Penerjemah:Jeffery Liu


Buku 4 – Bencana Berpakaian Putih

Catatan Penulis MXTX: 

Buku ini adalah cerita flashback; alur ceritanya dimulai sejak pembuangan pertama setelah jatuhnya Xian Le. Lanjutan dari Buku 2. Tidak terlalu panjang~


Xie Lian terbangun ketakutan.

Keringat dingin membasahi tubuhnya dari perasaan takut yang menyelimuti dirinya dan dia bangkit dalam sentakan yang hebat, menutupi wajahnya dengan tangannya.

Alasan mengapa dia terbangun dengan perasaan takut dan syok yang hebat adalah karena mimpi. Dalam mimpi itu, ayah dan ibunya bunuh diri dengan menggantung diri mereka. Dia melihatnya, tetapi tidak ada sukacita atau kesedihan yang dirasakannya, tidak ada air mata yang mengalir, dan dia tampak bersiap-siap dengan sebuah pita sutra putih untuk melakukan hal yang sama. Tepat ketika dia menjulurkan kepalanya ke dalam simpul yang dibuatnya, dia melihat apa yang ada di bawahnya adalah seorang pria berpakaian putih yang mengenakan topeng setengah menangis-setengah tersenyum yang mengejek padanya, dan hatinya tersentak pada detik itu, simpul yang mengikatnya mengencang, dan napasnya tercekik. Lalu dia bangun.

Tampilan di luar jendela kala itu sudah menunjukkan waktu siang hari, dan dari luar terdengar suara, “Yang Mulia! Apakah kamu sudah bangun?”

Xie Lian menjawab dengan sekenanya, “Aku sudah bangun!”

Hanya setelah menenangkan napasnya yang terengah-engah untuk sementara waktu, dia menyadari bahwa dia tidak duduk di atas kasur, melainkan di selembar tikar jerami di bawah tubuhnya. Meskipun tikar itu sudah dilapisi dengan banyak tumpukan jerami dan cukup lembut, tetapi baginya itu masih tidak nyaman. Bahkan sekarang dia masih belum terbiasa dengan tempat tidur sederhana dan kasar ini.

Orang yang memanggilnya tadi adalah Feng Xin. Dia keluar pagi-pagi sekali dan baru tiba dengan membawa kembali makanan, dan suaranya masih memaksa Xie Lian dari luar untuk pergi makan bersama. Xie Lian mengiyakan permintaannya dan merangkak bangun.

Perasaan tercekik dalam mimpi itu terlalu nyata dan tangannya tanpa sadar meraba lehernya sendiri. Dia hanya ingin memastikan apakah ada tanda-tanda tercekik yang benar-benar tertinggal dari ikatan pita sutra putih dalam mimpinya, namun tanpa diduga, dia benar-benar merasakan sesuatu.

Xie Lian pada awalnya terguncang, dan dia bergegas mengambil cermin yang dilemparkan ke tanah tidak jauh dari tempatnya berdiri, tetapi ketika dia melihat bayangannya sendiri di dalamnya, dia menyadari jika apa yang dirasakannya tadi adalah sebuah belenggu terkutuk yang melingkari lehernya. Melihat ini, untuk beberapa alasan dia kembali tenang, dan ingatannya berputar pada semua peristiwa yang terjad hingga hari ini.

Itu adalah sebuah belenggu terkutuk.

Jemari Xie Lian meraba dan merasakan belenggu itu.

Setelah dibuang dan kembali menjadi manusia, selain tubuhnya mengalami penuaan yang lebih lambat dari manusia normal, tidak ada banyak hak istimewa lainnya. Namun, ketika Jun Wu pertama kali membentuk belenggu terkutuk ini untuk Xie Lian, dia masih menunjukkan belas kasihan dan masih meninggalkan ruang baginya untuk melakukan hal lain sesuai keinginannya.

Sementara belenggu terkutuk ini mengunci kekuatan spiritualnya, belenggu ini juga menyegel usia dan tubuh dagingnya pada saat yang sama, memungkinkannya untuk tidak menua atau mati. Selanjutnya, Jun Wu mengatakan kepadanya, jika kamu berhasil naik sekali lagi, maka segala sesuatu dalam kehidupanmu sebelumnya akan dimaafkan, dan belenggu ini akan dihapus.

Tetapi, memiliki belenggu terkutuk di dalam tubuhnya sama sekali tidak berbeda dengan seorang penjahat yang wajahnya dicap sebagai orang berdosa, tidak diragukan lagi jika hal itu merupakan sebuah penghinaan yang mendalam. Setelah memikirkan ini, Xie Lian mengulurkan tangannya ke samping dan meraih sebuah pita sutra putih, siap untuk menarik dan membalutnya ke atas kepalanya. Namun begitu dia mengangkat tangannya, dia tiba-tiba teringat perasaan mengerikan dimana lehernya perlahan-lahan tercekik seperti apa yang terjadi di dalam mimpinya yang kembali muncul dan untuk sesaat dia ragu. Namun, pada akhirnya dia masih menariknya dan melilitkannya ke leher dan bagian bawah wajahnya sebelum bergegas pergi.

Feng Xin dan Mu Qing sudah menunggunya di luar. Feng Xin telah membawa kembali roti kukus panas yang mengepul dan Mu Qing perlahan mengunyahnya. Feng Xin memberikan dua buah kepada Xie Lian tetapi ketika Xie Lian melihat roti-roti keras yang kusam dan kering itu dia kehilangan nafsu makannya, jadi dia hanya menggelengkan kepalanya, menolaknya dengan halus.

“Yang Mulia, kamu harus makan sesuatu di pagi hari. Kita harus bekerja setelah ini, dan ini bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan duduk-duduk saja,” kata Feng Xin.

Mu Qing tidak repot-repot mendongak ketika dia menimpali, “Ya, bahkan jika kamu tidak memakan roti ini, tidak akan ada lagi yang bisa dimakan. Kamu bisa pingsan lagi tapi kamu tetap harus memakan ini pada akhirnya.”

Feng Xin memelototinya, “Perhatikan nada bicaramu.”

Xie Lian telah naik selama beberapa tahun dan sudah lama lupa bagaimana rasanya makan. Beberapa hari yang lalu dia hampir pingsan, dan baru setelah itu dia sadar itu karena dia belum makan apapun selama beberapa hari. Ini adalah insiden yang dimaksud Mu Qing. Duduk di samping mereka, Xie Lian tidak ingin mereka berdua memulai perkelahian di pagi hari seperti saat ini sehingga dia segera mengganti topik pembicaraan, “Ayo pergi. Kita bahkan tidak tahu apakah kita akan menemukan pekerjaan hari ini.”

Xie Lian masa lalu berasal dari keluarga bangsawan yang bergengsi, dan karena ia memiliki tubuh surgawi, dia tidak membutuhkan rezeki fana sama sekali, dia tentu tidak pernah mengkhawatirkan atas sesuatu seperti nafkah maupun uang. Namun, sekarang, ketika dia masih menjadi seorang Putra Mahkota, Kerajaan Xian Le sudah tidak ada lagi; sementara dia masih menjadi seorang dewa, dia sudah lama dibuang. Sekarang pada dasarnya dia tidak berbeda dengan manusia biasa, tentu saja dia perlu memikirkan bagaimana menjalani hari-harinya. Profesi seorang kultivator tentu saja menangkap hantu dan melakukan layanan, tetapi itu tidak seperti ada iblis dan monster untuk kamu tangkap atau ritual yang harus kamu lakukan setiap hari, jadi, sebagian besar waktu, mereka masih perlu mencari beberapa pekerjaan sementara, seperti membantu mengangkut barang atau pekerjaan kasar lainnya.

Tetapi bahkan tugas kecil seperti pekerjaan itu mungkin tidak begitu mudah diraih, karena sampai sekarang, ada terlalu banyak warga sipil miskin yang terlantar. Ketika orang-orang miskin ini melihat ada pekerjaan, mereka bahkan tidak minta untuk dibayar; hanya dengan tawaran roti dan setengah mangkuk nasi dan mereka bersedia untuk bekerja, berkerumun untuk memperjuangkan sebuah pekerjaan, jadi bagaimana mungkin Xie Lian dan kelompoknya bisa bersaing dengan mereka? Bahkan jika mereka berhasil mengambil sesuatu, setelah Xie Lian berunding, dia mungkin masih berpikir bahwa orang lain lebih membutuhkan pekerjaan. Benar saja, setelah berjalan-jalan sebentar, mereka masih belum menemukan apa pun.

“Tidak bisakah kita menemukan sesuatu yang lebih stabil dan terhormat untuk dilakukan?” Mu Qing menggerutu.

“Sampah. Jika itu ada, kita sudah lama mendapatkannya.” Feng Xin berkata, “Bukankah pekerjaan terhormat harus menunjukkan wajah? Siapa yang tidak mengenali wajah Yang Mulia? Jika dia berhasil dikenali, bagaimana mungkin pekerjaannya akan tetap stabil?”

Mu Qing berhenti bicara. Xie Lian di sisi lain, membalut sebuah perban putih untuk menutupi bagian bawah wajahnya lebih kencang. Memang, jika ada yang mengenali siapa dirinya, maka mereka harus melarikan diri atau mereka akan dipukuli dan diusir. Dan misalnya, jika mereka mendaftar untuk pekerjaan penjaga keamanan, siapa yang mungkin akan cukup nyaman untuk mempekerjakan seseorang dengan latar belakang yang tidak diketahui, seorang penjaga keamanan yang bahkan tidak akan menunjukkan wajahnya? Mereka juga tidak bisa pergi dan melakukan pekerjaan pembunuhan, jadi pilihan mereka sangat terbatas.

Mustahil bagi para dewa untuk mengkhawatirkan sesuatu seperti perasaan lapar. Namun, manusia perlu makan. Sejak Xie Lian masih muda, dia tidak pernah harus mempertimbangkan urusan semacam ini, dan ini benar-benar pertama kali baginya dalam lebih dari puluhan tahun masalah ini mencengkeramnya. Namun, jika para dewa bahkan tidak tahu seperti apa rasanya kelaparan, bagaimana mungkin mereka bisa memahami perasaan seorang penyembah yang kelaparan? Bagaimana mungkin mereka bisa berempati? Pada titik ini, dia hanya bisa mengambil pengalaman ini sebagai bentuk pelatihan.

Saat itu, tiba-tiba terdengar hiruk-pikuk suara gong dan drum dari kejauhan, dan kerumunan besar berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Mereka bertiga mengikuti arus dan naik untuk menonton, dan disana ada beberapa seniman bela diri dan badut yang mulai berteriak dengan sekuat tenaga dalam kerumunan. Itu adalah pengamen jalanan. Mu Qing mencoba menyarankan lagi, “Jika semuanya gagal, kenapa kita tidak mengamen?”

Xie Lian juga mempertimbangkan hal yang sama, tetapi sebelum dia menjawab, Feng Xin sudah membalas ketika dia melihatnya, “Kebodohan macam apa yang kau ucapkan? Tubuh Yang Mulia bernilai seribu emas, bagaimana mungkin dia bisa melakukan sesuatu seperti itu?”

Mu Qing memutar matanya, “Kita sudah membawa batu bata, jadi bagaimana mungkin sesuatu seperti mengamen berbeda?”

“Membawa batu bata adalah memberi makan diri kita sendiri dengan kekuatan fisik kita sendiri,” kata Feng Xin, “Mengamen adalah untuk menghibur sekelompok orang, untuk menghibur mereka dengan membodohi diri kita sendiri, jadi tentu saja keduanya berbeda!” Kemudian, salah satu badut yang melompat-lompat disana tampak tersandung dan jatuh. Kerumunan tertawa terbahak-bahak ketika dia menarik dirinya bangkita dan mulai membungkuk untuk mengambil beberapa koin yang tersebar di tanah setelah dilemparkan oleh orang-orang yang menonton kala itu. Melihat ini, rasa penolakan yang mendalam memenuhi pikiran Xie Lian, dan dia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mengolok-olok ‘mengamen’ sebagai jalur pekerjaan yang layak. Ketika Mu Qing menatapnya, dia berkata, “Baik. Kalau begitu mari kita mulai menggadaikan barang-barang yang kita miliki.”

“Kita sudah menggadaikan banyak barang,” Feng Xin berkata, “Kalau kita bahkan belum melakukannya, kita tidak akan bisa bertahan sampai sekarang. Sisanya tidak bisa digadaikan.”

Tiba-tiba, di belakang kerumunan disana datang gelombang teriakan penuh keterkejutan, dan seseorang berteriak, “PARA PRAJURIT ADA DI SINI! PARA PRAJURIT ADA DI SINI!”

Mendengar bahwa para prajurit telah datang, kerumunan sekelompok orang yang menyaksikan pertunjukan itu mulai membubarkan diri mereka. Segera setelah itu, sekelompok prajurit dengan senjata di tangan mereka mulai datang. Mereka tampak mengenakan baju besi baru yang mengilap, udara mereka begitu mengesankan, langkah mereka di jalan begitu mantap, menginterogasi siapa pun yang tampak mencurigakan. Tiga orang itu mulai bersembunyi di balik kerumunan dan mendengar orang-orang di samping mereka berbicara:

“Siapa yang mereka coba tangkap?”

“Jangan khawatir, mereka di sini bukan untuk menangkap kita. Kudengar mereka berusaha menangkap para bangsawan Xian Le yang melarikan diri.”

“Rupanya seseorang melihat karakter yang mencurigakan di sekitar sini, jadi kota ini sangat ketat melakukan pencarian akhir-akhir ini.”

“Sungguh?! Ya ampun, apakah mereka benar-benar melarikan diri ke tempat ini?”

Mendengar ini, ketiganya bertukar pandang dan Xie Lian berbisik, “Ayo cepat kembali dan memeriksanya.”

Dua lainnya mengangguk. Mereka diam-diam meninggalkan kerumunan secara terpisah, dan hanya setelah ketiganya berjalan beberapa saat tanpa mendapatkan perhatian, mereka bertemu kembali, dan melarikan diri dari tempat itu.

Mereka berlari ke sebuah hutan terpencil di atas gunung kecil, dan dari kejauhan Xie Lian bisa melihat sebatang asap tebal datang dari dalam hutan. Hatinya sangat berat; Mungkinkah tentara Yong An telah menemukan tempat ini dan menyalakan api untuk membunuh?

Mereka berlari mendekat, dan ada sebuah pondok kecil yang rusak tersembunyi di pohon-pohon, mungkin ditinggalkan oleh beberapa pemburu yang tidak dikenal. Asap tebal datang dari dalam pondok ini dan Xie Lian berkata, “IBU! APA YANG TERJADI, APA KAMU ADA DI SANA?”

Setelah teriakannya menggaung di udara, seorang wanita muncul untuk memberi salam dan berseru dengan gembira, “Anakku? Kamu sudah kembali?”

Wanita itu adalah ratu. Dia berpakaian sederhana dan tubuhnya sedikit lebih kurus, sedikit berbeda dari penampilan seorang wanita kaya di masa lalu. Melihat bahwa ibunya baik-baik saja, wajah Xie Lian segera dipenuhi kegembiraan, jelas semua itu tidak dirahasiakannya, Xie Lian berjalan santai tetapi kemudian dengan cepat bertanya, “Apa yang terjadi dengan semua asap itu?”

Sang ratu menjawab, malu, “… Itu bukan apa-apa. Aku hanya ingin memasak sedikit hari ini …”

Xie Lian tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis dan berkata, “Jangan! Memasak apa? Kamu hanya perlu makan makanan yang dibawakan Feng Xin dan Mu Qing setiap hari. Asap ini terlalu mencolok; di mana ada asap, disitu jelas ada orang, Kamu akan menarik perhatian para prajurit Yong An. Kita sudah bertemu mereka di kota sebelumnya. Kota ini juga akan memperketat keamanan mereka, kita harus pindah ke tempat yang berbeda lagi.”

Feng Xin dan Mu Qing memasuki pondok untuk mengeluarkan asap dengan membuka semua ventilasi, dan ratu juga tidak berani lalai, jadi dia pergi ke kamar belakang untuk berbicara dengan raja. Feng Xin keluar dan berbisik, “Yang Mulia, apakah kamu tidak akan pergi untuk melihat Baginda Raja?”

Xie Lian menggelengkan kepalanya, “Tidak.”

Mereka berdua, ayah dan anak, satu adalah raja dari kerajaan yang jatuh, yang lain adalah dewa yang dibuang, tidak ada sesuatu yang lebih menyedihkan dari ini, benar-benar sebuah hal yang memalukan dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Jika mereka dipaksa untuk duduk saling berhadapan, mereka hanya akan saling melotot alih-alih berbicara dari hati ke hati, jadi jika mereka dapat menghindari untuk bertemu satu sama lain, itu akan menjadi yang terbaik. Xie Lian berseru, “Ibu, kenapa kamu tidak mulai mengemas sedikit barang-barangnya, kita akan pergi hari ini. Kami akan menjemputmu di malam hari. Kami akan pergi sekarang.”

Sang ratu dengan cepat keluar lagi, “Anakku, kamu akan pergi begitu saja? Kamu bahkan belum pernah berkunjung selama berhari-hari, mengapa kamu pergi begitu cepat?”

“Aku harus pergi untuk berlatih.” Kata Xie Lian.

Sebenarnya, dia pergi untuk mencari pekerjaan, jika tidak, mereka tidak akan mungkin bisa mengumpulkan cukup makanan untuk begitu banyak orang. “Apakah kamu sudah makan pagi ini?” Tanya sang ratu.

Xie Lian menggelengkan kepalanya. Mereka bertiga kelaparan sekarang. Sang ratu berkata, “Kalau terus seperti itu kamu akan menghancurkan tubuhmu sendiri. Beruntung, aku baru saja merebus semangkuk bubur, masuk dan makanlah meskipun hanya satu suapan.”

Xie Lian bertanya-tanya dalam hati, ‘Mengapa ada begitu banyak asap seperti istana terbakar jika itu hanya sepanci bubur …’

Ratu menoleh ke arah Feng Xin dan Mu Qing, “Kalian berdua anak-anak ikutlah makan bersama kami juga.”

Feng Xin dan Mu Qing sama sekali tidak menyangka akan menerima penawaran seperti itu dan mencoba menolak, tetapi sang ratu bersikeras, sehingga keduanya hanya bisa duduk dengan takut-takut di meja, keduanya merasa agak terkejut dan tersanjung.

Namun, setelah sang ratu membawa sebuah panci di depan mereka, kejutan mereka segera berubah menjadi ketakutan.

Setelah kembali ke kota, rasa mual yang dirasakan Mu Qing masih belum surut, suaranya sedikit terbata-bata ketika dia berkata, “Aku pikir … bubur itu, baunya seperti air dedak, tapi aku tidak berpikir buburnya akan terasa seperti itu juga!”

Feng Xin menggertakkan giginya, “Diam! Jangan paksa seseorang untuk mengingat panci itu! Sang ratu adalah … pemilik tubuh berniali sepuluh ribu emas… tidak pernah memasak … ini sungguh … UGH! … “

Mu Qing berpunuk, “Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Jika kamu tidak berpikir itu seperti air dedak, mengapa kamu tidak … pergi meminta ratu untuk memberimu semangkuk lagi! UGH! …”

Keduanya bergerak bolak-balik dan Xie Lian meraih keduanya, menepuk punggung mereka, “Berhenti berjalan terhuyung-huyung seperti itu! Lihat, di depan … sepertinya ada beberapa pekerjaan!”

Benar saja, ketika ketiganya berjalan dengan terhuyung, ada sepasang pemimpin kecil yang berteriak di jalan-jalan mencari bantuan. Bayarannya lumayan dan tidak ada batasan jumlah bantuan yang dibutuhkan, mereka akan membawa semua orang yang datang, jadi ketiganya dengan cepat mendaftar, bercampur dengan sekelompok orang yang mulai mengerumuni tempat itu, sekelompok orang miskin yang begitu kurus sampai ke tulang-tulang, membentuk sebuah kelompok besar ketika mereka akhirnya tiba di tanah berlumpur yang kosong. Tampaknya seseorang yang mempekerjakan mereka memiliki niat untuk membangun sebuah tempat tinggal baru di sini sehingga daerah itu akan mulai dilakukan perombakan, dimulai dengan mengisi lahan terlebih dahulu. Ketiganya bekerja begitu keras, tubuh mereka tertutup lumpur. Feng Xin mulai mengangkut tanah saat dia memeluk perutnya sendiri, wajahnya hijau, mengutuk, “… Persetan denganku! Aku pikir panci air dedak yang direbus sudah berubah menjadi roh di perutku!”

Xie Lian membawa keranjang penuh tanah dan dia melihat ke belakang, berbicara dengan suara pelan, “Apa kamu bisa bertahan? … Apakah kamu ingin duduk sebentar di samping dulu?”

Mu Qing menoleh ke arah Xie Lian, “Mengapa kamu tidak beristirahat di samping.”

“Tidak. Aku masih bisa bertahan.”Jawab Xie Lian.

Mu Qing memutar matanya, “Jangan keras kepala. Jika kamu mengotori pakaianmu, aku yang harus mencucinya. Aku lebih suka melakukan bagian pekerjaanmu.” Tidak jauh di tempat mereka berada disana, seseorang berteriak, “BEKERJALAH DAN JANGAN BICARA! JANGAN MENJADI SEORANG PEMALAS! KALIAN MASIH INGIN DIBAYAR BUKAN?”

Feng Xin tampak begitu ulet dan terus bertahan, dia bahkan mengangkut lumpur sebanyak dua kali lipat dari sebelumnya, “Ini tidak seperti kita akan mendapat gaji yang besar, mengapa membuat begitu banyak keributan seperti mereka bahkan melakukan pekerjaan itu?”

Setelah hari yang melelahkan, setelah bekerja dari siang hingga sore, pekerjaan mereka akhirnya selesai. Secara fisik, ketiganya tidak sepenuhnya kelelahan, tetapi untuk bekerja sangat keras hanya untuk gaji yang sedikit dan makanan yang sedikit, hati mereka lebih lelah daripada tubuh mereka. Ketika mereka akhirnya mendapatkan waktu luang, mereka berbaring di sebuah ladang yang sedikit lebih bersih untuk beristirahat. Saat itu, kelompok lain datang, begitu gaduh dan berisik. Beberapa pria sedang mengangkut sebuah patung batu saat mereka berjalan perlahan.

Xie Lian mendongak sedikit, “Patung apa itu?”

Mu Qing meliriknya juga, “Mungkin patung ilahi baru untuk menjaga tempat ini.”

Xie Lian tidak berbicara.

Jika ini adalah masa lalu, maka patung ilahi yang dipilih untuk menjaga suatu tempat pasti itu adalah patung Putra Mahkotanya tanpa bertanya lebih lanjut, namun sekarang, siapa yang tahu dewa mana yang mungkin memiliki patung ilahi itu. Kemungkinan besar itu adalah Jun Wu, atau mungkin pejabat mana saja yang baru naik.

Setelah jeda yang lama, pada akhirnya Xie Lian masih tidak bisa tidak bertanya siapa yang menggantikannya, jadi dia memaksa dirinya untuk bangkit dan beringsut kemudian mendekat ke kerumunan disana untuk melihatnya. Patung batu itu memiliki punggung yang menghadap ke arahnya sehingga dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi, patung itu tampak seperti berlutut. Sekarang dia bahkan lebih penasaran. Patung ilahi pejabat surgawi mana yang berlutut? Kemudian dia beranjak pergi berkeliling sebelum berbalik untuk melihatnya.

Ketika dia melihat wajah dari patung itu, seluruh pikirannya menjadi kosong.

Wajah patung ilahi itu adalah miliknya sendiri!

Patung berlutut itu diletakkan di tanah, dan seseorang di sampingnya dengan kasar menepuk kepalanya, “Akhirnya berhasil diangkut. Bajingan ini cukup berat!”

“Kenapa kamu menyeret patung seperti ini? Benar-benar jelek, mengapa tidak membawa patung Kaisar Bela Diri Surgawi? Bukankah ini adalah wajahnya … “

“Yang itu, kan? Bukankah mereka mengatakan siapapun yang menyembahnya akan membawa nasib buruk? Kalian masih berani menyembahnya? Dan kamu dengan begitu keras membawanya ke sini … “

“Sekarang, bahkan tidak ada yang mengerti. Menyembah Dewa Kemalangan tentu akan membawa nasib buruk, tetapi patung ini bukan untuk disembah, patung ini ada untuk diinjak. Jika kamu menginjak Dewa Kemalangan, bukankah itu berarti perbuatanmu akan memastikan nasib baikmu yang abadi?”

Kerumunan itu tampak seperti mulai tercerahkan, “Maknanya begitu indah, simbolisme yang luar biasa!”

Disisi lain Feng Xin dan Mu Qing bisa merasakan jika ada sesuatu yang salah dan ketika mereka mendekat, mereka juga terdiam. Feng Xin hampir meledak dalam amarah tetapi Mu Qing menahannya, memperingatkannya dengan matanya dan berkata dengan suara pelan, “Putra Mahkota bahkan belum memulai apapun, jadi apa yang akan kamu teriakkan?”

Memang, Xie Lian yang berdiri di tempatnya berada masih tampak tenang dan Feng Xin tidak yakin apakah dia memiliki pertimbangan lain, jadi dia sama sekali tidak berani bergerak dengan ceroboh. Karena itu, dia memaksakan dirinya menelan kata-kata amarahnya, tetapi matanya menyala seperti api. Akhirnya, seseorang menggerutu, “Bukankah ini … agak tidak pantas? Dia pernah menjadi dewa, Yang Mulia Putra Mahkota.”

“Tolonglah, Xian Le telah jatuh, jadi, Putra Mahkota apa?”

Yang lain berkata, “Apa yang kamu katakan salah. Menginjak Dewa Kemalangan bukanlah sesuatu yang tidak pantas, pada kenyataannya, dia harus berterima kasih kepada kita.”

Xie Lian tiba-tiba berbicara, “Oh? Kenapa dia harus berterima kasih?”

Pria itu menjelaskan dengan lancang, “Pernahkah kamu melihat ambang pintu sebuah kuil suci? Ambang pintu itu diinjak-injak oleh ribuan, ratusan ribu orang, tetapi apakah tuanku melihat betapa banyak rumah tangga kaya yang berjuang untuk membayar salah satu dari ambang pintu kuil suci yang akan digunakan sebagai pengganti mereka? Itu karena setiap langkah yang menginjak ambang itu, ambang itu akan membebaskan mereka dari dosa, membayar hutang mereka dan mengumpulkan pahala bagi mereka. Patung berlutut ini memiliki fungsi yang sama. Jika kita masing-masing melangkah selangkah di atas kepalanya, atau meludahinya, bukankah kita juga mengumpulkan pahala untuk Putra Mahkota? Jadi, dia harus berterima kasih pada kita … “

Xie Lian tidak bisa mendengarkan lagi.

Ketika pria itu mengucapkan kata ‘berterima kasih’, tinjunya sudah terangkat di udara dan dia menerjang.

Kerumunan itu langsung meledak, “APA YANG KAMU LAKUKAN?!” “BERTARUNG!” “SIAPA YANG MEMULAI MASALAH?”

Feng Xin sudah tidak sabar untuk memukuli seseorang, jadi dia juga mulai berteriak ketika dia bergabung dengan perkelahian itu. Mu Qing tidak bisa memastikan apakah dirinya bergabung dengan keinginannya sendiri ataukah dia ditarik masuk. Bagaimanapun, mereka bertiga mulai berkelahi. Di tengah keributan itu, ada saat ketika perban putih di wajah Xie Lian hampir ditarik, tetapi syukurlah itu tidak terjadi. Mereka bertiga begitu terampil dalam seni bela diri, tetapi pihak lain memiliki jumlah yang besar, ditambah setelah itu, Mu Qing menahan dua lainnya, memperingatkan mereka bahwa membunuh manusia hanyalah menambah kejahatan mereka, sehingga pertarungan itu akhirnya menjadi tertahan. Pada akhirnya, saat pertarungan itu berakhir, ketiganya masih tetap diusir.

Setelah berjalan di tepi sungai untuk sementara waktu dan tampak kotor, langkah mereka akhirnya melambat. Mu Qing mengeluh dengan marah, wajahnya tampak begitu hitam dan biru, “Kita sudah bekerja sangat keras sepanjang hari, tetapi pada akhirnya kita tidak mendapatkan apa-apa hanya karena sebuah perkelahian!”

Feng Xin menyeka darah di bibirnya, “Bagaimana kau bisa membicarakan uang pada saat seperti ini?”

“Justru karena ini adalah saat seperti ini maka masalah mengenai uang harus dibicarakan!” Mu Qing membalas, “Saat seperti ini? Jam berapa sekarang? Ini adalah waktu ketika kita sedang kelaparan! Tidak masalah jika kau tidak mengakuinya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan tanpa uang! Bisakah kalian berdua menyadarinya sedikit saja?”

Xie Lian tidak mengatakan sepatah kata pun. Feng Xin berbicara, “Bagaimana kita bisa menanggung ini semua? Dia dibuat menjadi semacam patung berlutut untuk diinjak orang lain! Kau bukan orang yang dibuat patung untuk diinjak-injak, jadi tentu saja kau bisa mengatakannya dengan sebegitu entengnya.”

“Sejak perang berakhir, ini bukan pertama kalinya sesuatu seperti ini terjadi.” Mu Qing berkata, “Dan pasti akan ada lebih banyak sesuatu seperti ini di masa depan. Jika dia tidak bisa segera terbiasa dengan hal itu, dia mungkin akan mati begitu saja.”

Feng Xin membantah, “Terbiasa? Terbiasa dengan apa? Dihina oleh orang lain? Memaksanya terbiasa dengan manusia yang menginjak wajahnya? Kenapa dia harus terbiasa dengan hal seperti itu?”

Xie Lian berteriak kesal, “Sudah cukup! Berhenti berdebat. Apakah sesuatu yang kecil seperti ini layak untuk diperdebatkan?”

Di detik berikutnya keduanya menutup mulut mereka bersama-sama.

Setelah jeda, Xie Lian menghela napas. “Ayo pergi. Kita harus mencari kereta untuk menjemput ibu dan ayah. Kita harus meninggalkan kota ini malam ini juga.”

Feng Xin mengakui, “Baik.”

Keduanya berjalan berdampingan sebentar ketika tiba-tiba mereka melihat Mu Qing tidak mengikuti mereka. Xie Lian melihat ke belakang, tampak bingung, “Mu Qing?”

Setelah diam, Mu Qing berbicara, “Yang Mulia, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu.”

“Ada apa?” ​​Xie Lian bertanya, tetapi Feng Xin berkata dengan tidak sabar, “Ada apa denganmu sekarang? Aku sudah bilang aku tidak akan berdebat denganmu lagi, apa lagi yang kau inginkan?”

“Aku ingin pergi.” Ucap Mu Qing sederhana.

“…”

Meskipun sebelum dia membuka mulutnya Xie Lian sudah memiliki firasat buruk yang begitu samar, tetapi ketika Mu Qing benar-benar mengucapkan kata-kata itu dengan begitu jelas dan keras, napas Xie Lian masih berhenti.

Feng Xin curiga bahwa dia mungkin salah dengar, “Apa? Apa katamu?”

Mu Qing menegakkan punggungnya, mata obsidian hitamnya tampak begitu keras dan pantang menyerah, dan sikapnya masih tampak begitu tenang, “Tolong izinkan aku untuk pergi.”

“Pergi?” Seru Feng Xin, “Apa yang harus dilakukan Yang Mulia jika kamu pergi? Bagaimana dengan raja dan ratu?”

Mu Qing membuka dan menutup mulutnya beberapa kali, tetapi pada akhirnya dia masih berkata, “Maaf. Aku hanya bisa melakukan sebanyak ini.”

“Tidak, jelaskan sekarang, apa maksudmu ‘kau hanya bisa melakukan sebanyak ini’?” tuntut Feng Xin.

Mu Qing menjawab, “Raja dan ratu adalah orang tua Yang Mulia, dan aku memiliki ibuku sendiri. Dia juga membutuhkan perawatan dan perhatianku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku harus mengurus orang lain dan orang tua orang lain dan mengabaikan ibuku sendiri. Jadi, aku berharap, Yang Mulia akan bisa mengerti, aku tidak bisa terus mengikutimu.”

Xie Lian merasa ingin pingsan dan dia memutuskan untuk bersandar di dinding di sampingnya. Feng Xin bertanya dengan dingin, “Apakah itu alasan sebenarnya? Kenapa kau tidak pernah menyebutkan masalah ini sebelumnya?”

“Itu adalah salah satu alasannya.” Mu Qing berkata, “Alasan lain adalah, aku merasa, kita telah tenggelam dalam dilema, tetapi bagaimana cara kita untuk bisa keluar dari dilema ini, kita memiliki ide yang sangat berbeda. Maafkan kejujuranku, tetapi jika keadaan terus seperti ini, tidak ada yang akan menjadi lebih baik bahkan dalam jutaan tahun. Jadi, jalan kita memang berbeda.”

Feng Xin sangat marah sehingga dia mulai terkekeh dan mengangguk, berbalik ke arah Xie Lian, “Yang Mulia, kamu mendengar itu? Ingat apa yang aku katakan pertama kali? Jika kamu dibuang, dia pasti akan menjadi orang pertama yang akan melepaskan diri. Bukankah aku sudah memberitahumu?”

Mu Qing tampak sedikit marah dengan kata-katanya dan berkata dengan datar, “Bisakah kau tidak memaksaku. Aku hanya berbicara kebenaran. Setiap orang memiliki pandangan mereka sendiri; tidak ada yang dilahirkan dengan takdir untuk menjadi jalan yang benar dari dunia fana, pusat dari dunia. Mungkin kau menikmati dirimu sendiri dengan selalu mengorbit di sekitar orang lain, tetapi orang lain mungkin tidak sama denganmu.”

“Dari mana semua kata-kata asam tersembunyi yang kau katakan itu berasal? Aku tidak peduli.” Feng Xin berkata, “Tidak bisakah kau mengatakan dengan jelas bahwa kau akan membelakangi kami?”

“Cukup!”

Mendengar Xie Lian bersuara, keduanya berhenti. Xie Lian melepaskan tangannya dari dahinya dan berbalik ke arah Mu Qing. Dia menatapnya sebentar sebelum berbicara, “Aku tidak suka memaksa orang lain.”

Mu Qing mengerutkan bibirnya tetapi masih berdiri disana.

“Pergilah.” Kata Xie Lian.

Mu Qing menatapnya, tidak berbicara sepatah kata pun. Kemudian dia membungkuk dalam-dalam dan benar-benar berbalik untuk pergi.

Xie Lian melihatnya berjalan mundur tanpa berkedip ketika tubuhnya mulai menghilang ke dalam kegelapan malam, Feng Xin berkata dengan tak percaya, “Yang Mulia, kamu benar-benar akan membiarkannya pergi begitu saja?”

Xie Lian menghela napas, “Apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku sudah mengatakan jika aku tidak suka memaksa orang lain.”

“Tidak, tapi? Bajingan itu!” Feng Xin berseru, “Ada apa dengannya? Dia benar-benar pergi, begitu saja?! Melarikan diri? Apa-apaan ini!”

Xie Lian berjongkok di sebelah tepi sungai, menggosok dahinya, “Jangan pikirkan itu. Karena hatinya telah meninggalkan kita, apa gunanya menjaganya tetap bersama dengan kita? Mengikat dan memaksanya untuk terus mencuci pakaianku?”

Feng Xin tidak tahu harus berkata apa lagi dan mengikutinya berjongkok. Sesaat kemudian dia meludah dengan marah, “Sialan. Bajingan itu bisa berbagi dalam kekayaan tetapi bukan penderitaan, melarikan diri saat kotoran menghantamnya. Apakah dia tidak mengingat kebaikanmu?! “

“Aku yang mengatakan padanya untuk tidak mengingatnya,” kata Xie Lian, “Jadi kamu juga … tidak perlu menggantungkannya di bibirmu.

“Tapi dia tidak mungkin benar-benar tidak mengingat apapun bukan?!” Feng Xin membantah, “Apa-apaan sikapnya itu! Tapi jangan khawatir, Yang Mulia, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Xie Lian memaksakan sebuah senyuman kecil tetapi tidak mengatakan apa-apa. Feng Xin kembali berdiri, “Haruskah kita menjemput raja dan ratu? Aku akan pergi mencari kereta, tunggu saja di sini.”

Xie Lian mengangguk, “Terima kasih atas segalanya. Berhati-hatilah.”

Feng Xin mengangguk dan pergi. Xie Lian juga bangkit dan berjalan di tepi sungai untuk sementara waktu, seluruh tubuhnya terasa begitu ringan terutama pada kakinya, dia merasa seperti tidak ada yang nyata.

Kepergian Mu Qing benar-benar mengejutkannya.

Pertama, dia tidak pernah berpikir bahwa seseorang yang begitu dekat dengannya akan begitu mudah bangkit kemudian pergi. Kedua, Xie Lian selalu percaya pada kata ‘selamanya’. Misalnya, teman akan selalu menjadi teman selamanya; tidak akan ada pengkhianatan, tidak akan ada penipuan, tidak akan ada sesuatu seperti hubungan yang terputus. Mungkin ada saat-saat ketika mereka berpisah, tapi itu pasti tidak akan menjadi alasan seperti ‘hidup ini terlalu mengerikan’.

Sesuatu seperti itu adalah apa yang selalu ada di dalam cerita, pahlawan dan si cantik adalah pasangan yang dibuat di surga, dan karenanya mereka tidak boleh berpisah, tetap setia satu sama lain selamanya. Jika mereka tidak bisa selalu bersama, itu pasti karena mereka dipaksa terpisah oleh kematian yang tragis, bukan karena pahlawan lebih suka makan daging sedangkan si cantik lebih suka makan ikan, atau karena pahlawan mencerca si cantik karena terlalu boros dan si cantik itu mencemooh pahlawan karena kebiasaan buruknya.

Tiba-tiba melangkah dan kemudian kehilangan pijakannya atas seseorang, terjun jutaan mil ke bawah hanya untuk menemukan jika kamu masih berada di dunia fana benar-benar bukan perasaan yang baik.

Berjalan di sekitar tempat itu secara acak untuk sesaat, tiba-tiba ada sejumlah cahaya keemasan berkilauan melayang dari depan. Baru saat itulah Xie Lian kembali tersadar, dan ketika dia melihat lebih dekat, dia menemukan jika cahaya itu sebenarnya adalah lentera yang mengambang di atas air, mengalir seiring dengan aliran arus sungai. Tampak ada juga sekumpulan anak-anak, mereka tampak tertawa sambil bermain di tepi sungai.

Xie Lian ingat, “Ah, hari ini ZhongYuan1.”

Di masa lalu, akan selalu ada kebaktian agung yang dilakukan untuk Festival ZhongYuan di Paviliun Suci Kerajaan; dia akan selalu menantikannya jauh sebelum acara berlangsung dan tidak akan pernah lupa. Sekarang, dia sama sekali tidak mengingat apa pun. Dia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan perjalanan. Saat itu, sebuah suara datang dari jalan di depannya, “Anak-anak, apakah kalian ingin membelinya?”

Suara ini terdengar sangat tua dan serak, penuh dengan jejak udara dingin yang jahat. Xie Lian secara naluriah tahu jika ada sesuatu yang salah dan dia memandang ke atas hanya untuk melihat dua anak dari sebelumnya dengan lentera di tangan mereka berhenti di pinggir jalan, melihat sesuatu dengan pandangan yang dipenuhi dengan perasaan ingin tahu dan sedikit rasa takut.

Dalam kegelapan, di depan mereka duduk seorang pria. Tampaknya itu adalah seorang penatua dalam jubah hitam, tampak begitu kotor dan acak-acakan ketika ia melebur menjadi satu dengan kegelapan malam kala itu. Tangannya tampak memegang sebuah lentera, dan dia memberi isyarat kepada kedua anak itu dengan malu-malu, “Lenteraku sangat berbeda dari lentera biasa yang kalian berdua pegang. Ini adalah harta langka; jika kalian membuat keinginan dengan ini, mereka dijamin akan menjadi kenyataan.”

Kedua anak kecil itu tampak ragu, “B-Benarkah?”

Penatua itu berkata, “Tentu saja. Lihatlah.”

Cahaya lentera di tangannya jelas tidak terang, tetapi tiba-tiba sebuah cahaya merah menyala yang tak bisa dijelaskan muncul. Ada lebih dari sepuluh lentera lain di tanah di sebelahnya, dan lentera-lentera itu tampak berkedip-kedip dengan lampu hijau yang mengerikan, sangat aneh.

Kedua anak kecil itu tampak kagum, tetapi Xie Lian tahu persis apa yang dia lihat. Harta langka? Itu jelas merupakan pendar dari kematian!

Pasti ada arwah-arwah hantu kecil yang tersegel di dalam lentera itu agar bisa memancarkan cahaya aneh seperti itu. Adapun penatua ini, dia pastilah seorang kultivator sampah yang menyamar yang menangkap roh-roh liar pengembara yang kebetulan sial entah dari mana dan mengikat mereka ke dalam lentera itu. Dua anak itu tidak tahu tentang trik semacam itu dan bertepuk tangan bahagia, tampak ingin membeli lentera itu. Xie Lian dengan cepat bergegas dan berkata, “Jangan membelinya. Dia berbohong pada kalian.”

Penatua itu memelototinya, “Dasar bajingan kecil, apa yang kau katakan?!”

Detik berikutnya Xie Lian mengungkapkan kedoknya secara langsung, “Lentera itu bukanlah sebuah harta, itu alat iblis. Ada hantu yang terisi di dalamnya, jika kalian membawanya pulang untuk dimainkan, hantu yang ada di dalamnya akan terus menempel padamu.”

Ketika anak-anak itu mendengar jika ada hantu di sana, mereka tidak berani berlama-lama dan berteriak “WAH!” Ketika mereka mulai melarikan diri. Penatua itu melompat tiga kaki ke atas kakinya, berteriak dengan marah, “KAU BERANI – BERANINYA MENGHANCURKAN BISNISKU??”

Xie Lian beralasan, “Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan bisnis seperti ini di tempat ini? Tidak pernah lupa dengan anak-anak yang bodoh, bahkan orang dewasa yang membeli lentera jahatmu akan jatuh ke dalam kemalangan yang besar, bahkan mereka mungkin akan terus ditempeli oleh hantu-hantu yang marah itu, dan bukankah itu merupakan sebuah kesalahan besar? Bahkan jika kamu harus menjual barang seperti itu, kamu harus pergi ke tempat khusus untuk menjualnya.”

Penatua itu menegur, “Kau membuatnya terdengar sangat mudah. Di mana kau akan menemukan tempat khusus untuk menjual barang-barang seperti itu? Semua orang hanya menemukan tempat acak dan mendirikan toko mereka disana!” Dia berkata ketika dia mulai mengambil sekelompok lentera jelek yang dibuat dengan begitu buruk, terengah-engah ketika dia bersiap untuk pergi. Xie Lian buru-buru memanggil, “Tunggu!”

“Apa? Apa yang kau inginkan?” Penatua itu berkata dengan kasar, “Apa kau ingin membelinya?”

“Tidak mungkin.” Xie Lian berkata, “Kamu benar-benar berencana untuk terus menjualnya di tempat lain? Dari mana semua hantu di lenteramu berasal?”

“Aku menangkap mereka di medan perang tandus. Mereka ada di mana-mana.” Jawab penatua itu.

Lalu bukankah mereka adalah jiwa pengembara dari tentara yang telah meninggal?

Setelah mendengar ini, tidak mungkin bagi Xie Lian untuk membiarkannya, dan dia mulai menasihatinya dengan sungguh-sungguh, “Berhentilah menjualnya. Hari ini adalah Festival ZhongYuan! Jika apa yang kamu lakukan ini membangkitkan sesuatu, itu tidak akan lucu. Selain itu, apa yang ada di dalamnya adalah jiwa pahlawan, para pejuang, bagaimana mungkin kamu bisa menjualnya seperti pernak-pernik?”

“Ketika seseorang mati, mereka tidak menjadi apapun selain gumpalan, siapa yang peduli apakah itu jiwa pahlawan atau bukan?” Penatua itu berkata, “Tentu saja tulang-tulang tuaku ini yang lebih penting. Kita semua harus mencari nafkah di tempat ini, jika kau tidak membiarkan aku menjualnya, apa yang harus aku lakukan? Pergi begitu saja dan menjadi tunawisma? Jika kau begitu bersemangat tentang ini, mengapa kau tidak menghabiskan uangmu untuk membelinya saja?”

“Kamu…”

Pada akhirnya, Xie Lian mengakui kekalahannya, “Baik. Aku akan membelinya.” Kemudian dia merogoh sakunya dan menyisir setiap sudut di dalamnya, dan apa yang bisa diraihnya hanyalah beberapa sen saja, “Apakah ini cukup?”

Penatua itu meliriknya dan berseru, “Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin semua itu cukup?”

Xie Lian tidak tahu persis berapa banyak uang yang akan dianggap normal ketika membeli lebih dari sepuluh lentera, dan dia tidak pernah melihat harga ketika membeli barang di masa lalu, tetapi, dalam situasi yang menyedihkan, dia berhasil belajar bagaimana melakukan tawar-menawar tanpa diajari, “Lenteramu tidak terlihat cantik, dan sangat sial. Kamu seharusnya juga menjualnya kepadaku dengan harga murah.”

“Yang aku tawarkan sudah harga termurah dan kau memintanya lebih murah lagi?” Penatua itu berargumen, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih miskin darimu, betapa memalukannya!”

Xie Lian bisa merasakan perasaan malu mulai tergali ke dalam kulitnya ketika mendengar kata-kata itu, “Aku beritahu padamu, aku seorang Putra Mahkota. Tidak pernah dalam hidupku ada orang yang menyebutku miskin.” Tetapi ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, dia menyesalinya, Tetap saja, penatua itu tidak menganggap kata-katanya serius sama sekali, dan dia tertawa, “Jika kau adalah seorang Putra Mahkota maka aku adalah seorang kaisar yang baik!”

Xie Lian merasa sedikit lega tetapi juga sedikit canggung. Namun, pada akhirnya dia mungkin juga sudah menghancurkan segalanya dan berkata dengan jelas, “Apakah kamu akan menjualnya atau tidak? Ini semua adalah uang yang aku miliki.”

Setelah sedikit melakukan tawar-menawar, keduanya akhirnya menyelesaikan transaksi mereka. Xie Lian menggunakan sedikit uang menyedihkan itu untuk membeli lebih dari sepuluh lentera hantu dan dia membawanya ke tepi sungai. Penatua itu menghilang begitu dia mendapatkan uang itu sementara Xie Lian di sisi lain, duduk di tepi pantai, melepaskan ikatan masing-masing simpul merah yang membungkus lentera itu, melepaskan semua hantu kecil yang disegel oleh mantra di dalamnya, dan melakukan ritual sederhana untuk mereka.

Percikan api hantu yang mengerikan melayang keluar dari lentera. Jiwa-jiwa ini semua adalah hantu baru yang baru saja meninggal, begitu suram dan tidak fokus tanpa hati nurani mereka sendiri, sangat lemah dan rentan, itulah sebabnya penatua itu menangkap mereka begitu mudah. Ketika mereka dilepaskan dari lentera yang sempit itu, mereka semua berkerumun di sekitar Xie Lian, mengelilinginya dengan intim, kadang-kadang menggesekkan api-api hantu mereka kepada tubuhnya. Xie Lian bangkit dan menyentuhnya dengan lembut, “Pergilah. Pergi.”

Dengan bantuan dorongan lembut dari tangannya, roh-roh itu naik semakin tinggi, melayang ke cakrawala dan berangsur-angsur menghilang. Inilah yang mereka sebut arwah yang kembali ke dunia.

Xie Lian menatap langit berbintang untuk waktu yang lama ketika tiba-tiba, di belakangnya terdengar suara kecil yang begitu mungil.

“Yang Mulia …” Suara itu memanggil.

Xie Lian terkejut dan langsung melihat dari mana suara itu berasal. Baru pada saat itulah dia menyadari jika ada bola api hantu kecil yang tersisa, belum sampai ke langit di sana ataupun menghilang ke dalam percikan api.

Tampaknya, hantu kecil ini lebih kuat dari semua hantu kecil lainnya, dan dia tidak hanya memiliki hati nuraninya sendiri, ia juga bisa berbicara. Dia berjalan mendekat, bingung, “Apakah kamu baru saja memanggilku? Kamu … mengenaliku?”

Setelah diperhatikan lebih dekat, bola api hantu kecil itu tampaknya menjadi cukup hidup, tampak melompat-lompat. Dilihat dari suaranya, sepertinya jiwanya juga adalah milik seorang pemuda. Dia berbicara, “Tentu saja aku mengenalimu!”

Xie Lian ingat bahwa ia masih diselimuti lumpur, terlihat tidak layak dan tidak terhormat, dan merasa semakin canggung. Dia mengepalkan tangannya dan menempatkannya di depan bibirnya, benar-benar tidak ingin mengakui identitasnya dan berpikir, apakah mungkin jika dia bisa mengatakan jika semua itu salah? Sesaat kemudian, dia menajamkan ekspresinya, “Mengapa kamu tetap berada di sini? Bukankah aku sudah mengirim kalian semua? Apakah aku mungkin melewatkan satu langkah?” Jika tidak, mengapa masih ada roh api hantu tersisa setelah dia berhasil melakukan ritualnya?

Hantu tanpa nama itu melayang di depannya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, dan hantu itu menjawab, “Tidak. Kamu tidak melakukan kesalahan. Akulah yang tidak ingin pergi, itu saja.”

Xie Lian merenung, “Apakah kamu memiliki keinginan yang tidak terpenuhi atau keterikatan dengan sesuatu?”

“Ya.” Hantu tanpa nama itu menjawab.

“Lalu, kenapa kamu tidak memberitahuku. Apa itu?” Xie Lian bertanya. “Jika itu bukan sesuatu yang sulit, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantumu.”

Di bagian belakang hantu tanpa nama ini ada tiga ribu lentera yang mengalir dengan lesu di sepanjang kegelapan malam, dan hantu itu berkata, “Aku punya orang terkasih yang masih berada di dunia ini.”

Setelah keheningan yang cukup lama, Xie Lian berkata, “Begitu. Apakah itu adalah istrimu?”

“Bukan, Yang Mulia. Kami tidak pernah menikah.”

“Ah.”

Hantu tanpa nama itu berkata, “Sebenarnya, aku mungkin tidak diingatnya dengan baik. Kami tidak pernah benar-benar berbicara.”

“Tidak pernah benar-benar berbicara?” Xie Lian berpikir, ‘Jika itu masalahnya, bagaimana mungkin ‘orang terkasih’mu yang mengikat rohmu ke dunia ini? Seberapa cantik orang ini?’

Bergumam sejenak, dia berkata, “Jadi, apa keinginanmu?”

Hantu tanpa nama itu menjawab, “Aku ingin melindungi-nya2.”

Biasanya, keinginan roh adalah ‘Aku ingin memberitahunya jika aku mencintainya’ ‘Aku ingin memiliki hubungan fisik dengannya’, atau yang lebih menakutkan, ‘Aku ingin dia menemaniku di dunia bawah’. ‘Untuk melindungi’ benar-benar sangat langka, dan Xie Lian berkedip, “Tapi, kamu tidak lagi milik dunia ini.”

Hantu tanpa nama itu menjawab, “Lalu kenapa dengan itu?”

“Jika kamu tetap memaksa untuk berada disini, kamu tidak akan bisa beristirahat dengan tenang.” Kata Xie Lian.

Hantu tanpa nama itu tampaknya tidak peduli, “Aku berdoa agar aku tidak pernah beristirahat dengan tenang.”

Gumpalan roh pengembara ini tampaknya benar-benar keras kepala. Biasanya, roh yang penuh keinginan seperti ini sembilan dari sepuluhnya sangat berbahaya, namun untuk beberapa alasan, Xie Lian tidak merasakan niat membunuh dari roh di depannya ini, jadi dia sama sekali tidak khawatir. Dia melanjutkan, “Jika kekasihmu tahu kamu tidak bisa beristirahat dengan tenang karena dia, dia mungkin akan terganggu dengan rasa bersalah.”

Hantu tanpa nama itu sejenak tampak ragu-ragu dan menjawab, “Kalau begitu, aku tidak akan membiarkannya tahu mengapa aku tidak pergi.”

“Setelah melihat begitu banyak, sesuatu seperti itu akan diketahui cepat atau lambat.” Kata Xie Lian.

Hantu tanpa nama itu berkata, “Kalau begitu aku tidak akan membiarkan dia tahu jika aku juga melindunginya.”

Setelah mendengarkan hal ini, hati Xie Lian sedikit tergerak dan berpikir, ‘cinta’ orang ini tidak hanya terucap di bibirnya saja.

Di dalam lentera-lentera itu ada semua roh liar pengembara yang ditangkap oleh penatua dari medan perang tandus, jadi yang di depannya sekarang juga pastilah seorang pejuang muda. Dia berkata dengan pelan, “Perang ini memisahkanmu dari orang terkasihmu … Maafkan aku. Aku tidak bisa memenangkannya.”

Namun, hantu tanpa nama itu berkata penuh keyakinan, “Untuk mati dalam pertempuran untukmu adalah kehormatan terbesarku.”

Mendengarnya, Xie Lian langsung terpana.

‘Untuk mati dalam pertempuran demi Putra Mahkota adalah kehormatan terbesar bagi prajurit Xian Le’ adalah ungkapan yang diajarkan oleh beberapa jenderal dari Xian Le kepada para prajurit, dan mereka menggunakan slogan ini untuk membangkitkan keinginan mereka untuk berperang, menyatakan bahwa bahkan jika mereka mati, mereka akan mati untuk suatu tujuan, dan dalam kematian mereka pun, mereka akan meneruskannya ke alam keabadian. Itu tentu saja merupakan kebohongan. Namun, meskipun prajurit muda ini telah meninggal, jiwanya terus melayang di alam fana, dia masih ingat dengan kuat frasa ini. Dan, dia menjawab dengan penuh kesungguhan dan ketulusan hati.

Tiba-tiba, Xie Lian merasakan tepi matanya menjadi terasa begitu panas, penglihatannya menjadi kabur. Dia menjawab, “Maaf. Lupakan aku.”

Api yang berkedip-kedip dari hantu tanpa nama itu menyala lebih terang, “Aku tidak akan melupakannya. Yang Mulia, aku selamanya akan menjadi penyembah yang akan selalu percaya kepadamu.”

Xie Lian memaksakan isaknya tidak terdengar, “… Aku sudah kehilangan semua penyembahku. Percaya padaku tidak akan ada gunanya bagimu, Kepercayaanmu itu mungkin bahkan membawa bencana. Tahukah kamu? Bahkan temanku sendiri sudah meninggalkan aku.”

Hantu tanpa nama itu kembali berkata dengan penuh kesungguhan seolah bersumpah, “Aku tidak akan pernah melakukannya.”

“Kamu akan melakukannya.” Kata Xie Lian.

Hantu itu mendesak, “Percayalah, Yang Mulia.”

“Aku tidak percaya padamu,” kata Xie Lian.

Dia tidak lagi percaya pada siapa pun, dan dia tidak lagi percaya pada dirinya sendiri.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Mengingatkan: [中元節] Festival ZhongYuan berlangsung pada pertengahan Juli di kalender lunar dan untuk merayakan dunia bawah.
  2. Kata ganti orang ketiga Dia dalam bahasa Cina memiliki pengucapan yang sama tetapi karakter yang berbeda. Api hantu ini menggunakan ‘Him’ (*Dia untuk laki-laki) tetapi Xie Lian memahaminya sebagai ‘Her’ (*Dia untuk perempuan), jadi dalam terjemahan ini, ‘-nya’ (pada terjemahan bahasa Inggrisnya menggunakan ‘mereka’) digunakan karena perbedaan dalam makna dan tidak terlalu konsekuensial dalam konteks ini.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments