Penerjemah : Jeffery Liu


“San Lang, apakah kamu benar-benar baik-baik saja? Turunkan aku.” kata Xie Lian.

“Tidak.” jawab San Lang.

Xie Lian terkejut dengan jawaban itu. Apa yang sedang terjadi? Apakah ada sesuatu di tanah?

Sepasang lengan itu masih memegangnya erat-erat tanpa berniat untuk menurunkannya. Xie Lian berniat untuk mengangkat tangannya dan dengan lembut mendorong dirinya menjauh, tapi ketika dia meletakkan tangannya di dada San Lang, dia tiba-tiba mengingat bagaimana sebelumnya dia telah dengan sembarangan menyentuh seluruh bagian tubuh San Lang, bahkan sampai merasakan apel adamnya, jadi dia diam-diam menarik tangannya kembali. Sudah ratusan tahun sejak terakhir kali Xie Lian peduli terhadap perasaan ‘canggung’, tetapi sekarang ada suara di kepalanya yang mengatakan kepadanya bahwa dia sebaiknya tetap diam dan tetap berlaku sopan.

Saat itu, ratapan murka dan sedih meraung dari sisi lain lubang, dan sebuah suara berseru, “APA YANG TERJADI DENGANMU!?”

Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Ban Yue, dan mendengar suara itu, itu adalah suara dari Jenderal Ke Mo yang ikut terseret jatuh bersama Xie Lian. Karena dia sudah mati, jatuhnya tidak akan membunuhnya, hanya meledakkan kawah manusia di tanah ketika dia jatuh. Tetapi ketika dia naik dari lubang tempatnya jatuh, dia mulai berteriak, “Apa yang terjadi? Saudaraku, APA YANG TERJADI DENGANMU?!”

Ketika dia melolong ke dalam lubang dari atas tembok sebelumnya, ada ratusan dan ribuan suara yang menjawab panggilannya, seolah-olah lubang itu dipenuhi oleh para hantu yang terdengar marah dan mengancam. Akan tetapi saat ini, selain teriakan Ke Mo, Xie Lian hanya bisa mendengar keheningan total. Bahkan tidak terdengar suara napas atau detak jantung dari San Lang yang berada di sampingnya.

Xie Lian menahan napas, tiba-tiba menyadari sesuatu yang salah.

Benar. Meskipun Xie Lian ditahan tepat di depan dada San Lang, dia tidak bisa mendeteksi suara detak jantungnya atau bahkan napasnya!

Ke Mo meraung, “SIAPA YANG MEMBUNUHMU? SIAPA YANG MEMBUNUH KALIAN SEMUA!!!”

Ketika A-Zhao pertama kali jatuh, masih ada suara mengerikan dari daging yang terkoyak, tetapi setelah San Lang melompat, tidak ada lagi suara yang terdengar dari dalam lubang. Siapa lagi yang mungkin bisa melakukannya?

Ke Mo sendiri pasti sudah menyadari hal itu, dan berteriak ke arah mereka, “Orang Dataran Tengah, mati kamu! Aku akan membunuhmu!”

Meskipun dia tidak bisa melihat, Xie Lian masih bisa merasakan bahaya yang mendekat dengan cepat, dan dia menyentak tubuhnya, “San Lang, hati-hati!”

“Jangan khawatirkan dia,” kata San Lang, masih memegangnya erat-erat. Dia melangkah kecil dan berputar.

Dalam kegelapan, Xie Lian mendengar serangkaian suara pecahan yang berdentang, begitu jernih dan intens, mendesis di sana-sini. Ke Mo bergegas untuk menangkap mereka tetapi gagal pada usaha yang pertama, dan berbalik untuk menyerang lagi, tetapi San Lang juga dengan mudah kembali melangkah dan menghindarinya. Lengan Xie Lian tanpa sadar naik ke dada San Lang lagi dan berpegangan erat di pundaknya, tanpa sadar mencengkeram pakaiannya.

Tapi lengan yang membawanya masih tampak begitu stabil, bahkan dengan semua putaran dan loncatannya ke samping, pegangannya masih kuat dan terasa aman. Hanya saja, Xie Lian bisa merasakan sesuatu yang dingin dan keras di lengan remaja itu yang sesekali menusuknya, dan Xie Lian sedikit bingung.

Dalam kegelapan yang tak berujung, garis-garis berkilau dalam warna perak melintas di mana-mana, dan suara goresan logam yang tajam disertai dengan raungan marah Ke Mo. Jelas bahwa Jenderal Ban Yue terluka parah sekarang, tetapi sekuat apapun dia, dia menolak untuk mengakui kekalahannya, dan sekali lagi bergegas melesat ke arah mereka.

Xie Lian memanggil, “Ruoye!”

Kain sutra itu menjawab panggilannya dan melesat keluar, terdengar bunyi pukulan yang begitu keras di udara, dan Ke Mo tampaknya telah jatuh karena dihantam oleh Ruoye. Ke Mo berteriak dari tanah, “Kamu! Kalian berdua! Dua lawan satu! Tidak adil!”

‘Kau akan membunuh kami, siapa yang peduli apakah itu dua lawan satu, atau jika itu adil atau tidak adil? Aku akan membunuhmu lebih dulu.’ pikir Xie Lian.

San Lang di sisi lain, hanya mencibir, “Bahkan meski satu lawan satu, kamu tidak akan menang. Kamu tidak harus bertarung.” Baris terakhir ditujukan untuk Xie Lian, dan kata-katanya tidak bernada mencibir.

“Baik.” Xie Lian menjawab, tetapi juga meminta, “San Lang, kenapa kamu tidak menurunkanku. Aku akan menghalangimu jika terus seperti ini.”

“Kamu tidak menghalangiku. Jangan turun,” kata San Lang.

“Kenapa aku tidak boleh turun?” Xie Lian bertanya dengan rasa ingin tahu. Orang ini tidak mungkin menikmati pertarungan sambil menggendong seseorang bukan?

Jawaban San Lang hanya dua kata: “Tanahnya kotor.”

“…”

Xie Lian tidak pernah membayangkan itu sebagai jawaban, dengan keseriusan yang sama, dan berpikir itu agak lucu, tetapi juga membuatnya merasa agak aneh, merasa sulit untuk dijelaskan, hanya saja hatinya terasa hangat. “Kamu tidak mungkin bisa terus memelukku seperti ini?”

“Aku bisa.” jawab San Lang.

Xie Lian hanya bercanda, tetapi kata-kata San Lang tidak terdengar memiliki jejak setengah hati, dan tiba-tiba Xie Lian tidak tahu harus berkata apa. Pada saat mereka berbicara, Ke Mo tidak pernah berhenti menyerang. Kedua tangan San Lang dengan kuat memegangnya, tetapi sesuatu yang lain menahan Ke Mo, mencambuknya dan mengalahkannya. Dia berteriak sambil perlahan mundur, “Perempuan jalang itu membuat kalian berdua…”

Dia belum menyelesaikan kata-katanya sebelum ledakan besar terdengar, dan pria besar itu jatuh ke tanah, tidak lagi mampu berdiri. Xie Lian buru-buru berkata, “San Lang, jangan bunuh dia! Kita masih perlu menanyainya jika kita ingin keluar dari sini.”

San Lang mendengar kata-katanya dan berhenti. “Aku sebenarnya tidak berencana untuk membunuhnya, kalau aku berniat untuk membunuhnya, dia tidak akan mungkin bisa bertahan sampai sekarang.”

Keheningan sekali lagi menyerang Lubang Pendosa.

Setelah beberapa saat, Xie Lian bertanya, “San Lang, apakah kamu yang melakukan semua ini?”

Bahkan jika tidak ada yang terlihat dalam gelap, dengan bau darah yang begitu kuat dan suasana haus darah yang menutupi lubang, ditambah kegilaan Ke Mo yang marah, sudah jelas apa yang terjadi di sini. Keheningan sesaat terjadi di hadapan Xie Lian ketika dia mendengar jawaban San Lang.

“Ya.” katanya.

Itu adalah jawaban yang sudah diduganya. Xie Lian menghela napas, “Bagaimana aku mengatakan ini…”

Xie Lian menelan kata-katanya dan mengatur pikirannya sebelum berbicara dengan nada serius, “San Lang, lain kali jika kamu melihat lubang seperti ini, jangan hanya melompat sembarangan. Aku bahkan tidak bisa menghentikanmu. Sungguh, Aku tidak tahu harus berbuat apa.”

San Lang tampaknya tidak menduga tanggapan seperti ini dan hanya mengeluarkan “eh?” Ketika dia berbicara lagi, dia terdengar agak aneh, “Kamu tidak ingin bertanya apa-apa lagi?”

“Apa lagi yang kamu ingin aku tanyakan?” kata Xie Lian.

“Misalnya, apakah aku manusia.” jawab San Lang.

Xie Lian menggosok dahinya, “Hmm. Aku pikir itu tidak perlu.”

“Apakah tidak perlu?”

“Apakah perlu? Tidak penting apakah kamu manusia atau bukan.” kata Xie Lian.

“Oh?”

Xie Lian menyilangkan lengannya dan berkata, “Hubungan harus bergantung pada kesempatan dan apakah kita berada pada gelombang yang sama, bukan pada status sosial. Jika aku menyukaimu, kamu bisa menjadi pengemis dan aku akan tetap menyukaimu. Jika aku tidak menyukaimu, kamu bisa menjadi kaisar dan aku akan tetap tidak menyukaimu. Bukankah seharusnya seperti itu? Itu logika yang sederhana. Jadi, apakah kamu manusia atau bukan itu tidak penting.”

San Lang tertawa keras, “Ya. Kamu benar sekali.”

“Benar ‘kan?” kata Xie Lian, tertawa juga. Tetapi semakin dia tertawa, semakin dia merasa ada yang aneh, dan tiba-tiba dia sadar.

Dia masih membiarkan San Lang menggendongnya, dan yang menyeramkan adalah, dia sudah terbiasa berada di posisi ini tanpa disadarinya!

Situasi macam apa ini?? Xie Lian berdeham pelan dan berkata, “Um, San Lang. Kita bisa membicarakannya nanti. Bagaimana kalau kamu menurunkan aku terlebih dahulu?”

San Lang tampak tertawa dan berkata, “Tunggu sebentar.”

Dia membawa Xie Lian dan berjalan sebentar sebelum dengan lembut menurunkannya. Menyentuh tanah, Xie Lian bisa merasakan tanah yang keras dan rata. “Terima kasih!”

San Lang tidak memberi isyarat sebagai tanggapan, dan setelah berterima kasih padanya, Xie Lian melihat ke atas.

Di atas mereka adalah langit biru gelap dengan bulan sabit yang menggantung di sana, cerah dan indah. Hanya dengan melihat pemandangan dari bingkai persegi itu membuatnya terasa seperti katak di dalam sumur.

Xie Lian memerintahkan Ruoye untuk mencoba dan meraih puncak, tetapi tidak sesuai apa yang diharapkan, pita sutra itu berhenti di tengah jalan seolah-olah menabrak dinding yang tidak terlihat, dan Ruoye tertahan seolah-olah tidak bisa naik lebih tinggi lagi.

“Ada sebuah array di sekitar Lubang Pendosa,” kata San Lang.

“Aku tahu, tapi aku tetap ingin mencoba.” Xie Lian berkata, “Aku tidak bisa menyerah sampai aku mencoba, Kamu tahu. Aku bertanya-tanya bagaimana keadaan yang lain yang masih ada di atas sana. Apakah gadis hitam juga akan mendorong dan menyerang mereka?”

Dia menceritakan kembali bagaimana gadis yang tergantung di tiang itu tiba-tiba hidup dan mendorong semua prajurit BanYue ke dalam lubang pada San Lang, dan ketika dia berbicara dia menginjak sesuatu di tanah, tampak seperti sebuah lengan, dan Xie Lian hampir tersandung. Dia segera menenangkan diri, tetapi San Lang masih mengulurkan tangan dan membantu untuk mendukungnya, menegur, “Hati-hati.”

“Aku bilang tanahnya kotor,” San Lang menambahkan dengan acuh tak acuh.

Xie Lian sekarang mengerti apa artinya “kotor”, dan berkata, “Jangan khawatir. Aku akan menyalakan obor; melihat apa yang terjadi di sini dan mulai dari sana.”

San Lang tidak mengatakan apa-apa. Saat itu, dari kejauhan, suara dingin Ke Mo berteriak lagi, “Kalian melakukan perbuatan keji untuk jalang itu; ribuan jiwa yang mati dari kerajaan ini akan mengutukmu. MENGUTUKMU!”

Xie Lian berbalik ke arah Ke Mo dan bertanya menggunakan bahasa BanYue, “Jenderal Ke Mo, siapa itu… orang yang kamu bicarakan?”

Ke Mo menanggapi dengan kebencian, “Kenapa kamu bertanya? Tentu saja penyihir jahat itu!”

“Apakah dia seorang kultivator wanita yang berkeliaran di jalan-jalan kota?”

Ke Mo meludah dengan marah ke tanah, dan Xie Lian menganggap itu sebagai ya. Dia terus bertanya, “Bukankah kamu pendukung paling setia Kepala Pendeta BanYue itu?”

Ke Mo menjadi lebih marah mendengar itu, dan berteriak, “AKU, KE MO, TIDAK AKAN PERNAH LAGI SETIA KEPADANYA! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN WANITA JALANG ITU!!!” Setelah itu dia mulai mengucapkan serangkaian kutukan, terdengar begitu meradang dan histeris, kata-katanya cepat dan tidak bisa dipahami, dan Xie Lian hanya mampu menatapnya kosong, tidak bisa mengikutinya. Dia melihat ke arah San Lang dan dengan tenang memanggil, “San Lang, San Lang.”

San Lang menerjemahkan, “Dia mengutuk. Mengatakan bahwa wanita itu mengkhianati kerajaannya, membuka gerbang benteng dan membiarkan tentara dari dataran tengah membantai kota. Dia memiliki darah bangsanya di tangannya, dan saudara-saudaranya yang dia dorong ke lubang ini. Dia akan menggantungnya mati seribu kali. Sepuluh ribu kali.”

Mendengar itu, Xie Lian tiba-tiba berpikir ada kesalahan di suatu tempat. Ada dua hal yang tidak sesuai.

Pertama, tentang ‘kultivator wanita yang berkeliaran di jalan-jalan kota’ yang dia tanyakan sebelumnya, dan yang dia maksud adalah wanita berbaju putih. Tapi sekarang, Ke Mo terus-menerus menyebut Kepala Pendeta BanYue dengan sebutan ‘jalang’, dan mengatakan bahwa dia telah mendorong saudara-saudaranya ke dalam Lubang Pendosa. Sebelumnya, ketika gadis berpakaian hitam itu mendorong prajurit BanYue ke dalam lubang, Ke Mo juga mengumpat dan berkata “Jalang itu lagi”. Dan terakhir, “menggantungnya mati seribu kali”―Xie Lian menyadari bahwa mereka tidak membicarakan orang yang sama.

Kedua, orang yang telah mengkhianati kerajaan BanYue adalah Kepala Pendeta BanYue itu sendiri?!

Xie Lian menyela umpatan Ke Mo dan bertanya, “Jenderal, Kepala Pendeta BanYue yang kamu bicarakan itu, apakah gadis berpakaian hitam yang digantung di tiang di atas Lubang Pendosa?”

“SIAPA LAGI KALAU BUKAN DIA?” teriak Ke Mo.

“…”

Mayat kecil dan kurus yang tampak seperti gadis kecil berpakaian hitam itu adalah Kepala Pendeta BanYue yang asli! Tetapi jika itu masalahnya, siapa kultivator wanita dan teman berpakaian hitamnya, yang berjalan-jalan di jalan kota untuk membunuh mereka?

Gadis berpakaian hitam di atas jelas memiliki kekuatan yang tidak bisa diukur, dan bisa dengan mudah menyapu puluhan prajurit BanYue dan menjatuhkan mereka dari dinding ke dalam lubang, jadi mengapa dia digantung di atas Lubang Pendosa?


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments