Penerjemah: Jeffery Liu


Kepala Pendeta berteriak ke arah Hua Cheng, “ANAK MUDA, JANGAN REMEHKAN LAWANMU! Wujudnya yang sekarang lebih sulit untuk dihadapi daripada Si Putih Tanpa Wajah! Selain itu, kamu memiliki keuntungan dengan memiliki senjata yang lebih baik sebelumnya, tetapi sekarang tidak lagi! “

Benar saja, semua luka di tubuh Jun Wu lenyap dalam satu sapuan, dan seluruh tubuhnya benar-benar sudah pulih dari luka-lukanya sebelumnya. Dia melirik Kepala Pendeta dan tersenyum, “Mengajari orang lain tentang bagaimana menghadapiku di depanku, aku tidak akan membunuhmu, tapi kamu sekarang menjadi lebih berani.”

Senyum itu dibubuhi nada peringatan. Kepala Pendeta berhenti berbicara, tetapi balas menatapnya. Xie Lian berbicara, “Jangan khawatir, San Lang tidak pernah meremehkan lawan-lawannya.”

Dia lebih tahu tentang ini. Bahkan jika senyum di wajah Hua Cheng seolah-olah tak kenal takut dan kurang ajar, tangannya tidak akan pernah bisa tenang.

Jun Wu menatap pedang di genggamannya, berbicara dengan lembut, “Zhu Xin, sudah lama tidak bertemu.”

Fang Xin – atau lebih tepatnya, sekarang harus disebut Zhu Xin, mengeluarkan erangan yang dalam dan tenang di tangannya.

Xie Lian selalu berpikir bahwa Fang Xin sudah terlalu tua sehingga tidak mudah digunakan, siapa yang tahu jika pedang itu akan diambil darinya begitu saja suatu hari nanti, namun ia tidak pernah berpikir bahwa di tangan tuannya dulu, aura dan kekuatannya sama sekali berbeda dari ketika pedang itu berada di tangannya sendiri!

Setiap kali Zhu Xin dan E-Ming bentrok, seluruh Jembatan Penyeberangan Surga akan berguncang, seolah-olah jembatan ini bisa runtuh dan jatuh ke lava setiap saat. Dibandingkan dengan sebelumnya, kekuatan, daya serang, dan kecepatan Jun Wu jelas lebih besar. Meskipun Hua Cheng masih mampu menyamai langkahnya untuk saat ini, alisnya masih sedikit terjalin, ekspresinya semakin tajam. Raut tertegun dan penuh kecemasan terpancar pada wajah beberapa orang yang menonton pertarungan mereka dari jauh.

Karena, setiap serangan yang dikirimkan Jun Wu langsung diarahkan ke mata kanan Hua Cheng!

Hua Cheng berhasil menahannya dua kali, tetapi serangan pada kali keduanya itu benar-benar hanya berjarak beberapa senti, dan dengan segera dia menyadari jika Jun Wu berulang kali menggunakan serangan yang sama, seolah-olah dia telah menentukan jika mata kanannya adalah kelemahan Hua Cheng, dan dia hendak merusaknya lagi. Setiap kali ia menerjang, tentu saja Hua Cheng membela diri dengan semua yang dimilikinya, dan memblokirnya berulang kali. Tetapi dengan perkembangan ini, bukankah mereka akan tenggelam dalam tarik menarik tanpa ada yang bisa dicapai?

Seolah-olah mata E-Ming merasakan bahaya, dia menjadi sangat marah. Bilah seperti batu giok hitam datang menyerang lagi dan terdengar suara CLING! – Hua Cheng belum mengangkat saber miliknya untuk menangkis serangan itu, tetapi Jun Wu jelas telah menghunuskan pedangnya.

Dengan pakaian serba putih, Xie Lian memblokir serangan itu dengan berdiri di depan Hua Cheng.

Dia menggunakan kekuatan tangkisannya untuk mengibaskan pisau dingin Zhu Xin!

Xie Lian masih belum bisa duduk diam, dan memutuskan untuk memasuki pertarungan. Dia terampil dalam bidang menangkap pedang dengan tangan kosong, tapi ini adalah pertama kalinya dia menangkap dan menangkis pedang jahat seperti itu. Dengan hanya gerakan ringan, setengah dari lengannya hampir mati rasa, terutama telapak tangannya, indera perasanya baru kembali setelah dia mundur beberapa langkah dan dia mengibaskan tangannya. Di belakangnya, Hua Cheng berbicara, “Gege?”

“Ayo lakukan ini bersama-sama!” Kata Xie Lian.

Keduanya berdiri saling membelakangi, mengarahkan kehendak mereka untuk bertarung melawan pihak lain. Melihat ini, senyum Jun Wu tumbuh lebih besar, “Oh?”

Xie Lian berkata dengan pelan, “Kamu ambil yang atas dan aku akan ambil yang bawah!”

Tepat saat dia menyelesaikan kalimatnya, keduanya berpisah, satu naik dan satu turun, menyapukan serangan mereka ke arah Jun Wu. Xie Lian tahu betul gaya serangan Jun Wu, dan samar-samar bisa menebak bagaimana dia akan menyerang selanjutnya, jadi dia berkata, “Hubungkan!”

Hua Cheng mengikuti perintahnya, dan pedang itu berbelok. Benar saja Jun Wu hampir jatuh pada triknya, dan Xie Lian kemudian menginstruksikan, “Ledakan!”

Hua Cheng mengikuti perintahnya lagi, dan kali ini dia tidak menggunakan pedangnya, tetapi menggunakan tangan kosongnya untuk mengumpulkan kekuatan spiritualnya dan meledakkan sasarannya. Benar saja, pundak Jun Wu berhasil dipukul, sosoknya melemah untuk sesaat, dan jika bukan karena kecepatannya yang luar biasa, kedua gerakan itu mungkin akan berakibat fatal baginya. Saat mereka bertarung, Xie Lian tiba-tiba menyadari sesuatu; Hua Cheng adalah salah satu Golongan Tertinggi, dengan keterampilannya, mengapa dia membutuhkan bantuan Xie Lian? Sungguh sesuatu yang mengerikan, kebiasaan lamanya telah keluar, dan dia dengan cepat meminta maaf, “Maafkan aku! Kamu tidak perlu mendengarkan kata-kataku lagi!”

Namun Hua Cheng, hanya tersenyum senang, “Semua yang dikatakan Gege kepadaku adalah keputusan terbaik, jadi mengapa aku tidak mendengarkanmu?”

Tiba-tiba, jembatan itu runtuh, dan Hua Cheng tiba-tiba kehilangan pijakan, tampak seperti dia akan jatuh. Xie Lian melangkah ke tiang jembatan dan melepaskan Ruoye, membungkusnya di sekitar tubuh Hua Cheng dan menariknya kembali. Detik berikutnya, dia merasakan aura dingin di lehernya – dengan sekejap mata Jun Wu kini berdiri di belakang punggungnya, meletakkan tangan di bahunya, “Xian Le, sungguh keterampilan yang baik.”

Dia terlalu dekat, Xie Lian bisa merasakan rambutnya berdiri. Hua Cheng berseru, “Gege!”

Dia melemparkan tangan kirinya, dan E-Ming datang melayang di udara. Xie Lian bereaksi sangat cepat, menundukkan kepalanya, dan E-Ming menyapu bagian atas kepalanya saat terbang, menebas ke arah Jun Wu yang ada di belakangnya. Saat itulah Jun Wu melepaskan tangan di bahunya, dan Xie Lian menggunakan kesempatan ini untuk melompat kembali ke sisi Hua Cheng. Seperti sebuah boomerang, E-Ming kemudian kembali ke tangan Hua Cheng. Keduanya bekerja bersama dengan mulus, dan orang-orang yang melihat mereka dari arah samping hanya bisa melihat tiga bayangan muncul di sana-sini seperti kilat, begitu cepat, benar-benar tak terbayangkan dan bahkan bisa membuat siapapun mati lemas hanya dengan melihatnya. Sementara itu. Tawa Jun Wu bergema di atas kepala semua orang, di seluruh gua lava itu, seolah-olah dia tengah memberi semangat kepada mereka, “Bagus. Bagus sekali! Teruskan!”

Mu Qing terus berusaha menghindari daerah jembatan yang berjatuhan, sambil berbicara dengan nada penuh kengerian, “Kepala Pendeta! Apa … apa dia sakit mental? Dia tertawa?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya!” Kepala Pendeta berkata, “Dia lebih buruk daripada gila, dia bahagia! Ini hanyalah permulaan!”

Di sisi lain, setelah mendapatkan Zhu Xin, Jun Wu benar-benar seperti seekor harimau dengan sayap. Xie Lian melihat sosoknya yang terus menyerang mata kanan Hua Cheng dengan pedang yang masih tergenggam di tangannya dan dia merasakan sebuah teror penuh peringatan. Mencambuk RuoYe, Xie Lian berusaha menyibukkan gagang Zhu Xin. Namun tiba-tiba, Jun Wu membalikkan cengkeraman dan menariknya, dan seluruh tubuh Xie Lian terbang ke arahnya.

Xie Lian terkejut pada awalnya, tapi dia segera tenang kembali. Lagipula dia bisa menyambar pedang itu, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, tubuhnya melesat langsung menuju bilahnya, pikirannya memainkan semua ratusan gerakan yang mungkin akan mereka lakukan dalam sekejap. Namun tanpa diduga, di tengah udara kosong, sebuah tangan lain menangkapnya dan menariknya kembali. Xie Lian mendarat dan melihat ke belakang, dan sosok tampan Hua Cheng berdiri di depannya, melindunginya, sebuah pedang batu giok hitam menembus jantungnya.

Melihat pemandangan ini, Xie Lian hampir pingsan tersedak, “SAN LANG?!”

Wajah Hua Cheng agak gelap. Jun Wu masih menunggu Xie Lian untuk menikam dirinya sendiri ke arah pedang Zhu Xin, tetapi melihat bahwa serangan itu berhasil diblokir, dia menarik pedangnya dan mundur, tampak agak kecewa. Xie Lian benar-benar lupa bahwa Hua Cheng adalah hantu, jadi bahkan jika sebuah lubang raksasa ditikamkan melalui dadanya, dia masih bisa melompat-lompat dengan penuh kegembiraan, dan bahkan sekarang dia masih khawatir, kedua tangannya menutupi luka yang tak dapat disembuhkan di dada Hua Cheng., “San Lang, a … apa yang kamu lakukan, tiba-tiba?! …”

Hua Cheng menjawab, “Memangnya kamu pikir aku akan membiarkanmu ditikam lagi di depan mataku sendiri!”

Untuk beberapa alasan, nadanya sedikit terlalu ekstrim, dan Xie Lian sedikit terkejut, tapi suara lembut Jun Wu datang, “Mengapa kamu sekhawatir itu, Xian Le? Bukan berarti dia bisa merasakan sakit. Dia tidak lain adalah seorang lelaki yang sudah meninggal.”

“…” Dan dia berani mengingatkan Xie Lian tentang ini!

Xie Lian memutar kepalanya untuk memelototinya, hatinya berkobar karena amarah, “Dan bukankah ini semua adalah salahmu?!”

Namun Jun Wu, hanya mencibir, “Apakah ini semua salahku?”

Setelah mendengar balik pertanyaan ini, Xie Lian tiba-tiba bingung.

Jun Wu mengganti topik pembicaraan, “Mungkin. Tetapi, Xian Le, apakah ini karena kamu sudah berada di dunia fana begitu lama sehingga kamu lupa apa yang telah kamu lakukan? Apakah kamu masih ingat apa yang kamu lakukan setelah Xian Le jatuh?”

“…”

Senyum yang sangat bermakna muncul di wajah Jun Wu, dan dia berkata perlahan, “Apakah kamu masih ingat, hantu bernama Wu Ming?”

Wajah Xie Lian tiba-tiba kehilangan semua warnanya, dan dia berkata tanpa berpikir, “JANGAN!”

Kepala Pendeta merasakan ada sesuatu yang salah dan berseru, “Yang Mulia, apa yang dia katakan? Apa yang kamu lakukan setelah Xian Le jatuh?”

Xie Lian merasakan teror aneh, dan dia memandang Hua Cheng, lalu pada Jun Wu, dan kegeraman yang sebelumnya dia rasakan sekarang berubah menjadi ketidakpastian. Hua Cheng langsung meraihnya, dan menenangkan dengan suara rendah, “Tidak apa-apa, Yang Mulia, jangan takut.”

Feng Xin juga berseru, “Ya, tetap tenang dan bertahanlah!”

Mu Qing di sisi lain, lebih tajam tentang ini dan bertanya, “Apa maksudnya? Hantu? Hantu apa?”

Tapi bagaimana mungkin Xie Lian bisa bertahan?

Itu adalah hari-hari paling buruk dalam hidupnya, dan dia melakukan perbuatan yang paling dia sesali hingga saat ini. Bahkan dia sendiri tidak berani memikirkannya lagi. Setiap kali topeng pucat setengah tersenyum-setengah menangis dan bermata seperti bulan sabit itu muncul di benaknya, ia tidak akan bisa tertidur, dan hanya bisa meringkuk seperti bola, begitu putus asa karena tidak ada yang bisa melihatnya selain dia.

Hua Cheng sudah melihat sosok Xie Lian yang diliputi dalam kemuliaan, sudah melihat sosok Xie Lian yang dikalahkan dalam peperangan, sudah melihat sosok Xie Lian yang bodoh dan konyol, sudah melihat sosok Xie Lian yang miskin. Itu semua bukan apa-apa.

Tapi, dia mungkin belum pernah melihat sosok Xie Lian yang berguling di dalam lumpur kotor, Xie Lian yang berteriak dan mengumpat, Xie Lian yang penuh dendam dan kebencian, Xie Lian yang berencana untuk memusnahkan Kerajaan Yong An untuk membalas dendam, sosok Xie Lian yang akan menciptakan Penyakit Wajah Manusia untuk kedua kalinya!

Masa hidupnya itu terlalu cabul untuk dilihat kembali. Jika ini adalah masa lalu, jika Si Putih Tanpa Wajah bahkan ingin mengungkapnya, dia tidak peduli. Tapi sekarang, Xie Lian sama sekali tidak ingin tahu ekspresi wajah macam apa yang akan ditunjukkan Hua Cheng ketika dia mengetahui bahwa Xie Lian telah melalui masa seperti itu dalam hidupnya.

Karena dia tidak sebaik yang dipikirkan Hua Cheng. Dia bukan sosok yang sama sekali tidak ternoda oleh setitik pun kekotoran, maupun sosok yang suci dan murni. Bahkan jika Hua Cheng mungkin hanya menunjukkan sepotong ketidakpercayaan setelah mengetahui fakta itu, Xie Lian mungkin tidak akan pernah bisa hidup seperti dirinya lagi, dan tidak akan pernah memiliki wajah untuk melihat Hua Cheng lagi!

Saat dia memikirkan hal ini, wajah Xie Lian berubah menjadi pucat tak terkendali, keringat dingin bergulir dari dahinya, dan tangannya gemetar. Melihat bagaimana dia bereaksi, cengkeraman Hua Cheng di tangannya semakin erat, dan dia berkata dengan penuh keyakinan, “Yang Mulia, jangan takut. Ingat? Yang diliputi dalam kemuliaan tanpa batas adalah kamu; yang jatuh dari kasih karunia juga adalah kamu. Yang penting adalah ‘kamu’, dan bukan ‘bagaimana’ keadaanmu. Tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu bisa memberi tahuku apa saja.”

Untuk mengakhiri kalimatnya, dia menambahkan dengan lembut, “Kamu sendiri yang mengatakannya padaku.”

Xie Lian sedikit menenangkan dirinya, tetapi Jun Wu membusungkan tawa dan berkata perlahan, “‘Tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.’ Orang-orang paling setia yang percaya padaku, sahabat-sahabat terbaikku, mereka juga pernah mengatakan hal itu kepadaku.”

Wajah Kepala Pendeta berubah, dan Jun Wu juga menatapnya, “Tapi, pada akhirnya, seperti yang kamu lihat. Tidak ada yang bisa benar-benar melakukan apa yang mereka janjikan.”

Tampaknya Kepala Pendeta tidak tahan melihatnya lagi dan memalingkan wajahnya. Hua Cheng memohon, “Percayalah padaku, Yang Mulia. Kamu percaya, ‘kan?”

Bukan karena Xie Lian tidak mau percaya padanya.

Tetapi, itu karena dia tidak berani untuk mencobanya.

Pada akhirnya, Xie Lian menelan ludahnya sendiri dengan susah payah dan memaksa dirinya untuk tertawa, lalu dia merasa dia tidak boleh tertawa dan menggantung kepalanya, suaranya bergetar, “… San Lang, kenapa kamu tidak … Maafkan aku, aku, aku mungkin … “

Hua Cheng menatapnya sejenak, lalu mulai berbicara kembali, “Aku sebenarnya …”

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, gelombang niat membunuh yang begitu intens datang menerjang, dan keduanya melompat terpisah. Indera Xie Lian kembali, dan beberapa warna kembali ke wajahnya, “Ada apa dengannya? Kenapa dia bahkan lebih … “

Lebih cepat, lebih kuat?

Dibandingkan dengan bentuk Si Putih Tanpa Wajah dari sebelumnya, sekarang, kecepatan dan kekuatan Jun Wu telah berlipat ganda, dan itu bahkan masih bisa tumbuh lebih cepat dan lebih kuat lagi; mereka bisa merasakan dengan jelas lonjakan mengerikan ini dengan setiap serangan yang dilakukannya!

Mu Qing juga memperhatikan hal lain, dan dia berteriak, “YANG MULIA! BERHATI-HATILAH DIA MENGUBAH TAKTIK SERANGANNYA! DIA TIDAK MENYERANG HUJAN DARAH MENCAPAI BUNGA LAGI … DIA SEKARANG HANYA MENYERANGMU!”

Tentu, Xie Lian juga memperhatikan ini. Hanya ada Ruoye di tangannya, dan ketika Ruoye melihat Fang Xin, pita sutera itu menyusut kembali, tidak dapat menyerang secara langsung. Untungnya, E-Ming dengan sempurna memblokir setiap gerakan yang digunakan Jun Wu untuk melawannya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Dhe aishen
Dhe aishen
6 months ago

Ngosh ngosh’an bca ny