Penerjemah : Jeffery Liu


Tubuh Xie Lian digendong di dalam pelukan Hua Cheng saat mereka bergerak lebih dalam ke kegelapan sarang gua terdalam tempat itu.

Satu-satunya sumber cahaya di sekitar mereka adalah kupu-kupu hantu perak yang mengepakkan sayap mereka dengan gerakan yang begitu lembut. Xie Lian tidak bisa melihat ekspresi di wajah Hua Cheng dengan jelas, tetapi, dia bisa merasakan lengan Hua Cheng dan seluruh tubuhnya terasa begitu kaku.

Ini bukan berarti Hua Cheng tidak pernah memegangnya sebelumnya di masa lalu, tetapi untuk sekarang dia bisa sangat jelas menyadarinya jika sesuatu telah berubah, dan Hua Cheng bahkan tampak enggan menyentuh leher atau tangannya secara langsung. Xie Lian terus menatap wajah Hua Cheng, berkedip dengan penuh perhatian, tetapi Hua Cheng terus menghindari kontak matanya, menolak untuk saling bertatapan, dan mereka mulai memasuki ruang gua seperti yang dia kehendaki. Ada sebuah tempat tidur batu di dalam ruang gua itu dan dia segera membawa Xie Lian kesana untuk kemudian menurunkannya. Saat dia sedang membaringkan Xie Lian, dia tiba-tiba menyadari sesuatu, Hua Cheng kemudian memeriksa punggung Xie Lian dan berbicara, “Mereka memasang mantra padamu?”

Xie Lian sangat gembira. Dia akhirnya menemukannya!

Namun, butuh waktu lama bagi Hua Cheng untuk menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan Xie Lian, dan hal itu membuktikan betapa lengahnya penjaga Hua Cheng sebelumnya. Xie Lian sedang menunggu Hua Cheng untuk memindahkan Jimat Komando dari punggungnya, namun tanpa diduga, meskipun Hua Cheng sudah mengulurkan tangannya untuk melepaskan jimat itu, tangannya tiba-tiba berhenti di udara, dan pada akhirnya, menarik tangan itu dan membaringkan Xie Lian di tempat tidur disana.

Mungkin dia mencoba untuk membuat Xie Lian tidak akan khawatir, dan dia berkata dengan suara pelan, “Yang Mulia, jangan khawatir. Aku tidak akan membunuh dua sampah yang tidak berguna itu untuk saat ini. Meskipun aku benar-benar ingin membunuh mereka.”

Di atas tempat tidur batu itu juga diletakkan sebuah lapisan jerami segar yang tebal namun lembut, dan Xie Lian berbaring di atasnya dengan tubuh lemas, tampak tidak khawatir namun perasaan cemas yang menyerangnya hampir mampu membakar bagian dalam tubuhnya, dan dia tidak bisa mengerti mengapa Hua Cheng tidak mau melepaskan mantra itu darinya. Saat dia berusaha mati-matian untuk berjuang, dia melihat Hua Cheng meraih sabuk selempang di pinggangnya, dan melepaskan ikatan sabuk itu.

Saat itu, dalam kebetulan yang tidak menguntungkan, Xie Lian bisa merasakan kekuatan Jimat Komando di punggungnya mulai memudar, dan kakinya tersentak keras dan tanpa sadar dia mengeluarkan suara “Ah!” yang lolos dari bibirnya.

Meskipun terlihat tidak lebih dari seekor ikan mati yang berkedut selama waktu satu detik dalam usaha terakhirnya untuk hidup, mengekspresikan keberatannya tanpa kekuatan nyata, tetapi Hua Cheng yang melihat semua adegan itu membeku seketika, dan langsung menarik tangannya kembali, “Aku tidak akan melakukannya!”

Seolah-olah Hua Cheng merasa nada bicara yang digunakannya sendiri terlalu keras dan takut dia mungkin menakuti Xie Lian, membuatnya merasa jijik, Hua Cheng mundur untuk beberapa langkah dan melembutkan suaranya, ekspresi yang terpancar di dalam wajahnya tidak dapat dibaca, menjadi lebih berhati-hati, dan pasrah saat dia berkata dengan suara pelan. “Yang Mulia, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Jangan… takut.”

Xie Lian akhirnya mengerti.

Hua Cheng masih tidak yakin respon seperti apa yang akan dia terima dari Xie Lian setelah dia melepaskan mantranya, jadi dia menolak untuk mendengar jawabannya sama sekali.

Hua Cheng tampaknya menahan semacam dorongan hati, dan sekali lagi menggunakan suara yang penuh keyakinan dan berbicara dengan lembut setelahnya, “Yang Mulia, percayalah padaku.”

Akan tetapi kata-kata ‘percayalah padaku’ yang diucapkannya ini terdengar lemah dibandingkan dengan saat-saat sebelumnya ketika dia mengatakan hal yang sama. Xie Lian ingin menjawabnya tetapi dia tidak bisa, dan tidak berani memberontak lagi kalau-kalau kesalahpahaman mungkin akan menjadi semakin parah, jadi dia hanya bisa berbaring dengan datar tanpa berani bergerak sedikitpun, menunggu kekuatan dari Jimat Komando yang terpasang padanya untuk memudar seiring berjalannya waktu. Melihat bahwa Xie Lian tidak ‘menolak’ lagi, Hua Cheng perlahan mendekatinya lagi, mengulurkan tangan dan dengan hati-hati melepaskan ikatan sabuk Xie Lian.

‘San Lang???’ Xie Lian memanggilnya dari dalam hatinya.

Dia tentu saja percaya dengan sepenuh hati bahwa Hua Cheng tidak akan mengambil keuntungan dari orang-orang ketika mereka sedang jatuh, tetapi perkembangan ini juga benar-benar di luar harapannya, dan yang bisa dia lakukan hanyalah melebarkan kedua matanya. Sementara Hua Cheng melonggarkan jubah Xie Lian, dia masih mencoba yang terbaik untuk tidak melakukan kontak dengan tubuhnya sehingga dia membutuhkan sedikit waktu untuk melakukannya, dan itu adalah waktu yang lama sebelum jubah luar Xie Lian pada akhirnya berhasil dilepas, kemudian jubah bawahnya. Semua itu terjadi hanya ketika kupu-kupu hantu terbang ke ujung bahu Xie Lian dan bertengger di atasnya, dan perasaan hangat dan kesemutan merangkak ke kulitnya, Xie Lian menyadari bahwa bahunya memerah dan sedikit bengkak, kulit di beberapa daerah di tubuhnya tampak pecah, dan hanya mulai sembuh setelah kupu-kupu perak itu bertengger padanya.

Luka-luka itu adalah luka beku yang diakibatkan ketika dirinya merangkak dan jatuh di seluruh gunung yang beku sebelumnya.

Xie Lian sendiri tidak memperhatikan sama sekali karena dia tidak lagi terlalu sensitif terhadap rasa sakit. Jika dia membeku maka dia akan membeku, dan bahkan jika dia menyadari luka-luka ini dia mungkin akan membiarkan mereka sembuh dengan sendirinya. Namun, Hua Cheng tahu lebih baik daripada dia di mana tepatnya tubuhnya terluka, dia akan tetap mengingatnya, dan dia tampak seperti memiliki dorongan untuk harus mengatasi cedera itu tidak peduli apapun.

Saat dia tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, Hua Cheng memegang dan mengangkat tangannya. Bahkan ada lebih banyak radang dingin di tangan dan kakinya, dan karena sebelumnya dia dengan putus asa terus berlari, sudah ada banyak tempat yang mulai mengeluarkan darah. Xie Lian tidak takut sakit, tapi dengan semua perlakuan ini dia sedikit banyak merasa geli. Selain itu, banyak potongan-potongan ingatan yang berasal dari tahun-tahun yang lalu melayang ke dalam pikirannya terlepas dari dirinya sendiri. Di sebuah gua yang gelap, tangan anak laki-laki yang gemetar dan panas, sentuhan panik yang acak, napas yang tidak teratur dan jantung berdebar…

Kenangan-kenangan itu semula begitu berkurang hingga tidak mungkin menjadi lebih redup, dan dia sudah lama menyegelnya, melemparkannya ke sudut. Sekarang setelah ingatan itu muncul kembali, mereka memiliki rasa yang sangat berbeda, membuat seseorang ingin memegang kepala mereka sendiri dan menjerit. Apalagi saat ini Hua Cheng tepat berada di depannya dan melakukan hal yang hampir sama kepadanya. Wajah dan pikiran Xie Lian benar-benar terbakar. Dia takut Hua Cheng akan melihat dan menyadarinya, tetapi Hua Cheng tidak memandangnya sama sekali, menepati janjinya sepenuhnya, tidak pernah melewati batas, dan dia menundukkan kepalanya sedikit, mengalihkan pandangannya dari bahu putih setengah terbuka itu.

Namun, saat itu, sebuah suara tiba-tiba muncul dari belakang Hua Cheng, “Hua Cheng! Kamu orang gila, apa yang sedang kamu lakukan kepada Yang Mulia?! Kamu menjijikan!”

Hua Cheng memutar kepalanya, dan Xie Lian juga melihat melewati belakang tubuhnya, menggerakkan arah pandangannya ke pintu masuk ruang gua itu. Orang yang berbicara adalah Mu Qing!

Saat itu Feng Xin juga berada tepat di sebelahnya. Keduanya baru saja dibungkus dengan kepompong raksasa oleh Hua Cheng sebelumnya, tetapi entah bagaimana mereka berhasil membebaskan diri dan menemukan tempat ini.

Ketika mereka melihat pemandangan di dalam gua ini, wajah mereka memucat. Wajah Xie Lian juga memucat.

Sungguh, pemandangan yang mengerikan!

Feng Xin menunjuk ke arah Hua Cheng, lalu menunjuk ke arah Xie Lian yang pakaiannya setengah terbuka, dan itu adalah saat yang baik sebelum dia bisa mengeluarkan suaranya yang tercekik, “KAMU … KAMU … BIARKAN DIA PERGI SEKARANG JUGA!”

Hua Cheng langsung menarik pakaian Xie Lian dan berkata dengan dingin, “Kalian berdua sampah tidak berguna berani mencari kami sampai ke tempat ini, aku pikir kalian mungkin sudah bosan hidup.”

Mu Qing menyeringai, “Gerakkan tanganmu yang begitu kotor. Kamu si katak yang buruk rupa menginginkan rasa daging angsa? Tidak pernah kamu memimpikannya selama delapan ratus tahun, bahkan jika kamu berharap untuk ribuan tahun lagi, jangan berani-berani untuk menyentuh satu jari pun dari kebesaran-Nya.”

Mendengar ini, jantung Xie Lian tersentak, tetapi di antara perasaan kesalnya, dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah.

Ada apa dengan mereka berdua? Bahkan jika Hua Cheng mengalahkan mereka sampai babak belur sebelumnya, mereka seharusnya tidak seberani ini untuk menghadapnya, terutama Mu Qing. Sepertinya mereka mencoba memprovokasi Hua Cheng dengan sengaja. Tidak ada manfaatnya memprovokasi Hua Cheng, mereka juga tidak bisa mengalahkannya, jadi apa tujuan mereka? Selain itu, mereka secara halus menunjuk tombak ke arah Xie Lian dengan nada mereka, seperti mereka tengah memohon untuk terjadi kekacauan lainnya, seperti mereka takut Hua Cheng tidak akan melakukan sesuatu pada Xie Lian jika dia marah.

Benar saja, Hua Cheng marah, dan wajahnya yang pucat berkilat dalam kegelapan. Dia mengancam dengan suara yang terdengar lembut, “Karena kalian berdua datang dengan niat untuk mati–”

Xie Lian bisa melihat niat membunuh yang menguar dari diri Hua Cheng hanya dengan menatapnya dengan mata telanjangnya dan kengerian memenuhi hatinya, “JANGAN!!!”

Sangat terlambat. Pedang itu telah terhunus, dan kilau dingin E-Ming melintas.

Feng Xin dan Mu Qing sama-sama terkejut, dan mereka tanpa sadar menundukkan kepala mereka. Untungnya, tidak ada satu pun luka di tubuh mereka.

Namun tanpa disangka-sangka, sebelum mereka memiliki kesempatan untuk bernapas lega atau membalas segala jenis serangan kepada Hua Cheng, detik berikutnya, tubuh bagian atas mereka jatuh dari tubuh bagian bawah mereka dan BUK!

Darah menyembur dan memuncrat dalam sebuah kegilaan, tumpah dan dengan segera membanjiri tanah disana.

Xie Lian tidak pernah mengharapkan hal-hal untuk berkembang seperti ini dan sudah benar-benar terpana dengan apa yang dilihatnya saat itu, dan yang bisa dia lakukan hanya terbaring lemas di ranjang batu disana.

Hua Cheng, dia benar-benar menebas Feng Xin dan Mu Qing di bagian pinggang!

Keduanya belum mati sepenuhnya, dan mereka berguling-guling di tanah, yang satu menggertakkan giginya dan yang lain berteriak dengan marah, pemandangan yang terlalu tragis untuk dilihat. Ekspresi Hua Cheng tampak begitu dingin ketika dia menyarungkan pedang miliknya, hanya sebagian kecil dari wajahnya terlihat dengan sedikit darah, semburat merah yang cocok dengan aura kejahatan di antara kedua alisnya, membuatnya tampak lebih mencolok.

Dia berdiri di genangan darah itu sejenak, lalu dia melihat ke belakang dan berjalan menuju Xie Lian. Xie Lian menyaksikan dengan mata terbuka lebar ketika Hua Cheng berjalan mendekatinya dengan ekspresi suram, dan baru saat itulah Xie Lian melompat keluar. Pada saat itu Hua Cheng telah berjalan mendekat ke sisinya dan memegang salah satu tangannya, menariknya ke atas dan menekannya dengan kuat ke dalam pelukannya sendiri, berbisik, “… Bagaimana mungkin aku bisa melepaskannya.”

Xie Lian terbungkus erat di dalam lengannya, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, dan Hua Cheng membisikkan sesuatu di telinganya. Jantungnya berdebar kencang, seperti jantungnya akan melompat keluar dari dadanya, dan tiba-tiba dia merasakan tubuhnya mengendur.

Jimat Komando yang dipasang oleh Mu Qing dan menempel di punggungnya akhirnya berhasil dilepaskan.

Meskipun Hua Cheng mengatakan dia tidak akan melepaskannya, setelah dia melepaskan Xie Lian dari Jimat Komando itu, Hua Cheng masih sedikit melonggarkan cengkeramannya dan membiarkan Xie Lian pergi. Xie Lian menarik napas dalam-dalam, melompat berdiri, dan menyerbu ke genangan darah di tanah, “Feng Xin? Mu Qing? Apakah kalian berdua baik-baik saja?!”

Luka yang ada di tubuh Mu Qing tampak lebih besar, dan sudut bibirnya mengalir aliran darah yang tidak kunjung berhenti, cahaya di matanya memudar. Feng Xin masih memiliki embusan napas yang tersisa, dan dia memegang erat-erat tangan Xie Lian, “Yang Mulia …”

Xie Lian memegang balik tangannya, “Apa? Apa yang ingin kamu katakan?”

Feng Xin menelan seteguk darah dan menggerutu, “Berhati-hatilah … dengan Hua Cheng … Jangan mendekatinya … Dia … adalah monster!”

Dia tampak seperti menghabiskan semua yang tersisa dari dirinya ketika dia mengucapkan peringatan ini sebelum kematiannya, namun tanpa terduga, ekspresi wajah Xie Lian berangsur-angsur kembali tenang, “Monster?”

Dia melepaskan tangan Feng Xin dan bangkit, “Aku ingin tahu. Apa dia lebih menyerupai sesosok monster dari kalian berdua?”

Mendengar ini, Feng Xin terkejut. Namun tepat setelah kata-kata itu diucapkan, Xie Lian menarik Fang Xin dalam sekejap dan menembus jantung Feng Xin, memakukannya mati ke tanah!

Mendapatkan serangan itu, Feng Xin penuh dengan ketidakpercayaan, “Yang Mulia, Kamu! …” Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, napasnya benar-benar berhenti. Xie Lian kemudian menarik Fang Xin keluar dari jantungnya, mengocoknya bersih dari darah, sebelum mundur ke sisi Hua Cheng, ujung pedangnya menunjuk ke mayat kedua di tanah, “Karena darah telah tumpah, tidak perlu lagi untuk terus berbicara melalui kulit itu, bukan?”

“Ha ha ha…”

Tawa dingin tiba-tiba datang dari tanah. Mu Qing, yang tubuhnya diiris setengah di pinggang, memutar lehernya dan tawa datang dari mulutnya.

Setengah bagian atas tubuhnya tergeletak di tanah, dan bahkan jika dia ingin menoleh, paling tidak separuh wajahnya akan menempel ke tanah. Namun, kepala ini benar-benar berbalik dan jatuh dari tanah, tertawa menuju Xie Lian!

Seperti yang diduga. Mereka berdua bukanlah Feng Xin dan Mu Qing yang sebenarnya, melainkan dua penipu yang datang entah dari mana.

Feng Xin dan Mu Qing yang sebenarnya masih terperangkap dalam kepompong putih raksasa dan masih mencoba untuk menggerogotinya untuk membebaskan diri. Ketika Hua Cheng membantu Xie Lian melepaskan Jimat Komando sebelumnya, inilah yang dia bisikkan.

Wajah mereka pucat bukan karena mereka terkejut atau ngeri, tetapi karena mereka bukan manusia!

Xie Lian sudah mengayunkan pedangnya, dan ‘Feng Xin’ dan ‘Mu Qing’ keduanya tersenyum dingin, berbicara bersama-sama, “Seperti yang kamu inginkan.”

Kemudian, mereka melebur menjadi dua genangan sesuatu yang menyerupai darah yang begitu kental. Hua Cheng bergerak untuk melindunginya dan berdiri tepat di depan Xie Lian, dan kedua genangan darah kental itu mengalir dan membeku, membentuk sebuah gelembung-gelembung, menggelembung seperti mereka mendidih, dan segera terbentuk menjadi bentuk seorang pria. Menyaksikan bola entah apa itu yang memutarbalikkan dirinya untuk membentuk suatu wujud sedikit demi sedikit, serangkaian rasa dingin naik ke tulang punggung Xie Lian dari pinggangn menuju lehernya.

Segera setelah itu, sebelum ‘Feng Xin’ dan ‘Mu Qing’ menghilang, apa yang menggantikan mereka adalah seorang pemuda tinggi, ramping dan berpakaian putih.

Dilihat dari bentuknya, pemuda ini tampak berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, dan dia tampak mengenakan sebuah topeng, setengah menangis dan setengah tersenyum. Sementara wajahnya tidak bisa dilihat, suara pemuda yang renyah dan cerah datang dari balik topengnya.

Dia berkata dengan hangat, “Bagaimana kabarmu, Xie Lian.”

Bibir Xie Lian berkedut tanpa sadar, pikirannya mati rasa. Hua Cheng, yang melindungi di depannya, mengangkat pedangnya dan menerjang ke arah pemuda itu!

Terhadap ketajaman jahat dari pedang E-Ming, pria berpakaian putih itu benar-benar tidak takut sama sekali, dan dia menghindar, bilah itu hilang dan sama sekali tidak mengenainya hanya dengan jarak beberapa milimeter. Kemudian, dalam satu tarikan napas pada detik berikutnya, dia melintas di belakang Hua Cheng, tangannya terulur, meraih Xie Lian, seolah-olah dia ingin menyentuh wajahnya. Sebuah cahaya perak melesat, dan Hua Cheng memblokirnya, melindungi Xie Lian dengan berdiri di depannya sekali lagi, suaranya terdengar begitu dingin, “Gerakkan tanganmu yang kotor.”

Hua Cheng benar-benar mengembalikan kalimat yang sama kepadanya. Tangan kanan pria berpakaian putih itu dipotong oleh E-Ming dan jatuh ke tanah. Namun, itu tidak sedikitpun mempengaruhi dirinya, dan dia mengguncangkan lengan itu, menyembunyikan anggota tubuhnya yang patah, lalu, mengocok lengan itu kembali, sebuah tangan baru tumbuh dari tempat luka itu berada. Jari-jarinya menegang menjadi cakar dan langsung menuju mata kanan Hua Cheng!

Seluruh proses itu hanya membutuhkan waktu satu detik. Hua Cheng juga menghindar dengan cepat, namun, dua goresan berdarah tampat tertinggal di salah satu sisi pipinya.

Ini adalah pertama kalinya Hua Cheng tidak bisa mengalahkan kecepatan orang lain. Matanya berubah tajam dan mengubah taktik saat itu juga, memanggil jutaan kupu-kupu hantu dan mereka menerjang pria itu seperti orang gila. Segudang kupu-kupu membungkus pria berpakaian putih itu menjadi kepompong berbentuk manusia perak, berkilauan, tapi itu mungkin tidak akan bertahan lama. Hua Cheng hendak meraih Xie Lian ketika kupu-kupu perak itu menjerit, meledak menjadi jutaan bubuk perak yang gemerlap!

Melihat perubahan wajah Hua Cheng, Xie Lian tahu bahwa segala sesuatunya tidak berjalan baik, setelah begitu banyak kupu-kupu hantu yang hancur sekaligus. Pria berpakaian putih yang menghancurkan kupu-kupu hantu itu bersembunyi di balik bubuk perak yang berhamburan dengan begitu acak di udara, dan dia menyerang dengan tangannya yang baru saja tumbuh sebelumnya, terulur dan mengarah langsung ke mata kanan Hua Cheng sekali lagi!

Kali ini, giliran Xie Lian yang beringsut untuk menarik Fang Xin, dan dia jatuh! Serangannya tidak hanya memotong seluruh lengan pria berpakaian putih itu, serangannya juga praktis memotong setengah dari tubuhnya. Menggunakan kesempatan ini, Hua Cheng berseru, “Yang Mulia, ayo pergi!”

Xie Lian juga tahu mereka seharusnya tidak tetap bertarung, jadi dia kemudian mundur dan keduanya bergegas keluar dari gua itu bersama-sama, berlari menuruni terowongan gelap tanpa hambatan di jalan yang mereka lalui. Xie Lian berseru saat dia berlari, “Itu adalah dia! Dia … benar-benar tidak mati!”

Hua Cheng adalah yang memimpin dalam pelarian mereka saat itu, kecepatannya lebih cepat tetapi jauh lebih nyaman, dan menyiapkan formasi kupu-kupu dan sutra di sepanjang jalan, menciptakan sebuah rintangan berat baginya, “Itu mungkin bukan yang asli.”

Xie Lian tiba-tiba berhenti dan memeluk kepalanya sendiri, “Tidak… aku bisa merasakannya. Itu pasti yang asli! Tidak hanya dia tidak mati, dia bahkan menjadi lebih kuat. Sesuatu membuatnya terlahir kembali … kalau tidak, bagaimana mungkin Ia bisa berubah dan menyamar menjadi Feng Xin dan Mu Qing dengan begitu mudah? Sangat sulit untuk menyamar sebagai pejabat surgawi, seharusnya hampir mustahil untuk membuat kulit palsu dengan tubuh mereka!”

Mendengar nada suaranya yang serba salah, Hua Cheng juga berhenti dan berbalik untuk memegang tangannya, “Yang Mulia! Jangan takut. Mungkin bukan karena dia menjadi lebih kuat. Ada kemungkinan lain, dan itu mungkin karena dia sangat akrab dengan Feng Xin dan Mu Qing! Itu sebabnya dia bisa membuat kulit palsu mereka. Ini pasti seseorang, kalian semua … “

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, tatapan Xie Lian telah jatuh ke tangan yang memegang tangannya sendiri. Melihat ini, suara dan ekspresi Hua Cheng membeku. Dia memucat, menarik tangannya, menyelipkannya ke belakang, dan berbalik untuk melanjutkan berlari. Namun Xie Lian, tidak mengikutinya. “San Lang.” Dia memanggil.

Tubuh Hua Cheng menegang dan dia menghentikan langkahnya, tetapi dia sama sekali tidak menoleh ke belakang dan hanya menyahut, “Yang Mulia.”

Suaranya terdengar seperti dia cukup tenang. Xie Lian berdiri di belakangnya dan berkata, “Banyak hal sudah terjadi sampai sekarang, dan semua orang merasa begitu bingung dan kacau.”

“En.” Hua Cheng menjawab.

Xie Lian melanjutkan, “Meskipun untuk saat ini kita semua masih agak kacau, tapi, aku masih ingin mengambil kesempatan ini untuk mengajukan pertanyaan kepadamu, dan aku harap kamu akan menjawabku dengan jujur ​​dan serius.”

“…”

“Baiklah.” Kata Hua Cheng.

Xie Lian bertanya dengan sungguh-sungguh, “Siapa sebenarnya ‘seseorang yang mulia, ramah, dan istimewa’ itu?”

Tangan Hua Cheng yang diikat dengan simpul merah penuh afinitas berkedut beberapa kali tanpa disadarinya.

Dia terdiam beberapa saat sebelum perlahan menjawab, “Jika Yang Mulia sudah tahu, lalu mengapa bertanya.”

Xie Lian mengangguk, “Begitu. Jadi aku tidak salah paham denganmu. Itu benar.”

Hua Cheng tidak berbicara.

Setelah jeda, Xie Lian bertanya, suaranya terdengar datar, “Kamu … tidak ingin tahu … bagaimana perasaanku tentang ini?”

“…”

Hua Cheng memalingkan kepalanya sedikit seperti dia ingin melihat ke belakang, tetapi pada saat yang sama, takut untuk melihat Xie Lian tepat di matanya, jadi hanya dua garis darah yang berada di pipinya yang bisa dilihat, “Bisakah Yang Mulia … mungkin sebaiknya tidak mengatakannya padaku?”

Bahkan suaranya terdengar pecah. Xie Lian berkata, “Maafkan aku. Sesuatu seperti ini harus dikatakan dengan jelas.”

Hua Cheng tidak perlu bernapas, tetapi ketika mendengar ini, dia masih menarik napas dalam-dalam.

Meskipun wajahnya pucat, dia masih tersenyum dan menjawab dengan sopan, “Itu benar. Itu yang terbaik.”

Dia seperti seorang penjahat hukuman mati yang tengah menunggu hukumannya untuk dijatuhkan dan dia menutup kedua matanya. Namun tiba-tiba, matanya tidak tertutup terlalu lama sebelum mereka tiba-tiba berkedip terbuka.

Sepasang lengan melingkari tubuhnya dari belakang, memeluknya dengan begitu tiba-tiba.

Xie Lian telah membenamkan wajahnya di punggungnya dan dia juga sama sekali tidak berbicara. Meskipun tidak ada yang dia katakan, tapi, itu sudah cukup.

Itu adalah saat yang baik sebelum Xie Lian merasakan orang yang dipeluknya berbalik, mengembalikan pegangannya, dan menelannya dalam sebuah pelukan erat.

Dia mendengar suara mengejutkan Hua Cheng datang dari atas, “… Yang Mulia. Kamu benar-benar … akan menjadi kematianku.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments