Penerjemah: Jeffery Liu


Xie Lian berkata dengan bisikan rendah, “… Tidak mungkin ada sesuatu yang berhasil menyusup di belakang kita dan melakukan sesuatu yang begitu besar tanpa berhasil kita sadari sebelumnya.”

Bahkan jika Xie Lian tidak percaya pada kemampuannya sendiri untuk mengamati, dia percaya pada kemampuan yang dimiliki Hua Cheng. Selain itu, jika harus jujur, ketika sampai pada naluri bahaya, dia sedikit mempercayai dirinya sendiri. “Sebaiknya kita menelusuri kembali langkah kita dan melihatnya,” kata Hua Cheng.

Keduanya berjalan berdampingan dan kembali ke arah mereka datang, berjalan dan memutari setiap sudut di dalam gua itu untuk sementara waktu sebelum mereka berhenti.

Bukannya mereka secara sukarela berhenti, tetapi, tidak ada jalan lain untuk dilalui dan mereka dipaksa untuk menghentikan langkah mereka. Meskipun terowongan itu berliku dan penuh dengan belokan, tetap saja hanya ada satu jalan untuk dilalui, namun sekarang, sebelum mereka bahkan mencapai titik awal, ada sebuah dinding batu yang terasa begitu dingin dan keras yang muncul entah dari mana dan menghalangi jalan mereka kembali!

Keduanya tidak pernah goyah. Xie Lian bertanya-tanya, “Apakah dinding ini hanya ilusi atau nyata?”

Seekor kupu-kupu perak terbang dengan lesu, kupu-kupu itu kemudian mengetuk dinding batu yang kasar di depan mereka. Tidak ada yang tidak pada tempatnya, tetapi dinding ini benar-benar menghalangi mereka. “Ini nyata.” Kata Hua Cheng.

Xie Lian mengangguk, “Kalau begitu, ini benar-benar merepotkan.”

Biasanya ada dua jenis dinding iblis: jenis pertama adalah ilusi, yang berarti seseorang akan berpikir ada sebuah dinding di depan mereka ketika sesungguhnya tidak ada apapun disana, dan tidak ada yang lain selain ilusi. Jenis ini mudah untuk dihilangkan; cukup menyentuh atau memukulnya saja dan ilusinya akan hilang, tuangkan seember air dingin untuk menyadarkan diri kembali pada kenyataan lalu bangkit untuk menyentuhnya.

Tipe kedua mengacaukan arah dan ingatan seseorang akan jalan yang mereka ambil. Tipe ini sedikit lebih kuat. Misalnya, di persimpangan jalan, ketika kamu berpikir telah memilih jalan yang kiri, pada kenyataannya, pikiranmu berhasil dikacaukan dan kamu berakhir memilih jalan di sebelah kanan. Dan apa yang disebut dengan ‘Iblis Berbalik dalam Lingkaran’ hanyalah sebuah trik kecil: ketika seseorang melangkah dengan kaki kiri dan kanan, secara alami ada sedikit penyimpangan di antara langkah-langkah yang mereka ambil, dan makhluk tidak manusiawi akan mengacaukan pikiranmu untuk memperluas penyimpangan ini.. Dengan demikian, tanpa berhasil diketahui, ketika kamu berpikir telah berjalan dalam garis lurus, pada kenyataannya kamu berjalan dalam lingkaran besar, dan begitu kamu membuat putaran kembali, kamu akan dibingungkan karenanya dan berpikir sesuatu seperti: Eh? Bagaimana aku bisa kembali ke sini lagi?!

Namun, bagi mereka berdua, kedua metode itu hanyalah sebuah trik kecil. Adapun mengenai dinding batu dingin di depan mereka, itu sebenarnya adalah tipe ketiga: dinding itu nyata dan bukan ilusi.

Xie Lian baru saja berpikir apakah dia memang harus dengan brutal memukul dan menghancurkan dinding ini untuk melihat apa yang ada di baliknya ketika dia mendengar Hua Cheng berbicara, “Gege, beri aku tanganmu.”

Xie Lian: “?”

Meski bingung, dia tetap patuh memberi Hua Cheng tangannya. Hua Cheng dengan lembut meraih tangannya dan memegang telapak tangannya, tangannya yang lain melayang-layang seolah sedang meletakkan sesuatu padanya.

Xie Lian menahan napasnya sejenak, dan segera setelah itu, dia mengangkat tangannya, pandangannya dipenuhi dengan perasaan ingin tahu, “Ini?”

Di jari ketiga tangan kirinya tampak sebuah benang merah yang sangat tipis, dan benang itu diikat sendiri secara pribadi oleh Hua Cheng. Benang merah ini juga tampak memanjang, begitu panjang dan seolah-olah tanpa akhir yang menghubungkan benang itu dengan benang merah lain yang diikat di jari Hua Cheng.

Hua Cheng mengangkat tangannya sendiri dan menunjukkan padanya simpul merah kupu-kupu kecil yang sekarang identik di kedua jari mereka, tersenyum, “Sekarang kita sudah bergabung bersama.”

Mendengar ini, Xie Lian bisa merasakan wajahnya menjadi panas. Mungkin dia agak terlalu sadar diri, dan dia buru-buru menggosok wajahnya, takut jika Hua Cheng bisa merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tersenyum, “Apakah ini semacam mantra?”

“En.” Hua Cheng meluruskan ekspresinya dan menjatuhkan tangannya, “Meskipun aku tahu jika kita tidak akan berpisah secara sukarela, tetapi aku membuat ini untuk berjaga-jaga. Benang ini tidak akan putus dan tidak akan bertambah pendek. Jika benang ini tidak putus, berarti orang di ujung sana baik-baik saja. Kecuali jika orang itu tidak ada lagi, jika tidak, benang ini pasti akan mengarah ke pihak yang lain.”

“Apa maksudmu dengan ‘tidak ada lagi’?” Tanya Xie Lian.

“Mati, atau hilang,” Hua Cheng menjelaskan.

Xie Lian hendak berbicara ketika tiba-tiba, sebuah suara samar getaran datang dari kejauhan. Dia mendengarkan dengan ekspresi tegang dan bertanya-tanya, “Apakah ada yang melempar pukulan?”

Berdasarkan kekuatan dan frekuensi ini, perasaan ini tampak seolah-olah seseorang tengah melemparkan sebuah pukulan berat ke tubuh gunung. Xie Lian berkomentar, “Kekuatan ini jelas bukan milik seorang manusia, kekuatan ini pasti berasal dari seorang dewa bela diri. Mungkinkah itu Jenderal Pei?”

“Suara itu datang dari depan kita.” Hua Cheng mengamati.

‘Di depan’ ini secara alami berarti adalah jalan yang ingin mereka tuju sebelumnya, tetapi mereka berdua kini harus kembali karena Pei Ming dan yang lainnya menghilang di tengah jalan. Namun, sebelumnya Pei Ming dan yang lainnya menghilang di belakang mereka, jadi bagaimana mungkin mereka tiba-tiba muncul kembali di depan? Dan jika itu bukan Pei Ming, lalu siapa itu?

Keduanya bertukar pandang dan berjalan berdampingan, siap memeriksa ke semua tempat. Namun, di tengah jalan, suara meninju gunung itu tiba-tiba menghilang, tidak diketahui apakah itu disengaja atau karena energi mereka telah habis.

Tetapi karena mereka sudah sejauh ini, mengapa mereka harus kembali? Dengan demikian, Xie Lian dan Hua Cheng terus berjalan ke arah di mana suara itu berasal. Beberapa kupu-kupu perak menari di gua yang gelap dan menyinari mereka dengan cahaya mereka dan membuat tempat itu dipenuhi dengan aura kebiruan. Tiba-tiba, Xie Lian dengan tajam menangkap sesuatu yang aneh di dinding batu di sampingnya, “Apa itu? Sebuah tali merah?”

Dari kejauhan, mereka berdua sama sekali tidak tahu benda apa itu, tetapi itu sangat aneh, tampak seperti sebuah tali berwarna merah tetapi jauh lebih tebal dan terus bergerak, lebih mirip cacing merah panjang. Xie Lian mendekat dengan mudah dan menatapnya dengan saksama, “Bukankah ini adalah ular berekor kalajengking Ban Yue?”

Benar saja, itu adalah bagian bawah dari salah satu ular berekor kalajengking berwarna merah anggur yang tampak muncul di bagian luar dinding, terus bergerak dan berusaha mengeluarkan tubuhnya. Separuh tubuh atasnya tampak terkubur di dinding batu. Xie Lian bertanya-tanya, “Apakah ular ini merangkak ke dalam lubang dan tidak bisa keluar?”

“Mungkin tidak.” Kata Hua Cheng.

Seluruh bagian tubuh ular berekor kalajengking ini tergantung di udara, dan ular ini juga tampak tidak memanjat dinding, jadi bagaimana mungkin ia merayap sedemikian tingginya sebelum merangkak memasuki lubang? Selain itu, ada begitu banyak lubang di dinding batu ini, jadi jika ular itu mencoba merayap masuk, mengapa memilih lubang sekecil itu? ‘Lubang’ ini juga tampak aneh, bentuknya hampir sama persis dengan tubuh ular itu, yang karenanya menjebaknya dan membuatnya tidak bisa bergerak maju maupun mundur.

Xie Lian ingin meraih ular itu dan menariknya keluar untuk melihat, tetapi ular itu tampak seperti memasang posisi waspada secara tidak normal, mengayunkan ekornya secara liar, menusuk secara acak, dan bahkan hampir menyengat Xie Lian. Dengan demikian, Hua Cheng menjentikkannya, terlihat seperti dia melakukannya dengan sangat santai, tetapi ular itu tampaknya terkejut oleh gerakannya dan menjadi terlalu terkejut untuk bergerak. Xie Lian tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, dan baru saja akan berbicara ketika dia tiba-tiba menutup mulutnya, “Kamu dengar itu?”

“Aku mendengarnya,” kata Hua Cheng.

Keduanya memandang ke depan pada saat yang sama.

Dalam kegelapan, ada sebuah suara serangkaian napas rendah, terdengar begitu sangat mantap dan sangat tenang.

Kedua kupu-kupu hantu itu masih tampak berkeliaran dan menari-nari di sekitar satu sama lain, dan mereka kemudian terbang menuju suara bernapas itu, terbang semakin tinggi dalam tiap kepakan sayap mereka, cahaya perak yang dihasilkan dari tubuh mereka juga mulai terangkat lebih tinggi. Perlahan-lahan, sepasang tangan berhasil terlihat akibat sinar cahaya yang berasal dari kedua kupu-kupu itu.

Itu adalah tangan seseorang. Tangan seorang pria. Bagian belakang tangan itu terlihat dipenuhi dengan darah, ditutupi dengan luka, terkulai seperti orang mati. Naik lebih jauh, kepala seseorang yang berantakan berhasil terlihat, dan kepala itu juga terkulai seperti orang mati.

Namun, sama sekali tidak ada tubuh bagian bawah disana.

Benar. Orang yang “tergantung” dengan posisi begitu tinggi di dinding batu ini sama sekali tidak memiliki tubuh bagian bawah. Dia hanya memamerkan setengah tubuh bagian atas seperti dia tumbuh langsung dari dinding batu yang memerangkapnya!

Di masa lalu, Xie Lian telah melihat beberapa pangeran dan bangsawan yang ketika mereka berhasil memburu hewan langka, mereka akan memotong kepala hewan itu, mencampurkannya dengan berbagai ramuan kimia untuk mencegahnya membusuk dan menggantungnya di dinding tempat tinggal mereka. Pemandangan di hadapannya sekarang mengingatkannya pada kepala harimau, anjing, serigala, dan binatang buas lainnya yang digantung di dinding itu dengan rapi dalam sebuah barisan. Namun, pria ini jelas masih bernapas, jadi dia sepertinya memang masih hidup!

Xie Lian mengambil beberapa langkah lebih dekat, “Makhluk macam apa ini? Tubuh roh gunung yang sebenarnya?”

Namun, tidak ada jawaban dari sebelahnya. Xie Lian tiba-tiba merasa hatinya menjadi dingin. Dia memutar kepalanya dan cukup yakin – Hua Cheng sudah pergi!

“SAN LANG?!” Seru Xie Lian.

Tentu saja, tidak ada yang menjawab panggilannya, tetapi pria yang tergantung di dinding sebelumnya itu terdengar bergumam, seperti sedang berbicara dalam tidurnya dan akan terbangun. Namun dalam keadaannya saat ini, Xie Lian sama sekali tidak tertarik padanya, dan memutuskan untuk berbalik dalam lingkaran sebanyak dua kali di tempat dia berdiri. Dengan begitu tiba-tiba, dia mengingat sebuah benang merah yang saat itu terikat di jarinya dan Xie Lian mengangkatnya dengan gembira. Benar saja, benang merah itu masih ada di sana, tidak terputus. Dengan demikian, Xie Lian menjadi sedikit lebih santai, dan dia mengambil benang merah itu, menariknya saat dia berjalan. Berjalan dan terus berjalan, sampai dia mencapai ujung dimana benang itu berakhir.

Ujung benang merah ini terhubung ke dalam dinding batu di depannya!

Xie Lian tidak bisa mempercayainya dan menariknya dua kali, tetapi dia mendapat ada lebih banyak benang merah yang berhasil ditariknya dari dalam dinding batu seolah-olah tanpa akhir, membuatnya bertanya-tanya apakah saat ini Hua Cheng benar-benar berada di dalam dinding batu ini?

Ketika dia berpikir bahwa itu adalah suatu kemungkinan, tanpa sepatah kata pun, Xie Lian mengangkat Fang Xin dan siap untuk menghancurkan dinding di depannya. Namun tanpa terduga, pandangannya tiba-tiba menjadi kabur dan semuanya berubah menjadi hitam ketika ujung pedangnya bahkan belum menyentuh dinding batu itu, dan seolah-olah dinding batu di hadapannya itu dengan begitu tiba-tiba membuka mulut raksasa miliknya, dinding itu mengeluarkan suara lolongan panjang dan menelan seluruh tubuh Xie Lian!

Pandangannya yang diliputi dengan kegelapan tidak segera menghilang, dan ketika seluruh tubuh Xie Lian tertelan dinding itu, pandangannya menjadi semakin gelap. Di sekelilingnya tampak ada tumpukan pasir dan lumpur yang menimpanya, sangat mencekik. Kumpulan pasir dan lumpur itu juga seolah-olah terus bergerak tanpa henti, dia merasa seperti tubuhnya ditelan ke dalam perut monster raksasa, dan monster itu juga memakan banyak hal lain di sampingnya, menjatuhkan dan menelan semua yang ada di perutnya untuk dicerna. Ia juga merasa tubuhnya seolah-olah tenggelam ke dalam pasir isap, sama sekali tidak mampu mengerahkan kekuatan yang dimilikinya meskipun Ia sendiri yakin masih memiliki banyak kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya, dan semakin ia mencoba berjuang dan memberontak, semakin dalam ia tenggelam. Xie Lian ingin menghancurkan dan membobol tembok itu untuk melarikan diri, tetapi dia kemudian berpikir jika Hua Cheng mungkin juga berada di sini, jadi alih-alih mundur, dia mulai bergerak maju, mengayunkan tangannya untuk menghancurkan tanah dan pasir di depannya saat dia terus menarik benang merah yang menghubungkan mereka berdua. Saat itu, sebuah tangan tiba-tiba terentang dari depan tubuhnya, dan meraih pergelangan tangannya tanpa kesalahan. Xie Lian terkejut, “SIAPA ITU?!”

Saat dia membuka mulutnya, beberapa suapan lumpur memasuki mulutnya, dan Xie Lian meludahkannya dengan sedih. Disisi lain tangan itu masih mencengkeram dan menarik tubuhnya, menariknya ke dalam pelukan seseorang, suara yang sangat dikenalinya terdengar dari atas kepalanya, “Gege, ini aku!”

Mendengar suara itu, seluruh tubuh Xie Lian menjadi lebih santai, dia memeluk tubuh orang itu dengan begitu erat, berkata, “… Syukurlah, benang merah ini tidak putus. Aku benar-benar berhasil menemukanmu!”

Hua Cheng juga balas memeluk tubuh Xie Lian erat-erat, berbicara dengan penuh keyakinan, “Benang ini tidak putus! Aku juga berhasil menemukanmu.”

Ternyata, kejadian aneh yang dialami keduanya sama. Xie Lian tengah mengamati pria dengan setengah tubuh yang tergantung dengan begitu tinggi di dinding, dan Hua Cheng tengah mengawasi sekeliling mereka, menjaga terhadap apa pun yang mungkin menyergap mereka dari bayang-bayang setiap waktu. Namun tanpa disangka-sangka, hanya perlu sekejap mata bagi Xie Lian yang saat itu berdiri di sampingnya menghilang, sebuah dinding batu entah dari mana berdiri sebagai penggantinya. Hua Cheng menarik benang merah yang menghubungkan keduanya, mencari keberadaannya saat dia mengikuti benang merah itu, dan menemukan jika ujung lain benang merah itu terhubung ke dinding, jadi tanpa pikir panjang dia langsung memasuki dinding itu untuk mencari Xie Lian.

Sebenarnya, sejak awal hanya ada tembok tambahan yang memisahkan mereka, tetapi keduanya mengira jika salah satu dari mereka berada di dalam dinding, jadi mereka berdua masuk pada saat yang sama. Xie Lian mengulangi lagi untuk yang kesekian kalinya di dalam hatinya bahwa Hua Cheng benar-benar memikirkan segalanya, “Syukurlah kita berdua terhubung oleh benang merah ini! Kalau tidak, siapa yang tahu apakah kita akan menemukan satu sama lain. Tidak heran Jenderal Pei dan yang lainnya menghilang dengan begitu tiba-tiba, jadi memang tidak ada siapapun yang menyergap kita semua, melainkan … mereka ditelan oleh roh gunung.”

“Itu benar.” Hua Cheng berkata, “Kita tidak memilih tempat yang bagus dan akhirnya menggali langsung ke dalam perut roh gunung.”

Xie Lian berdeham dengan lembut.

Benar. Mereka saat ini tidak diragukan lagi tengah berada di dalam perut salah satu dari tiga roh gunung. Pada saat Yin Yu bertanya kepada Xie Lian apakah mereka akan menggali ke atas, lokasi yang dipilihnya kebetulan adalah tempat peristirahatan roh gunung ini, dan Xie Lian dengan riang menyetujuinya. Keberuntungannya benar-benar keluar dari dunia ini, tidak bohong. Pasir dan lumpur yang ada di sekeliling mereka mulai menghancurkan ruang tempat mereka berdiri saat itu dan terus menekan lebih erat dan lebih ketat lagi, menjadi lebih dan lebih mencekik. Xie Lian merasa mereka benar-benar tidak boleh tinggal di tempat itu lagi dan bertanya, “Bagaimana cara kita bisa keluar sekarang?”

Hua Cheng menjawab, “Wilayahnya berhasil digali di bagian bawah sehingga roh gunung ini tidak terlalu senang. Roh gunung ini sedang mencoba mencerna kita saat ini, jadi itu agak merepotkan. Tetapi, yakinlah, pada akhirnya kita pasti akan bisa keluar.” Setelah mengatakan hal itu, Hua Cheng melanjutkan setengah bercanda, “Untuk mati terkubur bersama1 mungkin terasa seperti ini.”

Ketika Xie Lian mendengar kata-katanya, dia sedikit terkejut, tetapi sudut bibirnya benar-benar melengkung ke atas. Ketika dia menyadarinya, dia buru-buru menekannya, “Pria setengah tubuh di luar itu mungkin juga ditelan oleh roh gunung ini. Suara meninju gunung yang kita berdua dengar sebelumnya pastilah dia yang berusaha melarikan diri, dengan menghantam dan memukul tembok batu. Dia dan ular berekor kalajengking itu sama, mereka tidak tertelan sepenuhnya, dan hanya berhasil tertelan setengah dari tubuh mereka.” Itulah sebabnya efeknya sangat menyeramkan.

“Tapi dia bukan seseorang dari kelompok yang datang ke Gunung TongLu bersama kita.” Hua Cheng berkata.

Xie Lian tiba-tiba teringat rambutnya yang berantakan dan berkata, “Tunggu, aku tahu siapa itu. Itu mungkin Qi Ying!”

Hua Cheng berpikir sejenak sebelum dia sepertinya juga mengingat sesuatu, “Oh, yang berambut keriting.”

“Aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja,” kata Xie Lian, “Apakah dia pingsan? Dia tampaknya telah kehilangan kesadarannya sebelumnya.”

“Dia baik-baik saja, hanya tidur.” Kata Hua Cheng.

“…”

“Bagaimana kamu tahu?” Tanya Xie Lian.

“Aku meninggalkan beberapa kupu-kupu perak di luar.” Hua Cheng berkata, “Aku baru saja mengirim satu. Mata kananku bisa melihat situasi saat ini yang terjadi di luar.”

Tepat ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, dia menggumamkan “Hm?” dengan ringan, tampak seperti telah melihat sesuatu yang aneh. “Apa yang terjadi di luar?” Xie Lian bertanya.

Hua Cheng tidak mengatakan apa-apa, hanya menundukkan kepalanya sedikit, dengan lembut mengangkat dagu Xie Lian ketika kedua dahi mereka saling bersentuhan pada detik berikutnya. Mata Xie Lian melebar, tapi kemudian dia menutup matanya, lalu membukanya kembali, “Ini … benar-benar ajaib.”

Mata kanannya sepertinya melihat pemandangan yang sama sekali berbeda dari apa yang ada sebelumnya. Meski masih terasa begitu gelap, tetapi ia masih bisa melihat siluet dari apa yang sebelumnya juga dilihat oleh Hua Cheng.

Kupu-kupu perak yang sedang memantau sisi luar dinding ini tampaknya tengah bersembunyi di balik sekelompok gulma, dan di bawah layar, sesosok bayangan hitam perlahan mendekat. Xie Lian berbisik, “Seseorang datang, aku bertanya-tanya siapa itu. Di mana kupu-kupu perakmu bersembunyi? Akankah itu ditemukan?”

“Kupu-kupu itu ada di rambutnya,” Hua Cheng berkata, “Cahayanya tersembunyi, tidak akan ditemukan.”

Bayangan hitam itu akhirnya berada cukup dekat dan dia mengangkat kepalanya, wajahnya pucat pasi.

“Yin Yu?” Xie Lian berkata setelah dia berhasil mengenali sosok itu.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. [生 同 衾 , 死 同 穴] “Selimut yang sama saat hidup; gua yang sama (kuburan) ketika mati”- Ini adalah ayat dari “The Propitious Pavilion of Romance” salah satu kisah yang tercatat dalam buku “Mount QingPing Hall Novella Collection”, yang merupakan koleksi novella tertua yang tercatat dalam sejarah Tiongkok. Ayat ini menggambarkan pasangan yang sudah menikah yang saling mencintai. Ketika Hua Cheng berkata “Untuk mati terkubur bersama”, ia mengutip bagian kedua dari ayat ini yang pada dasarnya memiliki sentimen yang sama seperti ‘bahkan kematian tidak akan bisa membuat kita berpisah’.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments