Penerjemah: Jeffery Liu


Itu adalah suara senjata yang retak!

Semua yang ada di sana dengan tergesa-gesa melihat ke arah asal suara itu, dan melihat pedang di tangan Hua Cheng baik-baik saja, tetapi pedang panjang yang dipegang oleh Si Putih Tanpa Wajah telah dihancurkan menjadi dua oleh serangan Hua Cheng!

Bola mata pada pedang E-Ming menatap Xie Lian, berputar kencang dan terus berderak, tampak seperti tengah menunjukkan dirinya di depan Xie Lian dan merasa sangat senang sampai seperti pedang itu akan naik. Hua Cheng tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan santai, “Tidak apa-apa. Gege benar-benar tidak perlu khawatir.” Lalu dia berkata kepada Si Putih Tanpa Wajah, “Dan mengapa aku harus peduli dengan orang-orang sepertimu?”

Si Putih Tanpa Wajah mendengus, selain itu Kepala Pendeta tidak bisa menahannya lagi, takut Hua Cheng akan memprovokasi lawannya, “ANAK MUDA, JANGAN MENJADI BEGITU KURANG AJAR!”

Namun tanpa terduga, apa yang dikatakan Hua Cheng selanjutnya bahkan lebih berani dan kurang ajar. Sambil memegang saber dengan satu tangan, dengan kilauan tajam yang begitu cemerlang, dia mengarahkannya ke arah Si Putih Tanpa Wajah, tersenyum, “Lagipula, pada akhirnya kau tidak lebih dari seorang lelaki tua dengan hati yang dipenuhi dengan kecemburuan.”

Lupakan Kepala Pendeta yang kini kehilangan seluruh energinya untuk memalsukan senyum palsunya, baik Feng Xin maupun Mu Qing juga terpana: yang dilakukan pria ini benar-benar berani!

Siapa yang mungkin berani mengatakan hal seperti itu di depan wajah Jun Wu ataupun Si Putih Tanpa Wajah?!

Tapi, mereka semua harus mengakui bahwa hanya Hua Cheng yang berani mengatakan kata-kata itu, karena, mungkin hanya dia satu-satunya yang bisa mengatakan hal-hal itu dan Jun Wu maupun Si Putih Tanpa Wajah masih tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya!

Mu Qing turun dari gendongan Feng Xin, berjalan beberapa langkah, dan bergumam, “Tidak heran, di masa lalu … ketika membahas mengenai Hujan Darah Mencapai Bunga, Jun Wu selalu berkata untuk menghindarinya jika kita bisa, dan jangan menghadapinya seorang diri.”

Saat itu, bola bayangan putih melintas, menghalangi di depan titik pedang E-Ming. Mata Xie Lian tajam, dan Ia melihat dengan jelas makhluk itu, “San Lang, jangan tebas benda itu!”

Itu adalah roh janin!

Dia melihatnya, sehingga secara alami Hua Cheng melihatnya juga, dan ujung bilahnya membelok, menarik pedangnya sesuka hati, mengubah gerakan menebas menjadi menjentik, melemparkan bola putih itu menjauh. Kedua pupil mata Feng Xin menyusut, dan tersentak ketika dia melihat jika roh janin itu tidak terbelah menjadi dua, “KEMARILAH!”

Arah Hua Cheng melemparkan roh janin itu tepat ke arahnya. Feng Xin bergegas untuk meraihnya, tetapi, pertama tidak ada banyak rambut di kepala roh janin itu, dan dengan teriakannya, semua rambutnya berdiri, amarah menggelegak keluar dari tenggorokan roh janin. Pada saat Feng Xin hendak meraihnya, roh janin itu menyeret dirinya sendiri seperti orang gila, menolak untuk membiarkannya mengambilnya. Feng Xin yang melihatnya menjadi marah, “BRENGSEK! KETIKA DIA MELIHATNYA DIA TERUS MENEMPEL PADANYA, KETIKA DIA MELIHATKU DIA MENGGIGITKU, SEBENARNYA SIAPA AYAHMU?”

Mu Qing berkomentar, “Apa kamu pernah menganggapnya putramu sendiri? Apa kamu pernah menyebut namanya dengan benar?”

Mendengar ini, Feng Xin terkejut, “Aku …”

Di ujung lain, Xie Lian tidak bisa tinggal diam mengawasi pertempuran ini, dan buru-buru menginstruksikan, “Kalian berdua berhati-hatilah, aku akan pergi dan melihatnya!”

Mu Qing berkata dengan pelan, “Kamu juga harus hati-hati! Jangan lupa, kamu masih memiliki dua belenggu terkutuk di tubuhmu … “

Xie Lian sedikit terkejut, dan tanpa sadar menyentuh lehernya, merasakan belenggu terkutuk itu. Tapi, untuk beberapa alasan, dia merasa Si Putih Tanpa Wajah tidak akan menggunakan belenggu terkutuk itu untuk mengancamnya. Tidak ada waktu untuk memikirkannya lagi, dan dia bergegas maju. Di sisi lain, satu kilatan merah dan satu kilatan putih tenggelam dalam pertempuran yang ganas, dan setelah mengamati sejenak, Xie Lian memutuskan dengan gegabah untuk bergabung dengan perkelahian yang penuh kekacauan itu. RuoYe dicambuk dan Kepala Pendeta dibungkus dengan pita sutra itu dan ditarik, “Master! Apa kamu baik baik saja?”

Kepala Pendeta menyeka wajahnya dengan keringat dingin, “… Ya!”

“Jika kamu baik-baik saja, mengapa kamu berkeringat begitu banyak?” Xie Lian bertanya.

“Bukankah itu semua berkat Hujan Darah Mencapai Bunga, seorang bajingan kecil yang tidak bisa menyaring kata-kata yang keluar dari mulutnya! Betapa menakutkan!!!” ucap Kepala Pendeta terus mengomel.

Saat itu, mereka mendengar Feng Xin berteriak kaget. Xie Lian mengangkat kepalanya dan melihat ke atas, dan apa yang dilihatnya adalah sosok Si Putih Tanpa Wajah yang perlahan menjatuhkan tangannya.

Salah satu lengannya terluka.

Dia membuka telapak tangannya, melihat tangannya sendiri yang berlumuran darah, dan mendesah, tertawa, “… Sudah bertahun-tahun sejak seseorang berhasil melukaiku seperti ini.”

Xie Lian merasakan suatu firasat dan bertanya, “Master, apakah dia … gila?”

Kepala Pendeta bisa dianggap sebagai satu-satunya orang di dunia ini yang bisa memahami Si Putih Tanpa Wajah dengan sangat baik saat ini, “Tidak… itu lebih buruk daripada kegilaan. Dia … bahagia.”

Setelah jeda, Si Putih Tanpa Wajah menoleh ke arah Hua Cheng, dan bertanya, suaranya penuh rasa ingin tahu, “Pedangmu, apakah pedang itu ditempa oleh matamu yang hilang?”

Jelas sekali bahwa Hua Cheng tidak berminat untuk merespons, tetapi jantung Xie Lian melonjak hebat.

Dari pertama kali dia melihat E-Ming, dia tahu bahwa pedang ini pasti tidak biasa, tetapi dia hanya setengah menebak bahwa mungkin pedang itu ditempa dari mata yang hilang oleh Hua Cheng. Suara Si Putih Tanpa Wajah terdengar begitu percaya diri, mungkinkah itu benar?

Alis Kepala Pendeta bertaut, dan setelah beberapa saat, dia tiba-tiba berbicara, “Oh, aku ingat sekarang.”

“Apa yang kamu ingat?” Tanya Xie Lian.

“Aku ingat mereka sudah memberitahuku tentang suatu kejadian.” Kepala Pendeta berkata, “Ratusan tahun yang lalu, seorang iblis hantu datang ke Gunung TongLu.”

“Aku yakin ada setidaknya satu juta iblis hantu yang telah berkunjung ke Gunung TongLu.” Kata Mu Qing.

“JANGAN MEMOTONG!” Kepala Pendeta berseru, “– Iblis hantu itu, waktu yang dibutuhkan baginya untuk terbentuk sangat singkat, sangat muda, dan ketika dia datang, ia hampir menghilang sepenuhnya, namun untuk beberapa alasan dIa bertahan dan terus melayang di sini.”

Untuk beberapa alasan, jantung Xie Lian berdebar kencang, “Hampir menghilang sepenuhnya? Bagaimana bisa?”

“Tampaknya dia mengalami kerusakan besar.” Kepala Pendeta menjawab, “Jiwanya hampir semuanya tersebar, dan dia juga sepertinya tidak terlalu memiliki kesadaran, tetapi dia masih terus melayang, mengulanginya lagi dan lagi jika dia tidak akan pergi, dia tidak akan pergi. Mungkin karena keinginannya belum terpenuhi. Bagaimanapun, tahun itu ketika Gunung TongLu dibuka, sebuah kecelakaan terjadi.”

Ketika Xie Lian mendengar “dia tidak akan pergi”, hatinya melunak karena beberapa alasan, tetapi juga tercekat pada saat yang sama. Dia kemudian segera bertanya, “Kecelakaan apa?”

“Di dalam Gunung TongLu, tidak hanya jutaan iblis hantu berkumpul, sekelompok manusia hidup yang secara tidak sengaja telah diserang juga terkunci di dalamnya.”

“Apa?!”

“Tidak ada yang lain kecuali monster dan iblis yang berada di dalam TongLu, orang-orang biasa tidak akan mungkin bisa keluar sama sekali, dan hanya bisa menderita nasib menjadi makanan bagi mereka. Namun, untuk alasan apa pun, hantu ganas itu, dalam keadaan kacau, mengambil sekelompok besar manusia hidup di bawah sayapnya dan membantu mereka melarikan diri selama berhari-hari. Pada akhirnya, mereka masih dikelilingi oleh jutaan hantu, terjebak di jalan buntu, dan dia akan dimakan bersama dengan manusia-manusia itu.”

Xie Lian tahu bahwa hantu liar kesepian yang terus mengembara ini pasti adalah Hua Cheng!

“Lalu?” Dia mendorong, “Apakah ada cara untuk melepaskan diri ke tempat yang aman?”

“Ya.” Kepala Pendeta menjawab, “Tempa senjata berdarah, dan bunuh semua hantu itu untuk menghancurkan pengepungan.”

Mu Qing masih tidak bisa tidak ikut campur, “Maka bukankah pengorbanan termudah adalah …”

Adalah manusia-manusia yang sudah berada pada titik kehancuran itu!

Feng Xin dan Mu Qing memandang Si Putih Tanpa Wajah dan Hua Cheng yang benar-benar fokus dalam pertempuran ganas mereka, “Apakah … apakah dia …”

Xie Lian menahan napas. Kepala Pendeta berkata, “En. Dia membuat sebuah keputusan.”

Ekspresi Feng Xin dan Mu Qing menjadi tidak dapat dibaca. Namun Xie Lian tidak bergerak sedikit pun, dan hanya menunggu Kepala Pendeta untuk melanjutkan. Benar saja, Kepala Pendeta menjawab antisipasinya, “Dia membuat sebuah keputusan. Dalam kegilaan, ia menggali salah satu matanya sendiri.”

“…”

Kepala Pendeta melanjutkan, “Iblis hantu itu hampir bergerak melawan manusia-manusia itu, tetapi karena suatu alasan, pada akhirnya dia tidak melakukannya, dan sebaliknya menggunakan salah satu matanya sendiri sebagai harga untuk menempa senjata berdarah. Iblis hantu itu secara paksa bertahan dengan napas terakhirnya, dan setelah menggali salah satu matanya, dia seharusnya sudah benar-benar hancur berantakan. Namun entah bagaimana sesuatu mengejutkannya, dan sosoknya terbangun sepenuhnya. Siapa yang tahu perangkat jahat macam apa yang ditempanya dan berhasil membawanya melalui pertempuran itu. Dan, ada kejadian aneh lainnya.”

Xie Lian berusaha memaksakan dirinya untuk tenang, “Ke-kejadian apa?”

“Rupanya, setelah pertempuran itu, surga mengirimkan bencana surgawi, dan itu langsung menghantam Gunung TongLu.” Kepala Pendeta, “Apakah kamu mengerti apa artinya itu?”

Apa sungguh perlu dijelaskan artinya?

Ketika bencana surgawi dikirimkan, itu artinya, surga percaya ada seseorang yang layak naik di Gunung TongLu.

Xie Lian meraih Kepala Pendeta, “Siapa itu? Siapa yang naik??”

“Ini semua kabar angin.” Kepala Pendeta berkata, “Tapi, tidak ada satu pun pejabat surgawi di Pengadilan Tinggi yang berasal dari Gunung TongLu. Entah apa yang aku dengar itu murni adalah kebohongan, atau … “

Orang itu naik dan melompat turun kembali, dan menolak alam surgawi!

Mu Qing tidak bisa menerima ini sama sekali, dan bingung, “Untuk naik sebagai hantu? Memangnya ada hal seperti itu? Dan dia bahkan menolak kenaikannya dan melompat turun?? Itu tidak mungkin dia, kan? Dia baru saja memasuki Gunung TongLu, dia bahkan belum mencapai pangkat tertinggi!! Melompat begitu saja … dia bahkan tidak tahu apakah dia akan selamat! Kenapa dia melakukan ini??”

Kenapa dia melakukan hal gila seperti itu??

Tiba-tiba, Xie Lian mendengar Si Putih Tanpa Wajah menghela napas, “Xian Le, kamu memiliki orang yang sangat setia.”

Sebelum dia selesai, topeng setengah tersenyum-setengah menangis yang retak itu tiba-tiba muncul di depan mata Xie Lian.

Xie Lian tidak pernah menyangka Si Putih Tanpa Wajah benar-benar bisa mendekat dalam jarak beberapa senti seperti ini hanya dalam satu tarikan napas sesaat, dan matanya dengan bersih memantulkan bayangannya. RuoYe terangkat marah, siap untuk menyerang, tetapi pada akhirnya pita sutra itu masih menyusut.

Dia tidak bisa disalahkan untuk itu, karena RuoYe selalu sangat cerdas. Ketika menyadari jika serangannya tidak efektif, dia akan menyerah secara sukarela.

Si Putih Tanpa Wajah tampaknya sedikit tersenyum sejak retakan topeng setengah tersenyum-setengah menangis itu menjadi lebih dalam.

Detik berikutnya, titik pisau E-Ming menyentuh lehernya.

Tapi gerakannya terlambat satu langkah; Si Putih Tanpa Wajah sudah berhasil menghindar.

Dia melintas dan muncul di titik tertinggi di mana Jembatan Penyeberangan Surga berakhir, dan sedikit mengangkat tangannya, “Tidak perlu gugup, aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku.”

Di tangannya ada sebuah pedang panjang yang benar-benar berwarna hitam pekat seperti batu giok dingin, seutas benang perak melintasi jantung pedang. Xie Lian tanpa sadar memutar tangannya untuk merasakan punggungnya, dan benar saja, Fang Xin yang berada di punggungnya telah pergi.

Fang Xin pada awalnya adalah pedang suci milik Putra Mahkota Wu Yong. Si Putih Tanpa Wajah telah mengambil apa yang menjadi miliknya.

Satu potong, dua potong, tiga potong. Topeng pucat tragis itu mulai mengelupas dan berjatuhan sepotong demi sepotong sampai akhirnya, topeng itu benar-benar jatuh seluruhnya, mengungkapkan wajah di balik topeng. Di dalam api yang menyala, jubah putih itu juga berubah menjadi baju besi putih.

Pada akhirnya, “Si Putih Tanpa Wajah” telah melepas topengnya, dan berubah menjadi “Jun Wu”.

Semua orang menahan napas, menjadi lebih waspada.

Tidak perlu menebak. Dalam bentuk ini, dia pasti lebih kuat.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Deandra Iswara Adiningrum
Deandra Iswara Adiningrum
9 months ago

Hufftt bacanya sambil nahan nafas,,, deg-deg-an haha