Penerjemah : Jeffery Liu


“Ada apa?” Hua Cheng bertanya.

Xie Lian berbalik untuk menatap ke arah Hua Cheng, “Si Putih Tanpa Wajah. Kenapa dia datang ke Gunung TongLu?”

“Mungkin kekuatannya belum pulih sepenuhnya dan dia ingin meminjam tungku untuk dilahirkan kembali ke dunia ini,” jawab Hua Cheng.

“Jika itu masalahnya, itu berarti dia sekarang bukan … Golongan Tertinggi?” Xie Lian bertanya-tanya.

“Itu tidak sepenuhnya mustahil.” Kata Hua Cheng.

Sebelumnya, Si Putih Tanpa Wajah menyamar menjadi Feng Xin serta Mu Qing dan tiba-tiba menampakkan dirinya, penampilannya yang muncul dengan begitu tiba-tiba itu begitu mengejutkan dan menakutkan. Selain itu, reaksi pertama Xie Lian ketika menghadapinya adalah ‘dia tidak bisa dikalahkan, lari!’, jadi dia kemudian meraih Hua Cheng dan melarikan diri. Keduanya tidak benar-benar menghadapinya terlalu lama, jadi, mereka tidak dapat mengukur seberapa besar kekuatan sejati yang dimiliki Si Putih Tanpa Wajah saat ini.

Apakah itu semua hanya gertakan? Atau dia lebih kuat dari yang terlihat? Saling bertukar pukulan kasar tidak lebih dari sebuah serangan kejutan untuk sesaat, tidak ada yang bisa ditentukan dari semua itu. Xie Lian bergumam, “Aku secara tidak sadar berpikir jika dia lebih kuat ketika aku hanya melihat dua kulit palsu itu, tapi mungkin … saat ini dia belum sepenuhnya pulih, dan mungkinkah dia sekarang tengah berada pada kondisi terlemahnya? Kalau tidak, mengapa dia datang ke Gunung TongLu? Mungkin … aku bisa mencobanya.”

Dan lihat apakah dia bisa menjatuhkannya!

Hua Cheng segera menjawab, “Bagus. Aku akan pergi melawannya.”

Xie Lian langsung meraih Hua Cheng dan buru-buru berkata, “Tidak, jangan. Jangan menghadapinya secara langsung. Hanya aku yang mencobanya itu sudah cukup!”

Biasanya, seorang Raja Iblis Golongan Tertinggi tidak akan pernah saling berhadapan dalam pertempuran semudah ini, seperti bagaimana Air Hitam Menenggelamkan Kapal dan Hujan Darah Mencapai Bunga yang hidup secara berdampingan dengan damai. Seorang Raja Iblis tidak seperti pejabat surgawi dimana seberapa kuat mereka, seberapa besar istana mereka, berapa banyak penyembah mereka, dimana parameter kekuatan mereka semua diketahui oleh siapa saja yang memiliki keinginan untuk mengetahuinya; Raja Iblis Golongan Tertinggi akan menyembunyikan kekuatan sejati mereka dengan cara yang sama seperti mereka menyembunyikan masa lalu mereka. Karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang kekuatan masing-masing dan tidak ada yang tahu apa konsekuensinya jika dua Golongan Tertinggi harus mulai bertarung, jika semuanya bisa dijaga keseimbangannya maka mereka akan memilih untuk tetap seperti itu.

“Tidak perlu khawatir.” Hua Cheng berkata, “Menang atau kalah belum bisa diputuskan. Kecuali kalau mereka benar-benar percaya jika aku akan membiarkanmu menghadapinya sendiri?”

“…”

Xie Lian menggelengkan kepalanya, “Bukan itu, San Lang, Kita tidak sama. Dia … tidak akan membunuhku, aku bisa bersumpah.”

“Kenapa?” Hua Cheng bertanya.

Setelah tampak ragu untuk sesaat, Xie Lian masih memilih untuk tidak menjawabnya dan hanya berkata, “Kamu tidak tahu seberapa mengerikan makhluk itu …”

Hua Cheng memotongnya dengan muram, “Yang Mulia! – Aku tahu.”

Baru saat itulah Xie Lian ingat bahwa Hua Cheng juga bergabung dengan pasukan Xian Le sekali di masa lalu, dan telah mengalami secara pribadi medan perang yang terjadi di Xian Le, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri tragedi ladang yang penuh dengan mayat. Tapi, Hua Cheng tidak menyukainya. Dia tidak pernah secara pribadi melihat pertempuran mengejutkan antara Jun Wu dan si Putih Tanpa Wajah. Dia juga belum pernah bertemu dengan si Putih Tanpa Wajah sebelumnya.

Setelah memikirkan hal ini, Xie Lian menggelengkan kepalanya dengan paksa, “Bukannya aku tidak percaya padamu, aku hanya, aku hanya … aku tidak ingin sesuatu terjadi pada dirimu.”

Mendengar ini, mata Hua Cheng berbinar. Sesaat kemudian dia tersenyum, “Gege, jangan khawatir. Aku sudah mati, jadi tidak mudah bagiku untuk mati untuk kedua kalinya. Selain itu, apakah kamu lupa apa yang aku katakan sebelumnya? Selama dia tidak menemukan abuku, dia tidak bisa berbuat apa-apa kepadaku.”

Hanya dengan diingatkan seperti itu, Xie Lian ingat ada hal seperti itu dan dengan cepat berkata, “Tunggu! Selain hal-hal lain. San Lang, kamu … apakah abumu disembunyikan dengan baik?”

“Sangat baik.” Jawab Hua Cheng.

Xie Lian mengangguk, tetapi setelah jeda, dia masih tidak bisa menahan diri untuk memeriksanya kembali, “Apakah kamu yakin abumu disembunyikan dengan baik? Apakah tempat itu cukup aman? Apa kamu yakin abumu tidak akan ditemukan?”

Hua Cheng menjawab dengan santai, “Bagiku, itu adalah tempat yang paling aman di dunia.”

Namun Xie Lian, tidak berpikir ada sesuatu yang mutlak di dunia ini dan masih berusaha menekannya, “Kamu benar-benar yakin?”

Hua Cheng tersenyum riang, “Jika tempat persembunyiannya dihancurkan, maka, tidak perlu bagiku untuk tetap berada di dunia ini. Tentu saja aku yakin.”

Meskipun Xie Lian benar-benar peduli dengan arti ‘tidak perlu bagiku untuk tetap berada di dunia ini’, tetapi mereka tidak berada di tempat yang aman saat ini, dan siapa yang tahu jika ada telinga yang mendengarkan percakapan mereka saat itu, jadi itu bukan tempat yang tepat untuk masuk lebih dalam ke subjek ini dan dia berhenti membicarakannya. Tetapi setelah berbicara sejauh ini, Xie Lian benar-benar ingin bertanya kepada Hua Cheng – bagaimana dia bisa mati?

Dia benar-benar ingin tahu, tetapi pada saat yang sama dia tidak tahu bagaimana cara baginya untuk bertanya. Ketika manusia mati, alasan mengapa jiwa mereka bisa tetap berada di bumi ini adalah karena keterikatan yang obsesif. Dalam kebanyakan kasus, kesedihan dan kebencian adalah hal terkuat dari keterikatan mereka, dan untuk menjadi seorang Raja Iblis Tertinggi, obsesi mereka harus menjadi lebih kuat daripada kebanyakan manusia. Dia takut kalau dia bertanya, Hua Cheng tidak akan bisa menanganinya seperti jika bekas luka ditusuk, dan dia sendiri mungkin juga tidak bisa menanggungnya. Semua itu terjadi delapan ratus tahun yang lalu, bagaimana Hua Cheng bisa menanggungnya?

Setelah berpikir sejauh ini, sebuah pikiran mengerikan tiba-tiba muncul di pikiran Xie Lian dan dia langsung diliputi dengan keringat dingin. Dia segera menoleh ke arah Hua Cheng, “San Lang!”

“Ada apa?” Hua Cheng menjawab.

Jari-jari Xie Lian berkedut sedikit, “Aku … aku memiliki pertanyaan lain yang ingin kutanyakan padamu.”

“Kamu bisa bertanya apapun.” Hua Cheng menjawab.

Xie Lian menatapnya, “Dalam delapan ratus tahun ini, selain bertemu denganku di Xian Le, apakah kamu bertemu denganku di tempat lain di waktu lain?”

“…”

Hua Cheng menoleh padanya perlahan, “Sayangnya, meskipun aku tidak pernah menyerah dan melakukan yang terbaik untuk bisa menemukanmu, selama waktu itu aku belum pernah sekali pun bertemu denganmu.”

Xie Lian masih mencoba mendesaknya, “Benarkah?”

Hua Cheng menatap matanya, “Sungguh. Mengapa gege bertanya?”

Xie Lian dengan lembut menghela napas lega dan memaksakan sebuah senyuman, “Tidak ada, hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir ini, bagaimana aku bisa melewati hari-hariku sebelumnya bukanlah pemandangan yang indah untuk dilihat, semuanya kacau dan benar-benar dipenuhi dengan kegagalan. Aku hanya berpikir jika kamu saat itu berada di sana dan melihatnya, itu sama sekali tidak baik.”

Hua Cheng tertawa, “Bagaimana mungkin?”

Namun disisi lain, Xie Lian tidak tertawa sama sekali, “Semua itu bukan lelucon, itu benar-benar kegagalan.”

Mendengar ini, Hua Cheng menarik senyumnya dan berbalik, ekspresinya menjadi lebih serius, “Tidak apa-apa. Bukankah Yang Mulia sudah mengatakannya sendiri?”

“Aku?” Xie Lian bingung, “Apa yang sudah aku katakan?”

Hua Cheng kembali melafalkan kalimat yang pernah diucapkan oleh Xie Lian dengan lemah, “Bagiku, yang berdiri dalam kemuliaan tanpa batas adalah kamu, yang jatuh karena anugerah juga adalah kamu. Yang penting adalah kamu, dan bukan kondisimu.”

Dia menatap Xie Lian dan berkedip penuh arti, tampak mengernyitkan kedua alisnya, “Aku merasakan hal yang sama.”

“…”

Xie Lian tertegun untuk saat yang baik ketika tiba-tiba PA! dia menamparkan telapak tangannya untuk menutupi wajahnya, merasakan seluruh kepalanya begitu terbakar, “Apakah, apakah aku mengatakan itu?!”

“Kamu mengatakannya!” Hua Cheng berkata, “Gege, jangan menyangkalnya.”

Xie Lian beringsut dan menggunakan lengannya untuk menutupi wajahnya, “Aku, kurasa tidak!”

Gege, apakah kamu ingin melihat dan mendengarnya kembali? Aku akan mencarikannya untukmu,” kata Hua Cheng.

Mendengarnya, kepala Xie Lian terangkat dalam keterkejutan, “??? Kamu … apakah kamu … tidak mungkin … San Lang, kamu … apakah kamu merekam semuanya?!”

“Aku bercanda, hanya bercanda.”

“Aku benar-benar tidak percaya padamu …”

Gege, percayalah padaku.”

“Aku tidak mempercayaimu lagi!”

Keduanya kembali bertemu dengan sebuah persimpangan lain di jalan, dan saat itu, embusan angin tiba-tiba menyerang mereka dan detik berikutnya Hua Cheng memiringkan tubuhnya, menjadi pelindung bagi Xie Lian dengan berdiri di depan tubuhnya, tangannya terangkat seolah-olah bermaksud melindunginya.

Embusan angin sepoi-sepoi sebenarnya bukanlah sebuah masalah besar dan tentu saja tidak memerlukan pemblokiran sama sekali, tetapi tindakan Hua Cheng datang sepenuhnya secara alami. Saat embusan angin berlalu melewati mereka, helaian rambut tampak berkibar-kibar, dan Xie Lian tiba-tiba menyadari bahwa ketika Hua Cheng tidak memandangnya, ekspresinya dan kontur wajahnya tampak begitu dingin. Begitu cantik dalam ketidakpeduliannya, Hua Cheng bahkan tidak menyadari bahwa tubuhnya bergerak tanpa ragu, seolah melindungi Xie Lian adalah sebuah kemampuan bawaan yang dimilikinya.

Xie Lian berkata lagi, “San Lang!”

Hua Cheng memiringkan kepalanya untuk menatapnya, dan baru kemudian dia tersenyum, “Ada apa, Yang Mulia?”

Xie Lian merasa, jika Hua Cheng mungkin tidak menyadari jika dirinya tersenyum.

Sebuah suara yang terdengar begitu jernih dan kuat di dalam hatinya memberitahunya bahwa pria ini benar-benar menganggapnya dewa.

Jari-jari Xie Lian mengepal dengan tenang, “Begitu kita keluar dari Gunung TongLu, ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu.”

Hua Cheng mengangguk ringan, “Baik. Aku akan menantikannya.”

“Apakah Feng Xin dan Mu Qing sudah berhasil keluar?” Xie Lian bertanya.

“Mereka sudah keluar.” Jawab Hua Cheng.

“Lalu bagaimana dengan si Putih Tanpa Wajah?” Xie Lian bertanya, “Apakah dia tidak mengejar kita dan tidak pergi untuk menghentikan mereka? Dimana dia sekarang? Seberapa jauh dia dari kita?”

Hua Cheng menjawab, “Dia …”

Hua Cheng belum menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba raut wajahnya berubah, dan dia menekan dua jarinya dengan ringan pada alis mata kanannya. Sesaat kemudian, dia berkata “… Dia menghilang.”

Xie Lian terkejut, “Bagaimana dia bisa menghilang?”

Hua Cheng masih agak tenang dan dia masih mencoba mencari dengan fokus, “Dia menghilang ke udara.”

Bahkan sebagai soerang iblis, sangat mustahil untuk bisa menghilang begitu saja di udara yang begitu tipis di dalam Gua Sepuluh Ribu Dewa yang dikelilingi oleh ribuah kupu-kupu hantu!

Xie Lian berseru, “Bisakah aku melihatnya juga?” Lalu dia mencengkeram bahu Hua Cheng dengan tangannya dan sedikit menggerakkan kakinya, menyentuh dahinya dengan tangannya. Tangan Hua Cheng diturunkan untuk beristirahat di pinggangnya sejenak. Ada keraguan kecil seperti dia akan menarik diri, tetapi pada akhirnya tangan itu tetap berada disana dan memeluknya lebih erat.

Adegan yang Hua Cheng lihat beberapa saat sebelumnya dengan cepat melintas di depan mata Xie Lian. Pria berpakaian putih itu mendekat dengan lemah ke depan sebuah gua batu, dan kupu-kupu hantu yang tak terhitung jumlahnya sekali lagi bergegas melesat ke arahnya, membungkusnya menjadi kepompong berbentuk manusia yang berkilauan. Setelah momen yang membekukan itu berlalu, mereka terkejut, sebuah kilatan cahaya perak meledak, berderak, dan kupu-kupu perak disana diterbangkan menjadi sebuah kilau yang begitu gemerlap. Namun, setelah cahaya perak itu mulai memudar, pria itu menghilang!

Setelah itu, mata kanan Hua Cheng mulai melihat dan menyapu situasi di banyak terowongan lain, tetapi sosok berpakaian putih itu sama sekali tidak terlihat. Xie Lian tampak bingung dan menarik dirinya sedikit, “Apakah dia sudah pergi?”

Orang lain mungkin tidak mengetahuinya, tetapi Xie Lian lebih dari jelas tahu bahwa jika si Putih Tanpa Wajah melihatnya, dia pasti akan terus mengganggunya.

“Mungkin spekulasi kita sebelumnya benar.” Hua Cheng berkata, “Tujuan utamanya adalah menggunakan tungku untuk mendapatkan kembali status Tertinggi-nya sehingga dia memutuskan untuk pergi terlebih dahulu.”

Suara ini ditekan tepat ke telinganya dan baru setelahnya Xie Lian menyadari jika dia menangkup wajah Hua Cheng dengan kedua tangannya dan dia juga telah menariknya dan membuat Hua Cheng sedikit membungkuk padanya. Xie Lian cepat-cepat melepaskannya dan berteriak, “Hentikan dia!”

Misi mereka yang datang ke Gunung TongLu kali ini adalah untuk mencegah setiap kandidat yang berpotensi menjadi Golongan Tertinggi. Keduanya telah menghindari pria berpakaian putih itu sepanjang waktu sebelumnya, tetapi sekarang, setelah situasinya berhasil terselesaikan, mereka sekarang memilih untuk mencarinya dengan ketetapan ilahi yang tak terhitung jumlahnya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka sebelum mereka tiba di tempat pria berpakaian putih itu sebelumnya menghilang.

Benar saja, selain beberapa patung ilahi, tidak ada satu jiwa pun yang berada disana. Kilau cahaya perak menutupi tanah, dan kupu-kupu perak kecil yang tidak sepenuhnya dihancurkan oleh gelombang kejut mengepakkan sayapnya yang patah. Xie Lian membungkuk, dan berpikir, dia tidak tahu apakah itu akan berhasil, dia masih ingin menangkupkan tangannya untuk melindungi kupu-kupu perak itu bersamanya. Saat itu, dia mendengar suara Hua Cheng datang dari belakang, “… Gege, kemarilah, mendekat ke sampingku.”

Suara itu dipenuhi dengan kemarahan yang tertekan, tetapi amarahnya sama sekali tidak ditujukan kepadanya.

Xie Lian mendongak dan menemukan iika mata Hua Cheng yang menyala menatap sebuah patung ilahi yang berada tepat di depan mereka.

Itu adalah sebuah patung ilahi yang dari kepala hingga kakinya ditutupi dengan selubung putih, sama sekali tidak bergerak, dan kontur umumnya dapat dilihat. Patung itu tampak mengarahkan sebuah pedang dan, salah satu ujungnya menonjol dengan tajam.

Namun, pada saat ini, di titik pada ujung tajam pedang itu, sepetak merah cairan astringent memancar, menyebar tanpa henti, menodai dan merendam sutra putih itu.

Ada darah di pedang itu!

Siapa pun yang menyaksikan pemandangan ini dapat mengatakan bahwa jika ada sesuatu yang aneh dengan patung ilahi ini. Mungkin, pada saat ini, apa yang ada di bawah sutera putih itu bukan lagi patung ilahi asli tetapi sesuatu yang lain. Xie Lian melompat berdiri dan memutuskan untuk berdiri berdampingan dengan Hua Cheng, pedang Fang Xin menunjuk ke patung ilahi itu. Dengan ekspresi gelap, Hua Cheng melambaikan tangannya, dan selubung putih itu terbuka.

Kedua pupil mata Xie Lian langsung menyusut.

Apa yang ada di bawah selubung putih itu adalah patung ilahi dirinya. Itu adalah sebuah patung Putra Mahkota yang Menyenangkan Dewa, pedang di satu tangan, bunga di tangan lainnya, senyum tergantung di wajahnya. Hanya saja, ada jejak darah pada senyum itu.

Sumber darah itu adalah pedang yang dipegang di tangannya. Disana ada tubuh seorang pemuda yang tertusuk pisau, kepalanya dibalut perban, tubuhnya berlumuran darah. Pemuda itu adalah Lang Ying!


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments