Penerjemah : Jeffery Liu


Kepalanya jatuh ke samping seolah-olah dia kehilangan kesadaran. Ketika Xie Lian melihat jika tubuh pemuda itu adalah Lang Ying, ia secara tidak sadar bergerak untuk menyelamatkannya tetapi dengan cepat langkahnya terhenti, pikirannya muncul: Tidak ada orang lain selain si Putih Tanpa Wajah di tempat ini sebelumnya, jadi mengapa Lang Ying tiba-tiba muncul?

Melihat bahwa patung ilahi dari Putra Mahkota yang Menyenangkan Dewa ini dirusak oleh darah yang menetes, Hua Cheng benar-benar marah karenanya, ekspresinya memancarkan amarah yang gelap, dan pedang E-Ming memancarkan aura dingin. “Turunkan,” katanya.

Seperti yang diharapkan, ‘kepala Lang Ying yang terkulai meluruskan dirinya sendiri, mengedipkan matanya, dan perlahan-lahan’ menarik ‘dirinya turun dari pedang, jatuh ke tanah.’

Sebelumnya, ketika si Putih Tanpa Wajah meledakkan gelombang kupu-kupu perak yang mengelilinginya, dia menggunakan momen cahaya perak yang menyilaukan itu untuk menyembunyikan dirinya di bawah selubung putih patung ilahi ini dan mengubah penampilannya menjadi Lang Ying. Karena dia bisa menyamar sebagai Lang Ying, itu berarti dia pasti pernah melihat maupun bertemu dengan Lang Ying sebelumnya di suatu tempat.

“Di mana Lang Ying yang asli?” Xie Lian menuntut.

“Yang Mulia, mungkin tidak pernah ada ‘Lang Ying yang asli’,” kata Hua Cheng.

Jika, sejak awal, ‘Lang Ying’ sebenarnya tidak pernah ada, dan itu hanyalah si Putih Tanpa Wajah dalam bentuknya yang belum pulih, maka semuanya bisa dengan mudah dijelaskan. Tetapi, ketika Xie Lian mengingat gadis kecil Xiao Ying yang meninggal di Gunung Yu Jun, ia lebih suka menyimpulkan jika penjelasan ini sama sekali tidak masuk akal. Dia kemudian dengan cepat memikirkan kemungkinan lain dan berkata perlahan, “Atau mungkin … dia melahap Lang Ying.”

Mendengar ini, ‘Lang Ying’ yang berada di depan mereka mulai tumbuh lebih tinggi, tubuhnya tertarik ke atas, perban di wajahnya terbuka, mengungkapkan sebuah topeng di baliknya, dan dia sedikit mengangkat kepalanya, sepertinya tersenyum, “Kamu menebak dengan benar,”

Jadi memang begitu.

Si Putih Tanpa Wajah dikalahkan dan dilenyapkan oleh Jun Wu. Namun, dia berpegangan dan meninggalkan gumpalan jiwa yang hancur dan melayang di alam fana. Siapa yang tahu sudah berapa lama dia melayang, siapa yang tahu sejak kapan itu terjadi, tetapi kemudian dia menemukan Lang Ying yang memiliki tubuh iblis yang sama. Dia pasti menggunakan suatu cara untuk merayu atau menipu Lang Ying agar Lang Ying setuju untuk menampungnya di tubuhnya sendiri, jika tidak, dengan sisa jiwanya yang lemah, dia mungkin tidak memiliki kemampuan untuk melahap Lang Ying. Dia tetap terpaku pada tubuh Lang Ying dan perlahan pulih, dan hasil akhirnya adalah apa yang ada tepat di depan Xie Lian dan Hua Cheng sekarang, iblis yang melahap iblis, si Putih Tanpa Wajah memakan pemilik tubuh, Lang Ying. Sama seperti bagaimana He Xuan melahap Pendeta Kata-Kata Kosong, ironisnya, Lang Ying menjadi budaknya.

Hanya perlu beberapa kata sebelum ‘Lang Ying’ benar-benar berubah menjadi penampilan si Putih Tanpa Wajah. Hua Cheng menatapnya, “Mengapa Lang Ying setuju untuk membiarkanmu meminjam tubuh rohnya?”

Permintaan seperti ini tidak berbeda dengan orang asing yang bertanya, ‘Tolong buka pintumu dan biarkan aku tinggal di rumahmu dan makan makananmu’. Lang Ying tetaplah seorang iblis yang hidup selama ratusan tahun, dan meskipun dia penakut dan selalu tampak ragu-ragu, dia seharusnya tidak sebodoh ini. Si Putih Tanpa Wajah menjawab dengan hangat, “Tentu saja aku bisa menjawab pertanyaanmu. Tetapi, apakah kamu yakin orang di sebelahmu ingin aku mengatakannya di sini?”

Hua Cheng melihat ke sisinya. Ekspresi Xie Lian sedikit aneh dan tidak memperhatikan tatapannya sama sekali. Si Putih Tanpa Wajah lalu berkata, “Nama keluarga Lang, Yong An, penyakit wajah manusia. Mengapa dia setuju untuk membiarkan aku memakannya? Tidak bisakah kamu menebaknya mengapa?”

Wajah Xie Lian langsung pucat oleh bayang-bayang, pembuluh darah di punggung tangannya muncul dan dia dengan seketika melesatkan sebuah tebasan dengan pedangnya, berteriak, “DIAM!”

Si Putih Tanpa Wajah melangkah ke samping dan menghindari serangan itu, tapi, CLANG! Serangan itu mengenai dan membelah pedang yang dipegang di tangan patung ilahinya sendiri. Sekarang dia sudah melakukannya; patung ilahi Putra Mahkota yang Menyenangkan Dewa memegang pedang yang patah, dan patung itu sendiri dengan demikian menjadi artefak yang hancur. Xie Lian langsung tersentak dari semua itu, seperti dia tiba-tiba merasakan tubuhnya basah oleh guyuran seember air dingin. Seolah-olah kupu-kupu hantu marah dan mereka kemudian berkerumun. Si Putih Tanpa Wajah tertawa tanpa emosi, begitu santai dan tenang, dan dia menggunakan lengan bajunya untuk menutupi wajahnya, dia tidak lagi bertahan dan dengan cepat menghilang ke dalam kegelapan. Xie Lian menatap pedang batu yang patah itu di tanah dan tanpa sadar bergumam pada Hua Cheng, “Maafkan aku …”

Namun, Hua Cheng berkata, “Gege jangan konyol. Kenapa kamu harus meminta maaf padaku? Dia sudah pergi. Sekarang apa?”

Mendengar kata-katanya, Xie Lian sedikit lebih tenang dan menjawab, “Apakah dia melarikan diri? Kita tidak bisa membiarkan dia memasuki tungku!”

Keduanya berlari dan keluar dari Gua Sepuluh Ribu Dewa dan mendaki ke gunung bersalju sekali lagi. Tepat ketika mereka keluar, mereka bisa merasakan jika tanah mengguncang gunung dimana mereka berada. Mereka melihat ke atas dan sebuah gelombang longsoran runtuh. Dibandingkan dengan apa yang mereka alami sebelumnya, longsoran yang menderu ini tampak lebih besar dan bukannya lebih kecil. Seolah-olah sesuatu yang terkubur di bawah salju tebal terbangun dan menderu. “Apa kita bisa tiba di sana tepat waktu?!” Xie Lian bertanya-tanya.

Hua Cheng mencengkeram tangannya dengan kuat dan berkata, “Kita bisa jika kamu mengikutiku!”

Keduanya naik melawan arus es dan salju yang menerjang. Benar saja, meskipun terasa sulit dan sangat berbahaya, meskipun setiap langkah yang mereka ambil mereka harus mengambil tiga langkah kembali, meskipun mereka juga masih harus menghindari salju yang paling berbahaya dan aliran puing-puing dan lubang yang tak terhitung jumlahnya, mereka berhasil menciptakan jalan setapak ke atas gunung dari usaha tanpa lelah mereka.

Akhirnya, mereka berhasil mendaki ke titik tertinggi; es menutupi puncak gunung, begitu tebal entah seberapa dalam dan seberapa banyak lapisan yang membeku di bawahnya. Xie Lian merasa jika dia mencoba berjalan sedikit lebih cepat, dia akan tergelincir, tetapi Hua Cheng memegang tangannya dan bergerak maju dengan langkah mantap, benar-benar tampak tidak takut. Keduanya akhirnya sampai di depan mulut gunung berapi, dan celah itu tampak seperti mulut raksasa yang berteriak ke langit, sangat mengesankan. Melihat ke bawah, apa yang ada di bawah sana benar-benar gelap gulita. Mungkin itu hanya imajinasinya, tetapi di ceruk terdalam gunung itu tampak ada kilatan cahaya lampu merah yang menakutkan, berkedip dalam interval yang stabil, terkadang ada, dan terkadang tidak. Xie Lian merasa sedikit panik karena suatu alasan, dan dia memegang topi bambu di kepalanya, memastikan jika topinya tidak terbang karena tiupan angin salju, “Apakah dia sudah masuk?”

Hua Cheng hanya melirik sebelum ekspresinya berubah suram, “Ya.”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Tungkunya sudah ditutup.”

Xie Lian terkejut dan langsung merasa lengah, “Apa yang terjadi? Mengapa tungkunya tertutup begitu cepat? Bukankah harus ada setidaknya beberapa iblis yang ada di dalam sebelum pembantaian dapat dimulai?”

“Itu adalah kasus yang biasa,” Hua Cheng berkata, “Namun, jika tungku percaya bahwa peserta yang sudah memasuki tungku memiliki potensi yang sangat tinggi untuk menembus tungku, maka selama iblis itu membuat permintaan penyegelan gunung, tungkunya akan ditutup.” jeda, dia menambahkan, “Itu adalah apa yang aku lakukan saat itu.”

“Jadi, apakah dia seorang Golongan Tertinggi atau bukan?” Xie Lian bertanya, “Apa yang akan terjadi jika Raja Iblis Agung memasuki tungku untuk kedua kalinya?”

“Itu hal sama dengan apa yang akan terjadi pada pejabat surgawi yang naik yang telah melewati Bencana Surgawi lainnya.”

Yang berarti, jika dia sudah kuat, dia akan menjadi lebih kuat!

Jika mereka membiarkan si Putih Tanpa Wajah melewati rintangan ini, maka konsekuensinya benar-benar tidak bisa dibayangkan.

Dan setelah dia keluar dari gunung sebagai Golongan Tertinggi, yang pertama dia cari pasti adalah Xie Lian.

Mengamati jurang maut yang tak berdasar dan tak terbatas untuk sementara waktu, Xie Lian berkata perlahan, “San Lang, aku … aku mungkin harus pergi ke sana untuk menyelesaikan masalah ini.”

“Pergilah. Aku akan ikut denganmu.” Hua Cheng menjawab pelan.

Xie Lian mendongak dan menatapnya. Hua Cheng juga melihat ke atas dan kedua mata mereka bertemu, mengangkat alisnya saat dia menyeringai, “Hanya turun untuk membunuh pemandangan dan menerobos tungku sekali lagi, itu saja. Ini tidak seperti jika itu adalah sesuatu yang sulit.”

Melihatnya begitu santai, emosi Xie Lian yang tegang tampaknya telah sedikit melonggar, dan dia tersenyum. Sesaat kemudian, Hua Cheng berkata, “Namun, ada satu hal.”

Xie Lian: “?”

Dia memiringkan kepalanya dan salah satu lengan Hua Cheng tiba-tiba melingkar di pinggangnya dan membawanya ke lengannya, tangan lainnya mengangkat dagunya dengan lembut. Kemudian, kedua bibir mereka bertemu.

Mereka berciuman dan berpelukan untuk waktu yang lama dalam badai salju sebelum bibir mereka terbuka perlahan. Xie Lian linglung sejenak sebelum dia tersentak, sadar, dan menjadi bingung, tampak melebarkan kedua matanya, “… A-Apa ini kenapa tiba-tiba?!”

Meskipun itu bukan pertama kalinya mereka melakukan sesuatu seperti ini, tetapi sebelumnya mereka selalu menggunakan alasan agung dan bermartabat seperti ‘meminjamkan kekuatan spiritual’, ‘mentransfer udara’, ‘kecelakaan’, untuk membenarkan tindakan mereka. Sekarang setelah beberapa hal muncul secara terbuka, alasan-alasan ini tiba-tiba terungkap dari kebohongan mereka, dan makna dari tindakan ini menjadi jauh lebih signifikan. Dia hampir tidak tahu ke mana harus meletakkan tangannya; memegang lengan Hua Cheng ataukah mendorong dada Hua Cheng? Haruskah dia menahan atau memblokir wajah Hua Cheng?

Di sebelah telinganya, Hua Cheng tampaknya telah mengembuskan napas dan dia berbisik, “… Aku akan, meminjamkan sedikit kekuatan spiritual kepada Yang Mulia jika terjadi keadaan darurat … akankah kamu menerimanya?”

Xie Lian tanpa sadar menelan ludahnya sendiri dan dia tergagap, “I-Ini sedikit? Sepertinya terlalu banyak … Aku belum, aku belum sempat membalasmu untuk semua waktu sebelumnya … “

“Tidak banyak. Tidak usah terburu-buru. Luangkan waktumu untuk membayar kembali, suatu hari akunmu akan kosong,” kata Hua Cheng.

Xie Lian bergumam “En, en, en” secara acak beberapa kali, dan baru saja akan melarikan diri ketika Hua Cheng menariknya untuk berhenti, berkata, “Yang Mulia! Kemana kamu akan lari? Kamu pergi ke arah yang salah.”

Baru saat itulah Xie Lian menyadari jika dia berlari kembali ke arah mereka datang dan segera berbalik, bahkan kakinya sempat tergelincir es. Dia dengan cepat menekan topi bambu di kepalanya, “T-Tidak. Aku, aku hanya sedikit kedinginan, aku pikir jika aku akan berlari sedikit, melakukan pemanasan … “

Dia mengenakan topi bambu miliknya tetapi kemudian melepaskannya, menggantungnya di punggungnya, lalu mengenakannya lagi. Akhirnya, dia memegang tangan Hua Cheng, mencengkeramnya dengan erat. Keduanya berdiri berdampingan dan menyaksikan jurang besar yang berada di bawah mereka.

Suara Hua Cheng terdengar begitu santai, “Setelah semua ini selesai, aku akan menunjukkan kepadamu patung pahatanku yang paling membanggakan.”

“Oke.” Jawab Xie Lian.

Kemudian, keduanya melompat bersama.

Embusan angin liar melewati telinganya, kekuatannya yang begitu kuat seperti ombak yang menerjang, tetapi tangan mereka tidak terpisahkan oleh kekuatan itu, dan sebaliknya mereka mempererat genggaman mereka.

Namun tiba-tiba, di tengah udara yang berembus, genggaman Xie Lian menjadi kosong.

Bukan karena tangannya terpeleset atau Hua Cheng melepaskan genggaman mereka; tangan yang dipegang di telapak tangannya menghilang dengan begitu tiba-tiba, tidak ada lagi siapapun di sana.

Jantung Xie Lian berdetak kencang dan dia berteriak, “SAN LANG?!”

Dia jatuh dengan cepat, dan teriakannya beberapa saat yang lalu sudah lebih dari sepuluh mil di atas kepalanya, suaranya terdengar tidak nyata. Segalanya berlangsung lama sekali sebelum Xie Lian akhirnya mendarat dengan mantap. Dia segera bangkit dan berteriak, “San Lang?”

Tidak ada jawaban. Hanya gema kosong yang memberitahunya betapa ruang yang dilewatinya diliputi kekosongan yang nyata.

Tempat di sekitarnya benar-benar gelap kecuali tempat yang berada di atasnya, dan Xie Lian mendongak. Di atas, ada tampilan langit seputih salju dan perlahan-lahan menyusut. Mulut gunung berapi ini perlahan menutup.

Tapi, ke mana Hua Cheng pergi?

Krak whoosh, dan Xie Lian menyalakan obor, berharap untuk bisa membantunya menerangi dan melihat seperti apa keadaan sebenarnya dari tempatnya berada sekarang. Namun, kegelapan itu sangat dalam, dan nyala api kecil ini tidak bisa menunjukkan apa-apa, cahaya api itu sendiri sepertinya diserap dengan dingin oleh kehampaan yang gelap. Selain itu, dia secara tidak sengaja tidak bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik dan kobaran api meletus terlalu tinggi, hampir membakar kepalanya sendiri, jadi dia dengan cepat melemparkan api itu ke tanah. Secara kebetulan, api itu mencerahkan bagian belakang tempatnya berada dan menangkap pemandangan sebuah siluet putih samar tidak jauh dari sana. Xie Lian langsung terkejut, “SIAPA ITU?!”

Siluet putih itu berbalik dan menjawab dengan tenang, “Kamu tahu siapa aku.”

Meskipun dia menjawab pertanyaannya, tetapi otot-otot di wajah pria itu tidak bergerak sedikit pun. Tentu saja. Karena, itu bukan wajah seorang lelaki, tetapi topeng setengah menangis, setengah tersenyum.

Xie Lian berkata, “SAN LANG!”

Sekalipun dia merasakan kedinginan dan ketakutan yang tak terkendali ketika dia melihat wajah ini, tetapi dia meneriakkan panggilan ini bukan karena dia takut, tetapi karena dia khawatir. Tentu saja, masih belum ada yang menjawab panggilannya, dan topeng setengah menangis setengah tersenyum itu semakin dekat dengannya, “Tidak perlu berteriak lagi. Tungku ini sekarang sudah tertutup rapat. Sekarang hanya ada kamu dan aku di sini, tidak ada orang ketiga.”

Xie Lian mendongak lagi tanpa sadar. Sebelumnya masih ada pemandangan putih bersalju dari langit, tapi sekarang, cahaya kecil itu benar-benar sudah ditelan oleh kegelapan di sekitar mereka. Yang berarti, tungku ini benar-benar telah tersegel di gunung ini.

Xie Lian tidak pernah menyangka segalanya akan menjadi seperti ini. Dia, dan si Putih Tanpa Wajah, mereka berdua, terkunci di dalam tungku ini.

Hanya mereka berdua? Kenapa mereka berdua?!

Xie Lian mencengkeram Fang Xin dan mengarahkan pedang itu padanya, “Apa yang terjadi di sini? Apakah kamu mencoba ikut campur lagi? Dimana dia? Di mana dia sekarang?”

Si Putih Tanpa Wajah menjepit ujung pedang yang terarah padanya itu dengan dua jari miliknya, dan tangan yang lain mengayunkan pedang itu, CLUNG! Begitu jelas dan segar, “Dia pergi.”

Xie Lian memperhatikan gerakannya dan matanya berubah menjadi dingin, “Jelaskan. Apa maksudmu dengan ‘pergi’?”

“Dia tidak ingin mengikutimu lagi. Dia pergi. Mati. Bagaimana menurutmu?” ucap si Putih Tanpa Wajah.

“…”

Xie Lian pertama-tama merasakan jantungnya berdebar, kemudian segera setelah kemarahan yang hebat menggulung, dia sekali lagi melesatkan sebuah serangan, “HENTIKAN OMONG KOSONGMU ITU!”

Si Putih Tanpa Wajah sekali lagi menangkap pedang itu dengan mudah, “Baik, baik. Aku sedang berbicara omong kosong. Jangan khawatir, aku sudah mengirimnya ke luar tungku, jadi bahkan jika dia ingin bergegas menuju tempat ini, sekarang sudah terlambat.”

Xie Lian benar-benar tidak keberatan apakah Hua Cheng bisa melakukannya, asalkan dia baik-baik saja itu sudah cukup, dan dia diam-diam menghela napas lega. Si Putih Tanpa Wajah melanjutkan, “Tapi, mungkin untuk yang terbaik, dia tidak perlu datang. Kalau tidak, bahkan jika dia tidak berpikir begitu untuk sekarang, nanti ketika dia melihat keadaanmu, siapa yang tahu apakah dia akan tetap ingin bersamamu.”

Xie Lian tidak tahan lagi dengan semua yang dikatakannya dan mengayunkan pedangnya lagi, berteriak, “DIAM! AKU SUDAH MUAK DENGANMU! APA YANG KAMU INGINKAN? APA YANG SEBENARNYA KAMU INGINKAN?? SAMPAI KAPAN KAMU AKAN TERUS MENEMPEL PADAKU DAN TERUS MENGEJARKU???”

Si Putih Tanpa Wajah dengan mudah mengelak dari setiap serangannya, dan Xie Lian berteriak dengan marah, “Mengapa kamu belum mati? MENGAPA KAMU DATANG KE TUNGKU?”

“Karena kamu!” Si Putih Tanpa Wajah menjawab.

Gerakan Xie Lian goyah, dan dia menarik napas, “Apa maksudmu?”

Si Putih Tanpa Wajah menjawab dengan lemah, “Karena kamu datang. Jadi, aku juga memutuskan untuk datang.”

Mendengar jawaban seperti ini, wajah Xie Lian tampak bengkok.

Namun, tidak peduli seberapa marahnya dia, seberapa kuat niat pembunuhannya, seolah-olah si Putih Tanpa Wajah selamanya bisa memprediksi seperti apa serangan berikutnya yang akan dilesatkannya dan akan selalu berhasil menghindari setiap serangannya meskipun itu hanya sejauh satu milimeter. Semakin Xie Lian menyerang, semakin dia memahami sebuah fakta yang kejam:

Dia tidak bisa menang!

“Itu benar.” Seperti dia bisa membaca pikirannya, si Putih Tanpa Wajah berkata, “Kamu tidak bisa menang.”

Saat kata-kata itu meninggalkan bibirnya, sebuah pisau melewati pergelangan tangan Xie Lian. Rasa sakit yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya, dan Xie Lian tanpa sadar melonggarkan cengkeramannya pada pedang Fang Xin. Detik berikutnya, rambutnya dicengkeram, ditarik kembali secara paksa lalu dihempaskan ke tanah!

Telinganya berdenging, hidung dan mulutnya penuh dengan darah, dan kepalanya berdenyut.

Beberapa saat kemudian sebelum Xie Lian merasakan sebuah tangan menarik kepalanya keluar dari tanah yang hancur, sebuah suara datang dari atas, “Sangat menyedihkan, sangat menyedihkan.”

Xie Lian tersedak seteguk darahnya sendiri. Si Putih Tanpa Wajah berkata, “Setiap kali aku bertemu Yang Mulia, kamu selalu terlihat seperti ini. Membuat satu orang sakit. Membuat satu orang yang lain bersemangat.”

Xie Lian menahan seteguk darah yang hendak keluar dari mulutnya lagi, menolak untuk membiarkannya keluar, dan dia berkata, “… Jangan terlalu senang. Aku mungkin tidak bisa menang melawanmu sekarang, tapi … seseorang pasti bisa mengalahkanmu. Bahkan jika kamu bisa keluar dari tungku ini, Jun Wu bisa membunuhmu dengan sangat baik.”

Selain itu, masih ada Hua Cheng!

Namun tanpa diduga, si Putih Tanpa Wajah menjawab, “Siapa yang mengatakan jika orang yang akan muncul dari tungku adalah aku?”

Mendengar ini, Xie Lian terkejut.

Bukan dia? Siapa lagi kalau bukan dia?

Si Putih Tanpa Wajah mengangkat wajahnya untuk menatap matanya, dan dia berkata dengan hangat, “Yang Mulia, aku pikir, kamu mungkin telah salah paham. Pasti akan ada Golongan Tertinggi yang akan muncul dari tungku ini, tapi, itu bukan aku. Itu adalah kamu.”

Mendengar ini, Xie Lian terguncang sampai ke inti, “… Apa yang kamu katakan? Aku tidak … “

Bahkan sebelum dia selesai, detik berikutnya dia mengerti akan sesuatu dan seketika tubuhnya dipenuhi oleh keringat dingin.

Si Putih Tanpa Wajah berkata, “Itu benar. Tepat seperti itu. Selamat, kamu akhirnya mengerti tujuan asliku. Bukankah ini ‘Jalur Ketiga’ favoritmu?”

Di tungku, saat ini hanya ada satu Iblis Golongan Tertinggi dan satu Dewa, dan hanya dengan satu kali lihat pun, semua orang tahu hanya ada dua jalan yang harus diambil. Entah si Putih Tanpa Wajah yang akan membunuhnya dan muncul untuk keluar dari tungku; atau keduanya terperangkap di dalam tungku selamanya, melarikan diri dari mimpi masa lalu.

Namun, sebenarnya ada jalan ketiga.

Selama Xie Lian membunuh dirinya sendiri sekarang, menjadi iblis dan membunuh si Putih Tanpa Wajah, maka ia bisa menjadi Golongan Tertinggi dan menerobos tungku!

Xie Lian akhirnya tersentak dari keterkejutannya, “JANGAN BERPIKIR TENTANG ITU! Kamu gila? Apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu harus melakukan ini?? Membuatku menjadi Golongan Tertinggi? Aku tidak segila kamu! Bahkan jika kamu ingin aku membunuhmu, tidak mungkin aku bisa mengalahkanmu, tungku itu tidak akan mengenali Golongan Tertinggi seperti itu!”

Itu adalah kebenaran yang sejujurnya. Menjadi unggul sebagai pribadi bukan berarti kita bisa unggul sebagai dewa; dan untuk bisa menjadi dewa bukan berarti seseorang bisa menjadi iblis. Namun, si Putih Tanpa Wajah berkata, “Benarkah? Jangan terlalu yakin.”

Kemudian, tangannya yang lain mengulurkan sesuatu padanya. Dengan cahaya api yang tidak terlalu jauh, Xie Lian bisa melihat bahwa sebuah topeng muncul di tangannya yang lain. Topeng yang persis sama dengan yang ada di wajah si Putih Tanpa Wajah.

“Apakah kamu mengingat topeng setengah menangis, setengah tersenyum ini?” si Putih Tanpa Wajah bertanya, “Topeng ini sangat cocok untukmu.”

Mata Xie Lian melotot, dan gelombang teror mulai menyelimutinya seperti kerumunan serangga, begitu padat dan mantap saat mereka merangkak ke dalam benaknya. Dia mendorongnya dengan lemah, “… Singkirkan itu, singkirkan itu … SINGKIRKAN TOPENG ITU DARIKU!”

Si Putih Tanpa Wajah mulai tertawa, “Sepertinya, ingatan Yang Mulia tidak terlalu bagus. Jika itu masalahnya, izinkan aku membantumu untuk mengingatnya, hm? Bagaimana dengan itu?”

Kemudian, tanpa memberinya kesempatan untuk protes, topeng pucat setengah menangis, setengah tersenyum yang tragis itu mencair dengan kegelapan yang tak terbatas karena selanjutnya, dia menekan topeng itu begitu dalam ke wajah Xie Lian.


BUKU 3 SELESAI


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
whaleian
whaleian
11 months ago

Here we go ಥ‿ಥ