Penerjemah: Jeffery Liu, naza_ye


Kata-kata yang keluar dari mulut Hua Cheng sangat merendahkan dan tidak sopan. Tetapi pada saat dia berbicara, pria yang dipermasalahkan itu sama sekali tidak peduli pada ejekan-ejekan yang terus dikatakan kepadanya, dan tidak berani melawan. Petugas yang membawa Xie Lian ke meja panjang itu tersenyum, “Tuan muda, kamu sangat beruntung hari ini.”

Xie Lian tidak pernah mengalihkan pandangannya dari meja panjang itu dan kemudian berkata, “Bagaimana bisa begitu?”

“Tuan kita ada di sini untuk bermain,” jawab petugas itu, “Dalam beberapa hari terakhir ini dia sepertinya sedang ingin datang dan mampir ke tempat ini, jadi bukankah itu sebuah keberuntungan?”

Dengan nada suaranya, Xie Lian bisa mengatakan bahwa pelayan itu sangat menghormati ‘Tuan’nya itu dan sangat mengidolakannya, seolah-olah hanya melihat sosoknya adalah kehormatan terbesar. Xie Lian tidak bisa menahan senyumnya.

Tirai layar itu tampak begitu ringan dan dengan mudah berkibar, siluet merah yang berada di balik tirai itu terlihat sangat menawan. Di depan tirai merah itu ada beberapa wanita menawan yang menghadap ke arah meja judi, menyusun gambaran glamor dan sensualitas. Pada awalnya Xie Lian merasa puas hanya dengan menonton dari belakang tempatnya berada sekarang, tetapi begitu dia mendengar suara Hua Cheng, dia mulai berusaha mendorong dirinya sendiri melalui kerumunan di sana tanpa menarik perhatian bahwa dia tengah berada di tempat itu. Akhirnya, dia berhasil sampai ke meja panjang itu dan melihat pria yang saat itu tengah berjudi.

Pria itu adalah seorang manusia. Xie Lian tidak terkejut, karena sudah diketahui bahwa di dalam Kota Hantu, tidak hanya ada hantu; ada banyak juga kultivator dengan keterampilan yang cukup tinggi dan kadang-kadang, ada beberapa manusia biasa yang mencari kematian mereka sendiri. Laki-laki yang tengah berjudi itu mengenakan sebuah topeng, tetapi kedua matanya masih terlihat, tampak menonjol dan berwarna merah seolah-olah kedua matanya berdarah; bibirnya pucat seolah dia belum melihat matahari selama berhari-hari. Dia adalah gambaran yang benar-benar mirip sesosok hantu lebih dari hantu sebenarnya yang hadir di tempat itu.

Kedua tangannya menekan erat sebuah cangkir dadu kayu hitam di atas meja, dan setelah menahan diri sejenak, dia berteriak, tampak menyerah pada segalanya, “Tapi… bagaimana mungkin bahkan orang yang sebelumnya bisa mempertaruhkan kedua kakinya?”

Salah satu petugas bandar judi yang berada di depan tirai merah itu tersenyum, “Orang yang sebelumnya dulunya adalah seorang bandit terkenal yang dikenal karena gerakan kakinya yang ringan dan kemampuan untuk terbang ke mana pun dia pergi. Itu adalah hidupnya, jadi kakinya layak sebagai taruhan. Kamu bukanlah pengrajin atau tenaga medis; apa gunanya mempertaruhkan lenganmu itu?”

Pria itu menggertakkan giginya, “Kalau begitu… aku bertaruh hidup anak perempuanku satu-satunya senilai sepuluh tahun!”

Xie Lian terpana mendengar kata-kata itu dan berpikir, ‘Di mana ada seorang ayah yang berani mempertaruhkan kehidupan anak-anaknya sendiri? Apakah itu mungkin?’

Di balik tirai, Hua Cheng hanya mendengus, “Baiklah.”

Dari tanggapan itu, Xie Lian tidak tahu apakah hanya imajinasinya, tetapi dia bisa merasakan kedinginan dari kata-kata itu. Tetapi kemudian dia menambahkan dan berpikir dalam hatinya, ‘San Lang selalu mengatakan bahwa keberuntungannya baik, dan semua stik keberuntungannya memberikan hasil yang terbaik dari keberuntungan apa pun. Jika dia bertaruh dengan pria itu, bukankah dia pasti akan menang dan mengambil sepuluh tahun kehidupan dari anak perempuan pria itu?’

Dia hanya memiliki pikiran-pikiran itu ketika bandar judi itu mengumumkan dengan nada manis, “Genap akan kalah; ganjil akan menang. Setelah cangkir dibuka, tidak akan ada jalan kembali. Sekarang silakan.”

Jadi Hua Cheng sendiri tidak akan bertaruh di meja judi itu. Pria itu mengguncang cangkir judi dengan sembarangan, kedua tangannya menggenggam cangkir itu dengan keras, dan aula itu menjadi tenang. Suara-suara dadu yang berderak bisa terdengar nyaring dan renyah. Kemudian, gerakannya melambat hingga berhenti. Keheningan menyelubungi tempat itu.

Setelah beberapa saat, pria itu dengan gerakan yang pelan―sangat pelan―mengangkat sudut cangkir judi itu dan mengintip melalui celah di sana. Mata merahnya tiba-tiba melebar.

Dia membuka cangkir dan berteriak kegirangan, “GANJIL! GANJIL! GANJIL!! AKU MENANG! AKU MENANG! HAHAHAHHAHAHAHAH AKU MENANG!!! AKU MENANG!!!!!”

Itu bukan hasil yang ingin dilihat oleh kerumunan manusia dan hantu di sekitar meja panjang itu dan mereka mulai mengejek pria itu, menampar meja, dan meneriakkan ketidakpuasan mereka. Salah satu bandar judi tersenyum dan berkata, “Selamat. Nasib bisnismu akan segera berubah.”

Pria itu tertawa terbahak-bahak dan berteriak, “Tunggu! Aku ingin bertaruh lagi!”

Bandar judi itu tersenyum, “Silakan. Apa yang kamu inginkan kali ini?”

Wajah pria itu menunduk, dan berkata, “Aku ingin, aku ingin semua orang yang bersaing denganku dalam bisnisku mati!”

Kerumunan orang-orang yang berkumpul di sana mulai bergumam dan mendecakkan lidah mereka..Bandar judi itu kemudian mengangkat tangannya untuk menutupi senyumnya, “Jika itu adalah keinginanmu maka itu jauh lebih sulit untuk dipenuhi daripada keinginanmu sebelumnya. Tidakkah kamu ingin meminta keinginan yang lain seperti meminta bisnis yang kamu miliki berkembang?”

Namun pria itu menjawab dengan mata merah, “Tidak! Aku hanya menginginkan itu! Untuk itulah aku bertaruh!”

“Kalau begitu, jika itu keinginanmu, sepuluh tahun kehidupan putrimu mungkin tidak cukup.” kata Bandar itu lagi.

“Jika itu tidak cukup, aku akan bertaruh dua puluh tahun hidupnya! Dan… Dan yang lebih utama lagi adalah nasib pernikahannya!”

Kerumunan di sana tampak tertegun dan tertawa terbahak-bahak, “Ayah itu sudah kehilangan akalnya! Dia menjual putrinya!!”

“Luar biasa, luar biasa!!”

Bandar judi kemudian berkata sekali lagi, “Genap akan kalah, ganjil akan menang. Setelah cangkir dibuka, tidak akan ada jalan kembali. Sekarang silakan.”

Pria itu mengambil cangkir judi itu sekali lagi, tangannya gemetar. Jika dia kalah, maka putrinya akan kehilangan dua puluh tahun hidupnya dan pernikahannya yang baik, jelas tidak ideal; tetapi jika dia menang, maka semua pesaingnya akan mati? Meskipun Xie Lian berpikir Hua Cheng tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi, setelah banyak keraguan, dia masih melangkah maju. Dia hanya berpikir apakah jika dia harus bergabung menggunakan beberapa trik kecil ketika tiba-tiba, seseorang meraihnya. Dia menoleh untuk melihat siapakah orang itu dan dia menemukan bahwa itu adalah Shi Qing Xuan.

Shi Qing Xuan telah kembali ke bentuk prianya, dan berbisik, “Jangan terburu-buru.”

Xie Lian balas berbisik, “Tuan Master Angin, mengapa kamu mengubah wujudmu kembali?”

“Ceritanya panjang,” Shi Qing Xuan menghela napas, “Kelompok hantu perempuan itu menyeretku berkeliling dan mengatakan bahwa mereka akan memperkenalkan aku ke salon kecantikan yang bagus. Aku akhirnya melarikan diri tetapi mereka kemudian kembali menangkapku lagi, jadi aku harus berubah kembali. Mereka menyeretku ke tempat yang mengolesi wajahku dengan begitu banyak hal yang aku tidak tahu apa; lalu menariknya, meregangkannya, menamparnya, memukulnya―cepat, periksa wajahku! Bagaimana? Apakah kamu melihat ada sesuatu yang salah dengan wajahku?”

Dia mendorong wajahnya tepat di depan Xie Lian untuk diperiksa, dan Xie Lian dengan patuh memeriksa wajahnya dengan detail sebelum menjawab dengan jujur, “Aku pikir wajahmu terlihat lebih halus dan lebih putih dari sebelumnya.”

Shi Qing Xuan segera mengubah ekspresinya menjadi lebih cerah, “Benarkah? Oh baguslah! Bagus sekali! Hahahaha! Apakah ada cermin? Di mana cerminnya? Aku ingin melihatnya sendiri!”

“Kamu bisa melihatnya nanti,” kata Xie Lian, “Kota Hantu menghalangi komunikasi spiritual kita, jadi jangan sampai kita kehilangan satu sama lain lagi dan terpisah. Omong-omong, bagaimana kamu tahu aku ada di sini, Tuan Master Angin?”

“Aku tidak tahu!” jawab Shi Qing Xuan, “Aku datang ke sini karena Qian Qiu dan aku sudah sepakat untuk bertemu di sini. Ketika kita kehilangan satu sama lain sebelumnya, aku memutuskan untuk datang ke sini, tapi begitu aku masuk, ternyata kamu juga ada di sini!”

“Qian Qiu?” Xie Lian bertanya, “Bertemu di sini?”

“Ya.” Shi Qing Xuan menjawab, “Qian Qiu adalah Lang Qian Qiu, Yang Mulia Tai Hua. Setidaknya kamu tahu hal itu, bukan? Dia adalah dewa bela diri yang menguasai wilayah timur. Karena kita di sini, lebih baik jika dia juga datang. Rumah Judi adalah salah satu tempat paling ramai dan paling kacau di Kota Hantu. Bagian tenggara dari Kota Hantu. Banyak orang maupun hantu yang terus masuk dan keluar dari tempat ini, membuatnya tidak terlalu mencolok bagi kita, jadi aku menyuruhnya untuk menemui kita di sini.”

Xie Lian mengangguk. Ketika dia berbalik kembali ke arah meja panjang sebelumnya, pria itu masih belum membuka cangkir; matanya berputar kembali dan dia bergumam, tidak banyak hantu yang berada di sana. Xie Lian menghela napas, “Pria itu…”

Shi Qing Xuan berkata saat dia mengangkat wajahnya, “Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, dan aku setuju. Tapi, Kota Hantu adalah wilayah Hua Cheng, dan peraturan di sini semuanya harus ditaati dengan sukarela. Jika kamu berani bertaruh maka kamu bisa bermain. Surga tidak bisa berbuat apa-apa. Mari kita amati saja, dan kita bisa menemukan sesuatu jika ada yang tidak beres.”

Xie Lian bergumam, berpikir tidak mungkin jika San Lang membiarkan apa pun lepas kendali, jadi memang lebih baik hanya mengamati. Lelaki penjudi itu akhirnya tampak mengumpulkan cukup keberanian dan hanya membuka sedikit cangkir judi itu dan mengintip untuk mengungkapkan hasilnya. Saat itu, seseorang tampak memasuki tempat itu, menutup kembali cangkir judi di sana dengan sebuah pukulan, dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping!

Pukulannya itu tidak hanya menghancurkan cangkir judi di sana, tetapi juga tangan yang ada di atasnya, dan seluruh meja hancur dan pecah dengan sebuah lubang yang dalam dan besar.

Pria bertopeng itu memeluk tangannya yang hancur dan berguling-guling di lantai sambil berteriak. Kerumunan hantu juga mulai berteriak, beberapa mulai bersorak, dan beberapa menjerit kaget. Orang yang menyerang tempat itu kemudian berteriak, “Kamu! Betapa jahatnya hatimu! Jika kamu menginginkan kemakmuran dan kekayaan, itu tidak masalah, tetapi apakah kamu ingin orang lain mati? Jika kamu ingin bertaruh maka lakukanlah dengan mempertaruhkan hidupmu sendiri, dan bukan kehidupan dan pernikahan putrimu! Kamu tidak pantas untuk menjadi seorang pria! Tidak pantas menjadi seorang ayah!”

Pria muda itu memiliki alis berbentuk seperti pedang dan mata seperti bintang, penuh dengan aura kepahlawanan. Meskipun pakaiannya tampak begitu sederhana dan sama sekali tidak menunjukkan kemewahan sedikit pun, udara kebangsawan yang dia miliki tidak bisa disembunyikan. Pria muda itu tidak lain adalah Putra Mahkota Yong An, Lang Qian Qiu.

Melihatnya, Xie Lian dan Shi Qing Xuan keduanya menutupi wajah mereka sendiri pada saat yang sama di dalam kerumunan itu.

Xie Lian mengerang, “…Tuan Master Angin, apakah kamu… tidak memberitahunya… untuk sedikit lebih berhati-hati ketika datang ke sini, dan menjaga agar tidak menarik perhatian…”

Shi Qing Xuan balas merengek, “…Aku… aku sudah memberitahunya, tapi… dia selalu seperti itu… apa yang bisa aku lakukan… jika aku sudah tahu sesuatu seperti ini akan terjadi sebelumnya… aku akan merencanakan kita untuk turun bersama sebelumnya…”

Xie Lian tampak bersimpati, “Aku mengerti… Aku mengerti…”

Saat itu, Hua Cheng tertawa kecil dari balik tirai.

Jantung Xie Lian berdetak kencang.

Bocah itu sering tertawa ketika dia bersama Xie Lian sebelumnya, jadi sekarang Xie Lian bisa mengetahui apakah tawa itu benar-benar berarti kebahagiaan, ejekan, atau sebuah tawa yang bercampur dengan niat membunuh.

Sebuah suara kemudian terdengar dengan nada malas, “Kamu sepertinya punya nyali baja untuk memulai masalah di wilayahku.”

Lang Qian Qiu berbalik untuk menghadap ke arah suara itu, api di matanya masih tetap menyala, “Apakah kamu pemilik Rumah Judi ini?”

Kerumunan yang berkumpul di sana mulai mencemooh, “Bajingan bodoh, apakah kamu tahu siapa yang kamu ajak bicara? Ini adalah tuan kami.”

Beberapa orang yang ada di dalam kerumunan itu mulai mencibir dengan nada dingin, “Dia bukan hanya pemilik Rumah Judi ini, seluruh wilayah Kota Hantu adalah miliknya!”

Lang Qian Qiu nyaris tidak menunjukkan reaksi apa pun, tetapi Shi Qing Xuan, di sisi lain, benar-benar terkejut, “Ya Tuhan, apakah seseorang yang ada di balik tirai itu adalah seseorang yang sedang aku pikirkan?”

Xie Lian menjawab, “Ya… itu adalah dia.”

Shi Qing Xuan bertanya lagi, “Apakah kamu yakin?”

Xie Lian menjawab, “Aku yakin.”

Shi Qing Xuan tampak panik, “Kita pasti mati, kita akan mati. Apa yang harus kita lakukan tentang Qian Qiu sekarang?!”

Xie Lian berkata setelah beberapa saat, “…Semoga saja dia tidak menunjukkan identitas aslinya…”

Namun, semakin Lang Qian Qiu melihat ke arah kerumunan yang berada di sekelilingnya, dia tampak menjadi semakin marah, dan dia kemudian menuntut, “Tempat neraka ini bau asap dan korupsi, dan penuh dengan kekacauan iblis. Jenis sampah macam apa kamu ini? Menurutmu, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Menjalankan tempat seperti ini, kalian benar-benar tidak memiliki jejak kemanusiaan dalam diri kalian.”

Kerumunan di sana mencemooh apa yang telah dikatakan oleh Lang Qian Qiu secara serentak, “Kami bukan manusia, untuk apa kami butuh sesuatu seperti perasaan kemanusiaan itu? Gagasan tak berguna semacam itu, siapa pun yang menginginkannya bisa mengambilnya!”

“Kamu pikir kamu siapa, datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menyalahkan kami semua!”

Hua Cheng berkata dengan geli, “Tempatku ini adalah tempat yang dipenuhi dengan begitu banyak kegilaan. Ada jalan bagimu di Surga, tetapi kamu menolak untuk mengambilnya dan sebaliknya, memilih untuk menerobos ke Neraka. Apa yang harus kami lakukan denganmu sekarang?”

Setelah mendengar kata ‘surga’, Xie Lian dan Shi Qing Xuan segera tahu dan menyadarinya.

Hua Cheng sudah mengetahui siapa sebenarnya Lang Qian Qiu dan tahu persis dari mana dia berasal.

Namun, Lang Qian Qiu benar-benar tidak menyadari makna di balik kata-katanya dan dia kemudian membanting tangannya ke atas meja sekali lagi. Dia berdiri di ujung meja panjang itu, dan dengan sekali serangan itu, dia membuat seluruh bagian dari meja panjang itu dengan seketika terbang menuju bayangan merah yang berada di balik tirai. Mereka yang pada awalnya berkumpul dan masih berkerumun di sekitar meja panjang itu kemudian menghindar ke samping. Namun, siluet merah yang masih tampak duduk di belakang tirai itu sama sekali tidak bergerak. Dengan hanya lambaian tangannya, meja panjang itu terlempar kembali ke arah yang berlawanan, menuju ke arah Lang Qian Qiu.

Melihat benda terbang yang menuju ke arahnya, Lang Qian Qiu menggunakan satu tangannya untuk mendorongnya kembali tetapi kemudian menyadari bahwa dengan hanya menggunakan satu tangan tidaklah cukup dan beralih menggunakan kedua tangannya. Detik-detik yang mencekam itu berlalu dan sebuah pembuluh darah kebiruan secara bertahap muncul di dahinya. Aula yang sebelumnya tampak ramai dan dipenuhi dengan berbagai kerumunan baik hantu maupun manusia, kini setelah adanya kejadian tersebut mereka semua melarikan diri dan mencari tempat persembunyian yang cocok untuk mereka bersembunyi. Xie Lian dan Shi Qing Xuan yang sama sekali belum menunjukkan diri mereka tampak tengah berdebat mengenai apakah mereka harus turun tangan untuk membantu Lang Qian Qiu atau biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena mereka sama sekali belum terekspos, mereka bisa terus membantu dalam kegelapan, tetapi jika mereka berjalan keluar dari tempat mereka berada sekarang dan secara terbuka membantunya, maka mereka akan berisiko tertangkap bersama-sama.

Di sisi lain, Lang Qian Qiu tampak menghela napas dengan keras dan akhirnya mendorong kembali meja panjang dan berat itu untuk kedua kalinya. Di balik tirai merah itu, sosok Hua Cheng masih bersandar di kursinya. Dia melengkungkan lima jarinya menjadi kepalan tangan dan kemudian melepaskannya dengan ringan. Dengan seketika, meja panjang yang terdorong kembali ke arahnya kini meledak menjadi serbuk kayu dan terbang menuju Lang Qian Qiu.

Kekuatan hembusan yang disebabkan oleh ledakan yang dilakukan oleh Hua Cheng itu dipenuhi dengan serpihan-serpihan kayu setajam pisau, tampak lebih menakutkan daripada senjata apa pun. Jika Lang Qian Qiu tetap menyembunyikan kekuatannya dan tetap dalam bentuk fananya, dia tidak akan bisa menghindari serangan itu tidak peduli apa pun yang dia lakukan. Jadi, beberapa saat setelah itu, ketika tubuhnya mulai memancarkan sebuah cahaya redup, Xie Lian dan Shi Qing Xuan langsung mengerti bahwa sesuatu akan terjadi dan keduanya tampak panik, “Oh tidak, dia akan mengungkapkan wujud aslinya!”

Tapi lapisan cahaya itu secara tiba-tiba menghilang begitu muncul. Lang Qian Qiu mungkin ingat bahwa dia tidak seharusnya mengungkapkan identitasnya selama perjalanan ini dan dia berhasil membuat dirinya menyadari tujuan itu di detik terakhir sebelum dengan cepat menarik kembali kekuatannya. Meskipun Lang Qian Qiu telah mengambil langkah mundur, Hua Cheng di sisi lain, tidak melakukannya. Sosok yang berbalut warna merah tua yang tampak duduk santai di belakang tirai merah itu membuat sebuah gerakan tangan lainnya. Kali ini, dia menekankan jari-jarinya dan dengan ringan menjentikkannya ke atas.

Dengan satu gerakan itu, tubuh Lang Qian Qiu terangkat dari tanah. Tampak seperti bintang laut, tubuhnya tergantung di langit-langit aula Rumah Judi itu.

Tidak menyadari apa yang baru saja terjadi, Lang Qian Qiu masih sangat bingung tentang bagaimana dia tiba-tiba mulai melayang dan berjuang untuk membebaskan diri. Xie Lian menghela napas kalah, “Sekarang kekuatannya telah disegel, bahkan jika dia ingin menggunakannya, itu tidak mungkin.”

Shi Qing Xuan setuju, “Karena Kota Hantu adalah wilayah Hua Cheng, Jika dia ingin menyegel kekuatannya, maka dia bisa dengan mudah melakukannya.”

Meskipun Lang Qian Qiu telah melakukan sebuah serangan di depan kerumunan sebelumnya, setidaknya ada pahala yang bisa diperoleh dari perbuatannya itu, yang merupakan sebuah fakta bahwa identitasnya akan dilindungi. Jika dia melanjutkan perkelahian saat itu dan melepaskan kekuatannya, akan sulit untuk menjelaskan mengapa Tai Hua ZhenJun, dewa bela diri wilayah Timur, datang ke Kota Hantu untuk melampiaskan sebuah malapetaka di sana. Lagi pula, selama bertahun-tahun ini, kecuali itu adalah sesuatu yang luar biasa, Surga dan Neraka keduanya memikirkan bisnis dan urusan mereka masing-masing.

Melihat bahwa kini tamu tak diundang yang sebelumnya menerobos dan menyerang Rumah Judi itu kini telah berhasil ditahan, kerumunan yang melarikan diri sebelumnya kini tampak telah kembali dan berkumpul di aula itu lagi. Mereka menunjuk ke arah Lang Qian Qiu yang kini telah ditahan di sana dan kemudian mereka tertawa. Lang Qian Qiu sendiri sama sekali belum pernah mengalami penghinaan semacam ini sebelumnya, dan wajahnya tampak memerah ketika dia tanpa kata-kata berjuang melawan ikatan tidak terlihat yang menahannya. Dari waktu ke waktu, iblis dari bawah akan melompat, berusaha untuk menepuk kepalanya. Untungnya, Hua Cheng menggantungnya cukup tinggi, jauh dari jangkauan siapa pun, atau dia akan menjadi sosok yang paling memalukan di abad ini. Hua Cheng terkekeh dari balik tirai, “Tangkapan yang menarik hari ini, aku akan membiarkan kalian bermain dengannya. Siapa pun yang beruntung dan mendapat kemenangan besar bisa membawanya pulang untuk dipanggang.”

Sorak-sorai yang meletus tidak ada habisnya di dalam aula itu, “Taruhan pada putaran! Mari bertaruh pada putaran! Putaran tertinggi bisa membawanya pulang untuk dipanggang!”

“Aiyaya, gege kecil ini terlihat sangat lezat, hehehehe….”

“Hahahahahaha, siapa yang bodoh sekarang! Itu akan mengajarimu karena sudah dengan begitu berani membuat masalah di sini!”

Keempat penjaga bertopeng tampak membawa sebuah meja panjang baru dan kerumunan sebelumnya tampak berbondong-bondong ke tempat itu sekali lagi untuk memulai ronde taruhan berikutnya. Pria bertopeng yang sebelumnya memegangi tangannya dan melolong di tanah sudah lama dilupakan. Taruhan kali ini tidak lain adalah Lang Qiang Qiu yang sedang ditahan di udara. Melihat orang di ujung sana tampak gusar, Shi Qing Xuan merasa cemas dan terus berjalan mondar-mandir, melambaikan tangannya tanpa tujuan, “Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita naik dan memenangkannya kembali? Atau lebih baik bertarung saja?”

Xie Lian bertanya, “Tuan Master Angin, bagaimana keberuntunganmu?”

Shi Qing Xuan menjawab, “Kadang-kadang baik, kadang-kadang buruk. Tidak ada kepastian dalam sesuatu seperti ‘keberuntungan’.”

Xie Lian berkata, “Mungkin ada. Misalnya, lihat aku, aku tidak pernah beruntung.”

Shi Qing Xuan menganga, “Apakah itu buruk?”

Xie Lian mengangguk dengan muram, “Setiap kali aku memutar taruhan itu, yang paling sering aku dapatkan adalah mata ular.”

Shi Qing Xuan mengernyitkan alisnya, tetapi sebuah ide datang padanya dalam sekejap dan dia kemudian menampar pahanya, “Bagaimana dengan ini: karena yang paling bisa kamu dapatkan adalah mata ular, maka kamu harus bertaruh pada angka terendah. Tidak mungkin ada orang yang bisa memutarnya lebih rendah darimu.”

Setelah beberapa saat mempertimbangkan rencana itu, Xie Lian setuju, “Kamu punya poin bagus. Biarkan aku mencoba.”

Jadi, setelah itu dia kemudian menemukan sebuah tempat yang berada di dekat meja dan melemparkan sebuah saran, “Mengapa tidak mengubah aturannya sedikit dan melihat siapa yang bisa memutarnya dengan nilai yang terkecil? Siapa pun yang berhasil memutar dengan nilai terendah adalah pemenangnya, bagaimana dengan itu?”

Kerumunan di sekitar meja tampak begitu kacau, beberapa tampak setuju, dan beberapa lagi tampak tidak setuju. Xie Lian memutuskan untuk mengambil dua buah dadu dan mencobanya terlebih dahulu.

Sebelum dia memutarnya, dia melantunkan sebuah doa dalam hatinya, “kecil, kecil, kecil.” Dadu dilemparkan, dan keduanya membungkuk untuk melihatnya.

Dua angka enam!

Xie Lian: “…”

Shi Qing Xuan: “…”

Xie Lian menggosok dahinya dengan sebuah kekalahan, “Sepertinya bahkan dengan melakukan perubahan aturan sekalipun tidak akan mampu mengubah keberuntunganku.”

Shi Qing Xuan kemudian tampak menirukan gerakan Xie Lian dan kemudian berkata, “Mungkin lebih baik jika kita bertarung saja.”

Tepat pada saat itu, seorang petugas bandar berjalan menuju tirai merah dan membungkuk seolah mencoba mendengar apa yang dikatakan sosok di belakang tirai itu. Dia tampak mengangguk, mengangkat kepalanya dan mengumumkan sebuah pengumuman kepada kerumunan di sana, “Semuanya, bisakah aku meminta perhatian kalian semua. Tuan memiliki pengumuman untuk dibuat dan dikatakan kepada kalian semua.”

Mendengar bahwa tuan memiliki sesuatu untuk dikatakan, kerumunan di sana dengan segera menjatuhkan semua benda yang sedang mereka pegang dan kemudian terdiam. Petugas itu melanjutkan, “Tuan berkata untuk mengubah aturan.”

Dengan seketika beberapa obrolan pecah di tengah kerumunan itu, “Tuan adalah aturan itu sendiri!”

“Aturannya adalah apa pun yang diperintahkan tuan!”

“Untuk apa kita mengubahnya?”

Petugas bandar judi itu menjawab, “Tuan berkata bahwa dia sedang dalam suasana hati yang baik hari ini dan ingin bermain beberapa ronde dengan semua orang di sini. Siapa pun bebas bertaruh melawannya. Siapa pun yang menang dapat membawa pulang barang di atas sana. Entah jika kalian ingin mengukusnya, merebusnya, menggorengnya atau mengasinkannya, semuanya terserah kalian.”

Mendengar bahwa mereka akan bertaruh melawan Tuan mereka, semua hantu dan Iblis mulai berpikir dua kali untuk melakukannya. Tampaknya Hua Cheng tidak pernah benar-benar maju untuk bertaruh melawan mereka. Dari semua yang sebelumnya tampak berani mengajukan diri dan bertaruh, tidak ada yang berani untuk datang dan melangkah terlebih dahulu. Di atas mereka, Lang Qian Qiu tampak masih berjuang dengan tekad yang tak ada habisnya. Dia menyalak, “Apa maksudmu dengan ‘barang’? Aku bukan barang atau apa pun! Kalian berani menggunakanku sebagai bahan taruhan?”

Pernyataannya untuk jangan menyebutnya ‘barang’ didengar oleh banyak Iblis perempuan di kerumunan itu. Mereka tampak terkikik-kikik, mereka memberinya ekspresi cabul sambil menjilatkan lidah tajam dan berdarah mereka di bibir mereka seolah-olah mereka ingin menelannya hidup-hidup. Xie Lian berpikir, ‘Huh… anak ini. Akan lebih baik jika kamu berbicara lebih sedikit.’

Dia menghela napas, melangkah maju, dan berkata dengan lembut, “Jika itu masalahnya, maka, biarkan aku mencoba.”

Setelah mendengar suaranya, bayangan di balik tirai merah itu tampak terdiam dan berhenti sejenak sebelum perlahan berdiri.

Petugas bandar judi di depan tirai itu kemudian tersenyum, “Lalu, silakan kemarilah, tuan muda.”

Di dalam aula Rumah Judi itu, Iblis dan hantu secara otomatis memberikan jalan untuk prajurit pemberani ini. Ketika Xie Lian mencapai ujung jalan, petugas bandar judi itu tampak memberikan sebuah cangkir judi berwarna hitam yang dipegangnya kepada Xie Lian dan berkata, “Silakan.”

Kepada semua penjudi sebelumnya, dia selalu menggunakan cara bicara yang kasual. Terlepas dari kata-kata biasa yang diucapkannya, nadanya terdengar tidak sopan sedikit pun. Namun, sekarang, kepada Xie Lian, bukan hanya dia beralih menggunakan sebutan kehormatan kepadanya, tetapi nada suaranya terdengar sangat sopan dan penuh hormat. Xie Lian menerima cangkir judi berwarna hitam itu dari tangan petugas bandar judi dengan ucapan terima kasih dan dengan ringan berdeham.

Karena dia tidak pernah memiliki pengalaman dengan sesuatu seperti berjudi, dia mengguncang cangkir hitam itu secara acak untuk sementara waktu dan berpura-pura mengetahui satu atau dua hal tentang dunia perjudian. Saat dia menggerakkan tangannya, dia mengangkat kepalanya dan melirik Lang Qian Qiu yang tergantung di atas. Mata Lang Qian Qiu terbelalak ketika melihatnya, menatapnya sesaat dan untungnya, dia tidak membuat suara apa pun. Ekspresinya entah bagaimana membuat Xie Lian ingin tertawa, tetapi dia menahannya. Setelah mengguncang cangkir itu dengan cukup lama, dia akhirnya berhenti.

Sepasang mata yang tak terhitung jumlahnya tampak menatap lekat-lekat cangkir hitam berisi dadu di tangannya dan Xie Lian merasa bahwa entah bagaimana, cangkir judi kecil ini telah bertambah berat. Dia tidak tahu apakah ada cara yang tepat untuk membaliknya. Namun, tepat ketika dia hendak mengungkapkan hasilnya, Petugas bandar judi itu kemudian menghentikannya, “Tunggu.”

“Apakah ada sesuatu?” Xie Lian bertanya.

Petugas itu menjawab, “Tuan mengatakan bahwa postur tubuhmu yang gemetaran sama sekali tidak tepat.”

Xie Lian berpikir, ‘Apakah benar-benar ada cara yang tepat untuk melakukan hal ini? Apakah semua ketidakberuntunganku sebelumnya adalah karena postur tubuhku yang juga buruk?’

Dia bertanya dengan rendah hati, “Bolehkah aku bertanya bagaimana postur yang benar itu?”

Petugas itu menjawab, “Tuan telah mengundangmu untuk naik karena dia bersedia mengajarimu.”

Setelah mendengar itu, kerumunan hantu dan Iblis yang berada di dalam aula itu mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka.

Xie Lian mendengar seorang iblis bergumam, “Tidak aku sangka tuan akan mengajarinya, apakah itu berarti dia akan mati?”

“Tuan ingin melakukan apa??? Siapa sebenarnya dia??? Kenapa Tuan harus mengajarinya???”

“Bukankah itu adalah postur biasa yang selalu kita lakukan untuk mengocok cangkir? Bagaimana mungkin ada cara yang tepat untuk melakukan hal ini?”

Xie Lian juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama, tetapi petugas itu sudah mengarahkannya untuk berjalan memasuki tirai merah itu, “Silakan.”

Dengan demikian, Xie Lian tiba di depan tirai merah itu dengan cangkir judi kayu berwarna hitam yang dipegang di tangannya.

Tirai sutra itu bergoyang dengan lembut, hampir tampak seperti memberi sebuah kehidupan kepada siluet merah itu. Orang di balik tirai merah itu tampak berdiri tepat di depannya dengan jarak hanya setengah lengan di antara keduanya. Xie Lian menahan napas ketika sebuah tangan mulai membuka tirai merah tebal itu dan mendarat dengan sempurna di bawahnya, menopang cangkir judi yang dipegang Xie Lian.

Itu adalah sebuah tangan kanan, tampak putih dan terlihat elegan; jari-jari ramping itu memiliki benang merah yang diikat di sekitar jari ketiganya.

Terhadap cangkir kayu hitam pekat yang dipegang oleh Xie Lian, warna kulit putihnya tampak lebih pucat dan warna merah itu bahkan lebih jelas. Perlahan, Xie Lian mengangkat matanya. Seorang pemuda kira-kira berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun diam-diam berdiri di belakang tirai sutra itu yang tampak seperti sebuah awan merah.

Itu adalah San Lang.

Pakaiannya masih berwarna merah maple, sama seperti sebelumnya, dan kulitnya tampak putih seperti salju. Wajah unik itu masih memiliki ketampanan yang sama, dengan ekspresi seorang remaja yang kini tampak sedikit lebih jelas. Rasa malu masa kanak-kanak itu telah berubah menjadi ketenangan. Dia membawa suasana dan aura liar penuh keinginan untuk bermain yang tidak bisa dijinakkan. Mata yang sama seperti sebelumnya itu kini masih tampak begitu berkelap-kelip seperti bintang yang tidak pernah bergerak menjauh dari Xie Lian.

Meski mata itu tampak seterang bintang, di sana hanya ada satu mata kiri.

Mata yang lain tersembunyi di balik penutup mata berwarna hitam.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments