Penerjemah: Jeffery Liu, naza_ye


Xie Lian masih menatap pria muda dalam balutan warna merah itu, “Kamu…”

Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi di bawah tatapan banyak pasang mata, dan ekspresi tak terbaca di wajah Hua Cheng yang tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda mengenalinya, Xie Lian berdebat di dalam pikirannya sendiri apakah akan lebih baik jika dia harus bertindak tampak begitu akrab dengannya. Sebaliknya dia berkata, “Terima kasih.”

“Kenapa kamu harus berterima kasih padanya? Tempat ini adalah miliknya, dia mungkin sudah memiliki niat yang buruk terhadapmu sejak awal.” kata Lang Qian Qiu.

“…” Xie Lian menjawab dengan pelan, “Yang Mulia, mari kita berhenti berbicara dan sudahi saja semua ini.”

Jika mereka melanjutkan, dia benar-benar tidak tahu apa yang akan keluar dari mulut Lang Qian Qiu. Apalagi dengan misi yang ada, Xie Lian tidak bisa untuk tetap tinggal lebih lama di tempat itu. Dia memandang Hua Cheng beberapa kali lagi dan mendorong Lang Qian Qiu untuk berjalan menuju pintu keluar. Saat dia melakukannya, suara Hua Cheng terdengar memanggil mereka dari belakangnya, “Tunggu sebentar.”

Xie Lian menghentikan langkahnya dan berbalik. Perkataan di antara kerumunan mulai terdengar kembali, “Benar tuanku, kita tidak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja!”

“Orang itu mencurigakan. Dia terlihat sangat kuat dan mungkin menyembunyikan sesuatu. Jika kamu bertanya kepadaku, kita harus menahannya di sini dan menginterogasinya.”

“Tepatnya, siapa yang tahu ada seseorang yang sengaja mengirimnya ke sini untuk menyebabkan masalah di dunia kita!”

Kalimat terakhir itu hampir menghentikan detak jantungnya sendiri. Mereka benar-benar datang dari surga, tetapi tujuannya bukan untuk menimbulkan masalah di tempat itu, mereka hanya berniat untuk melakukan penyelidikan dengan tenang. Xie Lian tidak yakin apakah Hua Cheng telah melihat cahaya spiritual yang dilepaskan oleh Lang Qian Qiu sebelumnya, dan dia tidak seratus persen yakin bahwa Hua Cheng akan membiarkan mereka pergi begitu saja jika dia benar-benar melihatnya. Xie Lian semakin cemas, tetapi nada bicara yang digunakan oleh Hua Cheng adalah sekedar nada bicara yang biasanya dia gunakan, “Bukankah seharusnya kamu meninggalkan sebuah hadiah?”

Xie Lian tampak seperti kehilangan pijakannya sekarang dan hanya berkata, “Hadiah?”

Lang Qian Qiu menempatkan dirinya di depan Xie Lian dan berkata dengan hati-hati, “Apakah sekarang kamu berniat untuk mengingkari kata-kata yang sebelumnya kamu janjikan?”

Tapi Xie Lian kemudian berpikir, “Jika San Lang tidak berniat mengingkari janji mereka sebelumnya. Mungkinkah kata-katanya itu berarti sesuatu yang lain?” Dan karena itu, dia berjalan melangkah keluar dari belakang tubuh Lang Qian Qiu yang sebelumnya berdiri di depannya dan bertanya, “Tapi bukankah aku sudah memenangkan taruhan ini?”

Hua Cheng menjawab, “Memang benar bahwa gege baru saja memenangkan taruhan ini melawanku, tapi jangan lupa, kamu pernah kalah di satu ronde sebelumnya.”

Xie Lian tampak terkejut dan berkata, “Tapi kamu bilang, untuk jangan terlalu mengkhawatirkannya karena itu tidak masuk hitungan?”

Meskipun butuh kulit yang sangat tebal untuk mengatakan sesuatu yang memalukan seperti “itu tidak masuk hitungan ketika aku kalah, dan itu hanya akan masuk hitungan ketika aku menang”, Xie Lian masih tetap mengatakannya. Hua Cheng menjawab, “Tentu saja, taruhan yang sebelumnya kamu lakukan dengan bertaruh melawanku itu tidak masuk hitungan. Yang aku maksudkan adalah taruhan pada babak pertama yang kamu lakukan sebelumnya di meja panjang itu.”

Saat itulah Xie Lian akhirnya mengingatnya. Hua Cheng berbicara mengenai taruhan itu ketika Xie Lian memberikan saran untuk bertaruh dengan dadu yang terendah yang akan menang dan pada akhirnya dia malah mengeluarkan dua dadu senilai dua angka enam.

Lang Qian Qiu berbisik, “Sudah kubilang dia tidak punya niat baik dan tidak akan membiarkan kita pergi dengan mudah. Aku akan menjamin kekuatanku tidak akan disegel lagi kali ini.”

Melihat bahwa dia sedang mempersiapkan diri untuk pertarungan lain dan ingin sekali melompat, pada saat itu, Xie Lian menariknya kembali dan membujuknya lagi, “Jangan khawatir, kita tidak perlu menggunakan tinju kita untuk pertarungan yang lain.”

Di ujung yang lain, Hua Cheng memiringkan kepalanya, “Bagaimana? Gege, apakah kamu akhirnya mau mengakui kekalahanmu?”

Jika seseorang mau bertaruh, maka orang itu juga harus berani mengakui kekalahannya dengan jujur, tidak ada pilihan lain, jadi Xie Lian kemudian mengangguk, “Aku mengakuinya.”

Hua Cheng kemudian mengulurkan tangan kirinya dengan telapak tangannya yang terbuka, “Lalu, kalau begitu beri aku hadiah seperti yang kamu janjikan sebelumnya.”

…hadiah yang dia janjikan sebelumnya?

Setelah beberapa keraguan, Xie Lian akhirnya meraih ke dalam lengan kirinya dengan tangan kanannya, meraba-raba, dan kemudian mengeluarkan sebuah roti yang setengahnya sudah dimakan olehnya sebelumnya. Tidak bisa menatap mata Hua Cheng, dia menebalkan kulitnya dan kemudian mengulurkan tangannya dan memberikan roti itu kepadanya, “Maksudmu… ini… kan?”

Sejujurnya, ketika dia mengeluarkan roti ini, Xie Lian merasakan kulit tebal yang telah ditumbuhkannya selama delapan ratus tahun sedikit bergetar, tidak bisa menahan rasa malunya.

Baik hantu dan iblis yang masih berada di dalam aula tidak bisa berkata-kata dan hanya menatap kejadian itu dalam diam. Lupakan mengenai fakta bahwa ini adalah pertama kalinya sang raja bertaruh melawan seseorang dan ketika taruhan itu adalah mengenai sebuah roti yang bahkan telah setengah dimakan, mereka mengira itu adalah sebuah lelucon. Tetapi jika dipikirkan secara lebih serius lagi, tuan sebenarnya mengejar orang itu hanya untuk meminta roti miliknya. Terdiam. Benar-benar tidak ada yang bisa dikatakan lagi. Ada beberapa iblis yang bahkan memiliki pemikiran yang lebih masuk akal―entah itu apakah ada semacam rahasia besar yang tersembunyi di dalam roti itu atau orang ini sebenarnya adalah kakak laki-laki tuan meraka!

Namun Hua Cheng menyeringai ketika menerima roti itu, menatapnya dan kemudian melambaikannya di tangannya, “Aku sudah mengklaim hadiah ini.”

Melihat bahwa pada akhirnya dia benar-benar mengambilnya, Xie Lian tidak tahu harus berkata apa. Baru setelah satu menit terlewati dia menjawab, “Roti itu… dingin. Dan, mungkin, agak sedikit keras.”

Hua Cheng menjawab, “Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan.”

Karena dia menjawab seperti itu, Xie Lian tidak bisa berkata apa-apa untuk melanjutkan pembicaraan di antara mereka. Dia sudah mengatakan semua hal yang dia bisa, jadi dia kemudian berbalik dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Kerumunan yang berdiri paling dekat dengannya di dalam alura Rumah Judi itu seketika memberi jalan untuk Xie Lian ketika dia mulai berjalan pergi menuju pintu keluar. Ketika pertama kali dirinya berjalan maju untuk bertaruh dengan tuan mereka, mereka memberi jalan kepadanya karena mereka mengira bahwa dia adalah seorang pejuang pemberani. Sekarang, mereka memberi jalan untuknya dengan ketakutan dan kecurigaan yang menyelimuti diri mereka. Setelah berjalan beberapa langkah, dia bisa mendengar para iblis yang berada di belakangnya bertanya, “Tuanku! Tuanku, kemana kamu akan pergi sekarang?”

Hua Cheng dengan malas menjawab, “Aku sedang merasa baik hari ini. Aku akan menuju ke Manor Surga (Paradise Manor).”

Mendengar jawabannya, aula itu melontarkan sorak-sorai seolah-olah saat itu adalah Tahun Baru dan mereka sedang merayakannya. Xie Lian tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke belakang dan melihat bahwa Hua Cheng juga tengah menatapnya. Dengan roti setengah dimakan yang masih di tangannya, dia melemparkannya ringan dan dengan santai menggigitnya, menatap ke arah di mana Xie Lian pergi.

Xie Lian untuk sesaat menghentikan langkahnya ketika dia melihat adegan itu tepat di depan matanya. Tiba-tiba, untuk beberapa alasan, dia merasa bahwa dia seharusnya tidak tinggal di tempat itu lebih lama lagi, dan kemudian bergegas kembali mengambil langkahnya, meraih Lang Qian Qiu, dan berlari keluar.

Keduanya meninggalkan Rumah Judi itu dan berlari seperti orang gila untuk waktu yang lama, hampir menabrak berbagai warung makanan di sepanjang jalan. Tepat ketika mereka akhirnya tiba di sebuah gang kecil yang tenang, Shi Qing Xuan kemudian muncul dan kembali bergabung dengan mereka. Shi Qing Xuan mengipasi dirinya dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga membuatnya rambutnya terombang-ambing oleh angin, “Itu tadi hampir saja, begitu dekat. Ya Tuhan, itu membuatku takut sampai-sampai wajahku hampir berubah menjadi seputih hantu.”

Mungkin karena mereka berlari terlalu kencang, jantung Xie Lian juga berdetak dengan begitu kencang. Lang Qian Qiu berbicara, “Ya, Tuan Master Angin, aku pikir wajahmu masih tampak begitu sangat pucat sekarang.”

Shi Qing Xuan merasakan wajahnya dan kemudian tersenyum, “Begitukah? Hahahaha, ini bukan karena ketakutan yang aku alami; ini adalah sesuatu yang sudah aku miliki sejak lahir. Ahem. Qian Qiu, kamu sendiri juga seorang dewa bela diri, bagaimana mungkin kamu bisa begitu impulsif? Saat ini kita sedang berada di tengah-tengah wilayah hantu! Jika kamu berhasil ditangkap dan identitasmu terbuka, dan berita tentang para pejabat surgawi yang menyelinap memasuki Kota Hantu ini muncul, bagaimana caranya kita menjelaskan semua hal ini kepada Kaisar? Itu akan menghancurkan kedamaian di tiga alam.”

Lang Qian Qiu menundukkan kepalanya dan mengakui kesalahannya, “Maaf, aku benar-benar ceroboh memasuki tempat itu dengan begitu tergesa-gesa.” Kemudian dia mengangkat kepalanya, “Tapi para penjudi yang ada di sana itu gila. Jika pria itu membuka cangkirnya, entah apakah dia akan kalah atau menang, hasilnya tetap buruk. Entah putrinya akan menderita atau dia sendiri yang akan menderita konsekuensinya. Pada saat kemarahanku begitu memuncak aku menyadari bahwa aku sudah menghancurkan cangkir itu.”

Shi Qing Xuan menjawab, “Meski begitu, kamu seharusnya tidak menyerang tempat itu seorang diri begitu saja.”

Lang Qian Qiu tampak begitu terkejut, “Lalu Tuan Master Angin, apa yang seharusnya aku lakukan? Jika aku tidak masuk, tidak akan ada orang yang mau dan dengan sukarela menghentikan semua itu.”

Perkataannya begitu tulus sehingga Shi Qing Xuan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, dan kemudian mengetuk kipasnya dengan ringan ke pelipisnya, “Ya…”

Xie Lian tersenyum lembut, “Mari kita tinggalkan dan lupakan saja apa yang sudah terjadi.”

Lang Qian Qiu menatapnya. Xie Lian kemudian melanjutkan, “Aku pikir bahkan jika Yang Mulia Tai Hua ditangkap dan diinterogasi, dia masih tidak akan mengungkapkan identitasnya. Tetapi, untuk mencegah orang lain menemukan petunjuk apa pun dari kata-katamu, akan lebih baik bagi Yang Mulia untuk tetap berhati-hati dan menghindari melakukan sesuatu seorang diri seperti sebelumnya.”

Lang Qian Qiu mengangguk, “Baik, aku mengerti.”

Shi Qing Xuan, “Baiklah, jangan bicarakan ini lagi. Oh benar, Yang Mulia…”

Mendengar Master Angin memanggil dengan sebutan ‘Yang Mulia’, keduanya baik Xie Lian dan Lang Qian Qiu berbalik pada saat yang sama, dan Shi Qing Xuan kembali berkata dan mengklarifikasi, “Oh, maksudku yang lebih tua.”

“…”

Xie Lian berpikir dengan sedih, ‘Lebih tua… memang benar bahwa aku sedikit lebih tua, tetapi bahkan tidak setua itu. Mengapa ketika setiap saat semua itu selalu ditujukan kepadaku, penyebutan itu selalu terdengar seperti mereka menujukkannya kepada seorang kakek?’

Shi Qing Xuan kemudian melanjutkan, “Yang Mulia, apakah kalian berdua sudah pernah bertemu satu sama lain di Aula Bela Diri Besar sebelumnya? Jika belum, izinkan aku memperkenalkan kalian. Ini adalah Putra Mahkota Yong An, Lang Qian Qiu, Dewa Bela diri dari Timur. Dan ini adalah Putra Mahkota Xian Le, Xie Lian, pejabat surgawi yang me―sangat dihormati oleh Kaisar Surgawi.”

Meskipun Shi Qing Xuan menghentikan kata-kata itu dengan kesadarannya sendiri dan tidak melanjutkannya, Xie Lian tahu persis apa yang hendak dikatakannya setelah itu, apa lagi yang mungkin dikatakannya selain ‘mengumpulkan sampah’! Karena kata-kata itu dengan tiba-tiba tidak dilanjutkan dan berhenti di tengah kalimat dan bahkan diganti dengan kata-kata lain dengan begitu cepat, tidak ada waktu untuk menyesuaikan tata bahasa maupun pengucapannya ketika Master Angin mengucapkannya. Lang Qian Qiu memandang ke arah Xie Lian, bertanya padanya dengan pandangan heran, “Jadi kamu adalah pangeran yang naik tiga kali?”

Tampaknya Lang Qian Qiu benar-benar tidur sepanjang waktu selama rapat di dalam Aula Bela Diri Besar sebelumnya dan bahkan tidak ingat siapa dirinya. Jika dia adalah orang lain dan mengatakan hal yang sama kepada Xie Lian, maka dengan pasti, kata-katanya itu akan terdengar begitu sarkastik. Tapi, karena pertanyaan itu datang dari mulut Lang Qian Qiu sendiri, Xie Lian dengan sepenuh hati percaya bahwa anak ini benar-benar berpikir bahwa kenaikannya yang berjumlah tiga kali adalah suatu kejadian yang jarang terjadi. Matanya tampak berbinar, “Ya, itu aku.”

Lang Qian Qiu menjawab, “Kejadian yang tadi itu, terima kasih sudah membantuku! Kalau tidak…” Dia tiba-tiba teringat sesuatu dan buru-buru mengencangkan ikat pinggangnya, rasa takut masih melekat pada ekspresinya. Dia dengan jelas tidak terlalu memikirkan mengenai sejarah apa yang sudah terjadi pada masa lalu antara kerajaan Xian Le dan kerajaan Yong An, dan kemudian menoleh ke arah Xie Lian, “Yang Mulia, aku berpikir bahwa Hujan Darah Mencapai Bunga mengenalmu? Kenapa dia bertindak seolah-olah dia tidak mengenalmu di sana?”

Lang Qian Qiu selesai mengencangkan ikat pinggangnya kembali dan melanjutkan, “Dia adalah Hujan Darah Mencapai Bunga yang asli, kan? Apakah itu adalah wujud aslinya?”

Xie Lian bahkan tidak punya waktu untuk membuka mulutnya dan Shi Qing Xuan sudah berbicara mendahuluinya, “Bagaimana mungkin itu adalah wujud aslinya? Hua Cheng memiliki ribuan penyamaran, siapa yang tahu seperti apa wujud aslinya? Terakhir kali ketika aku pergi ke BanYue Pass dan bertemu dengannya, penampilannya saat itu terlihat begitu mirip dengan penampilannya hari ini, tapi mungkin itu adalah penyamarannya yang lain. Itu palsu, semuanya palsu.”

Namun Xie Lian mampu mengingatnya dengan jelas bahwa Hua Cheng telah memberitahunya, “Lain kali saat kita bertemu, aku akan menyapamu dalam wujud asliku.” malam itu di dalam Kuil Pu Qi. Dia berpikir, “Itu asli, itu adalah wujud aslinya.”

Tapi tentu saja, dia tidak mengatakannya dengan lantang. Semua orang begitu yakin bahwa Hua Cheng pasti menggunakan kulit palsu dan dia menjadi satu-satunya yang tahu bahwa itu adalah wujud asli dari Hujan Darah Mencapai Bunga seperti mempelajari rahasia kecil yang luar biasa. Dia kemudian melanjutkan pemikiran itu, ‘Melihat penampilan San Lang, dia benar-benar tidak terlihat jauh berbeda dari sebelumnya, hanya sedikit lebih tua dan lebih tinggi. Itu berarti secara teknis, dia cukup mirip dengan wujud aslinya saat pertama kali aku bertemu dengannya.’ Anehnya, Xie Lian merasa sedikit senang.

Shi Qing Xuan menambahkan dari sebelahnya, “Orang-orang mengatakan bahwa Hua Cheng memiliki karakter yang aneh, dan sepertinya itulah masalahnya. Sudah tampak begitu jelas bahwa dia bersikap begitu baik padamu, namun dia berpura-pura tidak mengenalmu. Siapa yang tahu apa yang akan dia lakukan. Mungkinkah dia berniat untuk menangkap kita saat kita sedang lengah?”

Xie Lian tersedak. Tampaknya siapa pun bisa melihat bahwa Hua Cheng bersikap begitu mudah dan begitu baik padanya di Rumah Judi sebelumnya. “Dia membuatnya mudah.” adalah apa yang dikatakan oleh semua orang, tapi sungguh, Hua Cheng benar-benar hanya membiarkannya menang begitu saja. Lang Qian Qiu adalah satu-satunya orang yang tidak bisa melihatnya dan mengerutkan kening, “Apakah dia membuatnya mudah? Kenapa?”

Dua perjabat surgawi lainnya kemudian menepuk pundak Lan Qian Qiu dan memutuskan bahwa yang terbaik adalah untuk tidak menjelaskan semuanya kepadanya. Mereka meninggalkan Lang Qian Qiu yang saat itu masih berdiri sendirian, bertanya-tanya mengapa Hua Cheng melepaskan dan membiarkan Xie Lian memenangkan taruhan itu dengan begitu mudah dan apakah keduanya saling kenal. Xie Lian dan Shi Qing Xuan kemudian berbalik dan mulai berjalan.

“Sepertinya identitas kita semua telah diketahui, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Xie Lian berkata, “Mengubah penyamaran kita dan mencobanya lagi? Secara pribadi, aku tidak berpikir bahwa melakukan semua itu akan mampu mengubah apa pun. Dengan adanya Yang Mulia Dewa Bela Diri Tai Hua di sana, Kota Hantu mungkin akan memperkuat keamanan mereka.”

Shi Qing Xuan menjawab, “Sejujurnya, aku telah mempertimbangkan kemungkinan bahwa identitas kita akan diketahui, tapi aku tidak pernah berpikir semua itu akan terjadi secepat ini.”

Xie Lian menghela napas, “Aku tahu, aku tahu.”

“Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi,” kata Shi Qing Xuan. “Karena penyamaran kita sudah diketahui, kamu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu berjalan dengan percaya diri dan melakukan semua hal ini secara terbuka.”

Xie Lian mungkin bisa menebak apa dimaksud dengan “secara terbuka”. Seperti yang diharapkan, Shi Qing Xuan menjelaskan, “Jika kita masih ingin terus berbohong, maka kamulah satu-satunya orang yang bisa melakukannya―cari Hua Cheng dan katakan padanya bahwa kamu datang ke sini khusus untuk melihatnya dan bertemu dengannya. Dia tahu bahwa kamu adalah seorang pejabat surgawi, bukan? Jika demikian, maka cukup untuk bisa dipercaya jika kamu mengatakan bahwa kamu telah membawa beberapa teman dari surga bersamamu.”

Sebelum Xie Lian bisa menjawab, Lang Qian Qiu yang telah mendengar saran itu segera berteriak, “Tidak!”

Shi Qing Xuan menatapnya, “Kenapa tidak?”

Lang Qian Qiu kembali menjawab dengan nada serius, “Pangeran Xian Le, apakah kamu benar-benar mengenal Hujan Darah Mencapai Bunga? Aku mendengar percakapan kalian berdua sebelumnya, sepertinya kalian berdua adalah teman.”

Xie Lian mengangguk.

“Kalau begitu tentu saja rencana ini sama sekali tidak pantas!” kata Lang Qian Qiu. “Meskipun Raja Iblis sama sekali bukanlah orang suci, tetapi fakta bahwa dia bersikap lunak dan begitu baik padamu pasti berarti dia melihatmu sebagai teman. Jika demikian, maka seorang teman tidak boleh berbohong kepada temannya.”

Shi Qing Xuan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Lang Qian Qiu bisa merasakan sakit kepala kembali menyerangnya, “Ya Tuhan, Qian Qiu, kamu tolol!”

Namun Xie Lian hanya tertawa dan mengangguk, “Apa yang sudah dikatakan oleh Yang Mulia Tai Hua benar.”

Lang Qian Qiu tampak berseri-seri mendengarnya, “Kamu juga setuju denganku, ‘kan?”

Shi Qing Xuan, “Bagaimana bisa benar? Kita ini adalah tiga pejabat surgawi. Jika kita melaporkan kembali mengenai kasus ini kepada Kaisar Surgawi dengan tangan kosong, orang-orang akan mengatakan bahwa tingkat keberhasilan kita bahkan jauh lebih rendah daripada Istana Ling Wen, dan semua itu akan sangat memalukan.”

Xie Lian tersenyum dan tepat ketika dia akan berbicara, terdengar sebuah suara teriakan dan lolongan yang datang dari arah belakang mereka dan dengan seketika membuat mereka berbalik. Tepat di luar gang, sekelompok iblis dan hantu berlari melewati gang itu, sambil berteriak, “Di mana bocah dengan wajah yang diperban itu? Di mana dia?”

Melihat dua dewa lainnya yang seperti baru saja mendapatkan sebuah peringatan buruk, Xie Lian meyakinkan, “Jangan khawatir, mereka bukan mengejar kita.”

Tepat ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, telinga mereka kembali ditusuk oleh teriakan yang begitu memekakkan telinga.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments