Penerjemah: Jeffery Liu


Detik berikutnya, Xie Lian langsung meraih Hua Cheng, menuntut dengan khawatir, “San Lang?! Apa yang sedang terjadi?”

Hua Cheng masih tampak begitu tenang dan menjawab, “Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit berlebihan.”

Xie Lian tercengang, “… Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih cepat, bagaimana mungkin ini bukan apa-apa??”

Ini semua adalah karena kekuatan spiritual, ini semua adalah karena kekuatan spiritual itu!

Ketika Hua Cheng mentransfer kekuatan spiritual miliknya kepada Xie Lian, dia melakukannya seolah-olah semua itu berasal dari sumber yang tak terbatas, semuanya habis untuk diambilnya, selalu tersenyum ceria seolah sesuatu seperti itu bukan sesuatu yang menjadi beban baginya. Tapi, itu tidak seperti kekuatan spiritualnya sendiri adalah gunung pasir yang terbawa oleh gelombang yang bergulung, jadi bagaimana mungkin kekuatan spiritual milik Hua Cheng tidak terbatas dan tidak ada habisnya?

Hua Cheng tidak bisa disalahkan karena tidak mengatakannya lebih cepat, tetapi Xie Lian sendiri yang seharusnya disalahkan karena tidak menyadarinya lebih awal. Xie Lian merasa sangat menyesal dan panik, “Aku akan mengembalikannya kepadamu.”

Dia menangkup wajah Hua Cheng dan menciumnya. Feng Xin dan Mu Qing yang pada awalnya berencana untuk mendekat, ketika mereka melihat adegan ini, mereka langsung menarik diri dan mundur puluhan meter jauhnya, menjaga jarak, membiarkan mereka berdua melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Belenggu terkutuk milik Xie Lian berhasil dilepaskan, sehingga dia mati-matian mencoba untuk mentransfer semua kekuatan spiritual yang bisa dia kumpulkan kepada Hua Cheng, berharap dia segera pulih. Tapi, setelah menciumnya untuk sementara waktu, ketika dia melepaskannya, lengan jubah merah Hua Cheng dan sepasang vembraces perak itu masih tembus cahaya, bahkan mulai setengah transparan!

Xie Lian terguncang untuk waktu yang lama, ketakutan menyalip di benaknya, dan dia secara tidak sadar meraih wajah Hua Cheng, menangkupkannya siap untuk menciumnya lagi ketika Hua Cheng, cepat dengan tangannya, membelainya dan memberinya kecupan kecil, tersenyum, “Meskipun aku senang gege sudah mau mengambil inisiatif sendiri, tetapi kamu tidak perlu lagi memberiku kekuatan spiritual. Tapi, jika gege bukan hanya meminjamkan kekuatan spiritual dan hanya ingin menciumku, aku tidak keberatan sama sekali. Bahkan, semakin banyak semakin baik, aku menyambutnya dengan tangan terbuka.”

“…”

Xie Lian mencengkeramnya erat, di ambang kekalutan pikirannya dia berkata, “Apa yang terjadi?”

“Hanya istirahat sebentar, itu saja. Gege, jangan takut.” Hua Cheng menjawab,

Xie Lian mencengkeram kepalanya, “Bagaimana mungkin aku tidak takut? Aku akan menjadi gila!”

Dengan kepribadian yang dimiliki Hua Cheng, jika itu bukan masalah besar, hingga serius sampai-sampai dia tidak bisa menyembunyikannya lagi, mengapa dia membiarkan Xie Lian melihatnya seperti ini?

Kekuatan spiritual yang begitu melimpah sehingga bisa menghancurkan dua belenggu terkutuk, seberapa besarnya itu? Mengatakan itu sama banyaknya dengan lautan tidak akan berlebihan, jadi bagaimana mungkin dia tidak terpengaruh sedikit pun?

Mereka mengalami begitu banyak kesulitan sebelum semua kekacauan ini diselesaikan, dan semua simpul diikat. Komunikasi dibuka antara dia, Feng Xin dan Mu Qing. Belenggu terkutuk yang telah mengikatnya selama delapan ratus tahun juga telah dibebaskan. Semua yang dia selalu ingin akui kepada Hua Cheng semuanya telah diakui.

Namun ketika dia berbalik untuk kembali ke wajah penuh senyum itu, apa yang menyambutnya adalah sosok Hua Cheng yang menjadi seperti ini, jadi bagaimana mungkin dia tidak takut? Dia mungkin saja menjadi gila!

Feng Xin dan Mu Qing melihat jika ada yang salah, dan memanggil dari jauh, “Yang Mulia? Apa yang terjadi?” Mereka berlari beberapa langkah, mendekat, tetapi kemudian karena suatu alasan mereka berhenti di tengah jalan, merasa seolah-olah mereka tidak boleh terlalu dekat. Pada saat ini, Xie Lian telah berhenti memedulikan orang lain. Dia mencengkeram Hua Cheng, jantungnya hampir berhenti, “APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN?”

Hua Cheng diam-diam menghela napas, mengulurkan tangannya, dan sekali lagi menenggelamkannya ke dalam pelukannya, “Yang Mulia, aku selalu memperhatikanmu.”

Ini adalah kedua kalinya dia mengatakan ini, tetapi suaranya kini lebih lembut dari sebelumnya. Xie Lian mencengkeram jubah merah di dadanya, bertanya, benaknya kosong, “Aku tahu, aku tahu. Tapi … Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Jemari Hua Cheng yang panjang dan ramping menyisir rambut lembut Xie Lian, “Kalau begitu, Yang Mulia, apakah kamu tahu mengapa aku menolak meninggalkan dunia ini?”

Xie Lian tidak bisa mengerti mengapa Hua Cheng masih bisa begitu tenang di saat seperti ini, karena bahkan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar karena panik. Tetapi sementara pikirannya merasa tersesat, ia masih dengan sederhana bertanya, “Kenapa?”

Hua Cheng menjawab dengan tenang, “Karena aku memiliki orang terkasih yang masih berada di dunia ini.”

Mendengar ini, Xie Lian sedikit terkejut.

Dia sepertinya pernah mendengar ini di suatu tempat sebelumnya.

Hua Cheng melanjutkan, “Orang terkasihku adalah seseorang yang pemberani, mulia, dan istimewa. Dia menyelamatkan hidupku, aku sudah memperhatikannya sejak aku masih muda. Tapi, aku ingin lebih mengejar dia, dan menjadi orang yang lebih kuat baginya. Meskipun, dia mungkin tidak akan bisa mengingatku dengan baik. Kami tidak pernah benar-benar saling berbicara. Aku ingin melindunginya.”

Dia menatap Xie Lian, “Jika mimpimu adalah untuk menyelamatkan semua orang, maka, mimpiku, hanyalah kamu.”

“…”

Mengandalkan ingatannya, Xie Lian bertanya dengan suara bergetar, “… Tapi …. Kamu tidak akan, bisa beristirahat dengan tenang …. jika seperti itu…?”

Hua Cheng menjawab, “Aku berdoa untuk tidak pernah beristirahat dengan tenang.”

Pada saat itu, semua napas Xie Lian berhenti, membeku di detik ini. Dia samar-samar bisa mendengar dua suara, satu bertanya, yang lain menjawab.

“Jika orang terkasihmu tahu kamu tidak bisa beristirahat dengan tenang karena dia, dia mungkin merasa bersalah.”

“Kalau begitu aku tidak akan membiarkan dia tahu mengapa aku tidak pergi.”

“Setelah melihat begitu banyak, semua itu akan diketahuinya cepat atau lambat.” Kata Xie Lian.

“Lalu aku tidak akan membiarkan dia tahu aku juga melindunginya.”

Bola api hantu itu. Di malam lentera itu, api hantu kecil yang lemah itu dibelinya dengan beberapa sen. Api hantu yang ingin menariknya keluar dari pemakaman di malam musim dingin yang membeku. Api hantu yang menghalanginya di depan Si Putih Tanpa Wajah dan tidak akan membiarkannya mendekati bahaya. Api hantu yang berteriak dalam siksaan baginya pada saat seratus pedang menembus jantungnya!

Hua Cheng berkata pelan, “Yang Mulia, aku mengerti segalanya tentangmu.”

“Keberanianmu, keputusasaanmu; kebaikanmu, rasa sakitmu; dendammu, kebencianmu; kecerdasanmu, kebodohanmu.”

“Jika aku bisa, aku rela kamu menggunakan aku sebagai batu loncatanmu, jembatan yang kamu gunakan untuk menyeberang, tulang yang bisa kamu injak untuk memanjat, orang berdosa yang pantas mendapatkan pembantaian satu juta pedang. Tapi aku tahu kamu tidak akan mengizinkannya.”

Dia berkata ketika jubah semerah daun maple itu perlahan memudar.

Tangan gemetar Xie Lian berusaha meraihnya, dan dia tidak pernah berhenti mentransfer kekuatan spiritual, tetapi, bahkan saat itu dia tidak bisa mencegah Hua Cheng yang terus perlahan memudar.

Matanya menjadi kabur, ucapannya terhuyung, dan dia tergagap, “… Baiklah jangan katakan lagi, aku mengerti … tapi, tapi jangan seperti ini, oke? San Lang? Aku … Aku sudah meminjam begitu banyak kekuatan spiritual milikmu yang bahkan belum aku kembalikan padamu. Dan, sebenarnya aku belum mengatakan semua hal yang ingin aku katakan sebelumnya kepadamu, ada masih banyak hal yang ingin aku katakan. Sudah begitu lama sejak ada seseorang yang mau benar-benar mendengarkan aku berbicara, tidakkah kamu akan tinggal? Jangan … benar-benar melakukan ini. Aku tidak akan bisa menerimanya. Dua kali, sudah dua kali! Aku benar-benar tidak ingin ada yang ketiga kalinya!!!”

Hua Cheng sudah menghilang dari dunia ini dua kali karena dia!

Namun, Hua Cheng hanya menjawab, “Untuk mati dalam pertempuran untukmu adalah kehormatan terbesarku.”

“…”

Kata-kata itu seperti pukulan fatal. Air mata di mata Xie Lian tidak bisa lagi ditahan, dan mereka mengalir keluar.

Seolah-olah dia bergantung pada jerami terakhir hidupnya, dia memohon, “Kamu bilang kamu tidak akan pernah meninggalkan aku.”

Namun, Hua Cheng menjawab, “Yang Mulia, semuanya pada akhirnya akan berakhir.”

Xie Lian menundukkan kepalanya dan membenamkannya jauh ke dalam dadanya, jantung dan tenggorokannya dalam kesakitan yang menyempit, tidak dapat berbicara.

Namun segera setelah itu, dia mendengar Hua Cheng berkata di atasnya, “Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Mendengar ini, kepala Xie Lian terangkat.

Hua Cheng berkata kepadanya, “Aku akan kembali. Yang Mulia, percayalah.”

Meskipun suaranya tegas, wajahnya yang pucat tetap redup, perlahan menjadi transparan. Xie Lian mengulurkan tangan, ingin menyentuh wajahnya, tetapi ujung jarinya menembus udara. Dia terkejut, lalu mendongak.

Mata Hua Cheng tampak begitu lembut dan menyala-nyala, pandangan mata itu dipenuhi dengan cinta, menatapnya diam-diam. Dia sepertinya mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang terdengar. Xie Lian tidak menyerah, mengulurkan kedua tangannya, mencoba untuk merebutnya lebih dalam ke pelukannya, ingin mendengar lebih jelas.

Tetapi sebelum dia bisa mengerahkan kekuatannya, seseorang yang dia pegang, dan yang memegangnya, telah menghilang.

Dalam sekejap, di depan matanya, Hua Cheng hancur menjadi ribuan kupu-kupu perak, berubah menjadi semilir bintang-bintang berkelip-kelip yang tidak bisa dia peluk maupun pegang.

Lengan Xie Lian menjadi kosong, masih mempertahankan posisi merangkul, tidak menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali. Dia tidak tahu apakah itu karena dia belum sadar atau karena dia tidak bisa bergerak sama sekali, dia berlutut di sana dalam rangkaian kupu-kupu yang mirip mimpi itu, matanya melebar.

Lebih jauh ke bawah, Feng Xin dan Mu Qing tidak pernah membayangkan adegan seperti ini akan dimainkan, dan kedua wajah mereka memucat, bergegas maju, “YANG MULIA!”

Feng Xin adalah yang pertama berbicara, “KENAPA SEMUANYA MENJADI SEPERTI INI?! BUKANKAH DIA BAIK-BAIK SAJA SEBELUMNYA? APAKAH ITU KARENA BELENGGU TERKUTUK ITU??”

Mu Qing tertatih-tatih dan melompat, tetapi dia tidak bisa melompat, jadi dia hanya melihat ke atas, berteriak pada kupu-kupu perak disana, “HUJAN DARAH MENCAPAI BUNGA! JANGAN BERCANDA, JIKA KAU TIDAK MATI, CEPAT KELUARLAH!”

Tentu saja, kupu-kupu perak itu tidak menjawabnya, dan mereka terus berkibar-kibar tak menentu, mengepakkan sayap mereka terbang menuju langit. Feng Xin mengulurkan tangan untuk menarik Xie Lian, tetapi Xie Lian tetap duduk di tanah seperti batu. Feng Xin juga tidak tahu harus berbuat apa, “Apa ada yang bisa kita lakukan untuk membantu? Apa kamu membutuhkan kekuatan spiritual? Bisakah dia diselamatkan? Apa yang harus kita lakukan???”

Namun, Mu Qing sudah mengerti segalanya hanya dengan melihat, “Lupakan, tutup mulutmu! – Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang.”

Cahaya berkilauan, berkelap-kelip menyelimuti udara, sayap-sayap kupu-kupu berkilau, seperti reuni pertama mereka setelah delapan ratus tahun.

Seekor kupu-kupu perak terbang, dengan ringan menyentuh dan menyapu punggung tangannya, pipinya, dahinya, penuh kerinduan dan kasih sayang, seolah-olah mereka membisikkan ucapan selamat tinggal kepadanya. Xie Lian mengulurkan tangannya dengan kaku, dan membiarkan kupu-kupu perak itu hinggap untuk sesaat di tangannya.

Kupu-kupu perak itu tampak senang, mengepakkan sayapnya, dan cukup yakin jika dia berada disana untuknya. Tapi kupu-kupu itu tidak bisa bertahan lama, dan tidak butuh waktu lama sebelum kupu-kupu perak itu kembali terbang berhamburan bersama angin.

Namun, di jari ketiga Xie Lian, benang merah cerah itu masih terikat dan berada di sana.

.

.

.

.

.

.

“Lalu?”

“Selesai.”

“Selesai?”

“Sudah selesai.”

Pei Ming akhirnya tidak bisa menahan diri lagi, “Itu tidak mungkin. Bagaimana itu bisa terjadi? Bahkan seorang amatir sepertiku bisa mengatakan jika semua itu tidak mungkin?”

Mu Qing menjatuhkan jurnal laporan pembukuan yang berat di atas meja dan berkata, “Itu yang aku hitung, dan aku sudah selesai. Aku bisa menghitungnya lagi di sini, Jenderal Pei tolong dengarkan dengan baik: Singkirkan delapan juta, delapan ratus delapan puluh ribu pahala, kemudian tambahkan enam juta, enam ratus enam puluh juta pahala, dan tambah tujuh belas ratus juta dan dua ratus ribu, lalu kurangi … “

Feng Xin angkat bicara, “Baiklah, itu sudah cukup, kamu tidak perlu menghitungnya lagi. Angka-angkanya benar, tetapi pasti ada sedikit yang tertinggal. Karena jika bukan itu masalahnya, tidak ada angka yang bertambah!”

Mu Qing membalas, “Kalau begitu itu bukan masalahku, bagaimanapun aku tidak salah. Mungkin semua orang harus menemukan orang lain untuk melakukan penghitungan ulang? Jika aku tahu semuanya akan menjadi seperti ini, aku akan mengurus urusanku sendiri.”

Setelah Ibukota Surgawi dihancurkan, para pejabat surgawi yang tercerai-berai dan kacau akhirnya berkumpul kembali, mendirikan sebuah bangsal di puncak Gunung TaiCang, tempat dimana tidak ada manusia yang peduli, dan mendirikan Pengadilan Tinggi sementara disana. Saat ini, para pejabat surgawi sedang panas membahas pembangunan kembali Ibukota Surgawi yang baru.

Namun, hal yang disayangkan adalah, tidak hanya api besar menghanguskan semua istana emas yang mulia dan penuh semangat dari semua pejabat surgawi, hal itu juga memaksa mereka untuk bersatu dan mendirikan tenda sementara untuk berdiskusi dan beristirahat, sejumlah gulungan dan laporan juga menghilang dengan hebatnya. Mereka saling bertengkar dan menyeret, dan hal itu berlangsung selama berhari-hari, dan bahkan sekarang mereka masih belum bisa meluruskan akun apa pun!

Salah satu lengan Pei Ming digantung dalam gendongan saat tangan lainnya mengusap dagunya, “Apa ini hanya imajinasiku saja, atau apakah Xuan Zhen memang semakin sinis hari ini?”

Feng Xin menjawab, “Bukankah dia selalu sesarkastis ini? Dia terlalu malas untuk menyembunyikannya sekarang.”

Mu Qing memutar matanya dan semua orang mengarahkan jari mereka padanya, “SOPAN SANTUN!”

Mu Qing berbalik untuk pergi. Tubuh Quan Yi Zhen dibalut sepenuhnya dengan perban, sebuah ketan berbentuk humanoid yang dibungkus dengan daun, hanya memperlihatkan kepala yang penuh dengan rambut keriting yang berantakan, dan kata-katanya bergumam tidak jelas, “Baiklah apa yang akan kita lakukan sekarang? Siapa yang akan melakukan penghitungan itu?”

Semua orang saling memandang, masing-masing membersihkan tenggorokan mereka, dan diam-diam mundur. Tidak ada yang mau mengambil tugas ini yang merupakan kerja keras dengan gaji kecil. Melihat ini, Pei Ming menghela napas, “Haah, kalau saja Ling Wen ada di sini. Tidak peduli apapun yang terjadi, tidak ada yang bisa mengeluh dengan cara yang dia lakukan dalam mengatur sesuatu. Semua kekacauan laporan ini tercetak dalam benaknya, bahkan jika Istana Ling Wen terbakar, tidak akan ada yang perlu ditakutkan. Dia pasti akan menunjukkan hasil dalam sehari.”

Setelah berjuang di gunung terkutuk ini begitu lama, sebagian besar sudah berpikir begitu dalam di dalam pikiran mereka, mereka hanya tidak berani mengatakannya dengan keras. Namun, sekarang ada seseorang yang memimpin, mereka semua setuju, “Ya!”

“Aku tidak akan pernah mengatakan Istana Ling Wen tidak efisien lagi!”

“Aku sudah tidak mengatakan itu dalam waktu yang lama …”

Saat itu, seseorang di luar datang untuk mengumumkan, “Semua orang, Tuan Master Hujan telah datang!”

Mendengar ini, semua pejabat surgawi tampak bersorak, dan segera pergi untuk menyambutnya tanpa disuruh, hanya ekspresi Pei Ming yang tidak terbaca. Dia tampak ragu sejenak, tetapi pada akhirnya masih memilih untuk tidak keluar. Detik berikutnya, suara lain datang, “Yang Mulia! Kamu juga datang!”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments