Penerjemah: Jeffery Liu


Xie Lian menyelipkan mutiara itu dan menatapnya. Beberapa pejabat surgawi juga mulai bermunculan dari pondok raksasa dan kasar itu, “Apa yang terjadi dengan Jenderal Nan Feng?”

Tetapi kemudian mereka mendengar Feng Xin memanggil, “LIHAT SIAPA YANG AKU TANGKAP!”

Dia keluar dari hutan dan berlari, seseorang dengan pakaian hitam tercengkeram di tangannya, dan semua pejabat surgawi disana terkejut, “LING WEN!”

Yang ada di tangan Feng Xin saat ini adalah Ling Wen. Feng Xin menoleh ke arah Xie Lian, “Seperti yang kamu duga, Ling Wen pergi untuk mencuri Brokat Abadi!”

Setelah melepaskan belenggu terkutuk, kekuatan spiritual Xie Lian secara eksplosif meningkat ke titik di mana ia praktis setara dengan Jun Wu, sehingga Brokat Abadi secara alami tidak bisa melakukan apa pun padanya. Ling Wen diubah menjadi boneka daruma oleh Hua Cheng, dan menghilang selama pertempuran besar. Begitu waktu habis, mantera yang dipasangkan padanya akan dilepaskan secara otomatis, jadi dia tidak dapat ditemukan dimana pun. Namun, Xie Lian menduga dia kemungkinan besar akan datang untuk mencuri Brokat Abadi, jadi dia melepas jubah itu dan meminta Kota Hantu untuk membiarkan berita menyebar. Benar saja, Ling Wen mengambil umpan yang dilepaskan olehnya.

Bahkan sebagai buronan, ketika Ling Wen ditangkap dan dibawa ke ruang konferensi, dia masih tidak terlihat panik. Saat Pei Ming masuk, dia menekan bahunya, dan mendudukkannya di depan meja, menegur dengan suara gelap, “Kami akhirnya menemukanmu! Ling Wen, kamu harus membayar dosa-dosamu!”

“…”

Lusinan pejabat surgawi juga datang mengelilinginya, masing-masing memandanginya dengan mata setajam serigala dan sebuas harimau, ekspresi mereka haus dan kelaparan. Baru saat itu Ling Wen merasa sedikit gentar, “… Apa yang kalian semua rencanakan.”

BUK! Setumpuk laporan dan gulungan setinggi tubuh seorang lelaki dewasa dilemparkan ke hadapannya, begitu berat sampai membuat meja dan kursi bergetar. Pei Ming menampar gulungan itu dengan suara PA!, “Ini. Urus mereka. “

“…”

Ling Wen tampaknya menghela napas lega, lalu merasa bingung. Namun tanpa disangka-sangka, sebelum napasnya benar-benar terembus, ada putaran BUKBUKBUKBUKBUK! lainnya.

Setelah puluhan suara benturan berlalu, puluhan tumpukan dokumen dan laporan yang lebih tinggi dari seorang pria juga jatuh, mengepungnya.

Lusinan pejabat surgawi itu mengoceh di antara celah-celah tumpukan itu: “Kami sudah menunggumu selama berhari-hari! Sekarang cepat dan bantu pikirkan semua ini!”

“Urus juga itu.”

“Ingatlah untuk mengisi bagian yang hilang.”

“Kamu sebaiknya menyelesaikan ini dalam satu jam!” …

Ling Wen: “…”

Setelah sehari semalam, Ling Wen akhirnya dibebaskan dari ruang konferensi sementara.

Setelah satu hari dan satu malam pertempuran yang sulit, semua kekacauan yang disebabkan oleh gulungan dan laporan telah diurus, masing-masing dikategorikan dan diorganisir secara rapi di rak. Para pejabat surgawi bersorak dan masing-masing menerima rekening istana mereka sendiri dan pergi untuk memeriksa. Ling Wen di sisi lain, berwajah biru, dan lingkaran hitam di bawah matanya yang telah menghilang selama beberapa waktu telah kembali.

Di sisi lain, semua orang bersukacita karena mereka telah selesai memeriksa dua kali, dan Pei Ming memuji, “Tentu saja Noble Jie yang paling efisien! Sekarang semuanya cocok!”

“Sudah diselesaikan! Terima kasih banyak untuk Tuan Ling Wen!”

Sebagai seorang penjahat, Ling Wen tertawa sopan di antara semua pujian dari kerumunan pejabat surgawi, “Bukan apa-apa, bukan apa-apa.”

Melihat ini, semua pejabat surgawi yang tidak tengah menghitung rekening mereka di dalam aula yang kacau itu tidak bisa duduk diam lagi, dan mereka datang mengitarinya, “Um, sebenarnya, aku memiliki beberapa buku yang lupa aku berikan kepada tuanku, dan bertanya-tanya apakah mungkin kamu berkenan untuk melihatnya … “

Ling Wen: “…”

Xie Lian tengah memakan roti uap miliknya, berjongkok di luar ruang konferensi sementara, dan setelah selesai, dia menepuk tangannya dengan bersih, dan akhirnya beranjak untuk menyelamatkan Ling Wen dari penderitaan, “Semuanya, mari kita cari tahu nanti. Biarkan Ling Wen beristirahat dulu.”

Sebelumnya ketika dia berbicara, pasti tidak ada orang yang peduli, tapi sekarang segalanya tidak lagi sama. Beberapa orang menjawab, “Yang Mulia benar.” Dan tidak berani berbicara lebih banyak. Ling Wen duduk di kursinya, tangan menutupi dahinya, matanya terpejam, menunggu pejabat surgawi lainnya keluar. Setelah ruang konferensi disana mulai berubah menjadi sepi, dia berbalik ke arah Xie Lian, “Selamat, Yang Mulia, kekuatan spiritualmu telah kembali. Strategi yang bagus, sekarang, bahkan hantu adalah penyembahmu, mematuhi perintahmu, betapa tak terbayangkan.”

“Mereka bukan penyembahku,” Xie Lian menjawab, “Mereka hanya teman dari Kota Hantu. Aku hanya meminta bantuan mereka.”

Ling Wen mengangguk, wajahnya penuh pengertian. Sesaat kemudian, Xie Lian berbicara, “Ling Wen, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu.”

“Yang Mulia bisa menanyakannya,” kata Ling Wen.

“San Lang, maksudku Hua Chengzhu,” Xie Lian memulai, “Dia mengenakan Brokat Abadi milikmu, tapi Brokat Abadi itu tidak bekerja padanya, apa kamu tahu mengapa?”

“Jadi itu pertanyaannya.” Ling Wen berkata, “Aku pikir Yang Mulia sudah tahu?”

Xie Lian berkedip, “Tolong beritahu aku?”

Ling Wen meluruskan lengan bajunya, dan duduk dengan tenang, “Yang Mulia, kamu pernah mendengar tentang legenda Brokat Abadi, bukan?”

“Aku sudah mendengarnya.” Xie Lian menjawab, “Kamu membuatnya sendiri.”

“Kamu bisa mengatakannya begitu.” Ling Wen berkata, “Meskipun aku tidak pernah berpikir kebencian yang dikumpulkan pada jubah ini akan mengubahnya menjadi monster, tapi aku membunuh Bai Jing untuk mempercepat kehancuran Kerajaan XuLi, itu tidak salah.”

Xie Lian mendengarkan dengan seksama. Ling Wen melanjutkan, “Jubah ini berputar mengelilingi dunia fana, melewati tangan yang tak terhitung jumlahnya, dan setelah memegangnya, banyak orang yang memilih menggunakannya untuk membunuh, melukai, dan menipu. Meskipun ini juga bisa menghilangkan sebagian dari kebenciannya, tapi, Bai Jing bukan orang seperti itu.”

“Dia tidak suka digunakan oleh orang-orang itu, dia membenci mereka. Jadi, setiap kali dia bertemu dengan pemakai yang mirip dengannya dan orang-orang terpilih yang diberi jubah itu, kebenciannya tidak akan bergairah, dan sebaliknya, dia menjadi senang.”

“Dan pemakai dan penerima?” Tanya Xie Lian.

Ling Wen menjawab, “Kamu meletakkan Brokat Abadi pada Hujan Darah Mencapai Bunga, tetapi di dalam hatimu tidak ada satu jejak pun dari keinginanmu untuk mencelakainya, kamu mempercayainya dengan sepenuh hatimu; dan untuk Hujan Darah Mencapai Bunga, dia sama ketika itu berurusan denganmu, tidak, bahkan, dia lebih dari itu – Apa yang membuatnya merasa benar-benar selaras dengan Hujan Darah Mencapai Bunga adalah bahwa tidak masalah jika dia mengenakan Brokat Abadi, dia akan melakukan semua yang kamu minta tanpa ragu. Termasuk mati untukmu.”

“…”

“Ini juga bagaimana aku menebak bocah di sebelahmu itu adalah Hujan Darah Mencapai Bunga pada saat itu.” Ling Wen berkata, “Meskipun aku tidak tahu terlalu banyak tentang hubungan di antara kalian berdua, tapi kupikir tidak ada orang lain yang bisa seperti kalian.”

“Kenapa begitu?” Xie Lian bertanya.

Ling Wen mengangkat tangannya dan menunjuk, “Yang Mulia, apa yang ada di lehermu?”

Xie Lian terkejut, dan tanpa sadar menggerakkan tangannya untuk menutupinya.

Ling Wen berbicara, “Aku pernah melihat hal seperti itu sebelumnya, sesosok hantu yang menghadiahkan kekasih mereka abu mereka.”

Gulungan dan laporan yang tak terhitung jumlahnya telah melewati Istana Ling Wen, jadi tidak aneh kalau dia pernah melihatnya sebelumnya. Tapi sejujurnya, Xie Lian sudah menebaknya sendiri.

Tapi mendengar Ling Wen berkata begitu keras, dia masih meremas cincin sejernih kristal itu.

“Ini barang yang sangat langka.” Kata Ling Wen, “Tetapi karena terlalu indah, sering berakhir dengan tragedi, jadi kesan yang aku miliki tentang itu lebih kuat.”

“Apa maksudmu sering berakhir dengan tragedi?” Xie Lian bertanya.

“Membuat cinta membutakan alasanmu, dan memberikan benda yang terikat pada hidupmu kepada orang lain, akan memiliki banyak konsekuensi tragis dan mengerikan.” Kata Ling Wen.

“Sesuatu seperti hati yang tulus dibuat untuk diinjak-injak. Semua kenang-kenangan terbuat dari abu, beberapa dicuri oleh yang lain, beberapa dihancurkan oleh pemiliknya, pada dasarnya tidak ada yang berakhir dengan baik. Tapi, Yang Mulia adalah pengecualian. Kamu telah menyimpannya dengan baik, praktis tidak bisa ditembus.”

Setelah keheningan yang lama, Xie Lian berkata, “Kamu mengatakan ‘mirip dengannya’. Jadi, apakah Jenderal Bai Jing juga seperti ini?”

Ling Wen tersenyum ringan, “Memangnya kenapa dia bisa ditipu olehku?”

“Tapi itu bukan tipuan, kan?” Xie Lian berkata, “Tidak mungkin kamu tidak sadar bahwa aku sengaja membiarkan kata-kata itu keluar, tetapi kamu masih datang untuk mengambilnya.”

“Ini perangkat pertahanan yang bagus.” Kata Ling Wen.

“Jika itu hanya alat untuk pertahanan, kamu tidak akan melalui risiko seperti itu untuk mencurinya, dan setelah kamu gagal kamu masih membawanya ke Gunung TongLu.”

Ling Wen berkata dengan apatis, “Apa lagi yang bisa dilakukan selain membawanya ke Gunung TongLu? Kebenaranku sudah terbongkar. Yang Mulia adalah orang yang menangkap basah aku.”

“Tapi sejujurnya, jika kamu ingin mencari alasan untuk menutupinya, itu masih bekerja.” Xie Lian berkata, “Sogok sedikit saja, bahkan penurunan pangkat atau pengurangan pahala tidak akan membuat statusmu berubah menjadi buronan. Poin utamanya adalah … kamu ingin membantu Jenderal Bai Jing menjadi Golongan Tertinggi, dan membuatnya sadar, bukan begitu?”

Ling Wen tertawa kecil, “Yang Mulia, jangan katakan sesuatu seperti aku akan melakukan apa saja untuknya. Bagaimanapun, aku adalah seseorang berdarah dingin dan tidak mengenal orang yang dicintai, jadi mengapa aku harus melakukan hal seperti itu?”

“Apakah itu benar?”

“Anggap saja begitu.”

***

Xie Lian membersihkan reruntuhan tebing yang hancur di sekitar Paviliun Suci Kerajaan, dan mendirikan pondok sederhana, menggunakannya sebagai tempat tinggal sementara. Lokasinya lebih jauh dan lebih sepi. Ketika ada kebutuhan baginya, dia akan pergi ke Aula Konferensi untuk membantu, ketika tidak ada yang bisa dia lakukan, dia akan tinggal di pondok itu.

Setelah beberapa hari, Mu Qing akhirnya memperbaiki RuoYe dan datang untuk mengirimkannya. Saat Xie Lian membuka pintu, dia melihat sesuatu berwarna putih menerkamnya, dan pandangannya tertutup. Dia mengangkat tangannya untuk menarik benda itu, dan RuoYe mulai memutar dan memutar lagi, seperti memamerkan tubuh indahnya setelah dilahirkan kembali. Xie Lian menegur, “Jangan berputar seperti itu setelah baru saja diperbaiki, hati-hati jangan sampai merobek dirimu sendiri lagi.”

Saat Mu Qing mendengar ini, dia berkata, “Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Jubah milikmu yang mana yang robek setelah aku menambalnya untukmu?”

“Itu benar.” Kata Xie Lian.

Dia menangkap RuoYe yang memelintir seperti rumput laut untuk memeriksanya dengan hati-hati, dan sutera itu memang dijahit dengan sangat baik, praktis tidak ada jejak yang menunjukkan pernah robek, dan dia memuji, “Keahlianmu dalam kerajinan masih sangat menakjubkan.”

“Pujian seperti ini tidak akan membuatku senang.” Mu Qing berkata, “Aku hanya melakukan ini sekali, tidak akan ada waktu berikutnya. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi.”

‘Kamu jelas sangat bangga dengan ini …’ Pikir Xie Lian.

Mu Qing mengomel sedikit, lalu dia berkata, “Baiklah, aku sudah melakukan pekerjaanku. Aku akan pergi. Aku sedang berada di tengah-tengah mendapatkan beberapa hal dan personel untuk bisa membantu di Istana Xuan Zhen.”

“Kamu juga akan pergi?” Xie Lian bertanya, “Baiklah, aku juga akan pergi untuk membantu. Ingat untuk memberiku teriakan ketika kamu pergi, aku akan mengantarmu.”

Setelah menangkap Ling Wen, mengisi semua kekosongan yang hilang, dan membereskan semua tumpukan akun yang kacau, para pejabat surgawi akhirnya memutuskan untuk membangun kembali Ibukota Surgawi. Yang berarti, Aula Konferensi sementara di Gunung TaiCang ini juga bisa ditinggalkan sekarang. Mu Qing melambaikan tangannya, tidak menolak atau menyetujui, dan dia mengambil beberapa langkah sebelum berhenti, dan dia melihat ke belakang, “Apa kamu … masih akan tinggal di Gunung TaiCang?”

Xie Lian mengangguk, “En.”

Setelah beberapa saat keraguan, Mu Qing berbicara, “Mengapa kamu tidak ikut dengan kami?”

Xie Lian tersenyum, “Tidak, aku harus menunggu seseorang.”

“Kamu masih bisa menunggunya setelah sampai di Pengadilan Tinggi Ibukota Surgawi yang baru.” Mu Qing beralasan.

Xie Lian menggelengkan kepalanya, “Aku pikir ketika dia kembali, dia akan datang ke sini terlebih dahulu, dengan begitu aku akan bisa bertemu dengannya saat dia kembali. Jika dia tidak kembali ke tempat ini, dia mungkin kembali ke Kuil QianDeng di Kota Hantu, dan Kota Hantu tidak jauh dari sini, jauh lebih nyaman daripada Ibukota Surgawi yang baru.”

“…”

Mu Qing tampaknya telah menahan pikirannya untuk waktu yang lama sekarang, dan dia bertanya dengan ekspresi yang rumit, “Kamu benar-benar percaya dia akan kembali?”

Xie Lian menjawab seperti itu adalah hal yang paling logis di dunia, “Tentu saja.”


Orang-orang datang seperti air pasang, lalu pergi seperti air pasang. Gunung TaiCang mendapatkan kembali kesendiriannya yang sepi.

Di atas Gunung TaiCang, dulu ada bidang besar pohon maple. Mereka semua dibakar oleh api besar itu, tetapi mereka terlahir kembali setelah seribu tahun. Mereka tidak lagi sama dengan yang dilewati Xie Lian untuk berlatih sekali waktu, tapi pemandangannya sama.

Xie Lian sering berjalan-jalan di hutan maple sendirian. Seluruh gunung maple merah yang menyebar seperti api liar yang penuh gairah membuatnya merasa seolah-olah berada dalam pelukan hangat raksasa.

Dia menghabiskan lebih dari delapan ratus tahun hidup melewati hari-hari seorang diri, dia sangat terbiasa dengan itu. Ketika ada pekerjaan yang harus dilakukan, dia akan turun gunung untuk menjawab beberapa doa, mengumpulkan beberapa sampah; jika tidak ada apa-apa maka dia akan menanam sayuran, kemudian memasak makanan.

Hanya saja, yang aneh adalah, hari-hari yang dihabiskan sendirian seperti ini dulunya adalah hal yang paling normal di masa lalu, tetapi sekarang menjadi sulit untuk dilewati. Xie Lian membutuhkan waktu yang lama sebelum dia bisa terbiasa lagi.

Mungkin, ketika seseorang hanya makan sesuatu yang pahit, maka ia akan terbiasa dengan rasa pahit. Tetapi ketika tiba-tiba suatu hari, seseorang memberinya rasa manis, untuk memakan apa yang pahit dengan pikiran manis mungkin akan membawa kerutan di wajahnya.

Di masa lalu ketika Xie Lian melewati hari-harinya dengan kesederhanaan dan ketenangan, dia sering diam-diam berharap seseorang akan datang mencarinya. Mencarinya untuk sekadar mengobrol, atau mencarinya untuk meminta bantuan, setidaknya akan ada tanda kehidupan. Tapi sekarang, dia tidak begitu menyukainya lagi.

Karena, setiap kali dia mendengar ketukan di pintu, hatinya akan selalu tersentak dalam kebahagiaan, mengisinya dengan harapan. Tetapi ketika dia berlari ke pintu dan membukanya, orang yang berdiri di luar pintu masuk bukanlah yang dia tunggu-tunggu.

Terkadang Feng Xin, terkadang Mu Qing, dan terkadang Shi Qing Xuan. Terkadang, banyak hantu dari Kota Hantu di sini untuk “memberikan penghormatan kepada senior mereka”.

Semua orang sangat baik. Hanya saja, tidak satupun dari mereka yang dia tunggu.


Pada bulan pertama, Xie Lian menyeret beberapa pohon berbunga untuk ditanam di dekat pintu masuk, sedikit mempercantik lingkungan untuk menyembunyikan kekasaran pondok yang bobrok itu. Dia menduga mungkin ketika Hua Cheng kembali, mereka akan mekar.


Bulan kedua, Xie Lian merobohkan seluruh pondok dan membangunnya kembali, dan ia juga menarik semua gulma dari seluruh Gunung TaiCang. Kalau tidak, ketika Hua Cheng kembali dan melihat kekacauan ini, dia pasti akan mengirim orang untuk membantunya membersihkan.


Bulan ketiga, pohon-pohon berbunga telah mekar. Ceri merah menyelimuti pohon-pohon, dan Xie Lian berdiri di bawah mereka, kepalanya terangkat saat dia memandang. Ketika dia menikmati bunga-bunga itu, dia berpikir, bunga-bunga itu telah sepenuhnya mekar, dia harus segera pulang.


Bulan keempat, semua jalur gunung telah dibangun kembali. Dengan begitu, ketika Hua Cheng kembali untuk menemukannya, dia bisa mendaki gunung lebih cepat.


Bulan kelima, Feng Xin dan Mu Qing datang mengunjunginya lagi. Mereka bertanya apakah dia ingin meninggalkan tempat itu sebentar untuk berjalan-jalan di luar. Xie Lian menawari mereka makan dan mereka lari.


Bulan keenam, periode berbunga berakhir.


Dia menunggu dan menunggu, menunggu dan terus menunggu. Xie Lian sama sekali tidak cemas, dan dia tidak menyerah, dia juga tidak menangis. Sebaliknya, dia merasa menjadi lebih dan lebih tenang lagi, dan semakin sabar.

Memikirkan hal itu, siapa yang tidak mengalami berlalunya usia yang panjang sendirian?

Hua Cheng menunggunya selama lebih dari delapan ratus tahun, jadi apa masalahnya jika dia menunggu Hua Cheng untuk delapan ratus tahun lainnya?

Meskipun itu seribu tahun, atau bahkan sepuluh ribu tahun, dia masih akan menunggu, dan terus menunggu.

Bukankah ini masih hanya satu tahun?


Hari ini, Xie Lian mengumpulkan tumpukan besar sampah seperti biasa, dan menumpuknya di atas gerobak yang ditarik oleh seekor sapi, yang keduanya baru-baru ini disimpan dan dibeli oleh Xie Lian, dan sapi itu menariknya ke atas gunung.

Menyeberangi hutan maple, setengah jalan setapak gunung, Xie Lian memutar kepalanya kembali secara tidak sengaja, dan melihat beberapa cahaya berkilauan di langit malam.

Dia menatap mereka dalam-dalam, dan menemukan bahwa itu adalah Lentera Berkah Abadi. Kemudian dia sadar. Dia bergumam pada dirinya sendiri, “Jadi hari ini adalah Festival ShangYuan.”

Pada saat ini, semua pejabat surgawi Pengadilan Tinggi kemungkinan sedang mengadakan pertempuran lentera lagi. Xie Lian menarik kendali, dan berhenti di tempat, memandangi Lentera Berkah yang melayang di langit.

Dia tiba-tiba ingat bahwa dia dan Hua Cheng pertama kali bertemu selama Festival ShangYuan.

Tahun itu, seorang anak kecil dengan wajah tertutup kotoran dan luka terhimpit dan berdesakan dengan kerumunan, memandang ke bawah tembok kota; Putra Mahkota Xian Le yang berusia tujuh belas tahun bersinar, dan saat dia mendongak, dia melihat bayangan seseorang yang jatuh. Tanpa berpikir, dia melompat berdiri.

Festival ShangYuan yang menyenangkan, di atas Jalan Utama Dewa Bela Diri. Kesan pertama yang menakjubkan yang menyebabkan aib yang berlangsung selama berabad-abad.

Senyum menggantung di wajah Xie Lian, berpikir, dia bukan satu-satunya yang jatuh.


Berbalik, Xie Lian menundukkan kepalanya dan siap untuk terus mendaki jalan gunung. Gerobak ditarik, berderit ketika menyusuri hamparan jalan ketika tiba-tiba, jalan itu diterangi oleh sesuatu yang jauh di depan.

Xie Lian mengangkat kepalanya sekali lagi, matanya melebar.

Cahaya itu adalah lentera.

Seperti jutaan ikan yang berenang melalui ngarai ke laut, Lentera Berkah yang tak terhitung jumlahnya perlahan melayang naik dari puncak gunung.

Mereka begitu cemerlang, bersinar dan berkilauan di malam yang gelap. Mimpi yang paling indah dan sangat luar biasa, telah mencerahkan jalannya.

Xie Lian telah melihat pemandangan ini sebelumnya, dan sekarang dia melihatnya lagi, baik napas dan jantungnya bisa berhenti berdetak kapan saja. Jalur gunung berbelok, dan roda gerobak berputar. Xie Lian melihat pondok kecil bobrok yang ia bangun seorang diri.

Ada seseorang di sana!

Di depan pondok kecil yang miring itu berdiri seorang pria berpakaian merah, sosoknya tinggi dan ramping, sebuah pedang perak tergantung di pinggangnya. Punggungnya menghadap Xie Lian sementara dia mengangkat dan mengirim Lentera Berkah Abadi ke langit.

Xie Lian membeku di kursinya, bertanya-tanya apakah dia masih dalam mimpi atau apakah ini hanya halusinasinya semata. Seiring dengan putaran roda gerobak, dia semakin dekat. Pria itu berbalik, dan dia juga bisa melihatnya lebih jelas dan lebih jelas lagi.

Dengan tiga ribu Lentera Berkah yang muncul bersamaan dengan malam di belakangnya, pria itu berbalik dan menatapnya. Jubahnya semerah daun maple, kulitnya seputih salju; garis-garis wajah yang begitu tampan itu masih tidak bisa ditatapnya terlalu lama, dan masih tercermin aura kenakalan dan kebanggaan yang tidak bisa disingkirkan.

Meskipun dia mengenakan penutup mata hitam, tapi mata yang seterang bintang-bintang itu menatap Xie Lian tanpa berkedip.

Xie Lian bergegas turun.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keduanya mulai berjalan ke arah yang lain.

Satu langkah, satu langkah lagi, setiap langkah lebih cepat dari yang berikutnya, lalu akhirnya, mereka mulai berlari.

Dia berlari ke depan sementara air mata jatuh dan tertinggal di belakangnya. Xie Lian menyuarakan dalam hatinya, dia percaya.


Dia percaya bahwa pria ini akan mati untuknya berulang kali, dan akan terlahir kembali untuknya berulang kali pula. Bahkan jika dia jatuh ke kedalaman neraka, dia akan menerobos jurang untuk ‘kepercayaan’-nya.

Terakhir kali, mereka menghabiskan delapan ratus tahun berlari menuju satu sama lain.

Kali ini, hanya butuh sesaat untuk jatuh ke pelukan masing-masing.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Suci Elvina
Suci Elvina
8 months ago

Aaaaa sweet