Penerjemah: Jeffery Liu


Xie Lian berkedip, “Aku tidak berencana melakukan apa pun?”

“Lalu mengapa kamu menarik pedangmu?” Hua Cheng menuntut.

“Untuk … membela diri?” Xie Lian menjawab.

Ekspresi Hua Cheng sangat gelap, dan dia meremas lebih keras, “Bagaimana caramu membela diri? Taruh pedangmu kembali!”

Ini adalah pertama kalinya Hua Cheng berbicara kepada Xie Lian dengan ekspresi dan nada seperti ini. Xie Lian benar-benar terkejut. Begitu pun Feng Xin, “Siapa kau memaksanya meletakkan pedangnya? Lepaskan dia dulu!”

Sebuah kapak terbang melesat, dan dengan reaksi cepat, Xie Lian mengangkat pedang dan menebasnya, membuat kapak itu terbang menjauh, “Bagaimana caraku membela diri? … Seperti ini!”

Baru pada saat itulah sikap dan nada bicara Hua Cheng menjadi sedikit lebih rileks, tetapi dia masih tidak membiarkannya pergi, “Kamu tidak perlu membela diri, berdiri saja di belakangku. Turunkan pedangmu.”

Feng Xin mengetuk busurnya yang ada di tanah dengan kakinya, dan dia mengambilnya, mencengkeramnya dengan kedua tangan, mengangkatnya untuk digunakan sebagai pedang, menghalau palu yang melesat ke arahnya, berbicara, “Apa yang kamu lakukan dengan mencengkeramnya seperti itu? Apa kamu benar-benar yang asli? Yang Mulia, apakah ada orang lain selain kalian yang tahu kata sandi Hujan Darah Mencapai Bunga?”

Melalui pengingat inilah Xie Lian tiba-tiba ingat bahwa bukan hanya mereka berdua yang tahu kata sandi komunikasi spiritual Hua Cheng. Ada orang ketiga yang pernah mendengarnya sebelumnya.

Itu adalah Jun Wu!

Sebelumnya di Istana Xian Le, ketika dia membuat Xie Lian terhubung dengan Hua Cheng di hadapannya, dia sudah sangat jelas mendengar Xie Lian mengucapkan kata sandi itu!

Tapi, Xie Lian masih merasakan jika yang ada di depannya ini pasti Hua Cheng asli tanpa keraguan, hanya saja … dia sepertinya tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, itulah sebabnya dia bertindak seperti ini.

Setelah beberapa saat perenungan, Xie Lian menjawab, “Baiklah.” Lalu dia menyingkirkan Fang Xin.

Saat berikutnya, cahaya perak menyala, dan sebuah pedang terhunus!

Saat E-Ming keluar, seluruh gudang senjata langsung diselimuti cahaya perak, percikan nyala api keperakan terbang tanpa henti, dan suara logam yang retak bergema tanpa henti di telinga. Xie Lian dan Feng Xin berdiri tak bergerak, terperangkap di tengah oleh aura membunuh yang kacau dan mengerikan ini. Setelah sepuluh tebasan, Hua Cheng berbalik, menyilangkan pedangnya kembali. Tatapan Xie Lian bergerak dari sosoknya ke tanah.

Ratusan senjata dari sebelumnya telah dipotong menjadi butiran-butiran oleh E-Ming.

Xie Lian berjongkok, dan mengambil dua potong pedang, merasa kasihan, “Semua ini pedang yang bagus dan langka …”

Saat itu, Feng Xin angkat bicara, “Yang Mulia, pintunya. Tampaknya ada pintu tambahan!”

Xie Lian menjatuhkan potongan-potongan yang terfragmentasi dari genggamannya dan berdiri, “Begitu, jadi kita hanya bisa pergi setelah serangan senjata ini berhasil ditangani.”

Awalnya, pintu-pintu itu seharusnya membutuhkan darah yang tumpah agar bisa terbuka, tetapi Hua Cheng memaksa mereka membuka secara langsung. Tepat ketika Xie Lian memikirkan ini, Hua Cheng meraih tangannya dan mulai menyeretnya keluar. Melihat bagaimana dia dipenuhi dengan niat membunuh, Feng Xin bertanya, “Apa yang kalian berdua rencanakan selanjutnya?”

“Jelas untuk pergi mencari Kepala Pendeta dan Mu Qing.” Jawab Xie Lian.

Hua Cheng menyatakan dengan tenang, “Jika Mu Qing benar-benar menyerahkan dirinya kepada Jun Wu, maka aku akan mengambil nyawanya terlebih dahulu.”

“…”

Ketiganya keluar dari gudang senjata dan berjalan sebentar. Xie Lian sedikit ragu-ragu tetapi pada akhirnya masih bertanya, “San Lang, apakah kamu pikir aku akan menusuk diriku sendiri sebelumnya?”

Hua Cheng tidak menanggapi, tetapi ekspresinya masih sangat masam. Xie Lian menambahkan, “Aku tidak akan melakukannya.”

Hua Cheng menatapnya, “Benarkah?”

Xie Lian merasa sangat bersalah di depan sosoknya.

Sejujurnya, jika ini adalah masa lalu, mungkin jika situasinya benar-benar mengerikan dia akan benar-benar menyelesaikannya seperti itu, tapi sekarang, dia tidak akan pernah melakukannya lagi.

Xie Lian menjawab, “Ya! Aku berjanji kepadamu. Selain itu, ada begitu banyak pedang, tombak, dan saber, jika mereka semua menikamku, bukankah aku akan ditusuk sampai menjadi bubur? Hahahaha …” Dia mulai tertawa, tetapi kemudian dia tidak bisa lagi tertawa, karena ketika dia mengucapkan kata ‘menikam’, Hua Cheng tiba-tiba berbalik untuk menatapnya. Tatapan itu sulit untuk dijelaskan, tapi tatapan itu mengacaukan semua kata yang hendak Xie Lian ucapkan.

Kemudian, Hua Cheng tiba-tiba mengulurkan tangan, dan menekan tubuhnya dengan kuat ke dalam pelukannya.

Feng Xin yang berada di belakang keduanya merasa terguncang melihat ini, “Apa-apaan ini? Aku masih ada di sini???”

Xie Lian berkedip, dan menepuk punggung Hua Cheng, “Ada apa?”

Hua Cheng berbisik, “Yang Mulia, tolong jangan tertawa seperti itu lagi.”

Dia memeluk Xie Lian dengan erat, “Ini tidak lucu, sungguh … ini sama sekali tidak lucu.”

“…”

Mengingat bagaimana sebelumnya ketika dia mengambil tulang tengkorak yang ditutupi dengan racun mayat, wajah Hua Cheng saat itu sama tidak menyenangkannya dengan kali ini, Xie Lian merasa sangat bersalah, “Maaf, aku tidak akan bercanda tentang hal ini denganmu lagi. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir, tetapi tidak berpikir itu akan memiliki efek sebaliknya.”

Feng Xin tampak seolah-olah terkejut oleh suasana hati ini, dan terperangah untuk beberapa saat, “Aku… setuju juga? Karena dia sangat serius tentang itu …”

Hua Cheng akhirnya melepaskan Xie Lian dari pelukannya dan berkata pelan, “Ayo pergi.”

Tanpa Kepala Pendeta yang memimpin jalan, selain melanjutkan berjalan jauh ke dalam istana, ketiganya tidak punya pilihan lain.

Tapi mereka belum keluar terlalu lama sebelum Xie Lian merasakan sesuatu yang tidak biasa di udara.

“Tidakkah kalian berdua berpikir … udara disini semakin panas?” Xie Lian berbicara.

Ketika kelompok mereka pertama kali memasuki istana bawah tanah, suasanya di dalamnya terasa begitu angker dan mengerikan. Tetapi setelah berjalan beberapa saat, udara di sekitarnya tampak membengkak, menjadi jauh lebih lembab dan panas. Feng Xin tampaknya merasakan hal yang sama, dan ketika dia menoleh, dia sedikit terkejut sebelum mengangkat tangan untuk menunjuk, “Yang Mulia, lihat ke belakang! Sepertinya ada cahaya.”

Seperti yang dia katakan, ada cahaya di belakang mereka yang perlahan merambah.

Sumber cahaya tak dikenal itu muncul di bawah tanah yang gelap gulita, itu adalah situasi yang agak aneh. Apakah ada yang datang?

Ketika mereka menunggu cahaya itu untuk mengungkapkan penampilan aslinya, Xie Lian akhirnya menyadari bahwa bukan imajinasinya bahwa udara di bawah tanah telah berubah menjadi panas.

Aliran merah dan lava emas, bergulir dan menggelegak, datang mengalir menuruni bukit, merangkak menuju ketiganya.

Lava di luar telah mengalir ke istana bawah tanah bersama dengan aliran air!

Xie Lian hanya bisa berteriak “oh tidak!” di dalam hati ketika tiba-tiba, dia merasakan sesuatu di belakangnya dengan cepat melesat. Seketika ia mengulurkan tangannya dan sebuah pita sutera melambai, “TAHAN DIA! KITA HANYA PERLU BERTANYA ARAH!”

Pria itu baru saja mengelak, wujudnya berhenti sejenak, dan ketika tanah berbalik, menggunakan nyala api dari aliran lava, mereka melihat wajah pria itu. Feng Xin berteriak, “MU QING! KAU BRENGSEK, BERHENTI DI SANA!”

Seolah-olah Mu Qing akan berhenti. Tanpa berkata apa-apa, dia berhenti berlari. Ketiganya baru saja akan mengejar dan menyerang ketika tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.

Lava berwarna emas kemerahan itu tiba-tiba melonjak dan menyebar di atas aliran air, menyebar dengan sangat cepat, langsung menuju ke arah mereka!

Ketiganya dengan paksa harus pergi dari pijakan mereka, tetapi Xie Lian sudah pernah mengalami masalah ini sebelum mereka datang ke sini, dan tingkat kesulitannya hanya sedikit lebih tinggi, itu saja. Dia berbicara, “Feng Xin, ada banyak mutan bercangkang kosong di lava, mereka bisa melayang, jadi injak saja mereka sehingga kamu tidak akan tenggelam!”

Kemudian, dia menargetkan mutan bercangkang kosong yang dengan kuat mengayunkan lengannya dalam aliran lava, dan melompat ke atas!

Begitu dia mendarat, Xie Lian menjadi lebih senang. Kepala mutan bercangkang kosong itu tampaknya lebih besar, dan bahkan ketika dia menginjaknya, mereka sebenarnya hanya berada beberapa senti tenggelam di bawah aliran lava, dan masih bisa melayang di permukaan tanpa tenggelam. Selama mereka tidak memulai apapun, mereka dapat dengan mudah digunakan sebagai kano!

Feng Xin juga menargetkan satu dan melompat, mengarahkan busurnya pada mutan cangkang kosong itu, “Berenang dengan benar, jangan tenggelam!” Dengan ancaman senjata, mutan cangkang kosong itu sama sekali tidak berani menyinggung perasaannya seperti yang diharapkan dan bekerja lebih keras lagi. Sementara itu, Hua Cheng hanya perlu menyilangkan lengannya, menunduk dan menatap ke arah mutan di bawahnya, dan seperti dugaan, mutan cangkang kosong itu menjadi tenang, tidak berani melakukan sesuatu yang jahat, mengeluarkan kekuatan penuhnya dan berenang lebih cepat dari semua mutan lainnya. Adapun Xie Lian, dia bertepuk tangan dalam doa dan dengan sangat tulus bernegosiasi dengan mutan cangkang kosong miliknya, “Bawa aku untuk perjalanan ini, tolong bawa aku untuk perjalanan ini! Aku akan membakar dupa untukmu setelah itu! Kamu tidak ingin dupa? Lalu persembahan apa yang kamu inginkan, beri tahu aku!” Mutan cangkang kosong itu jelas sangat tidak puas, dan dia berkali-kali mengayunkan lengannya, mencoba untuk melepaskan diri darinya, tetapi Xie Lian tetap menempel seperti permen karet, dan bahkan jika dia jatuh dia menolak untuk dilemparkan. Tak perlu dikatakan, Xie Lian sekali lagi menemukan yang paling sulit untuk dihadapi!

Ketiganya mengendarai mutan dan mengalir bersama arus, dan seolah-olah mereka menaiki arung jeram, semakin jauh mereka ke hilir, aliran lava itu menjadi semakin curam, dan mereka menjadi semakin cepat. Mereka juga harus menghindari rintangan yang tiba-tiba muncul dari aliran lava berkali-kali, dan seluruh perjalanan itu begitu dipenuhi dengan bahaya yang tak ada habisnya. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya menyusul Mu Qing yang ada di depan, dan Feng Xin berteriak, “MU QING! KEMANA KAU AKAN LARI!”

Di bawah kaki Mu Qing juga ada mutan cangkang kosong yang digunakannya sebagai papan selancar, dan dia menoleh ke belakang, “APA, DAN HARUSKAH AKU MENUNGGU SAMPAI KALIAN SEMUA MENYERANGKU BERSAMA?”

Hanya ada busur di tangan Feng Xin dan tidak ada panah, jadi dia hanya bisa berteriak di udara, “KAMI TIDAK AKAN MENYERANGMU! JELASKAN PADA KAMI DULU BAGAIMANA KAU BISA TIBA-TIBA MENGHILANG DARI GUDANG SENJATA SEBELUMNYA!”

Mu Qing melihat ke belakang, menyeringai, “Kalian semua …”

Sebelum dia selesai, Xie Lian melihat apa yang ada di depan, kedua pupil matanya menyusut dengan cepat, dan dia berteriak, “DI DEPANMU!!”

Mu Qing langsung berbalik, dan barulah ia menyadari bahwa jalan di depannya berakhir.

Mungkin ada jurang bawah tanah di sini sebelumnya, dan jurang itu sangat dalam, setidaknya ratusan meter dalamnya seperti tebing raksasa.

Dia tidak pernah menyangka perubahan bentang alam seperti ini akan muncul dengan begitu tiba-tiba, ditambah semakin jalannya menurun, semakin cepat aliran lava mengalir, dan pada saat dia sadar, dia sudah terlempar ke udara tanpa persiapan.

Sosok Mu Qing bersama dengan mutan cangkang kosong di bawah kakinya langsung menghilang, dan tiga lainnya di ujung ini juga akan dengan cepat bergegas ke tepi tebing itu!

Pada detik terakhir, RuoYe terbang ke arah belakang, dan melilitkan diri beberapa kali di sekitar atap bangunan istana di kejauhan, kemudian mengikatkan dirinya ke dalam simpul. Dengan satu tangan mencengkeram RuoYe dan yang lainnya meraih Hua Cheng, Xie Lian melemparkan ujung lain RuoYe ke arah Feng Xin dan berteriak, “TANGKAP!”

Dengan pita sutra sebagai penghubung, ketiganya dengan kukuh menenangkan diri. Pada saat itu, mereka paling jauh hanya sekitar dua puluh kaki dari “tebing” itu; jika mereka terlambat untuk langkah lain, mereka akan jatuh. Mereka benar-benar “menghentikan kuda-kuda mereka di jurang”. Namun, masih ada lava bergulir yang mengalir tanpa henti, jadi Xie Lian kemudian memerintahkan, “Mundur!”.

RuoYe menyusut dengan cepat, dan menarik ketiganya ke arah istana itu. Segera setelahnya, ketiganya melompat ke atap istana. Istana ini berukuran lebih besar, jadi atapnya sangat luas. Dengan batu sebagai fondasinya, tidak ada rasa takut akan tersapu oleh lava, jadi setelah mendarat di sini, mereka dapat bernapas dengan lega untuk sementara waktu.

Setelah menenangkan diri sejenak, Feng Xin menatap “tebing” kosong itu dengan tercengang, dan berkata dengan tak percaya, “Apakah Mu Qing … jatuh?”

Xie Lian memaksa dirinya untuk memperlambat debaran jantungnya, dan terengah-engah menyeka butiran keringat di dahinya, “Tidak!”

Mengintip dari ujung terjauh atap istana itu, Xie Lian mencoba mengawasi aliran lava di bawah mereka, di bebatuan di tepi tebing itu ada sebuah pedang panjang yang dipakukan.

Dan sepasang tangan memegang erat gagang pedang panjang itu. Di bawah tangan itu ada wajah merah yang tampak tengah menggertakkan giginya.

Pada saat ini, Mu Qing berada dalam posisi mengerikan karena sejajar dengan aliran lava seperti air terjun yang mengalir ke bawah.

Butir-butir api memercik di depan wajahnya, dan itu benar-benar pemandangan “api yang membakar alisnya“, dan jika bukan karena lapisan cahaya spiritual yang melindungi tubuhnya, dan menghalangi sebagian besar uap dari lava itu, seluruh penampilannya akan terbakar habis dan kepalanya akan terbakar sekarang.

Tapi lapisan pelindung cahaya spiritual ini tidak akan bertahan lama, dan jika seluruh tubuhnya jatuh ke dalam kolam lava disana, tulang-tulangnya pasti akan larut ke dalam udara!

Ini adalah pemandangan yang mengerikan, dan Feng Xin bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?! Yang Mulia, bisakah pita sutra putih milikmu menjangkau dia?”

Xie Lian sudah mencobanya, menarik RuoYe, menepuk-nepuk api di atasnya, “Aku tidak bisa! Jaraknya terlalu jauh! RuoYe akan terbakar di tengah jalan!”

Banyak percikan api kecil yang juga tampak membakar jubah Mu Qing, dan gagang pedangnya jelas mulai memanas, namun ia masih mencengkeramnya dengan erat, takut untuk melepaskan, dan takut untuk melihat ke bawah.

Jika dia harus melepaskan genggamannya, kobaran nyala api dan lava panas tidak lain adalah apa yang menunggunya di bawah. Ada juga ratapan lapar dari roh-roh orang mati yang tak terhitung jumlahnya terdengar, tangisan mereka terus bergema dan bergaung, seolah-olah mereka memanggil orang yang tengah berjuang dan bertahan untuk kehidupan tercinta mereka di atas untuk bergegas dan bergabung dengan mereka dalam persahabatan.

Mu Qing memegang gagang itu dalam genggaman maut, dahinya yang pucat dipenuhi keringat. Ketika dia melihat ketiganya di kejauhan, bibirnya bergerak seolah dia ingin meminta bantuan. Tapi, dengan kepribadiannya, sangat sulit bagi kata-kata “Tolong” dan “Selamatkan aku” meninggalkan bibirnya.

Selain itu, apakah Hua Cheng mungkin memiliki waktu atau tidak, dia mungkin tidak akan peduli untuk menyelamatkannya. Sulit untuk mengatakan bagi Feng Xin juga, dan satu-satunya yang tersisa yang bersedia menyelamatkannya, memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya, dan dapat membujuk dua lainnya, adalah Xie Lian.

Pada akhirnya, Mu Qing dengan kuat menarik tubuhnya, pembuluh darah sedikit muncul di dahinya saat dia berteriak kepada Xie Lian, “YANG MULIA!”

Xie Lian baru saja memindai area dan melakukan pengamatan cepat, dan ketika dia mendengar panggilan itu, dia menatapnya. Mu Qing menahan sebentar, lalu menghela napas, dia berteriak dengan wajah merah, “… PERCAYALAH PADAKU! YANG MULIA, KAMU PASTI TAHU JIKA AKU TIDAK MUNGKIN BERBOHONG, KAN? KAMU PASTI TAHU AKU TIDAK AKAN BENAR-BENAR MELUKAIMU, KAN??”

“…”

Cara dia memohon kepada Xie Lian begitu penuh harapan, seperti dia berpegangan pada jerami terakhir hidupnya, hal itu tiba-tiba membuat Xie Lian mengingat adegan lain dari waktu lain yang pernah dialaminya.

Waktu itu ketika senja jatuh, bertahun-tahun yang lalu, ketika dia memohon kepada Mu Qing dengan harapan putus asa yang sama –

“Kamu tahu aku tidak berbohong, kan?”

Bagaimana Mu Qing menjawabnya saat itu?

Dia tidak memikirkan hal-hal itu selama ratusan tahun, tetapi kalimat yang digunakan Mu Qing tiba-tiba menyeret semua kenangan itu keluar dari sudut-sudut berdebu tempat mereka disegel.

Diseret keluar dan terlepas; gambar dan suara yang tak terhitung jumlahnya melintas, dan baru pada saat itulah Xie Lian menyadari bahwa dia mengingat setiap detail dengan sangat jelas; bahwa dia tidak pernah melupakan semua itu.

Mu Qing tidak pernah menerima jawabannya, dan dalam keheningan Xie Lian yang tidak biasa, dia tampaknya secara bertahap mengingat adegan yang sama, warna wajahnya perlahan berubah. Tampaknya dia juga tahu bahwa dia telah menggunakan kata-kata yang salah untuk meminta bantuan, dan mengingatkan Xie Lian pada apa yang seharusnya tidak dia ingat pada saat seperti ini tanpa sengaja.

Saat itu, Hua Cheng berbicara dengan pelan di belakang Xie Lian, “Gege, sebelum kamu membuat keputusan, aku harus mengingatkan kamu tentang beberapa hal.”

Baru saat itu Xie Lian tersadar dari lamunannya dan berkata, “Apa itu?”

“Pertama,” Hua Cheng berkata, “Kecuali jika aliran lava berhenti mengalir, membuat upaya penyelamatan akan sangat membahayakan jiwa.”

Tapi, siapa yang tahu kapan lava itu akan berhenti mengalir? Gagang pedang itu sudah sangat panas, tangan Mu Qing tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, bagaimana dia bisa bertahan sampai saat itu?

Xie Lian tetap diam. Hua Cheng melanjutkan, “Kedua, jika Mu Qing sudah menyerah pada Jun Wu, maka Jun Wu pasti akan memiliki cara untuk mengeluarkannya dari sini. Tapi kamu, kamu pasti akan jatuh ke dalam bahaya. Dan kemungkinan ini sangat bagus. Pikirkan perilakunya dan cara dia bertindak sepanjang perjalanan ini.”

Menyerang Feng Xin hingga kehilangan kesadaran, memikat mereka ke gudang senjata, menolak untuk mengakui bahwa dia menjatuhkan Feng Xin dan bahkan membuat tuduhan berbalik, tiba-tiba menghilang setelah gudang senjata mengamuk, waktu dimana aliran lava membalikkan alirannya dengan begitu tiba-tiba, membawa mereka ke tempat mereka berada sekarang.

Dan sekarang, apakah dia mungkin sekali lagi dengan sengaja memimpin Xie Lian sampai ke tujuannya?


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments