Penerjemah: Jeffery Liu


Meskipun kata-kata itu terdengar sedikit meremehkan, hanya dengan mendengarnya menyebabkan semua orang di dalam Aula Bela Diri Besar mengambil napas dengan begitu berat. Banyak dari mereka yang berpikir: kamu tidak lebih dari seorang dewa sampah yang tidak berdaya, bagaimana mungkin kamu bisa begitu tidak tahu malu untuk mengatakan kepada Lang Qian Qiu, dewa bela diri dari Timur, bahwa jika kamu bertarung melawannya, dia pasti akan mati? Kesombongan macam apa itu! Hal itu membuat seolah-olah permintaan pembuangannya yang sebelumnya dia katakan tidak lebih dari karena pertempuran melawan Lang Qian Qiu lebih rendah dari itu. Omong kosong murni. Namun Lang Qian Qiu tidak berpikir kata-katanya dibesar-besarkan sama sekali. “Aku berkata, hidup dan mati tidak masalah! Aku juga tidak membutuhkanmu untuk melepaskanku!”

Xie Lian mengabaikannya dan mengulangi permintaannya pada Jun Wu, “Berdoa dan berharap Tuanku mengusirku ke alam yang lebih rendah.”

Shi Qing Xuan tiba-tiba mengangkat tangannya, “Tunggu! Aku memiliki banyak hal untuk dikatakan!”

“Bicaralah, Master Angin.” kata Jun Wu.

“Semua orang di sini sepertinya berpikir bahwa Yang Mulia Xian Le menumpahkan darah bangsawan Yong An untuk membalas dendam. Namun, jika itu adalah balas dendam, lalu mengapa dia membiarkan Putra Mahkota Yong An, Yang Mulia Tai Hua pergi dan tetap hidup? Logikanya, orang yang paling utama untuk ditebas dalam pembalasan dendam itu seharusnya adalah Putra Mahkota sendiri, apakah aku salah?”

Bukannya tidak ada yang memikirkan detail ini, tapi tidak ada yang menganggapnya perlu untuk menyuarakannya juga. Sekarang setelah Master Angin membicarakan mengenai masalah itu, beberapa orang mengangguk setuju. Shi Qing Xuan melanjutkan, “Yang Mulia dan aku belum lama saling mengenal, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia bertarung langsung dengan pedang E-Ming untuk melindungi Yang Mulia Tai Hua. Qian Qiu, jika dia memandang kerajaan Yong An dengan kebencian, mengapa dia membelamu dan melindungimu dari serangan pedang itu?”

Mendengar bahwa Xie Lian menghadapi E-Ming secara langsung, Feng Xin dan Mu Qing menatap Xie Lian. Dari sekeliling mereka terdengar beberapa bisikan yang berkata, “Mungkin dia hanya merasa bersalah”, tetapi Shi Qing Xuan segera mengangkat suaranya untuk berseru, “Pedang E-Ming adalah senjata kemalangan; pedang terkutuk! JADI! Aku pikir seluruh masalah ini sangat mencurigakan!”

“Aku sangat iri bahwa Yang Mulia telah mendapatkan persahabatannya dengan Tuan Master Angin dan membelanya.” Pei Ming berkata, “Sayang sekali Pei Kecil kita tidak seberuntung itu.”

“Jenderal Pei, jangan beri lumpur pada perairan yang jernih.” Shi Qing Xuan berkata, “Bisakah kasus Pei Kecil disamakan dengan masalah ini? Aku melihat dia melakukan kejahatan dengan mata kepalaku sendiri, dan mendengar dengan telingaku sendiri pengakuannya atas kejahatan tersebut.”

“Lalu bukankah itu juga sama persis dengan hari ini?” Pei Ming berdebat, “Yang Mulia Tai Hua melihatnya melakukan kejahatan, dan mendengarnya mengakui kejahatannya dengan telinganya sendiri. Bagaimana mungkin itu berbeda?”

Shi Qing Xuan menjadi sangat marah dan akan membantah ketika Xie Lian menahannya, “Tuan Master Angin, terima kasih, aku benar-benar berutang budi. Tapi tolong biarkan masalah ini pergi.”

Shi Qing Xuan sendiri belum memikirkan kata-kata terbaik apa untuk membalas ucapan Pei Ming, jadi dia hanya menunjuk padanya tetapi tidak ada lagi kata-kata yang keluar.

Akhirnya, Jun Wu berbicara, nadanya terdengar tenang. “Semuanya tolong tenang.”

Suaranya tidak terlalu keras, sangat tenang, namun semua orang di dalam Aula Bela Diri Besar mampu mendengar kata-katanya dengan jelas, dan mereka semua berdiri kembali ke posisi semula. Begitu aula menjadi tenang, Jun Wu berbicara lagi, “Tai Hua, tindakanmu selalu impulsif. Ketika situasi semacam ini muncul, seseorang tidak boleh gegabah; dengarkan dengan tenang, nilai, dan kemudian evaluasi setelah kamu mengetahui keseluruhan cerita.”

Lang Qian Qiu menunduk untuk memperhatikan nasihat itu. Jun Wu melanjutkan, “Xian Le menolak untuk memberi kami cerita lengkap itu, jadi permintaannya untuk pembuangan ditolak. Dia akan ditahan di istana Xian Le, dan aku pribadi akan menginterogasinya setelah ini. Sebelum itu, kalian berdua tidak akan bertemu.”

Itu adalah sebuah kesimpulan yang tidak diharapkan oleh siapa pun.

Jun Wu melindungi Xie Lian, bahan tertawaan dari tiga alam yang tidak memiliki kuil, tidak ada penyembah, dan tidak ada pahala!

Lang Qian Qiu adalah dewa bela diri yang memerintah wilayah timur; jika dia tidak senang dengan vonis itu, maka sungguh ini adalah suatu urusan yang merugi! Bahkan kemudian Jun Wu memilih untuk melindungi Xie Lian… bukankah itu berarti dia masih sangat mendukungnya?!

Banyak pejabat surgawi kini melihat di mana angin bertiup, dan memutuskan dalam hati mereka sendiri bahwa sejak saat itu mereka tidak akan secara terbuka menyebutkan kata-kata “bahan tertawaan dari tiga alam”. Shi Qing Xuan menghela napas lega dan dengan keras memuji Jun Wu atas kebijaksanaannya. Lang Qian Qiu di sisi lain hanya menatap Xie Lian dengan seksama, “Apa pun yang tuan ingin tanyakan, silakan dan tanyakan, tapi apa pun kesimpulannya aku masih akan berduel dengannya!”

Setelah mengatakan itu, Lang Qian Qiu tampak membungkuk pada Jun Wu sebelum dia berbalik dan meninggalkan aula. Jun Wu melambaikan tangannya dan beberapa petugas bela diri maju untuk membawa Xie Lian pergi. Ketika mereka melewati Shi Qing Xuan, Xie Lian berbicara dengan suara lembut, “Tuan Master Angin, terima kasih untuk semuanya. Tetapi jika kamu ingin membantuku, tolong jangan katakan apa pun lagi untuk membelaku, tetapi bisakah aku memintamu melakukan dua hal untukku?”

Shi Qing Xuan masih merasa sedih karena sebelumnya sudah mengipasi api yang membakar Manor Surga, dan berharap Xie Lian akan meminta apa pun kepadanya. “Apa pun yang kamu butuhkan.”

“Anak laki-laki yang berada di kamar samping, tolong jaga dia.” kata Xie Lian.

“Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan! Lalu apa hal yang kedua?” kata Shi Qing Xuan.

“Jika Jenderal Pei masih ingin mempersulit Ban Yue di masa depan, tolong bantu dia.”

“Tentu saja.” Shi Qing Xuan menjawab, “Aku tidak akan membiarkan Pei Ming menghalanginya. Di mana dia?”

“Aku sudah menyembunyikannya di dalam kendi kecil di Kuil Pu Qi-ku. Jika kamu punya waktu, tolong keluarkan dia sewaktu-waktu,” kata Xie Lian.

“…”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Master Angin, dua pejabat surgawi kemudian membawa Xie Lian ke dalam istana Xian Le sebelum dengan sopan kemudian meminta undur diri.

“Terima kasih atas kerja kerasmu.” Xie Lian menundukkan kepalanya sedikit.

Melangkah melewati gerbang depan, Xie Lian menutup pintu di belakangnya. Dia tampak melihat sekeliling tempat itu, seperti yang dia harapkan, tidak hanya penampilannya tampak begitu bijaksana tetapi semua fasilitas yang ada di sana kini terlihat sama persis dengan istananya sebelumnya. Terakhir kali dia melewati tempat itu dia tidak masuk, tidak pernah menduga bahwa pertama kali dia menginjakkan kaki di sini adalah karena penahanan. Bukan pertanda baik.

Tapi setelah begitu banyak kegembiraan selama beberapa hari terakhir, hatinya lelah, dan Xie Lian langsung pingsan di lantai.

Dia memimpikan banyak hal.

Dia tampak bermeditasi dengan mata terpejam, ketika berkedip, dia mendapati dirinya duduk dalam posisi seperti bunga lotus di depan sebuah meja, jubah hitamnya yang berlapis lapis tampak tersebar di lantai di sekitarnya, dan wajahnya tampak dingin, itu adalah sebuah topeng yang berat.

Ketika dia menundukkan kepalanya, pemandangan yang menyapa di depannya adalah seorang anak lelaki yang tergeletak di atas meja. Bocah itu tampak berusia empat belas atau lima belas tahun, pakaiannya begitu mulia, wujudnya seperti memetik kehidupan, tetapi anak itu tampak tertidur lelap.

Dia menggelengkan kepalanya dan berjalan. Membungkuk sedikit, dan kemudian dia mengetuk meja, “Yang Mulia.”

Mungkin itu karena disebabkan oleh topeng dingin itu, bahkan suaranya terdengar begitu dingin. Bocah itu akhirnya terbangun dengan kaget. Ketika dia mengangkat matanya dan melihatnya, dia langsung duduk tegak dengan tatapan ngeri: “KKK-Kepala Pendeta!!!!”

Dia berkata, “Kamu tertidur lagi. Salin Kitab Suci Etika sepuluh kali sebagai hukuman.”

Putra Mahkota itu berteriak dengan cemas: “Tuan, tolong jangan! Mengapa kamu tidak meminta aku untuk berlari saja selama sepuluh putaran di sekitar istana sebagai hukuman?”

“Menyalin dua puluh kali. Lakukan sekarang, dan tulislah dengan baik.”

Putra Mahkota itu tampaknya takut padanya, dan kemudian dia tampak duduk dengan benar untuk mulai menulis. Dia kemudian duduk kembali pada posisi semula dan terus bermeditasi.

Sejujurnya, semua orang di istana itu sedikit takut padanya. Tapi perasaan menjaga jarak dan kekuatan yang menindas ini dibuat dengan sengaja olehnya.

Namun, Putra Mahkota ini mungkin terlalu muda, jadi dia tidak pernah bisa menahan rasa takut semacam itu terlalu lama. Tidak lama setelah dia mulai menyalin tulisan suci, dia berseru, “Tuan!”

Dia meletakkan buku itu di tangannya, “Ada apa?”

“Aku menjadi ahli dalam semua teknik pedang yang kamu ajarkan padaku terakhir kali. Bukankah sudah waktunya untuk teknik baru?” kata Putra Mahkota.

“Baik. Apa yang ingin kamu pelajari?” Dia berkata.

“Aku ingin mempelajari teknik yang kamu gunakan untuk menyelamatkanku!” seru Putra Mahkota.

Dia merenung sebentar dan berkata, “Yang itu? Tidak.”

“Kenapa?” tanya Putra Mahkota.

“Teknik itu tidak praktis. Setidaknya itu tidak cocok untukmu di posisimu saat ini,” jelasnya.

Putra Mahkota tampak tidak mengerti: “Tapi bukankah itu luar biasa? Menggunakan satu pedang untuk melenyapkan dua serangan! Kamu menyelamatkanku dengan teknik itu!”

Itu terdengar normal untuk Putra Mahkota jika dia tidak mengerti. Dia berkata, “Yang Mulia, izinkan aku mengajukan pertanyaan kepadamu.”

“Silakan!”

Dia berkata: “Suatu kali ada dua orang, mata mereka berwarna merah karena kelaparan, dan mereka berdua mulai berkelahi untuk saling merampok makanan satu sama lain. Masuklah orang ketiga, dan dia ingin menghentikan perkelahian. Apakah kamu pikir kata-kata akan efektif dalam situasi ini?”

“…Tidak, itu akan sia-sia. Mereka hanya menginginkan makanan, bukan?”

“Benar. Karena akar masalah tidak terpecahkan, tidak ada yang mau mendengarkan alasan yang kamu katakan. Dengan demikian, satu-satunya cara bagi orang ketiga ini untuk dapat menghentikan perkelahian itu adalah dengan memberikan apa yang mereka inginkan. Untuk memberi makanan dari kantongnya sendiri.”

Putra Mahkota tampak mengerti tetapi juga tidak.

Dia melanjutkan: “Alasannya sama. Kamu harus mengerti bahwa saat pedang terhunus, seseorang akan terluka. Ketika serangan dilepaskan, sesuatu harus menerimanya.”

“Jadi, salah bagimu untuk mengatakan bahwa aku melenyapkan kekuatan dua pedang. Tidak ada yang dilenyapkan; Aku menyerap serangan mereka. Menghentikan serangan dengan menyakiti diri sendiri adalah teknik yang bodoh, dan hanya digunakan ketika tidak ada alternatif lain.”

“Kamu adalah Putra Mahkota yang terhormat. Kamu tidak harus melakukan hal semacam itu.”

Putra Mahkota terus menyalin kitab sucinya, tetapi setelah beberapa saat, dia kemudian tampak tenggelam dengan pikiran.

Dia bertanya: “Apakah kamu punya pertanyaan lain?”

Setelah ragu-ragu sejenak, Putra Mahkota berkata: “Satu hal. Master, jika orang ketiga tidak memiliki cukup makanan, lalu apa yang harus dilakukan?”

“…”

Putra Mahkota melanjutkan: “Jika kedua orang yang kelaparan itu mendapatkan makanan tetapi menginginkan lebih, dan berjuang lebih keras karena keserakahan, dan mencari lebih banyak makanan dari orang ketiga, apa yang harus dilakukan?”

“Bagaimana menurutmu?” Dia bertanya.

Putra Mahkota merenung dan berkata, “Aku tidak tahu… Mungkin, dia seharusnya tidak ikut campur dalam urusan dua orang itu sejak awal.”


Aula Besar itu layaknya aula emas. Segalanya emas. Namun, saat ini, semuanya tampak berubah menjadi merah.

Setiap meja jamuan yang terbuat dari emas yang ada di sana, seseorang tergeletak di atasnya. Tenggorokan mereka tertusuk, kematian mereka begitu tragis.

Tangannya yang memegang pedang tidak akan berhenti bergetar. Raja yang begitu terhormat dan megah itu berlumuran darah, matanya merah dipenuhi rasa sakit dan kebencian. Di sebelah kakinya adalah mayat ratu.

Pedangnya ada di tangan, dia mengambil langkah demi langkah dan berjalan mendekat. Ketika Raja mengangkat kepalanya dan melihatnya, dia tercengang. “Kepala Pendeta? Kamu…?!”

Pedang yang sangat dingin dan kejam itu menyerangnya.

Tepat pada saat yang sama, dia merasakan sesuatu dan segera memalingkan kepalanya. Putra Mahkota muda itu tepat berada di luar pintu, berdiri di tengah-tengah mayat penjaga.

Mata bocah itu tampak kosong, seolah bertanya-tanya apakah yang dilihatnya saat itu adalah kenyataan atau mimpi. Dia mengambil langkah dan hampir tersandung di ambang pintu, pikirannya hilang.

Dia mencabut pedangnya; darah berhamburan ke jubah hitamnya.

Putra Mahkota tidak tersandung oleh ambang pintu tetapi tersandung oleh mayat yang ada di tanah. Dia bergegas berlari menuju ke tubuh raja, suaranya akhirnya kembali: “Ayah!? Ibu?!”

Namun Raja tidak akan pernah berbicara lagi. Putra Mahkota itu tidak bisa menggoyahkannya dan memutar kepalanya untuk menatap ke arahnya, matanya membelalak: “Master! Apa yang sedang kamu lakukan? APA YANG KAMU LAKUKAN?! KEPALA PENDETA!!!”

Sudah lama sekali sebelum dia mendengar suaranya sendiri tanpa emosi―

“Kalian semua pantas mendapatkannya.”


Xie Lian sama sekali tidak tidur nyenyak dan bangun dengan kaget.

Dia dengan masih mengantuk menggosok matanya dan menyadari bahwa dia sebenarnya tidak tidur selama itu, dan juga tidak memimpikan hal yang baik. Beruntung ada sesuatu di dadanya yang membuat dia terbangun. Dia duduk sebentar, lalu menemukan sesuatu di pakaiannya setelah merasakan sesuatu ada di sana. Dia membuka telapak tangannya dan menemukan dua buah dadu, dadu yang sama dari Manor Surga sebelumnya.

Bayangan dari lautan merah tanpa sadar melayang di benaknya. Pemandangan itu begitu buram tetapi siluet merah itu jelas seperti siang hari, mengawasinya dan tidak bergerak dalam lautan merah itu. Xie Lian menghela napas, “Aku ingin tahu berapa banyak yang tersisa dari Manor Surga milik San Lang. Jika aku dibuang lagi kali ini, siapa yang tahu berapa banyak sampah yang harus aku jual atau berapa lama bagiku untuk bisa membayar dan mengganti rugi semua itu… mungkin beberapa dekade, berabad-abad, atau bahkan aku akan membayarnya dengan seluruh kehidupan yang aku miliki.”

Xie Lian melihat dua dadu itu sesaat sebelum menepukkan kedua tangannya, menggoyangkan dua dadu itu di dalam kedua telapak tangannya dan melemparkannya ke tanah. Dadu itu tampak berguncang dan berguling-guling di tanah sebelum berhenti.

Seperti yang sudah dia duga, semua keberuntungan yang dipinjamnya dari Hua Cheng kini telah habis. Dia berharap untuk mendapatkan dua dadu bernilai dua angka enam, tapi dadu itu hanya menunjukkan mata ular.

Xie Lian tidak bisa menahan tawanya, menggelengkan kepala, dan tiba-tiba mendengar suara langkah kaki datang dari belakang. Dia segera menenangkan dirinya dan menyimpan kembali dua dadu itu dan senyumnya.

Langkah kaki itu tidak terdengar seperti langkah kaki Jun Wu. Jun Wu berjalan dengan langkah yang tegas dan pasti, tidak tergesa-gesa. Meskipun Hua Cheng berjalan dengan acuh tak acuh, terkadang malas, namun aura kepercayaan diri dan kepastian miliknya sama persis. Namun, langkah kaki ini agak terdengar ringan. Xie Lian menoleh dan tampak terkejut, “Itu kamu.”

Orang di depannya kini tampak berpakaian hitam, wajahnya cerah dan bibirnya tipis. Ekspresinya acuh tak acuh, bahkan mungkin sedikit tampak dingin. Sebagai seorang dewa bela diri, dia lebih mirip dewa sastra. Siapa lagi yang bisa melakukannya dan memiliki semua ciri-ciri itu selain Mu Qing.

Dia melihat ekspresi terkejut yang ada pada diri Xie Lian dan mengangkat alisnya, “Siapa yang kamu pikirkan? Feng Xin?”

Tanpa menunggu jawaban darinya, dia mengangkat jubah hitamnya dan melewati ambang pintu. “Feng Xin mungkin tidak akan datang setelah semua ini.”

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Xie Lian bertanya.

“Kaisar menahanmu, dan tidak akan membiarkan Yang Mulia Tai Hua datang menemuimu. Tapi dia tidak bilang bahwa aku tidak bisa datang ke sini.” kata Mu Qing.

Dia tidak repot-repot menjawab pertanyaan Xie Lian. Terserah. Xie Lian sebenarnya tidak terlalu penasaran, dan tidak menanyainya lebih lanjut. Mu Qing memandang sekeliling istana Xian Le yang baru dibangun itu, matanya berakhir pada Xie Lian. Setelah beberapa saat berpikir, dia tiba-tiba melemparkan sesuatu padanya. Sebuah bayangan biru tampak melintas di udara; Xie Lian menangkapnya dengan tangan kiri, dan ketika dia membuka telapak tangannya itu adalah botol porselen biru kecil.

Itu adalah sebotol obat. Mu Qing berkata apatis, “Menyeret dirimu sendiri dan berjalan dengan tangan kanan yang terluka dan berdarah tidak terlihat bagus.”

Xie Lian memegang botol itu tetapi masih tidak bergerak, dan mengawasinya dengan tajam.

Setelah kenaikan ketiganya, hanya ada satu kata untuk menggambarkan cara Mu Qing memperlakukannya: aneh. Selalu terasa seperti dia sedang menunggu Xie Lian untuk diusir dan dibuang untuk ketiga kalinya sehingga dia bisa membuat komentar mencibir. Namun sekarang Xie Lian mungkin akan benar-benar diusir untuk ketiga kalinya, dia tiba-tiba menjadi ramah dan bahkan datang untuk memberinya obat. Perubahan seratus delapan puluh derajat dalam sikapnya ini sebenarnya membuat Xie Lian merasa sedikit aneh.

Melihat Xie Lian tidak bergerak, Mu Qing menyeringai lemah, “Gunakan itu jika kamu mau. Bagaimanapun, tidak ada orang lain yang akan datang.”

Itu bukanlah sebuah senyum tanpa kegembiraan; sudah jelas bahwa dia sebenarnya merasa cukup baik. Meskipun Xie Lian tidak merasa lengan kanannya sakit, tidak ada alasan untuk membiarkan luka-luka itu tetap berada di sana. Tepukan sebelumnya yang diberikan oleh Jun Wu adalah sejenis perbaikan cepat, tetapi akan lebih baik untuk minum obat dan lukanya diobati. Jadi, dia membuka botol biru kecil itu dan mulai menuangkan isinya ke lengannya. Apa yang keluar dari botol itu bukanlah bubuk atau pil, melainkan asap biru muda. Asap itu melayang dengan liar, melingkari lengannya, aromanya sejuk dan menyegarkan. Itu pasti barang kelas tinggi.

Mu Qing tiba-tiba bertanya, “Apakah semua yang dikatakan Lang Qian Qiu benar? Apakah kamu benar-benar membunuh semua bangsawan Yong An?”

Xie Lian mengangkat matanya untuk menatapnya. Bahkan jika Mu Qing telah menyembunyikannya secara paksa, Xie Lian masih bisa melihat benang kegembiraan yang tak terkendali di matanya. Dia tampaknya sangat tertarik pada detail masalah Xie Lian yang menumpahkan darah di Perjamuan Berlapis Emas dan melanjutkan pertanyaannya, “Bagaimana caramu membunuh mereka?”

Saat itu, satu set langkah kaki datang dari belakang mereka. Keduanya memalingkan kepala pada saat yang sama, dan yang berkunjung kali ini adalah Feng Xin! Saat dia memasuki tempat itu, dia melihat Mu Qing di aula utama, bahkan dia tampak tersenyum di samping Xie Lian yang tampak membungkukkan badannya, dia segera mengerutkan kening dengan sebuah peringatan, “Apa yang kamu lakukan di sini?”

Xie Lian melambaikan botol kecil di tangannya. Mu Qing tampak memperbaiki ekspresinya. Sebelumnya Mu Qing mengatakan bahwa Feng Xin tidak akan datang, dan Feng Xin tiba detik berikutnya; tidak lucu sama sekali.

“Ini bukan istanamu. Ada apa? Apa maksudmu kamu bisa datang tetapi aku tidak?” kata Mu Qing.

Feng Xin mengabaikannya dan menoleh ke arah Xie Lian. Dia bahkan belum membuka mulutnya dan Xie Lian telah terlebih dahulu berbicara, “Jika kalian berdua datang untuk menanyakan pertanyaan yang sama, maka aku akan memberimu satu jawaban. Tidak perlu untuk tidak percaya; setiap kata yang aku katakan di Aula Bela Diri Besar hari ini adalah sebuah kebenaran.”

Wajah Feng Xin tampak memucat. Mu Qing membenci ekspresi itu dan berkata dengan jengkel, “Baiklah, singkirkan wajah itu. Setelah semuanya, untuk siapa ekspresi sedih dan terluka itu ditujukan?”

Feng Xin memelototinya, “Bukan untukmu! Keluar!”

“Dan memangnya siapa kamu memberitahu dan memaksaku untuk keluar dari tempat ini?” Mu Qing berkata, “Berbicara seolah-olah kamu sangat setia. Berapa tahun kamu bertahan terakhir kali? Bukankah kamu juga melarikan diri?”

Urat-urat nadi tampak muncul di seluruh wajah Feng Xin. Xie Lian bisa merasakan percakapan ini berjalan ke arah yang salah dan kemudian mengangkat tangannya, “Tunggu. Tahan dulu sebentar.”

Seperti Mu Qing adalah tipe orang yang mau menahan semua itu. Dia mencibir, “Semua orang mengatakan bahwa semua itu terjadi karena kamu tidak bisa menerima tuan lamamu jatuh dari rahmat dan kasih karunianya. Alasan yang sangat bagus. Pada akhirnya, kamu melakukan itu hanya karena tidak ingin menyia-nyiakan sisa hari-harimu mengikuti orang yang rusak.”

Feng Xin mengayunkan tinjunya, “MEMANGNYA KAMU TAHU APA?!”

Bam! Tinju Feng Xin mendarat tepat di wajah Mu Qing. Mu Qing adalah jenis anak laki-laki cantik yang standar; pukulan keras dari Feng Xin terasa seperti kesemek pecah di wajahnya, wajah itu kini tampak berdarah dan menyedihkan. Namun dia tetap berdiri, dan sama sekali tidak meringis, dia memukul balik. Ketika keduanya naik, mereka berdua mendapatkan perangkat spiritual mereka sendiri, namun pada puncak kemarahan yang kini mereka alami, alat terbaik untuk melepaskan kemarahan mereka adalah tinju mereka sendiri. Ketika Feng Xin dan Mu Qing bertarung delapan ratus tahun yang lalu, seni bela diri mereka berada pada tingkat yang sama. Setelah delapan ratus tahun, masih belum ada perbedaan. Setiap pukulan mendarat; perkelahian itu tampak begitu berantakan dan gila, masing-masing dari mereka mencoba menahan diri mereka sendiri.

Feng Xin berteriak dengan marah, “Jangan pikir aku tidak tahu pikiran jahatmu! Semakin banyak kejahatan yang dilakukannya, semakin kamu menjadi bahagia!!”

Mu Qing meludah, “Aku tahu kamu selalu memandang rendah diriku, jenis candaan macam apa ini! Lihat dirimu sendiri! Apa hakmu harus memandang rendah diriku. Panci yang menyebut ketel hitam!”

Lang Qian Qiu dan Xie Lian bahkan belum mulai bertarung dan di sini Feng Xin serta Mu Qing sudah mulai berkelahi. Dendam mereka telah dibangun sejak lama; perkelahian itu tidak terkendali dan begitu kacau, keduanya saling memaki tanpa mendengar apa yang diumpat dari lawan bicara mereka, dan tentu saja mereka berdua tidak keberatan mendengar ataupun sama sekali tidak memikirkan apa pun yang dikatakan Xie Lian. Xie Lian mengingat kembali ketika mereka bertiga lebih muda, Mu Qing lebih bersuara lembut dan sopan, dan jika Feng Xin mengeluarkan tinjunya untuk memukul siapa pun, itu semua ada di bawah perintah Xie Lian, dan dia akan berhenti ketika Xie Lian berkata berhenti. Sekarang tidak demikian halnya.

Menyeret lengannya, Xie Lian berlari ke arah pintu, berharap untuk meminta bantuan dari pejabat surgawi terdekat, tetapi, bahkan sebelum dia melangkah keluar dari aula utama, suara BANG keras terdengar dan meledak dari arah depan. Feng Xin dan Mu Qing juga dikejutkan oleh suara besar itu dan kemudian berhenti, mata mereka tampak waspada, mereka tampak mencari dari mana suara itu berasal.

Pintu depan dari istana Xian Le ditendang terbuka oleh seseorang. Di balik pintu itu bukanlah Jalan Bela Diri Besar Pengadilan Surgawi yang mahal, tetapi sebuah kegelapan yang begitu dalam dan mematikan.

Dan dari dalam kegelapan, kupu-kupu perak dingin yang tak terhitung banyaknya bergegas keluar dan terbang menuju ke arah mereka.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments