Penerjemah: Jeffery Liu


Xie Lian membungkuk sedikit dan menyapa, “Halo.”

Mendengar sapaan itu, mata itu tampak menyipit dengan lebih keras lagi, mengubah dirinya menjadi bentuk bulan sabit penuh, seolah tengah tersenyum. Mata besar itu berputar ke kiri dan ke kanan, sangat hidup, seolah-olah mata itu bukan hanya sebuah pola yang diukir pada sebuah gagang pedang, tetapi sebuah mata hidup yang nyata yang berasal dari mata seorang manusia. Bibir Hua Cheng terangkat ke atas, “Gege, dia menyukaimu.”

Xie Lian mengangkat kepalanya, “Benarkah?”

Hua Cheng mengangkat alisnya, “Sungguh. Jika tidak, mata itu akan terlalu malas untuk berkedip. Kenyataannya, sangat sedikit yang disukai oleh E-Ming.”

Mendengar itu, Xie Lian merasa begitu tenang, dan berkata dengan nada yang begitu hangat kepada E-Ming, “Baiklah, terima kasih.” Dia kemudian berbalik ke arah Hua Cheng, “Aku juga suka padanya.”

Mendengar kata-katanya, mata itu berkedip dengan begitu gila, dan mulai bergetar saat masih tergantung di pinggang Hua Cheng. Dia menegurnya, “Tidak.”

“Apanya yang ‘tidak’?” tanya Xie Lian.

“Tidak.” Hua Cheng mengulangi.

E-Ming bergetar lebih keras lagi, tampak putus asa untuk meminta dibebaskan dari sarungnya. Xie Lian bertanya dengan rasa ingin tahu, “Apakah kamu berkata ‘tidak’ padanya?”

“Ya.” Hua Cheng menjelaskan dan menjawab dengan nada serius, “Dia ingin kamu mengelusnya tapi aku bilang tidak.”

Xie Lian menyeringai, “Apakah ada masalah dengan hal itu?” Xie Lian kemudian mengulurkan tangannya. E-Ming tampak membelalakkan matanya dan menatapnya dengan penuh harap. Xie Lian hendak mengelus bola mata itu, tetapi berpikir jika perbuatannya akan menusuk mata itu dan menyakitinya, jadi dia kemudian menurunkan tangannya dan membelai ringan di sepanjang lekuk gagangnya. Mata itu menyipit menjadi garis bulan sabit penuh, dan tampak gemetar.

Xie Lian berpikir bahwa pedang itu menjadi sangat menarik, semakin dia membelai pedang itu. Xie Lian sendiri adalah tipe yang akan disukai oleh binatang; ketika dia memelihara anjing dan kucing berbulu sebelumnya, mereka akan merasa nyaman dan sering melemparkan diri mereka sendiri ke pelukannya. Siapa yang tahu bahwa dia akan membelai pedang perak yang begitu dingin ini―sebuah pedang legendaris yang tidak kurang suatu apa pun!―seolah-olah pedang itu adalah seekor anak anjing! Bagaimana mungkin ini merupakan sebuah ‘kemalangan terkutuk yang dikutuk’?

Xie Lian tidak percaya sebelumnya, tetapi setelah melihat dengan matanya sendiri, dia melemparkan desas-desus yang mengerikan itu untuk terbakar di belakangnya, ke dalam tumpukan sampah yang disebut sebagai ‘tidak bisa dipercaya’. Ritual jahat, sebuah ritual berdarah tidak akan menempa roh sepintar dan semanis ini.


Keduanya menghabiskan banyak waktu untuk membahas dan mengkritik berbagai jenis pedang maupun pisau secara rinci, dan Xie Lian kemudian keluar dari gudang senjata itu dengan semangat tinggi setelahnya, meraih tangan Hua Cheng untuk kembali ke aula Manor Surga.

Bocah itu juga telah dibawa dan memasuki aula itu setelah mandi dan mengenakan sebuah perban bersih. Meskipun wajahnya masih tertutupi perban seluruhnya, dia tampak begitu baru dan segar. Melihatnya lagi, bocah itu tampak bertubuh langsing dan halus, dan seharusnya menjadi seorang bibit dengan kemungkinan yang tak terbatas, tetapi sayang, tubuhnya sekarang tampak dari salah satu bahunya merosot dan pinggangnya bengkok, bentuk keriput yang tidak bisa untuk bertemu mata dengan siapa pun. Xie Lian tidak bisa melakukan apa pun tetapi hanya bisa merasa sedih untuknya.

Dia menarik anak laki-laki itu untuk duduk, “Beberapa kata terakhir yang telah dikatakan oleh Little Ying sebelumnya memiliki niat untuk membuatku menjagamu, dan aku secara teknis menyetujuinya. Namun demikian, aku masih harus meminta pendapatmu tentang hal ini. Apakah kamu tertarik untuk ikut denganku berkultivasi mulai dari sekarang?”

Bocah itu memandangnya dengan tatapan kosong, seolah takut untuk mempercayai kata-kata yang didengarnya, bahwa seseorang benar-benar mau menerimanya dan berkultivasi bersamanya. Xie Lian melanjutkan, “Aku tidak bisa mengatakan bahwa kondisi di tempatku baik, tetapi aku akan berjanji bahwa kamu tidak perlu untuk bersembunyi lagi, dan tidak perlu mencuri makanan atau dipukuli lagi.”

Ketika dia berbicara, Xie Lian tidak menyadari bahwa di sebelahnya, mata Hua Cheng menyipit, mengawasi bocah itu dengan tatapan dingin, sebuah tatapan menghakimi.

Xie Lian melanjutkan dengan hangat, “Jika kamu tidak bisa mengingat namamu sendiri, mengapa kita tidak membuat nama baru?”

Bocah itu memikirkannya dan berkata, “Ying.”

Xie Lian menduga bahwa nama itu adalah untuk memperingati dan menghormati Little Ying dan mengangguk, “Bagus. Itu adalah nama yang bagus. Kamu berasal dari kerajaan Yong An, dan nama keluarga Yong An adalah Lang, jadi mengapa kamu tidak menggunakannya sebagai nama barumu dan menyebut dirimu Lang Ying mulai sekarang?”

Bocah itu akhirnya mengangguk. Xie Lian menganggap itu sebagai persetujuaan dari bocah itu untuk mulai sekarang mengikutinya.

Perjamuan saat itu dimulai. Itu adalah sebuah pesta kecil yang disiapkan oleh Hua Cheng khusus untuk Xie Lian, tetapi dengan pengaturan tempat itu, ukurannya bisa menampung lebih dari sepuluh orang. Banyak perempuan yang memegang sebuah piring batu giok di sana, dan di atas piring itu ada berbagai macam minuman yang menyegarkan, hidangan halus, buah-buahan segar, dan makanan lainnya. Persembahan mereka tidak ada habisnya, dan langkah-langkah mereka begitu halus dan ringan ketika mereka berjalan di sepanjang sisi aula utama dalam sebuah barisan, masing-masing dari mereka menyajikan piring batu giok di tangan mereka ketika mereka mendekati futon batu hitam tempat perjamuan dilakukan. Lang Ying hanya menatap dan memandangnya tetapi tidak berani menjangkau makanan-makanan itu, dan itu berlangsung sampai Xie Lian mendorong beberapa piring ke arahnya sebelum dia perlahan mengambil beberapa makanan untuk dia makan.

Memperhatikannya, sebuah adegan lain melintas di benak Xie Lian. Sebelumnya, itu juga adalah seorang anak laki-laki lain yang wajahnya tampak dibalut perban, begitu kotor dan tidak terawat, berlutut di lantai dengan sepiring persembahan, kepalanya menunduk rendah ketika dia diam-diam tengah mengisi mulutnya.

Saat itu, seorang wanita dalam balutan sutra ungu mendekati mereka, menawarkan satu botol anggur. Hua Cheng mengulurkan tangan dan menuangkannya pada gelas milik Xie Lian, “Apakah kamu mau?”

Xie Lian masih memiliki banyak hal dalam pikirannya dan tidak memperhatikan, jadi dia dengan ceroboh menerima gelas itu dan meminumnya. Sampai ketika cairan itu masuk ke mulutnya, dia sadar itu adalah alkohol, dan mengalihkan pandangannya. Tapi ketika dia mengalihkan pandangannya, pandangannya secara tidak sengaja melihat apa yang ada di belakang Hua Cheng. Wanita yang menawarkan anggur itu mengedipkan sebelah matanya padanya.

Xie Lian dengan seketika menyembur di tempat: “PFFFFffttt”

Beruntung dia sudah menelan seteguk anggur yang diminumnya dan tidak ada yang keluar dari mulutnya. Dia hanya tersedak, terbatuk tanpa henti. Lang Ying ketakutan dan hampir menjatuhkan kue di tangannya. Xie Lian menenangkannya ketika dia batuk, “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.”

Hua Cheng dengan lembut menepuk punggungnya, “Ada apa? Apakah anggurnya tidak sesuai dengan kesukaanmu? “

Xie Lian terburu-buru menjelaskan, “Oh, tidak! Ini sangat enak. Aku tiba-tiba ingat bahwa metode kultivasiku melarang alkohol.”

“Oh?” Hua Cheng berkata, “Kalau begitu, ini salahku karena tidak mempertimbangkannya, dan membuat gege melanggar aturanmu sendiri.”

“Itu bukan salahmu,” kata Xie Lian, “Aku hanya lupa.”

Xie Lian menggosok dahinya, berbalik dan diam-diam melihat sekilas ke tengah aula utama.

Wanita yang menawarkan anggur itu tampak membelakanginya ketika dia pergi ke arah pintu, sosoknya tampak begitu sensual dan menggoda. Hua Cheng hanya mengurus urusannya sendiri atau berfokus pada Xie Lian sepenuhnya, dan tidak memerhatikan wanita-wanita cantik itu, dan karena itu tentu saja dia tidak peduli untuk melihat wajah mereka. Tapi wajah yang dilihat Xie Lian sebelumnya tampak begitu jelas.

Wanita yang menawarkan anggur itu tidak lain adalah Tuan Master Angin Qing Xuan!!!

Tuan Master Angin menyelinap ke dalam Manor Surga dengan menyamar sebagai seorang wanita… kedipan mata itu membuat Xie Lian terkejut, dan berpikir ‘kamu sebaiknya memberiku lebih banyak anggur untuk menelan semua ini’. Tidak menyadarinya, Hua Cheng berkata dalam percakapannya sendiri, “Aku selalu berpikir bahwa kultivasi hanya untuk menjalani kehidupan yang hedonistik yang bebas dan riang. Jika kamu harus melarang ini dan itu, lalu apa gunanya? Apa yang kamu pikirkan?”

Xie Lian menenangkan dirinya dengan cepat, dan dengan santai berbincang kembali, “Itu tergantung pada jalan yang kamu pilih. Beberapa sekte tidak keberatan dengan kesenangan duniawi. Tetapi jalur kultivasi pilihanku selalu melarang minum dan pergaulan bebas. Alkohol bisa diabaikan sekali-kali, tetapi pantangannya adalah mutlak.”

Ketika dia mengucapkan kata “pantangan“, Hua Cheng memiringkan alis kanannya, dan menunjukkan ekspresi yang tidak bisa dibaca antara ketidaksenangan atau gangguan.

Xie Lian melanjutkan, “Sebenarnya, jalur kultivasiku juga melarang kebencian. Aula Rumah Judi melibatkan kegembiraan dan kesedihan yang ekstrem, dan dapat dengan mudah menghasilkan kebencian, sehingga tempat itu seharusnya menjadi tempat yang harus dihindari. Tetapi jika seseorang yakin untuk menjaga kedamaian hati, tidak tergerak oleh kemenangan dan kekalahan, maka menghindarinya tidak secara teknis diperlukan.”

Mendengar itu, Hua Cheng tertawa terbahak-bahak, “Tidak heran jika gege dengan senang hati memasuki Rumah Judi.”

Pergi berputar-putar, Xie Lian akhirnya membawa subjek pembicaraan secara alami kepada masalah mengenai ‘judi’, dan berkata, “Omong-omong, San Lang teknik judimu benar-benar luar biasa untuk dilihat.”

Hua Cheng terkekeh, “Itu hanya sebuah keberuntungan, tidak ada yang lain.”

“…”

Mendengar itu, Xie Lian membandingkan dengan dirinya sendiri, dan merasa agak sedih. Dia berdeham pelan, “Yah, lihat aku…” Dia melambaikan tangannya dan tidak menyelesaikan kata-katanya dan hanya berkata. “Aku benar-benar ingin tahu; apakah benar-benar ada teknik yang benar untuk melempar dadu?”

Jika tidak ada, maka Hua Cheng tidak bisa begitu saja memanggilnya seperti yang dia inginkan seperti sebelumnya di Rumah Judi, dan bahwa Petugas XiaXuanYue tidak bisa dengan mudah melempar dadu dan menghasilkan dua angka enam. Hua Cheng tersenyum, “Tentu saja, ada teknik rahasia, tapi itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam sehari.”

Xie Lian sudah menduga jawaban itu. Dia tidak berharap dengan pertanyaan itu dan mencoba untuk membahas mengenai ide-ide lain ketika Hua Cheng melanjutkan, “Namun, aku bisa memberi tahumu bahwa ada cara yang lebih cepat. Aku berjanji gege akan dapat berhasil seperti yang kamu inginkan, dan memenangkan setiap putaran.”

“Bagaimana?” tanya Xie Lian.

Hua Cheng mengangkat tangan kanannya. Itu adalah tangan kanan yang sama seperti sebelumnya dengan sebuah tali merah yang diikat di jari ketiganya. Tali merah itu diikat menjadi simpul kecil di punggung tangannya, begitu cerah dan jelas. Dia mengulurkan tangannya dan berkata kepada Xie Lian, “Beri aku tanganmu.”

Xie Lian tidak tahu untuk apa Hua Cheng memintanya, tetapi karena Hua Cheng meminta tangannya, dia memberikannya kepadanya. Hua Cheng meremas tangan miliknya dan memegangnya sebentar, tersenyum sebelum dia membalikkan tangannya dan melemparkan dua dadu ke telapak tangannya. “Cobalah sekarang.”

Xie Lian membisikkan beberapa doa dalam hatinya untuk meminta angka enam muncul dari dadu itu, dan kemudian melemparkan dadu dalam telapak tangannya. Dadu itu terdengar berderak dan kemudian berhenti, dadu itu ternyata mengungkapkan dua angka enam berwarna merah.

“Trik apa ini?” Xie Lian bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Tidak ada trik.” Hua Cheng menjawab, “Aku baru saja meminjamkan keberuntunganku kepadamu.”

“Jadi keberuntungan itu seperti kekuatan spiritual dan bisa dipinjamkan.” Xie Lian berkata dengan heran.

Hua Cheng tertawa, “Tentu saja. Lain kali jika gege akan membuat taruhan dengan siapa pun itu, datanglah padaku. Aku akan meminjamkan keberuntungan yang aku milikki sebanyak yang kamu inginkan. Aku berjanji lawanmu akan menderita kerugian yang begitu besar sehingga dia tidak akan bisa kembali dalam seratus tahun.”

Keduanya bermain-main untuk banyak putaran dan Xie Lian mengonfirmasi untuk dirinya sendiri bahwa memang benar begitu sebelum dia kemudian berhenti untuk mengatakan dia lelah. Hua Cheng segera bangun, menyuruh seseorang untuk membawa Lang Ying untuk menetap, sebelum secara pribadi mengantar Xie Lian ke kamar tamu.

Melihat siluetnya menghilang di aula, Xie Lian menutup pintu, duduk di samping meja dan menggunakan tangannya untuk menutupi dahinya, menopang kepalanya yang lebih rendah. Semakin serius Hua Cheng padanya, semakin Xie Lian merasa bersalah. “Tidak ada yang perlu dikritik tentang cara San Lang memperlakukanku. Semoga urusan dan kasus ini tidak ada hubungannya dengan dia, dan begitu kebenarannya muncul dan diketahui, aku akan menjelaskan semuanya dan meminta maaf padanya.” pikir Xie Lian.

Dia hanya duduk sesaat ketika dia mendengar seseorang memanggilnya dari luar pintu dengan suara kecil, “Yang Mulia… Yang Mulia…”

Menyadari suara itu, Xie Lian segera bangkit untuk membuka pintu, dan orang yang berada di luar kamarnya kemudian dengan seketika melompat masuk. Itu memang adalah Shi Qing Xuan dalam wujud wanitanya.

Dia masih berdiri dengan penampilan hantu wanita, tampak mengenakan sebuah gaun sutra ringan, pinggangnya terbungkus dengan begitu ketat dan mungil. Saat dia melompat, dia berguling ke tanah dalam sebuah lompatan, dan kemudian dia kembali berubah menjadi pria, dengan tangan di dadanya dia berteriak: “Aku tidak bisa bernapas! AKU TIDAK BISA BERNAPAS! Ya Tuhan, aku akan tercekik sampai mati oleh benda ini!”

Xie Lian menutup pintu di belakangnya dan ketika dia berbalik, apa yang dia lihat adalah seorang pria dewasa yang tengah mengenakan gaun sutra ungu yang saat itu sudah tampak robek di sana sini, terbaring di tanah dan dengan marah masih tampak merobek-robek dada dan ikat pinggang gaun itu.

Xie Lian tidak bisa terus melihatnya dan memutuskan untuk menutupi matanya, “Tuan Master Angin… Tuan Master Angin! Tidak bisakah kamu kembali mengenakan jubah kultivasimu seperti sebelumnya?”

“Memangnya aku bodoh?” Shi Qing Xuan menjawab, “Berjalan di dalam kegelapan dengan mengenakan jubah berwarna putih yang mencolok, aku akan menjadi target!”

“Tapi… dengan penampilanmu sekarang, pada tingkat tertentu, kamu lebih mungkin dijadikan target…” pikir Xie Lian.

Xie Lian berjongkok di sebelahnya, “Tuan Master Angin, bagaimana kamu bisa menyelinap masuk? Bukankah kita sudah sepakat untuk bertemu lagi tiga hari ke depan?”

“Yah, apa yang seharusnya kulakukan?” Shi Qing Xuan menjawab, “Aku bertanya-tanya di sepanjang jalan dan mereka semua mengatakan bahwa Yang Mulia sudah dikirim ke Manor Surga, dan bukankah Manor Surga adalah tempat tinggal Raja Iblis? Bahkan nama tempat itu terdengar buruk. Aku memperhatikannya dari jauh dan memutuskan bahwa itu pasti tempat yang cabul dan nakal, jadi aku mengkhawatirkanmu dan memutuskan untuk menyelinap menggunakan semua kekuatanku. Sungguh perjalanan yang begitu sial! Entah itu aku diseret untuk melakukan perawatan wajah oleh para hantu wanita, atau aku harus menelan kehormatanku untuk berpakaian seperti ini. Aku tidak pernah, sama sekali, membuat pengorbanan sebesar ini.”

‘Bukankah kamu menikmatinya…’ pikir Xie Lian. “Di mana Yang Mulia Tai Hua? Jika kamu meninggalkannya dan membiarkannya menunggu di luar, bagaimana jika dia memulai sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan sebelumnya?”

Shi Qing Xuan akhirnya merobek semua ikatan pada gaun itu, mengambil napas dalam-dalam, dan tidur telentang di tanah seperti genangan air. “Jangan khawatir. Aku menggunakan pangkat dan memerintahkannya untuk tidak menggerakkan ototnya sedikit pun, jadi seharusnya tidak ada masalah. Tapi serius, Yang Mulia, kamu sangat beruntung!”

“Hah?” Xie Lian menganga, “Aku? Beruntung?”

“Ya!” Shi Qing Xuan berseru, “Lihatlah betapa menyedihkannya Lang Qian Qiu dan aku. Entah kami digantung dengan diancam celana kami akan ditarik, atau kami yang berjalan-jalan tanpa tujuan seperti anjing liar. Dan di sini kamu, makan dengan begitu baik, tidur dengan begitu nyenyak, dan bahkan ada Raja Iblis yang menemanimu!”

… Dengan perbandingan seperti itu, mereka memang agak menderita. Shi Qing Xuan akhirnya bangkit dari lantai. “Jadi, Yang Mulia, apakah kamu masih ingat tujuan kita untuk datang ke Kota Hantu?”

Xie Lian kembali memasang ekspresi serius dan menjawab, “Tentu saja aku masih mengingatnya. Sebelumnya, ketika aku sedang berada di Aula Manor Surga, aku sedang mempersiapkan misi kita.”

Shi Qing Xuan menatapnya dengan pandangan bingung, “Benarkah? Apa yang sebenarnya kamu persiapkan di Aula Manor Surga? Yang aku ingat hanyalah kamu yang bermain-main dengan Hujan Darah Mencapai Bunga dengan melempar dadu. Kalian bahkan tidak bermain dengan benar; kamu merasakan tangan miliknya dan dia merasakan tangan milikmu. Jenis permainan macam apa itu?”

“…”

Xie Lian mencoba menjelaskannya, “Tuan Master Angin, tolong jangan membuatnya terdengar sangat aneh. Kami hanya mencoba sesuatu. aku telah menemukan beberapa petunjuk di sini, di Manor Surga dan sedang menyelidikinya. Untuk melakukan penyelidikan ini, aku butuh sedikit keberuntungan.”

Xie Lian mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya tertutup rapat seolah-olah telah meraih sesuatu, dan kemudian tampak merajut alisnya. “Aku sudah mendapatkannya.”

Keduanya diam-diam menyelinap keluar pintu, dan setelah dua kali dupa, mereka berhasil menemukan sebuah bangunan kecil yang sebelumnya sekali lagi.

Xie Lian mendekati patung wanita itu dan mengeluarkan dua dadu yang diberikan padanya sebelumnya. Dia berhenti dan mengambil napas dalam-dalam sebelum melemparkan dadu itu. Dua benda kecil itu berderak sebelum berhenti, dan tentu saja, ada dua dadu itu menunjukkan enam titik berwarna merah.

Xie Lian menghela napas lega, tetapi merasa lebih buruk mengingat bahwa keberuntungan ini dipinjamkan kepadanya sebelumnya di Aula Manor Surga oleh Hua Cheng. Melihat ekspresi penyesalannya, Shi Qing Xuan menepuk pundaknya. “Karena kita sudah sejauh ini, biarkan saja. Tapi Hujan Darah Mencapai Bunga ini benar-benar tampak begitu tulus dan memperlakukanmu dengan begitu baik. Jika aku adalah dirimu, aku akan menolak misi ini dari Jun Wu tidak peduli bagaimana dia memohon, jangan sampai aku menjadi teman yang gagal.”

Xie Lian menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya, Shi Qing Xuan hanya bisa mengatakan kata-kata seperti itu karena dia tidak mengenal Jun Wu dengan baik. Seluruh urusan kasus ini tentu saja sangat canggung untuk Xie Lian lakukan, dan Jun Wu tahu itu. Dari pemahamannya tentang karakter Jun Wu, dalam keadaan seperti itu dia tidak akan pernah menyebutkan masalah ini, dan akan menunjuk pejabat surgawi lainnya untuk misi. Tetapi bahkan mengetahui keadaannya yang seperti ini yang akan menyebabkan Xie Lian canggung, Jun Wu masih meminta bantuannya, yang hanya bisa berarti satu hal: Jun Wu tidak punya orang lain yang lebih cocok untuk menjalankan misi ini, dan hanya memintanya karena itulah satu-satunya pilihan yang dimilikinya. Jika itu yang terjadi, Xie Lian tidak punya pilihan lain.

Selain itu, pejabat surgawi yang hilang sebelumnya telah mengeluarkan dan memicu sebuah sinyal peringatan marabahaya tujuh hari yang lalu, dan Hua Cheng juga telah pergi tujuh hari yang lalu. Ini adalah kebetulan yang tidak bisa dia abaikan.

Xie Lian menghela napas sebelum mengambil kembali dadu itu dan mendorong pintu untuk membukanya. Di belakang gerbang yang penuh kemegahan itu bukan lagi tampak sebuah kamar kecil sederhana yang pernah dilihatnya sebelumnya, melainkan sebuah terowongan gelap dengan tangga panjang yang membentang ke jurang di bawahnya, dan embusan angin dingin bertiup ke arah mereka dari kegelapan.

Xie Lian bertukar pandang dengan Shi Qing Xuan dan mengangguk. Satu di belakang yang lain, keduanya memasuki terowongan dan memasuki kegelapan di sana. Shi Qing Xuan memimpin perjalanan itu; Dia menjentikkan jari-jarinya dan menyalakan obor, dan menerangi tangga di bawah kaki mereka. Xie Lian menutup pintu di sana dengan lembut dan mengikuti di belakang.

Ketika mereka turun, Xie Lian bertanya kepada Shi Qing Xuan, “Tuan Master Angin, apakah ada pejabat surgawi yang dibuang dari pengadilan surgawi dalam beberapa tahun terakhir? Maksudku selain aku sendiri.”

“Ada.” Shi Qing Xuan menjawab, “Mengapa kamu bertanya?”

”Karena aku sempat melihat di pergelangan tangan Petugas XiaXuanYue dari Kota Hantu sebelumnya di sana tampak sebuah belenggu terkutuk. Itu hanya bisa disebabkan dan datang dari surga, bukan?”

Shi Qing Xuan terkejut, “Apa? Belenggu terkutuk? Hujan Darah Mencapai Bunga menggunakan mantan pejabat surgawi sebagai bawahannya??? Kesombongan macam apa itu???”

“Bukankah itu tidak bisa menjadi sebuah kesombongan?” Xie Lian menjawab, “Jika seseorang tidak lagi menjadi milik surga, maka ke mana pun orang itu pergi maka itu akan menjadi pilihan mereka sendiri. Sejujurnya tidak perlu mempertanyakan apa motifnya, tetapi petugas itu bertindak dengan begitu mencurigakan. Ini mengkhawatirkan, jadi aku ingin melihat apa yang dipikirkan oleh Tuan Master Angin tentang identitasnya.”

Shi Qing Xuan memikirkannya dan berkata, “Memang, ada dewa bela diri dari wilayah barat yang diusir beberapa tahun yang lalu, dan itu menyebabkan kegemparan besar pada saat itu.”

Dewa bela diri dari barat? Bukankah itu Quan Yi Zhen?

Shi Qing Xuan melanjutkan, “Tapi, aku tidak berpikir bahwa Yang Mulia akan turun ke alam hantu untuk menjadi seorang perwira iblis! Dia datang dari latar belakang tradisional yang mapan dan karakternya tidak sembrono.”

Jika itu masalahnya, mengapa dia dibuang? Xie Lian akan melanjutkan penyelidikannya ketika keduanya tiba di tanah datar setelah enam puluh atau lebih langkah dari tangga batu.

Di depan mereka tampak sebuah jalan yang begitu lebar dan bisa memuat sekitar lima hingga enam orang, di depannya tampak sebuah jalan satu arah yang diselimuti oleh kegelapan, dan sebuah tangga tepat di belakang mereka. Di kedua sisi jalan itu adalah sebuah dinding tebal dan kokoh, jadi tidak perlu berdebat ke mana harus pergi; maju saja.

Hanya saja, setelah berjalan menyusuri sepanjang jalan itu selama lebih dari dua ratus langkah, sebuah tembok batu dingin muncul di depan mereka berdua, menghalangi jalan mereka.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments