Penerjemah : Jeffery Liu


Begitu udara membeku seketika di tempat itu Xie Lian tahu bahwa pertanyaannya mungkin telah melewati batas.

Meskipun beberapa hari terakhir mereka berdua terlihat berhubungan dengan baik dan cukup akrab, tetapi jika Hua Cheng tidak pernah mengungkapkan wajah aslinya, dan tidak mengubah kembali penampilannya bahkan setelah identitasnya terungkap, maka dia pasti memiliki alasan untuk itu, dan Xie Lian tahu bukan tempatnya untuk mendorongnya lebih jauh lagi. Tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu Xie Lian melebarkan senyumnya, “Aku hanya bertanya, jangan terlalu memikirkannya.”

Hua Cheng memejamkan mata, dan setelah beberapa saat, dia tersenyum lembut, “Aku akan membiarkanmu melihatnya suatu hari nanti, jika ada kesempatan.”

Jika ada orang lain yang mengatakan hal yang sama, maka itu hanya akan menjadi kata-kata yang asal; ‘suatu hari’ yang orang lain katakan biasanya berarti ‘tolong lupakan saja.’ Tapi jika Hua Cheng yang mengucapkan kata-kata itu, Xie Lian merasa bahwa kata-kata ‘suatu hari nanti’ itu berarti memang benar-benar ‘suatu hari nanti’, dan itu pasti akan terjadi. Hal ini membuatnya menjadi semakin penasaran, dan dia menyeringai, “Kalau begitu aku akan menunggu sampai kamu bisa menunjukkannya padaku. Ayo istirahat sekarang.”

Setelah bermain-main selama setengah malam, kini Xie Lian sudah menyerah untuk memasak apa pun, dan dia kemudian kembali ke tikar jerami yang sudah disiapkannya sebelumnya. Hua Cheng juga berbaring di sebelahnya. Tidak ada yang peduli untuk mempertanyakan mengapa setelah mereka berdua mengungkapkan identitas masing-masing, bahwa seorang dewa dan Iblis masih bisa berbaring bersama di atas tikar jerami kusut, saling tertawa dan mengobrol bersama, dan bepergian bersama. Tikar jerami itu tidak memiliki bantal, jadi Hua Cheng menggunakan lengannya sendiri sebagai bantal untuk kepalanya, dan Xie Lian juga menirunya dengan menggunakan lengannya sendiri.

Dia mengobrol santai, “Alam hantu tampaknya begitu menganggur dan memiliki banyak waktu luang. Tidakkah kalian memiliki keharusan untuk melaporkan kembali sesuatu seperti apa saja yang kalian alami atau lakukan atau sesuatu seperti itu?”

Hua Cheng tidak hanya tampak menggunakan lengannya sebagai bantal, dia juga menyilangkan kakinya dan menjawab, “Melaporkan kepada siapa? Aku yang paling tinggi di sana. Kami mengurus urusan kami masing-masing, tidak ada yang mengganggu siapa pun.”

Alam hantu dibentuk oleh banyak kelompok jiwa yang tersesat dan Iblis liar, jadi Xie Lian tidak terkejut mendengar jawaban itu. “Begitukah? Aku pikir di sana akan seperti Pengadilan Surgawi di mana ada pemerintah pusat. Jika memang seperti itu, apakah kamu pernah bertemu Raja Iblis lain sebelumnya?”

“Aku pernah.” kata Hua Cheng.

“Bahkan Hantu Hijau Qi Rong?”

“Maksudmu sampah rendahan kasar itu?”

‘Yah, apa yang harus aku katakan tentang hal itu?’ Xie Lian berpikir, tetapi dia tidak perlu mengatakan apa-apa saat Hua Cheng melanjutkan, “Aku menyapanya dan dia melarikan diri.”

Xie Lian merasa ‘menyapa’ yang dimaksud di sini tidak seperti menyapa yang pernah kalian lakukan, dan tentu saja, Hua Cheng berkata dengan santai, “Dan kemudian aku menerima gelar ‘Hujan Darah Mencapai Bunga’.”

“…”

Jadi ketika dia sebelumnya menyebutkan tentang memusnahkan sarang iblis lain, dia berbicara tentang Hantu Hijau Qi Rong, dan ‘menyapa’ yang dimaksud di sini adalah memusnahkan‘Sapaan yang luar biasa,’ pikir Xie Lian. Dia menggosok dagunya dan berkata, “Apakah kamu memiliki sesuatu yang membuatmu ingin memusnahkan Hantu Hijau Qi Rong?”

“Ya.” Hua Cheng menjawab.

“Apa itu?”

“Aku tidak tahan melihat wajahnya.”

Xie Lian tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis, berpikir apakah ketika Hua Cheng menantang ketiga puluh tiga pejabat surgawi itu juga karena dia tidak menyukai wajah mereka? Meskipun dia ingin, dia tidak menanyakan hal itu, dan hanya berkata, “Seluruh surga memanggilnya vulgar, dan bahkan alam hantu menolak keberadaannya. Apakah itu benar?”

“Benar. Bahkan Air Hitam merasa jijik dengannya.” jawab Hua Cheng.

“Siapa itu Air Hitam?” Xie Lian bertanya, lalu teringat, “Oh, apakah dia yang disebut ‘Air Hitam Menenggelamkan Kapal’?”

“Benar. Dia juga dikenal sebagai Iblis Air Hitam Xuan.”

Xie Lian ingat bahwa Iblis Air Hitam Xuan ini juga salah satu ‘Golongan Tertinggi’, tetapi Hantu Hijau Qi Rong hanya seorang ‘Dekat Golongan Tertinggi’. Dia bertanya, merasa tertarik, “Apakah kamu dekat dengan Iblis Xuan ini?”

“Tidak.” Hua Cheng menjawab dengan malas, “Tidak banyak hantu maupun Iblis di alam hantu yang dekat denganku.”

Sekarang Xie Lian merasa ingin tahu lebih banyak lagi, “Begitukah? Aku pikir kamu akan memiliki banyak bawahan. Mungkin definisi apa yang dimaksud dengan ‘dekat’ yang kita miliki berbeda?”

Hua Cheng mengangkat alisnya, “Ya. Di alam hantu, mereka yang lebih rendah dari ‘Golongan Tertinggi’ tidak punya hak untuk berbicara padaku.”

Itu adalah pernyataan yang sangat sombong, tetapi Hua Cheng membuatnya terdengar tidak terbantahkan dan terbukti dengan sendirinya.

Xie Lian tersenyum lembut, “Meskipun kamu tidak dekat dengan mereka kamu masih tahu tentang mereka. Dengan kamu yang masih mengetahui mereka itu cukup bagus di alam hantu, hanya ada begitu banyak nama besar, tidak seperti di surga. Sudah ada begitu banyak nama pejabat surgawi untuk diingat di Pengadilan Tinggi, dan ada lebih banyak yang menunggu untuk naik di Pengadilan Tengah; mereka seperti lautan nama.”

“Apa bagusnya mengingat nama mereka? Jangan dipikirkan, itu hanya buang-buang tempat di otakmu.” kata Hua Cheng.

“Haha, itu agak menyinggung mereka jika kamu tidak mengingat nama mereka.”

Setelah mengobrol sebentar, Xie Lian tidak ingin menggali terlalu dalam ke dalam topik permasalahan itu agar mereka tidak menyentuh sesuatu yang sensitif, jadi dia memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan yang begitu berbeda di antara mereka berdua. Dia melirik pintu kayu yang tertutup dan bertanya-tanya, “Ban Yue anak itu, aku bertanya-tanya kapan dia akan kembali.”

Kata-kata berani “Aku ingin menyelamatkan dunia” kembali bergema di kepalanya, menuangkan sejuta gambar kacau di dalam pikirannya, dan Xie Lian harus mendorong mereka dengan paksa. Saat itu, Hua Cheng berbicara, “Itu adalah kata-kata yang bagus.”

“Yang mana?” Xie Lian bertanya.

‘Aku ingin menyelamatkan dunia, dan menyelamatkan semua orang’.” Hua Cheng menjawab dengan santai.

“…”

Xie Lian merasa seperti disambar petir.

Dia membalik tubuhnya dan meringkuk menjadi udang, berharap memiliki sepasang lengan lain sehingga dia bisa menutupi wajah dan telinganya, dan mengerang, “…San Lang…”

Hua Cheng tampaknya mendorong dirinya lebih mendekat kepada Xie Lian, dan berkata dengan nada serius tepat di belakangnya, “Hm? Apa yang salah dengan kata-kata itu?”

Hua Cheng tidak akan mundur dan Xie Lian tidak bisa menang melawannya, jadi dia berbalik dan berkata dengan tidak berdaya, “Itu konyol.”

“Apa yang harus ditakuti?” Hua Cheng berkata, “Untuk berani berbicara tentang dunia, apakah akan menyelamatkan atau menghancurkan adalah sesuatu yang mengagumkan. Untuk melakukan yang pertama lebih sulit daripada yang terakhir, jadi itu bahkan lebih terhormat.”

Xie Lian mengeluarkan tawa dan menggelengkan kepalanya, “Untuk berani berbicara tentang sesuatu kamu harus bisa menindaklanjutinya, dan kamu harus benar-benar mencapainya.” Dia menutupi kedua matanya dengan lengannya, “Oh, baiklah. Aku pikir itu masih bukan apa-apa. Apa yang dikatakan Ban Yue sudah cukup bagus. Aku bahkan pernah mengatakan hal-hal yang lebih konyol saat aku masih kecil.”

Hua Cheng tertawa, “Oh? Seperti apa? Mari kita dengarkan.”

Xie Lian termenung sejenak, dan tersenyum lembut ketika dia mengejar ingatannya, “Banyak, bertahun-tahun yang lalu, ada seseorang yang mengatakan kepadaku bahwa dia tidak bisa melanjutkan hidupnya. Dia bertanya kepadaku untuk apa dia hidup, dan apa arti hidup yang dia jalani.”

Dia melirik Hua Cheng, “Apakah kamu tahu bagaimana aku menjawab?”

Mungkin saja itu hanya ada di dalam imajinasi Xie Lian, tetapi tampaknya dia melihat ada cahaya di mata Hua Cheng. Bocah itu bertanya dengan lembut, “Bagaimana kamu menjawab?”

Xie Lian berkata, “Aku memberitahunya: “Jika kamu tidak tahu bagaimana cara untuk melanjutkan hidupmu, maka hiduplah untukku!’

‘Jika kamu tidak tahu arti hidup yang kamu jalani, maka jadikanlah aku sebagai makna itu sendiri, dan gunakan aku sebagai alasanmu untuk hidup’.

“Ha ha ha….”

Xie Lian tidak bisa menahan tawa kecilnya dan menggelengkan kepalanya, “Bahkan sekarang aku tidak mengerti apa yang kupikirkan pada saat itu. Bagaimana aku memiliki keberanian untuk memberi tahu seseorang untuk menjadikan aku sebagai makna hidupnya?”

Hua Cheng terdiam dan Xie Lian melanjutkan. “Itu benar-benar sesuatu yang hanya bisa dikatakan saat itu. Dulu, aku benar-benar berpikir aku tak terkalahkan dan tidak kenal takut. Jika kamu memintaku untuk mengucapkan kata-kata yang sama sekarang, tidak mungkin kata-kata itu akan meninggalkan dan terucap dari bibirku lagi.”

Xie Lian melanjutkan dengan pelan, “Aku tidak tahu apa yang terjadi pada orang itu setelahnya. Tapi, untuk menjadi alasan seseorang untuk hidup sudah menjadi tanggung jawab yang berat, bagaimana aku berani berbicara tentang dunia?”

Keheningan menyelimuti kuil Pu Qi, dan setelah beberapa saat, San Lang berkata dengan lembut, “Sesuatu seperti menyelamatkan dunia, benar-benar tidak masalah bagaimana kamu melakukannya. Tapi, meski begitu berani, itu juga bodoh.”

“Ya.” Xie Lian setuju.

Hua Cheng melanjutkan, “Meskipun bodoh, itu berani.”

Xie Lian tersenyum pada kata-kata itu, “Terima kasih.”

“Sama-sama.” kata Hua Cheng.

Keduanya menatap langit-langit berlubang di dalam kuil Pu Qi dalam keheningan yang bersahabat, dan Hua Cheng berbicara lagi. “Kamu tahu, kita hanya baru saling kenal selama beberapa hari. Apa tidak apa-apa bagimu untuk mengatakan begitu banyak hal padaku?”

Xie Lian tertawa lagi dan melambaikan tangannya, “Apa masalahnya? Terserah. Mereka yang sudah saling mengenal selama beberapa dekade bisa menjadi orang asing dalam sehari. Kita bertemu secara kebetulan, dan kita mungkin saja akan berpisah secara kebetulan. Jika kita saling menyukai maka kita bisa terus bertemu; jika tidak maka kita harus berpisah. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak memiliki akhir dan aku akan mengatakan apa yang ingin aku katakan.”

Hua Cheng tertawa kecil, dan tiba-tiba berkata, “Jika,”

Xie Lian memutar kepalanya untuk menghadapnya, “Jika?”

Hua Cheng tidak berbalik, tetapi terus melihat langit-langit kuil yang bobrok, dan Xie Lian mengamati wajah sisi kiri pemuda tampan itu.

Hua Cheng berkata dengan lembut, “Jika aku jelek,”

“Hah?” Xie Lian menganga.

Hua Cheng akhirnya menoleh menatap sedikit ke arah Xie Lian, “Jika wajah asliku jelek, apakah kamu masih ingin melihatnya?”

Xie Lian terkejut, “Benarkah? Meskipun tidak ada alasan sebenarnya, tapi kupikir wajah aslimu pasti tidak seburuk itu.”

“Siapa yang tahu,” Hua Cheng berkata setengah bercanda, “Bagaimana jika aku kotor, cacat, jelek, bertubuh raksasa dan mengerikan, apa yang akan kamu lakukan?”

Awalnya Xie Lian berpikir pertanyaan itu agak menarik. Jadi Raja Iblis nomor satu di zaman ini, yang ditakuti oleh surga, akan peduli dengan penampilannya? Tetapi ketika dia memikirkannya dengan mendalam, dia tidak lagi menganggapnya lucu.

Jika dia mengingatnya dengan benar, di banyak cerita tentang Hua Cheng, ada yang mengatakan bahwa dia adalah anak yang cacat sejak lahir, atau sesuatu seperti itu. Jika itu masalahnya, maka dia pasti tumbuh dengan mendapat diskriminasi dari orang lain. Mungkin karena alasan itulah dia begitu sensitif dengan penampilannya.

Jadi, Xie Lian menelan kata-katanya dan berkata, “Tentang itu…”

Dia menggunakan nadanya yang paling hangat dan paling tulus, “Sejujurnya, alasan aku ingin melihat wajah aslimu adalah karena kita sekarang sudah berteman, ‘kan? Lihat, bahkan sekarang kita di sini seperti ini… Jadi, jika kita berteman, maka kita harus jujur ​​satu sama lain. Jadi, keinginanku untuk melihat wajah aslimu tidak ada hubungannya dengan penampilanmu. Kamu bertanya apa yang akan aku lakukan, tentu saja aku tidak akan melakukan apa pun. Jangan khawatir, selama itu adalah wajah aslimu, aku… mengapa kamu tertawa? Aku serius.”

Saat Xie Lian mencapai bagian terakhir dari kata-katanya, dia bisa merasakan bocah di sebelahnya tampak gemetar. Awalnya sesaat dia berpikir ‘apakah kata-kataku begitu mengharukan sehingga dia sampai tersentuh seperti ini?’, dan terlalu malu untuk berbalik untuk melihatnya. Tapi setelah beberapa saat, sebuah tawa lembut terdengar dari sebelahnya. Xie Lian merasa kesal, dan mendorong pundak bocah itu pelan, “San Lang… kenapa kamu tertawa?”

Hua Cheng segera berhenti gemetar dan berbalik, “Tidak ada, kamu benar sekali.”

Xie Lian merasa semakin kesal mendengar kata-kata itu, “Kamu sangat tidak tulus…”

“Aku berjanji, kamu tidak akan menemukan orang lain yang lebih tulus daripada aku di dunia ini.” Hua Cheng menjawab.

Xie Lian tidak mau bicara lagi dan berbalik dengan punggung mengarah ke Hua Cheng. “Sudahlah. Waktunya tidur. Jangan bicara apa pun.”

Hua Cheng tertawa lagi dan berkata, “Lain kali.”

Meskipun dia bertekad untuk tidur, mendengar Hua Cheng berbicara, Xie Lian tidak bisa untuk tidak menanggapinya dan kemudian menjawab. “Lain kali apa?”

Hua Cheng berbisik, “Lain kali kita bertemu, aku akan menggunakan penampilan asliku untuk menyambutmu.”

Ada banyak yang perlu direnungkan tentang kata-kata itu, dan Xie Lian seharusnya terus bertanya padanya, tetapi setelah malam yang panjang, rasa kantuk yang tak terhentikan menghampirinya, dia tidak bisa menahannya dan tertidur lelap.

Pagi berikutnya, saat Xie Lian terbangun, tempat di sebelahnya kosong.

Dia tersandung ketika dia bangkit dan dengan bingung berjalan di sekitar kuil. Ketika dia membuka pintu, tidak ada siluet yang terlihat di luar. Rupanya benar. Bocah itu benar-benar pergi.

Tetapi, daun-daun yang jatuh telah disapu menjadi tumpukan, dan di sebelahnya ada sebuah kendi tanah liat kecil. Xie Lian mengambil kendi itu dan meletakkannya di atas meja altar. Pada saat itu, dia tiba-tiba merasakan ada sesuatu di dadanya yang biasanya kosong.

Xie Lian mengangkat tangannya untuk menyentuh benda itu, dan menemukan tepat di bawah belenggu terkutuk, ada sebuah rantai yang sangat tipis, yang tergantung longgar dan ringan di lehernya.

Xie Lian segera melepas benda itu dari lehernya. Itu adalah sebuah rantai perak, dan karena rantai itu tipis dan ringan, dia tidak merasakan ada sesuatu di tubuhnya sebelumnya. Dan, tergantung di rantai itu adalah sebuah cincin yang sebening kristal.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
V10n4 Kaneshiro (@v1v10n4)

itu abu nya bukan sih?