Penerjemah : Jeffery Liu


Xie Lian berbisik pada Hua Cheng, “Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Mu Qing, tapi Feng Xin sepertinya sedang mencari Jian Lan dan roh janin. Mereka tidak mungkin … “

Dia tidak mungkin berada di Ibukota Surgawi, tidak pergi dengan pejabat surgawi lainnya, dan akhirnya terseret dalam rangkaian gejolak, banjir dan kebakaran yang masih terjadi di langit dan bumi bukan?

Atau mereka mengalami kemungkinan yang lebih buruk. Mungkin saja, keduanya saat ini berada di tangan Jun Wu!

Saat itu, Kepala Pendeta berjalan dari samping keduanya, “Yang Mulia, tidak perlu terus mencarinya. Jika dia ada di sini maka tidak ada alasan untuk bersembunyi. Mungkin ada banyak orang di sini, tetapi tidak banyak yang layak diperhatikan. Karena dia tidak ada di sini, maka dia bisa saja pergi ke suatu tempat, dan, itu adalah tempat yang dia ingin kamu datangi.”

Xie Lian segera mengerti, “Apakah itu Gunung TongLu?”

Kepala Pendeta mengangguk, “Kemungkinan besar dia sudah mengaktifkan Array Pemendek Jarak. Selain Ibukota Surgawi, Gunung TongLu adalah wilayah kekuasaan miliknya yang paling kuat.”

“Hah? Kau akan pergi ke Gunung TongLu?” Shi Qing Xuan berseru, “Tempat mengerikan itu???”

“Kami sudah pernah pergi ke sana sebelumnya.” Xie Lian berkata, “Tidak apa-apa, tidak semengerikan itu. Mungkin Feng Xin dan Mu Qing juga ada di sana.”

Namun, Kepala Pendeta memperingatkan, “Jangan pernah menurunkan kewaspadaanmu. Ketika kamu memutuskan untuk pergi kali ini, apa yang menunggumu tidak akan menjadi hal yang sama.” Setelah jeda, dia berkata, “Aku pikir aku juga harus pergi dengan kalian berdua. Akan lebih baik jika kamu juga bisa menemukan beberapa dewa bela diri yang dapat diandalkan untuk membantu kita. Tidak ada yang terluka. Jika mereka terluka maka mereka pasti akan menyeretmu turun bahkan jika mereka pergi.”

Setelah mendengarnya, itu adalah sebuah tantangan nyata baginya. “Dewa bela diri yang dapat diandalkan?” Xie Lian bertanya-tanya. Mungkin ada beberapa dewa bela diri yang bisa diandalkan sebelumnya, tapi sekarang, tidak ada banyak yang tersisa. Beberapa dari mereka sudah berjatuhan, hangus, hilang, dan bahkan beberapa dari mereka tampak seperti seorang anak memeluk kakinya dan meratap. Hua Cheng berbicara, “Tidak perlu mencari bantuan lainnya, mereka semua tidak berguna. Hanya gege dan aku saja sudah cukup.”

“Itu pasti tidak akan cukup,” kata Kepala Pendeta.

Pei Ming juga mengungkapkan keberatannya dari jauh, “Hujan Darah Mencapai Bunga, tidak bisakah kau tidak perlu mengatakan sesuatu seperti ‘mereka semua tidak berguna’ dengan nada yang begitu percaya diri dan dapat dipercaya seperti itu!”

Shi Qing Xuan juga tertawa terbahak-bahak mendengarnya, “Jenderal Pei, tubuhmu benar-benar terbakar, dan kamu bahkan tidak bisa mengalahkan tikus sebanyak yang dikalahkan Tuan Master Hujan, jadi apa yang sebenarnya kamu keluhkan!”

Dia belum bertemu dengan Pei Ming untuk waktu yang lama, tetapi ketika saat itu mereka saling bertemu, Shi Qing Xuan masih menemukan perasaan sukacita ketika mengejeknya. Setelah ditusuk di tempat yang sakit dengan kalimatnya, Pei Ming tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menjadi lebih tertekan. Saat itu, sebuah suara tiba-tiba datang, “Tunggu, aku juga, aku juga akan pergi.”

Kerumunan disana berpisah untuk melihat seseorang yang baru saja berbicara, dan baru kemudian mereka memperhatikan bahwa orang yang baru saja berbicara ternyata adalah Mu Qing. Entah sejak kapan, dia sudah berdiri di bagian paling belakang kerumunan. Xie Lian melihatnya muncul dan bernapas lega, “Mu Qing? Kapan kamu datang? Selama ini kamu pergi kemana? Aku pikir kamu menghilang.”

Namun, Mu Qing berkata, “Aku selalu ada di sini.”

Hua Cheng menyilangkan tangannya, menatapnya tajam, “Selalu ada di sini, tetapi kau bahkan sama sekali tidak berbicara maupun membantu, huh?”

Mu Qing menjawab dengan datar, “Aku bilang aku selalu ada di sini, hanya saja aku tidak berbicara, dan tidak ada yang melihatku, itu saja.”

Namun, sebelumnya ada beberapa kesempatan ketika mereka benar-benar tengah membutuhkan orang dan keberadaannya tidak pernah ditemukan, dan bahkan ketika dia dipanggil dia tidak pernah menjawab, itulah sebabnya semua orang berpikir Jenderal Xuan Zhen telah menghilang. Xie Lian masih berharap kemungkinan Feng Xin juga akan berada di dalam kerumunan, tetapi mereka tidak menemukannya setelah mencari lebih lanjut, dan Feng Xin benar-benar tidak ada di sana, jadi dia hanya bisa berkata, “Baiklah. Kamu mau ikut membantu? Itu hebat, akhirnya ada seseorang yang berguna.”

Dengan demikian, Mu Qing berjalan mendekat. Melihat dia mendekat, Kepala Pendeta dan Hua Cheng memperlihatkan ekspresi yang sama. Keduanya tidak menyukai Mu Qing sejak lama; tidak perlu berbicara tentang kasus yang dimiliki dan dialami Hua Cheng, tetapi Kepala Pendeta tidak benar-benar ingin menjadikan Mu Qing sebagai muridnya sejak awal, dan hanya melihat dari hal-hal yang dapat dengan mudah ditebak saja, alih-alih memiliki Mu Qing sebagai satu-satunya orang yang akan menolong, dia lebih suka tidak memiliki penolong sama sekali. Mu Qing tidak mungkin mengabaikan sikap yang mereka berdua tunjukan padanya, tetapi setelah dia mendekat dia masih membungkuk kepada Kepala Pendeta dan berkata pelan, “Tuan.”

Kepala Pendeta mengangguk dan tidak banyak bicara. Lagi pula, itu tidak seperti Mu Qing telah melakukan sesuatu yang kejam maupun melakukan tindakan kriminal, dan karena kedatangannya kini ada untuk membantu, tidak ada alasan untuk menghentikannya. Dia menoleh ke arah Shi Qing Xuan, “Patung ilahi Yang Mulia akan menjaga tempat ini. Roh-roh penuh kebencian masih butuh beberapa hari lagi untuk bisa benar-benar dimurnikan, dan karena ada begitu banyak orang yang akan membantu di sini, jaga dirimu baik-baik.”

Shi Qing Xuan mengangguk, “Tentu saja! Tapi tunggu, Penatua, aku sudah menanyakan hal ini berulang kali, tetapi bisakah kamu menjawab pertanyaanku kali ini, sebenarnya siapa kamu?”

Kepala Pendeta tidak menjawab. Kelompok itu mengikuti Hua Cheng dan berjalan ke depan sebuah rumah besar di tepi jalan. Hua Cheng dengan mudah melemparkan dadu dan baru saja akan membuka pintu ketika tiba-tiba, dia melihat sekilas, dan ekspresi wajahnya berubah sedikit.

Indera Xie Lian tajam dan dia segera menyadarinya, “Ada apa, San Lang? Apakah Array Pemendek Jarak tidak bisa digunakan?”

Hua Cheng balas menjawab dan tersenyum, “Tidak. Hanya saja, jarang bagiku untuk mengeluarkan hasil seperti ini.”

Dia membuka telapak tangannya. Xie Lian mencoba mendekat untuk melihat dan Ia terkejut setelahnya.

Di atas telapak tangan putih pucat itu ada sebuah dadu, dan apa yang ditunjukkannya adalah satu titik.

Ketika Hua Cheng melemparkan dadu, selalu ada enam titik merah cerah yang muncul, dan Ia benar-benar jarang menghasilkan lemparan senilai mata ular. Ujung hati Xie Lian bergetar, “… Apa artinya lemparan ini? Apa kamu melakukan kesalahan?”

“Berdasarkan pengalaman masa laluku, ini mungkin berarti ada sesuatu yang sangat berbahaya menungguku di depan,” kata Hua Cheng.

“…”

Jantung Xie Lian melemas. Di belakang mereka, Kepala Pendeta berbicara, “Huh, bukankah sudah kukatakan padamu berulang kali anak muda jika judi itu benar-benar buruk, jadi cepatlah hancurkan kebiasaan burukmu itu! Yang Mulia, apa kamu tahu, kebiasaan buruk macam apa yang ia miliki!”

Pertanda buruk, tapi Hua Cheng masih terlihat tidak terganggu, dan dia menyelipkan dadu itu kembali, tersenyum, “Itu hanya sebuah referensi, tidak masalah apa yang aku lakukan. Apakah itu berbahaya atau tidak, hanya aku yang bisa menentukan.” Kemudian dia membuka pintu, “Ayo pergi, gege.”

Dia berbalik dan baru saja akan melewati ambang pintu ketika Xie Lian secara tidak sadar mengulurkan tangan dan menariknya kembali, hampir berkata, “Jangan pergi lagi”, tetapi bahkan di dalam pikirannya pun Xie Lian tahu jika itu tidak mungkin. Pada akhirnya, dia hanya berkata dengan lembut, “Ayo pergi. Tapi, jangan pernah pergi dari sisiku. Jika sesuatu terjadi, aku akan melindungimu. “

Mendengar ini, Hua Cheng tertegun.

Itu adalah momen yang baik sebelum sudut bibirnya melengkung, dan dia tersenyum lebar, “Baiklah. Gege, ingatlah untuk melindungiku.”

“…” Mu Qing yang sejak tadi berada di sisi keduanya dan melihat semua itu kini menatap keduanya dengan pandangan kesal dan jijik. Saat Hua Cheng membuka pintu, gelombang panas terik datang menerjang wajahnya, ekspresinya berubah aneh.

Gunung berapi meletus belum lama ini, debu serta abu yang berterbangan dan menutupi langit belum sepenuhnya menyebar. Di tempat yang dulunya adalah hutan dan bumi kini telah terbakar, api melahap semua kehidupan, benar-benar tampak seperti neraka yang menyala-nyala, memancarkan gelombang warna merah tua yang membara. Gunung TongLu telah kehilangan semua penampilan yang dimilikinya sebelumnya.

Xie Lian dan teman-temannya muncul dari gua berbatu yang berada di sebuah bukit yang lebih tinggi, dan saat mereka keluar, mereka hampir mati lemas oleh abu yang masih menutupi udara tempat itu, “Apa dia benar-benar ada di sini?”

“Kemungkinan dia ada di suatu tempat dekat Tungku.” Kata Mu Qing.

“Gunung berapi sudah meletus, kemungkinan besar tidak ada lagi tempat di dekat Tungku yang bisa ditinggali.”

Namun, Kepala Pendeta berkata, “Aku tahu di mana dia. Jika tempat itu tidak hancur, kemungkinan dia ada di sana. Ikuti saja aku, dan kamu akan mengetahuinya ketika kita sampai di sana.”

Kelompok itu mengikutinya dan segera turun dari bukit yang tinggi. Di sepanjang perjalanan itu Hua Cheng berjalan di depan Xie Lian. Ketika ada puing-puing dan gulma tinggi yang membuat langkah sulit, dia akan naik terlebih dahulu untuk meratakan jalan sebelum berbalik untuk meraih Xie Lian, membantunya turun. Kalau tidak, Xie Lian mungkin akan turun lebih cepat – tergelincir dari titik tertinggi bukit dan berguling sampai ke bawah.

Namun tiba-tiba, bukan Xie Lian yang tergelincir tetapi itu adalah orang lain yang mengalami kemungkinan terburuk itu – Mu Qing hendak melangkah tetapi dia kehilangan pijakan, tubuhnya bergoyang. Xie Lian yang berada paling dekat dengannya, dengan segera menangkap sosoknya dengan kedua tangannya, “Awas!”

Mu Qing tersentak sedikit sebelum seakan kembali sadar, “Aku tahu.”

Xie Lian melepaskannya, berpikir Mu Qing memang berperilaku aneh. Dia menoleh dan tiba-tiba teringat sesuatu, dan dengan cepat segera berlari ke sisi Hua Cheng, berbisik, “Ngomong-ngomong, San Lang, ketika sebelumnya di puncak gunung bersalju ketika Feng Xin dan Mu Qing bertarung, apa yang kamu dengar dari mereka? Kenapa tiba-tiba kamu begitu marah?”

Mendengarnya bertanya, wajah Hua Cheng berubah sedikit dingin tetapi berhasil disembunyikannya sesaat kemudian, “Oh, itu. Mereka hanya berbicara tanpa berpikir, dan mengatakan beberapa hal tidak sopan tentang gege, itu saja.”

“Hah?” Xie Lian bertanya, “Seperti apa?”

Gege tidak perlu tahu.” Hua Cheng berkata, “Itu hanya akan mengotori telingamu. Ayo, kita turun.”

Mereka berempat turun dari bukit yang tinggi, dan setelah berjalan sebentar, jalan mereka terhalang oleh sungai. Apa yang mengalir di sungai bukanlah air yang jernih, tetapi sebuah cairan merah tua yang masih menggelegak – itu adalah aliran lahar yang membara!

Dengan suhu yang membakar ini, orang normal tidak perlu turun untuk membuat nyawa mereka terancam, hanya mendekatinya saja, mereka akan mati karena semburan gelombang panas dari lahar itu. Beruntung tidak ada dari mereka yang fana sehingga mereka bisa bertahan di tanah yang melelehkan tulang ini. Kepala Pendeta terus menyeka keringat di wajahnya, “Tempatnya seharusnya berada tepat di seberang sungai. Tempat ini dulunya adalah parit, tapi sekarang sudah berubah menjadi seperti ini, kita tidak akan bisa menyeberang.”

“Kita mungkin akan membutuhkan sesuatu untuk membantu menyeberangi sungai.” Kata Xie Lian.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh Nadirah Syifa ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments