Penerjemah : Jeffery Liu


Dia tampak seperti seorang ‘pemuda’ yang penuh tekad berdasarkan suara dan fisiknya.

Dia mengenakan pakaian prajurit yang rapi dan teratur, fisiknya tinggi dan ramping, lebih seperti sebuah bambu baru, dia memancarkan aura kepolosan seorang anak muda. Jubah hitamnya tampak seperti tinta, rambut hitamnya yang diikat tinggi pun tampak seperti tinta. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang, panjang dan ramping. Dia mengangkat kepalanya perlahan, dan di wajahnya ada sebuah topeng berwarna putih salju yang menampakkan sebuah senyum bulan sabit.

Bola demi bola kabut hitam mulai terbentuk di tengah-tengah mereka. Mendesis dan meratap. Semua roh itu tersedot ke dalam array yang berada di dalam lengan baju pria berpakaian putih itu, tampak seperti ia mengambil seluruh isi sungai ke dalam kotak dari batu giok kecil. Adapun pemuda itu, dia tetap berdiri stabil di dalam angin puyuh hitam yang terus berembus dengan begitu kacau. Pria berpakaian putih itu bertanya, “Siapa yang kamu panggil?”

Pemuda berpakaian hitam itu masih berlutut, tunduk seperti seorang pelayan, tetapi juga tampak seperti dia tengah bersumpah, dan dia menjawab, “Aku memanggilmu, Yang Mulia.”

Pria berpakaian putih itu berkata dengan dingin, “Aku bukan Yang Mulia.”

Namun, pemuda berpakaian hitam itu menjawab, “Kamu Yang Mulia. Aku tidak akan pernah melupakan suara dan wujudmu.”

Suara pria berpakaian putih itu sekarang dipenuhi dengan jejak kemarahan, “Sudah kubilang, aku bukan dia.”

Pria berpakaian putih ini secara alami adalah Xie Lian yang telah mengenakan satu set pakaian pemakaman dan mengenakan topeng setengah tersenyum-setengah menangis.

Dengan wajahnya yang tersembunyi di balik topeng itu, tidak ada yang bisa mengenali siapa dia, dan dia juga tidak ingin dikenali. Namun, di medan perang ini, seorang prajurit berpakaian hitam masih memanggilnya dengan identitas aslinya secara langsung.

Tiba-tiba, ikatan sutra putih yang terbungkus di lengan ekspansif Xie Lian tiba-tiba melompat keluar seperti seekor ular beludak, menyerbu ke arah pemuda berpakaian hitam itu. Meskipun dari penampilannya, itu adalah kain putih yang lembut dan lemas, tetapi ketika kain itu melakukan serangannya, sosoknya begitu biadab dan kejam, dan dengan seketika aura iblisnya meledak. Pada detik berikutnya pemuda berpakaian hitam tampak hendak diikat oleh sutra putih itu, tapi dia tiba-tiba mengulurkan tangan dan dengan kuat meraih pita sutra putih itu.

Salah satu ujung pita sutra putih itu melingkari pergelangan tangan Xie Lian, dan yang lainnya membungkus pergelangan tangan pemuda berpakaian hitam disana, dan pita sutra itu sendiri menarik secara bertahap. Bukannya ia tidak ingin melepaskan diri, tetapi pemuda berpakaian hitam itu tetap memegangnya erat-erat, tampak seperti sedang meremas seekor ular berbisa pada titik fatalnya, dan dari tangannya memancarkan udara dingin yang tak berujung.

Tidak ada keraguan bahwa ini adalah jiwa orang mati.

Dan, itu adalah salah satu dari jiwa orang mati yang sangat kuat!

Setelah menyadari bahwa sebuah kekuatan yang tidak bisa diremehkan dialirkan melalui pita sutra putih itu, Xie Lian menuntut, “Siapa namamu?”

Setelah terdiam sesaat, pemuda berpakaian hitam itu menjawab, “Aku tidak punya nama,”

Xie Lian juga tidak mendorong dan memaksanya lebih jauh, dan berkata, “Tanpa nama, Wu Ming1.”

“Kamu bisa memanggilku apa pun yang kamu inginkan.” Kata pemuda berpakaian hitam itu.

Xie Lian melanjutkan, “Apakah kamu seorang jiwa prajurit yang mati dari medan perang ini?”

“Benar.” Kata Wu Ming.

Baru pada saat itu Xie Lian melepaskan genggamannya, dan pita sutra putih itu langsung melompat kembali ke tubuhnya, bergoyang untuk memamerkan kekuatannya dari jauh ke arah pemuda berpakaian hitam disana, tampak seperti tengah mendesiskan lidah berbisanya.

Karena pemuda di depannya adalah jiwa orang mati yang tewas dalam pertempuran, tidak heran jika dia mengindahkan panggilannya. Prajurit berpakaian hitam ini juga harus diisi dengan kebencian terhadap orang-orang ‘Yong An’. Dengan kata lain, dia bisa digunakan, karena mereka memiliki tujuan yang sama.

Jadi setelahnya Xie Lian berkata, “Kalau begitu, ikuti aku.”

Dia mengulurkan tangannya ke arah prajurit berpakaian hitam itu, “Aku akan memberimu keinginan yang kamu inginkan.”

Wajah pemuda berpakaian hitam itu juga tersembunyi di balik sebuah topeng, jadi ekspresinya tentu tidak bisa terlihat, keduanya sama.

Setelah hening sejenak, dia masih tanpa ragu mencengkeram tangan Xie Lian yang terulur padanya, menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan menekankan dahinya yang dingin ke bagian punggung tangan Xie Lian.

Sesaat kemudian, dia berkata dengan suara yang dalam, “Aku bersumpah untuk mati demi Yang Mulia.”

Namun Xie Lian, menarik kembali tangannya, menyelipkan lengannya kembali ke dalam lengan bajunya. Dia berbalik dan berkata dengan suara dingin, “Kamu sudah mati. Kemarilah.”

Prajurit berpakaian hitam itu bangkit berdiri, dan ketika Xie Lian melihat ke belakang, dia menyadari jika pemuda ini sebenarnya jauh lebih besar dari yang dia duga. Mungkin sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, tetapi tubuhnya sudah sangat besar pada usia ini, dan bahkan lebih tinggi darinya sedikit. Namun, ini tidak masalah, dan dia hanya melirik sebelum berbalik dan terus melangkah maju.

Xie Lian memimpin, dan prajurit berpakaian hitam tanpa nama itu mengikuti tepat di belakangnya seperti yang diharapkan, “Yang Mulia, ke mana kamu ingin pergi?”

Tatapan Xie Lian jatuh ke kejauhan, “Istana Yong An.”

Istana Yong An terletak di kota besar lain di bagian barat. Benteng kota ini dulunya adalah kota yang begitu megah, tetapi telah terus ditindas oleh kota kekaisaran Xian Le di timur. Sekarang setelah kota kekaisaran Xian Le jatuh, raja yang baru memindahkan ibukota baru ke sini, dan tidak akan lama sebelum ia merebut kota kekaisaran lama, menikmati kejayaannya.

Xie Lian tiba pada malam hari yang larut. Di bawah sinar bulan, dia tampak seperti seekor kucing putih yang tanpa suara terbang menembus atap-atap kota kekaisaran baru yang padat dan penuh sesak, dan prajurit berpakaian hitam itu tampak seperti rubah roh hitam, terus mengikutinya dari belakang. Segera, kedua bayangan itu mendarat di depan sebuah gerbang besar.

Xie Lian merasakan ada sesuatu yang salah. Di atas gerbang ini ada udara yang begitu samar, dan dia menghentikan langkahnya. Dia hendak mengulurkan tangan untuk memeriksanya ketika prajurit berpakaian hitam itu melangkah dan berdiri di depannya seolah-olah melindunginya dari sesuatu. Dia mengulurkan telapak tangannya yang terbuka dan berkata dengan pelan, “Hancurkan!”

Dari celah pintu itu tampak cahaya sinar api yang menyusup keluar, seolah ada sesuatu yang terbakar di dalam tempat itu. Baru setelah itu prajurit berpakaian hitam itu beranjak maju untuk mendorong melewati gerbang, “Yang Mulia.”

Xie Lian melangkah melalui pintu itu dan melihat ke tanah di bawahnya. Seperti yang dia duga, di tanah itu tampak ada beberapa pecahan bekas sesuatu yang baru saja terbakar. Xie Lian mengambil sedikit dan mencium aroma ramuan dan kertas jimat, dan pandangannya melirik sekilas ke arah prajurit berpakaian hitam itu.

Iblis ini memang kuat.

Jejak sisa mantra yang terbakar ini menunjukkan bahwa jelas ada seseorang di sisi lain pintu yang menggunakan mantra pertahanan ini, dan pertahanan ini sama sekali tidak lemah. Jika antek-antek kecil biasa mencoba dan menerobos tempat itu, seluruh tubuh mereka akan berakhir terbakar menjadi abu, namun hanya butuh prajurit berpakaian hitam ini sesaat sebelum array itu hancur total.

Mungkin itu karena Istana Yong An ini baru didirikan, istana itu sama sekali tidak tampak begitu megah. Sebaliknya, istana itu bahkan sedikit lebih dingin dan rendah hati, tidak bisa dibandingkan dengan Istana Xian Le. Sama sekali bukan hal yang aneh. Apa yang pantas disebut aneh adalah apa yang ada di sepanjang jalan tempat itu. Disana tampak ada banyak jebakan dan array pertahanan untuk mengusir kejahatan. Namun, setiap kali Xie Lian memperhatikan ada sesuatu yang menghalangi jalan di depannya, prajurit berpakaian hitam itu akan selalu melangkah lebih dulu untuk menerobos rintangan, membersihkan jalan untuknya, jadi, itu masih merupakan perjalanan tanpa hambatan.

Setelah satu jam, di atas aula raksasa besar Istana Yong An, dua bayangan tinggi dan ramping berdiri di atas atap, mengawasi pemandangan di bawah mereka.

Keduanya memakai topeng. Lengan yang lebar dari pria berpakaian putih itu berkibar-kibar dengan pita sutra putih melilit lengannya, menari-nari dengan begitu gila karena embusan angin. Pria berpakaian hitam itu di sisi lain, tampak kuat dan lincah, pedang panjang tergantung di pinggangnya, menjaga sisi lain dari pria berpakaian putih itu, menatap ke arah yang sama.

Raja Yong An yang baru saja dinobatkan berada di dalam aula besar ini. Xie Lian tertawa mengejek, “Untuk membuat begitu banyak rintangan untuk menangkal kejahatan di dalam istana, tampaknya, dia benar-benar takut pada sesuatu yang akan mengetuk pintu depan istananya.”


Catatan Penulis MXTX :

Aku sedikit bingung hari ini, maafkan aku. Biarkan aku mengatur pikiranku dulu dan bab-bab selanjutnya akan tumbuh lebih panjang lagi. Mari kita makan Hua Hua rasa yang berbeda hari ini. _(:з」∠)_


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. [ 無名 ] “Wu Ming” berarti “Tanpa Nama”.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments