Penerjemah: Jeffery Liu


Melangkahkan kakinya melintasi tanah yang dipenuhi serpihan-serpihan batu giok yang sangat indah, Xie Lian berjalan perlahan. Ketika dia melihat bahu Hua Cheng dipenuhi dengan sedikit bunga merah, dia ingin membersihkannya untuknya, tetapi tiba-tiba menyadari bahwa gerakan itu akan terlalu intim, jadi dia memutuskan untuk menahan dorongan itu dan menyelipkan lengannya kembali ke belakang, tersenyum, “Aku tidak tahu ternyata kamu tidak hanya bisa menghasilkan hujan yang berdarah, kamu juga bisa membuat hujan bunga. Menyenangkan sekali!”

Hua Cheng juga berjalan lebih dekat ke arahnya, dengan mudah membersihkan kelopak-kelopak bunga di bahunya, tersenyum, “Ini hanya sesuatu yang terinspirasi secara spontan, sebuah trik yang baru saja aku buat hari ini. Pada awalnya aku hanya berniat untuk membuat hujan darah biasa, tapi tiba-tiba aku ingat gege juga ada disini, dan tidakkah kamu akan menyalahkanku jika kamu basah kuyup? Jadi aku berusaha menahannya pada detik terakhir dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi bunga sebagai gantinya. Aku senang kamu mengatakan jika ini menyenangkan.”

Namun, sementara Xie Lian tidak basah kuyup, Pei Ming benar-benar basah kuyup. Dia memanggil mereka berdua ketika dia masih tergantung di udara, “Maaf, kalian berdua, kalian akan membiarkan aku turun bukan?”

Beberapa kupu-kupu perak melayang ke atas, sayap perak mereka berkilauan saat mereka merobek jaring, memungkinkan Pei Ming akhirnya membebaskan diri, mendarat dengan mantap di tanah. Xie Lian menatap ke bawah dan melihat di tengah tulang belakang tubuh Ling Wen tampak hinggap seekor kupu-kupu perak, “San Lang, Ling Wen dan Brokat Abadi keduanya baik-baik saja, bukan?”

“Mereka baik-baik saja.” Hua Cheng berkata, “Aku hanya membuat mereka tidur untuk sementara waktu.”

Xie Lian kagum mendengarnya, “Brokat Abadi ini mengamuk tetapi kamu berhasil menahannya begitu cepat.”

Hua Cheng mengangkat alisnya, “Itu bukan apa-apa. Untuk beberapa alasan, dia sepertinya tidak ingin melawanku.”

Xie Lian bergumam dan berkata, “Itu benar. Sebelumnya ketika kamu memakainya, brokat itu juga tidak melakukan apapun padamu, dan bahkan menunjukkan dirinya sendiri.”

Saat itu, Pei Ming berjalan, “Simpan bicara untuk nanti, kalian berdua. Apakah kamu tidak akan melepaskan jubah itu darinya terlebih dahulu?”

“Um … bukankah itu tidak pantas?” Kata Xie Lian.

Pei Ming tampaknya tidak memikirkan apa-apa tentang itu, “Dia dalam bentuk prianya sekarang, jadi apa yang harus dipermalukan?” Tangannya bergerak ketika dia berbicara, namun ketika tangannya mencapai kerah Ling Wen, rasanya seperti sesuatu menusuknya dengan keras, dan wajahnya jatuh, Pei Ming berusaha menarik lengannya ke belakang dan tangannya berlumuran darah, “Jubah ini! Dia menggigit!”

Baru saat itulah Hua Cheng berkata dengan malas, “Brokat Abadi tidak akan membiarkan Ling Wen pergi, kamu tidak akan bisa melepaskannya.”

Pei Ming menatap tangannya yang berlumuran darah dan berkata, “Jika sesuatu seperti ini terjadi lagi, akankah Tuan Raja Iblis ini bisa memperingatkan aku lebih cepat?”

Xie Lian berkata dengan lembut, “Jenderal Pei, bukan karena dia tidak ingin memperingatkanmu, tanganmu bergerak terlalu cepat.”

Hua Cheng mencibir, “Itu benar.”

“…”

Meskipun terhambat, keinginan mereka tetap kuat. Ketiganya bergerak untuk kembali ke jalan mereka datang sebelumnya dan seseorang harus membawa Ling Wen, jadi Pei Ming memutuskan untuk mengambil tanggung jawab itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pei Su dan Ban Yue masih berada di kota kecil yang sama dari sebelumnya, kelompok itu kemudian berkumpul kembali di dekat kuil ilahi WuYong, dan ketika Pei Su melihat mereka kembali, dia berjalan menghampiri untuk menyapa mereka, “Jenderal, Yang Mulia, mural, di kuil, itu, telah menghilang!”

Pei Ming menggendong Ling Wen dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyisir rambutnya yang basah karena darah, “Mural apa?”

Melihat Pei Ming ditutupi dengan warna merah anggur, mata Ban Yue melebar. Xie Lian memberi Pei Ming laporan singkat dan kembali ke kuil bersama dengan Pei Su untuk memeriksanya. Benar saja, dinding yang sebelumnya terdapat lukisan mural kini telah berubah menjadi sama dengan tiga dinding lainnya yang terbakar pucat, tampak seperti mural yang sebelumnya mereka lihat tidak pernah ada disana.

Hua Cheng menjatuhkan tangannya dari dinding, “Lukisan dinding itu diciptakan oleh sihir.”

Xie Lian mengangguk, “Mungkin, orang yang meninggalkannya memiliki masalah dan tidak berani meninggalkannya terlalu lama.”

Di sisi lain, Ban Yue tampak ragu-ragu untuk waktu yang lama tetapi pada akhirnya masih mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Pei Ming, “Apakah … kamu baik-baik saja?”

Pei Ming menatapnya dan menggertak, “Mengapa kamu tidak bertanya pada ularmu apakah aku akan baik-baik saja ketika digigit seperti ini?”

Pei Su membuka mulutnya seolah ingin berbicara tetapi tidak yakin apakah dia harus mengatakan sesuatu demi keadilan. Mata Ban Yue melebar lebih besar, bergumam ketika dia mencoba untuk berdebat, “Tapi … gigitan dari ular berekor kalajengking tidak akan membengkak dan berdarah ke seluruh tubuh seperti ini …”

Pei Ming mengangkat tangan kirinya yang sebelumnya terkena gigitan dan melambaikannya di depan tubuhnya, membuktikan bahwa dia memang digigit. ‘Bukti besi’ itu kuat seperti gunung, dan Ban Yue hanya bisa meminta maaf, “Maafkan aku …”

Pei Su tidak bisa menonton lagi dan menepuk bahunya, “Ja,ngan terlalu diambil hati. Ini bukan disebabkan oleh gigitan, ularmu.”

Xie Lian juga tidak bisa menatap semua itu lagi, berbicara dengan putus asa, “Jenderal Pei, tidak bisakah kamu berhenti menggoda gadis kecil pada saat seperti ini?”

Namun, menggoda adalah sumber kehidupan Pei Ming. Dia kemudian menggunakan kekuatan spiritualnya untuk membersihkan dirinya dari semua darah dan kotoran di tubuhnya, wajahnya cerah dan hidup ketika dia tertawa keras, “Bukankah gadis-gadis kecil ini ada untuk digoda? Selain itu, umur Kepala Pendeta Banyue sudah berapa abad sekarang? Gadis kecil apa? Takut dia mungkin malu?”

“…” Tidak ada yang ingin berbicara dengannya lagi.

Meskipun kalimat Pei Su yang patah-patah tidak juga sembuh, dia sudah bisa bergerak seperti biasa sekarang dan mengambil alih tugas untuk membawa Ling Wen. Kelompok mereka melintasi kota kecil itu dan melanjutkan ke tingkat berikutnya dari Gunung TongLu.

Sehari kemudian, kelompok itu mencapai sebuah lembah kecil.

Kedua sisi lembah itu terjal, gunung-gunung tinggi dengan tebing berbatu yang keras dengan jalur gunung di antara mereka. Hanya ketika mereka sampai pada titik ini akhirnya Ling Wen terbangun dengan murung.

Meski dia sudah terbangun, dia masih tidak bisa bergerak, karena kupu-kupu perak itu masih bertumpu kuat di punggungnya. Ketika Ling Wen mengetahui bahwa dia sedang digendong di belakang tubuh seseorang, ekspresinya tidak pernah berubah dan hanya bertanya dengan kebingungan, “… Mengapa ada begitu banyak orang? Mengapa kalian semua ada di sini? Bukankah ini Gunung TongLu?”

“Banyak?” Pei Ming menjawab, “Biarkan aku katakan padamu, akan ada lagi nanti, kamu belum melihat semua orang. Cukup banyak dari kita sehingga bahkan bisa untuk bermain kartu.”

Xie Lian sepenuh hati setuju dengan sentimen itu dan tidak bisa menahan senyum. Setelah jeda, dia berbicara, “Ngomong-ngomong, Ling Wen, sebelumnya ketika di Kuil PuQi, Qi Ying mengejarmu. Dimana dia sekarang?”

Ling Wen menjawab, “Tidak tahu. Setelah memasuki Gunung TongLu, ada terlalu banyak makhluk tidak manusiawi yang berkerumun di sana, dan Yang Mulia Qi Ying hilang di antara kerumunan itu. Aku juga tidak tahu di mana kemungkinan dia berada sekarang.”

Pei Ming menghela napas pada Ling Wen, “Aku tidak percaya kamu tidak memberitahuku jika ternyata orang yang memetik garis kehidupan terakhir XuLi adalah kamu. Betapa kejamnya.”

Baru saat itulah Xie Lian mengingat bahwa Pei Ming juga berasal dari kerajaan XuLi. Namun, dia tampaknya tidak memiliki keterikatan yang tersisa untuk XuLi, karena dia hanya seorang jenderal dan bukan raja, dan bahkan dia disabotase oleh penguasa sebelum dia naik, sehingga tidak ada jejak kemarahan ataupun kepastian dalam suaranya, dan hanya sekadar ejekan yang tersisa. Namun, Xie Lian masih khawatir bahwa berbicara terlalu banyak tentang XuLi akan memprovokasi Brokat Abadi, jadi dia dengan cepat mengubah topik pembicaraan, menoleh ke belakang untuk bertanya, “San Lang, aku selalu ingin tahu sesuatu.”

Setelah memasuki lembah, Hua Cheng mengamati kedua gunung tinggi itu dari dekat. “Apa itu?”

“‘Tungku’ Gunung TongLu, apa itu sebenarnya? Apakah itu benar-benar hanya sebuah kompor raksasa?” Xie Lian bertanya.

Hua Cheng tersenyum tipis dan membalas pandangannya, “Tentu saja bukan. Tapi, itu pertanyaan yang bagus, gege.” Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke suatu tempat, “Kebetulan kita bisa melihatnya sekarang.”

Kelompok itu melihat ke arah yang dia tunjuk, dan semua orang tanpa sadar menghentikan langkah mereka di detik itu.

“… Itu … apakah itu ‘tungku’?” Xie Lian bertanya.

Hua Cheng menyilangkan tangannya, “Itu benar.”

Apa yang tercermin di dalam mata hitamnya yang kelam adalah gunung besar dari jarak yang sangat jauh.

Bertempat di lokasi yang begitu jauh seperti itu duduk di ujung dunia, dengan tinggi yang bahkan hampir mencapai langit, dinobatkan dengan merendahkan diri di antara semua puncak, dicat dengan warna biru yang dalam, puncak dari pegunungan itu dikelilingi oleh lautan awan dan angin surgawi. Lapisan salju samar-samar bisa terlihat seperti bidang es yang tidak pernah meleleh.

Hua Cheng berkata dengan santai, “‘Tungku’ adalah gunung berapi hidup, dan jantung dari semua Gunung TongLu. Ketika raja iblis baru lahir, saat itulah gunung itu terbangun.”

“Letusan gunung berapi?” Xie Lian bertanya.

“Itu benar.” Hua Cheng menjawab, “Jadi, semua Raja Iblis Agung dilahirkan dengan api yang berkobar, lahar, dan bencana yang menghancurkan.”

Membayangkan skenario berapi-api yang membuat mata bersinar merah, Xie Lian tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pei Ming berbicara, “Itu terlalu jauh. Jika kita terus berjalan dalam kecepatan ini, tidak termasuk membunuh semua iblis dalam perjalanan, itu masih akan memakan waktu lama.”

Xie Lian mengangguk, “Itu sebabnya secara historis setiap kali Gunung TongLu membuka gerbangnya untuk pembantaian, itu adalah situasi yang sama seperti proses persalinan yang sulit.”

Hua Cheng terkekeh, “Metafora gege sangat cerdik.” Lalu, dia tiba-tiba berhenti. “Kita sudah sampai.”

“???” Xie Lian tercengang, “Secepat itu?”

Hua Cheng menjelaskan, “Kita sudah sampai, tetapi tidak di tempat pembakaran. Kita sudah sampai di kuil ilahi WuYong.”

Benar saja, di depan, tepatnya di tengah lembah ada sebuah kuil istana besar yang berdiri disana.

Ini adalah kuil ilahi WuYong kedua yang mereka temui. Xie Lian hampir ingin menggosok matanya sendiri, tampak bingung, “Apakah kuil itu asli?”

Mau bagaimana lagi. Bahkan, hampir semua orang tampak ragu apakah kuil itu asli karena kemunculan kuil itu terlalu tiba-tiba.

Seharusnya kuil itu tidak muncul di sini. Siapa yang pernah melihat kuil atau tempat pemujaan dibangun di lembah sempit di atas jalan gunung kecil seperti ini? Fengshui menyebalkan macam apa ini?

Bahkan jika kuil itu harus dibangun di sini, tidak peduli apa, itu setidaknya harus dibangun di samping. Tapi, kuil ilahi WuYong ini dibangun dengan begitu saja tepat di tengah jalan lembah gunung ini seperti tiran kecil yang tidak punya otak, dengan begitu berani menghalangi jalan gunung!

Pei Ming menurunkan suaranya, “Di mana ada kelainan, disitu ada kejahatan, semua orang berhati-hatilah.”

Ling Wen yang sedang bersandar di bahu Pei Su, dengan keras mengangkat kepalanya, “Semua orang, jika kalian tidak ingin masuk ke dalam, kalian bisa melompat dan berlari melintasi tebing.”

Namun, Xie Lian berkata, “Tidak. Kita harus masuk. Kita harus melihat apakah ada mural disana.”

“Jangan khawatir, gege.” Hua Cheng berkata, “Jika kamu ingin masuk dan melihatnya, maka lakukanlah. Ini bukan masalah besar.”

Karena Hua Cheng berkata begitu, untuk beberapa alasan semua orang yang mendengarnya menjadi lebih santai, dan kelompok mereka perlahan mendekati kuil itu. Mereka berjalan sepanjang waktu itu dan akhirnya sampai di pintu masuk, tidak ada sesuatu yang aneh yang terjadi. Melintasi pintu-pintu kuil dan memasuki aula besar, tentu saja, dinding-dinding di dalam kuil ini juga berwarna hitam akibat terbakar. Dengan goresan ringan, potongan-potongan kecil pecahan yang mengeras juga jatuh seperti di kuil sebelumnya.

Xie Lian pada awalnya sedikit tegang dan waspada, tetapi karena sepertinya tidak ada yang bersembunyi di balik kegelapan kuil itu, dia menjadi sedikit lebih santai dan berkata, “Ayo lakukan ini.”

Segera setelah itu, lapisan ‘perlindungan’ pucat di dinding kuil itu dibersihkan sedikit demi sedikit, mengungkapkan sebuah mural di belakangnya. Xie Lian dan Hua Cheng mulai memeriksanya dengan cermat.

Isi mural di kuil suci ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Mereka mulai mempelajarinya dari tingkat tertinggi, pada bagian atas lukisan itu, apa yang ada disana adalah seorang pria muda berpakaian putih yang tengah duduk dengan tenang di atas futon batu giok, alisnya membentuk wajah tampannya. Itu adalah Putra Mahkota WuYong. Matanya tertutup rapat, dan dilihat dari postur tubuhnya, ia tampak berada dalam meditasi reflektif yang dalam. Namun, meditasi itu tampak sama sekali tidak tenang.

Keagungan yang dimiliki Putra Mahkota ini berkerut dalam, beberapa tetes keringat dingin tampak menetes dari dahinya. Di sekelilingnya ada empat karakter, ekspresi mereka sangat dipenuhi dengan keprihatinan – itu adalah empat wakil penjaga yang berada di bawah putra mahkota dari mural sebelumnya. Aksesori dan pakaian mereka tampak sama persis dengan lukisan sebelumnya. Terus melihat ke bawah, lapisan pelindung masih berjatuhan secara perlahan, belum sepenuhnya dibersihkan, dan Xie Lian melihat bidang merah yang kacau disana. Dia sedikit mengernyit, “Ini aneh.”

Dia mengulurkan tangannya dan dengan ringan menyentuh dinding disana, bingung, “Apakah mural ini dibuat dengan buruk?”

Meskipun dia tidak tahu persis apa yang berusaha digambarkan oleh lukisan itu, tetapi dia bisa melihat bahwa penyebaran garis dan warna ini semuanya buram dan kabur, seperti terperangkap dalam lapisan kabut, memudar. Tapi, mural ini dibuat dengan sihir, jadi bagaimana bisa lukisan ini seburuk seperti lukisan biasa?

Hua Cheng juga menatapnya dengan saksama, mengernyitkan alisnya, “Mari kita tunggu sebentar.”

Keduanya saling bertukar pandang. Setelah lapisan pelindung yang terbakar, berwarna hitam, dan dikeraskan kini telah sepenuhnya dibersihkan, seluruh lukisan itu berhasil terungkap, mereka memundurkan kaki mereka beberapa langkah dan berdiri bahu membahu untuk melihatnya. Saat keseluruhan mural tercermin di mata Xie Lian, napasnya berhenti, dan dia merasa kepalanya mati rasa.

Dia bertanya-tanya, tertegun, “Apakah ini … neraka?”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments