Penerjemah: Jeffery Liu, naza_ye


Mungkin itu hanyalah imajinasinya, tetapi bahu Hua Cheng sepertinya tampak membeku untuk sesaat. Momen itu tidak berlangsung lama, dan Hua Cheng dengan santai menjawab, “Aku memang mengatakan bahwa saat kita bertemu di pertemuan selanjutnya aku akan menyambutmu dengan penampilan asliku.”

Xie Lian menyeringai. Dia menepuk bahu pemuda itu dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Tidak buruk.”

Nada suara Xie Lian juga terdengar begitu santai, tidak lebih, tidak kurang, dan sangat sederhana. Hua Cheng balas tersenyum kepadanya, dan kali ini dia tampak lebih santai. Mereka mengambil beberapa langkah lagi dan Xie Lian tiba-tiba teringat sesuatu yang penting untuk dikonfirmasikan dengan Hua Cheng, dan dia kemudian melepaskan kalung yang terbuat dari rantai perak di lehernya.

“Omong-omong,” kata Xie Lian, “Apakah kamu meninggalkan ini?”

Hua Cheng melirik cincin itu dan tersenyum, “Cincin itu untukmu.”

“Apa ini?” tanya Xie Lian.

“Itu bukan sesuatu yang penting.” Hua Cheng menjawab, “Simpan saja untuk bersenang-senang.”

Meskipun itu yang dia katakan, tetapi Xie Lian tahu bahwa objek ini bukan sesuatu yang begitu sepele. “Kalau begitu, terima kasih, San Lang.”

Melihat bahwa Xie Lian kembali meletakkan kalung cincin itu di lehernya, mata Hua Cheng tampak dipenuhi oleh kilauan yang begitu cerah. Xie Lian memandang sekelilingnya dan berkata, “Sebelumnya ketika di Rumah Judi kamu sempat bilang bahwa kamu akan datang ke sini ke Manor Surga dan kupikir tempat ini akan seperti sebuah rumah bordil atau distrik lampu merah, tapi ternyata tempat ini tampak lebih mirip teater?”

Hua Cheng mengangkat alisnya, “Gege, apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah pergi ke distrik lampu merah.”

Xie Lian tampak begitu kagum, “Benarkah?”

“Tentu saja.” jawab Hua Cheng.

Keduanya mendekati tempat tidur hitam itu dan keduanya duduk bersebelahan satu sama lain. Hua Cheng melanjutkan, “Ini tidak lain adalah tempat yang akan aku renovasi sana-sini, semacam tempat tinggal. Aku akan datang dan bersantai di sini ketika aku sedang memiliki waktu luang. Jika aku sedang sibuk maka aku akan membiarkannya apa adanya.”

“Jadi, ini adalah rumahmu,” komentar Xie Lian.

“Tempat tinggal.” Hua Cheng mengoreksi, “Bukan rumah.”

“Apakah ada perbedaan?” tanya Xie Lian.

“Tentu saja,” Hua Cheng menjawab, “Sebuah rumah memiliki keluarga di dalam sana. Tempat di mana seseorang tinggal sendirian bukanlah rumah.”

Mendengar itu, hati Xie Lian tampak seperti tengah diremas. Dengan definisi itu, itu berarti sudah lebih dari delapan ratus tahun sejak dia memiliki sebuah ‘rumah’. Meskipun Hua Cheng tidak memiliki jejak kesepian di wajahnya, Xie Lian berpikir mereka mungkin sama. Hua Cheng melanjutkan, “Jika itu adalah rumah, maka bahkan tempat kecil seperti Kuil Pu Qi akan lebih baik jutaan kali lipat daripada Manor Surga milikku.”

Xie Lian setuju dan tersenyum, “Aku tidak menyadari bahwa ternyata San Lang tampak begitu sentimental seperti ini. Tetapi untuk membuat perbandingan menggunakan Kuil Pu Qi milikku, kamu benar-benar menarik kakiku di sini.”

Hua Cheng tertawa, “Apa yang membuatmu malu? Sejujurnya, meskipun Kuil Pu Qi milik gege kecil, tapi jauh lebih nyaman daripada Manor Surga milikku. Tempat itu jauh lebih seperti rumah.”

“Begitukah?” Xie Lian berkata dengan nada yang begitu hangat, “Kalau begitu, di masa depan nanti, datanglah kapan pun kamu mau. Pintu Kuil Pu Qi akan selalu terbuka untukmu.”

Wajah Hua Cheng berbinar, “Karena gege berkata seperti itu, maka aku akan dengan senang hati menerima tawaranmu. Jangan pernah berpikir bahwa aku menyebalkan di masa depan.”

“Tidak mungkin.” kata Xie Lian. “Omong-omong, San Lang aku ingin meminta bantuanmu, tetapi aku tidak tahu apakah kamu punya waktu?”

“Ada apa?”​​ Hua Cheng bertanya, “Ini adalah wilayahku. Kamu hanya perlu bertanya, dan aku akan menjawabnya “

Setelah beberapa saat berpikir, Xie Lian berkata, “Sebelumnya ketika aku berurusan dengan kasus di Gunung Yu Jun, aku bertemu dengan seorang anak yang mungkin berasal dari kerajaanku.”

Hua Cheng berkedip perlahan pada kata ‘berasal’ dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Xie Lian melanjutkan, “Aku tidak menangani masalah itu dengan baik sebelumnya, dan membuatnya takut. Setelah itu, aku meminta sebuah pencarian yang sampai sekarang belum ada hasil apa pun. Sebelumnya ketika aku sedang berlari di sekitar gang belakang Kota Hantu, aku berpikir aku telah bertemu lagi dengan anak itu. San Lang, kamu adalah penguasa wilayah ini. Apakah ada cara kamu bisa membantuku menemukannya? Wajahnya tampak terbalut perban, dan baru saja melarikan diri dari depan Manor Surga.”

Hua Cheng terdiam, dan kemudian berdiri untuk mengatakan sesuatu dengan suara yang begitu rendah, dia tampak memalingkan wajahnya, seolah-olah dia tengah berkomunikasi dengan seseorang. Sesaat kemudian dia kembali duduk dan tersenyum, “Selesai. Tunggu saja.”

Karena Hua Cheng adalah penguasa yang mengawasi Kota Hantu ini, akan jauh lebih nyaman dan mudah baginya untuk bertindak. Xie Lian menghela napas lega, “Sungguh, sekali lagi terima kasih.”

“Itu bukan apa-apa,” kata Hua Cheng. “Tapi itu berarti kamu meninggalkan Lang Qian Qiu begitu saja?”

Jika Lang Qian Qiu ada di sana, seseorang yang akan mengatakan semua hal secara langsung dan berpikiran pendek, akan sulit untuk memprediksi omong kosong apa yang akan keluar dari mulutnya dan memulai kembali sebuah masalah yang siapa yang akan tahu masalah macam apa itu. Mungkin sebaiknya mereka bertemu saja nanti, pikir Xie Lian. “Yang Mulia Tai Hua sudah membuatmu kesulitan sebelumnya di Rumah Judi. Maaf tentang itu.”

Hua Cheng melontarkan sebuah senyum sombong dan berkata, “Apa yang kamu katakan? Itu sama sekali bukan masalah.”

“Benda-benda yang sudah dia hancurkan…” Xie Lian memulai mengatakan itu dan dengan seketika Hua Cheng tertawa, “Demi gege aku akan menghapus tagihannya dan melupakannya. Dia bisa melakukan apa pun yang dia mau selama dia tidak menunjukkan wajahnya di hadapanku.”

Xie Lian sekarang tampak begitu penasaran, dan bertanya, “Kamu tidak peduli jika ada pejabat surgawi yang bermain-main dengan wilayahmu?” Mungkinkah Hua Cheng benar-benar tidak mengenal takut sama sekali?

Hua Cheng tersenyum, “Tentu saja kamu mungkin tidak akan tahu tentang hal ini, tapi gege, ketiga alam telah menyatakan bahwa Kota Hantu adalah tempat yang dipenuhi oleh korupsi besar, kekacauan iblis, tetapi pada kenyataannya, semua orang ingin datang ke tempat ini. Begitu banyak pejabat surgawi yang berpura-pura tidak peduli dan berbicara buruk tentang tempat ini, tetapi di belakang semua orang, mereka sering datang dengan menyamar dan melakukan bisnis yang tidak bisa dikatakan. Aku sudah melihat terlalu banyak kejadian seperti itu. Jika mereka tidak menimbulkan masalah maka aku tidak peduli, dan jika mereka melakukannya, maka lebih baik lagi, karena merekalah yang pertama kali mengganggu dan membuat kekacauan.”

“Yang Mulia Tai Hua pada dasarnya memang seperti itu, jadi ketika dia melihat putaran taruhan semacam itu terjadi, dia harus menghentikannya dan tidak bisa menahan dorongan untuk terlibat dan membuat masalah,” Xie Lian menjelaskan.

“Itu karena dia memiliki pengalaman yang begitu kurang,” kata Hua Cheng dengan jelas. “Untuk memilih antara membiarkan dirimu hidup lebih lama selama sepuluh tahun dan memotong hidup musuhmu lebih pendek selama sepuluh tahun dan kemudian memilih yang terakhir, itulah dasar kebencian manusia.” Dia mendengus dan menyilangkan lengannya, “Bahkan seorang idiot seperti Lang Qian Qiu bisa naik, surga benar-benar buta.”

“…”

Xie Lian menggosok keningnya dengan perasaan sedikit bersalah, berpikir, ‘Kamu tidak bisa mengatakannya seperti itu, lagipula, seseorang yang mengumpulkan sampah seperti aku juga bisa naik…’

Setelah tampak begitu ragu-ragu, Xie Lian berbicara lagi, “San Lang, mungkin aku tidak boleh mengatakan ini, tapi aku masih harus mengatakannya. Rumah Judi itu berbahaya, tidakkah kamu pernah berpikir bahwa suatu saat mungkin tempat itu akan menghancurkanmu?”

Tempat yang memungkinkan seseorang untuk mempertaruhkan putra dan putri mereka dan bahkan kehidupan semua orang, bahkan sampai mati, sangat berdosa. Lupakan mengenai sedikitnya perkelahian yang mungkin terjadi. Jika suatu hari taruhan itu tidak bisa dikendalikan, surga tidak akan bisa duduk dian dan menutup mata mereka. Hua Cheng menatapnya, “Yang Mulia. Apakah kamu pernah bertanya kepada Lang Qian Qiu mengapa dia bertindak begitu tergesa-gesa sebelumnya?”

Xie Lian sedikit terkejut, tidak begitu mengerti maksud pertanyaan itu. Hua Cheng melanjutkan, “Aku yakin dia pasti memberitahumu bahwa jika dia tidak melakukannya, tidak ada orang lain yang akan melakukannya.”

“Kamu benar,” kata Xie Lian, “Itulah yang dia katakan.”

“Aku kebalikannya.” kata Hua Cheng. “Jika aku tidak mengendalikan tempat seperti ini, maka orang lain yang akan mengendalikannya. Aku lebih suka jika orang itu adalah aku sendiri.”

Xie Lian mengerti kapan waktu baginya untuk berhenti dan menyerah dan dia kemudian mengangguk, “Aku mengerti.”

Sepertinya meskipun Hua Cheng adalah seseorang yang sentimental, dia juga memperhatikan kontrol dan kekuatan lebih dari yang apa yang disadari Xie Lian. Hua Cheng melanjutkan, “Meskipun demikian, terima kasih gege atas perhatianmu.”

Saat itu, Xie Lian mendengar sebuah suara yang datang dari arah pintu. Seorang pria muda berkata, “Tuanku, aku telah menemukan bocah yang terbalut perban.”

Xie Lian melihat ke arah pintu depan dan melihat bahwa itu adalah Petugas XiaXianYue dari sebelumnya yang saat itu tengah membungkuk tepat di balik tirai bermanik-manik. Dan yang ada di lengannya tidak lain adalah bocah berpenampilan compang-camping itu.

Hua Cheng tidak pernah menoleh ke arahnya dan berkata, “Bawa dia masuk.”

Pemuda berpakaian hitam itu membawa anak itu ke dalam dan dengan lembut membaringkannya di lantai. Xie Lian tidak bisa tidak mengintip pergelangan tangan petugas itu sekali lagi untuk melihat apakah benar ada belenggu terkutuk di sana, tetapi dia membungkuk sebelum dengan cepat kembali berdiri setelah mengantarkan bocah itu. Karena ada hal-hal yang lebih penting bagi Xie Lian saat itu, dia kemudian membungkuk dan duduk di dekat bocah yang terbalut perban itu dan langsung menenangkannya, “Jangan takut. Apa yang terjadi terakhir kali itu adalah kesalahanku, aku tidak akan melakukannya lagi.”

Mata bocah itu tampak melebar dan dipenuhi dengan ketakutan dan kebingungan, tetapi setelah melarikan diri berkali-kali, dia tidak lagi memiliki energi untuk kembali melarikan diri. Dia mengintip ke arah di mana Xie Lian berada, lalu mengintip ke arah meja pangkuan di atas tempat tidur yang terbuat dari batu giok hitam. Xie Lian mengikuti garis pandangnya dan melihat dia sedang mengamati sepiring buah-buahan lezat di atas meja pangkuan itu.

Bocah itu pasti sudah bersembunyi terlalu lama dan sama sekali belum makan. Xie Lian menoleh ke arah Hua Cheng dan sebelum dia mengatakan apa-apa, Hua Cheng memberi isyarat, “Lakukan apa pun yang kamu inginkan, tidak perlu bertanya padaku.”

Itu bukan waktunya untuk bersikap sopan, jadi Xie Lian kemudian mengucapkan terima kasih dan meraih sepiring buah-buahan itu sebelum memberikannya kepada bocah itu. Bocah itu mengambil piring dari tangan Xie Lian dan mulai memasukkan buah-buahan ke dalam mulutnya.

Sepertinya dia sudah kelaparan selama berhari-hari, dan sangat lapar. Bahkan ketika Xie Lian dalam kondisi terburuknya dan begitu kelaparan seperti anjing liar, dia tidak pernah memasukkan makanan ke dalam mulutnya seperti itu. Dia tidak tahu harus berkata apa, dan hanya berkata dengan lembut, “Pelan-pelan.”

Setelah jeda, dia berusaha bertanya kembali, “Siapa namamu?”

Bocah itu berbisik dan bergumam ketika dia masih sedang memakan makananya, seolah mencoba mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa melakukannya dengan jelas.

“Dia mungkin tidak berbicara selama bertahun-tahun dan lupa bagaimana caranya berbicara.” Hua Cheng berkata.

Memang, kelihatannya bocah ini tidak banyak bicara, bahkan kepada Little Ying, dan sudah seperti ini sejak lama. Xie Lian menghela napas, “Kita bisa melakukan ini dengan pelan-pelan.”

Pada saat itu, semua buah di piring telah dimakan. Melihat bahwa perbannya tampak kotor oleh darah kering, tertutup bintik-bintik hitam dan merah, Xie Lian berkata dengan lembut, “Wajahmu terluka dan terlihat serius. Biarkan aku melihatnya.”

Mendengar kata-kata itu, ketakutan langsung menyelimuti mata bocah itu. Namun, setelah Xie Lian menenangkan dan memberinya semangat, dia kembali duduk di sana dengan patuh.

Xie Lian kemudian mendekatinya dan duduk di sebelahnya dan kemudian tampak mengeluarkan sebotol bubuk obat dari lengan bajunya, siap untuk melepaskan perban yang kotor ketika Hua Cheng mencegahnya, “Biarkan aku yang melakukannya.”

Xie Lian menggelengkan kepalanya dan menggerakkan tangannya perlahan, membuka perban yang dibalut dengan sembarangan itu dari kepala bocah itu.

Seperti yang dia duga, meskipun wajah bocah itu berantakan, semua wajah kecil manusia yang menakutkan telah hilang, hanya tersisa bercak-bercak besar berwarna merah cerah.

Terakhir kali ketika mereka bertemu di Gunung Yu Jun, ada sebuah luka bakar yang menutupi wajahnya tetapi tidak banyak darah pada saat itu. Bocah ini pasti menggunakan pisau untuk memotong wajah-wajah manusia itu dari wajahnya sendiri dan meninggalkan semua bekas luka itu di sana.

Tangan Xie Lian tampak begitu gemetar pelan ketika dia menggosok obat itu di atas luka-luka anak itu. Hua Cheng menangkap pergelangan tangannya dan berkata lagi, “Biarkan aku yang melakukannya.”

Xie Lian menggelengkan kepalanya lagi dan dengan lembut menarik tangannya, dan berkata dengan suara rendah, “Tidak. Biarkan aku sendiri yang melakukan ini.”

Delapan ratus tahun yang lalu di kerajaan Xian Le, banyak yang telah tertular penyakit ini, tanpa cara lain, semua memilih jalan untuk melakukan mutilasi pada diri mereka sendiri. Itu adalah benar-benar seperti neraka di bumi. Beberapa orang akan kehilangan tujuan mereka dan memutuskan untuk memotong tempat di mana seharusnya tidak mereka potong dan kemudian mati karena kehilangan darah. Beberapa orang, meskipun berhasil menghilangkan wajah-wajah manusia yang kecil itu, mereka tidak akan pernah sembuh dari luka-luka itu.

Ketika Xie Lian membungkus dan membalut sebuah perban baru di sekitar kepala bocah itu, dia menyadari bahwa wajahnya benar-benar cukup tampan, hidungnya lurus dan halus, matanya begitu hitam dan jernih; dia seharusnya menjadi pemuda tampan jika bukan karena penyakit mengerikan ini. Dia seperti banyak orang lain yang terkena penyakit ini sebelum dirinya sendiri; bahkan jika dia memotong wajah manusia yang begitu mengganggu dari wajahnya sendiri, wajahnya akan selamanya menjadi mimpi buruk, tidak dapat pulih seperti sebelumnya.

Xie Lian akhirnya selesai membungkus dan membalut perban baru dan bertanya dengan suara bergetar, “Apakah kamu dari Xian Le?”

Bocah itu berbalik untuk menatapnya dengan mata besarnya, dan Xie Lian mengulangi pertanyaannya beberapa kali tetapi dia hanya menggelengkan kepalanya. Xie Lian kemudian bertanya, “Lalu dari mana kamu berasal, lebih tepatnya?”

Bocah itu menjawab dengan banyak perjuangan “…Yong… An…”

Penyakit Wajah Manusia hanya pernah melanda Kerajaan Xian Le. Tetapi, bocah ini berasal dari Yong An!

Xie Lian merasa pandangannya menjadi gelap, dan dia berkata, “Apakah kamu pernah bertemu… Bencana Berpakaian Putih?”

Bencana Berpakaian Putih, Bai WuXiang. Asal mula dari wabah. Simbol dari kemalangan.

Dia adalah mimpi buruk bagi para dewa generasi sebelumnya, sebelum Hujan Darah Mencapai Bunga lahir. Jika bukan karena Jun Wu, yang telah secara pribadi memusnahkannya, mimpi buruk itu mungkin akan berlanjut hingga sekarang.

Iblis yang termasuk dalam peringkat ‘Golongan Tertinggi’ ini sering mengenakan pakaian pemakaman berwarna seputih salju, sebuah kain Spirit Calling (*Pemanggil Roh) di tangannya, dan sebuah topeng Smile Crying (Senyum Menangis) di wajahnya. Topeng ini disebut dengan nama itu karena separuh dari topeng itu menunjukkan wajah tersenyum, dan separuh lainnya menangis; tergabung bersama-sama, sulit untuk mengatakan apakah pemakainya sedang tersenyum atau menangis. Jika dia terlihat di suatu tempat entah di mana itu, hal itu berarti bahwa tempat itu akan segera hancur, dan dunia akan jatuh menuju kekacauan.

Pada pertempuran terakhir, Xie Lian berdiri di puncak menara tertinggi Istana Xian Le, wajahnya dipenuhi debu dan air mata, tampak begitu kosong dan bingung ketika dia menatap ke bawah ke arah kerajaannya. Dalam penglihatannya yang buram, ada sesosok siluet putih di antara ladang mayat di luar tembok benteng; lengan bajunya yang lebar berkibar, tampak jelas dan berbeda. Xie Lian menundukkan kepalanya untuk menatapnya, dan penampakan putih itu juga mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Xie Lian, dan melambai padanya secara langsung.

Topeng senyum-menangis itu adalah mimpi buruk bagi Xie Lian yang tidak bisa diusir bahkan setelah ratusan tahun.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments