Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Xie Lian menggeser tubuhnya dan berniat menghindari benda itu. Awalnya dia mengira itu adalah cabang pohon patah atau sarang burung yang jatuh, tetapi ketika dia melihat lebih dekat, itu adalah papan yang sangat busuk dan berkarat sehingga bentuk aslinya tidak bisa dilihat kembali, dan benda itu tampak memiliki dua rantai baja yang terhubung di kedua sisinya. Jika itu adalah orang lain, mereka mungkin tidak dapat mengatakan benda apa itu, tetapi Xie Lian segera tahu bahwa itu adalah sebuah ayunan.

Di masa lalu, Gunung TaiCang memasang ayunan di mana-mana, baik untuk bersenang-senang maupun untuk pelatihan. Kembali ketika Xie Lian baru saja mulai mempertahankan ingatannya, ada suatu waktu ketika dia menemani orang tuanya untuk mengunjungi Paviliun Suci Kerajaan untuk berdoa untuk sebuah berkat dan kemudian melihat sekelompok peserta pelatihan muda yang sedang berlatih dan bertanding, mereka tampak membalik dan menjatuhkan seluruh ayunan di sana. Penampilan mereka begitu menarik; Raja dan Ratu sangat menikmatinya, dan Xie Lian bertepuk tangan dan meneriakkan betapa hebatnya mereka. Raja dan Ratu sangat senang dan mereka memberikan sesuatu yang besar kepada para murid pelatihan muda itu, dan sejak saat itu kesan bahwa dunia kultivasi adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan begitu menyenangkan telah tertanam jauh di dalam hati Xie Lian. Namun, karena dia secara resmi memasuki sekte untuk memasuki dunia kultivasi di tahun-tahun berikutnya, alasannya tidak lagi karena dunia itu tampak menyenangkan.

Setelah istirahat, Xie Lian melanjutkan untuk menaiki gunung itu. Semakin tinggi dia memanjat, semak-semak yang menghadangnya menjadi semakin tebal, dan sesekali beberapa makhluk tampak melintas, meninggalkan bayangan ekor yang begitu lebat. Ada juga sejumlah tupai yang berkerumun di pohon-pohon di sana, mereka tampak tengah mengunyah buah pinus, mengintip tamu tak diundang ini.

Beberapa duri menghalangi jalannya, merobek pakaian dan anggota tubuhnya, tetapi Xie Lian tidak memperhatikan sama sekali. Dan pada akhirnya, dia mencapai Puncak Putra Mahkota.

Tentu saja, Puncak Putra Mahkota awalnya tidak disebut dengan Puncak Putra Mahkota, tetapi kemudian diubah menjadi nama ini setelah Kuil Putra Mahkota dibangun di tempat itu. Di tengah semak-semak dan rumput liar, masih ada sisa-sisa tanah berkerikil di sana-sini, jejak-jejak fondasi besar dan sisa bangunan serta tanah terbakar yang tersembunyi. Dahulu tempat itu adalah fondasi Kuil Putra Mahkota. Xie Lian tampak melintasi tempat itu, berjalan melalui tiap puing-puing dan beberapa bebatuan yang hancur, melalui puing-puing kaca, dan di sana tampak sebuah sumur tua yang retak.

Ketika seseorang melihat dari atas ke dalam dasar sumur itu, mudah untuk mengatakan bahwa sumur lama itu telah lama mengering; kedalaman sumur itu memang hanya beberapa meter, yang terlihat di dasar sumur hanyalah lumpur. Tanpa ragu, Xie Lian menyilangkan kakinya, dan kemudian melompat.

Dia tidak jatuh ke atas tanah berlumpur, tetapi sebaliknya dia seperti tampak melintasi ilusi, dan kemudian Xie Lian turun beberapa meter sebelum akhirnya kedua kaki Xie Lian menyentuh tanah yang kokoh.

Lingkungan tempatnya berada saat ini begitu gelap dan jika dia mengangkat tangannya, dia tidak akan melihat tangannya sendiri. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke atas, dan tidak ada sinar matahari yang menembus tempat itu, seolah-olah sepotong kain tebal telah menghalangi tempatnya berada. Xie Lian merasakan di sekitar bagian bawah sumur, merasakan beberapa batu bata di sana, dan menekannya dalam urutan tertentu. Dengan suara gemuruh, sebuah pintu pendek dan kecil terbuka di samping tubuhnya. Xie Lian membungkuk dan perlahan merangkak melalui jalan terbuka melewati pintu pendek di sana. Saat dia masuk dia bisa mendengar suara gemuruh lain di belakangnya, pintu kecil itu menutup. Setelah setengah dupa waktu berlalu, dia akhirnya merangkak ke ujung terowongan. Xie Lian berdiri dan meluruskan punggungnya, menjentikkan jari-jarinya, dan mengangkat sebuah nyala api kecil dari atasnya.

Setelah bola api kecil itu dinyalakan, seolah-olah sebagai tanggapan, tidak jauh di kedalaman tempat itu sebuah cahaya samar lain muncul seperti mutiara, terbangun dari tidur nyenyaknya, mengedipkan matanya yang terbuka.

Segera setelah itu, mutiara-mutiara itu tampak menyala semakin banyak, menyebar ke seluruh tempat itu dan menerangi lingkungan yang tampak lebih jelas dan lebih jelas lagi dan dengan seketika tempat itu berubah menjadi Aula Besar sebuah istana bawah tanah. Di atas Aula Besar. ribuan bintang dengan nyala yang begitu gemerlap tertanam di sana.

Pasti sulit membayangkan bahwa Makam Kekaisaran Kerajaan Xian Le kuno disembunyikan di bawah tanah bekas terbakar di Gunung TaiCang. Bintang-bintang yang cemerlang itu adalah mutiara malam1 dan berlian yang ditanamkan di langit-langit; mutiara malam itu bersinar dengan cahayanya, dan berlian-berlian di sana tampak memantulkan cahaya yang dihasilkan oleh mutiara malam. Ketika kedua benda itu berhadapan, hasilnya adalah kecemerlangan yang berbeda seperti mimpi. Itu adalah jenis pemandangan seperti cara kecil yang tersembunyi di bawah tanah.

Masing-masing mutiara malam dan berlian itu sangat berharga; setiap satu dari benda itu sangat berharga dan seluruh kehidupan dari kekayaan tanpa akhir. Namun, Xie Lian tidak memandang semua benda itu, dan tampak terus berjalan langsung melalui Aula Besar itu, memasuki sebuah ruang bawah tanah di bagian paling belakang.

Dibandingkan dengan Aula Besar, ruang bawah tanah ini sangat sederhana, hanya karena ruangan itu tidak sepenuhnya selesai dibangun, sehingga tidak ada dekorasi yang megah di dalamnya, di sana hanya ada dua peti mati. Di antara peti mati itu tampak berdiri seseorang, dia mengenakan pakaian yang sangat indah, sebuah topeng emas terpasang di wajahnya, dan sebuah pedang terbentang, begitu tajam dan mempesona, pedang itu tampak menunjuk ke arahnya.

Namun, orang ini hanya mempertahankan posisi itu dan tidak melakukan gerakan apa pun. Xie Lian mendekat, menyelesaikan urusannya sendiri, tanpa peduli pada orang itu. Namun, itu karena Xie Lian tahu, di balik topeng emas itu tidak ada wajah apa pun, dan di bawah pakaian indah itu tidak ada seseorang di sana. Satu-satunya yang berdiri adalah tumpukan kosong yang disatukan oleh seikat jerami kering.

Untuk waktu yang lama, hanya seperangkat pakaian elegan dan topeng ini yang berdiri di sisi kedua peti mati itu sebagai penggantinya. Di atas setiap peti mati terdapat sebuah lempengan emas kecil, tetapi benda-benda pada lempengan itu sangat berbeda: buah-buahan dari beberapa jenis tampak mengering dan mengerut hingga ke inti, menghitam, begitu busuk, dan berubah menjadi keras dan membuat siapa pun tidak bisa memikirkan benda apa itu. Setelah Xie Lian memasuki ruangan, dia membersihkan barang-barang itu dan membuangnya di sudut ruang bawah tanah. Dia merasakan dan memasukkan tangannya kedalam lengan baju dan lipatannya. Sebelumnya dia memiliki roti setengah dimakan padanya, tapi roti itu telah dia berikan kepada Hua Cheng, jadi sekarang dia tidak punya apa-apa lagi. Karena itu, dia berkata, “Ayah, ibu, aku sangat meminta maaf. Aku lupa membawa sesuatu untuk kunjungan kali ini.”

Tentu, tidak ada yang menjawabnya. Dengan demikian, Xie Lian perlahan duduk, dan bersandar pada salah satu peti mati di sana.

Setelah menatap tempat itu untuk beberapa waktu, dia akhirnya berbicara lagi, “Ibu, aku melihat dan bertemu dengan Qi Rong.”

“Qi Rong tidak mati, dia berubah menjadi iblis. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana dia hidup beberapa ratus tahun terakhir ini.”

Xie Lian menggelengkan kepalanya, “Dia… membunuh banyak orang, dan sekarang ada seseorang yang mencoba membunuhnya. Surga mungkin tidak akan memaafkannya juga. Hah, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk mengurusnya.”

Dia akan mengatakan lebih banyak ketika tiba-tiba, dari suatu tempat yang sangat dekat, terdengar suara ratapan yang begitu lembut.

Xie Lian membeku, wajahnya berubah drastis.

Dia mendengarkan suara itu dengan seksama; itu bukan khayalannya. Itu benar-benar suara tangisan. Tangisannya terdengar rendah, lembut, dan akan dengan mudah terlewatkan jika dia tidak memperhatikannya dengan lebih telitu. Suara itu juga bernada tinggi; jika itu bukan anak kecil maka itu pasti seorang wanita.

Tangisan di terdengar begitu dekat dengannya, seolah-olah hanya dipisahkan oleh dinding tipis, suara itu menempel di dekatnya. Xie Lian memutar kepalanya, dan akhirnya mengkonfirmasi―suara itu berasal dari dalam peti mati tempat dirinya bersandar saat ini!

Di tengah keterkejutannya, kata-kata pertama yang muncul keluar dari bibirnya tanpa dirinya sadari terdengar begitu bahagia, “Ibu, kaukah itu?!”

Namun, Xie Lian tersentak dengan segera, mengetahui bahwa apa yang dia harapkan tidak akan pernah terwujud. Ibunya telah meninggal delapan ratus tahun yang lalu, terbebas dari penderitaan, dan tidak pernah berubah menjadi hantu yang penuh dendam. Emosi di balik tangisan itu juga bukan dari keputusasaan, tetapi teror.

Pada saat itu, siapa sebenarnya yang ada di dunia yang akan bersembunyi di dalam peti mati ibunya dan menangis?!

Xie Lian tidak bisa menahan diri untuk waktu sedetik pun, dan kemudian membuka tutup peti mati dengan tangan kirinya, tangan kanannya menggenggam Fang Xin, siap untuk menyerang. Tapi, saat dia melihat apa yang ada di dalamnya, pedang yang hendak menyerang sesuatu di dalam peti itu tiba-tiba berhenti.

Seseorang tampak berbaring di dalam peti mati itu, luar biasa, di sana tampak bentuk dari seseorang yang tertutupi pakaian hitam yang begitu anggun, wajahnya tampak tertutupi dengan penutup wajah.

Satu-satunya orang yang mungkin seharusnya ada di sana adalah ibunya, tetapi orang yang berbaring di peti mati, jelas bukan ibunya. Tubuhnya tampak kecil dan pendek, tipe tubuhnya sangat berbeda, dan yang paling penting adalah, orang ini tampak gemetaran―itu adalah seseorang yang nyata dan dia tampak hidup!

Xie Lian merobek penutup wajah itu. Benar saja, di balik kain itu tampak sebuah wajah anak kecil!

Hatinya membeku saat itu juga. Dia meraih anak itu dan mengangkatnya, suaranya terdengar begitu terkejut dan panik, “Di mana ibuku? DI MANA IBUKU?! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA TUBUH IBUKU???”

Meskipun gaun hitam yang anggun itu tidak terlihat aneh, gaun itu sebenarnya ditenun oleh kain sutera yang sangat langka. Sutra itu merupakan penghargaan yang diberikan dari kerajaan kecil asing, dan untuk menenunnya dan dijadikan pakaian akan membutuhkan keahlian yang rumit. Dia berada di sana dengan sebuah tas herbal harum dan tampak disegel ke dalam peti mati itu, yang membuat mayat akan tetap dipertahankan selama ribuan tahun, memungkinkan orang mati terlihat seolah-olah masih hidup. Namun, pada saat itu, orang yang mengenakan gaun hitam sutra itu adalah anak ini, jadi ke mana tubuh ibunya? Bagaimana kondisinya sekarang?

Xie Lian tidak berani berpikir terlalu dalam tentang hal itu, dan hanya bisa meminta jawaban dari anak tak dikenal yang berada di genggamannya, “Di mana ibuku? Kamu siapa? Mengapa kamu di sini? Apa yang kamu lakukan dengan tubuh ibuku??”

Tetapi bagaimana mungkin seorang anak yang tampak begitu ketakutan dan saat ini menangis dapat menjawab pertanyaannya? Dia terlalu takut untuk berbicara. Xie Lian menyeretnya keluar dari peti mati, dan tiba-tiba menyadari bahwa sebuah bubuk putih pucat telah tampak keluar dari gaun hitam itu karena gerakannya.

Wajahnya putih seperti selembar kain, dia melihat ke dalam peti mati dan menemukan bagian bawah peti mati juga ditutupi dengan lapisan tipis bubuk. Dunia berputar dan Xie Lian merasakan jantungnya berhenti. Cengkeramannya melonggar, dia tampak membiarkan anak itu pergi, dan dia berlutut di depan peti mati itu, tubuhnya seolah-olah begitu lumpuh.

Dia tidak berani menyentuh bubuk putih itu dengan tangannya, tetapi dia juga tidak bisa membiarkannya berada di sana dan mengayak sendiri, benda itu tampak seperti abu dupa yang beterbangan terkena oleh angin. Meskipun mencoba menyangkal, dia lebih dari tahu benda apa itu.

Setelah secara paksa melepas pakaian sutra pemakaman, apa lagi yang bisa membuat mayat mampu tersegel selama delapan ratus tahun?

Dengan seketika, pikiran Xie Lian jatuh ke dalam kekacauan, tidak mampu berpikir; dia memegang kepalanya sendiri dengan tangannya dan terdengar dering di telinganya. Tepat saat itu, punggungnya menegang, nalurinya merasakan bahaya di belakang, dan dia memutar kepalanya, tangannya cepat seperti kilat, dan kemudian meraih dengan tangan kosongnya, bilah pedang Fang Xin miliknya. Seseorang di belakang punggungnya telah mencoba menikamnya, dan orang ini adalah tumpukan jerami yang tampak dijadikan satu yang sebelumnya dilihatnya!

Ternyata, seseorang sudah lama menyelinap masuk mendahuluinya, orang itu tampak mengenakan sebuah pakaian indah, mengenakan topeng, dan menyamar sebagai tumpukan jerami tak bernyawa, menunggunya diam-diam. Suara dentangan nyaring terdengar di udara, dan Xie Lian memecah pedang itu menjadi dua bagian dengan tangannya sendiri yang telanjang, wajahnya sama sekali tidak berubah dengan darah yang sekarang menggenang di telapak tangannya. Dalam sekejap, dia mengangkat kakinya dan menendang perut orang itu, Xie Lian menginjaknya dengan begitu kuat ke tanah. Dengan dadanya yang diinjak dengan kuat, orang itu meraih sepatu botnya dan berjuang melepaskan dirinya namun dia tidak mampu bergerak satu inci pun, seolah-olah mereka telah dipaku ke tanah. Xie Lian membungkukkan tubuhnya, dan kemudian menampar topeng emas yang dikenakan orang itu dengan satu tangan, mengungkapkan wajah seorang pemuda. Xie Lian berteriak, “Siapa kamu?? Perampok makam??? Bagaimana mungkin kamu bisa masuk???”

Saat itu, anak di sampingnya terdengar berteriak, “Ayah!”

Teriakan ini akhirnya membuat Xie Lian mengingatnya. Pria dan anak ini tampak begitu tidak asing baginya, bukankah mereka manusia yang dia selamatkan sebelumnya yang hampir membuat Qi Rong memasak dan memakan mereka di sarang Hantu Hijau?!

Xie Lian memahami situasinya secara instan, dan dia tampak mengayunkan pukulan kembali seperti guntur ke dagu pria itu, meraung, “QI RONG, PERGILAH KE NERAKA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!”

Pria itu tertawa ketika dia meludahkan darah dari mulutnya, “Putra Mahkota sepupu! Kesempatan yang menggembirakan! Kita bertemu lagi! Hahahahahaha!”

Meskipun wajahnya berbeda, tetapi siapa lagi yang bisa memiliki tawa yang terdengar begitu gila ini jika bukan Qi Rong? Ketika tubuhnya hancur dan tidak terbentuk sebelumnya, dia mengambil tubuh ayah muda ini!

Tidak perlu penjelasan lebih lanjut, tetapi setelah tubuh materialnya dilemparkan ke dalam kuali oleh Lang Qian Qiu dan meleleh, untuk menghindari pengejaran, dia pasti menggunakan dan memanfaatkan kekacauan yang ditimbulkan oleh semua orang yang tampak berlarian demi menyelamatkan kehidupan mereka dengan mengambil tubuh pemuda itu, dan dia kemudian datang ke Makam Kekaisaran Xian Le. Kalau tidak, bagaimana mungkin orang awam bisa tahu tentang makam rahasia bangsawan Xian Le? Dan bagaimana mereka bisa datang dalam waktu sesingkat itu?

Anak yang dibawanya mungkin saja untuk dijadikan makanan untuknya, atau mungkin karena menyembunyikannya di peti mati untuk mengalihkan perhatian Xie Lian sehingga dia kemudian menyergapnya dari belakang. Qi Rong memegangi wajahnya, tampak begitu menyedihkan karena pukulan Xie Lian, dan dia kemudian berteriak, “Sepupu kenapa kau begitu marah? Ini bukan sesuatu seperti kamu akan mati karena luka tusuk, hehehehehehe!”

BUK, BUK, dan Xie Lian meninju tubuh palsu Qi Rong dua kali, matanya tampak begitu merah di sekitar tepiannya, “Bagaimana ibuku memperlakukanmu?? Dan kemudian kamu memperlakukannya seperti ini?! Bagaimana mungkin kamu bisa, pada tubuhnya―?!!”

Qi Rong membungkuk, “Bibi sudah lama mati. Orang itu tidak ada lagi, jadi apa bedanya dengan mayat atau abunya? Mayatnya hanya berubah bentuk, bukankah masih ada di sana? Dan di sini kamu, penuh dengan air mata dan ingus, bukankah hatimu jauh lebih keras ketika kamu membunuh An Le? Aku tiidak percaya bahwa sepupu baikku benar-benar memiliki dua wajah, hehe!” Dia kemudian mengubah ekspresi wajahnya dan meludah, “Bagaimana aku bisa memperlakukannya seperti itu? Kamulah yang harus disalahkan! Apakah kamu tidak tahu bagaimana merefleksikan dirimu sendiri? Ini semua salahmu! Kamu, Dewa Kemalangan yang sedang sakit hati begitu beraninya menangis di Makam Kerajaan Xian Le?!”

Xie Lian kembali menginjak tubuhnya dengan begitu keras dan Qi Ron menjerit, memuntahkan darah dari mulutnya, tetapi dia terlihat lebih bersemangat, menggunakan kedua tangannya untuk memegang erat sepatu bot putih yang sekarang berlumuran darah sambil melolong, “ITU BENAR! BENAR! SEPERTI INI! INI LEBIH MIRIP SEPERTI DIRIMU! BERTARUNGLAH, BERTARUNG, BUNUH, BERTARUNGLAH DENGAN KEJAM! BUNUHLAH DENGAN KEJAM! Jangan beri aku pandangan suci milikmu seperti jika kamu begitu terbebani dengan dosa milikmu yang tak terkatakan! Menjijikkan! UGH!”

Anak itu merangkak menuju kearahnya sambil menangis, “Wah! Ayah! Ayah, kamu baik-baik saja!” Dia tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi, hanya saja ayahnya sedang diinjak-injak. Dari sudut pandangnya, Xie Lian seperti iblis yang kejam, tetapi takut kehilangan satu-satunya ayahnya, dia tidak akan mundur, dan berusaha mati-matian untuk melepaskan sepatu bot di dada ayahnya. Pemuda itu tidak akan berhenti memuntahkan darah, menakuti anak itu setengah mati, dan dia menggunakan tangannya untuk menutupi mulut ayahnya, seolah itu bisa menghentikan pendarahan yang dialaminya. Melihat ini, Xie Lian perlahan menjadi tenang, menyadari bahwa pemilik tubuh ini tidak bersalah, dan sedikit meringankan kakinya. Dia mengarahkan ujung Fang Xin ke bawah, menyenggolnya ke pipi Qi Rong dan berkata dengan penuh niat membunuh, “Qi Rong, kau, keluarlah. Jangan paksa aku untuk membuatmu mengeluarkan rohmu sendiri dengan lidahmu!”

Secara teknis, untuk mengeluarkan lidah orang lain dari akarnya, seseorang tentu saja bisa mengeluarkan hantu yang menghantui maupun merasuki tubuh orang itu bersamanya. Qi Rong berteriak mengejek, “Aku tidak akan! Aku tidak akan keluar! Apa yang akan kamu lakukan? Ayo, tarik! Ayo, ayo lakukanlah, berniat membunuhku? Aku mungkin saja mati, jadi jangan lewatkan kesempatan ini, kalau tidak, kamu tidak akan pernah menemukan abuku sepanjang hidupmu ini!”

Dia bahkan menjulurkan lidahnya dengan sengaja, seolah-olah dia tidak bisa menunggu Xie Lian berbuat baik dengan ancamannya, dan kemudian menggunakan metode berdarah itu untuk menarik rohnya keluar dari tubuh berdaging ini. Dia meludahkan banyak darah dari mulutnya, “Ini tidak seperti orang yang aku rasuki adalah orang penting, jadi mengapa kamu tidak melakukannya? Tidak ada yang akan tahu, tidak ada yang peduli, pancaran suci Yang Mulia tidak akan rusak. Lihat! Aku sudah menghancurkan tubuh ibumu menjadi abu, bukankah kau akan membunuhku? Hahahahahaha… “

Anak itu tidak bisa menggerakkan sepatu bot Xie Lian, jadi dia memeluk kakinya dan berteriak dengan lebih keras, “Jangan bunuh ayahku! Jangan bunuh ayahku!”

Napas Lian Xie menjadi lebih berat, kepalanya pusing, tubuhnya gemetar, tangannya gatal untuk menghancurkan tengkorak Qi Rong, tapi dia tidak bisa melakukannya. Qi Rong merentangkan tangannya, “Putra Mahkota sepupu Hahahaha, betapa gagalnya dirimu, benar-benar kegagalan yang begitu mutlak!”

Xie Lian mengambil tubuhnya dari tanah, mengangkat tinjunya dan menghujani pukulan demi pukulan di wajah Qi Rong, berteriak dengan setiap pukulan yang diberikannya, “DIAM! DIAM! DIAM!”

Namun, semakin marah Xie Lian, Qi Rong menjadi lebih bahagia. Untuk dapat menyeret mereka berdua ke neraka yang sama, Qi Rong dipenuhi dengan kegembiraan, matanya bersinar terang, “Lihat! Itulah wajahmu yang sebenarnya! Putra Mahkota sepupu, siapa tahu ternyata kamu lebih baik dariku di dunia ini? Kamu mungkin terlihat seperti anjing yang menyedihkan dan tenggelam yang dapat diinjak siapa pun sekarang, tapi aku tahu. Kamu masih memiliki kebanggaan dalam dirimu; kamu tidak tahan ketika seseorang menyebutmu gagal! Kamu seharusnya membenciku karena aku sudah menyebutmu gagal! Haruskah aku menusuk jantungmu hingga berdarah? Cepat! Datanglah! Atau apakah kamu akan mengatakan kepadaku dengan keras bahwa tubuh ini tidak bersalah, sehingga kamu tidak akan membunuhku untuk menyelamatkannya? Ayolah! Tunjukkan padaku apa yang akan kamu lakukan!”

Dengan begitu banyak provokasi yang tercampur dalam tawa sombong dan gila itu, Xie Lian tidak tahan lagi.

‘Swing’ dan Fang Xin terhunus.

Dengan kilatan ayunan pedang itu, bilah hitam yang tak menyenangkan itu kemudian jatuh!


BUKU 1 SELESAI


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Mutiara Malam terbuat dari kristal fluorit.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments