Penerjemah : Jeffery Liu


Xie Lian terdiam menatap mural itu. Pei Ming berkomentar, “Dia bisa melakukan itu?”

“Kenapa tidak.” Hua Cheng membalas.

Semua orang menatapnya dan Hua Cheng melanjutkan, “Bukankah mengangkat para jenderal juga hanya membawa manusia biasa ke alam surgawi? Jika dia hanya menarik semua orang di sekitar ibukota kerajaan ke surga untuk sementara waktu, dan begitu bencana berakhir, mengirim mereka kembali, mengapa dia tidak bisa melakukannya?”

“Hujan Darah Mencapai Bunga, jangan membuat hal ini terdengar begitu mudah.” Pei Ming berkata, “Tuanku seharusnya tahu, mengangkat para jenderal membutuhkan kekuatan spiritual. Melihat ini, berapa banyak yang dia angkat?”

Mengangkat para jenderal pada kenyataan adalah dengan menggunakan kekuatan spiritual orang itu sendiri untuk ‘memelihara’ manusia biasa di surga, untuk digunakan oleh orang tersebut. Sebaliknya, jika tidak ada batasan seperti itu, mengapa setiap pejabat surgawi tidak akan menunjuk semua orang yang mereka inginkan? Mengapa seorang kaisar tidak hanya membawa begitu saja seluruh harem dan seluruh istananya, dan seorang jenderal mungkin juga bisa mengangkat seluruh pasukannya?

“Dilihat dari peninggalannya yang masih ada, jumlah keseluruhan penduduk Kerajaan WuYong hanya sekitar seratus ribu. Dan yang berada di sekitar ibukota kerajaan mungkin hanya sekitar sepuluh ribu.”

Xie Lian berkata dengan pelan, “Mungkin itu sulit… tapi itu masih bisa dilakukan, meskipun jarang.”

“Bahkan jika itu hanya beberapa puluh ribu, masih belum ada pejabat surgawi yang berani mengangkat sebanyak itu. Jika dia benar-benar menyelesaikannya, maka aku tidak bisa mengatakan apakah dia harus diberi selamat atas keberanian atau kebodohannya yang luar biasa itu. Setidaknya, pasti tidak ada orang lain yang seperti dia di dalam sejarah,” kata Pei Ming.

Xie Lian mempelajari jembatan di dalam mural itu, dia sepenuhnya terpikat. Di matanya, wajah Putra Mahkota berpakaian putih dan empat dewa pelindungnya itu tampak semakin aneh, semakin mirip wajahnya sendiri dan wajah keempat kepala pendetanya. Dia kemudian mengingat kembali fase langit dari bintang ominous itu; kisah yang sangat mirip dengan kisah reinkarnasi ini membuatnya ingin sekali mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, tetapi pada saat yang sama, dia merasa mungkin dia sudah tahu.

Dia tidak berani untuk terus menatap mural itu lagi dan dia berbalik, bertanya, “Apakah sudah menemukan air?”

Ban Yue menyeret Pei Su dan menjawab, “Gege itu sedang pergi untuk mencarinya.”

Dia mengacu kepada Yin Yu. Xie Lian melirik Pei Su yang matanya terpejam, dan bergumam sejenak, dia tetap memutuskan untuk berbicara, “Aku pikir, ketika kita pergi ke tungku nanti, akan lebih baik jika Jenderal Pei Kecil tetap berada di sini.”

Bagaimanapun juga Pei Su berada di dalam tubuh manusia biasa, itu tidak menguntungkan baginya dalam banyak hal. Selain itu, mereka masih tidak tahu apa yang menunggu mereka di depan sana. Pei Ming berjongkok dan menatap Pei Su, “Ya, aku setuju. Tapi bisakah Yang Mulia tolong jangan mengatakan alasannya di depannya? Anak ini akan mengerti. Serahkan saja padaku untuk memberitahunya.”

“Tenang saja, Jenderal Pei, aku mengerti.” Xie Lian berkata, “Kalau tidak, aku tidak akan mengatakannya saat dia masih tidak sadar.”

Bagaimanapun juga Pei Su pernah menjadi dewa bela diri muda dengan masa depan yang sangat cerah di surga, sekarang bahwa dia harus tinggal di belakang karena dia tidak bisa mengikuti yang lain, dia akan merasa pahit. Namun, kesalahan harus dihukum; seperti inilah bagaimana yang seharusnya dirasakan oleh seseorang yang diasingkan, jadi dia hanya bisa menerimanya.

Mereka tetap berada di kuil dan berdiskusi untuk sementara waktu, dan Xie Lian heran, merasa bingung, “Di mana Yin Yu? Kenapa dia tidak juga kembali setelah sekian lama? Apakah dia belum menemukan air?”

Hua Cheng di sisi lain, menatap dengan intens pada beberapa kupu-kupu hantu yang bersandar di ujung jarinya. Kupu-kupu itu sangat berguna sebelumnya, dan sekarang mereka semua kembali kepadanya, disimpan untuk menghemat energi. Dia sedikit mendongak, “Seharusnya dia tidak selama ini.”

Xie Lian menjadi khawatir dan berdiri, “Biarkan aku pergi melihatnya. Jenderal Pei, awasi semuanya yang ada di sini. San Lang, ikut denganku?”

Tentu saja mereka akan pergi bersama-sama. Oleh karena itu, Xie Lian meninggalkan RuoYe dan mengikatnya untuk membentuk lingkaran perlindungan. Keduanya meninggalkan kuil dan pergi menuju ke bagian yang lebih dalam dari kota bawah tanah.

Ada begitu banyak rumah dan kekacauan di jalan; Xie Lian mengambil sebuah kendi yang cukup dia sukai dan Hua Cheng tampaknya menganggap bahwa itu lucu, “Apa yang kamu lakukan mengambil benda itu?”

“Jika kita menemukan air nanti kita bisa menggunakan ini untuk membawa air kembali untuk Jenderal Pei Kecil.” Kata Xie Lian. Bagaimanapun juga dia sudah terbiasa mengumpulkan sampah dan sisa-sisa, dia menepuk kendi di tangannya terlepas dari dirinya sendiri, “Kalau dipikir-pikir, ini adalah barang antik berusia ribuan tahun.”

Hua Cheng tertawa dan berkata, “Jika kamu menyukai hal-hal semacam ini, datanglah ke tempatku setelah ini. Aku memiliki beberapa benda seperti ini juga dan kamu bisa melihat apakah kamu menemukan sesuatu yang kamu sukai.”

Beberapa saat kemudian, keduanya akhirnya mendengar suara samar-samar air yang mengalir. Segera setelah itu, Xie Lian berseru, “Di sana!”

Memang benar ada sungai yang tersembunyi di bagian bawah. Xie Lian meletakkan kendi yang diambilnya itu ke dalam air dan mulai mencucinya dengan sepenuh hati. Abu yang bernilai ribuan tahun telah membentuk lapisan cangkang yang tebal, dan tidak bisa dicuci, tetapi hanya dengan membersihkan debu di permukaannya saja, kendi itu masih layak untuk digunakan. Dia mengisinya dengan air dan menundukkan kepalanya, siap untuk menyesap sendiri air di dalam kendi itu ketika Hua Cheng, yang mengamati daerah itu, berbalik dan melihatnya, dan segera memperingatkan, “Jangan meminumnya.”

Xie Lian sudah meletakkan wajahnya ke dalam kendi, tetapi ketika dia mendengar seruan untuk berhenti, dia bingung, “Apa?”

Saat itu, sebuah suara berkata, “Panas sekali.”

Hanya ada mereka berdua di sana, jadi dari mana suara ketiga ini berasal? Xie Lian tanpa sadar melihat ke arah dari mana suara itu berasal, dan suara itu berasal dari kendi di tangannya!

Dia langsung melihat ke bawah, dan di dalam kendi itu ada dua titik merah kecil, yang mengambang di air sedang mengawasinya.

Benda apa itu?? Tidak peduli bagaimana dia melihatnya, itu adalah sepasang mata!

Saat mata itu beradu dengan matanya, benda itu melesat lurus ke wajah Xie Lian. CIPRAT CIPRAT air terciprat dan tangan Xie Lian bergerak cepat, melemparkan kendi itu beberapa meter jauhnya dalam sekejap. Menabrak dinding dan PRANG!, barang antik berusia ribuan tahun itu pecah. Adapun sesuatu yang bersembunyi di dalamnya, tidak butuh waktu lama untuknya berlari ke dalam kegelapan. Dalam ketergesaan itu, Xie Lian tidak melihat dengan jelas sesuatu apakah itu, dia hanya melihat bahwa itu adalah buntelan besar dari sesuatu yang berwarna hitam, “Apa itu?”

Hua Cheng melindungi di depannya, dan Xie Lian merasa sedikit sedih, “Itu tidak ada di dalam kendi sebelumnya kan?”

“Tidak.” Hua Cheng berkata, “Itu berenang ke kendi dari dalam air. Sering ada makhluk yang berkumpul bersama dan berenang di sungai yang tersembunyi ini, itulah sebabnya aku mengatakan padamu agar jangan meminumnya.”

‘Tapi kamu akan membiarkan Jenderal Pei Kecil meminumnya…’ Xie Lian berpikir dalam hati. Tiba-tiba, dia merasakan udara dingin di punggungnya dan dia berteriak, “SIAPA DISANA?!”

Dalam sekejap barusan, dia mendengar seseorang yang batuk di kejauhan!

Itu jelas bukan sebuah khayalan, dan dia langsung tegang dan waspada. Segera setelah itu, celotehan dan obrolan datang mengalir seperti air pasang dan mengalir masuk. Dari sekeliling mereka, pasang demi pasang titik-titik merah menyala mengelilingi mereka berdua, dan melingkari mereka di tengah-tengah. “Jangan khawatir, mereka bukan manusia,” kata Hua Cheng.

‘Justru karena mereka itu bukan manusia sehingga kita harus khawatir, oke…..’ Pikir Xie Lian.

Mendengarkan dengan seksama pada obrolan mereka, Xie Lian menyimpulkan apa yang suara-suara itu katakan:

“Uhuk, uhuk, uhuk…”

“Panas sekali, panas sekali…”

“Aku terbakar…”

“Wuuuuu”

“Aku merasa sesak… Apakah ada orang di sana…”

“Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bergerak!”

Suara-suara itu kecil, tetapi jelas dan penuh dengan rasa sakit, seperti semut kecil yang merayap ke telinganya. Xie Lian baru saja siap untuk meraih Fang Xin ketika sebuah suara berteriak tajam, “YANG MULIA, DI MANA YANG MULIA?? SELAMATKAN AKU, SELAMATKAN AKU!!!”

Teriakan terakhir itu membuat semua rambut di punggung Xie Lian berdiri, dan pada saat itu dia berpikir suara itu memanggilnya. Namun, Hua Cheng melambaikan tangannya, melepaskan ribuan kupu-kupu hantu, dan mereka menyerang sepasang mata merah bercahaya itu!

Di mana kupu-kupu perak itu bersinar dengan cahaya mereka, mereka menerangi makhluk yang tak terhitung jumlahnya yang berceloteh dalam gelap. Benar saja, mereka bukan manusia. Mereka adalah tikus!

Hua Cheng meraihnya dan berkata, “Aku sudah bilang ada banyak tikus di sini. Ayo pergi!”

Xie Lian masih tertegun saat dia berjalan, “Apakah mereka tikus? Kenapa mereka lebih mirip seperti kucing bagiku…”

Itu benar. Tikus-tikus itu masing-masing lebih besar daripada anak kucing, rambutnya hitam seperti tinta dan tebal seperti jarum. Mata merah kecil mereka bersinar secara agresif dalam gelap, dan banyak yang bertengger di dinding, mengawasi mereka dengan seksama, berbicara dalam bahasa manusia, menyeramkan sekali. Begitu kupu-kupu perak menyerang mereka, mereka mulai saling membantai; cahaya merah dan perak menyala bergantian, kondisi dalam pertempuran itu tidak diketahui tetapi itu sangat ganas dan kejam.

“Yin Yu tidak mungkin diseret ke suatu tempat oleh makhluk-makhluk itu, bukan?” Xie Lian bertanya ragu.

“Dia seharusnya tidak setidak-berguna itu. Mungkin ada sesuatu yang lain yang telah menghambatnya,” Hua Cheng menjawab.

Kalimat pertama membuat Xie Lian sedikit tenang, tetapi kalimat terakhir membuatnya menegang lagi. “Tidak perlu dipikirkan seberapa besar tikus itu, tetapi mengapa mereka bisa ada begitu banyak? Apa yang mereka makan untuk tumbuh sampai begitu besar?”

“Sederhana.” Hua Cheng menjawab, “Mayat, tentu saja. Mereka semua adalah tikus pemakan mayat.”

Ternyata, ketika kota ini ditutupi oleh abu vulkanik, orang-orang dan binatang peliharaan besar seperti lembu, kuda, domba, dll tidak punya tempat untuk bersembunyi, tetapi, tikus-tikus itu menggali dalam-dalam ke bawah tanah, dan bergantung pada udara dan makanan yang tersimpan di dalam gua untuk bertahan hidup.

Begitu debu telah mengendap, mereka muncul dari lubang yang baru, dan menjelajahi kota yang sekarang seperti neraka ini untuk mencari makanan. Namun, semuanya hancur; semuanya terkubur oleh lava atau tertutup oleh abu vulkanik. Mereka menggerogoti banyak hal tetapi tidak bisa menemukan makanan untuk waktu yang sangat lama.

Hingga pada suatu hari, mereka mencium bau busuk.

Bau busuk itu berasal dari patung batu yang menyerupai manusia itu. Beberapa mayat terbungkus lapisan cangkang kelabu yang lebih tipis, dan ketika mereka mulai membusuk, mereka menguarkan bau busuk yang aneh, dan air dari mayat mengalir keluar.

Jadi, tikus-tikus yang kelaparan itu mengelilingi dan bergegas menuju ke sebelah patung-patung tersebut, menggigiti lubang-lubang kecil dan bergegas masuk ke dalam lubang-lubang itu, menggerogoti mayat-mayat yang ada di dalamnya.

Makhluk yang paling rendah dan paling kejam sering kali adalah mereka yang bertahan paling lama. Mayat-mayat orang mati terbungkus dalam abu; dan teror, kemarahan, frustrasi, dan emosi kuat lainnya juga ikut terbungkus di dalamnya. Ketika tikus-tikus itu memakan tubuh mayat mereka, emosi-emosi itu juga ikut termakan, dan mereka mulai bisa berbicara dalam bahasa manusia, mengungkapkan apa yang orang-orang itu ingin katakan pada saat-saat kematian mereka tetapi tidak bisa.

Xie Lian tercerahkan, “Begitu, itulah sebabnya mereka mengatakan semua itu. Aku bertanya-tanya mengapa mereka mengatakan kata-kata semacam itu…”

Namun tanpa diduga, Hua Cheng tiba-tiba berkata, “Apa yang kamu katakan?”

Xie Lian berkedip, “Apa yang aku katakan?”

Hua Cheng menatapnya, “Apa yang mereka katakan? Apa yang kamu dengar?”

“San Lang, kamu tidak mendengarnya?” Xie Lian berkata, “Itu hanya “sangat panas”, “sesak” , “tidak bisa bergerak”, “selamatkan aku”, dan semacamnya…”

Namun, sebelum Hua Cheng mengatakan apa pun, itu membuat Xie Lian sadar.

Itu tidak benar!

Apa yang diulangi oleh tikus pemakan mayat itu adalah kebencian dari orang-orang WuYong, jadi tentu saja, itu akan dikatakan dalam bahasa WuYong.

Jadi, mengapa dia bisa mengerti bahasa WuYong?!


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments