Penerjemah : Jeffery Liu


Jantung Xie Lian mulai berdetak lebih kencang, dan ujung jarinya bahkan sedikit bergetar. Namun, ia tetap tenang dan tidak mengeluarkan suara, hanya mengangkat kepalanya sedikit untuk berbisik di sebelah telinga Hua Cheng, “…San Lang, jangan bergerak. Suara di luar sana terdengar sangat mirip dengan suara milik Master-ku. Jangan sampai ketahuan…”

Meskipun sangat mirip, dia juga tidak bisa mengatakannya dengan pasti karena itu tidak seperti tidak ada orang yang berbagi suara yang hampir sama. Selain itu, dia sudah tidak melihat Kepala Pendeta selama berabad-abad, sehingga dia bisa saja salah mengingat. Jika mereka tidak melakukan gerakan yang sembrono dan hanya mengamati secara diam-diam untuk melihat bagaimana keadaan akan berkembang, mungkin mereka akan mempelajari lebih banyak rahasia. Hua Cheng juga menundukkan kepalanya sedikit, memeluk pinggangnya, “Baiklah… kamu juga jangan bergerak.”

Bebatuan dan tanah menimpa dan menggilas mereka dari sekeliling, memaksa tubuh mereka untuk saling menekan, wajah mereka bersentuhan, dan telinga mereka terasa hangat. Meskipun ini bukan waktu yang tepat, sebuah pemikiran melintas di benak Xie Lian, ‘”Untuk mati terkubur bersama” tidak terasa begitu buruk.’ Saat itu, suara itu kembali terdengar, “Bagaimana dengan dua lainnya? Ke mana mereka pergi?”

‘Dua lainnya’? Ada dua orang rekan lagi?

Xie Lian ingin mendengarkan dengan seksama untuk mencari tahu siapa orang yang menjadi lawan bicaranya, tetapi yang aneh adalah, setelah ‘Kepala Pendeta’–dia akan memanggilnya sebagai ‘Kepala Pendeta’ untuk sekarang–setelah dia mengajukan pertanyaan, tidak ada jawaban.

Benar-benar aneh. Dalam jarak seperti itu, Xie Lian dan Hua Cheng bisa mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh ‘Kepala Pendeta’, dan secara teknis, suaranya tidaklah keras dan dia tidak terdengar seperti teriakan, sehingga pihak lain seharusnya tidak terlalu jauh juga. Jika mereka menjawab, maka setidaknya beberapa suara akan terdengar. Namun, benar-benar tidak ada apapun yang terdengar.

‘Kepala Pendeta’ berbicara lagi, “Katakan terima kasih atas kerja keras mereka, dan tidak perlu khawatir tentang kentang-goreng itu lagi, tidak ada yang akan datang dari mereka. Kita masih punya banyak hal penting yang harus dilakukan untuk sekarang.”

‘Apa yang terjadi?’ Xie Lian bertanya-tanya, ‘Ini jelas-jelas menunjukkan bahwa dia mendapat jawaban dan sedang berbicara dengan seseorang?’

‘Kepala Pendeta’ di luar sana hampir seperti sedang berbicara sendiri atau berbicara dengan udara. Sebuah gambar menyeramkan muncul di kepala Xie Lian dan dia segera menepisnya, berpikir mungkin ada kemungkinan lain, yaitu ‘Kepala Pendeta’ bisa mendengar suara orang itu tetapi tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya.

Kecurigaan tumbuh semakin besar di kepalanya, dan dia mendengarkan dengan lebih intens, membalik setiap kata yang diucapkan oleh ‘Kepala Pendeta’ dalam pikirannya sementara ‘Kepala Pendeta’ menambahkan, “Apakah itu semua orang yang ada di dalam gunung? Bagaimanapun, mari kita bawa mereka semua ke tungku terlebih dahulu, aku akan memikirkan cara untuk mengurus mereka satu per satu. Lebih cepat maka lebih baik, mereka harus sampai di sana dalam waktu dua hari.”

Tungku!

Dan, dalam ‘dua hari’. Array Pemendek Jarak tidak dapat digunakan di Gunung TongLu, jadi bagaimana mereka bisa sampai di sana dalam waktu dua hari? Dan apa maksudnya dengan ‘mengurus mereka’?

Setelah jeda, suara itu melanjutkan, “Panggil dua yang lainnya ke sini, mari kita pergi ke tungku bersama-sama. Untuk menghadap Yang Mulia Putra Mahkota, tidak boleh ada seorang pun dari kita yang menghilang. Saat ini dia masih belum bangun. Jika dia bangun … sulit dibayangkan apa yang akan dia lakukan kali ini.”

Xie Lian terkejut. Apakah dia berbicara tentang dirinya?

Saat itu, ada suara ledakan di dalam tubuh gunung. Xie Lian mendengar Kepala Pendeta di luar sana bertanya, “Apa yang terjadi?”

Di dalam dinding batu, dia juga menoleh pada Hua Cheng untuk bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Sesuatu terjadi di sisi lain,” bisik Hua Cheng.

Xie Lian belum menjawab dan Hua Cheng sudah menekan keningnya dengan kening Xie Lian. Di mata kanan Xie Lian, situasi yang terjadi antara Yin Yu dan Quan Yi Zhen di sisi lain gua muncul sekali lagi. Dan, ini adalah apa yang seharusnya terjadi lebih awal. Yin Yu akhirnya menggali Quan Yi Zhen dari dinding batu, dengan susah payah menyeretnya ke bawah dan menghela napas. Namun tanpa diduga, Quan Yi Zhen yang tidak sadarkan diri tiba-tiba melompat berdiri dan menarik topeng dari wajah Yin Yu!

Quan Yi Zhen sebenarnya hanya berpura-pura pingsan sebelumnya!

Sekarang setelah Xie Lian memikirkannya, Quan Yi Zhen pasti akan sangat akrab dengan kebiasaan Yin Yu yang mondar-mandir ketika sedang berpikir, cara dia berbicara, kekuatannya ketika dia memukul, dan mungkin juga saat sekop Yin Yu mengayun ke arahnya, dia sudah mengetahui siapa yang ada di balik topeng itu. Hanya saja, tidak bisa dibayangkan bahwa akan datang suatu hari dimana seseorang seperti Quan Yi Zhen akan tahu bagaimana caranya untuk menipu. Meskipun itu tidak lebih dari sekedar trik yang paling biasa, tetapi ketika Quan Yi Zhen yang melakukannya, itu bisa dianggap sepenuhnya mengesankan dan sangat luar biasa, itulah sebabnya tidak ada yang siap.

Di bawah topeng itu adalah wajah Yin Yu yang ketakutan dan sedikit pucat, jelas ia tertegun karena terkejut. Sementara Quan Yi Zhen terlihat sangat gembira, melompat dengan kepala yang berlumuran darah, “SHIXIONG!”

Yin Yu terlihat seperti dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan, bibirnya terbelit, lalu tiba-tiba, dia memeluk kepalanya, “KAMU SALAH ORANG!”

Setelah meraung, dia melarikan diri. Sementara dia berlari, dia menyerang orang di belakangnya bermaksud untuk menghalanginya, “JANGAN MENDEKAT! JANGAN MENGIKUTIKU!”

Quan Yi Zhen juga berlari untuk mengejarnya, dia sepenuhnya mengabaikan serangan itu dan hanya berteriak, “SHIXIONG! INI AKU!”

Yin Yu meraung, “YA TUHAN, KARENA ITU KAMU MAKANYA AKU TAKUT! JANGAN MENGIKUTIKU!”

Keduanya berlari dan bertarung sepanjang jalan, menyebabkan gunung itu bergemuruh karena serangan-serangan mereka. Di sisi yang lain, Kepala Pendeta merasa bingung, “Apa yang mereka lakukan di sana? Keributan apa itu?”

Masih belum ada yang menjawabnya, tetapi Kepala Pendeta sepertinya telah mendapatkan jawaban, “Begitu. Anak-anak jaman sekarang ini, sangat bersemangat. Aku akan pergi terlebih dahulu. Ayo kita berkumpul lagi setelah kamu sudah dekat dengan tungku.”

Dia akan pergi. Mendengar ini, Hua Cheng menutupi telinga Xie Lian lagi, dan Xie Lian menutup matanya. Sesaat kemudian, ada getaran keras dari sekeliling mereka, dan dinding batu yang mengelilingi dan menghimpit tubuh mereka akhirnya hancur berantakan. Keduanya melompat keluar bersama-sama, mendarat ringan dengan kaki mereka, dan menghirup udara segar sekali lagi. Namun, di luar hanya ada gua kosong; tidak ada Kepala Pendeta atau sosok orang kedua yang misterius itu, mereka benar-benar menghilang.

Xie Lian dan Hua Cheng bertukar pandang. Mereka tidak terburu-buru untuk mengejar dan mereka belum terpisahkan ketika dari gua yang berdekatan dengan mereka datang menyerbu seorang pria berpakaian hitam. Itu adalah Yin Yu. Dia melambaikan sekop Master Bumi dan berlari dengan gila ke arah keduanya, “CHENGZHU!!! YANG MULIA!!!”

Di belakangnya, Quan Yi Zhen yang kepalanya berlumuran darah karena pukulan juga datang bergegas. Hua Cheng tidak perlu repot-repot mendongak dan hanya menjentikkan tangannya. Terdengar suara BOOM; Quan Yi Zhen langsung mengangkat kedua tangannya untuk memblokir, namun, gerakan yang digunakan Hua Cheng tidak bisa dihalangi dengan tinju. Setelah asap menyebar, yang tersisa di tempat Quan Yi Zhen berdiri adalah boneka daruma dengan mata besar dan lebar, terlihat sangat polos. Itu adalah trik yang sama yang digunakan Hua Cheng pada Lang Qian Qiu terakhir kali. Baru saat itulah Yin Yu menghentikan langkahnya yang gila, menyeka keringatnya saat dia mendekat, “Aku berterima kasih selamanya, Chengzhu.”

“Apakah kamu benar-benar harus setakut itu?” Hua Cheng bertanya.

Yin Yu masih terguncang, dan dia tersenyum pahit, “Sejujurnya, saat ini ketika aku melihat Yang Mulia Qi Ying, aku hanya ingin berlari sejauh mungkin.”

Saat Xie Lian mendengarnya, dia menganggap bahwa itu lucu tetapi dia bisa bersimpati. Tampaknya, ‘kepribadian’ Quan Yi Zhen sekarang menjadi bayangan yang berat di hati Yin Yu. Boneka daruma itu masih di tanah, dengan mata terbelalak sementara tubuhnya bergoyang-goyang bolak-balik tanpa ada yang peduli. Xie Lian merasa kasihan padanya dan akan mengambilnya ketika dia tiba-tiba merasakan tanah yang bergetar, tubuhnya juga jatuh bersama dengan getaran tersebut, hampir bergetar lebih keras daripada boneka daruma itu. Dia dengan cepat menenangkan dirinya sendiri, “Apa yang terjadi? Gempa bumi?”

Meskipun Xie Lian tidak membutuhkan bantuan, Hua Cheng masih memegang lengannya untuk membantu menstabilkannya, dan dia berbalik pada Yin Yu, “Buka terowongan dan pergilah keluar untuk melihatnya.”

Yin Yu memulihkan diri dengan sangat cepat dan menjawab, “Ya, Tuan!”

Kemudian dia mengambil sekop Master Bumi-nya, dengan cepat dan singkat menggali lubang dalam waktu singkat. Sinar matahari dari luar bersinar masuk; Ketika Yin Yu melihat keluar, ekspresi terkejut memenuhi wajahnya. Xie Lian bertanya, “Yang Mulia Yin Yu, apakah ini gempa bumi atau gunung ini yang runtuh?”

“Bukan keduanya!” Yin Yu menjawab, “Roh gunung ini… sedang berlari!”

Berlari? Xie Lian dan Hua Cheng bertukar pandang dan keduanya berlari untuk melihat ke luar tubuh roh gunung.

Gunung ini benar-benar sedang berlari! Di luar tubuh gunung, semua pemandangan, dan bentang alam dengan cepat melaju di belakang, hampir tidak berubah menjadi apapun selain garis-garis berwarna-warni. Dari tampilan tersebut, itu seperti mereka sedang menaiki kereta kuda yang berlari dengan cepat, atau seperti mereka duduk di pundak raksasa yang sedang berlari dengan liar!

Bukit, sungai, ladang, hutan, semua itu diinjak-injak di bawah kaki roh gunung ini, tertimpa dan hancur untuk membuat jalan. Angin puyuh bertiup masuk melalui lubang, membuat rambut dan pita pengikatnya semua mulai menari-nari di udara. Yin Yu berkomentar, “Dengan kecepatan lari seperti ini, mungkin hanya butuh waktu dua hari untuk mencapai tungku…”

Dua hari? Mendengar ini, membuat Xie Lian menyadarinya.

Pantas saja! Tidak heran mereka tidak bisa mendengar suara ‘orang lain’ itu, dan tidak heran Kepala Pendeta meminta orang lain tersebut untuk membawa mereka ke tungku dalam waktu dua hari.

Karena pada saat itu, ‘Kepala Pendeta’ tidak berbicara dengan orang lain, dia berbicara dengan roh gunung ini!

Hua Cheng pasti sudah memahaminya juga, “Sama baiknya. Dengan meminjam kekuatan roh gunung ini, kita tidak perlu lagi berjalan begitu lambat. Begitu kita sampai di sana, orang di luar dinding batu itu pasti akan menunjukkan dirinya lagi. Kita akan tahu apa yang dia inginkan pada saat itu.”

Namun Xie Lian, terlihat muram. Hua Cheng memperhatikan dan bertanya, “Gege, ada apa?”

“Apa maksudnya, belum bangun?” Xie Lian bertanya.

Suara itu sebelumnya berkata “Saat ini dia masih belum bangun. Jika dia bangun… sulit dibayangkan apa yang akan dia lakukan kali ini.” Xie Lian berkata, “Jika pria itu benar-benar Master-ku, dan dia berbicara tentang diriku, lalu apa yang dia maksud dengan semua itu?”

“Gege, jangan terlalu banyak berpikir untuk sekarang.” Hua Cheng berkata, “Pertama, orang itu mungkin bukan Master-mu; kedua, ‘Putra Mahkota’ yang dia bicarakan mungkin bukan dirimu.”

“Tapi jika itu benar?” Xie Lian mendesak, “Aku memiliki dugaan yang tidak berdasar, apakah kamu akan mendengarkanku dan melihat apakah itu masuk akal?”

“Baiklah. Gege, katakan.” Hua Cheng berkata.

Xie Lian memulai, “Dengan anggapan bahwa pria itu adalah Master-ku, tiga gunung itu: Usia Tua, Penyakit, dan Kematian, sementara Kelahiran menghilang. Dia bisa berkomunikasi dengan roh gunung. Dia adalah orang, tetapi yang berbicara dengannya adalah roh gunung. Dalam percakapan mereka, mereka menyebutkan ‘dua lainnya’, dan mungkin itu adalah dua roh gunung lainnya. Ada empat dari mereka. Aku pikir, apakah ketiga roh gunung itu memiliki kesadaran manusia? Atau mungkin, mereka berubah dari seorang manusia sejak awal, dan Kepala Pendeta adalah ‘Kelahiran’ yang tidak pernah muncul!”

Dia semakin berpikir lebih dan lebih, jantungnya berdetak kencang di dadanya, dan dia melanjutkan, “Gunung TongLu dulu adalah bagian dari Kerajaan WuYong. ‘Kelahiran, Usia Tua, Penyakit, Kematian’ keempatnya adalah satu kelompok; secara kebetulan, Putra Mahkota WuYong juga memiliki empat Dewa Pelindung; dan ada juga empat kepala pendeta yang mengajarku ketika aku besar di Xian Le! Apakah negara-negara lain biasanya memiliki banyak kepala pendeta? Aku tidak memikirkan hal itu di masa lalu, tetapi sekarang aku menyadarinya, biasanya negara lain tidak memiliki sebanyak itu. Apakah kamu pikir ini kebetulan? Atau adakah arti yang lebih dalam dari semua ini?”

Hua Cheng menjawab, “Tidak ada arti yang lebih dalam. Mungkin itu kebetulan saja ada empat. Bukankah Empat Pemandangan Terkenal juga ada empat? Tidak ada empat dalam Empat Bencana, jadi seseorang harus dipaksa masuk ke dalam jajarannya.”

Namun, Xie Lian masih mengikuti alur pemikirannya, “Tetapi jika itu benar, bahwa keempat Master-ku adalah empat Dewa Pelindung Putra Mahkota WuYong, mengapa mereka datang ke Xian Le untuk menjadi kepala pendeta di Xian Le? Mengapa mereka datang untuk mengajariku? Adakah sesuatu tentang diriku yang tidak aku sadari? Mungkinkah, bahwa aku sebenarnya…”

Dia menjadi seperti seseorang yang kesurupan, dan Hua Cheng mencengkeram bahunya, berbicara dengan keyakinan, “Itu tidak mungkin! Aku bisa bersumpah, bahwa kamu adalah kamu. Kamu bukan orang lain. Percayalah padaku. Jangan membaca terlalu banyak pada hal-hal itu dan membayangkan apa yang sebenarnya tidak ada di sana.”

Selain orang tuanya, Kepala Pendeta adalah seseorang yang paling dekat dengan Xie Lian dan yang paling dia kenal. Meskipun Kepala Pendeta sering mengusirnya dan sering tidak ramah padanya karena dia awas dengan posisi Xie Lian, tetapi secara keseluruhan, dia adalah guru yang baik. Tiba-tiba mengetahui bahwa dia mungkin saja tidak mengenal seseorang yang dia pikir dia kenal adalah sesuatu yang dengan mudah mengacaukan hatinya. Hua Cheng melembutkan suaranya, “Baiklah, gege. Pikirkan kembali baik-baik, apa latar belakang Kepala Pendeta Xian Le?”

Xie Lian merenungkan pertanyaan itu, “…aku tidak yakin.”

Sungguh, dia benar-benar tidak bisa mengingat dari mana Master-nya berasal. Bergumam sesaat, Xie Lian berkata, “Kepala Pendeta telah menjadi kepala pendeta sebelum aku lahir, aku hanya tahu bahwa dia dipanggil Mei Nian Qing, tapi tidak perlu dikatakan, itu pasti adalah nama palsu. Aku juga pernah memikirkan ini sebelumnya; Kepala Pendeta adalah karakter yang luar biasa, kenapa dia bisa tidak naik? Jika yang barusan itu adalah dia, maka tahun-tahun yang dihabiskannya di dunia ini pasti lebih lama dariku.”

“Kita akan mengurus hal-hal ketika itu datang,” Hua Cheng berkata, “Ingatlah bahwa apapun yang terjadi, aku ada di sini. Aku akan selalu berada di sisimu.”

Xie Lian menatapnya, tertegun dan tak bisa berkata-kata. Sesaat kemudian, senyum kecil muncul di wajahnya.

Hawa keberadaan Yin Yu sudah tipis, dan karena dia tidak berbicara sepanjang waktu, dia hampir terlupakan. Baru sekarang dia berbicara, “Chengzhu, apakah kita harus mencari yang lain?”

Mereka sudah pasti keluar, tapi siapa yang tahu di sudut mana Pei Ming dan yang lainnya dicerna oleh roh gunung setelah ditelan. Xie Lian dengan cepat menjawab, “Ya! Ayo kita cari mereka bersama-sama. Mohon tunggu sebentar, Yang Mulia Yin Yu.”

“Yang Mulia, tidak perlu memanggilku Yang Mulia… Aku bukan lagi pejabat surgawi dari Pengadilan Tinggi,” kata Yin Yu.

Xie Lian tersenyum, “Kalau begitu kamu bisa memanggilku dengan namaku juga, tidak perlu bersikap sopan. Aku juga sudah tidak menjadi putra mahkota dalam waktu yang lama.”

Yin Yu melirik Hua Cheng yang berdiri di belakang Xie Lian dan buru-buru menjawab, “Aku… tidak berani. Tidak seharusnya. Aku tidak bisa.”

“Apa masalahnya?” Xie Lian berkata dan mengambil beberapa langkah, siap untuk mengambil boneka daruma Quan Yi Zhen ketika sebuah sosok tiba-tiba terjatuh dari langit dan jatuh dengan keras di hadapannya, suara tulang retak terdengar keras dan tajam di udara.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

Dipindahkan oleh gladys ❤

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments