Penerjemah: Jeffery Liu


“Aku benar-benar tidak ingat, oke!” kata Xie Lian.

Bahkan jika dia tidak bisa mati, dia tidak tahan dengan pembantaian semacam itu. Berpikir “Ini tidak bisa diteruskan!” dalam hatinya. Xie Lian jatuh ke tanah untuk memalsukan kematiannya, tetapi bahkan dalam ‘kematian’ itu dia diinjak-injak sampai pingsan. Itu adalah air yang mencekik lehernya yang membangunkannya, karena mayat seseorang biasanya dibuang ke sungai setelah pertempuran. Xie Lian mengikuti arus sungai, dan terbawa air kembali ke Kerajaan Yong An seperti tumpukan sampah. Setelahnya, dia butuh beberapa tahun untuk sembuh dari luka-lukanya, mengambil kompas rusak untuk memulai perjalanan barunya, dan akhirnya sampai ke tujuan awalnya di selatan, dan berhenti memikirkan apa yang terjadi di kerajaan BanYue.

“Maaf.” Ban Yue bergumam lagi.

Fu Yao mengerutkan alisnya, “Kenapa dia terus meminta maaf padamu? Apa sesuatu terjadi?”

San Lang juga bertanya padanya, pertanyaan yang jauh lebih spesifik, “Ke Mo sebelumnya mengatakan bahwa Kepala Pendeta memihak pada Dataran Tengah setelah pertempuran terjadi antara kedua pasukan. Apakah kamu juga terlibat dalam hal itu?”

Setelah diingatkan seperti itu, dan mengingat apa yang tertulis di batu peringatan sebelumnya, beberapa hal kemudian kembali diingat oleh Xie Lian, tetapi itu hanya sedikit. “Um, mungkin…”

“Itu untuk menyelamatkanku.” kata Ban Yue, yang masih bersujud di tanah.

Semua orang menoleh untuk melihat ke arah Kepala Pendeta itu dan dia kemudian bergumam, “Jenderal Hua masuk dan terlibat dalam medan pertempuran untuk menyelamatkanku, dan terinjak-injak sampai rata.”

“…”

Mendengar dia berkata “terinjak-injak sampai rata” membuat Xie Lian kembali mengingat apa yang terjadi saat itu, dan dia teringat kesedihannya karena terinjak oleh ribuan orang, tetapi dengan dua orang lain menatapnya dengan reaksi yang tidak bisa dibaca, dia menarik dirinya kembali dengan tergesa-gesa dan berkata, “Tidak sampai rata. Tidak terlalu rata.”

Fu Yao tidak terlihat angkuh seperti sebelumnya, dan berkata dengan canggung, “Yah, bukankah kamu seperti malaikat.”

Xie Lian segera melambaikan tangan, “Tidak ada yang seperti itu. Aku hanya berpikir untuk membawa anak itu pergi dan melarikan diri. Tapi kami tidak cukup cepat dan terjebak di antara kedua pasukan.”

“Jika itu masalahnya,” kata Fu Yao, “Bagaimana kamu bisa tidak ingat sesuatu seperti itu?”

Xie Lian menatapnya dengan sungguh-sungguh, “Apakah kamu tidak tahu berapa ratus tahun umurku? Begitu banyak yang bisa terjadi hanya dalam satu dekade, tidak mungkin untuk mengingat semuanya secara mendetail. Selain itu, beberapa hal sebaiknya dilupakan. Daripada mengingat bagaimana aku bisa terbantai dan terinjak-injak ratusan tahun yang lalu, aku lebih suka mengingat bahwa aku memakan roti daging yang lezat kemarin, bukan?”

“Maaf, ini semua salahku,” kata Ban Yue.

Xie Lian berbalik padanya dan menghela napas panjang, “Ban Yue-ku sayang, menyelamatkanmu adalah pilihanku jadi itu bukan salahmu. Jika kamu ingin meminta maaf, maka mungkin seharusnya kepada yang lainnya.”

Ban Yue terdiam dan menundukan kepalanya.

“Aku tidak tahu mengapa kamu membuka gerbang benteng untuk membiarkan musuh masuk dan melakukan pembantaian terhadap semua rakyat BanYue, dan aku tidak tahu mengapa kamu melepaskan ular kalajengking untuk menyerang semua orang, tapi…” Xie Lian berhenti, lalu melanjutkan, “Tapi mungkin itu karena kesan yang aku miliki tentangmu adalah dari dua ratus tahun yang lalu, jadi aku tidak pernah berpikir kamu adalah tipe orang yang bisa melakukan hal-hal seperti itu. Jadi, maukah kamu memberi tahuku apa yang sebenarnya terjadi?”

Mendengar kata-kata itu, Ban Yue berlutut, butiran air mata mulai bergulir di pipinya, “Membuka gerbang adalah kesalahanku, tetapi, Jenderal Hua, aku tidak melepaskan ular kalajengking itu.”

Xie Lian terkejut, “Apa?”

“Kekuatanku telah melemah,” kata Ban Yue, “Ular kalajengking itu tidak mendengarkanku lagi. Mereka bergerak atas kemauan mereka sendiri.”

Mendengar itu, Fu Yao menjadi tidak sabar dan memutar matanya.

Ban Yue memohon, “Jenderal Hua, aku tidak bohong.”

Sebelum Xie Lian menjawab, Fu Yao memotongnya dengan kasar. “Semua orang akan mengatakan hal-hal seperti itu setelah mereka ditangkap. Bahkan jika kamu mengatakan itu tidak disengaja, aku sudah mendengar omong kosong seperti itu sebelumnya. Semua orang yang melewati BanYue Pass jelas terluka oleh ularmu. Tunjukkan tanganmu, kamu ditahan.”

BanYue dengan diam dan mengulurkan kedua tangan. Fu Yao segera mengambil tali Pengikat Dewa dan menangkap BanYue dan Ke Mo, lalu berkata, “Baiklah. kita telah mencapai tujuan kita di perjalanan ini. Semuanya sudah berakhir sekarang.”

Saat itu, San Lang berbicara. “Dia tidak punya alasan untuk berbohong.

Xie Lian juga berpikir ada sesuatu yang harus ditanyakan lebih lanjut, dan memandang ke arah Ban Yue, “Tidak bisakah kamu mengendalikan ularmu?”

Ban Yue menggelengkan kepalanya, “Aku bisa mengendalikan mereka, dan mereka akan mematuhiku untuk sebagian besar waktu. Tetapi ada saatnya ketika mereka tidak mau mematuhi perintahku. Aku tidak tahu mengapa.”

Setelah berpikir sejenak, Xie Lian berkata, “Mengapa kamu tidak memanggil mereka dan menunjukkannya kepada kami?”

Ban Yue berdiri dan mengangguk. Segera, ular kalajengking berwarna merah anggur merayap keluar dari bawah mayat prajurit BanYue, mengangkat kepalanya dan meringkuk di atas tumpukan mayat, dan tanpa suara menjulurkan lidahnya ke arah sekelompok orang di sana.

Xie Lian hendak melihat lebih dekat pada ular itu tetapi melihat Ban Yue membelalakkan matanya, wajahnya tampak aneh. Jantung Xie Lian terjatuh dan berpikir, “Oh, tidak.”

Seperti yang dia pikirkan, setelah menjulurkan lidahnya ular itu membuka mulutnya dan menerkam ke arahnya dalam sebuah lompatan.

Itu adalah sebuah serangan yang tiba-tiba, tetapi Xie Lian sudah memasang posisi siaga, dan akan menangkap ular itu saat―boom!

Sesuatu meledak. Ketika dia kembali membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi, isi perut ular itu telah berhamburan ke tanah, hancur total. Itu adalah ledakan yang penuh perhitungan; tidak ada racun yang tumpah. Xie Lian segera teringat kejadian lain yang sama sebelumnya di mana seekor ular mati seperti ini sebelum mereka memasuki reruntuhan BanYue, tetapi tidak perlu mengatakannya lagi siapa yang melakukan ini pada sekarang. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melihat San Lang sebelum sebuah lengan merah melintas di hadapannya, menghalangi dan memisahkannya dari Ban Yue.

Di sisi lain, Fu Yao juga berkata dengan tenang, “Aku tahu dia berbohong. Apakah kamu pikir ular ini bisa berhasil menggigitnya dalam situasi seperti ini? Bodoh.”

Melihat ular itu, wajah Ban Yue berubah pucat, dan dengan putus asa menangis dan memdongak, “Aku tidak melakukannya! Aku sudah mengatakan ada beberapa ular yang tidak patuh pada perintahku, dan itu salah satunya!”

Fu Yao tidak percaya sepatah kata pun pada apa yang dikatakan oleh Ban Yue. “Siapa yang tahu apakah mereka patuh atau tidak patuh pada perintahmu?”

“Ular itu bahkan tidak dipanggil olehku.” kata Ban Yue.

Xie Lian hendak berbicara ketika dua ular kalajengking berwarna merah anggur muncul keluar dari bawah mayat yang berbeda, menjulurkam lidah mereka dan memperhatikan mereka dengan seksama. Lalu yang ketiga, keempat, kelima… ular-ular kalajengking itu terus bermunculan dari tumpukan mayat, dan dari seluruh sudut lubang di sana, datang ular kalajengking yang tak terhitung jumlahnya!

Semua orang menatap Ban Yue yang sedang berlutut di atas tumpukan mayat, dan Fu Yao mulai memunculkan dan memutar bola energi spiritual di telapak tangannya, berteriak ke arahnya, “Buat mereka pergi! Tidak mungkin mereka semua tidak patuh pada perintahmu!”

Ban Yue menutup matanya dan mulai melantunkan sebuah mantra, seolah berusaha mengusir ular-ular itu. Tetapi ular kalajengking itu muncul semakin banyak, melengkung dan merangkak, meluncur semakin dekat. Gigitan dari satu atau dua ular mungkin tidak akan membunuh mereka, tetapi sulit untuk mengatakannya jika itu adalah ratusan dan ribuan. Bahkan jika mereka tidak mati itu tidak akan terlihat indah sama sekali.

Xie Lian mengangkat pergelangan tangannya untuk memanggil Ruoye, tetapi ketika dia melihat bahwa ketika ular merayap mendekati mereka sampai di jarak tertentu, kemudian mereka akan berhenti dan tampak ragu, membentuk lingkaran aneh di sekelilingnya dan San Lang. Xie Lian menyadari hal itu dan melirik bocah di sebelahnya. Dia memperhatikan ular-ular itu dengan perasaan jijik. Ular kalajengking tampaknya bisa membaca matanya dan tidak berani mendekat. Mereka mundur sedikit demi sedikit, kepala mereka tampak menunduk saat mereka melakukannya, dan tertekan ke tanah seperti seorang pelayan.

Tetapi tampaknya ada kekuatan lain yang mengendalikan mereka, membuat mereka tidak bisa mengabaikan serangan dan pergi sepenuhnya. Dengan demikian, banyak ular berbalik dan merayap menuju Fu Yao.

Fu Yao mengayunkan tangannya dan semburan api menyembur dari lengan bajunya, membunuh lingkaran ular. Itu tidak akan bertahan lama, dan Xie Lian berkata, “Ayo naik dan keluar dari sini dulu!”

Whoosh, Ruoye melesat keluar dari lengan Xie Lian dan terbang ke atas. Tapi dengan segera, sebuah suara mendesing lain terdengar dan Ruoye kembali di lengan Xie Lian. Xie Lian terkejut dan mengangkat pergelangan tangannya, menegur kain suteranya, “Apa yang kamu lakukan di sini? Array di sini sudah dilepas, cepat dan pergilah!”

Tapi Ruoye tetap diam dan membungkus lengannya, tampak gemetaran, seolah-olah dia menabrak sesuatu yang menakutkan di atas sana. Xie Lian masih menegurnya ketika tiba-tiba, seutas tali jatuh. ‘Plop’, tali itu jatuh di bahu Fu Yao. Fu Yao segera beranjak untuk mengambilnya, dan wajahnya berubah saat dia membawa benda itu di depan matanya―itu adalah ular kalajengking lain yang jatuh dari atas!

Itu membuat Fu Yao lengah dan setelah dia digigit, dia melemparkan ular itu ke arah Ban Yue. Bahkan dengan tangan terikat, dia masih tanpa sadar mencoba menangkap ular itu, dan setelah menangkapnya, ular berwarna merah gelap itu meringkuk di lengannya dan tidak menyerang. Saat itu, suara ‘plop’ lain kembali terdengar dan seekor ular kalajengking kedua mendarat di tanah.

Xie Lian bisa menebak mengapa Ruoye menolak untuk naik sekarang.

Meminjam cahaya redup dari bulan, Xie Lian mengangkat kepalanya dan baru saja melihat pemandangan ini: ratusan titik berwarna merah anggur kecil jatuh dengan cepat ke dalam Lubang Pendosa.

Banjir ular!

Titik-titik merah itu semakin dekat dan Xie Lian berteriak, “Fu Yao! Api! Tembakan api ke atas dan singkirkan mereka dari tengah jalan!”

Fu Yao menggigit telapak tangannya untuk merobek kulitnya, mengayunkan tangannya, dan sederet darah menetes keluar, berubah menjadi tirai api, melayang ke atas lubang. Api yang segera menyapu tempat itu kemudian naik hingga lebih dari sepuluh kaki dan menggantung di udara, menghancurkan semua ular kalajengking yang menyentuhnya, mengubahnya menjadi abu, melarutkan banjir ular di sana.

Untuk sementara waktu aman, Xie Lian menghela napas lega. “Itu bagus, Fu Yao! Syukurlah berkatmu.”

Namun mantra itu menghabiskan kekuatan yang sangat besar, dan setelah satu putaran, wajah Fu Yao tampak pucat. Dia berbalik dan menyalakan cincin api, mengusir ular-ular di tanah, dan berteriak pada Ban Yue, “Dan kamu bilang ular-ular itu tidak mematuhimu? Jika bukan kamu yang mengendalikan mereka, mengapa mereka tidak menyerangmu?”

San Lang tertawa, “Mungkin itu karena nasib burukmu? Mereka juga tidak menyerang kami.”

Fu Yao berbalik untuk menatapnya, matanya menyipit saat dia memandang keduanya.

Xie Lian bisa merasakan masalah yang hendak terjadi. Dengan banyak petunjuk yang didapatnya bahwa dia tidak punya waktu untuk mengaturnya di kepalanya, dia tidak ingin melihat keduanya mulai berkelahi dan berkata, “Ayo cari tahu apa yang terjadi dengan ular-ular itu terlebih dahulu.”

Fu Yao mencemooh, “Apa yang terjadi? Entah Kepala Pendeta Ban Yue berbohong, atau orang di sebelahmu yang mulai mengatakan omong kosong.”

Xie Lian memandangi Ban Yue, lalu memandangi San Lang, dan berkata, “Aku tidak berpikir itu salah satu dari mereka.”

Nada suaranya terdengar lembut, tetapi tegas. Itu adalah kesimpulan yang dia dapatkan setelah berpikir panjang. Namun, Fu Yao pasti mengira dia sengaja melindungi mereka; wajah yang diterangi oleh nyala api itu tidak terlihat baik, Xie Lian tidak bisa memastikan apakah dia marah atau tertawa.

“Yang Mulia,” kata Fu Yao, “Jangan pernah berpura-pura ketika kamu tahu yang sebenarnya. Aku yakin kamu sudah sangat menyadari siapa sebenarnya yang ada di sebelahmu. Aku tidak akan percaya kamu tidak menyadarinya sama sekali!”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments