Penerjemah : Jeffery Liu


Saat pedagang air itu menyelesaikan kalimatnya, semua orang terdiam, karena dia benar-benar telah memukul telak bagian paling sensitif di kepala mereka. Dalam dua hari terakhir, benar-benar tidak ada orang yang datang untuk membantu Xie Lian. Pedagang air ini setidaknya memiliki pikiran untuk membantu, dia hanya tidak berhasil, tetapi yang lain bahkan tidak berani melirik ke arahnya!

Seseorang menggerutu, “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika kita tidak bisa melakukan cara ini, mengapa kamu tidak mencoba memikirkan cara lainnya??”

Kerumunan disana akan kembali memicu kegaduhan laiinya, beberapa bahkan mencoba mendorong diri mereka ke depan, dan saat itu, suara lain berteriak dengan kejam, “SIAPA YANG MEMULAI SEMUA KERIBUTAN INI? JIKA ADA YANG INGIN MELAWAN ORANG JAHAT ITU, LELUHUR INI MEMILIKI PISAU!”

Ketika mereka melihat ke arah sumber suara, itu adalah koki gemuk sebelumnya yang ingin menarik pedang pada hari pertama Xie Lian jatuh dari langit. Sesuatu sepertinya telah memprovokasi dia, dan dia meraung, “Teman kecil itu benar! Jika bukan karena ada beberapa orang yang menahanku kemarin, aku akan hampir mencabut pedang itu! Dan sekarang, bahkan sebelum aku bergerak, kalian adalah orang-orang yang paling ribut? MENYEDIHKAN! Kalian pikir kalian semua layak? Yah kalian tentu tidak melihat kulit tebal yang tak tahu malu seperti itu setiap hari!”

Koki itu bertubuh besar, suaranya keras dan jernih, dan dia berada di puncak amarahnya, pisau daging tergenggam di tangannya, seolah-olah dia baru saja keluar dari dapur. Orang-orang yang mengeluh paling keras sebelumnya langsung tidak berani membuat suara lagi. Ada orang-orang yang tidak tahu apa yang terjadi beberapa hari terakhir, dan setelah mereka bertanya, mereka semua terkejut, “Tidak mungkin? Tak satu pun dari kalian yang pergi untuk membantunya?”

“Ya, kalian semua baru saja meninggalkannya di sana berbaring selama dua hari? Bahkan tidak membantunya duduk atau apa?”

Semakin banyak mereka berbicara, semakin banyak orang yang merasa malu, dan mereka membalas, “Jangan berbicara seolah-olah kalian akan pergi untuk membantu, dan mengatakan semua hal-hal yang indah setelah mengetahui fakta yang terjadi. Jangan lupa, ketika hal-hal mengerikan turun kemudian, tidak ada dari kita yang bisa melarikan diri!”

“Heh kalau begitu aku akan memberitahumu, jika aku ada di sana, aku pasti akan membantunya menarik pedang!”

“Tentu saja mudah menggerakkan bibirmu setelah semuanya selesai …”

“TUNGGU! Apa yang kalian semua perdebatkan? Menarik pedang bukanlah masalahnya sekarang!”

Ketika mereka berdebat, kedua belah pihak sangat ribut dan susah diatur, keributan menunggu untuk terjadi, dan hujan juga perlahan-lahan berhenti. Namun, awan hitam itu tumbuh semakin tebal, tekanannya begitu pekat hingga mencekik ratusan orang di bawahnya. Tiba-tiba, ada teriakan yang meledak dari dalam kerumunan, dan banyak jari menunjuk ke langit, “BENDA ITU DATANG!!!”

Kepala Xie Lian juga terangkat. Wajah-wajah manusia yang bergulung-gulung di dalam awan hitam tiba-tiba mulai bergejolak, dan mereka dengan cepat jatuh seperti bintang jatuh hitam yang menyeret ‘ekor’ panjang di belakang mereka.

Penyakit wajah manusia datang!

Kerumunan orang membatu ketika mereka kehilangan diri mereka sendiri; beberapa mulai melarikan diri, beberapa memutuskan untuk pergi bersembunyi di dalam rumah, dan ada juga beberapa yang pergi untuk mengambil pedang hitam sebelumnya. Namun, pedang hitam yang terbentur ke tanah telah menghilang entah sejak kapan, dan mereka hanya mendapatkan tangan kosong.

Xie Lian terlalu terkejut dengan reaksi orang-orang sebelumnya dan hanya sekarang dia telah menyadarinya, dan dia berseru, “Di mana pedangnya? SIAPA YANG MENGAMBIL PEDANGNYA??”

Tidak ada yang memiliki waktu untuk menjawab karena semua orang mulai melarikan diri ke segala arah. Namun, bagaimana mungkin mereka bisa lebih cepat daripada roh-roh penuh dendam yang jatuh itu? Tidak lama kemudian, datang suara tangisan dan jeritan orang hidup dan lolongan roh-roh yang marah!

Setelah arwah-arwah yang marah itu mengejar orang yang hidup, mereka seperti menggulung asap hitam pekat, tanpa henti dan begitu melekat, masuk melalui setiap pori, perlahan-lahan menyatu ke dalam tubuh mereka. Xie Lian dengan sungguh-sungguh berusaha mengusir mereka, tapi sayangnya, masih ada terlalu banyak roh yang kesal, dan dia sendiri tidak bisa mengusir mereka semua. Dia menyaksikan tanpa daya kerumunan orang-orang di depannya yang terus meratap dan melolong ketika mereka dikejar oleh roh-roh itu, Ia melihat sepasang pedagang air kecil dan istrinya, dan Ia juga melihat koki sebelumnya yang tengah berguling-guling di tanah bergulat dengan asap hitam di sekelilingnya, dan sementara itu, Si Putih Tanpa Wajah tampak berdiri di sampingnya, mengejek tanpa henti, menyaksikan semuanya.

Xie Lian sangat marah dan cemas, dan dia kembali menguatkan hatinya, meraung ke arah tempat yang dipenuhi dengan roh-roh kesal disana, “HEY−!”

Dia adalah dalang di balik kebangkitan mereka, dan dengan panggilan ini, makhluk-makhluk itu dengan sangat alami mulai memperhatikannya. Xie Lian membuka tangannya lebar-lebar, “KEMARILAH!”

Roh-roh penuh dendam yang sudah menjerat dan merasuki tubuh manusia hidup tampak ragu-ragu, ragu apakah mereka harus pergi atau tidak, di sisi lain roh-roh penuh dendam yang masih ada di udara langsung berubah arah dan langsung menuju Xie Lian.

Berhasil!

Jantung Xie Lian berdetak sangat kencang hingga Ia khawatir detak jantungnya akan berhenti kapan saja. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, dan dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Tapi, dengan semua darah yang mengalir di kepalanya, dia akan memberikan semuanya. Dia merasa, bahkan jika itu hanyalah upaya untuk memulihkan namanya dan membuat dirinya dipukuli sampai tubuhnya berubah menjadi hitam dan biru, dia masih tidak akan pernah mundur; bahkan jika ratusan ribu jiwa orang mati itu datang kepadanya, dia akan tetap tak terkalahkan!

Kau ingin melihatku merasa begitu bersalah atas diriku dan membuatku merusak diriku sendiri pada akhirnya, bukan?

YAH, AKU TIDAK AKAN PERNAH MELAKUKANNYA!!!

TIDAK AKAN PERNAH!!!

Kawanan gelombang hitam yang menutupi langit ke bumi mengelilingi Xie Lian, dan roh penuh dendam disana meratap ketika mereka melewati tubuhnya. Dalam sekejap, jantung Xie Lian seolah membeku dan tubuhnya bergetar. Segera setelah itu, gelombang kedua datang, kemudian yang ketiga …

Makhluk-makhluk itu seperti bilah dengan aura yang tajam, menyerangnya, menembus tubuhnya, dan setiap kali, mereka mengambil sedikit dari apa yang tersisa dari kehangatan yang dimilikinya, dan wajah Xie Lian menjadi semakin pucat. Namun demikian, ia tetap berdiri teguh dan tidak pernah mundur.

Baru ada beberapa ratus dari mereka yang datang kepadanya, sementara dia baru saja berdiri disana selama beberapa menit, dan gelombang asap hitam lain yang lebih banyak akan datang lagi setelahnya. Seluruh langit yang penuh dengan awan hitam, Ia akan menanggung semuanya!

Xie Lian memejamkan mata, bersiap menghadapi amarah yang menyala-nyala dari semua roh yang kesal dengan kekuatannya sendiri. Namun tiba-tiba, roh penuh kebencian dari gelombang berikutnya tidak pernah datang. Bingung, Xie Lian membuka matanya, dan yang mengejutkannya, gelombang pasang hitam yang menutupi langit ke bumi di sekitarnya telah menghilang.

Karena, mereka semua berubah menjadi arus hitam bergulir, dan tersedot ke arah yang berbeda!

Tertegun, Xie Lian menoleh untuk melihatnya. Di ujung jalan panjang disana tampak berdiri seorang prajurit berpakaian hitam, dan sebuah pedang hitam panjang tampak tergenggam di tangannya.

Wu Ming?

Xie Lian telah memberinya perintah sebelumnya agar dia pergi sementara Xie Lian melepaskan penyakit wajah manusia, jadi mengapa sekarang dia muncul di sini, di tempat ini?

Xie Lian tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang tengah dilakukan oleh prajurit berpakaian hitam itu di sini, tapi setelah tertegun sesaat, dia segera menyerbu ke arahnya berlari sambil berteriak, “TUNGGU! APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN? JANGAN MENYENTUHNYA! BERIKAN PEDANG ITU PADAKU!”

Prajurit berpakaian hitam itu sepertinya telah mendengar suaranya dan sedikit mendongak. Xie Lian tidak bisa melihat wajahnya yang sebenarnya, dan hanya melihat sebuah topeng dengan senyum terlukis disana. Namun, perasaan aneh datang padanya.

Dia merasa, bahwa di balik topeng prajurit hitam itu, dia benar-benar tersenyum.

Namun, perasaan itu berlalu begitu cepat. Aliran asap hitam yang sangat besar dan gelombang teriakan bercampur dan membentuk badai, dan asap itu mulai berkumpul, menelan seluruh tubuh prajurit berpakaian hitam itu dalam sekejap.

Pada saat itu, Xie Lian mendengar suara jeritan memilukan yang begitu menyayat hati.

Dia sepertinya pernah mendengar suara ini dari suatu tempat sebelumnya. Dia pasti pernah mendengar suara ini di suatu tempat sebelumnya!

Begitu menyakitkan. Sangat menyakitkan seperti dia merasakan penderitaan yang sama; begitu menyakitkan sehingga Ia merasa nasibnya lebih buruk daripada kematian; sangat menyakitkan sampai Ia merasa jika tubuhnya akan hancur; begitu menyakitkan hingga dia jatuh berlutut di tanah, memeluk kepalanya sendiri ketika dia juga berteriak.

“AAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!!!”

Ledakan rasa sakit yang luar biasa di hatinya datang dengan begitu tiba-tiba dan pergi dengan sama cepatnya, dan setelah waktu yang tidak diketahui berlalu, keheningan perlahan turun, dan Xie Lian juga secara bertahap menjatuhkan tangan yang memeluk kepalanya.

Dengan sedikit merasa kebingungan, dia melihat ke atas dan mengamati sekeliling, dan di sekelilingnya terbentang tanah yang tertutupi oleh orang-orang, sebagian besar dari mereka tidak sadarkan diri, tetapi semua arwah yang menjebak mereka telah lenyap.

Adegan ini untuk sementara waktu membingungkannya. Apa yang terjadi pada penyakit wajah manusia? Apa yang terjadi pada arwah penuh dendam sebelumnya? Apa yang terjadi pada dirinya sendiri?

Tidak ada jejak semburan asap hitam yang tersisa, dan satu-satunya yang tersisa di mana hantu tanpa nama berpakaian hitam itu sebelumnya berdiri adalah pedang hitam yang jatuh ke tanah. Dan, di sebelah ujung bilahnya ada sebuah bunga putih kecil.

Xie Lian merangkak dengan terhuyung-huyung dan berjalan, mengambil bunga dan pedang itu.

Dia merasakan wajahnya sendiri, memandangi lengannya, dan Ia sama sekali tidak merasakan ada keanehan yang terjadi di tubuhnya, seperti dia baru saja mengambil kutukan yang kuat atau sesuatu semacam itu. Di dalam kebingungannya itu, sebuah suara tiba-tiba datang dari belakangnya, dan suara itu terdengar begitu lembut, “Ah.”

XIe Lian berbalik, dan Si Putih Tanpa Wajah berdiri di belakangnya, lengannya menyilang dan terselip di lengan bajunya, lengannya yang lebar tampak berkibar tertiup angin.

Pikiran Xie Lian belum sepenuhnya memproses apa yang terjadi, tetapi Ia merasakan firasat samar.

Si Putih Tanpa Wajah meliriknya dan mulai tertawa. Perasaan firasat itu semakin kuat, dan Xie Lian mengernyitkan alisnya, “Apa yang kamu tertawakan?”

Si Putih Tanpa Wajah bertanya kepadanya, “Kamu masih tidak mengerti apa yang baru saja terjadi?”

“Apa?” Xie Lian bertanya.

“Apakah kamu tahu siapa hantu itu?” Tanya Si Putih Tanpa Wajah.

“… Ji− Jiwa orang mati dari medan perang?” Xie Lian mencoba menjawabnya.

“Ya.” Si Putih Tanpa Wajah menjawab, “Tapi pada saat yang sama, dia juga adalah penyembah terakhirmu. Sekarang, dia tidak ada lagi di dunia ini.”

… Penyembah?

Apakah dia sebenarnya masih memiliki seorang penyembah di dunia ini?

Itu adalah momen yang baik sebelum Xie Lian bisa mengeluarkan beberapa kata.

Dia berkata dengan terhuyung-huyung, “Apa maksudmu, tidak ada lagi?”

Si Putih Tanpa Wajah menjawab dengan lemah, “Jiwanya telah hancur.”

Xie Lian mengalami kesulitan menerimanya, “Bagaimana mungkin jiwanya hancur ??”

“Karena dia baru saja dikutuk atas namamu. Jiwa orang mati yang kamu panggil telah melahapnya sepenuhnya, tidak meninggalkan satu remah pun yang tersisa.” Kata Si Putih Tanpa Wajah.

“…”

Jiwa-jiwa orang mati yang dia panggil?

Dikutuk atas namanya?!

Si Putih Tanpa Wajah melanjutkan, “Oh ya, itu benar. Itu juga bukan pertama kalinya kamu bertemu dengannya.”

Xie Lian mengawasinya dengan tatapan penuh kebingungan. Melihatnya, Si Putih Tanpa Wajah tampaknya merasa geli, “Hantu ini sepertinya selalu mengikutimu. Pada awalnya aku hanya berpikir jika dia memiliki kebencian yang agak dalam sehingga aku menangkapnya dan menginterogasinya. Siapa yang tahu, jawabannya ternyata cukup menarik. Festival ZhongYuan, malam lentera, roh api hantu yang mengembara. Kamu masih ingat?”

Xie Lian bergumam, “Festival ZhongYuan? Malam lentera? Roh api hantu yang mengembara?”

Si Putih Tanpa Wajah dengan malas memberi isyarat lain kepadanya, “Hantu ini, dalam kehidupan, adalah seorang prajurit di bawah komandomu. Dalam kematiannya, dia adalah jiwa orang mati yang mengikutimu. Dia mati dalam pertempuran untukmu; berubah menjadi hantu ganas karena kamu yang ditusuk oleh seratus pedang; tetapi juga karena dirimu, jiwanya binasa oleh kamu yang mencoba melepaskan penyakit wajah manusia.”

Xie Lian tampak seperti mengingat sesuatu, tetapi dia bahkan belum pernah melihat wajah penyembahnya ini, dia bahkan tidak tahu namanya, jadi apa yang bisa dia ingat? Berapa banyak yang bisa dia ingat?

“Mungkin, ada orang yang benar-benar menyembah Yang Mulia di sini…”

Ya. Memang ada.

Dan, dia adalah satu-satunya!

Si Putih Tanpa Wajah tampaknya telah mengatakan banyak hal lain, tetapi Xie Lian tenggelam di dalam pikirannya lebih dalam lagi, tidak menangkap apapun dari yang dikatakannya, sampai akhirnya, Si Putih Tanpa Wajah berkata, “Dewa sepertimu benar-benar sangat menyedihkan dan menggelikan. Dan untuk menjadi penyembahmu, dia bahkan lebih menyedihkan dan menggelikan sampai ke titik paling ekstrim.”

“…”

Ketika dia mengejek Xie Lian sebelumnya, Xie Lian tidak bereaksi apapun, tetapi ketika dia mendengar makhluk ini dengan rendah hati berkomentar tentang bagaimana penyembahnya begitu menyedihkan dan menggelikan, seolah-olah Xie Lian tersentak bangun oleh tikaman pedang, dan kemarahan yang tak terkendali menyerang hatinya.

Dia mencoba menyerangnya tetapi berhasil ditangkap dengan mudah, dan Si Putih Tanpa Wajah berkata dengan dingin, “Kamu tidak bisa menang melawanku dengan cara seperti ini. Berapa kali aku harus memberi tahumu sebelum kamu melihat kebenaranya?”

Xie Lian tidak ingin menang melawannya sejak awal, dan tidak masalah jika dia tidak bisa menang. Dia hanya ingin mengalahkan makhluk itu dan mengubahnya menjadi bubur, dan dia berteriak dengan marah, “MEMANGNYA KAU TAHU APA!! BERANI-BERANINYA MENGEJEKNYA!!”

Si Putih Tanpa Wajah menjawab, “Mengapa aku tidak berani mengejek seorang pengikut yang gagal? Kamu bodoh, dan penyembahmu lebih bodoh lagi. Dengar! Jika kamu ingin mengalahkanku, maka kamu harus mematuhi ajaran yang aku berikan kepadamu. Kalau tidak, kamu tidak akan pernah menang melawanku bahkan di dalam mimpi sekalipun!”

Xie Lian ingin meludahinya dengan semua yang dia miliki, tetapi bahkan bernapas pun sulit baginya. Si Putih Tanpa Wajah membalik tangannya dan membukanya kembali, dan apa yang ada di dalam telapak tangannya muncul topeng setengah tersenyum-setengah menangis lainnya, “Sekarang, mari kita mulai lagi!”

Dia hanya menempelkan topeng ini ke wajah Xie Lian ketika tiba-tiba, tepat pada saat itu, ada gemuruh keras yang terdengar.

Di cakrawala, kilat melintas dan guntur meraung, dan cahaya aneh keluar dari lapisan awan. Si Putih Tanpa Wajah terkejut dan gerakannya terhenti, “Apa ini? Bencana Surgawi? …”

Setelah jeda, dia membantahnya, “Tidak, bukan itu!”

Bukan itu.

Itu adalah Bencana Surgawi, tapi, itu bukan hanya Bencana Surgawi!

Suara dalam seorang pria bergema di seluruh langit, “Jika dia tidak bisa menang melawanmu, bagaimana denganku?”

Kepala Xie Lian terangkat.

Entah sejak kapan kapan, seorang dewa bela diri muda yang tampak mengenakan baju besi putih dan penuh dengan aura yang menguntungkan muncul di ujung jalan panjang di depan. Lapisan tipis cahaya spiritual putih menyelimuti tubuhnya, dan dia memegang pedang di tangannya saat dia berjalan perlahan ke arah mereka langkah demi langkah, memecah jalur cahaya di dunia yang gelap dan suram ini.

Xie Lian membelalakkan matanya terlepas dari dirinya sendiri.

Jun Wu!

***

Setelah hujan berhenti dan langit berubah cerah, Xie Lian terduduk di tanah yang terbakar, napasnya terengah-engah.

Jun Wu menyarungkan pedangnya dan berjalan mendekatinya, “Xian Le. Selamat datang kembali.”

Dia menunjukkan ekspresi lelah, sisa-sisa darah masih ada di wajahnya, ditinggalkan oleh Si Putih Tanpa Wajah. Selain itu, tubuh Jun Wu diliputi oleh banyak sekali luka besar dan kecil di seluruhnya. Luka-luka itu tidak tampak serius, namun luka-luka yang diterima oleh Si Putih Tanpa Wajah lebih serius, begitu banyak sehingga tubuhnya terkoyak, bentuknya tersebar, hanya menyisakan topeng setengah tersenyum-setengah menangis yang hancur.

Ketika dia mendengar dia berkata ‘kembali’, Xie Lian terkejut. Dia merasakan lehernya dan baru kemudian dia menyadari bahwa belenggu terkutuk itu telah menghilang.

Jun Wu tersenyum, “Seperti yang diharapkan, aku tidak salah. Waktu yang kamu perlukan untuk kembali lebih pendek dari yang aku bayangkan.”

Xie Lian perlahan memproses informasi ini lalu tersenyum kecil, nemun senyum itu terasa begitu pahit.

Setelah menarik napas, dia berbicara, “Tuanku, aku ingin memohon sesuatu padamu.”

“Bicaralah.” Kata Jun Wu.

“Apakah kamu tidak akan bertanya apa itu?” Xie Lian bertanya.

“Bagaimanapun kamu hanya ingin meminta hadiah karena kamu telah kembali ke Pengadilan Surgawi, jadi apapun ini, anggap saja sebagai salah satu hadiahku untukmu.”

Sudut bibir Xie Lian berkedut dan dia bangkit, menatap Jun Wu tepat di matanya dan berkata dengan sangat hormat, “Lalu, aku berharap Tuanku mengusirku ke alam fana sekali lagi.”

Mendengar ini, senyum Jun Wu memudar, “Untuk apa?”

Xie Lian menjelaskan dengan jujur, “Aku telah melakukan kejahatan. Babak kedua penyakit wajah manusia dilepaskan olehku. Meskipun konsekuensinya tidak terlihat terlalu serius.”

Karena, hanya hantu tanpa nama itu yang menghilang, dan mungkin di dunia ini, tidak akan ada orang yang peduli pada hantu tanpa nama ini, jadi pada akhirnya, konsekuensinya tidak terlihat serius.”

Jun Wu berkata perlahan, “Jika kamu tahu kesalahanmu, maka, kamu sudah berada di jalan yang benar.”

Namun, Xie Lian menggelengkan kepalanya, “Mengetahuinya saja tidak cukup. Jika aku melakukan kesalahan, aku harus menjadi orang yang menerima hukuman, tetapi, aku melakukan kesalahan, tetapi orang yang mengambil hukuman itu untukku adalah … “

Dia mengangkat kepalanya, “Jadi, sebagai hukuman, aku berharap Tuanku akan memberiku satu belenggu terkutuk, tidak, dua belenggu terkutuk. Satu untuk menyegel kekuatan spiritualku, dan yang lain untuk menghancurkan semua keberuntungan dan kekayaan yang aku miliki.”

Jun Wu sedikit mengernyit, “Menghancurkan semua keberuntungan dan kekayaanmu? Maka bukankah itu berarti kamu tidak akan pernah lagi mendapatkan keberuntungan, dan benar-benar menjadi Dewa Kemalangan?”

Di masa lalu, Xie Lian pasti akan sangat keberatan ketika dia dipanggil Dewa Kemalangan, dan sangat jijik karenanya, berpikir jika panggilan itu adalah sebuah penghinaan besar. Namun, dia tidak lagi peduli pada hal-hal seperti itu, “Jika aku menjadi Dewa Kemalangan, maka seperti itu pun tidak masalah. Selama aku tahu kalau aku bukan, itu saja sudah cukup.”

Begitu kekayaannya dihancurkan, itu akan secara alami mengalir kepada mereka yang juga kurang beruntung, jadi itu akan menjadi bentuk penebusan dosa.

“Ini akan sangat memalukan.” Jun Wu mengingatkannya.

“Tidak masalah.” Xie Lian berkata, “Dan sejujurnya, rasanya … aku hampir terbiasa sekarang.”

Meskipun dia sama sekali tidak ingin terbiasa dengan itu, tapi, begitu dia terbiasa, itu benar-benar terasa seperti tidak ada yang bisa menyakitinya.

Jun Wu memperhatikannya, “Xian Le, kamu harus mengerti, tanpa kekuatan spiritual, kamu tidak akan lagi menjadi dewa.”

Xie Lian menghela napas, “Tuanku, aku mengetahuinya lebih baik daripada siapa pun.”

Setelah terdiam beberapa saat, Ia berkata, dengan sedikit frustrasi dan sedikit sedih, “Semua orang mengatakan jika aku adalah dewa dan karenanya aku memiliki kekuatan spiritual. Tapi sebenarnya, aku … bukanlah dewa yang mereka pikirkan tentangku, dan aku mungkin tidak akan bisa menjadi sosok tak terkalahkan seperti yang mereka harapkan.”

“Akankah menjadi seorang dewa merupakan suatu kegagalan? Ingin melindungi bangsaku sendiri, tetapi aku membiarkan mayat mereka menyebar dengan begitu liar seperti itu; ingin membalaskan dendam mereka, tetapi pada menit terakhir aku bahkan berhenti dan meninggalkan rencana awalku. Si Putih Tanpa Wajah sama sekali tidak salah ketika Ia menyebutku ‘kegagalan’.”

“Jika aku bukan lagi dewa, maka seperti itu pun tidak masalah.”

Jun Wu menatapnya dengan saksama, dan setelah beberapa saat, dia berkata, “Xian Le telah dewasa.”

Ini seharusnya menjadi sesuatu yang Xie Lian dengar dari para tetua. Sayangnya, ayah dan ibunya tidak punya kesempatan lagi untuk mengatakannya.

Sesaat kemudian, Jun Wu berkata, “Karena itu jalan yang telah kamu pilih, maka, itu sangat baik. Namun, aku membutuhkan alasan untuk bisa membuangmu ke dunia fana.”

Dia tidak bisa begitu saja membuang seorang pejabat surgawi seperti permainan anak-anak; apa yang telah mereka ambil dari surga?

Sehubungan dengan ini, Xie Lian memiliki sebuah ide, dan dia berkata, “Tuanku, kita tidak pernah berdebat dan bertarung dengan semua kemampuan yang kita miliki, bukan?”

Jun Wu langsung mengerti apa yang dia maksud dan tersenyum, “Xian Le, aku sedang terluka.”

“Aku juga terluka,” kata Xie Lian, “Jadi kita sama.”

Jun Wu mengangguk, “Jika itu masalahnya, maka aku tidak akan menahan diri.”

Xie Lian tersenyum, matanya cerah dalam kegembiraan, “Aku juga tidak.”


Yang Mulia Putra Mahkota dibuang sekali lagi.

Setelah Bencana Surgawi kedua yang begitu menghancurkan terjadi, Putra Mahkota Xian Le, yang begitu ganas, mengamuk kembali ke surga, dan bahkan sebelum satu waktu dupa habis, dia dihempaskan kembali ke bawah sekali lagi oleh Kaisar Bela Diri Surgawi. Tidak ada pejabat surgawi yang bisa mengetahui apa yang sesungguhnya dipikirkan pria itu???

Tapi, Xie Lian juga tidak tahu apa yang dipikirkan pejabat surgawi lainnya.

Apakah mereka benar-benar penasaran? Mengawasinya hari demi hari, menyamar sebagai manusia untuk mengawasinya, menyamar sebagai binatang untuk mengawasinya, sudah beberapa hari terakhir ini mereka masih menguntitnya! Apakah menonton seorang pria dewasa membawa batu bata dan lumpur sangat menarik???

Saat dia masih bertanya-tanya, mandor di belakangnya berteriak, “HEI ORANG BARU, KAU, YA KAU, AKU BICARA KEPADAMU! KEMBALI BEKERJA DAN BERHENTI BEMALAS-MALASAN!”

Xie Lian buru-buru duduk dan menjawab dengan keras, “OH!”

Kemudian, dia mengambil kipas ekor kucing yang tampak compang-camping dan mulai mengipasi api. Di depannya ada kompor kecil yang ditumpuk di atas beberapa batu bata, dan di atas kompor itu ada sebuah panci besar berisi nasi yang sedang dimasak.

Ini adalah situs konstruksi di mana ia mengangkut tanah dan lumpur. Namun, batu bata sudah selesai diangkut. Tidak jauh dari tempat itu ada dua kuil yang baru dibangun, dan tugasnya saat ini adalah memasak. Dia terus memasak dan memasak, dan saat dia sedang bekerja sangat keras, dua kereta datang membawa dua patung ilahi yang sangat besar. Xie Lian tanpa sadar melemparkan apa pun ke dalam panci sambil mencuri pandang di tengah pekerjaannya.

Dua patung ilahi itu masing-masing dibawa ke dalam masing-masing kuil disana. Di dalam aula kuil di sebelah kiri, terdengar sorak-sorai suara yang berteriak, “Jenderal Xuan Zhen hebat! Jenderal Xuan Zhen murah hati dan baik hati!”

Xie Lian terdiam.

Untuk menggunakan kata ‘murah hati dan baik hati’ untuk memuji Mu Qing, apakah para penyembah itu sungguh-sungguh ketika mengatakannya?

Tapi, mereka sepertinya punya alasan yang sangat bagus untuk berani berkata seperti itu. Setelah semua hal yang terjadi hingga kini, semua orang tahu bahwa Mu Qing naik karena dia membersihkan semua roh penuh dendam yang tersisa di ibu kota kuno Xian Le, jadi untuk memujinya sebagai ‘murah hati dan baik hati; terdengar masuk akal. Bagaimanapun, semua orang di ibu kota kuno Xian Le sangat berterima kasih padanya.

Di dalam aula kuil di sebelah kanan, sorak-sorai suara juga terdengar menimpali, dan mereka meraung, “Jenderal Ju Yang hebat! Jenderal Ju Yang begitu berani dan perkasa!”

Xie Lian mengangguk. Dia sama sekali tidak keberatan dengan ini. Hanya saja, pujian itu mungkin tidak berlaku ketika Ia berhadapan dengan wanita.

Para penyembah di kedua sisi berteriak dengan sekuat tenaga, melakukan semua yang mereka bisa untuk memenangkan yang lain, sedemikian rupa sehingga telinga Xie Lian terasa begitu sakit, dan dia menghela napas, menggosok keningnya dan berpikir, mengapa mereka harus seperti ini?

Jika mereka saling membenci, bukankah masalahnya akan diselesaikan dengan tidak membangun kuil tepat di samping satu sama lain?

Jawabannya adalah – tentu saja tidak! Karena, daerah ini adalah wilayah yang paling ramai dengan fengshui terbaik, sehingga penyembah kedua pejabat surgawi itu tidak akan pernah meninggalkan tanah yang begitu lezat ini hanya untuk saling menghindari; tentu saja mereka harus melakukan semua yang mereka bisa untuk mencuri para penyembah satu sama lain dan saling mengejek.

Tidak butuh waktu lama sebelum para penyembah dari kedua belah pihak beralih dari berteriak menjadi saling bertarung. Di sisi ini, Xie Lian merasa waktunya sudah tepat, dan mulai membanting panci, berteriak keras, “SEMUA ORANG, BERHENTI BERTARUNG! AYO MAKAN!”

Mereka tengah berada di puncak perkelahian mereka, siapa yang punya waktu untuk memikirkannya? Xie Lian menggelengkan kepalanya dan membuka penutup panci, dan aroma harum itu mencapai sepuluh mil. Sekarang dia sudah melakukannya. Kerumunan orang disana langsung berhenti dan mereka semua mulai berteriak, “… APA-APAAN INI … BAU MACAM APA INI??”

“SIAPA YANG MEMASAK SAMPAH INI??”

“AROMANYA SANGAT BURUK SEPERTI PANTAT PANCI[1]?!”

[1] Pantat Panci adalah lapisan nasi di bagian paling bawah panci yang biasanya terbakar.

Xie Lian membantah, “APA!? Ini adalah resep kerajaan yang tersembunyi dan berharga … “

Mandor sebelumnya datang dengan tangan menutupi hidungnya, wajahnya berubah menjadi hijau, dan dia berseru, melompat berdiri, “OMONG KOSONG APA SIALAN, TERSEMBUNYI APA, RESEP BERHARGA MACAM APA? KERAJAAN APA?! KAMU? ENYAH DARI TEMPAT INI! JANGAN MEMBUAT ORANG LAIN MENJADI LEBIH JIJIK DENGAN ITU! “

Xie Lian berkompromi, “Baiklah, baiklah, aku akan pergi. Tapi tolong beri gajiku dulu … “

Mandor itu berseru dengan marah, “KAU BAHKAN BERANI MEMINTA GAJI?! Berani-beraninya kau bicara tentang itu, HUH! KAU! SEJAK KAU PERTAMA KALI DATANG! BERAPA BANYAK KERUSAKAN YANG AKU TERIMA??? HAH? Saat hujan, petir tidak menyerang apapun selain hanya datang untukmu! Rumah terbakar TIGA KALI! DAN HANCUR TIGA KALI JUGA! Kau seperti Dewa Kemalangan! DAN KAU BERANI MEMINTA GAJIMU PADAKU! KELUAR DARI SINI! BERANI KEMBALI DAN AKU AKAN MENGHAJARMU!”

“Yah, kamu tidak bisa mengatakannya seperti itu.” Xie Lian berkata, “Kamu sudah mengatakan jika semua hal itu sengaja datang hanya padaku, tapi tidak ada yang terjadi pada orang lain setiap saat, kamu hanya ingin melupakan tagihan atas gajiku bukan?…” Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, mandor itu dan semua buruh lainnya tidak bisa lagi menahan diri atas bau yang keluar dari panci itu, dan mereka semua melarikan diri, meninggalkan Xie Lian di tempat itu. “TUNGGU??” Xie Lian memanggil.

Dia melihat sekeliling, dan dua pihak yang sebelumnya bertarung juga telah pergi karena tidak tahan dengan bau busuk itu. Xie Lian tidak bisa berkata apa-apa dan bergumam pada dirinya sendiri, “Jika kamu tidak mau memakannya, mengapa aku harus memasak dengan panci yang begitu besar? Jangan menyia-nyiakannya hanya karena kamu memiliki uang!?”

Sambil menggelengkan kepalanya, Xie Lian merenung, lalu ia menyendok dua mangkuk besar nasi, satu dipersembahkan di dalam Kuil Ju Yang, dan yang lain di dalam Kuil Xuan Zhen. Akhirnya, merasa bahwa Ia telah memenuhi tujuannya, dia menepuk kedua tangannya dengan keras, merasa begitu puas.

Dia kembali ke luar untuk mengemas barang-barangnya, menggulung tikar jerami di tanah dengan sangat serius, dan mengikatnya pada pedangnya sebelum membawa keduanya di punggungnya. Pita sutra putih yang melilit pergelangan tangannya menyapu diam-diam dan Xie Lian menepuknya, meluruskan topi bambu di kepalanya, “Baik. Tidak perlu membayarku. Aku akan mengamen.”

Dia masih punya trik khusus – menghancurkan batu di dadanya!

Saat dia berjalan menyusuri jalan setapak, Xie Lian tiba-tiba menyadari ada sebuah bunga kecil berwarna merah di sisi lain jalan, tampak begitu sangat berharga, dan dia berjongkok, dengan lembut menyentuh kelopaknya, merasa cukup ceria, dan dia berkata kepadanya, “Aku harap kita akan bertemu lagi.”

Bahkan setelah dia pergi jauh, bunga merah kecil itu masih bergoyang tertiup angin.


BUKU 4 SELESAI


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments