Penerjemah: Jeffery Liu


Melihat kondisinya, Xie Lian tanpa sadar mengulurkan tangan, berniat untuk mengelus pedang itu, “Ada apa…”

Tapi di sisi lain Hua Cheng melangkah menjauh dan sedikit memutar tubuhnya, menghindari sentuhan Xie Lian, dan kemudian memukul keras gagang pedang miliknya, “Tidak ada apa-apa. Jangan pedulikan dia.”

Setelah dipukul dengan keras, pedang lengkung terkutuk E-Ming, yang ditakuti oleh semua orang di surga, bergetar lebih keras. Saat itu, Xie Lian mendengar suara Feng Xin lagi dalam array komunikasi spiritual: “Bagaimana bisa Hua Cheng menghubungkan array Pemendek Jarak ke Pengadilan Surgawi?! Bagaimana cara kita membuka pintu ini?!”

Shi Qing Xuan berteriak, “Jenderal Nan Yang! Aku, aku, aku! Aku rasa aku tahu caranya! Yang Mulia dan aku pernah menderita karena tipuan Hua Cheng ketika kami berada di misi kami sebelumnya. Cobalah ambil dua dadu dan lemparkan ke depan pintu itu, lalu dorong untuk melihat apakah pintu itu akan terbuka.”

Xie Lian mengingatnya. Bukankah sebelumnya dia dengan santai melemparkan dadu untuk bersenang-senang sebelumnya di aula utama? Dia masih mengingatnya dengan jelas telah berlari dengan begitu menyedihkan untuk mempertahankan kehidupan mereka ketika berada di gua cacing tanah itu dan dari orang-orang buas kanibal sebelumnya, jika mereka benar-benar membuka pintu itu, siapa yang tahu bencana apa yang menunggu mereka? Dia berteriak dengan tergesa-gesa, “Berhenti! Jangan! Berhati-hatilah!”

Namun, suaranya tidak pernah sampai ke dalam array komunikasi spiritual itu. Sepertinya dia tidak punya waktu untuk mengisi kembali kekuatan spiritualnya sebelumnya, dan semuanya sudah habis sekarang, dan dia hanya bisa mendengarkan semua percakapan itu tanpa berbicara. Bahkan jika dia bisa berbicara, mungkin sudah terlambat. Feng Xin tampaknya sudah melakukan apa yang dikatakan oleh Shi Qing Xuan tanpa berpikir panjang. Bagaimana dia tahu? Karena detik berikutnya, Feng Xin tiba-tiba menjeritkan makian dan kutukan dalam array komunikasi. Dia mengumpat setiap kali dia gelisah, dan ketika dia mengumpat dan mengeluarkan kutukan-kutukan itu seringkali terdengar terlalu vulgar untuk telinga siapa pun, dan untuk alasan melakukan sensor terhadapnya lebih baik jika kata-kata itu tidak pernah diulang. Sebagian besar pejabat surgawi dengan hati-hati mengikuti situasi yang ada, dan dengan segera bertanya, “Jenderal, apa yang terjadi!”

Suara Mu Qing kemudian datang dan juga terdengar sangat kecewa, “Tempat apa ini???” Tampaknya dia juga masuk melalui pintu itu dengan Feng Xin.

“Hati-hati, teman-teman!” Shi Qing Xuan berseru, “Jika kalian melemparkan angka dadu yang berbeda dan salah, pintu itu akan membawa kalian ke tempat yang berbeda. Berapa angka yang kalian lemparkan?”

“Dia melempar empat!” kata Mu Qing.

Xie Lian bisa mendengar suara Feng Xin yang juga terdengar membawa jejak kepanikan dan teror, dan khawatir mereka mungkin akan lari ke tempat yang sangat berbahaya. Suaranya tidak bisa didengar di dalam array komunikasi, tetapi dia ingat bahwa orang yang menggunakan mantra itu tepat di sebelahnya, jadi tanpa berpikir terlalu banyak, dia buru-buru bertanya, “San Lang, jika lemparan dadu mengeluarkan angka empat ke mana pintu itu akan terbuka dan apa yang ada di baliknya?”

“Tergantung,” jawab Hua Cheng. “Pintu akan terbuka untuk apa pun yang paling ditakuti oleh pelempar dadu.”

Setelah Hua Cheng menjawab, Mu Qing dengan dingin berkata, “Kamu bersikeras untuk melempar dadu pertama dan yang ada di balik pintu itu adalah pemandian wanita! Berikan padaku dadu itu, aku yang akan melemparnya!”

Mendengar kalimat “pemandian wanita”, Xie Lian segera menutupi wajahnya dengan tangannya.

Feng Xin selalu menjaga jarak dari wanita, dan selalu menjauhi mereka bahkan ketika ada seseorang yang berbicara tentang mereka, seolah-olah jenis kelamin wanita adalah jenis lain dari binatang buas liar. Baginya, pemandian wanita, benar-benar adalah tempat paling menakutkan di dunia, lebih buruk daripada kedalaman gua harimau atau danau naga yang tak terukur. Tampaknya Mu Qing telah berhasil mengambil dadu darinya, dan Xie Lian menghela napas lega. Namun, tidak lama kemudian, keduanya meraung lagi. Shi Qing Xuan dengan sedih memanggil: “Jenderal, apa yang kalian berdua temui saat ini?”

Tidak ada jawaban, hanya ada suara letupan aneh yang terdengar, seolah-olah mereka berdua tenggelam ke dalam air. Semua orang menahan napas, dan setelah beberapa saat, Feng Xin muncul, menghirup udara sebanyak mungkin, terdengar seperti dia menembus permukaan air, dan meludahkan sesuatu. Dia berteriak, “Buaya Rawa Hitam!”

Ternyata, setelah mereka berdua berada dua langkah keluar dari pemandian wanita dalam kegilaan, ketika Mu Qing mengambil dadu dengan paksa dan kemudian melemparkannya, langkah mereka berikutnya membuat mereka jatuh ke dalam rawa-rawa yang berlumpur. Mereka dengan segera tenggelam ke dalam rawa berlumpur yang kedalamannya melebihi pinggang mereka, melewati mulut mereka, dan setelah berjuang untuk keluar dari tempat itu, lebih dari selusin monster buaya yang panjangnya begitu aneh tampak berenang menuju ke arah mereka berdua dan mengelilinginya. Masing-masing monster itu memiliki panjang lebih dari empat meter, memakan daging manusia, dan menumbuhkan tangan dan kaki manusia dari praktik jahat semacam itu. Ketika mereka bergerak, pemandangan yang ada tampak begitu menakutkan dan menjijikkan, membuat keduanya jijik tanpa bisa mempercayai apa yang ada di depan mereka. Setengah tenggelam dalam rawa hitam itu, keduanya bertarung melawan buaya dengan penuh semangat dan kegilaan, sampai Feng Xin akhirnya merasa tidak bisa bertahan lagi, “Berikan dadunya padaku, biarkan aku melempar! Kamu bahkan tidak bisa melemparkan sesuatu yang bagus!”

Mu Qing adalah orang yang tidak pernah mau mengakui kekalahannya, dan kemudian dia tampak menembakkan ledakan spiritual putih, “Monster-monster ini masih lebih baik daripada pemandian wanita! Siapa yang tahu apa yang akan kamu lempar selanjutnya. Berikan padaku!”

“Sialan―” Feng Xin berteriak marah, “Bukankah kamu sudah mengambil dadunya? Di mana mereka?!”

Keduanya benar-benar melupakan bahwa mereka masih terhubung ke dalam array komunikasi spiritual, dan terus saling bertarung, saling mencela keberuntungan satu sama lain dalam melemparkan dadu; keberadaan dadu itu sudah lama menghilang dan terlupakan. Para pejabat surgawi mendengarkan kalimat-kalimat kutukan dan teriakan mereka; kerusuhan yang terjadi semakin besar, semakin bagus, menyenangkan! Sangat menarik!! Kedua jenderal itu akhirnya merobek topeng mereka dan berhenti peduli pada wajah mereka sendiri! Para pejabat surgawi menahan tawa mereka, beberapa bahkan membanting tinju mereka di kursi mereka sendiri, berharap mati-matian mereka bisa menyaksikan ini secara langsung dan mendukung perjuangan mereka berdua.

Meskipun keberuntungan Feng Xin dan Mu Qing tampaknya bukan yang terbaik, mereka masihlah seorang dewa bela diri, dan monster-monster kecil di sana-sini tidaklah terlalu mengganggu dan bukanlah masalah besar, jadi tidak ada yang terlalu berbahaya. Xie Lian berdoa agar mereka cepat menyerah dan dibebaskan dari kesulitan itu. Pada saat yang sama, dia bersyukur bahwa dia sendiri sebelumnya tidak mengeluarkan angka yang menimbulkan kengerian maupun hal-hal yang mengerikan, dan malah bertemu dengan Hua Cheng. Dia berbicara ketika dia berjalan, “Aku melemparkan dadu dengan hasil mata ular sebelumnya. Apakah itu berarti setiap kali aku melempar dadu dan keluar mata ular, aku akan bisa selalu melihatmu dan bertemu denganmu?”

Saat dia mengakhiri kalimatnya, dia menyadari bahwa kata-katanya terdengar agak aneh, seolah dia benar-benar selalu ingin bertemu dengan Hua Cheng, dan menganggapnya tidak pantas. Tapi Hua Cheng menjawab, “Tidak.”

Xie Lian merasa sedikit canggung dan kemudian tampak menggaruk pipinya, “Oh. Jadi bukan itu masalahnya. Aku salah.”

Hua Cheng, yang pada saat itu masih berjalan di depannya, berkata, “Jika kamu ingin melihatku dan bertemu denganku, tidak masalah apa pun yang kamu lakukan. Aku akan muncul dan ada di sana.”

Mendengar ini, Xie Lian menelan ludah, dan melupakan semua hal yang ingin dia katakan.

Dia tidak memiliki kesempatan untuk membedah makna kata-kata yang diucapkan oleh Hua Cheng sebelumnya sebelum suara orang lain berkata dengan nada yang tenggelam di dalam array komunikasi spiritual: “Biarkan aku!”

Tidak lama setelah orang itu berbicara, tampak ada sebuah kilatan cahaya putih yang melintas di langit dan terdengar suara tabrakan. Tiba-tiba, jalur Hua Cheng dan Xie Lian tampak dihalangi oleh sesuatu.

Ketika cahaya putih itu tampak mendingin dan perlahan menghilang, Xie Lian melihat bahwa benda yang terbang dari langit dan menghalangi jalan mereka sekarang adalah sebuah pedang.

Pedang itu tampak panjang dan ramping, setengah dari tubuh pedang itu terkubur di tanah dengan miring, tubuh pedang itu sendiri masih tampak bergetar. Pedang itu berwarna gelap seperti batu giok hitam, begitu dalam dan tampak menimbulkan suatu firasat, lebih halus dari sebuah cermin, dan jika ada yang mendekati pedang itu, mereka bisa melihat bayangan dari tubuh mereka sendiri pada bilahnya. Hanya garis tipis, garis berwarna perak putih dari jantung pedang yang tampak memotong pedang itu menjadi dua.

Nama pedang ini adalah ‘Fang Xin’.

Sebuah bayangan tampak mendarat di depan pedang itu dan berkata, “Itu adalah pedangmu.”

Setelah kematian Kepala Pendeta Fang Xin, pedang yang dibawanya disimpan oleh putra mahkota Yong An. Orang yang telah melemparkan pedang Fang Xin dan memblokir jalan mereka ini tidak lain adalah Lang Qian Qiu.

Dengan kedatangannya ini tampak seperti Feng Xin dan Mu Qing telah gagal, tetapi Lang Qian Qiu mampu menggulirkan angka yang benar. Benar-benar tidak bisa dikatakan apakah itu karena keberuntungannya atau apakah itu kemalangan yang dimiliki Xie Lian sendiri. Satu-satunya hal yang bisa dikatakan dengan pasti adalah antara dua Putra Mahkota ini, Lang Qian Qiu selalu lebih beruntung daripada Xie Lian.

Hua Cheng berdiri dengan tangan di belakang tubuhnya, ekspresinya tidak berubah, hanya saja, tubuhnya tampak membuat gerakan kecil. Saat dia bergerak, Xie Lian segera mengulurkan tangan untuk menghentikannya dan berkata dengan suara kecil, “Biarkan aku saja.”

Tepat di tengah-tengah lembah itu, Lang Qian Qiu memblokir satu-satunya jalan bagi mereka berdua, tangannya memegang pedang panjang yang terlalu besar, dan berkata, “Aku hanya ingin berduel denganmu dengan sekuat tenaga. Tidak masalah bagaimana ini akan berakhir nanti. Bahkan jika aku mati di tanganmu, aku tidak akan meminta kompensasi apa pun. Aku tidak membutuhkanmu untuk meminta pembuangan dari Kaisar Surgawi. Kamu sudah mengajariku seni pedang; bukan berarti kamu tidak bisa menang, jadi mengapa kamu tidak mau melawanku?”

Xie Lian tahu bahkan tanpa Lang Qian Qiu mengatakannya, dia akan bertarung dengan semua kekuatan yang dia miliki. Tapi, jika dia tidak menahan diri, maka Xie Lian juga harus bertarung dengan serius. Jika itu masalahnya, tidak ada skenario yang telah dipikirkannya yang akan berhasil dilihat Xie Lian. Tetapi jika Xie Lian tidak melawannya, Lang Qian Qiu tidak akan menyerah.

Setelah memikirkannya lebih mendalam, Xie Lian akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan, “Baik.”

Dia mengambil beberapa langkah ke depan dan mendekati pedang itu, menariknya dari tanah, dan berkata dengan lembut, “Kamu yang meminta semua ini.”

Setelah ratusan tahun, Fang Xin akhirnya kembali ke tangan tuannya.

Pedang itu tampak mengerang pelan di tangan Xie Lian. Jika dilihat lebih dekat lagi, mata Hua Cheng juga bersinar ketika mendengar teriakan gembira dari pedang itu.

Dengan pedang di tangannya, Xie Lian mengayunkan dan mengarahkannya ke tanah sebelum berkata dengan suara dingin, “Apa pun hasil dari pertarungan ini, jangan pernah menyesalinya.”

“AKU TIDAK AKAN PERNAH!” Lang Qian Qiu berteriak.

Lang Qian Qiu merasa kepalanya akan pecah; kedua tangannya memegang pedang panjang itu dengan erat, matanya mencoba tetap fokus, napasnya tertahan, penglihatannya terkunci hanya pada Fang Xin, pedang itu hitam seperti batu giok, tidak berani untuk sedikit saja lengah pada pertahanannya sendiri bahkan untuk sesaat.

Xie Lian menyentak pedangnya, dan tiba-tiba berlari seperti panah. Mata Lang Qian Qiu menyatu, siap untuk menyerang, namun tiba-tiba tubuhnya membeku, seolah-olah ada sesuatu yang membungkus dan menahannya dengan erat, dan kemudian dia terjatuh dengan begitu berat ke tanah.

Dia menundukkan kepalanya untuk melihat dan menemukan bahwa dirinya kini benar-benar terikat! Sebuah pita sutra berwarna putih salju tampak melilit sekujur tubuhnya berkali-kali seperti ular berbisa!

Lang Qian Qiu diajari mengenai ilmu pedang oleh Kepala Pendeta Fang Xin sejak dia masih muda, dan memegang rasa takut dan hormat kepada Kepala Pendeta itu; bahkan setelah begitu banyak darah yang tumpah seperti sungai di Perjamuan Berlapis Emas, kekaguman itu tidak pernah berhenti. Saat Xie Lian menyentuh pedangnya, dia hanya memfokuskan seluruh pandangannya pada gerakan lawan yang ada di depannya, dan tidak pernah sekalipun memperhatikan bahwa ada sebuah pita sutra putih yang menyelinap ke belakang tubuh lawannya untuk menyergapnya saat dia siap untuk menyerang. Bagaimana mungkin ada hal yang tidak tahu malu seperti itu???

Melihat bahwa serangan Ruoye berhasil, Xie Lian langsung melepaskan ekspresi tegang dan mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.

Dia melemparkan Fang Xin ke samping dan menarik napas panjang, berpikir, ‘Wah, hampir saja.’

Lang Qian Qiu terbaring di tanah dan tampak berjuang untuk membebaskan diri. Dia tidak tahu seberapa jahatnya pita sutra putih itu, dan semakin dia berjuang untuk melepasnya, semakin erat ikatannya. Dia berteriak dengan marah, “Kepala Pendeta, apa-apaan ini?! Biarkan aku pergi dan mari kita bertarung sampai mati!”

Xie Lian menyeka keringat di dahinya dan menjawab, “Kita sudah bertarung sampai mati. Benda yang mengikatmu saat ini adalah salah satu perangkat spiritual milikku. Kamu sudah kalah.”

“…”

”Bagaimana mungkin ini bisa dihitung?” Lang Qian Qiu berteriak, ”Ketika aku mengatakan bertarung sampai mati, aku jelas bermaksud menggunakan pedang untuk bertarung! Gunakan pedangmu jika kamu adalah seorang pria! Menyerang diam-diam dengan pita putih ini? Betapa liciknya!”

Dia benar-benar berpikir bertarung dengan pedang adalah yang terbaik dari semua senjata dan tidak terlalu memedulikan kata-katanya, tetapi itu benar-benar terdengar seperti dia adalah seorang pejabat pria yang memiliki niatan untuk menentang penggunaan pita sutra putih miliknya. Tapi Xie Lian tidak peduli apakah dia bertingkah seperti pria atau tidak. Dia bahkan pernah melakukan crossdress sebelumnya, dan dengan santainya berkata ‘Aku tidak bisa ereksi’ yang keluar dari bibirnya sendiri. Tidak ada yang bisa sampai seperti dirinya.

Xie Lian berlutut di sebelah Lang Qian Qiu, “Kamu tidak memikirkan semuanya dan tidak pernah mengatakan bahwa aku harus menggunakan pedang. Aku menggunakan celah yang kamu miliki, jadi untuk siapa kata-kata yang kamu katakan itu?”

Setelah jeda yang tampak begitu lama, dia melanjutkan dengan nada serius, “Itu benar, aku menyerangmu diam-diam. Lalu? Aku berhasil. Ya, memang benar aku licik, tapi lalu memangnya kenapa? Aku menang. Jika lawanmu adalah orang lain selain aku, kamu pasti sudah mati.”

Hua Cheng berdiri tidak jauh dari mereka berdua, dan tertawa tanpa suara. Dia menyilangkan tangan dan memalingkan wajah. Lang Qian Qiu terkejut sampai ke dalam sudut hatinya.

Ketika orang itu masih menjadi Kepala Pendeta Yong An, semua ajarannya terdengar begitu terhormat dan teliti, lugas dan tulus. Dia tidak pernah mengira akan ada hari ketika dia mendengar dari bibir Masternya sendiri sesuatu seperti, “Ya, Aku menyerangmu diam-diam, lalu? Aku berhasil. Ya aku memang licik, tapi lalu kenapa? Aku menang.” Dia tertegun.

Setelah mengatakan semua hal yang ada di dalam pikirannya, Xie Lian berdiri, “Pikirkanlah sendiri. Lain kali, jangan menghalangi jalan orang lain.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments