Penerjemah : Jeffery Liu


Xie Lian menegur dengan paksa, “Aku tahu tidak ada yang akan datang, tapi itu bukan urusanmu.”

Si Putih Tanpa Wajah dengan lemah bertanya, “Lalu mengapa kamu membuat lubang untuk membaringkan dirimu seperti itu? Apakah kamu sedang mengejar seseorang? Tidak ada yang akan menangisimu sekarang.”

Xie Lian membalas, “Aku melakukan ini karena aku menginginkannya. Itu bukan urusanmu.”

“Jika seseorang datang untuk membantumu, apa yang akan kamu lakukan? Dan jika tidak ada yang datang untuk membantumu, apa yang akan kamu lakukan?”

“…”

Xie Lian mulai mengutuk, “MENGAPA KAU BEGITU DIPENUHI OMONG KOSONG??? AKU AKAN MENGATAKANNYA! SEMUA INI SAMA SEKALI BUKAN URUSANMU, SAMA SEKALI BUKAN URUSANMU!!!”

Kata-katanya menjadi semakin vulgar dan kasar, nadanya semakin dan semakin parah, tetapi sebanyak Ia mengumpat, dia hanya tahu kata-kata itu. Si Putih Tanpa Wajah tampak sangat terhibur ketika dia tertawa terbahak-bahak, lalu dia menghela napas, “Anak bodoh.”

Dia berbalik, “Baiklah. Bagaimanapun, hanya ada satu hari yang tersisa. Membiarkanmu sedikit berjuang dengan bodoh seperti ini sepertinya bukan masalah. Bagaimanapun, tidak ada yang akan datang memberimu secangkir air, atau membantumu mengeluarkan pedang hitam itu. Ingat−”

Si Putih Tanpa Wajah mengingatkannya lagi: “Besok saat matahari terbenam, jika kamu masih belum melepaskan penyakit wajah manusia, kutukan akan menimpamu.”

Xie Lian mendengarkan dengan tenang, sama sekali tidak bergerak.

Hari ketiga, Xie Lian masih berbaring di sana di lubang berbentuk manusia yang dalam di tengah persimpangan jalan; bahkan posturnya tidak berubah.

Kerumunan hari ini tidak terlalu berbeda dari keramaian dari hari sebelumnya. Mereka semua membelok jauh darinya, melakukan apa saja dan tidak memedulikannya. Meskipun insiden dengan seorang lelaki aneh yang jatuh dari langit telah dilaporkan kepada pihak berwenang, ketika pihak lain mendengar jika orang itu adalah Dewa Kemalangan yang tidak benar-benar menyebabkan masalah, dan hanya berbaring di sana seperti mayat, mereka tidak melakukan tindakan yang berarti. Sama sekali tidak berniat berurusan dengannya, dan hanya menenangkan kerumunan orang-orang disana dengan samar, “Kami akan mengamatinya selama beberapa hari.” Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari.

Beberapa anak yang penasaran datang berlarian, berjongkok di tepi lubang untuk melihat sosok pria itu, dan mereka mengambil sebatang pohon, diam-diam menusuknya, tetapi Xie Lian benar-benar tampak seperti ikan mati tanpa reaksi. Mereka kagum dan ingin melemparkan sesuatu kepadanya untuk melihat apakah dia akan bereaksi, tetapi mereka ditemukan oleh orang tua mereka, diceramahi dengan kasar dan dipaksa untuk pulang ke rumah.

Pedagang air dari hari sebelumnya juga masih melirik ke arahnya. Xie Lian tidak minum setetes air pun selama sehari semalam, dan lapisan kulit mati yang kering dan layu terbentuk di bibirnya. Pedagang kecil itu merasa menyesal dan menyendok semangkuk air, sepertinya ingin mengirimkannya, tetapi istrinya menyikutnya, membuatnya meletakkan kembali mangkuk itu, jadi dia harus mengalah.

Siapa tahu kalau langit juga ingin ikut bersenang-senang, dan setelah tengah hari, gerimis hujan mulai turun dari langit.

Para pedagang di jalanan buru-buru mengemas kios mereka, dan para pejalan kaki juga saling berteriak untuk bergegas pulang, dan mereka semua pergi dengan tergesa-gesa. Setelah beberapa saat, hujan itu turun semakin deras dan semakin deras, dan wajah Xie Lian berkerut, tampak semakin pucat, dan seluruh tubuhnya basah kuyup.

Tanpa suara, bayangan seorang pria berpakaian putih muncul di sebelah Xie Lian.

Tidak ada orang lain di jalan yang memperhatikan sosok aneh ini. Si Putih Tanpa Wajah memandang rendah padanya, “Matahari akan segera terbenam.”

Xie Lian terdiam.

“Kamu bukanlah Dewa Kemalangan, tetapi mereka lebih suka percaya bahwa kamu adalah dewa itu, sama sekali tidak mau percaya jika kamu bukanlah Dewa Kemalangan itu.” Si Putih Tanpa Wajah berkata, “Suatu kali kamu menantang surga dan menciptakan hujan untuk Yong An, namun sekarang mereka bahkan tidak berniat menyumbangkan secangkir air pun untukmu. Menusukmu dengan seratus pedang mungkin mereka lakukan karena keputusasaan yang mereka miliki, tetapi sekarang, mereka bahkan tidak mau melakukan sesuatu yang sederhana seperti membantumu mengeluarkan pedang, mereka semua merasa tugas itu terlalu sulit.”

Dia berkata dengan sedih, “Aku sudah mengatakan ini sebelumnya. Tidak ada yang akan datang membantumu.”

Ada suara yang berteriak histeris di dalam hati Xie Lian:

Aku mengakuinya. Apa yang dia katakan memang benar. Tidak ada, tidak ada, tidak ada! Sebenarnya tidak ada. Tidak ada satu orang pun!

Seolah-olah dia mendengar tangisan putus asa di hati Xie Lian, Si Putih Tanpa Wajah tampaknya telah sedikit tersenyum, mengulurkan tangan, dan mencengkeram gagang pedang hitam itu, “Tapi, tidak apa-apa. Mereka tidak akan membantumu, tetapi aku akan membantumu.”

Kemudian, dia mengerahkan kekuatannya, mengangkat tangannya, dan menarik pedang hitam itu dari perut Xie Lian, melemparkannya ke samping Xie Lian dengan suara dentang yang nyaring.

Segera setelah itu, sentuhan bayangan kain putih di tengah hujan tertawa ringan seolah-olah dia berhasil, lalu dia mundur, meninggalkan Xie Lian kembali pada urusannya sendiri, dan menghilang.

Setelah pedang hitam itu dicabut, luka Xie Lian terbuka tanpa penutup, dan untuk dihantam oleh hujan, rasa sakit yang sudah mati rasa mulai menyebar sekali lagi. Namun, ini adalah satu-satunya hal yang bisa dia rasakan dengan jelas pada saat ini.

Splash sploosh, splash sploosh, suara serangkaian langkah kaki liar menginjak air datang mendekatinya, tampak seperti ada seorang pejalan kaki yang bergegas berlari di tengah derasnya hujan. Namun, Xie Lian tidak diam-diam berharap seperti sebelumnya.

Dia duduk perlahan, namun tanpa disangka-sangka, tepat ketika dia bangkit, ada teriakan “AH!!!” yang keras, dan seorang pria jatuh dengan berat di sebelahnya.

Pria itu membawa keranjang besar di punggungnya dan mengenakan topi bambu untuk melindungi kepalanya dari hujan. Mungkin karena derasnya hujan kala itu, penglihatannya tidak menangkap sosok lain yang saat itu berada di dalam lubang di jalan, dan hanya ketika dia semakin dekat dan Xie Lian tiba-tiba duduk, dia menyadarinya. Ditambah lagi, pria ini berlari sangat cepat, dan untuk berhenti secara paksa, Ia terjatuh cukup keras. Ketika dia jatuh dan tergeletak di sebelah lubang berbentuk manusia itu, dia langsung mulai mengumpat dengan keras di tempat, “APA-APAAN INI!!!”

Topi bambu-nya telah terbang, keranjang di punggungnya terguling, semua beras putih tumpah ke tanah. Pria itu duduk di tanah dan berteriak frustrasi, menampar tanah, lumpur dan beras basah berhamburan di wajah Xie Lian. Pria itu marah, melompat tiga kaki di udara dan menunjuk Xie Lian tepat di wajahnya, “APA-APAAN INI?! LELUHUR INI SUDAH BERKERJA KERAS SEHARIAN INI UNTUK MENDAPATKAN UANG UNTUK MEMBELI BERAS DAN SEKARANG SEMUANYA TELAH HILANG SEPERTI INI, BERAPA BANYAK KEHIDUPAN UNTUK MENDAPAT KESIALAN SEMACAM INI?? CEPAT GANTI UANGKU!! JANGAN HANYA DUDUK DISANA DAN BERPURA-PURA MATI, GANTI UANGKU!!!”

Xie Lian tidak repot-repot menghindarinya sama sekali dan berencana untuk mengabaikannya. Namun, pria itu tak henti-hentinya mengumpat, dan dia meraih kerah Xie Lian, “APA KAU MEMINTA KEMATIANMU SENDIRI? HAH? AKU SEDANG BERBICARA KEPADAMU!”

“Ya.” Xie Lian menjawab dengan dingin.

Lelaki itu mendecakkan lidahnya, “BAIK JIKA KAU MEMANG INGIN MATI, CEPAT MENYINGKIRLAH DAN MATI, APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN DENGAN MENGHALANGI JALAN ORANG LAIN DENGAN MELAKUKANNYA DI TENGAH JALAN SEPERTI INI? KAU BAHKAN TIDAK BISA MATI DENGAN DAMAI, BETAPA MEREPOTKANNYA!!!”

Xie Lian membiarkan dirinya terguncang liar dari tarikan liar lelaki itu pada kerahnya, tampak begitu tabah dan tanpa ekspresi, benar-benar mati rasa.

Teruslah mengutuk. Teruslah keluarkan kutukan yang ingin kamu katakan. Tidak ada yang penting lagi, jadi teruslah mengutuk sesukamu.

Bagaimanapun, semuanya akan segera menghilang.

Matahari akan segera terbenam.

Pria itu mencengkeram tubuh Xie Lian layaknya balok kayu, terus mendesak agar Xie Lian membayarnya kembali, dan ketika Xie Lian tidak menanggapinya, dia mengutuk isi hatinya tetapi masih belum kembali tenang, dan hanya setelah beberapa dorongan yang dia lakukan untuk waktu yang lama, dia mengambil topi bambu miliknya di tanah, meletakkannya di atas kepalanya, dan berjalan pergi sambil menggerutu. Xie Lian terlempar kembali ke dalam lubang dengan suara gedebuk, dan lambat laun, ia mulai mendengar suara gemuruh yang lebih keras daripada suara hujan.

Itu adalah jeritan jutaan jiwa-jiwa orang mati yang tersegel di dalam pedang hitam.

Seiring dengan matahari terbenam sedikit demi sedikit terbenam di barat, mereka mulai berteriak dan meraung seperti orang gila di dalam kepala Xie Lian, bersorak dan bersukacita atas kedatangan kebebasan dan pembalasan mereka.

Xie Lian mengangkat tangan dan menutupi wajahnya.

Saat tangannya yang lain dengan gemetar meraih pedang hitam miliknya di tanah, dia tiba-tiba menyadari sesuatu yang aneh.

Hujan sepertinya sudah berhenti.

Tidak.

Hujan tidak berhenti. Ada sesuatu yang diletakkan di atas kepalanya, membantunya menghalangi derasnya tetesan hujan kala itu!

Xie Lian mengangkat kepalanya untuk melihat, dan pandangannya menangkap tubuh seseorang yang saat itu berjongkok di depannya, menekan topi bambu yang ada di kepalanya sendiri di kepala Xie Lian.

… Pria itu yang sebelumnya hanya mengumpat keras padanya!

Dia memelototi pria itu dan pria itu juga memelototinya, “Untuk apa kau menatapku seperti itu? Apa? Itu hanya omong kosong dan kau benar-benar ingin mati karenanya?” Dia meludah ke tanah ketika dia berbicara, “Terlihat sangat menyedihkan seperti kau menangisi orang mati, betapa sialnya!”

“…”

Pria itu tampak begitu biadab dan agresif sebelumnya, dan sekarang dia merasa sedikit bersalah memikirkannya, dan setelah menggerutu, dia mulai mencoba menjelaskan, “Baiklah, baiklah, itu adalah kesalahanku sebelumnya. Tapi kau pantas dimarahi setelah semuanya. Siapa yang menyuruhmu melakukannya? Lagipula, siapa yang belum pernah diumpat sebelumnya?”

Mata Xie Lian tampak membulat dan menonjol, tidak bisa bicara.

Kemudian, pria itu menjadi tidak sabar, “Baiklah, baiklah, baiklah, ini adalah salah satu kesialanku hari ini, kamu tidak perlu membayar kembali beras itu. Untuk apa kau masih berbaring di sini? Kamu seorang pria dewasa, bukan anak-anak, apakah kamu menunggu ayah dan ibu menjemputmu? Ayo bangunlah, bangun, bangun,”

Dia mendesak saat dia terus menarik dan menarik, menarik tubuh Xie Lian, dan dengan paksa menamparnya dua kali di punggung, “Berdiri. Pulang sekarang!”

Jadi, setelahnya Xie Lian ditarik keluar dari lubang berbentuk manusia ini begitu saja, dan hampir jatuh ke tanah oleh dua tamparan itu, merasa tercengang. Ketika dia menyadarinya, pria itu sudah pergi.

Yang tersisa hanyalah topi bambu yang masih ada di kepalanya, mengingatkannya akan sesuatu, dia baru saja ditarik oleh seseorang, itu bukan halusinasi.

Siapa yang tahu berapa lama waktu telah berlalu, dan Si Putih Tanpa Wajah muncul kembali di belakangnya.

Kali ini, dia tidak tersenyum, dan suaranya tidak lagi ringan dan tanpa beban, tetapi agak tidak senang dan khawatir, “Apa yang kamu lakukan?”

Hujan masih deras saat itu, tetapi Xie Lian mengenakan sebuah topi bambu yang diberikan kepadanya, jadi ketika tubuhnya sudah basah kuyup, setidaknya kepala dan wajahnya sekarang selamat.

Tapi, tetap saja, pipinya terasa basah.

Melihat Xie Lian tidak menjawab, Si Putih Tanpa Wajah menambahkan dengan muram, “Matahari sebentar lagi akan terbenam. Angkat pedangmu, kalau tidak, kamu tahu apa yang akan terjadi.”

Xie Lian tidak menoleh, dan hanya berkata dengan lembut, “Persetan denganmu.”

“Apa yang kamu katakan?” Suara dari Si Putih Tanpa Wajah membawa jejak beku yang begitu dingin.

Xie Lian menoleh padanya dan berkata dengan tenang, “Apakah kamu tidak mendengarku? Kalau begitu aku akan mengatakannya lagi.”

Tiba-tiba, kakinya terayun, dan mengeluarkan tendangan yang cukup keras, mengirim Si Putih Tanpa Wajah terbang beberapa meter jauhnya!

Kakinya mendarat, Xie Lian memegang lukanya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menunjuk ke arah Si Putih Tanpa Wajah yang telah menghilang, Ia berkata dengan menggunakan suara paling keras, mengeluarkan teriakan dan semua kata-kata yang dimilikinya, “AKU BILANG PERSETAN DENGANMU!!! KAU PIKIR KAU SIAPA?! BERANI BERBICARA SEPERTI INI KEPADAKU?? AKU ADALAH PUTRA MAHKOTA!!!”

Di wajahnya, dua garis air mata sudah mengalir dari kedua matanya.

Satu orang. Hanya satu.

Sungguh.

Hanya satu orang sudah cukup!


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments