Penerjemah: Jeffery Liu


Shi Qing Xuan mengerutkan keningnya, “Jalan buntu? Tidak mungkin.”

Dia memegang obor di satu tangan, dan menggunakan tangannya yang lain untuk merasakan tembok batu di sana, mencari tanda-tanda mekanisme yang mungkin ada di sana. Dia kemudian mengucapkan segala mantra untuk membersihkan ilusi; tembok itu tetap tidak bergerak. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, “Mungkin aku harus melubangi tembok ini?”

“Itu akan menyebabkan keributan yang terlalu besar,” kata Xie Lian, “Seluruh Manor Surga akan terguncang.”

Shi Qing Xuan meletakkan telapak tangannya di tembok batu itu dan kemudian meledakkan sebuah semburan energi spiritual di sana, tetapi kemudian kembali menjatuhkan tangannya setelah beberapa saat, “Bahkan jika aku menghancurkan tembok ini, itu tidak akan berguna. Tebal tembok ini mungkin lebih dari sepuluh kaki.”

Xie Lian melihat dengan matanya sendiri bahwa pemuda bertopeng yang sebelumnya telah masuk ke sini, bukankah akan konyol untuk berpikir bahwa dia akan menyelinap hanya untuk bermeditasi dan merenung di jalan buntu ini? Pasti ada semacam mekanisme yang terlibat, sehingga kedua pejabat surgawi ini terus memeriksa keseluruhan tempat itu secara lebih rinci. Dengan segera, Xie Lian menunjuk pada sesuatu dan berkata, “Tuan Master Angin, lihatlah ke tanah, sepertinya ada sesuatu.”

Shi Qing Xuan segera menjatuhkan telapak tangannya dan keduanya berjongkok di tempat yang ditunjuk Xie Lian.

Tanah terowongan ini ditaburi oleh batu bata berbentuk persegi yang tak terhitung banyaknya, dan masing-masing batu bata itu tampak seukuran sebuah pintu kecil. Batu bata tempat mereka berdiri tepat di depan sebuah tembok batu yang memiliki gambar di atasnya. Itu bukanlah sebuah gambar yang begitu besar, gambar itu menunjukkan sesosok orang kecil yang tengah melempar dadu.

Shi Qing Xuan mengangkat kepalanya, “Jadi, apakah ini berarti metode yang sama seperti sebelumnya, bahwa kita harus melemparkan nomor dadu yang tepat untuk membuka tembok batu ini?”

Xie Lian sedikit mengangguk, “Kelihatannya begitu, tapi sebelumnya aku tidak sampai memasuki tempat ini dengan pemuda bertopeng itu, jadi aku tidak tahu berapa angka yang tepat.”

“Kita sudah sejauh ini,” kata Shi Qing Xuan, “Tidak realistis untuk kembali hanya untuk mengetahui hal itu. Mari kita lemparkan beberapa angka acak dan lihat bagaimana reaksinya.”

Xie Lian setuju, “Tuan Master Angin, mengapa kamu tidak mencobanya? Aku tidak tahu berapa lama keberuntungan yang aku pinjam akan bertahan.”

Shi Qing Xuan tidak menolaknya. Dia kemudian mengambil dua buah dadu itu dan melemparkannya ke lantai, “Bagaimana dengan itu?”

Dia melemparkan dadu berangka “dua” dan “lima“. Keduanya menunggu dalam diam tetapi tembok batu itu tetap tidak bergerak. Xie Lian mengambil dadu itu, “Aku kira itu tidak berhasil.”

Shi Qing Xuan tiba-tiba berteriak, “Yang Mulia, lihatlah di bawah kaki kita! Gambarnya berubah!”

Mendengar ini, Xie Lian segera melihat ke bawah. Benar saja, gambar pada batu bata persegi di bawah kaki mereka yang sebelumnya adalah sesosok orang kecil yang melempar dadu, tetapi ketika mereka menatapnya sekarang, warna-warna di sana perlahan memudar dan kembali muncul sekali lagi, berubah menjadi pemandangan yang berbeda; tampak seperti makhluk melata hitam, panjang, tampak gemuk, dan tebal.

“Apa ini?” Shi Qing Xuan bertanya-tanya.

“Cacing tanah? Lintah?” Xie Lian menebak. “Bentuknya sama seperti itu. Ada banyak di sawah, jadi aku sudah sering melihatnya.”

Shi Qing Xuan bertanya-tanya lagi, “Kehidupan seperti apa yang telah kamu jalani untuk melihat banyak hal semacam ini…”

Sebelum kata-katanya selesai, sosok Master Angin menghilang.

Bukan hanya dia, Xie Lian sendiri juga menghilang. Ternyata, tepat ketika kata-kata “apa ini” diucapkan, mereka berdua merasa kehampaan di bawah kaki mereka pada saat yang sama, dan saat berikutnya mereka mulai jatuh bebas ke dalam terowongan yang lain.

Ternyata, tembok batu itu bukanlah sebuah pintu, dan jika diperhatikan lagi dengan lebih serius, itu hanyalah sebuah tembok. Batu bata persegi di bawah kaki mereka adalah pintu yang sebenarnya. Setelah melemparkan dadu, pintu itu terbuka dengan tiba-tiba dan langsung menutup. Xie Lian dan Shi Qing Xuan jatuh dengan bebas setelah itu sebelum mendarat dengan keras ke tanah.

Beruntung tanah di tempat itu tampak lunak, kalau tidak, keduanya akan menghancurkan tanah itu lebih dalam. Mereka tidak berpikir bahwa cara mereka terjatuh kali ini begitu menyakitkan dan hanya memutuskan untuk mencoba bangkit ketika kepala mereka saling bertabrakan. Keduanya saling berteriak “ah” dan jatuh kembali ke tanah. Xie Lain, dengan satu tangan yang menutupi dahinya, dan merasakan sekelilingnya dengan tangannya yang lain hanya mampu melakukan kontak dengan tanah yang lembut, basah, dan berlumpur.

Tidak ada ubin batu di sana. Tembok batu itu pun sudah lama menghilang.

Ketika mereka terjatuh sebelumnya, nyala obor yang dinyalakan oleh Shi Qing Xuan telah padam. Sekarang setelah dia menyalakannya sekali lagi dan mencoba menyinari lingkungan di mana mereka berdua sekarang berada, keduanya mendapati bahwa mereka berada di terowongan lumpur.

Terowongan itu berbentuk bulat dengan tembok berlumpur, dan tampaknya terowongan ini bukan buatan manusia. Shi Qing Xuan menggosok dahinya, “Tempat macam apa ini? Apakah kita terlempar ke sini karena kita melemparkan angka dadu yang salah?”

Xie Lian bergumam dan berkata, “Sangat mungkin. Pintu batu itu kini telah hilang, artinya kita tidak punya kesempatan untuk kembali. Mari kita pikirkan cara untuk melarikan diri terlebih dahulu.”

Keduanya membicarakannya dan memutuskan untuk terus mengikuti jalan terowongan. Terowongan itu memiliki banyak tikungan dan belokan, dan jika orang dewasa yang sudah dewasa ingin berdiri tegak di dalamnya, mereka akan mengalami kesulitan. Mereka hanya bisa membungkuk setinggi pinggang mereka untuk berjalan, atau merangkak, bergerak perlahan dan begitu melelahkan. Udara di dalam terowongan ini juga terasa hangat dan lembab, lumpur yang selalu menempel dan menjengkelkan, masing-masing langkah mereka tenggelam dan membuat mereka harus menyeretnya, berair dan kotor. Kadang-kadang, mereka bahkan akan menginjak sisa-sisa busuk tanaman atau hewan. Wajah Xie Lian tidak pernah berubah, tetapi Shi Qing Xuan tampak begitu merinding. Tapi semakin mereka melintasi terowongan itu semakin Xie Lian merasa ada sesuatu yang salah. “Tuan Master Angin, lebih baik kita bergerak lebih cepat, kalau tidak…”

Saat itu, sebuah suara menderu yang begitu keras dan aneh terdengar.

Kebisingan menghantam mereka dengan seketika, seluruh terowongan bergetar, dan bercak-bercak lumpur kecil berhamburan turun yang disebabkan oleh gempa itu. Keduanya saling memandang, dan tanpa sepatah kata pun, mereka melesat ke arah yang berlawanan dari asal suara kebisingan itu.

Namun, suara nyaring dan getaran besar itu mengguncang terowongan dengan begitu keras, dan kecepatannya jauh lebih cepat daripada mereka, hampir mendekati sosok yang berada paling belakang. Mereka berdua bergerak dengan susah payah, satu langkah dangkal dan satu langkah dalam, merangkak melalui terowongan membingungkan itu tanpa akhir yang terlihat, bahkan tidak ada setitik sinar cahaya pun di sana. Dan bukan hanya itu, tetapi dari arah mereka berlari, dari sana juga terdengar kebisingan besar yang sama dan membuat tempat itu juga bergetar!

Baik depan dan belakang jalan mereka telah seolah-olah terblokir, keduanya berhenti. Bersamaan dengan sebuah suara tabrakan yang terdengar, suara tubuh yang besar dan raksasa mendorong gumpalan lumpur di sana untuk melewatinya, dan dua ekor cacing tanah tampak menggeliat, muncul di depan Xie Lian dan Shi Qing Xuan.

Kedua cacing itu bertubuh bengkak dan besar, tubuh mereka berwarna ungu seperti memar, kulit mereka agak tembus cahaya. Tubuh yang dimiliki oleh serangga seolah-olah tersegmentasi dalam cacing itu, tidak ada kepala, tidak ada ekor, bagian depannya hanya tunggul daging. Jika itu bukan cacing, lalu apa itu?

Pintu batu itu terbuka dan melemparkan mereka ke dalam sarang monster ini!

Xie Lian mengangkat tangannya untuk memberikan penjagaan di depan dirinya sendiri, Ruoye tampak sudah siap. Shi Qing Xuan melepaskan kipas Master Anginnya entah siapa yang tahu dari mana. Sayangnya di dalam terowongan sempit ini tidak mungkin untuk memulai sebuah embusan angin, dan setiap pukulan hanya akan membuat cacing-cacing itu mundur, membuatnya sulit untuk menggunakan alat spiritual itu. Saat itu, Xie Lian mengingat bahwa cacing takut dengan cahaya dan panas, dan dia berteriak, “Tuan Master Angin, tolong beri aku kekuatan, dan nyalakan sebuah cahaya api di telapak tanganmu!”

Shi Qing Xuan mengikuti arahannya, dan mengetuk Xie Lian dengan tangan kirinya sementara api di telapak tangan kanannya meledak beberapa meter lebih tinggi. Benar saja, kedua cacing raksasa itu merasakan panas itu dan kemudian menyusut ke belakang, menjauh beberapa meter. Keduanya, dengan menggunakan api, melanjutkan perjalanan mereka dengan perlahan, memaksa cacing tanah raksasa itu untuk menjaga jarak dari keduanya, dan berdoa untuk bisa keluar dari tempat itu.

Namun, terowongan itu begitu sempit, dan tidak lama kemudian, bukan hanya cacing yang merasakan panas dari nyala api mereka, tetapi Xie Lian dan Shi Qing Xuan sendiri tampak berkeringat dengan begitu deras, seolah-olah mereka sedang terpanggang di dalam oven, begitu tampak buruk dan celaka. Dan yang lebih mengerikan adalah, Shi Qing Xuan tidak bisa terus membakar kekuatannya untuk menjaga api itu tetap hidup, dan nyala api mereka semakin lama semakin mengecil. Mereka juga memperhatikan bahwa meskipun cacing tanah raksasa di depan mereka menghindari mereka, mereka tampak tidak gelisah.

Setelah beberapa langkah lagi, Xie Lian merasakan napasnya semakin sulit dan berkata, “Tuan Master Angin, nyala obor ini tidak akan bertahan lama. Lumpur di sini mungkin lembab dan longgar, tapi kita masih jauh di bawah tanah. Sebentar lagi pasokan udara tidak akan lagi lewat, api ini akan mati, dan kita akan pingsan.”

Shi Qing Xuan menggertakkan giginya, “Kalau begitu kita hanya bisa menggunakan array Pemendek Jarak.”

Meskipun tidak satu pun dari keduanya yang memiliki tangan bebas untuk menggambar sebuah array dan lingkungan mereka berada saat ini tidak sepenuhnya ideal, tidak ada cara lain. “Biarkan aku mencarikan tempat yang datar.” kata Xie Lian.

Tepat pada saat itu, dia merasakan di bawah langkahnya ada sebuah pelat kecil yang tampaknya tidak lembab dan kenyal tetapi lebih seperti sebuah ubin batu. Pikiran Xie Lian bergerak dan dia segera berjongkok untuk memeriksa. Seperti yang dia duga―itu adalah pintu batu lain!

Ada juga gambar lain dari orang kecil melemparkan dadu di pintu ini. Shi Qing Xuan juga melangkah ke ubin itu dan sangat gembira, “Cepat, cepat, cepat! Lempar dadu dan buka!”

Xie Lian baru saja akan membuang dadu tetapi tiba-tiba berpikir, ‘Tetapi bagaimana jika aku mendapatkan hasil yang lebih buruk dan membuka tempat yang lebih mengerikan?’ Xie Lian kemudian memberikan dadu kepada Shi Qing Xuan, “Ini, kamu yang melakukannya!”

Tanpa mengatakan apa pun, Shi Qing Xuan meraih dadu itu dan melemparkan. Klak, klak. Kali ini dadu yang muncul adalah angka ‘tiga’ dan ’empat’. Xie Lian segera mengambil dadu itu dan keduanya berdiri bersama di atas ubin. Obor di tangan Shi Qing Xuan menjadi lebih kecil satu inci lagi, dan kedua cacing raksasa itu menggeliat dan memutar, berjuang untuk mendekat. Xie Lian memperhatikan gambar di ubin dengan cermat saat perlahan-lahan larut ke dalam gambar lain. Itu adalah sebuah gambar hutan dan sejumlah orang kecil berpakaian aneh yang menari-nari di sekitar yang lain.

Saat itu, cacing itu tidak dapat menahan mereka lagi, dan bergegas meluncur ke arah mereka dengan mulut kecil yang terbuka di kepala mereka, menyeret tubuh berat mereka untuk mendekat.

Betapa beruntungnya, ketika cacing-cacing itu hanya berjarak beberapa meter lagi dari mereka, pintu batu itu terbuka!

Kali ini, keduanya jatuh ke dalam lubang sempit lain, tetapi tanah di sana terasa lebih keras, sempit, dan kering. Kejatuhan itu begitu menyakitkan dan keduanya terjatuh dan bertabrakan. Xie Lian terbiasa dengan rasa sakit seperti ini sehingga dia tidak mengeluarkan suara, tapi Shi Qing Xuan berteriak kesakitan. Telinga Xie Lian sakit mendengar teriakan nyaring itu. Khawatir sesuatu mungkin terjadi, dia berseru, “Tuan Master Angin, apakah kamu baik-baik saja?”

Kepala Shi Qing Xuan tampak berada di bawah dan kakinya di atas, “Aku tidak tahu apakah aku baik-baik saja. Aku belum pernah jatuh seperti ini sebelumnya. Yang Mulia, ada terlalu banyak sensasi saat bekerja bersama denganmu.”

Mendengar ini Xie Lian tidak bisa menahan tawa kecil miliknya, dan kemudian menyadari bahwa mereka berdua jatuh ke dalam lubang di pohon.

Xie Lian merangkak keluar dari lubang itu dengan susah payah dan mengulurkan tangan untuk membantu Shi Qing Xuan, “Terima kasih atas semua kerja kerasmu.”

“Sama-sama.” jawab Shi Qing Xuan.

Dia menarik tangan Xie Lian dan berusaha memanjat keluar dari lubang, begitu dipenuhi lumpur dan acak-acakan, jubah bajunya robek dan kusut. Ketika keluar, dia meletakkan tangannya di atas alisnya untuk menghalangi sinar matahari yang tajam. “Di mana ini?”

“Seperti yang kamu lihat, sebuah hutan di pegunungan yang dalam.” jawab Xie Lian. Dia melihat sekelilingnya dan berkata, “Aku pikir pintu batu ini adalah sebuah alat spiritual yang memiliki fungsi yang sama dengan array Pemendek Jarak. Jumlah angka yang dilemparkan akan membawa kita ke tempat yang berbeda. Aku ingin tahu apakah kita melemparkan angka yang benar.”

Shi Qing Xuan menyilangkan kedua lengannya yang saat itu terbuka dan berpikir dengan serius, “Menggunakan array Pemendek Jarak sekali akan membutuhkan kekuatan spiritual yang sangat besar. Untuk membuat pintu batu ini dan mencegah orang lain mengintip ke dalamnya, Hujan Darah Mencapai Bunga memang benar-benar kuat dan tidak asing dengan permainan pikiran semacam itu.”

Meskipun ekspresinya serius, dengan tangan kosong dan penampilan yang tidak terawat, dia sama sekali tidak terlihat serius dan tampak sedikit lucu. Xie Lian menahan tawanya dengan susah payah, berpikir tentang bagaiman Hua Cheng akan mengangkat bibirnya dan menggelengkan kepalanya. ‘Daripada permainan pikiran, itu lebih seperti… bahwa dia nakal.’ pikir Xie Lian.

Keduanya baru saja keluar dari lubang di dalam pohon, dan bahkan mereka bahkan belum melangkah sama sekali ketika sejumlah orang telanjang berkulit merah tiba-tiba keluar dari semak-semak terdekat dan mengelilingi mereka berdua. Mereka mulai melompat, melolong ketika mereka melakukannya, “OOOooooHHHOooHHooohhhh!!

“…”

Keduanya terkejut, dan Shi Qing Xuan berteriak, “Ada apa lagi ini?”

Xie Lian mengangkat tangannya, “Jangan panik, jangan panik!”

Dia menenangkan dirinya untuk melihat ke arah orang-orang liar itu, dan mereka tidak benar-benar telanjang, tetapi mengenakan kulit binatang dan dedaunan, tampak seperti mereka siap untuk meminum darah. Mereka memiliki tombak dahan yang panjang dan kapak yang dirajam tajam, dan ketika mereka tersenyum pada mereka berdua, giginya tajam seperti gergaji.

Keduanya berlari tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Shi Qing Xuan berteriak ketika dia berlari, “Saudaraku dulu selalu memberitahuku! Jauhi pegunungan selatan, di sana ada banyak kanibal buas yang hidup dari daging manusia! Dia mengatakan kepadaku untuk tidak pernah datang ke tempat seperti itu sendirian! Apakah ini tempat yang dimaksudnya itu?!”

Xie Lian telah sering mempraktikkan dirinya dalam seni melarikan diri sehingga seluruh sikap dan tingkah lakunya jauh lebih tenang daripada Shi Qing Xuan. Dia menjawab dengan tenang, “Hm. Itu sangat mungkin! Apa pun caranya, mari kita cari pintunya dulu! Mari kita lihat apakah ada pintu batu lagi di dekat sini!”

Orang-orang liar itu berlari mengejar mereka sambil berteriak dan melolong tanpa lelah. Awalnya, Xie Lian dan Shi Qing Xuan hanya bisa melarikan diri dan tidak melawan karena ada hukum surgawi yang menentukan bahwa jika seorang dewa harus turun ke dunia fana, mereka tidak boleh menggunakan kekuatan mereka untuk menindas. Hukum itu dibuat untuk mencegah pejabat surgawi mengintimidasi manusia dan menciptakan bencana karena penyalahgunaan kekuasaan. Tetapi para kanibal itu tanpa henti melemparkan batu dan dahan tajam ke arah mereka, dan satu dahan itu sepertinya menggores pipi Shi Qing Xuan.

Ini benar-benar tidak bisa diterima. Shi Qing Xuan menyentuh wajahnya dan dia merasakan ada goresan berdarah yang kecil, dan wajahnya terlihat memerah.

Dia meraung dan tiba-tiba berhenti. Berbalik, dia berteriak, “KALIAN BRENGSEK SIALAN TIDAK TAHU DIRI! TIDAK HANYA KALIAN TIDAK MENUNJUKKAN RASA TAKUT KALIAN DI HADAPANKU, TUAN MASTER ANGIN, KALIAN BAHKAN DENGAN BERANINYA MERUSAK WAJAHKU!! TIDAK BISA DIPERCAYA!!!”

Setelah teriakannya itu, dia mengeluarkan sebuah kipas Master Anginnya, membukanya dengan desahan yang kuat dan kemudian mengayunkannya dengan kekuatan penuh. Orang-orang liar itu diterbangkan dari tanah dan menabrak pohon-pohon di dekatnya, melolong ketika mereka tergantung di cabang-cabang pohon itu. Keduanya akhirnya bisa berhenti berlari, dan menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan detak jantung mereka. Pemikiran itu datang pada Xie Lian lagi, sulit untuk menjadi dewa… di tiga alam, tidak ada yang lebih mudah…

Shi Qing Xuan mendengus dan menoleh ke arah Xie Lian, “Yang Mulia, kamu melihatnya, bukan? Mereka yang memintanya sendir! Aku tidak menggunakan kekuatanku untuk menindas.”

“Ya, aku melihatnya.” kata Xie Lian.

Shi Qing Xuan merasakan wajahnya lagi dan bergumam pelan, “Bahkan saudaraku tidak akan berani…” Dia kembali berbalik, “Ayo cari pintu batu itu.”

Xie Lian mengangguk diam-diam dan memandang Shi Qing Xuan yang tengah memperbaiki pakaian dan rambutnya, tampak penuh keceriaan sekali lagi. Sayangnya dia mengenakan gaun sutra ungu yang basah kuyup, sehingga udara keceriaannya terasa aneh; itu adalah pemandangan yang tak terlupakan. Xie Lian tidak bisa tidak mengeluh. Memikirkan kembali ketika mereka pertama kali bertemu di BanYue Pass, Tuan Master Angin adalah sosok yang begitu gemilang, begitu besar sehingga Xie Lian menganggapnya makhluk yang kuat dengan kedalaman yang tak terukur; jika bukan seorang kultivator iblis golongan tinggi, maka orang suci golongan tinggi. Sekarang setelah mereka dekat, dia mengerti bahwa semua itu hanyalah ilusi…

Keduanya berjalan berputar-putar di hutan itu dan akhirnya menemukan satu set pintu batu di sebelah lubang pohon yang berbeda. Kali ini, Shi Qing Xuan menolak untuk melemparkan dadu dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi meskipun keberuntunganku bukan yang terbaik setiap saat, itu juga bukan yang terburuk setiap saat. Dewi Keberuntungan sepertinya tidak bersamaku hari ini; dua kali aku sudah melemparkan dadu ini dan yang pertama muncul adalah terowongan cacing tanah, dan yang kedua adalah hutan kanibal. Siapa yang tahu apa yang akan muncul selanjutnya.”

Xie Lian berdehem dengan lembut dan dengan rasa bersalah menjawab, “Mungkin itu karena aku sedang bersamamu, jadi aku membuat keberuntunganmu menjadi buruk.”

“Apa yang kamu katakan!” Shi Qing Xuan berseru, “Mustahil bagi siapa pun untuk menjatuhkan keberuntunganku, Tuan Master Angin! Tapi, mengapa kamu tidak mencobanya? Mungkin masih ada sedikit keberuntungan yang kamu pinjam dari San Lang-mu yang tersisa.”

Xie Lian tidak tahu mengapa, tapi dia merasa sedikit malu ketika mendengarnya menyebut “San Lang-mu”. Dia ingin menjelaskan, tetapi pada saat yang sama, dia berpikir apa yang bisa dijelaskan? Jika dia harus menjelaskan maka itu akan sedikit aneh, jadi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa. Dia merasakan dadu di tangannya dan melemparkannya dengan ringan.

Dua dadu yang menunjukkan dua angka ‘enam’.

Xie Lian menahan napas ketika dia melihat gambar-gambar di pintu batu berubah, dan secara mental mempersiapkan dirinya untuk menghadapi apa pun yang terjadi selanjutnya. Tetapi kali ini, gambar itu tidak berubah dan pintu batu berderit terbuka.

Di belakang pintu itu ada sebuah tangga panjang lain yang turun ke kegelapan, meniup udara dingin.

Keduanya saling memandang, keduanya berpikir, ‘Apakah kita kembali ke tempat semula setelah melalui semua itu?’

Bahkan jika mereka kembali ke tempat semula, itu masih lebih baik daripada bahaya-bahaya yang aneh yang mereka alami sebelumnya; sudah cukup. Kemudian, keduanya memutuskan untuk turun. Saat mereka masuk, pintu menutup di belakang mereka, dan ketika mereka mengulurkan tangan untuk mendorongnya, pintu itu telah menjadi tembok batu.

“Sepertinya satu-satunya jalan adalah kita harus turun ke bawah.” kata Xie Lian.

“Ugh, baiklah.” Shi Qing Xuan menghela napas, “Beri aku istirahat dan kita akan terus memainkan permainan milik Hujan Darah Mencapai Bunga yang penuh kebencian ini!”

Keduanya sekali lagi menuruni jalan berbatu panjang yang berbentuk persegi panjang itu. Setelah dua ratus langkah, Xie Lian menyadari sesuatu. “Berita baik, Tuan Master Angin. Ini bukan jalan yang sama dengan yang sebelumnya kita ambil pertama kali, meskipun itu serupa.”

Shi Qing Xuan menyadarinya juga, “Kamu benar. Pertama kali kita mencapai tembok batu setelah dua ratus langkah, tetapi tidak kali ini.”

Xie Lian berkata dengan lembut, “Sepertinya kali ini kita berada di jalan yang benar.”

Saat dia selesai mengucapkan kata-katanya, keduanya berhenti.

Tidak jauh di depan mereka di dalam kegelapan tampak bau darah yang mengotori penciuman mereka. Selain itu yang menyertai bau itu adalah napas berat seorang pria.

Keduanya tidak bergerak sedikit pun dan tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada cahaya, tidak ada api, namun seseorang di depan mereka sudah merasakan kehadiran keduanya, karena tepat setelah mereka berhenti, sebuah suara dingin terdengar.

“Aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan.” suara lelaki yang dalam berkata.

Mendengar suara itu, Shi Qing Xuan segera menyalakan obor.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments