Penerjemah: Jeffery Liu


Bocah itu sepertinya tidak tahu siapa Bencana Berpakaian Putih atau Bai WuXiang itu, hanya memandang ke arah Xie Lian dengan ekspresi kosong. Xie Lian tidak bisa memastikan apakah anak itu tidak mengerti atau tidak bisa mengerti apa yang dia katakan, tetapi tiba-tiba dia berteriak, “AH!” dan ternyata Xie Lian yang saat itu tengah memegang bahunya, tanpa sadar mencengkeram bahu bocah itu terlalu erat. Baru setelah dia berteriak, Xie Lian menyadari apa yang telah dia lakukan, dan dengan buru-buru melepaskan tangannya. “Maafkan aku.”

Hua Cheng berbicara dengan suara rendah, “Kamu lelah. Pergilah beristirahat.”

Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, sebuah pintu kecil di sebuah dinding samping aula itu terbuka, dan dua gadis yang gesit tampak memasuki aula untuk mengambil anak itu. Dia menatap Xie Lian ketika dirinya dibawa pergi. Xie Lian mencoba menenangkannya dan berkata, “Jangan khawatir. Aku akan menemuimu lagi sebentar lagi.”

Setelah bocah itu dibawa pergi, Hua Cheng menoleh ke arah Xie Lian, “Duduk dan bersantailah, dan jangan menemui anak itu untuk saat ini. Jika kamu memiliki pertanyaan untuknya, aku memiliki cara yang bisa kulakukan untuk memaksanya membuka bibirnya dan membuatnya berbicara.”

Kata-kata ‘Memaksanya membuka bibirnya’ bagi Xie Lian terdengar agak mengerikan, dan Xie Lian menjawab, “Tidak, tidak apa-apa. Jika dia tidak bisa mengatakan apa-apa maka biarkan saja. Kita bisa melakukan ini pelan-pelan.”

Hua Cheng duduk di sebelah Xie Lian dan bertanya, “Apa rencana yang akan kamu lakukan untuk anak itu?”

Xie Lian, tampak kelelahan, memikirkan pertanyaan itu, “Aku pikir, aku akan menjaganya dan membiarkannya tetap berada di sisiku, dan pertama-tama aku akan membawanya bersamaku.”

“Anak itu adalah hantu, bukan manusia.” Hua Cheng berkata, “Mengapa kamu tidak meninggalkannya di sini saja di Kota Hantu? Aku tidak akan kesulitan untuk sekadar memberinya makan.”

Xie Lian menatap ke arah Hua Cheng, dan berkata dengan sungguh-sungguh, “San Lang, sungguh, terima kasih. Tapi…” Xie Lian menghela napas, “Aku berniat untuk membawanya bersamaku bukan hanya untuk membesarkannya.”

Kota Hantu sudah sangat jelas adalah milik Hua Cheng; jika dia mau melindungi bocah itu, maka tidak ada yang bisa melukainya dan dia tentu saja tidak akan kelaparan. Tetapi selain itu, hal terpenting bagi bocah itu adalah lebih dari sekadar bimbingan, bimbingan untuk membantunya mengatur pikiran dan ucapannya, dan mengembalikannya ke keadaan normal. Kota Hantu adalah tempat yang ramai, begitu penuh kekacauan dan liar, tidak ideal untuk membesarkan seorang anak. Selain dirinya sendiri, Xie Lian tidak bisa memikirkan orang lain yang akan memiliki kesabaran untuk melakukan tugas itu.

Xie Lian menjawab perlahan, “Aku sudah sangat berterima kasih karena kamu berhasil menemukan dia untukku. Aku tidak bisa menyulitkanmu lebih banyak lagi dengan akibat yang barangkali akan muncul.”

Hua Cheng tampaknya tidak setuju, tetapi tidak mendorong dan memaksakan kehendaknya lagi. Dia berkata dengan jelas, “Itu benar-benar bukan masalah. Saat kamu ada di sini, jika kamu membutuhkan sesuatu, beri tahu aku; dan kamu juga bisa dengan bebas pergi ke mana pun yang kamu inginkan.”

Tidak lama setelah itu, Xie Lian melihat sebuah pedang yang berada di pinggang Hua Cheng tiba-tiba berubah.

Xie Lian melihat ke bawah dan rasa ingin tahunya langsung terguncang dengan seketika. Ternyata, di gagang pedang itu dia melihat ada sebuah mata perak yang dibuat di atasnya. Pola mata itu dibentuk oleh beberapa goresan perak kasar, tetapi meskipun tampak sederhana, pola itu tampak mengandung aura mistis seolah-olah pola itu begitu hidup. Dia tidak melihatnya pada awalnya karena pola mata itu sebelumnya tertutup dan hanya ada garis tipis di sana, tetapi sekarang, mata itu terbuka dan mengungkapkan sebuah bola mata seperti sebuah permata merah, dan di dalam soket itu mata itu tampak berputar sekali.

Hua Cheng juga memperhatikannya, dan berbicara dengan suara rendah, “Gege, aku harus pergi sebentar. Aku akan segera kembali.

“Sebuah peringatan?” Xie Lian bertanya. Mungkinkah Tuan Master Angin dan Qian Qiu menunjukkan diri mereka yang sebenarnya di Kota Hantu saat ini? Xie Lian juga memutuskan untuk bangkit, “Aku akan ikut denganmu.”

Hua Cheng dengan lembut mendorongnya kembali, “Jangan khawatir, peringatan ini bukan ditujukkan untuk Yang Mulia Tai Hua. Hanya beberapa sampah tidak berguna yang muncul setiap bulan. kamu tidak harus pergi.”

Karena Hua Cheng menjelaskannya, Xie Lian tidak bisa terus bersikeras untuk ikut. Hua Cheng berbalik dan meninggalkan aula utama, melambaikan tangan saat dia berjalan pergi. Tirai bermanik-manik itu tampak terbuka secara otomatis ketika pemuda itu mendekat untuk melewatinya, dan setelah dia keluar, tirai bermanik-manik itu kembali tertutup, berdenting, suaranya terdengar begitu renyah dan jernih.

Xie Lian sedikit bersantai di atas futon hitam itu dan berpikir tentang bocah yang dibalut perban sebelumnya. Mengingat anak itu begitu takut pada orang asing dan secara emosional dia tampak tidak begitu stabil, Xie Lian tidak bisa hanya duduk diam di sana dan kembali bangkit, bertekad untuk pergi dan melihat untuk menemui bocah itu. Dia melewati sebuah pintu kecil yang sebelumnya dimasuki oleh gadis-gadis yang membawa anak itu sebelumnya dan ketika Xie Lian melewati pintu itu dia diarahkan ke sebuah taman kecil di sana. Taman itu tampak dipenuhi warna merah tua, dan di taman itu ada sebuah jalan kecil yang memotong taman di sana dari satu sisi ke sisi yang lain, begitu kosong dan tampak seolah-olah tidak ada kehidupan di sana, dan Xie Lian masih bertanya-tanya ke mana dia harus pergi selanjutnya ketika tiba-tiba sebuah bayangan hitam melintasi penglihatannya.

Itu adalah bayangan dari Petugas XiaXianYue sebelumnya.

Xie Lian mengingat belenggu terkutuk yang ada di pergelangan tangan Petugas XiaXianYue yang sebelumnya tidak sengaja dia lihat dan masih ada di dalam pikirannya sampai sekarang. Dia berniat untuk memanggilnya ketika bayangan itu tiba-tiba menghilang. Sikap yang ditunjukkan oleh Petugas XiaXianYue itu tampak seperti dia takut untuk ditemukan, jadi Xie Lian memutuskan untuk menutup mulutnya, dan mengikutinya tanpa suara.

Beralih ke sudut bangunan tempat petugas itu menghilang, Xie Lian tampak menyembunyikan dirinya sendiri ke sebuah dinding di sana dan diam-diam melihat sekeliling. Pemuda itu bergerak dengan cepat dan tampak selalu waspada dengan lingkungan di sekitarnya, sangat berhati-hati dan memang takut untuk ditemukan. Petugas XiaXianYue itu adalah salah satu dari bawahan San Lang, dan bekerja di bawahnya di wilayahnya, jadi mengapa dia harus menyelinap seperti itu?

Semakin Xie Lian berpikir, semakin dia curiga bahwa petugas itu memiliki masalah dan terganggu dengan sesuatu, jadi Xie Lian memutuskan untuk tetap menyembunyikan dirinya dan terus mengikutinya. Petugas bertopeng itu tampak berbelok beberapa kali melalui lorong-lorong di sana, dan Xie Lian masih tetap mengikutinya dengan teliti dalam lima puluh langkah di belakang petugas itu, menahan napas dan memperhatikannya dengan cermat. Akhirnya, mereka berbelok di sebuah sudut dan sampai di sebuah lorong yang panjang, dan di ujung lorong itu ada sebuah pintu besar yang didekorasi dengan begitu indah.

Dengan masih mengikuti petugas itu di belakang, Xie Lian berpikir, ‘Jika dia berbalik sekarang tidak akan ada tempat untuk bersembunyi.’ Tapi saat pikiran itu terlintas di benaknya, Petugas XiaXianYue itu berhenti dan menoleh.

Saat-saat ketika petugas itu tampak menghentikan langkahnya, Xie Lian seolah-olah mendapat sebuah peringatan dan kemudian dengan tergesa-gesa memutuskan untuk mengulurkan tangannya sendiri. Pita sutera Ruoye kemudian terbang keluar dari lengannya dan kemudian membungkus dirinya di sekitar balok kayu di atas kepalanya, menarik Xie Lian ke arah langit-langit, dan untuk sesaat Xie Lian menempel ke langit-langit balok di sana.

Petugas itu tidak melihat siapa pun di belakangnya dan tidak berpikir untuk melihat ke atas, jadi kemudian dia tampak kembali berbalik dan melanjutkan perjalanannya. Xie Lian di sisi lain, tidak berani membiarkan dirinya turun dari tempat itu dengan segera dan memutuskan untuk tetap berada di langit-langit untuk beberapa saat, diam-diam beringsut ke depan. Dia berpikir bahwa dia lebih mirip tokek. Beruntung petugas yang sebelumnya belum melangkah terlalu jauh, dan petugas itu tampak berhenti di depan satu set pintu di sana. Xie Lian juga memutuskan berhenti untuk mengamatinya.

Di depan pintu itu terdapat sebuah patung seorang wanita, tampak begitu licik dan cantik, tetapi tentu saja dari sudut mata Xie Lian saat ini dia hanya melihat sebuah kepala bundar dan sebuah mangkuk bundar yang terbuat dari batu giok di tangannya. Pemuda bertopeng itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri dan juga tidak bergerak untuk membuka pintu itu. Sebaliknya, dia berbalik ke arah patung wanita itu dan kemudian mengangkat tangannya, melemparkan sesuatu ke mangkuk batu giok itu. Suara gemerincing itu terdengar begitu keras dan Xie Lian masih mengamatinya, ‘sebuah dadu?’ dia berpikir dalam hatinya.

Itu adalah sebuah suara yang dia dengar terlalu sering sebelumnya, dan bukan sebuah suara yang dia lupakan begitu lama. Itu adalah suara dadu yang mengenai bagian bawah cangkir judi. Seperti yang dia duga, ketika pemuda bertopeng itu melepaskan tangannya dan Xie Lian mengamatinya, itu memang adalah dua buah dadu di atas mangkuk batu giok di sana, kedua dadu itu mengungkapkan enam titik merah.

Setelah melemparkan dadu, pemuda bertopeng itu kemudian mengambil kembali dua dadu itu dari piring dan menyimpannya sebelum membuka pintu di sana. Pintunya bahkan tidak dikunci. Ketika dia masuk melalui pintu itu dan menutupnya kembali di belakangnya, Xie Lian juga tidak mendengar suara sebuah kunci yang berputar. Setelah menunggu sebentar, Xie Lian dengan lembut dan begitu perlahan menurunkan dirinya ke tanah seperti selembar kertas, dan menyilangkan lengannya untuk memeriksa set pintu itu.

Secara teknis, bangunan ini tidak tampak sebesar itu, dan apa pun yang dilakukan oleh Petugas XiaXianYue di dalam tempat itu seharusnya terdengar sebuah keributan. Namun, setelah dia menutup pintu di belakangnya, tidak ada lagi suara yang datang dari dalam. Xie Lian merenung dan mengangkat tangannya untuk mencoba mendorong pintu itu.

Seperti yang dia curigai, setelah mencoba mendorong untuk membuka pintu di sana, tidak ada apa-apa di dalam dan bahkan tidak ada orang di sana, hanya sebuah meja kecil dan dua kursi. Tampaknya hanya sebuah kamar tidur yang normal dan begitu mewah. Dengan tampilan pengaturan ini, tidak ada kemungkinan ada sebuah jalan tersembunyi di tempat itu.

Xie Lian kembali menutup pintu dan melihat untuk mengamati patung wanita di sana, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke sebuah mangkuk batu giok di tangannya. Tidak diragukan lagi, rahasia dari mekanisme itu ada di mangkuk batu giok dan dadu di sana.

‘Jadi bangunan itu masih terkunci,’ pikir Xie Lian, ‘Hanya saja tidak dengan kunci fisik tetapi dengan kunci sihir. Untuk membuka kunci ini, harus ada kunci atau kata sandi. Dadu yang dilemparkan di sana harus menunjukkan dua angka enam untuk bisa melihat bagian dalam yang sebenarnya di balik pintu itu.’

Tapi, bagi Xie Lian untuk mampu melemparkan dua dadu yang masing-masing menunjukkan angka enam saat itu juga, adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi di dunia ini. Dia hanya bisa menatap pintu itu dan menghela napas. Dia tampak berjalan mondar-mandir di depan pintu, matanya terpaku pada mereka, tetapi kemudian pada akhirnya memutuskan untuk berbalik dan pergi. Setelah berjalan sebentar, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dari ujung jalan di sana, muncul sesosok tubuh tinggi berbaju merah, sebuah pedang perak panjang dan ramping tergantung di pinggangnya. Itu adalah Hua Cheng.

Dia berjalan dengan tangan bersedekap, “Gege, aku sudah mencarimu ke mana-mana.”

Penampilannya masih sama persis seperti sebelumnya ketika dia pergi, hanya saja sebuah pedang yang berada di pinggangnya kini telah keluar dari sarungnya, terdengar berdentang ketika bersentuhan dengan sarung pedang itu, kembali berdentang ketika Hua Cheng berjalan, melukiskan sebuah gambaran penuh kesombongan. Mata perak di gagang E-Ming itu kini telah tertutup. Xie Lian menenangkan dirinya dan berkata, “Aku berniat pergi untuk menemui anak itu, tapi rumahmu terlalu besar dan aku tersesat.”

Xie Lian awalnya akan memberi tahu Hua Cheng tentang apa yang baru saja terjadi, tetapi ketika kata-kata itu akan keluar dari bibirnya, dirinya berpikir itu tidak perlu dan menelannya kembali.

Xie Lian sama sekali tidak melupakan tujuan utamanya dari kunjungannya ke Kota Hantu ini adalah untuk menyelidiki pejabat surgawi yang hilang. Tanda-tanda mencurigakan apa pun tidak bisa diabaikan, jadi, dia memutuskan untuk tidak membunyikan peringatan apa pun dan melihat apakah dia bisa melewati pintu itu terlebih dahulu. Jika Hua Cheng tidak ada hubungannya dengan semua itu, maka Xie Lian akan melaporkan kepadanya mengenai bawahannya yang bertingkah mencurigakan, tetapi jika Hua Cheng terlibat…

Xie Lian tenggelam dalam pikirannya tetapi Hua Cheng tidak memperhatikannya dan terus berbicara kepadanya ketika dia membawa Xie Lian kembali ke aula utama, “Jika kamu ingin melihat anak itu, aku bisa mengirim seseorang untuk membawanya menemuimu, dan kamu hanya perlu menunggunya di dalam aula Manor Surga.”

Entah itu mungkin karena dia sedang menyembunyikan sesuatu, ketika Xie Lian mendengar nada suara Hua Cheng, dia tidak bisa tidak menjadi lebih patuh, “Kamu menyelesaikan urusanmu secepat itu?”

Hua Cheng mendengus, bibirnya melengkung dengan jijik, “Sudah selesai. Itu hanyalah sekelompok sampah tidak berguna yang mempermalukan diri mereka sendiri, itu saja.”

Mendengar dia mengatakan ‘sampah tidak berguna’, nadanya terdengar begitu dikenalinya, dan Xie Lian menebak, “Apakah itu Hantu Hijau Qi Rong?”

Hua Cheng tersenyum, “Benar. Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya, banyak orang yang memperhatikan tempat milikku ini. Qi Rong telah menginginkan Kota Hantu ini untuk dirinya sendiri selama bertahun-tahun, tetapi yang paling bisa dia lakukan hingga sekarang hanyalah menginginkannya dan terbakar dalam api cemburu miliknya sendiri, sehingga sering kali dia mengirim bawahan yang sama sekali tidak berguna untuk menimbulkan masalah. Tidak ada yang layak untuk disebutkan siapa saja mereka. Sebenarnya, aku punya tempat yang ingin aku tunjukkan kepada gege, tapi aku tidak tahu apakah gege akan pergi denganku dengan senang hati?”

“Tentu saja.” Xie Lian menjawab dengan gembira.

Melintasi koridor panjang di sana, Hua Cheng membawa Xie Lian ke sebuah aula besar lainnya.

Pintu aula itu sepertinya terbuat dari baja dengan sebuah ukiran binatang buas di atasnya, tampak begitu mengerikan dan menakutkan. Saat Hua Cheng mendekat, ukiran binatang buas itu dengan seketika berpisah dan pintu itu terbuka. Sebuah ledakan niat membunuh menyerang Xie Lian sebelum dia bahkan menginjakkan kakinya ke dalam aula, dan dia tampak begitu tegang, urat-urat darah muncul di tangannya, siap menghadapi apa pun yang ada di dalam aula itu.

Namun, setelah melihat dengan jelas apa yang ada di dalam aula, dia berkedip. Pertahanannya meleleh dalam sekejap, dan kakinya bergerak sendiri, membawanya memasuki aula itu.

Di dalam aula itu, semua jenis senjata tampak tergantung di keempat sisi dinding di dalam aula. Ada pedang lengkung, pedang, tombak, perisai, cambuk, kapak… itu adalah sebuah gudang senjata!

Siapa pun, selama mereka laki-laki, ketika mereka berada di dalam gudang senjata seperti ini, dikelilingi oleh semua jenis persenjataan di sana, mereka akan merasa seolah-olah tengah berada di surga, dan darah mereka akan mendidih karena kegembiraan yang begitu besar menyerang mereka. Xie Lian tidak terkecuali; matanya tampak melebar dan wajahnya menyala dalam kegembiraan. Terakhir kali dia menunjukkan kegembiraan seperti itu adalah ketika dia tengah berada di gudang senjata milik Jun Wu.

Meskipun wajahnya tampak seperti membeku, jantungnya sudah berdetak dengan begitu kencang, dan kata-katanya terdengar terbata-bata, “Bo-bolehkah aku menyentuhnya?”

Hua Cheng tersenyum, “Lakukan apa pun yang kamu inginkan.”

Tangan Xie Lian langsung terbang keluar untuk merasakan semua senjata layaknya harta karun yang digantung di dinding, membelai mereka seolah-olah dia sedang mabuk, “Ini… Semua ini adalah sebuah maha karya! Pedang ini sangat bagus, pedang ini seharusnya menjadi pemandangan untuk dilihat di medan perang! Yang satu ini juga! Tunggu, dan pedang itu…”

Hua Cheng bersandar di dinding dekat pintu, menyaksikan wajah Xie Lian yang tampak memerah karena sensasi dan obsesi yang dimilikinya, “Gege, bagaimana menurutmu?”

Xie Lian sedang memeriksa setiap bagian senjata di sana dengan saksama sehingga dia enggan untuk memutar kepalanya untuk menoleh. “Apa maksudmu dengan bagaimana menurutku?”

“Apakah kamu suka?” Hua Cheng bertanya.

“Ya!” Jawab Xie Lian.

“Apakah kamu benar-benar menyukainya?” Hua Cheng kembali bertanya.

“Aku benar-benar menyukainya!” seru Xie Lian.

Hua Cheng tampaknya terdengar mencibir tetapi Xie Lian tidak menyadarinya. Jantungnya sibuk berdetak kencang saat dia menghunuskan sebuah pedang hijau sepanjang empat kaki yang begitu berkilauan, wajahnya tampak dipenuhi dengan kekaguman ketika dia melakukannya.

“Apakah ada di antara mereka yang cukup bagus untukmu?” Hua Cheng berbicara lagi.

Seluruh wajah Xie Lian tampak begitu cerah dan bercahaya, tidak bisa menghentikan kekagumannya, “Bagus! Bagus! Mereka semua tampak bagus!”

“Awalnya aku berpikir gege tidak memiliki senjata yang berguna di tanganmu, jadi jika ada sesuatu yang cukup bagus di sini, kamu bisa memilihnya untuk dirimu sendiri,” Hua Cheng berkata, “Tapi karena gege menyukai semuanya, Aku akan memberikan semuanya untukmu.”

“Tidak, tidak, tidak, tidak perlu.” Xie Lian buru-buru berkata, “Lagi pula aku tidak terlalu ahli untuk menggunakan senjata tangan seperti ini.”

“Benarkah?” Hua Cheng berkata, “Tapi tampak jelas bahwa gege sangat menyukai pedang bukan?”

“Menyukai bukan berarti aku harus memilikinya,” kata Xie Lian, “Aku belum pernah menggunakannya selama bertahun-tahun. Hanya melihatnya sudah membuatku bahagia. Selain itu, aku tidak memiliki tempat untuk meletakkan semua senjata ini jika kamu berniat memberikan semuanya kepadaku.”

“Itu mudah dipecahkan.” Hua Cheng menjawab, “Aku akan memberikan seluruh gudang senjata ini kepadamu.”

Xie Lian menganggap itu sebagai lelucon dan menyeringai, “Tidak mungkin aku bisa mengambil sebuah ruangan sebesar ini.”

“Tidak perlu mengambilnya,” Hua Cheng berkata, “Aku akan memberimu semua propertinya juga, bahkan bangunan dan tanahnya juga. Kamu hanya perlu mengunjunginya ketika kamu sedang memiliki waktu luang.”

“Tidak, tidak apa-apa.” XIe Lian berkata, “Sebuah gudang senjata membutuhkan perawatan yang konstan. Aku benci jika harus melihat semua senjata di sini menderita.”

Xie Lian meletakkan pedangnya dengan hati-hati ke atas pangkuannya, dan berkata dengan suara seperti dia sedang nostalgia, “Dahulu aku pernah memiliki gudang senjata seperti ini juga, tetapi gudang itu kini sudah dibakar habis. Semua senjata ini adalah sebuah alat berharga yang diinginkan oleh semua orang, kamu harus menghargainya, San Lang.”

“Itu mudah juga,” Hua Cheng berkata, “Jika aku sedang memiliki waktu luang, aku bisa membantu gege untuk merawat dan menjaga gudang senjata ini.”

Xie Lian tertawa, “Yah, aku tentu saja tidak akan memiliki wajah untuk meminta Yang Mulia Raja Iblis untuk melakukan pekerjaan untukku.”

Tiba-tiba, Xie Lian teringat peringatan Jun Wu tepat sebelum dia pergi untuk menjalankan misi ini: “Pedang Lengkung E-Ming adalah pedang jahat yang terkutuk. Senjata kejahatan semacam itu hanya bisa ditempa dengan pengorbanan yang sangat kejam dan kehendak berdarah. Jangan menyentuhnya, dan jangan biarkan pedang itu menyentuhmu, jangan sampai semua itu terjadi karena konsekuensinya sangat tidak bisa dibayangkan.”

Xie Lian merenungkan kata-kata itu tetapi kemudian memutuskan untuk bertanya pada akhirnya, “Tapi San Lang, semua senjata ini bahkan tidak mendekati pedang E-Ming milikmu, bukan?”

Hua Cheng mengangkat alis kirinya, “Oh? Apakah gege juga sudah mendengar mengenai pedang milikku?”

“Hanya beberapa kabar angin.” Xie Lian menjawab.

Hua Cheng mencibir, “Aku yakin mereka bukan kabar angin yang bagus. Apakah seseorang memberi tahumu bahwa pedang milikku ditempa dengan sebuah ritual jahat berdarah? Bahwa aku mengorbankan seorang manusia hidup?”

Tajam seperti biasa. Xie Lian menjawab, “Tidak terlalu buruk. Setiap orang memiliki rumor buruk mereka sendiri, tetapi tidak semua orang akan mempercayainya. Aku tidak tahu apakah aku akan mendapatkan kehormatan untuk melihat pedang legendaris E-Ming itu?”

“Kamu sebenarnya sudah melihatnya, gege.” kata Hua Cheng.

Hua Cheng tampak mengambil beberapa langkah lebih dekat ke arah Xie Lian dan berkata dengan suara rendah, “Lihatlah, gege, ini adalah E-Ming.”

Mata pada pedang yang tergantung di pinggang Hua Cheng tampak memutar ke arah Xie Lian. Mungkin itu hanya imajinasi Xie Lian tetapi dia berpikir bahwa mata perak itu mulai menyipit menjadi bentuk bulan sabit.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments