Penerjemah: Jeffery Liu


Mu Qing bergumam, “Bagaimana mungkin sesuatu seperti ini bisa terjadi? Bagaimana bisa ada begitu banyak …???”

Bahkan jika ada seseorang yang mampu meledakkan dan menghancurkan belenggu terkutuk hanya dengan menggunakan kekuatan spiritual, kenapa mereka tidak pernah mendengarnya?!

Hua Cheng menarik Xie Lian yang terjatuh ke tanah, “Gege, cobalah bertarung lagi!”

Tepat pada saat yang sama, Jun Wu datang menerjang dengan sebuah pedang yang masih ada dalam genggamannya, dan Xie Lian tanpa sadar mengangkat tangan untuk menamparnya. CLUNG-! Zhu Xin hampir dikirim terbang!

Serangannya ini benar-benar berbeda dari sebelumnya!

Xie Lian memandangi tangannya sendiri, merasa sedikit bingung. Ratusan tahun sudah berlalu sejak dia merasakan perasaan yang sama seperti perasaannya kali ini, dia hampir lupa, bahwa ini adalah dirinya.

Benar-benar tak terkalahkan sampai-sampai dia tidak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri, setiap langkah yang diambilnya akan mengguncang gunung. Satu langkah yang diambilnya bisa menempuh ribuan mil, satu langkah yang diambilnya mampu membuatnya naik ke surga!

Dia mengepalkan tangannya, dan dengan keras meninju wajah Jun Wu!

Sejak pertempuran ini dimulai, wajah Jun Wu selalu tidak tersentuh. Pukulan ini berhasil mengenainya, dan akhirnya, setetes darah mengalir dari sudut bibirnya. Jun Wu meludah, dan melirik sedikit darah ini.

Detik berikutnya, dia melemparkan tangannya dan melemparkan Zhu Xin ke samping.

Sepertinya, dia akan bertarung dengan XIe Lian dengan tangan kosong!

Xie Lian melemparkan tinju lain, tetapi Jun Wu menangkap pukulannya, memutarnya. Rasa sakit yang intens menyebar, dan lengan Xie Lian patah. Namun, dia langsung memperbaikinya sendiri, dan mengirimkan pukulan lain, tetapi berhasil ditangkap oleh Jun Wu. Xie Lian melihat segalanya tidak berjalan dengan baik dan berpikir untuk merebut Fang Xin yang dibuang oleh Jun Wu sebelumnya. Tentu, Jun Wu juga berpikir dia akan mengambil langkah ini, dan menghalangi jalannya.

Namun, dia lupa masih ada Feng Xin dan Mu Qing di belakangnya. Meskipun keduanya setengah lumpuh, mereka berdua berencana untuk menyelinap dan mengambil pedang Fang Xin. Tindakan mereka sudah sangat halus dan ringan, namun seolah-olah Jun Wu mengawasi mereka, dia menggerakkan tangannya ke belakang dan mengecam. Jembatan di bawah kaki mereka langsung retak, dan keduanya jatuh, jatuh ke aliran lava!

Pada detik terakhir, sebuah tangan menangkap sepatu bot Feng Xin, dan Feng Xin menangkap sepatu bot Mu Qing. Ketika dia mendongak, dia berteriak, “BRENGSEK!!! BENAR-BENAR BRENGSEK!!! TUAN KEPALA PENDETA TUA, TOLONG JANGAN PERNAH LEPASKAN KAMI, OKE!!!”

Orang yang berhasil menangkap mereka memang adalah Kepala Pendeta. Pembuluh darah dengan keras muncul di dahinya, “JADI TERNYATA KAU MASIH INGAT AKU ADALAH SENIOR KALIAN! KALAU BEGITU CEPAT DAN MEMANJATLAH!”

Sementara bagian jembatan itu rusak oleh Jun Wu, Xie Lian mengangkat tangan untuk mengaitkannya kembali, dengan paksa menjaganya tetap di udara. Dia ingin menariknya ke atas, tetapi Jun Wu tidak akan memberinya ruang untuk itu. Ketiganya hanya dua puluh, tiga puluh kaki jauhnya dari lava yang terus berputar, bahkan telinga mereka bisa mendengar suara gelembung udara yang berguling-guling. Mu Qing tergantung di bagian paling bawah, dan dia dalam posisi di mana kepalanya menghadap ke bawah, kakinya berada di atas, sedikit menakutkan, dan jika mereka tidak hati-hati, lava akan menghanguskan kepalanya. Uapnya mendidih, wajahnya merah seperti batu bara panas, Mu Qing berteriak, “CEPAT, TARIK AKU!”

Namun tanpa disangka-sangka, dua orang di atasnya belum menyentaknya dua kali sebelum dia berteriak lagi, “TUNGGU! JANGAN TARIK AKU!”

Mendengar ini, Kepala Pendeta jengkel, “APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN!”

Feng Xin berteriak, “APA KAU SERIUS? BAIK, AKU AKU AKAN MELEPASKANMU!”

Mu Qing mengutuk, “APA-APAAN INI BRENGSEK, CEPAT LEPASKAN KALAU KAU BERANI SIALAN, AKU SERIUS. LIHAT KE BAWAH! LIHAT, PEDANGNYA!”

Dua lainnya melihat ke arah yang ditunjuknya, dan melihat tepat di bawah mereka ada pedang panjang berwarna hitam yang menempel di jantung aliran lava, perlahan tenggelam. Itu adalah Fang Xin yang hendak mereka curi tetapi terjatuh akibat guncangan jembatan yang dilakukan oleh Jun Wu sebelumnya!

Mu Qing mengulurkan tangan dan mencoba dengan gila mengayunkan tangannya untuk bisa mencapai pedang itu, seperti dia sangat berharap dia adalah siamang, tapi dia tidak bisa mencapainya sama sekali, “TURUNKAN AKU SEDIKIT, SEDIKIT LAGI DAN AKU BISA MERAIHNYA!!!”

Nadi di dahi Kepala Pendeta berdenyut lebih keras sekarang, “KALIAN DUA ANAK MUDA, JANGAN TERLALU MEMAKSANYA, AKU HANYALAH KUMPULAN TULANG TUA SEKARANG!”

Dia berkata ketika dia menurunkan sedikit sepatu bot di tangannya, dan wajah Mu Qing mulai mendekat ke permukaan aliran lava. Rambutnya tergelincir ke bawah, dan ujung untaiannya terbakar. Feng Xin berseru, “BRENGSEK, RAMBUTMU TERBAKAR!!! SEMUANYA AKAN TERBAKAR!!!”

Beruntung Mu Qing pada akhirnya berhasil menarik pedangnya, dan ketika dia menampar api kecil di rambutnya, dia melemparkan lengannya, mengirimkan pedang itu terbang dengan percikan lava ke arah Xie Lian, “XIE LIAN, TANGKAP!”

Xie Lian juga mengayunkan lengannya dan menangkap gagang Fang Xin!

Adapun Kepala Pendeta, dia berada di ujung batasnya saat itu, “AKU TIDAK BISA MELAKUKANNYA LAGI, KALIAN BERDUA, CEPATLAH NAIK!”

Feng Xin melihat Kepala Pendeta yang sedikit bergetar dan menyadari keadaan menjadi semakin buruk, jadi dia menarik Mu Qing dan melemparkannya dengan paksa, “CUKUP DENGAN SEMUA OMONG KOSONG DAN SIKAP PLIN PLANMU ITU!”

Dilemparkan seperti ini, Mu Qing hendak melemparkan sebuah pukulan besar ketika tepat di bawah kolam lava, beberapa roh-roh penuh kebencian yang meleleh tiba-tiba datang melompat keluar!

Roh-roh penuh kebencian itu seperti seekor ikan yang melompat keluar dari air, dan mereka melompat, memegangi dada Feng Xin. Jika bukan karena cahaya spiritual yang melindungi tubuhnya, Feng Xin mungkin akan terbakar. Mereka ditakuti oleh panah Feng Xin sebelumnya, dan dendam terkubur di hati mereka. Mereka dengan diam-diam menyelam dan bersembunyi di dalam lava, mengikuti mereka sampai ke tempat itu, dan sekarang mereka berhasil menangkap kesempatan ini untuk menyeretnya ke bawah. Tanpa peringatan, Kepala Pendeta juga diseret ke bawah oleh kenaikan berat badan yang tiba-tiba ini, tergelincir ke bawah. Kali ini, giliran Mu Qing yang berada di posisi paling atas, dan dia menangkap sepatu bot yang dikenakan Kepala Pendeta.

Feng Xin sudah terluka, dan bahkan ada beberapa anak panah pada tubuhnya yang lupa belum dilepaskan. Dia bertarung dengan roh-roh penuh kebencian di bawah dengan tangan kosong, tetapi pada saat yang sama sadar jika orang-orang di atas yang memeganginya bisa melonggarkan genggaman mereka kapan saja jika dia bertarung terlalu keras, jadi itu adalah pertarungan yang sangat pasif. Semakin banyak roh-roh penuh kebencian yang meleleh berkumpul di bawah, bergantian menyerang satu sama lain ketika mereka berpegangan padanya, seperti mereka sedang berperang tarik menarik melawan Kepala Pendeta dan Mu Qing. Kekuatan kedua belah pihak tidaklah lemah, dan jika ini terus berlanjut, Feng Xin pasti akan terbelah menjadi dua!

Feng Xin meraung, “BISAKAH KITA CEPAT MENYELESAIKAN SEMUA INI??”

Mu Qing balas berteriak, “DIAMLAH!” Tiba-tiba, dia merasakan beban di tangannya menjadi semakin ringan, dan tampaknya roh-roh penuh kebencian itu akhirnya melepaskan genggaman mereka pada Feng Xin, jadi dia dengan cepat menarik dua lainnya.

Begitu mereka sudah selamat dan berada di atas jembatan, napas Feng Xin terengah-engah, masih tampak terguncang. Teriakan dan raungan datang dari roh-roh penuh kebencian yang di bawah mereka, dan kelompok itu melihat ke bawah. Mu Qing dan Kepala Pendeta berkata serentak, “Feng Xin, itu putramu!”

“…”

Benar saja, di antara roh-roh penuh kebencian yang diliputi warna merah membara, ada sesosok makhluk pucat melompat-lompat, gila-gilaan merobek mereka dengan giginya.

Roh-roh penuh kebencian itu adalah hantu berumur paling tidak dua ribu tahun, ditambah lagi mereka telah terikat dalam kelompok, jadi mengapa mereka takut akan antek kecil yang bahkan tidak bisa dianggap sebagai bayi? Menggaruk dan menggigit, tubuh janin itu dulunya berwarna putih dingin, tapi sekarang terbakar dan berdarah di seluruh tubuhnya, warna merah menyelimutinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan roh janin itu mengeluarkan suara lolongan yang mengerikan, tidak sedikit pun menyedihkan, dan hanya membuat orang merasa ngeri. Namun Feng Xin meledak.

Dia meraung marah, “BETAPA MEMALUKANNYA, SEKUMPULAN ORANG DEWASA MENGGANGGU SEORANG ANAK KECIL! CUO CUO! CEPATLAH KEMARI!”

Roh janin itu tidak bisa mengalahkan begitu banyak roh penuh kebencian itu dan rasa takut mulai tumbuh di dalam hatinya. Mendengar bahwa seseorang akan berdiri di pihaknya, roh janin itu mengeluarkan jeritan aneh dan melompat ke bahu Feng Xin. Feng Xin melepas busurnya dan menarik keluar anak panah dari dadanya sendiri, menembakkannya secara berurutan, mengirimkan aliran lava berputar dan bergulung dalam ledakan. Roh janin itu di sisi lain, melompat dan memekik di pundaknya, seperti sedang terangkat dan bersorak-sorai. Di sisi lain, Xie Lian melihat mereka telah lolos dari bahaya dan akhirnya menjadi lebih santai. Saat dia hendak fokus bertarung dengan Jun Wu lagi, dia tiba-tiba merasakan dadanya menegang.

Jun Wu telah berhasil menangkapnya dan menguncinya dari belakang, “Bukankah aku sudah mengatakan ini sebelumnya? Di mana kamu pikir kamu mempelajari semua keterampilan milikmu? Aku tahu segalanya tentang gerakanmu!”

Dengan kuncian ini, jika Xie Lian tidak bisa berjuang keluar darinya maka dia akan terjebak sampai mati. Tapi, setiap gerakan yang dia bisa pikirkan untuk membebaskan diri, Jun Wu pasti bisa memikirkannya juga!

Saat itu, dia mendengar Hua Cheng berseru, “Gege, jangan takut! Kamu pasti memiliki gerakan yang tidak dia ketahui! Sebuah gerakan yang bisa kamu lakukan tetapi tidak bisa dia lakukan!”

Tiba-tiba, cahaya menyala di pikiran Xie Lian.

Apakah dia punya satu?

Ya!

Jika dia tidak bisa membebaskan diri, maka dia tidak akan melakukannya!

Dia berbalik di dalam pegangan Jun Wu, menghadap musuh, dan membalikkan Jun Wu di pegangannya, mengucapkan setiap kata dengan penuh keyakinan, “Aku yakin kamu tidak tahu gerakan ini!”

Dengan Jun Wu yang ada di genggamannya, dia membawa kedua tubuh mereka dan dengan paksa membantingnya ke dinding batu dengan kekuatan tak tertandingi!

Dia menggunakan semua kekuatannya dalam hantamannya kali ini, dan dalam deburan batu yang bergemuruh, dia juga mendengar suara sesuatu yang pecah.

Suara itu datang dari Jun Wu.

Armor putihnya benar-benar hancur!

Tepat pada saat yang sama, Jun Wu membebaskannya, dan meraung marah, “ENYAHLAH! ENYAHLAH KALIAN SEMUA!!!”

Xie Lian mendongak dan hawa dingin turun di punggungnya. Apa yang masuk dalam visinya, dan membuat Jun Wu marah, adalah beberapa wajah yang muncul di wajah Jun Wu.

Tiga wajah itu keluar lagi!

Xie Lian mengangkat pedangnya lagi, dan menikamnya tepat ke jantung Jun Wu, memakukannya ke dinding batu!

Darah menyembur dari mulut Jun Wu.

Xie Lian telah menyuntikkan kekuatan spiritual sebanyak yang dia bisa kumpulkan dalam serangan ini, dan seketika Jun Wu ditikam oleh ledakan kekuatan spiritual. Tidak peduli seberapa kuat kemampuannya untuk memulihkan diri, mustahil baginya untuk pulih dari pukulan ini!

Gunung itu runtuh.

Jun Wu dipaku dan tergantung di dinding berbatu pada awalnya, tapi begitu gunung berbatu itu runtuh dia sekarang berbaring di tanah.

Namun dia masih belum menyerah. Dia membalikkan tangannya dan mencengkeram gagang Fang Xin, sepertinya hendak menulis kata-kata di atas bilahnya. Itu adalah mantra alami yang harus dihentikan. Namun, tepat ketika Xie Lian mengangkat tangannya, Kepala Pendeta bergegas berseru, “Yang Mulia! Lupakan saja, lupakan saja!”

Gerakan Xie Lian berhenti, tidak tahu siapa yang dia panggil, atau siapa yang dia minta untuk melupakannya. Jun Wu terbatuk seteguk darah lagi, mengamuk, “MENJAUH DARIKU!”

Kepala Pendeta berlutut di sampingnya dan berkata, “Yang Mulia, tolong lupakan saja. Sungguh, biarkan semuanya pergi. Tidak ada artinya melanjutkan pertarungan ini.”

“Apa yang kamu mengerti?! ENYAHLAH!” Teriak Jun Wu.

“Kamu benar, aku tidak mengerti apapun.” Kepala Pendeta berkata, “Sudah bertahun-tahun berlalu; kamu sudah menjadi dewa dan kamu sudah menjadi raja iblis. Semua yang harus dibunuh sudah mati, semua yang kamu inginkan sudah ada di tanganmu, jadi mengapa kamu melakukan ini pada dirimu sendiri? Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apa yang ingin kamu buktikan?”

Mendengar ini, kilatan kebingungan muncul di wajah Jun Wu.

Tapi kebingungannya tidak berlangsung lama sebelum dia dengan keras mencekik leher Kepala Pendeta, berteriak, “BERHENTI MENCOBA MENCERAMAHIKU! KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENCERAMAHIKU! TIDAK ADA YANG PUNYA HAK UNTUK MELAKUKANNYA!”

Jun Wu saat ini tidak memiliki kekuatan yang cukup, jadi tidak sulit bagi Kepala Pendeta untuk melepaskan diri dari cengkeraman ini. Xie Lian baru saja akan menyelamatkan Kepala Pendeta, ketika, Kepala Pendeta mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar dia tidak bergerak, dan melanjutkan, “Yang Mulia.”

Jun Wu memelototinya dengan dingin tetapi tangannya tidak mengendur.

Bahkan jika dia tidak memiliki kekuatan yang cukup sekarang, meremas leher Kepala Pendeta masih merupakan tugas yang mudah, sangat berbahaya. Namun, Kepala Pendeta membiarkannya mencekik lehernya seperti ini, dan berkata, “Ajaran yang kuberikan pada Yang Mulia tidak pernah dimaksudkan untuk memelihara kamu yang tidak pernah berjalan di jalan yang salah, kemudian menggunakan dirinya untuk mempermalukan dirimu. Dia adalah dirinya sendiri, dan kamu adalah kamu. Kamu adalah orang yang berbeda sejak dulu, dan dengan jalan yang berbeda pula, dan itulah hal yang paling alami. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, tetapi kamu tidak pernah percaya padaku. Bagaimana kalau sekarang?”

Jun Wu menatapnya, tidak berbicara sepatah kata pun.

“Aku benar-benar sangat merindukan Yang Mulia.” Kepala Pendeta berkata, “Aku merindukan Kerajaan Wu Yong, aku merindukan orang-orang kita, dan aku merindukan hari-hari sebelum kita naik. Itu saja.”

“…”

Kepala Pendeta kemudian menambahkan, “Sudah bertahun-tahun berlalu, Yang Mulia. Hanya memperhatikanmu membuatku lelah. Sangat lelah. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu tidak kelelahan?”

Sebagai dewa bela diri nomor satu dari tiga alam, penampilan dan sikap Jun Wu selalu sempurna, tidak ternoda oleh kekotoran apapun. Namun sekarang, dengan semua cahaya miliknya yang memudar entah apakah Xie Lian memperhatikannya atau tidak, bahkan tanpa tiga wajah itu, kulit Jun Wu terlalu pucat.

Konturnya terlalu dingin dan keras, lingkaran hitam berbayang di bawah matanya, tampak muram; tidak ada kebaikan maupun kelembutan yang dipancarkannya ketika cahaya menerangi wujudnya.

Tapi, dia yang sekarang, akhirnya tampak hidup. Bahkan jika dia tampak sakit-sakitan.

Kepala Pendeta berkata dengan lembut, “Yang Mulia, kamu sudah kalah. Sekarang bebaskanlah dirimu.”

“…”

“Apa aku sudah dikalahkan?” Jun Wu terdengar agak bingung.

Gelombang kekuatan spiritual yang terlalu kuat menerobos kubah gua berbatu, dan sinar matahari yang samar datang berhamburan dari atas.

Tampaknya ada gumpalan kecil hujan yang melayang di udara. Jun Wu berbaring telungkup di tanah sementara Xie Lian berdiri, mengawasinya dari atas, dan dia benar-benar melihat sedikit kelegaan yang terpancar di wajah Jun Wu, seolah-olah ada beban berat yang dilepaskan.

Dia hanya bisa bertanya-tanya, mungkin, dikalahkan oleh seseorang untuk mengakhiri hari-hari penuh keputusasaan dan kegilaannya ini adalah harapan terbesar Jun Wu jauh di dalam lubuk hatinya.

Sesaat kemudian, Jun Wu tiba-tiba bertanya, “Gerakan itu. Apa namanya?”

“…”

Xie Lian mengangkat lengan bajunya dan menyeka darah di sisi wajahnya, “Menghancurkan batu besar di dada.”

Jun Wu terkejut, lalu seolah-olah dia memikirkan sesuatu, dia terkekeh, lalu menghela napas, menutup matanya, “Sangat cantik.”

Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi semua orang bisa tahu bahwa kelelahan yang tak terduga telah menyusulnya.

Xie Lian akhirnya memindahkan tangannya dari gagang Fang Xin. Sekarang, dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk langkah selanjutnya, jadi dia tanpa sadar menatap Hua Cheng. Hua Cheng masih berdiri di tempat yang sama, pada satu-satunya bentangan Jembatan Penyeberangan Surga yang belum runtuh, dan diam-diam menunggunya dengan tangan disilangkan untuk waktu yang lama. Melihat Xie Lian memalingkan kepalanya, dia balas menatapnya dan tersenyum.

Kepala Pendeta duduk tak bergerak di sebelah Jun Wu dan berkata, “Yang Mulia, kalian semua harus pergi sekarang.”

Dia tidak berniat untuk bangun sama sekali, dan Xie Lian bertanya, “Master, apa kalian tidak akan pergi?”

Kepala Pendeta menggelengkan kepalanya, “Aku akan menemani Yang Mulia. Bagaimanapun, di masa lalu, aku tidak tinggal di sisinya.”

Hujan turun lebih deras, menyapu wajah Jun Wu yang tengah beristirahat, menyapu kehidupan dan darah yang mengalir dari luka-lukanya.

Saat hujan mengguyur, Xie Lian merasakan ketiga wajah manusia di wajahnya sepertinya sedikit demi sedikit mulai memudar. Atau mungkin itu hanya imajinasinya.

Setelah hening sejenak, Xie Lian melepas topi bambu yang dipanggul di punggungnya, dan melemparkannya dari tangannya, menutupi wajah Jun Wu.

Belenggu terkutuk di pergelangan tangan Mu Qing telah patah dengan sendirinya, dan dia menendang benda itu ke dalam lava sebelum sikap dingin dan tenang miliknya kembali dengan susah payah. Namun, roh janin di bahu Feng Xin melompat turun, dan menggunakan keempat anggota tubuhnya merayap di wajah Jun Wu, dengan hati-hati menyentuhnya, sikapnya benar-benar berbeda dari ketika dia menginjak wajah Feng Xin, dan Feng Xin menghentakkan kakinya sendiri dengan marah.

Namun Xie Lian, tidak peduli dengan hal lain, dia langsung berlari ke arah Hua Cheng dengan wajahnya yang babak belur, seperti dia telah dilahirkan kembali – sebenarnya, itu adalah pelarian yang dekat dari kematian, dan dia menerjangnya, “SAN LANG!”

Hua Cheng baru saja mengulurkan tangan ke arah Xie Lian sebelum dia segera didorong mundur satu langkah oleh terjangan ini. Dia melingkarkan lengannya di sekelilingnya dan tersenyum senang, “Gege, kamu tahu? Sudah kukatakan padamu kamu pasti akan menang, bukan?” Lalu dia mengangkat wajah Xie Lian dan memeriksanya dengan hati-hati sebelum menghela napas, “Kamu membuat dirimu seperti ini lagi.”

Di mana jari-jarinya membelai, kupu-kupu perak kecil berkibar dan luka di wajahnya memudar. Xie Lian juga tersenyum bahagia sebagai tanggapan, “Aku tidak akan melakukannya lagi lain kali!”

Hua Cheng mengangkat alisnya, pura-pura bersikap dingin dan keras, “Tidak ada lain kali.”

Setelah jeda, Xie Lian menarik senyumnya dan bertanya dengan serius, “San Lang, sebelumnya di Gunung TongLu, aku mengatakan setelah kita keluar ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, apa kamu masih ingat?”

Hua Cheng tersenyum, “Tentu saja aku masih ingat. Aku ingat semua yang gege katakan kepadaku.”

Xie Lian menundukkan kepalanya, dan keheningan itu berlangsung selama beberapa saat sebelum dia akhirnya mengumpulkan keberaniannya dan berbicara dengan jujur, “Sebelumnya, Jun Wu sudah membocorkan sedikit, dan itu terkait dengan masalah yang ingin aku bicarakan ini. Sejujurnya, aku seharusnya mengatakan ini padamu sejak lama, aku hanya ragu tidak akan pernah bisa menyelesaikannya, karena aku takut kamu akan tahu … “

Hua Cheng melanjutkan untuknya, “Takut kalau aku tahu Yang Mulia hampir menjadi Bencana Berpakaian Putih, ‘kan?”

“…”

Xie Lian bingung, “Kamu …?”

Hua Cheng tidak menjawabnya secara langsung, dan hanya menekuk satu lutut ke tanah di depannya, mengangkat kepalanya untuk menatapnya, tersenyum dengan bersenandung, “Bagaimana dengan ini? Gege, dengan ini, apakah kamu ingat sekarang?”

Bagaimana mungkin dia tidak mengingatnya?

Pada saat itu, hantu tanpa nama itu juga sering membungkuk dengan satu lutut ke tanah di depannya seperti ini!

Topeng tersenyum pucat itu menutupi wajah tersenyum Hua Cheng saat ini. Jantung Xie Lian bergetar, lututnya menekuk, dan dia merosot ke tanah di depannya, bergumam, “… San Lang … itu, itu adalah kamu!”

Hua Cheng tertawa kecil dan mempertahankan postur satu lutut ke tanah, dan satu mata yang tersisa menatapnya dalam-dalam, “Yang Mulia, aku selalu memperhatikanmu.”

Xie Lian masih hanya bisa mengucapkan satu kata, “Kamu … kamu …”

Dia akhirnya mengerti apa arti semua kata-kata yang tampaknya tidak disengaja dari Hua Cheng.

Jadi begitulah. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Wu Ming adalah Hua Cheng!

Dia sudah tahu segalanya. Dia telah melihat segalanya. Dia sudah ada di sana selama ini!

Tiba-tiba, ribuan emosi, jutaan kata menyerbu kepalanya. Ada rasa syukur, ada rasa malu, ada sakit hati, ada kegilaan, tapi di atas segalanya, ada cinta yang tak tersembuhkan.

Hati Xie Lian begitu penuh sehingga bisa meledak kapan saja, tetapi tidak ada satu kata pun yang bisa mengekspresikan perasaannya saat ini, jadi dia hanya bisa melemparkan dirinya ke dalam pelukannya dengan paksa, berteriak, “SAN LANG!”

Seolah-olah hanya kata itu yang bisa diucapkannya, dan dia berteriak lagi, “SAN LANG!”

Hua Cheng terjatuh dari pegangan, dan duduk bersamanya di tanah, memeluknya, tertawa terbahak-bahak. Semua ketakutan dan kekhawatiran dari sebelumnya telah tersapu. Xie Lian melingkarkan lengannya di lehernya dengan erat, tertawa, merasa seperti dia akan menangis.

Tetapi sebelum air mata jatuh, dia tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang sangat salah.

Sementara Hua Cheng adalah hantu, tubuhnya tidak pernah berbeda dari orang normal.

Namun, ketika dia memegang Hua Cheng sekarang, jubah merah yang sebelumnya bisa dilihatnya dengan jelas itu kini sedikit memudar.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments