Penerjemah : Jeffery Liu


Xie Lian menasihati Feng Xin berkali-kali untuk tetap tinggal dan menjaga raja dan ratu sementara dia sendiri berjalan keluar dari pondok kecil yang bobrok itu. Saat dia berjalan, dia terus melihat ke belakang, jantungnya berdetak kencang. Setelah berjalan cukup jauh, dia akhirnya menjadi cukup tenang ketika dia yakin Feng Xin tidak mengikutinya.

Memantapkan dirinya, setelah berjalan dan berhenti lebih dari sepuluh mil, Xie Lian akhirnya menemukan sebuah tempat yang menurutnya adalah lokasi yang ideal – jalan gunung yang cukup sepi dan terpencil.

Xie Lian mengamati sekelilingnya dan menemukan tidak ada seorang pun di sekitarnya, lalu ia menutupi wajahnya dengan sebuah pita sutra putih, membungkusnya dengan erat dan aman di sekitar wajahnya sebelum ia melompat ke atas sebuah pohon untuk menyembunyikan dirinya. Dia kemudian menahan napas dan berusaha tetap fokus. Langkah selanjutnya adalah menunggu pejalan kaki melewati tempat itu.

Betul. ‘Cara’-nya adalah apa yang disebut ‘mencuri dari orang kaya dan memberikannya kepada orang miskin”.

Di masa lalu, Xie Lian hanya pernah mendengar tentang penjagal duniawi semacam ini yang mencuri dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin dari buku dan drama; dia tidak pernah melakukannya sendiri, dan dia tidak pernah berpikir untuk melakukannya, karena, kepercayaan awalnya adalah: tidak peduli bagaimanapun hal itu dipercantik, tidak peduli bagaimanapun alasannya, perampokan adalah perampokan, mencuri adalah mencuri. Kalau dia mencoba melakukannya, dengan kecakapan fisik Xie Lian, terbang melintasi atap untuk mencuri barang-barang kecil, membunuh penjaga dan membersihkan seluruh perbendaharaan tidak akan menjadi sesuatu yang sulit.

Tetapi sekarang setelah dia mencapai titik ini, benar-benar tidak ada jalan lain baginya. Jika dia harus mengatakan demikian, ‘merampok’ sedikit lebih baik daripada ‘mencuri’, mungkin karena yang pertama masih ‘keluar di tempat terbuka’. Setelah banyak dilema internal, Xie Lian masih menampar wajah dirinya yang dahulu, dan berencana untuk mencuri kekayaan orang lain untuk memberi kepada kemiskinannya sendiri.

Ini adalah cara tercepat!

Xie Lian bertengger di pohon, bulan bersembunyi dan angin berembus, tempat di sekitarnya begitu sepi, begitu kosong dari tanda-tanda kehidupan, namun jantungnya berdebar kencang.

Bahkan ketika menghadapi binatang buas paling kejam sekalipun, Xie Lian tidak pernah segugup ini. Ketika dia menggali roti yang dingin dan keras dalam sakunya, tangannya sedikit gemetar.

Jika kamu masih bisa pilih-pilih soal makanan, itu hanya bisa berarti kamu tidak benar-benar lapar. Ketika Xie Lian memahami hal ini, tiba-tiba ia menjadi terbiasa dengan rasa roti kukus.

Musim dingin semakin dekat dan malam-malamnya sangat dingin. Xie Lian mengunyah roti dingin itu dan mengembuskan napas putih. Karena dia tidak ingin terlihat, Xie Lian tidak pernah mempertimbangkan tempat di mana akan ada lebih banyak orang, dan secara khusus memilih daerah yang sunyi. Dia menunggu empat jam penuh sebelum seorang pejalan kaki datang berjalan begitu lambat dari ujung jalan gunung.

Melihatnya, Xie Lian menjadi lebih bersemangat, menghabiskan roti itu dalam beberapa gigitan, dan fokus pada pejalan kaki itu yang mulai mendekat perlahan. Kemudian, dia menemukan bahwa pejalan kaki itu adalah seorang lelaki tua.

Lelaki itu begitu tua tetapi dia berpakaian begitu segar dan cerah, jadi dia seharusnya cukup kaya. Namun, dia tentu saja tidak berada dalam lingkup pertimbangan Xie Lian. Xie Lian tidak tahu apakah dia harus kecewa atau lega, tapi dia memutuskan untuk mengabaikan lelaki tua itu dan membiarkannya pergi, melanjutkan menunggu orang berikutnya.

Dua jam kemudian, kaki Xie Lian terasa mati rasa karena terus berjongkok, bagian bawah tubuhnya praktis membeku sebelum orang kedua akhirnya muncul. Ketika dia melihat sosok itu juga berjalan lambat, dia bertanya-tanya, ‘Mungkinkah itu orang tua yang lain?’

Ketika sosok itu akhirnya mendekat, dia mendapati bahwa pejalan kaki itu bukanlah orang tua tetapi seorang pemuda.

Pemuda itu tampak berpenampilan sederhana dan baik hati, wajahnya dipenuhi senyum, dan alasan dia berjalan sangat lambat adalah karena dia membawa sekarung beras yang tebal. Telapak tangan Xie Lian berkeringat dan dia berkata pada dirinya sendiri, ‘… Apakah aku akan menyerangnya?’

Setelah ragu-ragu sejenak, dia akhirnya menyerah.

Alasan dia menyerah adalah karena pakaian pemuda ini tampak ditambal di beberapa tempat, dia memakai sepatu jerami di kakinya, memperlihatkan jari-jarinya, jelas dari rumah tangga miskin. Dia pasti terlihat sangat bahagia karena akhirnya ada sekantong beras untuk mengisi perutnya, dan mungkin keluarganya kelaparan selama berhari-hari, dan mungkin sekarung beras ini dibeli setelah menjual satu-satunya sapi di rumahnya. Jika dia dirampok, bukankah dia akan putus asa?

Xie Lian membayangkan segala macam skenario buruk dalam pikirannya sendiri, dan baru setelah itu dia berpikir mungkin dia bisa saja mengambil setengah kantong beras itu, tetapi saat itu pemuda itu sudah lama pergi. Dengan demikian, Xie Lian dengan tegas memutuskan bahwa dia tidak akan memikirkannya lagi, dan terus menunggu sampai yang berikutnya.

Dia bertengger di pohon sepanjang waktu dan menunggu tanpa daya selama berjam-jam, dari malam yang gelap sampai siang hari berikutnya. Pada waktu itu, ada lebih dari selusin pejalan kaki yang melewati jalan gunung ini, namun setiap kali ketika Xie Lian hendak menyerang salah satu dari mereka, selalu ada segala macam alasan mengapa itu tidak pantas untuk dilakukan dan dia membiarkan mereka pergi. Berkali-kali dia berpikir, ‘Lupakan! Kembali saja!‘ Tidak akan ada bandit yang merampok seperti dia; itu akan menjadi keajaiban jika dia benar-benar melakukannya. Tetapi, ketika dia memikirkan bagaimana tidak ada lagi makanan atau obat-obatan jika dia kembali, dia memaksakan dirinya untuk terus menunggu.

Setelah hampir setengah hari, akhirnya, jauh di kejauhan jalan gunung datang pengembara terakhir.

Pengembara itu adalah seorang pria paruh baya, dia mengenakan pakaian bagus, tidak kaya ataupun dari keturunan bangsawan, penampilannya liar dan gemuk, agak menjengkelkan, dan Xie Lian bisa mengatakan tidak ada hal yang baik dari pengembara itu hanya dengan pandangan sekilas.

Tapi, orang tidak boleh menilai buku dari sampulnya, Xie Lian tidak bisa tidak berpikir, ‘Bagaimana jika pria ini hanya tampak biadab tetapi dia sebenarnya orang yang baik? Bahkan jika dia benar-benar kaya, apakah dia sebenarnya baru saja dirampok?’

Saat dia berjuang melawan pergolakan batinnya, suara menggeram tiba-tiba datang dari perutnya dan itu membuatnya terbangun dari kebodohannya sendiri, dan Xie Lian menghela napas dalam-dalam, ‘Lupakan, aku tidak bisa repot-repot memikirkannya. Kamu akan menjadi sasaranku!’

Mengambil keputusan, dia melompat turun dari pohon dan berteriak, “JANGAN BERGERAK!”

Melihat seorang pria bertopeng yang menghalangi jalan dengan tiba-tiba muncul di tengah jalan, pria itu terkejut dan dia berteriak ketakutan, “Siapa kamu? Bersembunyi di sini diam-diam dengan wajahmu disembunyikan, apa yang kamu rencanakan??”

Xie Lian memaksakan diri untuk berkata, “… BERIKAN … BERIKAN …” Tetapi pada akhirnya ada rintangan di benaknya, dan dia tergagap beberapa kali sebelum akhirnya berteriak dengan penuh usaha keras – “BERIKAN PADAKU SEMUA UANG YANG KAMU MILIKI!”

Pria itu melebarkan mulutnya, melompat setinggi tiga kaki, dan berteriak, “SIAPAPUN! TOLONG AKU! ADA PERAMPOK!” Kemudian dia berbalik dan berlari. Lebih dari pelariannya, Xie Lian bahkan lebih khawatir bahwa teriakannya akan mendatangkan orang lain, dan sementara tempat itu sebenarnya sudah menjadi pegunungan tandus dan kemungkinannya begitu rendah bagi siapa pun untuk muncul, bahkan jika ada orang lain yang muncul, dia masih bisa lari, tetapi seorang pencuri ternyata memiliki rasa bersalah yang rendah, dan Xie Lian segera berteriak, “BERHENTI! JANGAN BERTERIAK LAGI!”

Seolah-olah pria itu akan mendengarkannya. Dia terus berlari dan melarikan diri ke arah hutan, lalu berteriak “AIYOH!” Sebuah ironi. Xie Lian takut ada binatang buas di hutan yang menyerang pria itu dan dengan cepat berteriak, “TUNGGU! Hati-hati! …” Namun tiba-tiba, ketika dia menyusul pria itu dan melihatnya, dia langsung terpana, wajahnya memucat dengan cepat.

Di dalam hutan itu sudah ada sekelompok orang, dan mereka semua melihat ke arahnya. Ketika Xie Lian melihat lebih dekat, dia memperhatikan sesuatu. Mereka sama sekali bukanlah manusia. Pria paruh baya itu tidak melihat mereka sama sekali, dan masih tampak begitu panik, dan, dalam kelompok itu, tampaknya ada beberapa wajah yang akrab dan dikenalinya.

Tentu saja mereka tampak begitu akrab. Dia telah melihat beberapa dari mereka di Ibukota Surgawi sebelumnya di masa lalu, beberapa dari Pengadilan Tinggi, beberapa dari Pengadilan Bawah. Mereka semua adalah pejabat surgawi!

Pria itu berteriak secara tragis sebelumnya karena dia tersandung dan jatuh, dan tangannya mencengkeram seikat besar mantra perlindungan sementara dia meneriakkan pada dirinya sendiri, “Ya Tuhan, Dewa! Ayo selamatkan aku! Ayo selamatkan aku cepat!” Dan ‘para dewa’ yang dia tangisi benar-benar datang seperti yang dia inginkan.

Tepat pada saat ini, semua pasang mata para pejabat surgawi yang tak terhitung jumlahnya menatap Xie Lian dengan saksama, membekukannya di tempat dengan tatapan mereka. Ketika pria itu melihat perampok bertopeng aneh itu membeku dalam keadaan linglung, dia dengan cepat merangkak dan lari. Xie Lian tidak bisa bergerak selangkah pun untuk mengejarnya; seluruh tubuhnya kaku, basah oleh keringat dingin, hatinya dipenuhi dengan ketakutan.

Benar. Sebuah ketakutan.

Dia hanya bisa berdoa agar pita sutra putih ini membungkus wajahnya dengan cukup erat sehingga para pejabat surgawi yang dia kenal di masa lalu tidak akan mengenalinya. Namun, segala sesuatunya tidak akan pernah berjalan seperti yang dia harapkan, dan salah satu pejabat surgawi disana tampak memandangnya naik turun sebelum dia berkata dengan terkejut, “… Bukankah ini … Yang Mulia?”

“…”

Pejabat surgawi lainnya bahkan lebih terkejut, “Ah, benar! Mengapa Yang Mulia ada di sini? Dan berpakaian seperti ini juga?”

Jantung Xie Lian tenggelam lebih dalam dan lebih dalam seperti seolah-olah jantungnya akan tenggelam ke dasar bumi.

“Pria itu sebelumnya berteriak ‘tolong’ ‘perampokan’ ‘perampok’? Perampok mengejarnya? Perampok itu adalah … Yang Mulia?!”

Surga-ku! Yang Mulia.. Kamu benar-benar akan melakukan sesuatu seperti merampok?!”

Mendengar ini, Xie Lian hampir pingsan di tempat. Dia tidak tahu berapa lama waktu berlalu sebelum dia berkata, “Aku …”

Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya, tersangkut di tenggorokannya. Wajah para pejabat surgawi itu juga tidak terbaca. Beberapa saat kemudian, salah satu pejabat surga menepuk pundaknya, “Jangan khawatir, jangan khawatir, Yang Mulia, kami mengerti.”

Xie Lian menerima tepukan di pundak itu, itu tidak sulit, tetapi dia hampir kehilangan keseimbangannya, dan dia mencoba lagi, “Aku …”

Pejabat surgawi itu tertawa terbahak-bahak, “Kamu hanya melakukan ini karena kamu benar-benar kesulitan, ini bisa dimengerti. Jangan khawatir, kami tidak akan memberi tahu siapa pun tentang hal ini.”

Alasan mengapa hal-hal itu begitu sulit untuk dikatakan juga karena alasan ini. Karena pihak lain mengatakannya dengan begitu keras terlebih dahulu, maka dia benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa dia tambahkan. Hal itu terjadi salama beberapa saat kemudian sebelum dia bergumam, “… Baiklah, terima kasih. Kalau begitu, aku … aku akan kembali sekarang. Aku akan pergi.”

Dia juga tidak tahu bagaimana dia harus pergi. Bagaimanapun juga, ketika dia akhirnya sadar akan dirinya sendiri, dia sudah berdiri di jalan gunung yang kosong untuk kesekian kalinya, dan angin malam yang dingin dari musim dingin yang beku membuatnya tersadar.

Baru pada saat itulah Xie Lian akhirnya menyadari betapa mengerikan hal yang baru saja menimpanya.

Dia, Xie Lian, Putra Mahkota Xian Le – seorang perampok?!

Bagaimana bisa jadi seperti ini?!

Xie Lian saat ini dipenuhi dengan perasaan penuh penyesalan; dia dari masa lalu pasti sudah berpikir jika dia gila sampai berusaha untuk merampok di jalan, dan sekarang hal-hal berada di luar kendali. Kenapa dia begitu sial, dia tidak mendapat apapun, tetapi dia berakhir tertangkap basah?

Xie Lian belum pernah mengalami hal seperti ini di kehidupan masa lalunya sehingga dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukan. Dia terasa begitu terbakar dari kepala hingga kaki, pikirannya benar-benar kacau, dan dia menyembunyikan wajahnya di tangannya. Jika waktu bisa mundur, ia bahkan rela menggunakan kesehatan dan kultivasinya yang berlimpah untuk menukarnya. Ketika dia masih tenggelam dalam kesedihan, dalam sudut penglihatannya tiba-tiba dia menangkap sebuah siluet putih buram di depannya, dan Xie Lian langsung kaget, sontak mengangkat kepalanya, “SIAPA DISANA?!”

Ketika dia mendongak, sosok itu langsung menghilang, dan keringat dingin menutupi tubuhnya lagi.

Meskipun dia tidak melihat wajah pria itu, tapi, dia masih merasa, apa yang ada di wajah pria itu sepertinya sebuah topeng!

Namun demikian, setelah mengamati sekelilingnya, dia tidak melihat jejak siapa pun, dan Xie Lian tidak bisa tidak curiga mungkin sosok yang dia lihat hanyalah halusinasi sementara hatinya dipenuhi dengan perasaan panik. Entah itu benar, dia tidak berani tinggal di sana lagi dan bergegas menuruni gunung.

Setelah dia kembali, Feng Xin sudah menunggunya hampir setengah hari, dan saat dia melihatnya, dia berseru, “Yang Mulia, kemana kamu pergi? Gagasan apa yang kamu buat?”

Xie Lian tidak berani memberitahunya. Dia tidak bisa memberi tahu siapa pun, terutama Feng Xin. Xie Lian sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan dipikirkan Feng Xin, yang telah begitu setia pada kebenaran dan moralitasnya, ketika dia mengetahuinya. Dia hanya bisa berharap bahwa kejadian itu akan selamanya terkubur di dalam hatinya dan membusuk di perutnya. Dengan demikian, Xie Lian menjawab dengan ambigu, “Tidak ada.”

Feng Xin heran, “Hah? Lalu mengapa kamu pergi begitu lama?”

Pikiran Xie Lian terasa begitu mati rasa, “Jangan bertanya lagi. Aku tidak melakukan apa-apa,”

Feng Xin bingung, tetapi tidak peduli bagaimana dia bertanya kepadanya, Xie Lian tetap menolak untuk menjawab, jadi sebagai seorang pelayan, itu bukan tempatnya untuk terus memaksanya dan hanya bisa berkata dengan berbisik, “Jadi, apakah kita masih akan pergi besok?”

“Aku tidak akan pergi lagi.” Jawab Xie Lian.

Dia sekarang dilemparkan ke dalam kekacauan total, pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran yang mustahil: Bagaimana jika dia bertemu dengan pria paruh baya itu? Bagaimana jika seluruh kota sekarang mencarinya? Feng Xin juga memperhatikan Xie Lian yang melihat ke luar, dan berkata, “Kamu pasti lelah? Lalu bagaimana dengan ini, Yang Mulia, tetap di sini. Aku akan pergi sendiri. kamu hanya perlu fokus pada pelatihanmu.”

Namun, dia tidak tahu bahwa Xie Lian sekarang juga tidak punya pikiran untuk berlatih dan berkultivasi.

Xie Lian berfokus pada kultivasi pada awalnya, karena itulah satu-satunya cara mungkin ada kesempatan untuk kembali naik ke Pengadilan Tinggi. Namun sekarang, dia takut prospeknya untuk kembali ke Pengadilan Tinggi akan benar-benar mustahil.

Meskipun para pejabat junior itu mengatakan mereka tidak akan memberi tahu siapa pun, tetapi apakah mereka benar-benar tidak akan memberi tahu? Siapa yang tahu mungkin permasalahan ini telah mencapai telinga semua orang di surga?

Ketika dia berpikir ini adalah suatu kemungkinan, Xie Lian tidak bisa bernapas. Sama sekali tidak ada cara baginya untuk bisa bertahan dari semua ini, untuk ditunjuk oleh seluruh pengadilan atas dan bawah, dan bahkan oleh seluruh dunia fana!

Dalam kelelahannya, Xie Lian tertidur dalam tidur yang berat. Mimpinya begitu gelisah, dan dia seolah-olah dibawa berputar-putar, diserang oleh mimpi buruk yang tidak diketahui, dan ketika dia tersentak bangun dengan kaget dan melihat ke luar jendela, langit sudah gelap.

Feng Xin tidak ada; dia pasti pergi sendiri untuk mengamen dan belum kembali, dan di kamar sebelahnya terdengar suara-suara pelan dan batuk lembut raja dan ratu. Xie Lian berbaring di lantai. Sekarang dia sudah bangun, dia tidak bisa menahan untuk terus berpikir, jika insiden itu benar-benar tersebar, bagaimana reaksi orang tuanya jika mereka tahu? Betapa terkejutnya mereka? Raja mungkin akan menghentakkan kakinya dengan marah, berteriak ketika dia meludahkan darah bahwa dia adalah aib bagi Xian Le. Ratu di sisi lain pasti tidak akan berteriak padanya, tapi dia pasti akan sangat sedih, karena anak yang paling dicintainya membuat mereka malu.

Setelah memikirkan hal ini, Xie Lian kembali kesulitan bernapas. Dia perlu menemukan tempat di mana dia bisa sendirian dan tenang, jadi dia berguling dari tikar jerami dan menyerbu keluar, berlari membabi buta selama lebih dari sepuluh mil dengan angin dingin bertiup di wajahnya.

Dia tidak berani berhenti di mana pun ada orang-orang disana, karena dia terus-menerus merasa jika mereka mengarahkan pandangannya kepadanya, menghakimi dirinya yang begitu tidak terawat. Pada akhirnya, dia datang ke sebuah makam tanpa satu jiwa pun disana sebelum dia mengehentikan langkahnya,

Malam ini lebih dingin daripada malam sebelumnya, dan hanya setelah datang ke sini Xie Lian memperhatikan bahwa pipi dan tangannya membeku, tubuhnya menggigil. Bukan hanya dingin; ada juga ketakutan dan kepanikan yang melingkupinya. Xie Lian memeluk tangannya secara tidak sadar, mengepulkan beberapa udara panas, menyapu matanya dan menemukan tepat di depan batu nisan ada dua botol anggur yang dijadikan sebagai persembahan.

Tampaknya, penguasa batu nisan ini adalah seseorang yang mencintai anggur ketika mereka masih hidup, jadi setelah kematiannya, yang lain akan membawakannya anggur ketika mereka datang untuk menyapu kuburan. Xie Lian berjongkok. Dia belum pernah minum anggur sebelumnya, tetapi dia pernah mendengar orang mengatakan bahwa anggur dapat menghangatkan tubuh dan dapat membantu melupakan semua permasalahan mereka. Setelah ragu-ragu untuk sesaat, dia tiba-tiba meraih sekendi anggur, menarik keluar penyumbat dan mulai mencelupkan isinya ke dalam tenggorokannya.

Anggur ini bukan anggur kualitas tinggi, murah dan jumlahnya cukup banyak, rasanya pedas dan kuat. Xie Lian menelan beberapa suap besar dan mulai tersedak, terbatuk-batuk, tapi dia benar-benar terlihat sedikit lebih hangat. Dengan demikian, Xie Lian mengusap pipinya dan duduk di tanah, memeluk botol anggur itu dan terus menenggak anggur dalam suap besar.

Dalam keadaan linglung, dia sepertinya telah memperhatikan ada sebuah bola api hantu kecil yang melayang keluar, berputar-putar di sekitarnya, tampak sangat cemas. Xie Lian hanya peduli untuk fokus pada minumannya dan sepertinya dia tidak melihat sama sekali. Bola api hantu itu tampaknya menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendekat kepadanya, tetapi karena itu tidak lain adalah sebuah api, setiap kali itu mendekat, bola api hantu itu akan selalu melewati tubuhnya, tidak pernah benar-benar bisa menyentuhnya. .

Setelah menghabiskan satu botol anggur, Xie Lian sudah mabuk dan pening, matanya tampak tidak fokus. Ketika dia melihat bola api hantu itu melesat ke sana-sini, terlihat agak menyedihkan tetapi juga sangat lucu, dia tidak bisa menahan “pfft” dan tertawa terbahak-bahak, lengannya bersandar di tepi kendi anggur dan berbicara, “Apa yang kamu lakukan?”

Mendengarnya, bola api hantu itu langsung membeku di udara.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments