Penerjemah : Jeffery Liu


Kenapa mereka semua menatapnya dengan pandangan seperti itu?

Tiba-tiba, Xie Lian mendengar sebuah bisikan dari samping, “Sangat mirip ..”

“Tidak hanya mirip … memang terlihat sama persis!”

“Apakah memang benar-benar dia?”

Seseorang dengan blak-blakan bertanya, “Kamu … apakah kamu pangeran itu?”

Karena kebiasaan, Xie Lian mulai berkata, “Aku bukan …”

Namun, sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, dia menyadari bahwa sutra putih yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya telah dilepaskan. Pada saat ini, hal yang membuatnya benar-benar terikat adalah sutra putih itu. Namun, wajahnya sekarang telah sepenuhnya terbuka di depan kerumunan orang-orang di depannya ini.

Hati Xie Lian terasa seolah-olah digantung oleh seutas benang, tapi dia menguatkan dirinya dan membalas semua tatapan-tatapan itu.

Dia tidak tahu apakah itu hanya imajinasinya saja, tetapi dia melihat sedikit raut kecurigaan muncul di dalam setiap pandangan yang mereka berikan padanya. Tetapi, paling tidak, mungkin karena bahaya yang akan segera terjadi, tatapan dari tiap pasang mata itu tidak memiliki kebencian atau kemarahan seperti yang ditakutkannya. Namun, pada detik berikutnya, gelombang lolongan tidak manusiawi terdengar dari luar kuil.

Xie Lian memalingkan kepalanya dan menemukan bahwa sumber lolongan itu berasal dari infeksi penyakit wajah manusia yang sebelumnya telah dikalahkannya. Entah bagaimana mereka mendapatkan kembali pijakan mereka dan jumlah mereka kini bertambah banyak. Dengan bergandengan tangan, mereka berputar-putar di luar Kuil Putra Mahkota sambil bernyanyi. Tidak ada yang tahu apakah mereka tengah melakukan ritual mengerikan atau apakah mereka murni menari seperti iblis gila. Kerumunan di dalam kuil meringkuk bersama dalam teror absolut. Seorang anak kecil menangis dan orang tuanya menggendongnya sambil menutupi mata dan telinganya. Setiap wajah di ruangan itu diliputi ketakutan, “Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita lakukan?”

“Apakah orang-orang ini bisa masuk …”

“Bahkan jika mereka tidak bisa masuk, karena mereka sangat dekat, apakah kita juga akan terinfeksi? … Apa yang akan kita lakukan jika kita secara tidak sengaja terinfeksi?!”

Xie Lian bertarung melawan ikatannya tetapi tidak bisa melonggarkannya sedikitpun. Tampaknya sutra putih ini sudah dirusak dan mungkin disuntikkan dengan kekuatan spiritual. Dengan pembuluh darah yang mulai bermunculan di dahinya dari perjuangan yang berkelanjutan, dia meraung, “Si Putih Tanpa Wajah!”

Tidak ada jawaban, sebaliknya tangan dingin yang beku menepuk kepalanya. Xie Lian membeku, merinding. Adegan yang dia lihat saat dia memutar kepalanya membuatnya lumpuh.

Tidak heran jika orang-orang di bawahnya memberinya tatapan aneh – wajahnya tidak hanya terbuka, tetapi sosok Si Putih Tanpa Wajah juga duduk tepat di belakangnya, dalam kegelapan.

Di depan karakter eksentrik yang mengenakan jubah putih, tidak ada yang berani menghela napas, apalagi bergerak sembarangan. Akibatnya, Si Putih Tanpa Wajah nyaris tidak menganggap mereka sebagai apa pun dan di bawah pengawasan semua orang, ia membantu Xie Lian.

Xie Lian naik ke posisi duduk dari tempat dia berbaring. Dia terduduk di atas altar, tampak seperti dia adalah patung hidup yang terikat. Selain menggerakkan mata dan lehernya, dia tidak bisa melakukan hal lain.

Meskipun situasinya sangat menakutkan, para pengidap penyakit wajah manusia yang terus melolong di luar lebih menakutkan. Perhatian kerumunan orang di bawahnya dengan cepat beralih ke arah makhluk-makhluk cacat di luar kuil. Seseorang bergumam, “… Dari apa yang aku dengar, aku pernah mendengar jika ada orang yang tinggal di distrik yang sama bisa saling menginfeksi satu sama lain, penyakit ini menyebar dengan sangat cepat! Berdiri sedekat ini dengan mereka, infeksi itu pasti tidak bisa dihindari!”

Berpikir bahwa mereka akan segera menjadi korban wabah mengerikan itu, lautan keputusasaan memenuhi kuil. Satu orang menyarankan, “Mengapa beberapa dari kita tidak keluar dan merobohkan beberapa makhluk cacat ini dan menciptakan celah bagi sisa orang lainnya untuk melarikan diri?”

Namun, selain dari apakah mereka bahkan dapat membunuh begitu banyak orang aneh itu, siapa pun yang pergi pasti akan terinfeksi dengan penyakit wajah manusia mereka. Ini adalah contoh utama tentang mengorbankan hidup seseorang untuk menyelamatkan hidup orang lainnya. Dengan takdir yang jelas, siapa yang sukarela mau melakukannya? Tidak ada yang mau.

Xie Lian mau, jika dia bisa. Namun, dia ditahan oleh Si Putih Tanpa Wajah saat ini. Meskipun dia bisa merobohkan tujuh atau delapan dari mereka sekaligus, tetapi dengan tujuh belas atau delapan belas dari mereka disana, akan sulit untuk menghentikan mereka semua. Pasti ada satu yang akan menerobos dan bergegas mamasuki Kuil Putra Mahkota. Mencoba membunuh Si Putih Tanpa Wajah? Dia benar-benar bodoh jika mempertimbangkan itu.

Namun, mereka membutuhkan seseorang untuk menenangkan semua orang. Xie Lian mengumpulkan ketenangannya dan berbicara dengan suara setenang mungkin, “Semuanya, tolong jangan lakukan apapun! Infeksinya tidak akan menyebar secepat itu, kita masih punya waktu untuk memikirkan solusi lain.”

Tetapi hanya dengan mengatakan ‘Infeksinya tidak akan menyebar secepat itu’ tidak akan cukup untuk meyakinkan mereka sepenuhnya.

Anehnya, orang yang mengangkat keputusasaan mereka tidak lain adalah Si Putih Tanpa Wajah. Dia berkata dengan dingin, “Sebenarnya ada suatu cara untuk menyingkirkan dan menyembuhkan penyakit wajah manusia.”

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, kerumunan orang-orang disana mengalihkan pandangan mereka pada makhluk putih itu, “Penyakit itu bisa disembuhkan? Bagaimana caranya?!”

Mendengarnya, Xie Lian merasa jantungnya berhenti. Si Putih Tanpa Wajah merenung santai, “Mengapa kamu tidak meminta Yang Mulia untuk mengatakannya? Yang Mulia tahu betul mengenai metodenya.”

Tiba-tiba, seratus pasang mata meluncur pada Xie Lian. Ketajaman tatapan-tatapan itu membuatnya secara naluriah mundur, tetapi ia dihalangi oleh Si Putih Tanpa Wajah, yang malah mendorongnya ke depan. Dia bisa mendengar suara-suara penuh harapan berbisik, “Yang Mulia, apakah kamu benar-benar mengetahuinya?”

Sebelum Xie Lian bisa menjawab, terdengar suara seseorang yang berteriak kegirangan, “Aku pernah mendengar dari seseorang jika dia memang tahu!”

Setelahnya, mulai terdengar suara-suara penuh kecurigaan yang tertuju pada Xie Lian, “Jika dia tahu, lalu mengapa ibukota masih …? Kecuali, dia memang tahu tetapi tidak memberi tahu siapa pun?”

“Pangeran, tolong cepat dan beritahu kami, ya?”

Xie Lian segera menyangkal, “Aku tidak tahu!”

Namun, Si Putih Tanpa Wajah bersikeras, “Kamu berbohong.”

Dipicu oleh kemarahan, Xie Lian ingin menegur tetapi takut jika tegurannya malah akan membuat Si Putih Tanpa Wajah membocorkan lebih banyak informasi. Meskipun jauh di lubuk hatinya, dia memiliki perasaan bahwa tidak masalah apakah dia menyangkal atau tidak, Si Putih Tanpa Wajah akan mengatakannya bagaimanapun juga. Setelah berjuang sebentar, dia mengakui dengan kekalahan, “Tidak … tidak mungkin. Percuma saja!”

Setelah jeda, kerumunan penuh orang-orang disana mulai bergerak, “Apa maksudmu dengan percuma saja? Bagaimana kita tahu jika metodenya berhasil atau tidak jika kamu bahkan tidak memberi tahu kami?”

Setetes keringat dingin turun dari dahinya. Xie Lian berpikir, “Aku benar-benar tidak bisa mengatakannya …”

Dia tidak boleh mengatakannya!

Jika kebenaran terungkap, maka semuanya akan berakhir dan selesai!

Di antara kerumunan itu, seseorang akhirnya menjadi muak dan melompat berdiri, “Kita sudah berada di ambang pintu kematian, apa yang harus disembunyikan? Kecuali jika kamu ingin kita semua menunggu di sini dan duduk seperti bebek sampai kita mati?”

Dengan suara lembut, Si Putih Tanpa Wajah menawarkan, “Kalau begitu, biarkan aku memberitahumu.”

“Diam!” Teriak Xie Lian.

Tentu saja, teriakannya tidak membawa satu ons ancaman, dan Si Putih Tanpa Wajah mengabaikannya dan melanjutkan, “Apakah kamu tahu orang macam apa yang paling tidak mungkin terinfeksi penyakit wajah manusia di kerajaan?”

Kerumunan memperhatikannya dengan penuh perhatian, meskipun takut untuk mendekat, mereka tidak bisa tidak bertanya, “Seperti apa?”

Si Putih Tanpa Wajah menjawab, “Prajurit.”

Semuanya sudah berakhir.

Si Putih Tanpa Wajah melanjutkan, “Kenapa prajuritnya? Karena mereka semua melakukan hal yang satu ini. Namun, hal ini, tidak dilakukan oleh warga normal, dan itulah sebabnya warga biasa bisa dengan mudah terinfeksi penyakit wajah manusia ini.”

Mendengarkan fakta ini, kerumunan disana membelalakkan mata mereka. Sambil menahan napas, mereka bertanya, “Dan hal itu adalah …?”

Xie Lian menerjang ke arahnya, tapi seperti yang dia duga, hal itu percuma saja. Tertawa, Si Putih Tanpa Wajah mendorongnya kembali. “Kamu bertanya apa itu?”

“Pembunuhan.” Dia bergumam.

Ini sudah berakhir!!!

Dia benar-benar mengatakannya. Di atas altar, hati Xie Lian terasa sedingin es. Setelah kejutan awal, orang-orang mengulangi kalimat itu dengan tak percaya, “…. pembunuhan? Kamu harus membunuh agar kebal dari infeksi itu? Kamu harus membunuh untuk bisa disembuhkan?”

“Itu pasti bohong!”

Sayangnya tidak, itu benar. Itu bukan bohong!

Ini adalah kebenaran pamungkas. Xie Lian telah memverifikasinya sendiri. Tangan yang berlumuran darah, yang mengakhiri hidup seseorang, kebal terhadap penyakit wajah manusia.

Tidak ada yang berharap jika cara ini menjadi jawaban untuk mendapatkan kekebalan. Terkejut, mereka saling berbicara di antara mereka sendiri, “Bagaimana ini bisa terjadi?”

“Aku selalu berpikir jika sejak awal semua ini memang aneh, tetapi aku benar-benar belum pernah mendengar ada prajurit yang terinfeksi penyakit wajah manusia! Aku takut jika semua itu memang benar!”

“Itu adalah kebenaran!”

“Tapi bukankah itu berarti, untuk mencegah agar tidak terinfeksi, kita harus membunuh seseorang lebih dulu?”

“Siapa yang harus kita bunuh?”

Orang yang mengajukan pertanyaan itu segera mendapatkan begitu banyak pertanyaan, “Apa maksudmu dengan ‘siapa yang harus kita bunuh’? Jangan bilang jika kau benar-benar ingin membunuh seseorang?”

Pria itu tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Namun, seratus pasang mata ini yang sebelumnya dipenuhi dengan teror kini berubah menjadi ketiadaan. Ada yang tampak penasaran, ada juga yang curiga.

Ini adalah situasi yang ditakuti Xie Lian. Setelah metode penyembuhan untuk penyakit wajah manusia ini telah terungkap, satu hal pasti akan terjadi.

Pembunuhan satu sama lain.

Ini adalah satu-satunya alasan Xie Lian menyimpan rahasia ini untuk dirinya sendiri setelah dia menemukan cara untuk mendapatkan kekebalan dari penyakit itu. Selama kamu membunuh, maka kamu akan aman dari penyakit itu – mungkin mayoritas orang akan dapat mengendalikan diri, tetapi pasti akan ada seseorang yang cukup putus asa untuk mengambil risiko. Setelah darah pertama ditumpahkan untuk mencegah tersebarnya penyakit wajah manusia, itu akan segera diikuti oleh yang kedua, kemudian yang ketiga …

Karena mulai ada semakin banyak orang yang mengikuti, dunia akan dilemparkan ke dalam kekacauan. Jika itu adalah hasilnya, akan lebih baik untuk menyimpannya dengan kuat dan tidak membiarkan siapa pun tahu.

Xie Lian tersenyum kecut, “Sekarang apakah kalian mengerti mengapa aku mengatakan jika metode ini percuma.”

Kerumunan disana terdiam. Xie Lian menghela napas dan mengumpulkan kembali semangatnya. Dengan nada lembut, dia menenangkan mereka, “Tidak peduli apapun yang terjadi, tolong tetaplah tenang dan jangan bertindak gegabah, jika tidak, kalian akan benar-benar menjadi objek permainan dari tangan makhluk ini.”

Di antara kerumunan itu, ada pasangan yang tampak berstatus bangsawan. Dengan seorang anak terbungkus dalam pelukannya, dia meratap, “Bagaimana mungkin hasilnya menjadi seperti ini? Mengapa semuanya menjadi seperti ini? Mengapa harus kami diantara semua orang? Kami tidak pernah melakukan kesalahan!”

Seseorang di dekatnya balas membentak, “Menangis dan terus menangis, apa yang kamu tangisi? Yang kamu tahu hanyalah menangis dan menangis! Tidak ada seorang pun di sini yang melakukan kesalahan! Kamu pikir kamu satu-satunya orang yang kurang beruntung disini?”

Istrinya balas berteriak dengan marah, “Apa, kamu bahkan tidak akan membiarkan seseorang menangis?”

“Apa gunanya menangis? Akan lebih baik jika kamu menutup mulutmu itu!”

Sulit dipercaya bahwa perkelahian bisa pecah karena alasan sepele seperti itu. Dengan semua orang yang tengah berada pada kondisi emosional yang tidak stabil seperti ini, hanya dengan sentuhan kecil akan dengan mudah membakar emosi orang lain. Xie Lian dengan cepat menenangkan, “Berhenti berdebat! Tetap tenang! Hanya pikiran yang tenang yang akan memberikan solusi terbaik!”

Namun, semakin ia berusaha menenangkan kerumunan disana, mereka menjadi semakin gelisah, “Tetap tenang? Bagaimana mungkin kita bisa tenang dalam situasi seperti ini? Jika kamu begitu tenang, mengapa kamu tidak memikirkan sesuatu? Mari kita lihat apa yang kamu bisa!”

“…” Xie Lian terdiam oleh pertanyaan itu. Solusi apa yang mungkin masih ada untuk mereka?

Tidak ada!

Dia menggali pikirannya mati-matian untuk mencari jawaban atas sesuatu, bahkan sampai pada titik di mana dia merasa seolah-olah pikirannya bisa meledak kapan saja, namun dia tetap tidak dapat memikirkan cara apa pun untuk menyelesaikan situasi di depannya!

Tiba-tiba, dia merasakan sebuah cubitan di sisi pipinya. Sebuah tangan menangkupkan wajahnya dan memutarnya untuk menghadap semua orang yang berada di bawah altar. Xie Lian membelalakkan matanya dengan bingung. Suara yang begitu dingin layaknya es terdengar di belakangnya, “Siapa yang harus dibunuh? Setelah melihat wajah ini, apakah kalian masih tidak tahu siapa yang harus dibunuh?”

“…”

Dengan pertanyaan yang diajukan, tidak hanya gerakan semua orang yang berada di bawah altar berhenti, tetapi bahkan bola api hantu yang melayang di atas juga terhenti.

Si Putih Tanpa Wajah mengingatkan mereka dengan lembut, “Apakah kalian lupa? Dia adalah seorang dewa. Yang berarti…”

Sebelum dia bisa mendengar sisa kalimatnya yang menggantung, Xie Lian merasakan gelombang dingin menyapu dadanya.

Tertegun, dia menatap ke bawah dan melihat ujung sebuah pedang hitam pekat terdorong keluar dari perutnya.

Bilahnya panjang dan ramping, tubuh pedangnya berwarna sedalam batu giok hitam. Punggungan memantulkan cahaya dalam bentuk garis perak yang tajam. Baja dingin itu sama berbahayanya dan sama dinginnya dengan malam musim dingin paling dingin. Tanpa keraguan sedikit pun dapat dikatakan jika pedang itu begitu langka dan berharga. Jenis yang pasti bahwa Xie Lian akan menghancurkan otaknya untuk mendapatkan pedang itu bagaimanapun caranya dan tidak pernah membiarkannya lepas dari genggamannya.

Tidak dapat mengalihkan pandangan darinya, ujung pedang itu perlahan mulai mundur beberapa inci sampai menghilang dari perutnya sekali lagi. “−tubuhnya … abadi.” Ucap Si Putih Tanpa Wajah menyelesaikan kalimatnya.

Sebelum ada yang memiliki kesempatan untuk bereaksi, Si Putih Tanpa Wajah telah melemparkan pedang itu ke arah mereka. CLANG! Pedang itu jatuh menembus tanah dan berdiri miring di depan banyak pasang mata, aura yang tebal dan dingin perlahan merembes keluar.

Semburat darah mengalir deras ke tenggorokannya dan sebuah bola api hantu terbang ke arahnya seolah berusaha menutupi lukanya. Xie Lian tersedak darahnya sendiri dan meringis, “Kau.. Kau!”

Tampak ada sebuah cahaya menari di depan penglihatannya, dan seolah-olah cahaya itu tiba-tiba dirasuki oleh amarah, api hantu itu melesat langsung ke Si Putih Tanpa Wajah. Namun, iblis itu menangkapnya dengan mudah dan menahannya di dalam telapak tangannya. “Lihatlah baik-baik,” katanya.

Detik berikutnya, dengan tangannya yang lain, dia menarik wajah Xie Lian untuk menghadapnya, “Bagaimana denganku? Bukankah kamu yang menyatakan bahwa kamu ingin menyelamatkan semua orang?”

Xie Lian beralasan, “Tapi, Tapi aku … aku …”

Tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa dalam situasi seperti ini, dia akan menggunakan metode semacam ini untuk menyelamatkan orang lain?!

Di bawah altar, sudah ada beberapa orang yang takut dan menangis dihadapkan oleh adegan berdarah ini, tetapi ada juga orang lain yang masih nekat menonton, “… Dia … apakah dia benar-benar tidak bisa mati?!”

“Itu benar … lihatlah, hampir tidak ada darah … dia masih hidup, masih hidup dan bernapas seperti sebelumnya!”

Xie Lian begitu tersiksa oleh batuk hebat yang begitu melelahkan lainnya. Seseorang mengklarifikasi, “Jadi dengan kata lain, bahkan jika kita membunuhnya, dia tidak akan mati?!”

“Itu keren!”

Orang yang bersorak pada detik berikutnya dimarahi oleh orang lainnya, “Keren? Bagian mananya yang keren?”

Orang yang dimarahi itu berkata pelan, “Karena dia tidak akan bisa mati … maka bukankah sekarang kita punya solusi?”

“Tapi untuk menusuk seseorang, itu terlalu …”

“Tapi dia adalah seorang dewa! Bahkan jika dia ditikam, dia tidak akan mati! Kita hanya orang biasa di sini. Jika kita terinfeksi dengan penyakit wajah manusia maka nasib kita akan tersegel untuk terus menderita!”

Menyaksikan perjuangannya yang terungkap, Si Putih Tanpa Wajah mengejek, “Orang-orang biasa di sini menunggumu untuk menyelamatkan mereka. Tolong lakukanlah.”

Api kemarahan menyala di mata Xie Lian. “Satu-satunya cara untuk menyelamatkan semua orang adalah dengan membasmi monster bengkok seperti kamu!”

Si Putih Tanpa Wajah mencibir, “Ada apa? Yang Mulia, bukankah kamu dengan yakin mengatakan bahwa kamu tidak akan bisa mati? Kamu tidak mungkin takut sekarang, kan? Karena kamu tidak akan bisa mati, maka korbankanlah dirimu dan bebaskan penderitaan orang lain. Bukankah itu hal yang menyenangkan?”

Xie Lian meludah, “Apakah ini rencanamu selama ini? Kamu pikir semua orang di dunia ini sadistik sepertimu?”

Sesuai dengan kata-katanya, ekspresi orang-orang di bawahnya bukanlah ekspresi gembira yang dipakai orang-orang saat berpikir untuk diselamatkan, sebaliknya, ekspresi yang terpancar pada wajah mereka adalah keraguan. Ada beberapa pemikiran yang saling bertentangan dan tak satu pun dari mereka yang bisa mendarat dengan pendapat yang sama. Namun, pada saat yang sama, tidak ada yang berani mengeluarkan bilah hitam itu. Seolah membaca pikirannya, Si Putih Tanpa Wajah tertawa terbahak-bahak. Dia menggelengkan kepalanya dengan tidak setuju dan menghela napas, “Anak bodoh, anak bodoh.”

Xie Lian memalingkan kepalanya dan menolak membiarkan makhluk itu menyentuhnya. Dia menyalak, “Pergilah!”

Si Putih Tanpa Wajah mengasihani, “Kamu pikir mereka tidak mau melakukannya? Salah, bukan karena mereka tidak mau, itu semata-mata karena tidak ada yang ingin menjadi yang pertama, itu saja.”

“Ahhhhh!”

Terdengar suara jeritan menyakitkan yang meletus dari bawah altar ilahi itu. Istri dari pasangan bangsawan dari sebelumnya berteriak, “Anakku, anakku!”

Anak di lengannya meraung tak terkendali saat bintik-bintik gelap mulai muncul dari lengannya yang gemuk. Orang-orang di sekitar mereka segera mundur, meninggalkan celah kosong di antaranya. “Ini buruk, anak itu sudah terinfeksi!!!”

Ada kekosongan di mata pasangan itu. Keduanya bertukar pandang dan melompat berdiri. Mereka berjalan ke depan altar, mengeluarkan pedang hitam dari tanah dan memegangnya di tangan anak mereka. Meringis, mereka menerjang Xie Lian.

“…!”

Bilah hitam itu sangat tajam, karena ketika Xie Lian merasakan rasa sakit yang luar biasa meledak dari perutnya, pasangan itu sudah mengeluarkan pedang hitam itu, menjatuhkannya ke tanah dengan dentang keras sambil terus menerus meminta maaf, “Maafkan kami … anak kami masih muda, ini sungguh … tidak ada jalan lain. Maafkan kami maaf maaf….”

Ketika mereka mencoba untuk menebus tindakan mereka dengan menggunakan ekspresi wajah yang memucat, mereka membungkuk berkali-kali di depan Xie Lian sebelum kembali ke kerumunan dengan memeluk anak mereka. Dengan lapisan darah tebal yang menyumbat tenggorokannya, Xie Lian hampir saja muntah sampai dia mendengar kekehan yang berasal dari Si Putih Tanpa Wajah.

Dia menahan darah keluar dari mulutnya dan mendesis, “Apa yang kamu tertawakan? Kamu pikir kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan? Ini semua terjadi karena paksaan darimu!”

Api hantu di tangan iblis itu berkedip bahkan lebih keras. Meluangkan waktu, ia menjelaskan, “Manusia membutuhkan kekuatan untuk mengungkapkan diri mereka yang sebenarnya.”

Di antara seratus orang, sekarang ada satu orang yang tidak takut dengan penyakit wajah manusia lagi. Melihat cetakan gelap perlahan menghilang dari lengan anak itu, orang-orang di sekitar mereka menelan ludah mereka dalam diam.

Setelah beberapa waktu berlalu, di bawah keheningan yang mati, seorang pemuda akhirnya berjalan keluar dari kerumunan disana.

Dengan kulit tebal, dia berjalan menuju altar. Dia membungkuk beberapa kali dengan tangan tergenggam di depannya dan memohon, “Maafkan aku. Aku tidak ingin melakukan ini. Aku benar-benar tidak ingin melakukan ini, tetapi aku tidak punya cara lain. Aku baru saja menikah, ibuku, istriku, mereka masih berada di rumah, menungguku… “

Kata demi kata diucapkannya, dia tidak bisa melanjutkan lebih jauh, jadi dia menutup matanya, mengangkat pedang dan menusukkannya pada tubuh Xie Lian.

Namun, karena matanya tertutup, pedang itu miring ke samping dan malah menusuk sisi lain tubuh Xie Lian. Ketika dia membuka matanya dan menyadari bahwa tempat yang baru saja ditusuknya bukanlah titik vitalnya, dalam kepanikan sesaat, dia mengeluarkan senjata itu dengan panik dan dengan tangan gemetar, dia menikam lagi!

Xie Lian, yang telah menggertakkan giginya untuk mencegah satu suara pun keluar, mengeluarkan tidak lebih dari rengekan kecil setelah dua pukulan berturut-turut. Aliran darah segar merembes keluar dari sisi bibirnya.

Memang benar dia tidak bisa mati. Namun, itu tidak berarti jika dia tidak bisa merasakan sakit dari luka itu.

Suara setiap inci daging yang telah dililit oleh senjata itu, perasaan setiap tulang yang tergores membuatnya gila dan berharap mati hanya untuk terbebas dari penyiksaan. Ketika sampai pada hal ini, dia tidak berbeda dengan manusia biasa.

Ketika orang kedua menyelesaikan urusannya, dia mundur, tapi kali ini, tanpa membungkuk. Ekspresi yang dia kenakan di wajahnya adalah campuran penyesalan dan kegembiraan dari perbuatan yang dilakukannya. Sulit mengatakan mana yang lebih dominan. Begitu dia mundur untuk kembali ke dalam kerumunan itu, keheningan kembali menguar di dalam kuil.

Tidak lama kemudian, beberapa orang lagi tampak seolah-olah ingin berdiri dengan alasan mereka sendiri. Namun, sebelum mereka bisa bangkit, seseorang menyela, “Aku tidak tahan lagi.”

Arah pandangan semua orang berbalik ke arah suara itu dan Xie Lian juga mengangkat kepalanya. Orang yang berbicara sebelumnya adalah pengamen jalanan yang dikenalnya. Dia memarahi, “Apakah kalian benar-benar ​​melakukan semua hal yang disurh monster ini untuk kalian? Dari apa yang aku lihat, dia hanya mengocehkan omong kosong. Bahkan jika itu benar, hanya karena dia tidak bisa mati bukan berarti ini bukan pembunuhan!”

Orang-orang lain di sekitarnya berucap, “Sobat, bangunlah, semua orang di sini akan mati!”

Pengamen jalanan itu membela, “Bukankah aku juga ada di sini? Bukankah aku juga akan mati? Tetapi apakah aku melakukan sesuatu?”

Kalimatnya menutup beberapa mulut semua orang yang hendak membalas, tetapi sepersekian detik setelahnya, seseorang menuduh, “Orang sepertimu mungkin tidak memiliki orang tua atau anak-anak di keluargamu, ‘kan? Orang yang hidup untuk dirinya sendiri, tetapi ada begitu banyak dari kita di sini memiliki keluarga yang harus dijaga, bagaimana mungkin kita dapat dibandingkan denganmu?”

Pengamen jalanan itu menunjuk pasangan yang naik pertama dan berkata, “Memang benar aku tidak punya istri dan anak, tetapi jika aku punya, bahkan jika aku harus mati, aku tidak akan pernah membiarkan anakku melihatku menggunakan metode-metode semacam itu, apalagi untuk membimbingnya bergandengan tangan dalam melakukannya. Jika anakmu tumbuh menjadi penjahat, itu berarti orang tuanya yang harus disalahkan. Jika kamu begitu bersemangat untuk menyelamatkannya, mengapa tidak membiarkan anakmu menusuk tubuhmu sendiri?”

Sang istri memiliki wajah penuh kesengsaraan, “Jangan mengutuk anakku! Jika kamu ingin mengutuk seseorang, sebaliknya kutuk saja aku!” Suaminya terdengar marah, “Apakah kamu kehilangan akalmu? Kamu ingin anakku membunuh ibu dan ayahnya sendiri? Sungguh tidak bermoral!!”

Pengamen jalanan itu mungkin tidak mengerti apa yang dimaksudkannya dan menjawab, “Pembunuhan masih berarti pembunuhan bagaimanapun kamu melakukannya! Setidaknya bisa dikatakan berani jika kamu membiarkan anakmu membunuhmu. Ngomong-ngomong, kenapa kalian tidak pergi mencari dan membunuh makhluk aneh bertopeng itu saja?”

Setelah mendengar itu, Si Putih Tanpa Wajah meledak dalam tawa. Kerumunan disana ketakutan dan geram. Ketakutan mereka mengarah pada monster putih itu dan pengamen jalanan yang terus berbicara. Mereka merendahkan suara mereka dan mencaci, “Kamu ..! Tutup mulutmu!”

Bagaimana jika mereka secara tidak sengaja membuat marah monster itu?

Pengamen jalanan itu segera mengerti, “Oh, jadi kalian tidak punya nyali untuk membunuh orang yang sudah jelas jahat itu, dan memilih untuk menusuk orang lain?”

Tidak dapat menderita penghinaan dari makhluk kasar ini lagi, seseorang menantangnya, “Sobat ini telah berbicara tanpa akhir, dan di sini aku pikir dia mungkin adalah seseorang yang istimewa. Melihat dia sekarang, dengan wajah mengerikan yang tanpa darah, aku akan mengatakan jika dia mungkin memiliki paling banyak dua hari kehidupan yang tersisa dan itulah sebabnya dia berani mengkritik kita semua tanpa peduli apapun. Jika kamu benar, mengapa kamu tidak mengorbankan dirimu sendiri untuk membantu kami di sini.”

Pengamen jalanan itu mengoreksi, “Aku tidak ingin mengorbankan diriku sendiri, tetapi orang lain juga tidak menginginkannya. Lalu siapa yang akan melakukannya? Apakah kamu? Apakah kamu? Tapi setidaknya, aku tidak akan menusuk siapa pun.”

Seseorang berkata, “Tapi dia berbeda.”

“Apanya yang berbeda?”

“Dia adalah seorang dewa! Untuk menyelamatkan semua orang – katanya sendiri. Juga- Juga, dia tidak bisa mati!”

Pengamen jalanan itu berniat membantah, tapi Xie Lian tidak bisa menahan diri lagi. Dia terbatuk lemah dan berseru, “S-Sobat! Hei sobat!”

Dia membuka mulutnya, tetapi sebagai hasil dari tusukan sebelumnya, suara yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lemah. Pengamen jalanan itu memutar kepalanya dan suara Xie Lian dipenuhi dengan rasa terima kasih, “Terima kasih! Tapi … tidak apa-apa.”

Jika dia melanjutkan, maka dia mungkin akan dipukuli. Xie Lian ingat bahwa semua luka dalam yang serius yang dibawa orang ini disebabkan oleh persaingan mereka di masa lalu. Sedikit bersalah, dia menambahkan, “Terima kasih! Luka batu besar yang kamu terima sebelumnya, apakah sudah sembuh?”

“Ah? Apa yang kamu katakan! Bagaimana mungkin aku bisa terluka? Menghancurkan batu adalah keterampilanku!” Pria itu berseru dengan bangga.

Melihat bahwa pria itu menolak untuk kehilangan muka bahkan dalam situasi ini praktis sama seperti ketika dia memuntahkan seteguk darah sambil mengatakan, “Aku benar-benar baik-baik saja.” Xie Lian ingin tertawa. Tiba-tiba, seseorang menunjuk ke arah pengamen jalanan itu dan berteriak, “Infeksinya menyebar! Infeksinya menyebar!”

Xie Lian tertegun, dan begitu pula pengamen jalanan itu. Mengikuti arah jari itu, pengamen jalanan itu menyentuh wajahnya sendiri, dan seperti yang dia duga, dia merasakan sesuatu yang tidak rata disana.

Orang-orang di sekitarnya segera menjauhkan diri mereka. Xie Lian membuka mulutnya, berniar memanggil pengamen jalanan itu. Tetapi untuk melakukan apa? Untuk menikamnya dengan pedang?

Kata-kata itu hilang di dalam tenggorokannya sendiri.

Pada saat ia masih tampak begitu ragu-ragu, pengamen jalanan itu membelai wajahnya beberapa kali sebelum berlari keluar dari kuil. Melihat kejadian itu terungkap, Xie Lian memanggilnya, “Kemana kamu akan pergi? Kembali! Jika kamu tidak mengobatinya, infeksinya akan menyebar!”

Tetapi lelaki itu berlari lebih cepat dan berteriak, “Aku tidak akan kembali! Jika aku mengatakan aku tidak akan melakukannya, maka aku tidak akan melakukannya …” Segera setelah itu, sosoknya menghilang. Makhluk-makhluk cacat di sekitar kuil entah bagaimana tahu bahwa pria itu sekarang adalah salah satu dari mereka dan dengan demikian tidak menghalangi jalannya. Xie Lian terus memanggil, sampai dia tidak bisa melihat bayangannya lagi. Orang-orang di bawah altar bergumam, “Sudah berakhir, dia sudah pergi!”

“Dasar idiot itu! Infeksinya pasti akan menyebar ke mana pun kamu pergi, sudah terlambat! Dia sudah terinfeksi!”

“Dia .. tidak mungkin turun gunung untuk membunuh, kan?”

Namun, kata-kata yang diucapkan si pria pengamen jalanan itu sebelum kepergiannya menahan orang-orang di kuil itu dalam keheningan yang dalam. Waktu telah berlalu dan tidak ada yang naik untuk mengambil pedang disana. Situasi berhenti sejenak.

Xie Lian tidak bisa memastikan apakah dia merasakan kegembiraan, keraguan, atau ketakutan, tetapi yang paling penting adalah, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saat dia berjuang untuk menjernihkan pikirannya, seseorang berdiri. “Boleh aku berkata sesuatu?”

Orang yang baru saja berbicara adalah pria paruh baya. Xie Lian mendongak dan menyadari jika sosok pria itu agak akrab, tetapi dia tidak bisa mengingat di mana mereka telah bertemu. Sambil mencoba mengingat, pria itu bergumam, “Aku ingin berkata jujur, dia telah mencoba merampokku sebelumnya!”

“…”

Pria ini adalah pria yang itu!!!

Kerumunan di dalam kuil terkejut, “Merampok?”

“Bukankah dia seorang pangeran? Bukankah dia adalah dewa? Bagaimana mungkin dia merampok?”

Lelaki itu menegaskan, “Apa yang aku katakan adalah kebenaran absolut.”

“Begitukah? Lalu apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?”

“Tidak ada lagi. Aku hanya ingin mengingatkan semua orang bahwa dia telah mencoba merampok!” Pria itu berjongkok lagi setelah dia menyelesaikan pernyataannya.

Kuil itu kembali jatuh ke dalam kesunyian sekali lagi setelah ledakan itu. Pernyataan tunggal itu, telah menanamkan benih kegelapan di dalam hati mereka.

Merampok….

Tiba-tiba, lolongan lain datang dari bawah altar. Seseorang menjerit, “Kakiku, kakiku! Ini … terasa aneh!”

Lagi?!

Yang mengejutkan mereka, itu bukan hanya satu orang. Pada saat yang sama, orang lain berteriak, “Aku juga! Punggungku! Seseorang tolong bantu aku melihat punggungku!”

Tidak ada yang berani mendekati keduanya, meninggalkan keduanya memeriksa diri mereka sendiri. Satu menggulung celana mereka sementara yang lain melepas atasannya. Setelah melihat dengan jelas kondisi tubuh mereka, sisa orang-orang yang berada disana mulai berteriak ketakutan.

Wajah-wajah pada tubuh dua orang ini telah mendapatkan bentuk lengkapnya!

“Bagaimana mungkin bisa tumbuh secepat itu?!”

“Apakah kalian lupa? Kami sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di sini!”

“Tapi bagaimana mungkin mereka tidak memperhatikan?!”

“Infeksinya tidak tumbuh di tempat yang jelas dan hanya sedikit terasa gatal. Bagaimana aku tahu semuanya akan berubah menjadi ini!”

“Sudah berakhir, sudah berakhir. Kita semua mungkin sudah terinfeksi.”

“Cepat! Semua orang lakukanlah pemeriksaan di tubuh kalian semua! Perhatikan baik-baik tubuhmu!”

Itu adalah kekacauan murni di dalam Kuil Putra Mahkota. Tiap jeritan menembus udara saat mereka memeriksa tubuh mereka sendiri. Seperti yang diharapkan! Sudah ada cukup banyak orang yang memiliki wajah yang muncul di seluruh tubuh mereka, hanya saja mereka belum memperhatikannya sebelumnya. Sekarang setelah mereka melihatnya sendiri, mereka menyadari bahwa wajah-wajah baru ini sudah sepenuhnya berkembang menjadi lima fitur wajah!

Seolah mengetahui situasinya, makhluk-makhluk cacat di luar Kuil Putra Mahkota menari bahkan lebih liar bersama-sama. Namun, di dalam kuil, kabut tebal ketakutan menyebar dengan cepat ke segala arah. Jantung Xie Lian berdebar tanpa henti seperti hendak menerobos dadanya.

Dari yang dia ingat, penyakit wajah manusia butuh waktu untuk menyebar, mengapa sekarang infeksinya menyebar begitu cepat?

Si Putih Tanpa Wajah, pasti Si Putih Tanpa Wajah yang melakukannya!

Dia mengalihkan pandangannya ke arah pengamat bermata dingin yang telah memulai semua ini. Sebelum dia bisa membuka mulut, seseorang menikamnya. Terengah-engah, orang dengan mata memerah itu mendesis kepadanya, “Kamu … kamu adalah seorang dewa, kamu adalah seorang pangeran, namun kamu berani melakukan perampokan?”

Xie Lian tercengang, tidak mengerti mengapa pria itu membawa insiden itu dari semua hal yang pernah dilakukannya, dan menjawab, “Aku …”

Pria itu menikamnya dengan tajam, “Kami berdoa kepadamu, dan apa yang kamu lakukan? Merampok! Apa yang kamu bawa? Wabah!”

Dia membawa wabah?

Raut keterkejutan tertulis di wajah Xie Lian, “…. Aku? Itu bukan aku?! Aku hanya…”

Mereka akhirnya tiba pada titik di mana kesabaran mereka telah mencapai batas absolutnya.

Dengan warna merah yang mewarnai tepi mata mereka, seratus orang mengelilinginya. Yang paling dekat mengeluarkan pedang hitam yang condong dari tanah. Xie Lian berhenti bernapas.

Pria itu menggenggam pedang hitam itu dengan gemetar sambil bergumam, “Kamu … Kamu perlu meminta maaf, ‘kan? Kamu perlu menebus dosa-dosamu, ‘kan?”

Bilah hitam memancarkan aura mengerikan, dan rasa takut Xie Lian telah melambung tinggi.

Ada begitu banyak orang, jika setiap orang dari mereka menikamnya dengan pedang ini, akan jadi apa dia pada akhir semua ini?

Selain dari pemikiran akan ditusuk berkali-kali dan tidak meninggalkan apa-apa selain ribuan lubang dan tumpukan daging yang tidak bisa dibedakan, ada hal lain yang lebih ditakuti olehnya. Dia merasa bahwa jika dia membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan, ada sesuatu dalam hatinya yang tidak akan pernah kembali pada keadaan semula.

Tidak ingin berpikir lebih jauh, Xie Lian hanya bisa berteriak minta tolong, “Tol−”

Namun, sebelum kalimat ‘Tolong aku’ bisa meninggalkan tenggorokannya, pedang hitam sedingin es itu sekali lagi ditusukkan ke tubuhnya. Xie Lian membelalakkan matanya ngeri.

Pedang tajam itu kemudian dicabut dengan kasar. Orang berikutnya mengikuti tanpa ragu, dan tikaman berikutnya praktis didorong ke tempat yang sama. Suara yang sebelumnya tertahan di tenggorokan Xie Lian akhirnya pecah dan jeritan panjang yang menyakitkan merobek tubuhnya.

Teriakan itu begitu menusuk sehingga orang-orang di sekitarnya merasa merinding. Ada beberapa yang menutup mata mereka dan memalingkan muka, “… Jangan biarkan dia berteriak. Ayo percepat ini dan selesaikan urusan ini dengan cepat!”

Xie Lian merasa seseorang telah meredam mulutnya dan menahan tangan dan kakinya. Orang itu memerintahkan, “Tahan dia dan jangan biarkan dia jatuh. Juga, jangan menusuk di tempat yang salah, jika tusukannya tidak fatal, itu tidak masuk hitungan!”

“Berbaris satu per satu, jangan memotong antrian! Aku bilang pada kalian untuk tidak memotong antrian, aku di sini lebih dulu! “

“Daerah mana yang fatal? Bagaimana aku tahu jika daerah itu fatal atau tidak?”

“Apa pun yang kamu lakukan, arahkan saja ke jantung, tenggorokan, dan perut!”

“Jika kamu tidak yakin kalau kamu menikam di daerah yang fatal, lakukan saja lagi!”

“Tidak mungkin! Jika kamu melakukan lebih dari satu tikaman, di mana orang lain akan menikam lagi?”

Keraguan dan keengganan yang sebelumnya ada kini berkurang hingga berubah menjadi ketidakpedulian. Semakin banyak waktu yang berlalu, semakin lancar gerakan mereka. Gerakan pedang ke dalam dan ke luar itu seolah tak berujung, mata Xie Lian terbuka lebar dan tetesan air mata mengalir di wajahnya. Jauh di dalam hatinya, ada suara yang diam-diam menjerit dan melolong.

Tolong aku.

Tolong aku, tolong aku, tolong aku.

Tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku!!!!

Sakit sekali, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit ….. sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit sakit, SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT SAKIT!!!!!

Mengapa aku tidak bisa mati.

MENGAPA AKU TIDAK BISA MATI?!!!

Dia ingin meraung dengan suara yang paling tragis, tetapi dia tidak dapat menemukan satu kata pun yang tersisa di tenggorokannya karena bahkan tenggorokannya sendiri mungkin sudah ditikam. Dia ingin memberontak liar karena rasa sakit. Seolah-olah dia menderita semua rasa sakit dari beberapa kehidupan dan bahwa mulai sekarang, dia tidak akan bisa merasakan rasa sakit lainnya. Dia tidak bisa melihat apapun, dunia begitu gelap gulita selain bola api yang membakar dengan marah di dekatnya. Bola api hantu itu tumbuh lebih cerah dan lebih kuat. Namun, di telapak tangan Si Putih Tanpa Wajah, bola api hantu itu tidak bisa melarikan diri.

Dia tidak bisa mendengar teriakannya sendiri yang memilukan, tetapi sebaliknya, dia mendengar suara tangisan memilukan yang sepertinya berasal dari bola api itu. Meskipun teriakan itu bukanlah miliknya, tetapi rasa sakit yang dia dapat dengar adalah sama dengannya, seolah-olah dia adalah orang yang membuat suara itu.

Pada akhirnya, dia tidak bisa mempertahankan kewarasannya lagi. Tenggorokannya bergumam, dan kesadarannya benar-benar hancur. Pada saat yang sama, ledakan bertiup dari dalam Kuil Putra Mahkota dan gelombang api mengamuk keluar.

“AAAHHHHHHHHHHHHH!”

Ada campuran jeritan bernada tinggi dan rendah. Api yang membakar meraung, menerangi segala sesuatu dalam nyala api yang tinggi, membuat mustahil bagi siapa pun untuk melarikan diri darinya. Api hantu itu berkedip dengan jelas. Dalam sekejap, seratus mayat yang tinggal di dalam Kuil Putra Mahkota dibakar menjadi seratus set arang hitam!

Ketika api berangsur-angsur mereda dan berkumpul kembali, bola api hantu kecil yang asli sudah menghilang. Sebagai gantinya, berdiri siluet berbentuk samar seorang pria muda.

Pemuda itu berlutut di depan permukaan altar yang hangus. Dia membungkuk dalam-dalam, memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, dan meraungkan kesakitan yang luar biasa dan dahsyat.

Dia tidak berani melihat apa yang terjadi pada orang yang terbaring di altar, karena apa yang diletakkan di sana tidak terlihat seperti manusia lagi.

Tulang dan tengkorak sama-sama tersebar di bagian dalam Kuil Putra Mahkota. Si Putih Tanpa Wajah terkekeh tak terkendali saat dia berbalik dan keluar dari kuil. Kemarahan api hantu itu tidak hanya mengalir di Kuil Putra Mahkota ini saja, bahkan makhluk-makhluk tak beradab di luar juga telah berubah menjadi tumpukan mayat dan sampah kering. Seolah buta akan hal itu, Si Putih Tanpa Wajah berjalan santai melewati abu arang disana seolah tidak ada apapun yang terjadi.

Seluruh hutan ini, tidak, seluruh gunung ini bergetar dan bersedih karena penderitaan!

Bayangan hitam yang tak terhitung jumlahnya terbang ke langit. Mereka adalah jiwa-jiwa yang takut tanpa sadar akan tanah yang sekarang tak bernyawa ini dan berebut untuk melarikan diri. Embusan angin kencang membuyarkan mereka ke segala arah. Di atas Kuil Putra Mahkota, lapisan awan hitam raksasa bergemuruh dalam kegelisahan. Berputar perlahan, menyerupai mata iblis kolosal.

Ini adalah kelahiran makhluk jahat, sebuah tanda-tanda sesosok hantu jahat yang mulai terbentuk!


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments