untuk ditonton, sehingga beberapa orang banyak bersorak untuknya. Namun, orang-orang tidak datang untuk menonton ‘Demons Causing Havoc’ (*Iblis Menimbulkan Malapetaka), jadi setelah semua pertunjukan itu ada lebih banyak suara kembali menuntut, “Di mana Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa??”

“Di mana Yang Mulia Putra Mahkota??”

“Kami ingin melihat Yang Mulia memainkan peran sebagai Dewa Bela Diri Besar! Kalahkan kejahatan!”

Di atas panggung yang menjulang tinggi, sebuah suara marah berteriak, “Di mana sepupuku? Apa-apaan ini semua!! Siapa yang mau menonton omong kosong ini? Di mana sepupuku, dimana Putra Mahkota???”

Tidak perlu melihat sosoknya untuk menebak siapa itu, sudah tampak jelas dengan suara yang terdengar paling keras itu, sosok itu tidak lain adalah Qi Rong, Pangeran Xiao Jing. Benar saja, banyak yang mendongak dan melihat seorang pria muda berpakaian begitu indah dalam brokat cahaya pirus dengan sebuah kalung di lehernya tampak tergesa-gesa berlari ke tepi panggung tinggi, dia mengangkat tinjunya dengan marah. Pria muda ini tampak berumur tidak lebih dari lima belas atau enam belas, wajahnya pucat dan alisnya hitam, agak tampan, tetapi wajahnya bengkok, seolah-olah dia akan melompat dari menara kapan saja untuk meninju seseorang. Namun, menara itu terlalu tinggi, jadi jika dia melompat dia akan mematahkan kakinya sendiri jika tidak mati. Jadi sebagai gantinya, ia mengambil teko teh batu giok putih dan melemparkannya.

Teko yang dilemparkan itu diarahkan langsung ke bagian belakang kepala iblis, terbang ke arahnya dengan cepat seolah-olah itu akan menjatuhkannya di tempat, tetapi yang mengejutkan, iblis itu menggeser tubuhnya, mengangkat pedang besar milknya sedikit, dan menangkap teko itu dengan pedangnya.

Teko yang bergetar itu tampak berhenti di ujung bilah pedang besar itu, mendorong beberapa gelombang sorakan lagi. Mu Qing kemudian menghentakkan sedikit pedang panjang miliknya dan teko dilemparkan ke udara, kemudian ditangkap oleh seseorang di bawah panggung. Dia terus memainkan peran iblis dengan tidak bersemangat, mengayunkan pedang besar miliknya, dan membantai manusia. Qi Rong sangat marah dan hendak kembali melempar sesuatu yang lain tetapi ratu telah memerintahkan seseorang untuk menyeretnya ke bawah, jadi dia diseret ke bawah dengan enggan. Namun, wajah para bangsawan tampak semakin suram, beberapa menjadi gelisah.

Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa menghilang tepat sebelum Prosesi Surgawi dari Festival ShangYuan dimulai bukanlah hal yang lucu!

Saat itu, terdengar sorakan meraung seperti badai meledak di antara orang-orang disana, sorakan itu jauh lebih keras daripada sorakan dari sebelumnya. Siluet seputih salju tampak turun dari langit dan kemudian mendarat tepat di depan iblis berpakaian hitam!

Setelah mendarat, gaun putihnya yang berat berkibar dan menutupi panggung besar dalam bentuk bunga raksasa, sebuah topeng emas menyembunyikan wajahnya. Dia memegang pedang di satu tangan, dan yang lain dengan lembut menjentikkan pedang itu, dering gemuruh yang menyenangkan terdengar di telinga. Gerakan ini dilakukan dengan begitu tenang dan percaya diri, seolah iblis itu tidak ada artinya baginya. Iblis itu perlahan mengangkat pedang besar miliknya dan mengarahkannya ke arah sosok itu, dan sosok prajurit bela diri berpakaian putih dengan tergesa-gesa kemudian bangkit.

Mata Qi Rong bersinar terang, wajahnya merah. Dia melompat-lompat, berteriak, “Pangeran Mahkota Sepupu! PANGERAN MAHKOTA SEPUPU TELAH DATANG!!!”

Di atas dan di bawah, semua orang begitu terpana sampai tidak ada seorang pun yang berani berbicara.

Kedatangannya ini seperti seorang keturunan nyata dari makhluk surgawi, sangat berani!

Menara benteng itu setidaknya setinggi lebih dari sepuluh meter, dan sebagai seorang Putra Mahkota terkemuka yang bahkan bernilai seribu emas, dia masih melompat turun dari atas tempat itu! Pada saat itu, ribuan orang mengira bahwa seorang dewa benar-benar turun. Ketika mereka pulih dari keterkejutan mereka, semangat mengisi nadi mereka; kerumunan menjadi histeris, bertepuk tangan dengan intensitas yang begitu tinggi. Qi Rong juga berteriak, memimpin orang banyak untuk terus bertepuk tangan, berteriak sampai suaranya serak, bertepuk tangan sampai kedua tangannya memerah. Raja dan Ratu berbagi pandangan, tersenyum, dan mereka juga bertepuk tangan. Para bangsawan yang lain tampak melonggarkan alis mereka dan menghela napas lega sebelum bergabung dalam sorakan. Di kedua sisi Jalan Utama Dewa Bela Diri, kerumunan menjadi lebih liar seperti deburan ombak, ratusan dan ribuan orang begitu bersemangat hingga mereka mendorong para penjaga kerajaan, ingin berada lebih dekat dan terus berteriak.

Di atas panggung besar itu, tampak dua sosok, satu hitam, satu putih, saling berhadapan. Masing-masing dengan senjata mereka sendiri di tangan, Dewa dan Iblis akhirnya saling berhadapan.

Melihat semuanya berjalan dengan baik, Kepala Pendeta akhirnya mengendurkan bahunya dan naik ke panggung yang menjulang tinggi. Setelah mengangguk kepada teman-temannya sebagai salam, dia menemukan tempat duduk untuk dirinya sendiri dan duduk. Raja terkekeh, “Kepala Pendeta, bagaimana Anda bisa merencanakan kedatangan yang begitu menggembirakan ini? Menarik sekali.”

Kepala Pendeta menghapus keringat dari wajahnya dan tersenyum, “Ini memang menggembirakan. Namun sayangnya, hamba rendahan ini tidak merencanakan semua ini. Saya khawatir itu adalah ide tertinggi milik Sang Putra Mahkota sendiri.”

Sang Ratu menepuk-nepuk tempat jantungnya berada, “Anak nakal itu. Untuk melompat dari ketinggian seperti itu tanpa peringatan! Aku hampir berdiri dalam ketakutanku.”

Kepala Pendeta tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata dengan bangga, “Yang Mulia Ratu bisa tenang. Kekuatan bela diri yang dimiliki Yang Mulia Putra Mahkota luar biasa. Puluhan meter tidak ada artinya baginya, dan bahkan dengan menara yang berkali-kali lebih tinggi, ia dapat dengan mudah berdiri disana dan melompat dengan mata tertutup.”

Sang Ratu tampak senang dan berkata dengan lembut, “Terima kasih atas ajaran Kepala Pendeta.”

Kepala Pendeta tertawa, “Bukan apa-apa, bukan apa – apa. Yang Mulia Putra Mahkota, kekasih surga, memiliki karunia ilahi, sangat berbakat, dan sangat anggun. Ini adalah kekayaan yang dikumpulkan selama tiga kehidupan yang memberikan hamba rendahan ini kesempatan untuk menjadi gurunya. Saya memiliki firasat bahwa dengan keagungannya, kehadiran Putra Mahkota, hari ini akan turun dan tercatat dalam sejarah sebagai Pertandingan Bela Diri yang paling mengesankan dari Upacara Menyenangkan Dewa.”

Kata-kata pujiannya begitu halus dan menyentuh surga. Raja tersenyum tipis dan menoleh ke belakang untuk menonton pertunjukan. “Aku harap memang begitu.”

Dalam Prosesi Surgawi Festival ShangYuan, Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa dan Iblis adalah dua peran paling penting. Keduanya haruslah seorang pria muda yang sangat terampil dalam seni bela diri. Terutama Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa; penyajian dan pembuatan kostumnya dilakukan dengan hati-hati, sangat megah; dan setelah pakaiannya, semua yang dikenakan untuk menunjang peran itu berbobot sekitar empat puluh hingga lima puluh pound. Prajurit Bela Diri yang memerankan peran itu haruslah memiliki berat di bawah beban berat ini, di depan jutaan orang, berbaris di sekitar Gedung Dewan berkali-kali, dan tampil dalam pertandingan bela diri selama setidaknya empat jam. Tidak boleh ada kesalahan yang dibuat sepanjang pertunjukan itu, dan karenanya pemain haruslah sangat terampil.

Beruntung, kedua pemuda itu sangat berbakat. Pedang menangkis dengan pedang, satu menebas, yang lain menyerang; pertandingan paling mendebarkan ini adalah pemandangan yang begitu indah dan menarik untuk dilihat. Mereka terus bergerak dan tetap memperhitungkan detail terkecil sekalipun, jelas telah berlatih begitu keras hingga beberapa kali.

“Siapa yang memainkan iblis dan menangkis pedang Putra Mahkota?” Tanya raja.

Kepala Pendeta berdeham, “Yang Mulia, dia adalah seorang peserta pelatihan muda dari Paviliun Suci Kerajaan. Namanya adalah Mu Qing.”

Sang Ratu berkata dengan lembut, “Aku melihat bahwa anak itu juga agak terampil dalam pertempuran, hanya sedikit lebih lemah daripada anakku. Mungkin sekitar level yang sama dengan Feng Xin?”

Kepala Pendeta tampaknya tidak menyetujui sentimennya. Qi Rong telah berbaring di pangkuan Ratu dan dia tengah mengunyah anggur, dan meludahkan kulitnya terburu-buru, “Psh, psh, psh! Tidak mungkin, tidak mungkin! Bukan hanya sedikit lebih lemah, dia jelas jauh lebih lemah! Tidak boleh sembarang orang yang bisa dibandingkan dengan Pangeran Mahkota sepupu!”

Mendengar ini, sang Ratu menepuk-nepuk kepalanya, tersenyum, dan para bangsawan lainnya semua tertawa, tubuh mereka berayun bolak-balik dalam kegembiraan. Mereka menggodanya, “Rong Kecil tentu saja menempel pada sepupunya! Jika dia tidak memujinya selama sehari, dia akan menderita.”

Di bawah kerumunan, terdengar begitu banyak sorak-sorai dan seruan yang seolah-olah naik ke langit: “BERTARUNG! BERTARUNG! BUNUH DIA!”

“KALAHKAN KEJAHATAN!”

Raungan kegembiraan tumbuh begitu kuat. Qi Rong juga menambah kemeriahan itu dengan suaranya sendiri, dia memposisikan kedua tangannya di sekitar mulut dan membentuknya seperti terompet, berteriak dan tertawa, “PANGERAN MAHKOTA SEPUPU, AYO! KAMU BISA MENGALAHKAN DIA HANYA DENGAN SATU TANGAN, KALAHKAN DIA!”

Tiba-tiba, iblis di atas panggung menebas ke depan. Prajurit Bela Diri tampak menangkis serangan itu dengan pedangnya, tetapi dia tampak berguman “Hmm?”

Secara teknis, selama Parade Surgawi, pertandingan bela diri adalah pertunjukan untuk menyenangkan para dewa, dan seseorang hanya akan menggunakan ketujuh kekuatan mereka, berhenti setelah pedang mereka bersentuhan. Namun, serangan yang diterimanya barusan, pedang di tangannya hampir terbang keluar. Jelas lawannya telah menggunakan semua kekuatannya dalam pukulan itu.

Xie Lian mengangkat kepalanya sedikit dan memanggil, “Mu Qing?”

Pria muda yang memerankan iblis itu tidak mengatakan sepatah kata pun, dan menebasnya lagi. Xie Lian tidak punya waktu untuk berpikir, dan tetap menerima serangan demi serangan itu, senjata mereka berdentang. “Yah, ini lebih menarik daripada permainan palsu.” Xie Lian berpikir, dan semangatnya kembali meningkat, semakin serius terlibat dalam pertarungan itu.

Dengan demikian, di bawah raungan dan sorakan, kedua senjata saling bertarung dan beberapa percikan terbang. Semakin memacu pertarungan yang berada di atas panggung itu, sorakan-sorakan dari bawah semakin terdengar keras. Tiba-tiba, terdengar suara yang begitu memekakkan telinga, dan kerumunan disana berteriak “Ah”, tampak menahan napas. Pedang besar sepanjang sembilan kaki milik iblis itu dirampas dari tangannya oleh pedang panjang ramping milik Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa, dan pedang itu terbang ke arah pilar batu dari panggung yang menjulang, menghantam dengan begitu keras ke dalamnya. Beberapa penonton mencoba menariknya keluar, tetapi bahkan ketika mereka menariknya dengan sekuat tenaga, pedang besar itu tidak bergerak sedikit pun.

“Pedang macam apa ini? Kekuatan macam apa yang kalian miliki untuk bahkan mengangkat pedang ini!”

Di atas panggung besar, Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa mengguncang pedangnya, dan menghentakkan bilahnya lagi. Terdengar suara gemerincing lainnya, dan di balik topeng emas itu terdengar tawa pelan.

“Kamu bertarung dengan baik, tapi kamu masih kalah.” Kata Xie Lian dengan tenang dan terdengar riang.

Iblis itu kehilangan senjatanya, dia tampak setengah berlutut di tanah, masih diam tetapi tinjunya mencengkeram lebih erat. Xie Lian dengan cerdik memutar pedangnya, dan di bawah sorakan sorai-sorai, dia berniat untuk memberikan serangan terakhirnya, yakni ‘membunuh’ iblis itu, ketika dia hendak melakukannya, terdengar sebuah teriakan yang berasal dari atas!

Terkejut, Xie Lian menurunkan pedangnya dan melihat ke atas, dan dia mendapati sebuah bayangan buram jatuh dengan cepat dari tembok kota.

Pada saat itu, dia tidak punya waktu untuk berpikir, dan dalam sekejap, dia mengangkat kakinya dan mendorong tanah, melompat ke udara, melesat ke atas tanpa beban.

Dia melonjak dan terbang, lengan bajunya berkibar terbuka seperti sayap kupu-kupu, lalu mendarat dengan begitu anggun, ringan seperti bulu. Dia memegang begitu erat sosok dalam genggamannya, dan hanya ketika dia menyentuh tanah yang kokoh, Xie Lian menghela napas lega, dan melihat ke bawah.

Di tangannya ada seorang anak kecil, kepalanya dibalut perban, begitu kotor dan tak terurus, anak itu tampak meringkuk dalam genggamannya, mengawasinya dengan tatapan bingung.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Festival ShangYuan juga dikenal sebagai Festival Lentera, menandai hari ke 15 dan terakhir Tahun Baru Imlek. Ini adalah hari untuk menyembah dan merayakan surga selestial. Pada catatan terpisah, ZhongYuan berarti merayakan orang mati, dan XiaYuan merayakan perairan. Yuan [元] berarti asal usul alam semesta dalam Chinese Foundation Philosophy (Iching), dan Festival Yuan membagi tahun lunar menjadi tiga: Atas (Shang), Tengah (Zhong), dan Bawah (Xia), masing-masing merayakan kekuatan ilahi yang menjelajah dunia.[/efn_note dirayakan, untuk mendeskripsikan bagaimana keadaan disana, semua itu akan terjawab dan dijelaskan hanya dengan melihat keadaan yang terjadi pada hari ini!

    Di atas panggung yang menjulang tinggi, sederetan bangsawan dan pangeran tampak berpakaian rapi, senyuman sopan terpancar di wajah mereka, menatap ke bawah ke arah kerumunan disana. Di dalam istana, barisan panjang dari ratusan kerumunan menunggu diam-diam. Ketika bel berbunyi, Kepala Pendeta merapikan kumisnya yang tidak ada dan memanggil, “Prajurit Pembuka Jalur!”

    “Hadir!”

    “Peri surgawi!”

    “Hadir!”

    “Musisi!”

    “Hadir!”

    “Kalvari!”

    “Hadir!”

    “Iblis!”

    “Hadir!”

    “Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa!”

    Tidak ada yang menjawab. Kepala Pendeta mengerutkan kening, memperhatikan adanya keadaan yang aneh itu, dan kemudian menoleh, “Prajurit Bela Diri yang Menyenangkan Dewa? Di mana Putra Mahkota?”

    Tetap saja, tidak ada yang menjawabnya. Orang yang dipanggil “Iblis” sebelumnya tampak ragu-ragu, lalu melepaskan topeng mengerikannya, dan mengungkapkan wajah yang bersih dan pucat.

    Pria muda ini tampaknya berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, kulit dan bibirnya berwarna cerah, segar dan rapi, dengan sepasang mata hitam yang bersinar cerah layaknya batu obsidian. Rambutnya lembut dan halus, beberapa helai tampak terurai dan berserakan di dahi dan pipinya. Dia tampak diam dan patuh, kontras dengan topeng mengerikan di tangannya.

    Dia menjawab dengan tenang, “Yang Mulia Putra Mahkota telah pergi.”

    Kepala Pendeta hampir pingsan di tempat.

    Tetapi demi kesempatan besar ini dia tidak bisa pingsan begitu saja, jadi dia tetap bertahan, dan berteriak dengan kesal, “Apa-?! Dia pergi?! Kapan Yang Mulia pergi?? Parade seremonial akan segera meninggalkan gerbang istana!! Ketika panggung besar terungkap dan hanya ada iblis tapi tidak ada dewa, tulang-tulang lamaku tidak akan bisa berenang keluar dari semua ludah yang akan datang padaku! Mu Qing, kenapa kamu tidak menghentikannya???”

    Mu Qing menundukkan kepalanya, “Ketika Yang Mulia pergi, dia menyuruhku untuk menyampaikan pesan, mengatakan tidak perlu khawatir, dan semuanya akan berjalan sesuai rencana. Dia akan segera kembali.”

    Kepala Pendeta tampak begitu histeris, “Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Apa maksudmu dengan ‘segera’ itu? Kapan tepatnya ‘segera’ itu? Bagaimana jika dia tidak berhasil??”

    Di luar gerbang istana, beberapa orang yang telah menunggu sejak dini hari kehilangan kesabarannya, dan dengan berisik menuntut acara untuk segera dimulai. Seorang kultivator bergegas maju, “Tuan Kepala Pendeta, ratu mengirim utusan dan bertanya mengapa parade belum dimulai? Waktu Keberuntungan1Fortuitous Hour: waktu terbaik untuk melakukan sesuatu berdasarkan kalender keberuntungan harian yang menentukan seberapa beruntung setiap jam berdasarkan tanggal, bulan, tahun, dan bintang-bintang.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments