Penerjemah: Jeffery Liu


Punggung Xie Lian masih menghadap ke arah San Lang, Xie Lian berkata, “Hujan Darah Mencapai Bunga?”

“Yang Mulia Putra mahkota.” jawab San Lang.

Xie Lian akhirnya berbalik dan menyeringai, “Ini adalah pertama kalinya aku mendengarmu memanggilku seperti itu.”

Bocah berpakaian merah itu duduk di atas tikar jerami, dan menyesuaikan kakinya, “Bagaimana rasanya?”

Xie Lian memikirkannya, dan menjawab dengan jujur, “Rasanya… sedikit berbeda dengan ketika orang lain memanggilku dengan gelar itu.”

“Hm? Bagaimana bisa?” Hua Cheng bertanya.

Xie Lian memiringkan kepalanya, matanya sedikit menyipit, “Sulit dikatakan, hanya…”

Ketika orang lain memanggilnya “Yang Mulia”, kadang-kadang mereka tanpa emosi dan karena bisnis seperti Ling Wen. Tapi sebagian besar waktu, ketika orang memanggilnya “Yang Mulia”, itu dipenuhi dengan rasa jijik; seperti sengaja menyapa wanita jelek dengan memanggilnya ‘cantik’, agak sarkastik.

Namun ketika Hua Cheng memanggilnya “Yang Mulia”, kedua kata itu diucapkan dengan tulus. Jadi, selain sulit dijelaskan, Xie Lian merasa ketika Hua Cheng memanggilnya “Yang Mulia”, rasanya berbeda dari ketika orang lain memanggilnya “Yang Mulia”.

Dia melanjutkan, “Malam itu di Gunung Yu Jun, pengantin pria yang membawaku pergi adalah kamu, ‘kan?”

Melihat Hua Cheng menyeringai, Xie Lian menyadari kata-katanya mungkin berarti sesuatu yang lain, dan mengoreksi dirinya dengan nada serius, “Maksudku, pengantin pria yang menyamar yang membawaku pergi adalah kamu, ‘kan?”

“Aku tidak menyamar sebagai pengantin pria.” jawab Hua Cheng.

Jika mereka harus masuk dalam pembahasan yang lebih detail, Hua Cheng tidak salah. Pria muda pada waktu itu yang membawanya pergi tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah pengantin pria; dia hanya berhenti di depan tandu pengantin yang digunakan oleh Xie Lian dan kemudian mengulurkan tangannya. Itu adalah Xie Lian sendiri yang dengan sukarela menyambut uluran tangan itu kemudian pergi bersamanya!

“Baik. Lalu, mengapa saat itu kamu muncul?”

“Pertanyaan itu hanya memiliki dua jawaban,” Hua Cheng berkata, “Pertama, aku datang ke tempat itu khusus hanya untuk Yang Mulia; kedua, aku hanya sedang lewat dan memiliki waktu luang. Menurutmu mana yang lebih bisa dipercaya?”

Xie Lian menghitung berapa hari yang dihabiskan Hua Cheng bersamanya, dan menjawab dengan sungguh-sungguh, “Mana yang lebih bisa dipercaya, aku tidak bisa mengatakannya, tetapi kamu benar-benar memiliki banyak waktu luang.”

Dengan lengan kirinya yang memegang siku kanannya dan tangan kanannya menopang dagunya, Xie Lian memberi Hua Cheng sebuah tatapan dan mengangguk. “Kamu sangat berbeda dari apa yang dikatakan oleh rumor yang banyak tersebar.”

Hua Cheng mengubah posisi duduknya tetapi masih dengan tangan menopang pipinya, masih menatap ke arah Xie Lian dan berkata, “Oh? Dan bagaimana kamu tahu kalau aku yang sebelumnya mengaku bernama San Lang ternyata adalah Hua Cheng?”

Gambaran dari payung yang berlumuran darah, sebuah rantai perak yang berdenting lembut, dan vambrace perak dingin memenuhi pikiran dan ingatan Xie Lian dan dia kemudian berpikir, ‘Ini tidak seperti kamu menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya dengan sungguh-sungguh.‘ Tetapi ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, itu menjadi sesuatu yang lain.

Dia berkata dengan nada serius, “Bahkan setelah semua penyelidikanku atas identitasmu yang sebelumnya kamu tidak memberikan reaksi atau tanggapan apa pun, jadi kamu seharusnya adalah seseorang yang memiliki kedudukan sebagai ‘Gongan Tertinggi’ atau sesuatu yang lebih tinggi. Kamu berpakaian serba merah, seperti daun mapel, seperti darah, mengetahui segalanya, mampu melakukan segalanya, dan tidak mengenal rasa takut. Karakter seperti itu, selain ‘Hujan Darah Mencapai Bunga’ yang bahkan ditakuti oleh semua pejabat surgawi di surga, sepertinya tidak ada kandidat lain yang lebih cocok.”

Hua Cheng tertawa, “Haruskah aku menganggap kata-kata itu sebagai pujian?”

“Tidakkah kamu tahu bahwa kata-kata. itu memang pujian?” pikir Xie Lian.

“Untuk menghemat begitu banyak kata, mengapa Yang Mulia tidak mempertanyakan motif apa yang sekiranya aku miliki untuk mendekatimu?” Hua Cheng bertanya.

“Jika kamu tidak ingin mengatakan apa-apa, jika aku bertanya, apakah kamu akan memberitahuku? Atau mungkin kamu tidak akan mengatakan yang sejujurnya,” kata Xie Lian.

“Itu tidak benar. Lagipula, kamu selalu bisa mengusirku.”

Xie Lian tertawa, “Kamu sangat kuat; jika aku mengusirmu sekarang, jika kamu benar-benar ingin melakukan sesuatu, bukankah nantinya kamu hanya akan mengganti kulit dan merubah identitasmu dan kembali ke sini?”

Keduanya menatap satu sama lain sambil menyeringai kecil ketika saat itu, sebuah suara ketukan kecil memecah keheningan yang terjadi di kuil untuk sesaat. Mereka melihat ke tempat dari mana suara itu berasal dan tidak ada siapa pun di sana, hanya ada sebuah kendi tanah liat kecil berwarna hitam yang berguling di lantai.

Itu adalah kendi tempat Ban Yue dimasukkan sebelumnya. Xie Lian meletakkannya di sebelah tikar jerami, tapi entah bagaimana kendi kecil itu terbalik dengan sendirinya dan berguling kembali ke pintu. Ditahan oleh sebuah pintu kayu yang sebelumnya telah dibuat oleh Hua Cheng, kendi kecil itu berguling dan mulai mengenai dan memukul pintu berulang kali. Xie Lian khawatir kendi kecil itu akan pecah, jadi dia memutuskan untuk membuka pintu, dan kendi tanah liat kecil itu berguling menuju ke sebuah ladang rumput di luar.

Xie Lian mengikuti di belakangnya, dan melihat bahwa ketika kendi tanah liat kecil itu berhasil sampai di lapangan rumput, kendi itu berdiri dengan sendirinya. Bahkan jika itu hanya sebuah kendi, pemandangan itu memberi ilusi yang menunjukkan bahwa kendi kecil itu sedang menatap ke arah langit malam. Hua Cheng juga muncul dari kuil setelahnya, dan Xie Lian memanggil ke arah kendi itu, “Ban Yue, kamu sudah bangun?”

Beruntung ketika mereka kembali dari Gobi, saat itu sudah larut malam, jika ada seseorang yang melihat Xie Lian yang bertanya dan berbicara kepada sebuah kendi, mereka mungkin akan melemparnya.

Beberapa saat kemudian, sebuah suara murung seorang gadis muda datang dari dalam kendi itu, “Jenderal Hua.”

Xie Lian duduk di sebelahnya dan menenangkannya, “Ban Yue, apakah kamu keluar untuk melihat bintang? Kenapa kamu tidak keluar dari kendi itu?”

Hua Cheng bersandar di pohon di sebelah mereka dan berkata, “Dia baru saja meninggalkan reruntuhan BanYue. Mungkin lebih baik jika dia tinggal di dalam kendi itu lebih lama lagi.”

Xie Lian berpikir saran yang diberikan oleh Hua Cheng itu masuk akal. Bagaimanapun, Ban Yue telah terjebak di BanYue selama dua ratus tahun; tiba-tiba mengubah langkahnya mungkin sulit untuk menyesuaikan diri. “Kalau begitu, sebaiknya kamu tetap di dalam sana dan menyembuhkan dirimu. Di sini adalah tempatku berkultivasi, kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun. Jangan berpikir tentang para prajurit dan jenderal itu lagi.”

Kendi itu bergetar dua kali seolah mencoba mengatakan sesuatu. Setelah jeda yang cukup lama, Xie Lian merasa dia masih perlu mengisinya dan mengatakan tentang apa saja yang telah terjadi sebelumnya, dan menelan kata-katanya. “Ban Yue, sebenarnya bukan karena ular-ular milikmu yang sudah tidak mendengarkanmu lagi. Jenderal Pei Kecil diam-diam mempelajari teknik mengendalikan ular yang kamu lakukan. Semua orang tidak terluka oleh ular yang kamu kendalikan.”

“Jenderal Hua, aku tidak bisa bergerak saat itu, tetapi aku mendengar semuanya,” kata Ban Yue muram.

Xie Lian berhenti. Jadi Pei Su hanya menyegel gerakan Ban Yue, tetapi tidak dengan pikirannya. “Begitu.”

Setelah berpikir, Xie Lian melanjutkan, “Mungkin Jenderal Pei Kecil melakukannya karena dia tidak tahan melihat prajurit BanYue menderita dan ingin memberi mereka sedikit bantuan, tetapi sayangnya dia menggunakan metode yang salah.”

“…” Kendi tanah liat itu bergetar untuk sesaat dan Ban Yue kembali berkata, “Jenderal Hua, apa yang akan terjadi pada Pei Su gege?”

Xie Lian menyilangkan kedua lengannya di dalam lengan bajunya, “Aku tidak tahu. Tapi, semua kesalahan akan selalu mendapatkan hukuman.”

Untuk sesaat keheningan kembali menyapa mereka, dan kendi itu kembali bergetar dua kali, dan Xie Lian akhirnya mengerti bahwa gerakan itu berarti sebuah anggukan setuju.

“Meskipun Ke Mo selalu mengutuknya, Pei Su gege sebenarnya bukan orang jahat.” kata Ban Yue.

“Apakah itu benar?”

“En.” Ban Yue menjawab, “Dia pernah membantuku sebelumnya.”

Entah bagaimana, pikiran Xie Lian tiba-tiba dipenuhi dengan banyak hal sekali lagi.

Ban Yue sering menerima pukulan; menggunakan kata-kata anak-anak Yong An, dia memiliki wajah yang “memintanya”.

Butuh waktu lama setelah Xie Lian mengenalnya sebelum dia mengetahuinya juga, karena tidak peduli berapa banyak pukulan yang diterima Ban Yue, dia tidak akan memberi tahu siapa pun. Hingga suatu hari, ketika Xie Lian melihat sekelompok anak-anak menekan wajahnya ke dalam lumpur, dia mengetahui dari mana semua memar di wajahnya itu berasal.

Tetapi setelah beberapa saat, ketika dia bertanya tentang hal itu, dia hanya bilang dia ingat bahwa dia harus mencuci saputangan dari bocah lelaki yang menariknya keluar dari lubang lumpur, sebelum mengembalikan saputangan itu, dan dia tidak ingat apa-apa lagi.

Dia tidak mengingat siapa pun yang memukulnya; tapi orang yang menyelamatkannya sekali, dia akan mengingatnya seumur hidup.

Ban Yue melanjutkan, “Meskipun Ke Mo selalu mencibir bahwa dia menghasutku, bahwa aku telah sepenuhnya dimanfaatkan olehnya, apakah dia memanfaatkanku atau tidak, itu adalah keinginanku sendiri untuk membuka gerbang benteng.”

Xie Lian tidak tahu lagi harus berkata apa, tetapi di suatu tempat di dalam hatinya, dia merasakan kelembutan.

Beberapa saat kemudian, dia menepuk kendi itu, “Baiklah, semua itu hanya masa lalu. Oh ya, Ban Yue, nama Hua Xie adalah nama palsu, dan aku sudah bukan lagi seorang jenderal untuk waktu yang lama. Kamu tidak harus terus memanggilku Jenderal Hua.”

“Lalu bagaimana aku harus memanggilmu?” Ban Yue bertanya.

Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang bagus. Jika Ban Yue juga memanggilnya “Yang Mulia” dengan serius, itu akan terasa aneh. Xie Lian juga tidak terlalu peduli dengan kedudukannya atau cara orang-orang memanggilnya, dia hanya ingin mengganti topik pembicaraan saat itu.

“Terserah kamu saja. Aku rasa tidak apa-apa jika kamu terus memanggilku Jenderal Hua.”

Hanya saja, ada satu orang lagi di sini yang bernama Hua, sehingga jika Ban Yue memanggilnya dengan sebutan ‘Jenderal Hua’ itu mungkin bisa membuat kebingungan. Tapi kemudian dia berpikir, ‘Hua Xie’ adalah nama palsu yang dia ambil dari kata pertama dari panggilan lain yang dimilikinya yaitu ‘Dewa Bela Diri Mahkota Bunga’, ‘Hua Cheng’ mungkin juga adalah nama palsu? Mengetahui bahwa mereka berdua secara kebetulan memilih marga yang sama, itu agak lucu.

“Maaf, Jenderal Hua.” kata Ban Yue lagi.

Xie Lian berbalik untuk menatapnya dan berkata dengan sedih, “Ban Yue, mengapa kamu selalu meminta maaf padaku?” Apakah dia benar-benar terlihat semenyedihkan itu bagi semua orang?

Dari dalam kendi, Ban Yue menyatakan, “Aku ingin menyelamatkan dunia.”

Xie Lian: “…”

“Jenderal Hua, Kamu pernah mengatakan itu sebelumnya,” kata Ban Yue.

Xie Lian: “???”

Xie Lian dengan penuh desakan berkata, “Tunggu, tunggu!”

Mendengar dia berteriak, Ban Yue membeku. “Apa?”

Xie Lian mengintip Hua Cheng yang masih bersandar pada pohon dengan tangan bersedekap, dan berkata dengan suara rendah, “Apakah aku benar-benar pernah mengatakan itu?”

Kata-kata itu adalah ucapan favoritnya ketika dia baru berusia sepuluh tahun. Dalam ratusan tahun setelahnya, dia seharusnya tidak mengucapkannya sama sekali; dia tidak bisa mempercayainya. Tapi Ban Yue berkata dengan tegas dan yakin, “Jenderal, itu adalah kata-katamu.”

Xie Lian masih berjuang mengelaknya, “Kurasa bukan…”

Ban Yue mengatakan kepadanya dengan serius, “Kamu memang mengatakannya. Pernah suatu saat, ketika kamu bertanya kepada kami semua apa yang ingin kami lakukan ketika kami dewasa. Semua orang menjawab, dan setelahnya kamu juga berkata: ‘Impianku adalah untuk menyelamatkan dunia; menyelamatkan semua orang.’

“…”

Jadi begitulah. Xie Lian menggunakan tangannya untuk menutupi seluruh dahinya. “Um. Ban Yue. Mengapa kamu mengingat dengan sangat jelas sesuatu yang dikatakan secara acak seperti itu?”

Ban Yue bingung, “Secara acak? Tapi Jenderal Hua, aku pikir kata-kata itu diucapkan dengan sungguh-sungguh.”

Xie Lian mengangkat kepalanya untuk menatap langit malam, merasa tidak berdaya. “Haha. Benarkah? Mungkin. Aku tidak bisa mengingat apa pun yang mungkin pernah aku katakan sebelumnya.”

“Kamu juga berkata, ‘Lakukan apa yang menurutmu benar!’” Ban Yue memberitahunya. “‘Tidak ada yang bisa menghalangi jalanmu!’, ‘Bahkan jika kamu jatuh ke dalam lumpur busuk seratus kali kamu harus bangun dengan tekad!’ Ada banyak lagi, seperti itu.”

“Pfft.”

Dia tidak perlu melihat ke belakang untuk mengetahui bahwa itu pasti Hua Cheng di bawah pohon yang mendengarnya dan tertawa.

Bahkan membekap kendi itu sekarang tidak akan membantu, dan Xie Lian berpikir dalam hati, “... apa … omong kosong! … Kenapa aku terus mengatakan hal-hal semacam itu … aku sama sekali tidak seperti itu … ‘kan??”

“Tapi, aku tidak tahu lagi apa yang benar.” kata Ban Yue.

Xie Lian membeku.

“Aku ingin melakukan apa yang dikatakan Jenderal Hua, dan menyelamatkan semua orang,” kata Ban Yue. “Tapi pada akhirnya, aku justru menghancurkan Kerajaan BanYue.”

Suaranya hilang. “Dan sepertinya apa pun yang aku lakukan… semua hasilnya mengerikan. Jenderal Hua, aku tahu aku tidak melakukan hal yang benar, tetapi bisakah kamu memberi tahuku, di mana kesalahanku? Apa yang harus aku lakukan untuk melakukan apa yang kamu katakan dan… menyelamatkan dunia?”

“…”

Xie Lian menjawab, “Maaf, Ban Yue. Bagaimana caranya menyelamatkan dunia, menyelamatkan semua orang… aku juga tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu pada saat itu, dan bahkan sekarang aku masih belum memiliki jawabannya.”

Ban Yue terdiam sesaat, lalu berkata dengan sedih, “Jenderal Hua, jujur saja, rasanya seperti dua ratus tahun terakhir, aku tidak tahu apa yang telah aku lakukan. Aku telah gagal.”

Mendengarnya, Xie Lian menjadi lebih tertekan, berpikir, “Bukankah itu membuatku lebih gagal? Bahwa aku hidup delapan ratus tahun tanpa hasil apa pun?”

Xie Lian meninggalkan iblis kecil Ban Yue di dalam kendi untuk melihat bintang sendirian dan menenangkan diri, dan dia memutuskan untuk kembali ke dalam kuil Pu Qi bersama Hua Cheng.

Setelah menutup pintu, Xie Lian tiba-tiba berbicara, “Ban Yue tetap berada di BanYue Pass dengan sukarela. Itu bukan karena dia menjadi iblis peringkat ‘Kemurkaan’ sehingga dia terjebak di sana.”

Dia selalu ingat bahwa dialah yang membuka gerbang benteng, dan tidak pernah menggunakan alasan seperti dia melakukannya untuk semua orang. Itu adalah untuk membantu para prajurit BanYue melampiaskan kebencian mereka, sehingga mereka bisa meninggalkan dunia ini lebih cepat, bahwa dia membiarkan Ke Mo untuk memimpin mereka untuk membunuhnya berulang kali.

Xie Lian menggelengkan kepalanya. “Jika Jenderal Pei Kecil benar-benar tidak ingin melepaskan para prajurit BanYue itu, dan tidak ingin surga mengetahui hal itu, dia bisa diam-diam mengirimkan klonnya turun untuk mengurus mereka. Kenapa dia harus menggunakan metode itu?”

“Klon tidak memiliki kekuatan yang sama seperti tubuh aslinya,” kata Hua Cheng. “Kamu lihat bagaimana klon Pei Su, A-Zhao? Dia tidak bisa melawan begitu banyak prajurit BanYue, jadi memberi makan mereka dengan daging manusia adalah cara tercepat dan termudah untuk meredakan kebencian mereka.”

“Kenapa harus cepat?” Xie Lian bertanya-tanya.

“Mungkin agar teman kecilmu Ban Yue tidak akan digantung sesering itu,” jawab Hua Cheng.

Xie Lian terdiam sesaat. “Lalu bagaimana dengan orang-orang fana yang menjadi korban?”

Hua Cheng menjawab dengan tenang, “Dia adalah pejabat surgawi. Tentu saja kehidupan manusia tidak lebih dari seekor semut di matanya. Pei Su adalah dewa klasik berperingkat tinggi. Selama hal itu tidak diketahui, membunuh beberapa ratus orang tidak berbeda dengan menginjak beberapa ratus serangga sampai mati.”

Xie Lian meliriknya, dan mengingat bahwa ketika San Lang melompat ke dalam Lubang Pendosa, dia memusnahkan semua prajurit BanYue dalam sekejap. Dia menoleh padanya dan berkata, “Klon tidak memiliki kekuatan yang sama dengan seperti aslinya? Aku lihat klonmu cukup kuat.”

Hua Cheng mengangkat alisnya. “Tentu saja. Tapi aku ini asli, bukan klon.”

Xie Lian berhenti memikirkan hal lain, dan menatapnya terkejut, “Eh? Ini bentuk aslimu?”

“Seratus persen asli.” kata Hua Cheng.

Jika ada yang harus disalahkan, seharusnya itu adalah ketika bagaimana Hua Cheng terlihat seolah-olah dia mempersilakan Xie Lian untuk mengeceknya sendiri, dan tanpa berpikir, Xie Lian mengangkat jarinya dan menusuk wajah Hua Cheng.

Setelah menusuk dan menyentuh wajah itu, Xie Lian terkejut dan berteriak ‘oh tidak!’ di kepalanya. Dia hanya penasaran untuk melihat dan merasakan seperti apa sebenarnya kulit palsu yang dimiliki oleh seorang Raja Iblis, tetapi tampaknya tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya dan menusuk wajahnya! Memalukan!

Tiba-tiba seseorang menusuk wajahnya, Hua Cheng juga tampak agak terkejut, tetapi dia selalu tampak santai dan tenang, yang membuat ekspresi kagetnya sebelumnya langsung menghilang begitu saja. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi alisnya terangkat bahkan lebih tinggi dari biasanya, seolah menunggu Xie Lian untuk menjelaskan apa yang sudah dia lakukan, tawa di matanya tetap ada. Xie Lian tidak bisa menjelaskannya; dia menatap ke arah jarinya sendiri, menyembunyikannya, dan dengan santai berkata, “Tidak buruk. Tidak buruk.”

Hua Cheng akhirnya tertawa terbahak-bahak, dan menyilangkan tangan dengan kepala miring, “Apanya yang tidak buruk? Apa maksudmu kulit palsu ini?”

“Itu dibuat dengan sangat baik,” Xie Lian berkata dengan tulus, “Tapi…”

“Tapi apa?” Hua Cheng bertanya.

Xie Lian menatap wajahnya dan mempelajarinya sejenak. Lalu akhirnya berkata, “Tapi, bolehkah aku melihat wajahmu yang sebenarnya?”

Jika Hua Cheng mengatakan ‘kulit palsu’ maka itu berarti bahkan jika tubuh di hadapannya adalah yang asli, wajahnya tidak. Tampilan remaja ini bukanlah penampilan sebenarnya Hua Cheng.

Kali ini, Hua Cheng tidak segera menanggapi dan menjatuhkan tangannya. Mungkin itu semua hanya ada di kepala Xie Lian, tapi mata Hua Cheng tampak sedikit menggelap, dan hatinya menegang.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
V10n4 Kaneshiro (@v1v10n4)

omaigaa ditusuk kulit san lang uhukkk,, so swweettttttt