Penerjemah : Jeffery Liu


Ratusan jimat pelindung dan tumpukan batu besar tidak bisa menghentikannya sama sekali!

Feng Xin dan Mu Qing keduanya bereaksi dengan cepat; Feng Xin menembakkan panahnya satu demi satu sementara Mu Qing mengayunkan zanbato-nya, mengirimkan serangan udara ke arahnya, lalu meraih Xie Lian dan berlari. Feng Xin kemudian menggunakan trik yang sama dan memukul batu dengan liar sambil berteriak, “APA-APAAN INI! BAGAIMANA DIA BISA MENEMUKAN KITA DENGAN BEGITU CEPAT?”

“Bagaimana aku tahu??” Mu Qing balas berteriak, “… Benang merah! Benang merah itu! Jarinya masih terikat dengan benang merah itu!!”

Ketika fajar menyingsing dan sinarnya mengenai mereka, mereka berdua berbalik untuk merebut tangan Xie Lian. Seolah-olah Xie Lian akan membiarkan mereka melakukannya begitu saja. Tangannya yang lain kemudian terulur dan menggenggam dengan erat untuk melindungi tangannya yang masih terikat dengan simpul merah dan berseru, “KAMU TIDAK BISA!”

Feng Xin berseru, “Yang Mulia, jika kamu masih terikat dengan benang merah ini, dia akan menemukan kita. Jika kamu tidak ingin dia mengejar kita maka benda itu harus dilepaskan!”

Namun, Xie Lian masih dengan keras kepala berpegangan pada tangannya sendiri dan berkata, “Bahkan jika dia mengejar kita, aku tidak takut? Aku … ingin bertanya kepadanya tentang hal ini secara langsung.”

Mata Mu Qing melebar, “Kamu masih mau bicara dengannya? Aku pikir dia harus melahap dirimu sepenuhnya agar kamu bisa benar-benar mengerti betapa kuatnya dia.”

“Tapi aku sudah tahu jika dia kuat.” Xie Lian membalas, “Kalian tidak akan memberitahuku apa yang ada pada mural itu dan kamu tidak akan membiarkanku mendekatinya. Kalian tidak dapat meyakinkanku bahkan tentang hal seperti ini.”

“Dia adalah raja iblis, perilakunya sama sekali tidak normal. Biasanya seseorang akan langsung menjauh hanya dengan dua poin ini tanpa perlu siapa pun untuk meyakinkan mereka akan apa pun!”

Xie Lian mengulurkan dua jarinya sendiri, “Dua pilihan: apakah kamu membiarkan aku kembali dan memintanya untuk menjelaskan, atau kamu membiarkan aku kembali untuk melihat mural itu.”

Feng Xin dan Mu Qing tampaknya telah mengingat sesuatu yang menakutkan, dan satu bibir dari mereka tampak berkedut sementara alis yang lain tidak bisa berkerut lebih dalam lagi, dan mereka berdua menghalangi di depan tubuh Xie Lian, berteriak pada saat yang sama, “KAMI TIDAK AKAN MENGIZINKAN KEDUANYA!”

Mendengarnya, Xie Lian kemudian menyingsingkan lengan bajunya dan berkata, “Karena kalian berdua mengatakan tidak, maka mari kita selesaikan ini dengan tinju kita! Siapa yang pertama akan menyerangku? Atau apakah kalian berdua akan menyerangku secara bersama-sama?”

Mu Qing menoleh ke arah Feng Xin, “Kamu duluan!” Lalu dia mundur ke samping. Feng Xin tampak seperti dia tidak terlalu yakin apakah dia bisa menang melawan Xie Lian, tetapi untuk menyelamatkan jiwa seorang pemuda ini, dia akan memberikan yang terbaik, jadi dia mencengkeram busurnya dan berteriak, “BAIKLAH! Yang Mulia, maafkan penghinaan yang akan aku lakukan padamu!”

Xie Lian membalas, “Ma …” Namun tiba-tiba, bahkan sebelum dia menyelesaikan acara pembukaan awal pertarungan mereka, sesuatu yang panas mengetuk punggungnya, dan seseorang di belakangnya berteriak, “DIAM, JANGAN BERBICARA!” Dan seluruh tubuhnya membeku seperti sebuah papan besi.

Bukan hanya itu, dia bahkan tidak bisa membuat suara sekecil apapun!

Mu Qing keluar dari belakang tubuh Xie Lian dan berkata kepada Feng Xin, “Ayo seret dia pergi. Jimat ini dapat menangguhkannya untuk sementara, tetapi itu tidak akan bertahan terlalu lama.”

Feng Xin sedikit tercengang, “Mengapa kamu menahannya? Bukankah kita sepakat untuk bertarung satu lawan satu?”

Xie Lian tidak membayangkan bahwa Mu Qing akan segera kembali pada kata-katanya sebelumnya. Jika bukan karena dia sepenuhnya memercayai kedua bawahannya di masa lalu ini, dia juga tidak akan tertipu dengan mudah.

“Siapa yang mungkin memiliki waktu untuk melakukan pertarungan satu lawan satu sekarang?” Mu Qing berkata, “Dia sengaja melakukannya. Sangat mudah untuk melihat jika dia mencoba membuang-buang waktu agar Hua Cheng bisa mengejar kita. Apakah kamu tidak melihat keadaannya sekarang? Dia sudah benar-benar tergila-gila dengannya! Tidak peduli apa yang kamu katakan padanya, semuanya percuma dan tidak ada yang akan terjadi. Mungkin begitu mereka bertemu, Hua Cheng hanya perlu memberinya humor dengan beberapa kata manis dan dia akan mempercayainya, seperti seseorang yang dengan mudah jatuh pada pesona roh rubah1.”

Feng Xin merenung dan merasakan apa yang dikatakan Mu Qing masuk akal dan yang bisa dia lakukan hanya menghela napas, “Yang Mulia, ini bukan berarti kami bermaksud menipumu dengan sengaja, tetapi bagaimana dia bersikap kepadamu benar-benar … tidak pantas. Aku benar-benar tidak bisa mengatakannya dengan lantang! Silakan ikut kami.”

“Ayo pergi.” Kata Mu Qing setelahnya.

Kata-kata Mu Qing sama sekali bukanlah saran ataupun permohonan, tetapi sebuah perintah. Apa yang ditamparnya di punggung Xie Lian sebelumnya pastilah adalah sebuah jimat mantra yang dia gunakan untuk memerintah yang diambil dengan darahnya. Jimat Memerintah dapat membuat target mematuhi perintah kastor, tetapi sebenarnya, itu hanya bisa mewujudkan perintah sederhana seperti “jangan bicara”, “berjalan”, “berhenti”, “lari”, dan perintah sederhana lainnya. Perintah yang lebih rumit akan semakin sulit untuk dilakukan, dan jimat ini juga tidak bisa membingungkan pikiran seseorang. Hanya iblis kuat seperti Brokat Abadi yang bisa melakukan hal seperti itu.

Keduanya dan Xie Lian yang berjalan dengan kecepatan yang konstan di belakang mereka tiba-tiba dihentikan oleh tumpukan puing yang menghalangi jalan. Feng Xin melihat jalan yang mereka lalui terputus dan bertanya-tanya, “Mengapa ada bebatuan di sini yang menghalangi jalan? Mengapa kita melewati jalan ini lagi?”

“Bukankah kamu yang merobohkan batu-batu itu? Mengapa kamu bertanya kepadaku?” Kata Mu Qing.

Feng Xin bertanya, “Kamulah yang memimpin, jadi kamulah yang mengacaukan semuanya. Jika kita telah melewati jalan ini sebelumnya, mengapa kita kembali ke tempat ini?”

Mu Qing menolak untuk ditanyai, “Lelucon macam apa ini, aku sama sekali tidak tahu jalan di tempat ini, bagaimana mungkin aku bisa memimpin? Bukankah kita hanya berlari tanpa arah sebelumnya?”

Ini tampak seperti mereka berdua hendak memulai pertengkaran yang lain, dan Feng Xin melambaikan tangannya, “Tidak apa-apa, aku tidak punya waktu untuk membuang napasku untuk berdebat denganmu. Mari kita gali ini!”

Hua Cheng mengejar mereka dari belakang, jadi mereka hanya bisa bergerak maju. Mundur bukanlah suatu pilihan, jika tidak, mereka akan bertemu satu sama lain. Memblokir jalan adalah hal yang mudah, tetapi menggali dan membuat sebuah jalan itu jauh lebih sulit. Keduanya membuat Xie Lian berdiri dengan patuh di sudut sementara Feng Xin meninju secara acak dan Mu Qing, menggerakkan nadi di dahinya, mengayunkan zanbato-nya dengan gerakan yang sangat mengesankan, dan itu adalah waktu yang singkat sebelum pada akhirnya jalan itu berhasil mereka gali. Puing-puing bebatuan berguling dan debu menyelimuti wilayah itu. Mereka baru saja akan memanggil Xie Lian ketika tiba-tiba, setelah semua debu disana mulai menghilang, yang berdiri di depan mereka adalah sosok berpakaian merah. Mata Xie Lian langsung menyala. Itu adalah Hua Cheng!

Matanya tampak begitu dingin dan dia berdiri dengan tangan yang Ia letakkan di belakang tubuhnya, diam dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Feng Xin berkata di tempatnya berdiri saat itu, “MENGAPA KAMU ENGGAN UNTUK MENJAUH?!”

Dia benar-benar definisi dari ketekunan yang sejati. Dia jelas telah tertinggal dengan embusan debu di belakang mereka sebelumnya, jadi bagaimana mungkin dia tiba-tiba muncul di depan mereka pada detik berikutnya??? Dan siapa yang tahu sudah berapa lama dia berdiri di sana, menunggu tanpa suara ketika mereka membersihkan rintangan yang menghalangi jalan mereka untuk kemudian dengan tiba-tiba memunculkan dirinya disana. Tidakkah sikapnya ini terlalu gigih dan menyeramkan?

Feng Xin dan Mu Qing detik berikutnya mundur sejauh yang mereka bisa dalam satu gerakan. Hua Cheng tidak melihat mereka. Matanya bergerak ke samping dan mengambil langkah ke arah Xie Lian. Feng Xin dan Mu Qing menyadari untuk siapa dia berada di sini, dan langsung melintas ke sisi Xie Lian untuk menghalanginya, keduanya berteriak bersama, “JANGAN MENDEKAT!”

Wajah Hua Cheng tampak sangat gelap.

Biasanya, jika ada orang yang mengatakan kepada Hujan Darah Mencapai Bunga untuk tidak pergi, dia tidak akan memperdulikannya, dan akan lebih aneh jika dia tidak tertawa dan tetap pergi. Namun, kali ini, seolah-olah dia benar-benar waspada, dan tidak berani bergerak secara sembarangan, detik berikutnya dia menghentikan langkahnya.

Setelah beberapa saat, dia akhirnya angkat bicara, kata-katanya terdengar begitu lambat, “Apa yang kalian maksud dengan semua ini.”

Dengan nada bicaranya saat ini, ia terdengar cukup tenang. Namun, Feng Xin disisi lain jauh lebih tenang, “Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, kami tahu ini adalah sarang lama milikmu. Kami telah melihat semua patung-patung ilahi itu, dan lukisan-lukisan itu, kami telah melihat segalanya!”

Hua Cheng tidak menghadap mereka secara langsung, berdiri menyamping, dan mendengarkannya dengan saksama, tangan yang berada di belakang tubuhnya tampak tersentak, dua jarinya melengkung kaku.

“…”

Dia memiringkan kepalanya dan bertanya dengan lembut, “Yang Mulia, juga melihatnya?”

Suaranya sangat, sangat rendah, dan meskipun suaranya terdengar masih tidak terganggu, suaranya sedikit pecah, jelas terdengar begitu kosong. Di dalam hatinya Xie Lian berteriak, ‘Tidak!’

Sejujurnya, dia tidak melihat banyak, tapi, Xie Lian tidak bisa bergerak atau berbicara saat ini, dan hanya bisa bersandar dengan patuh pada dinding batu di sudut, tampak seperti dia bersembunyi di balik dua lainnya, takut menghadapi Hua Cheng dan menolak untuk berbicara dengannya. Feng Xin menarik busurnya, “Itu benar. Kami sekarang sudah mengerti apa … niat … yang kamu miliki. Sehubungan denganmu sebagai raja iblis, jika kamu masih memiliki harga diri, tolong jangan mendekati Yang Mulia lagi.”

Pada saat ini, perasaan Xie Lian seperti pondok yang terbakar, asap hitam tebal dan lebat menguar dari tubuhnya. Hua Cheng seharusnya memperhatikan ada sesuatu yang salah dengannya, dan Xie Lian hanya bisa berharap jika Hua Cheng akan bertanya padanya dan memperhatikannya. Tetapi, Hua Cheng tampaknya tidak ada dalam pikiran untuk memperhatikan apa pun dan hanya berkata dengan dingin, “Jangan mendekatinya? Dan apa hak dan posisi yang kalian berdua miliki dengan begitu berani mengatakan hal itu kepadaku?”

Tanpa menunggu tanggapan mereka, mata Hua Cheng berkelebat dan tampak lebih berbahaya, “Tapi kalian berdua telah mengingatkanku bahwa kita masih memiliki urusan yang belum kita selesaikan!”

Saat dia mengucapkan kata-kata itu, kupu-kupu perak yang tak terhitung jumlahnya melesat ke arah mereka berdua, menjerit.

Menghadapi serangan yang begitu tiba-tiba seperti badai ini, satu-satunya pilihan yang mereka miliki adalah menggunakan perisai spiritual. Feng Xin dan Mu Qing keduanya berteriak, “LINDUNGI!”

Banjir kupu-kupu itu dihalangi oleh perisai spiritual tanpa bentuk, dan hancur menjadi cahaya perak berkilauan di udara, lalu mereka dengan cepat direkristalisasi menjadi kupu-kupu perak baru, dan menyerang sekali lagi, benar-benar tak terhentikan. Mereka mundur saat mereka ditahan, dan Hua Cheng terus bergerak maju selangkah demi selangkah. Angin puyuh yang diangkat oleh aura spiritualnya menggerakkan rambut hitam gagaknya dan rambutnya tampak menari-nari dengan begitu liar karena embusan angin itu; dan di bawah cahaya menyilaukan dari kupu-kupu perak, amarah dan kekerasan yang menggila di matanya benar-benar terbuka. Untuk terus melindungi seperti ini terlalu pasif, Feng Xin dan Mu Qing kemudian bertukar pandang, setuju untuk menyerang secara langsung, dan mereka memegang perisai spiritual saat mereka menyerang, masing-masing menyodorkan senjata mereka sendiri. Ketiganya kemudian mulai bertarung di koridor batu sempit ini. Feng Xin menyerang kupu-kupu iblis disana sementara Mu Qing menghadapi Hua Cheng. Hua Cheng mengulurkan tangan dan pedang E-Ming muncul di tangan kirinya, siap untuk melakukan serangan balik!

Ini adalah pertama kalinya Xie Lian menyaksikan pertarungan serius yang dilakukan oleh E-Ming. Pedang itu tampak begitu panjang dan ramping, pembunuh yang mengerikan, cahaya peraknya mengancam – Itu memang, benar-benar pedang jahat yang dipenuhi dengan kejahatan!

Pertempuran ini benar-benar mengasyikkan; Hua Cheng berdiri disana satu lawan dua, dan Xie Lian menyaksikan pertarungan mereka tanpa berkedip sambil menahan napas, dan segera, ujung pisau E-Ming menghentakkan dan mengirum zanbato Mu Qing terbang dan menikam ke arah bebatuan disana. Meskipun Mu Qing masih memiliki gagang pedang itu di genggamannya, dia tidak bisa mengeluarkan senjatanya. Di saat keterkejutannya itu, Hua Cheng sudah mengayunkan tinjunya dan meninju tepat di rahangnya, membuat seluruh tubuhnya terbang di udara, gagang pedangnya pada akhirnya terlepas dari cengkeramannya. Di ujung yang lain, masing-masing panah dari panah Feng Xin tersentak oleh sayap tajam kupu-kupu iblis, dan pada akhirnya jumlahnya terlalu banyak dan sangat sulit untuk ditangani!

Kemenangan dan kekalahan antara mereka bertiga sudah sangat jelas pada titik ini, dan dari sudut, sutra putih yang tak terhitung jumlahnya merayap keluar, dan membungkus mereka berdua menjadi dua kepompong raksasa sekali lagi; semakin mereka berjuang, semakin erat ikatannya, dan Mu Qing merobek sutera itu ketika dia berteriak, “AKU TAHU JIKA YANG MENGIRIM KAMI KE LUBANG ITU ADALAH KAU!”

Feng Xin berseru, “Ini bukan sutra laba-laba! Ini adalah…!”

Untuk sesaat Xie Lian menyadarinya. Itu adalah sutra kupu-kupu!

Sebelum kepompong terbuka untuk kemunculan kupu-kupu setelahnya, sebuah pupa terbentuk. Sutra putih aneh seperti sutra laba-laba itu benar-benar buatan Hua Cheng, dan mungkin terkait dengan kupu-kupu iblis miliknya yang sangat agresif!

Dengan diputuskannya pertandingan mereka, Hua Cheng menarik pedangnya dan mengejek, “Aku melemparmu untuk menyelamatkanmu dari bencana. Sebelumnya, jika bukan karena teriakan nyaringmu yang menyebabkan longsoran salju, tidak akan ada kemungkinan bagimu memasuki Gua Sepuluh Ribu Dewa ini. Mengapa kamu tidak berterima kasih kepadaku karena sudah menyelamatkan nyawa kecilmu yang lemah itu?”

Rencana awal Hua Cheng mungkin sedang menunggu longsoran salju, dan begitu gunung bersalju itu berhenti, dia berniat untuk membawa Xie Lian keluar, meninggalkan Feng Xin dan Mu Qing di belakang dengan urusan mereka sendiri. Namun tanpa disangka-sangka, keduanya telah menggerogoti kepompong dan membuat keributan, membuat Xie Lian menemukan mereka, yang akibatnya menyebabkan semua insiden terjadi sampai sejauh ini setelahnya. Jika bukan karena semua itu, Xie Lian mungkin benar-benar hanya mengikuti Hua Cheng langsung tanpa melihat satu pun patung ilahi di gua ini.

Namun sekarang, segalanya telah berevolusi menjadi skenario terburuk. Setiap rahasia ditarik keluar dan diekspos di bawah sinar matahari.

Jantung Xie Lian gelisah tetapi tubuhnya masih duduk dengan patuh di tempat yang sama. Rasa dingin di mata Hua Cheng semakin berat, dan dia memandang rendah ke arah Mu Qing dari atas, menegaskan dengan suara ringan, “Sepertinya, orang yang memiliki bakat pedang adalah aku. Bukan kamu.”

Tenggorokan Mu Qing diikat oleh beberapa pita sutra putih, wajahnya berganti-ganti antara biru dan merah dari mencekik, sudut bibirnya mulai mengeluarkan busa, dan dia tersedak, “Kamu! … kamu…? Aku mengerti, aku mengerti … “

Feng Xin juga menggertakkan giginya, “… Apa … yang kamu mengerti?”

Mu Qing berkata, “Aku mengerti … kenapa bajingan ini sangat membenciku sekarang … itu mungkin alasan yang sama untukmu!”

“A … uhuk, alasan macam apa?” Tuntut Feng Xin.

Mu Qing berkata dengan penuh kebencian, “Karena dia gila! Apakah kamu lupa apa yang ada di mural itu? Dia itu … prajurit muda yang ingin dipromosikan oleh Yang Mulia setelah kembali dari Bukit BeiZi. Yang Mulia mengatakan, cara dia menggunakan pedang sangat bagus, sangat cocok untuk menggunakan saber … uhuk, uhuk.”

“Apa hubungannya dengan kebencian yang dia miliki untukmu??” Feng Xin bertanya.

Namun, Mu Qing berhenti berbicara. BAM! Pukulan Hua Cheng mendarat di wajahnya, dan dia tersenyum dingin, menjawab untuknya, “Karena, dia mengusirku dari pasukan.”

Mu Qing telah melakukan sesuatu seperti itu?!

Feng Xin tampak heran, “… APA-APAAN INI?! MENGAPA KAMU MENGUSIRNYA DARI PASUKAN? APAKAH DIA MENGGANGGUMU??”

Mu Qing menjawab, wajahnya tampak berlumuran darah, “Aku hanya membuatnya pulang, tidak seperti berperang adalah hal yang baik! Bagaimana aku bisa tahu jika dia akan berakhir gila, menyimpan dendam itu sampai sekarang! … “

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, pukulan kuat lainnya dengan seketika kembali menyerangnya, BAM!, dan wajahnya hampir berkerut. Hua Cheng tersenyum, “Kaupikir aku tidak bisa menebak mengapa kau mengusirku saat itu? Hm?”

Mendengarnya, mata Mu Qing melotot. Hua Cheng lalu mencibir, “Bukankah sudah jelas sekarang siapa sampah yang tidak berguna itu?”

“…”

Seolah-olah Mu Qing ditikam di tempat yang sakit, dia memuntahkan seteguk darah, lalu dia berkata perlahan dengan kedengkian yang tercermin dalam nada bicaranya, “Aku bersyukur sudah mengusirmu saat itu, kalau tidak, jika kita menahanmu untuk tetap berada di pasukan dan membiarkanmu lebih dekat dengan Yang Mulia, apakah kamu hanya akan mengawasinya sepanjang hari dengan pikiranmu yang penuh dengan kekotoran yang tak terkatakan itu? Menjijikkan!”

Jantung Xie Lian berdetak kencang. Pada baris terakhir kalimat yang dilontarkan Mu Qing, Hua Cheng sudah mengangkat tinjunya, tetapi ketika kata ‘menjijikkan’ dikeluarkan dari mulutnya, tangannya yang berada di udara membeku, dan urat-urat muncul di belakang tangan pucat itu. Jari-jarinya yang mengepal tampak mengendur, mengendur kemudian kembali mengepal.

Sesaat kemudian, Hua Cheng berkata dengan dingin, “Aku tidak akan berdebat denganmu tentang itu untuk saat ini. Katakan padaku sekarang, jujur, apakah yang kalian berdua teriakan sebelum longsoran salju itu benar?”

Mata Mu Qing tiba-tiba melebar dan dia melihat ke arah Feng Xin. Feng Xin juga melihat ke arah mereka, matanya bulat dan menonjol.

Tak satu pun dari mereka yang tahu bagaimana menanggapi pertanyaan itu. Hua Cheng berkata dengan tajam, “Kesabaranku terbatas. Jawab aku pada hitungan ketiga. Satu! Dua!”

Dia benar-benar akan bertindak dan menyerang mereka! Saat itu, Mu Qing memikirkan sebuah ide di tengah kepanikannya dan dia berteriak, “YANG MULIA, LARI!!!”

Saat perintah itu keluar, Xie Lian, yang punggungnya terdapat sebuah jimat darah, langsung menanggapi perintahnya dan bergerak untuk melarikan diri. Hua Cheng segera berbalik, dan dari sudut, dua pita sutra putih keluar, mengikat Xie Lian dengan paksa, dan sebelum dia bahkan mengambil lebih dari dua langkah, dia jatuh ke tanah.

Dalam situasi ini, sepertinya dia benar-benar sangat terguncang sepanjang waktu ini, atau mengalami kesulitan menerima kebenaran, atau enggan untuk menahan pertarungan apapun, berdiri di sana dalam keadaan linglung dan akhirnya memutuskan untuk melarikan diri tetapi tidak berhasil. Tetapi pada kenyataannya, dia tidak pernah berpikir untuk melarikan diri sama sekali!

Kedua tangan dan kaki Xie Lian terikat erat oleh sutra putih yang tebal, dan dia berbaring telentang di tanah, rambut hitam dan lengan putihnya tersebar di seluruh tanah, topi bambu miliknya berguling ke samping. Hua Cheng berbalik perlahan, dan setelah jeda yang lama, dia berjalan ke arahnya. Dia tidak mengambil lebih dari beberapa langkah sebelum Feng Xin tidak bisa menahan diri dan berteriak, “HUA CHENG!”

Hua Cheng menghentikan langkahnya dan sedikit memutar kepalanya.

Feng Xin memaksa dirinya untuk memohon, “Biarkan … Biarkan Yang Mulia pergi! Dia sudah cukup menderita. Jangan, untuknya … “

Hua Cheng sama sekali tidak berbicara. Dia mendekat dan berdiri di sisi Xie Lian, meletakkan tangannya di belakang lutut dan punggung Xie Lian dan menyapukannya, mengamankan Xie Lian dalam gendongannya.

Xie Lian bersandar di lengannya dan bisa melihat di balik ekspresi dua kepompong putih raksasa itu. Feng Xin tampak seperti sedang menyaksikan seekor domba yang tengah memasuki mulut seekor harimau, seperti Xie Lian yang akan dicabik-cabik dan dimakan, dan dia mulai berteriak. Mu Qing mulai mencoba menggunakan giginya untuk menggigit sutra putih yang menahannya lagi, tetapi karena sudut sutera itu begitu keras, itu semua sama sekali tidak berhasil. Hua Cheng sangat mengetahui jalur Gua Sepuluh Ribu Dewa ini seperti punggung tangannya sendiri, dan setelah berkali-kali berbelok, sosok keduanya segera menghilang bersama dengan suara mereka.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Roh rubah dalam cerita rakyat Asia adalah penggoda, yang dikenal suka memikat dan menggoda orang yang tidak bersalah, dan membuat mereka jatuh cinta tanpa daya pada roh tersebut.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments