Penerjemah: Jeffery Liu


Itu adalah suara milik seorang pria tetapi terdengar sangat asing. Bahkan meskipun Xie Lian tahu bahwa ujung yang lain tidak bisa mendengar suaranya, dia secara tidak sadar merendahkan suaranya sedikit ketika berbicara, “Seseorang muncul. Aku tidak tahu apakah dia akan melakukan sesuatu pada Jenderal Pei, kita harus menemukan lokasi di mana mereka berada secepat mungkin.”

Keduanya di ujung yang lain sepertinya tertegun oleh pendatang baru itu, dan butuh beberapa saat sebelum Pei Ming berbicara, “Bisakah aku bertanya siapa tuanku ini? Karena kamu sudah mencapai titik ini, mengapa kamu tidak menunjukkan wajahmu?”

“Kamu yang ada di posisi untuk menjawab pertanyaanku sekarang,” kata suara itu.

“Dendam pasti bersamamu.” Ling Wen berkata, “Mungkin dia adalah hantu wanita lain yang sudah kamu hancurkan.”

“Terus berbicara omong kosong dengan mata terbuka lebar, mengapa kamu tidak … Bagian mana dari sosok itu … yang terlihat seperti hantu perempuan? Selain itu, dia tidak hanya menangkapku, jadi mungkin dia juga memiliki dendam denganmu?”

“Lupakan saja. Mari kita berhenti memperdebatkan hal-hal tidak berguna di saat seperti ini, dan mengatasi rintangan ini bersama-sama.” Ling Wen berkata, “Mungkin juga dia memiliki dendam terhadap kita berdua. Apakah kamu mengingat ada seseorang yang seperti dia?”

“Tidak. Ada terlalu banyak.” Kata Pei Ming.

Pria itu tampaknya mulai berjalan mendekat dan suaranya menjadi lebih keras, tetapi yang aneh adalah, tidak ada suara langkah kaki, melainkan hanya terdengar serangkaian bunyi gedebuk yang aneh. Dia bersungut-sungut, “Bisakah kalian berdua berhenti bersikap tidak tahu malu seperti itu dan berhenti saling menggoda di depan mataku?”

Tampaknya kata-kata dan nada yang dia gunakan mengungkapkan sesuatu, dan setelah terdiam beberapa saat, Ling Wen berkata, “Kamu … Jing Wen ZhenJun?”

Suara itu tidak menanggapinya sama sekali. Pei Ming juga tampak sedikit terkejut, “Jing Wen ZhenJun? Tidak mungkin. Apakah Jing Wen ZhenJun pernah berbicara begitu tidak sopan seperti ini?”

Ling Wen bergumam dan berkata, “Dia selalu seperti ini. Menempatkan wajah di depan orang lain, dan wajah lain ketika sedang berbicara di depanku, jadi tentu saja kamu tidak akan mengenalinya.”

Pada saat itu, Xie Lian mengerutkan alisnya, “Jing Wen ZhenJun?”

Dia tampaknya memiliki kesan samar tentang gelar ini, tetapi dia tidak yakin. Kedengarannya seolah-olah dia adalah dewa sastra, tetapi ada terlalu banyak dewa sastra yang memiliki kata-kata seperti “Sastra”, “Rasa hormat”, “Keheningan” dalam gelar mereka1. Saat itu, Pei Su berkata dengan suara rendah, “Jing Wen Zhen Jun, dia adalah, dewa sastra nomor satu sebelumnya, dia yang pertama kali, mengangkat Ling, Wen ZhenJun ke surga.”

Mendengar ini, Xie Lian akhirnya ingat. Pada saat pertama kali dia naik, Ling Wen masih seorang pejabat sastra junior di Pengadilan Rendah. Dewa sastra nomor satu dari Pengadilan Tinggi bukanlah dirinya, tetapi dewa sastra lainnya, dan dewa sastra itu tampaknya adalah Jing Wen Zhen Jun ini!

Namun, sudah lama sekali sejak dewa Jing Wen ini diturunkan; kini tidak ada satu pun Kuil Jing Wen yang dapat ditemukan dalam radius delapan ratus mil. Xie Lian mau tidak mau bertanya-tanya, “Jadi semua orang saling mengenal satu sama lain. Jadi mengapa kita tidak bisa berbicara dalam ketenangan? Haruskah kita bertarung dan memaksa tanpa berbicara?”

Namun, Hua Cheng berkata, “Itu karena semua orang sudah saling mengenal satu sama lain sehingga pasti ada masalah di antara mereka.”

Tepat ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, Jing Wen di ujung yang lain berbicara lagi. Sepertinya sejak identitasnya terungkap, dia harus bersikap berbeda di hadapan mereka dan dia mengubah nadanya, suaranya menjadi lebih sopan; hanya saja, kata-katanya masih terdengar begitu tajam seperti jarum, “Nangong, apakah kamu senang menjadi dewa sastra peringkat atas di Pengadilan Tinggi? Mengapa kamu memecahkan mangkuk emas milikmu sendiri untuk berlari ke tempat ini?”

Pei Ming berkata, “Kamu lihat? Dendamnya ditujukan kepadamu. Aku mengalami semua ini karena kamu.”

Namun, Jing Wen berkata, “Jenderal Pei, jangan berpikir hanya karena aku berniat membalas dendam terhadap Nangong sehingga kamu bisa lolos. Jalang ini sudah menghina dan melecehkan para pemuja Kuil Jing Wen-ku, diam-diam menodai kuil milikku dan membakarnya, jangan pikir aku tidak tahu siapa yang meminjamkan semua pejabat militer untuk membantunya!”

“…”

Jing Wen melanjutkan, “Jangan tertawa juga, Nangong. Dan berpikir aku menunjukmu saat itu bukan karena simpati tetapi murni karena bakat. Jadi begini caramu membalasku? Kamu benar-benar tidak tahu terima kasih, dara berbisa. Aku sudah menunggu hari ini terlalu lama, terlalu lama!”

Xie Lian menutupi dahinya dengan telapak tangannya, berpikir dalam hati, ‘Tiga Tumor benar-benar sesuai dengan nama mereka, masing-masing lebih jahat daripada yang lain!’

Namun tiba-tiba, Ling Wen hanya menjawab dengan datar, “Jing Wen ZhenJun, tidak ada satu orang pun di sini selain kita sekarang dan kamu sudah mengatakannya, jadi mengapa terus berpura-pura? Apakah kamu benar-benar menunjukku sebagai wakil pejabat karena kamu bersimpati pada bakat yang kumiliki? Hanya mengapa kamu menunjukku dan bagaimana caramu memperlakukan aku setelah menunjukku, orang lain mungkin tidak tahu, tetapi aku yakin kamu secara pribadi lebih dari jelas mengetahuinya.”

Xie Lian di sisi lain, semakin dia mendengarkan, semakin dia ingin mengetahui kebenaran di balik semua masalah itu, “Apa yang terjadi antara Jing Wen ZhenJun dan Ling Wen? Jenderal Pei Kecil, apakah kamu tahu cerita di balik ini?”

Pei Su juga mendengarkan dengan penuh perhatian, “Maafkan aku. Aku belum na, ik saat itu, jadi aku sama sekali ti, dak tahu terlalu banyak mengenai masalah ini.”

Xie Lian dengan sedih berpikir kata-katanya yang rusak mungkin tidak akan bisa sembuh. Di sampingnya, Hua Cheng berbicara, “Gege, tidak perlu bertanya kepada orang lain, tanyakan saja padaku.”

Xie Lian dengan kagum berkata, “San Lang, kamu tahu tentang skandal masa lalu surga juga?”

Ternyata, itu bukan hanya imajinasinya. Ketika membahas mengenai sejarah dan kabar angin dari setiap pejabat surgawi utama di Pengadilan Tinggi, Hua Cheng tentu saja melakukan studinya. Dia mengangguk, dan selanjutnya memberi tahu Xie Lian mengenai apa yang dia ketahui.

Ternyata, Jing Wen dan Ling Wen sama-sama dewa sastra yang lahir dari Kerajaan XuLi. Jing Wen lebih tua berabad-abad dari Ling Wen, dan dia memiliki dasar yang kuat di Kerajaan XuLi. Pada awalnya, jalan yang diambil oleh keduanya tidak pernah sekali pun bertentangan.

Namun, ada satu tahun ketika Kerajaan XuLi mengadakan festival seremonial untuk menghormati dan menyembah dewa-dewa sastra. Sebagai bagian dari festival, ada sebuah kontes kecil. Dengan menggunakan Kerajaan XuLi sebagai subjek, isinya sama sekali tidak dibatasi, para cendekiawan muda harus menulis esai anonim dan meminta mereka untuk menggantungnya di kuil dewa sastra terbesar di kerajaan pada waktu itu, kuil itu adalah Istana Jing Wen. Esai itu kemudian akan dinilai oleh orang-orang dan akhirnya, esai yang terbaik akan dipilih sebagai pemenang untuk dipuji.

Kebetulan Jing Wen ZhenJun turun pada saat itu untuk menghabiskan waktu, dan pada dorongan sesaat, dia pikir akan menyenangkan untuk berubah menjadi seorang cendekiawan dan bergabung dalam kontes itu. Dengan ayunan tangan, ia menulis sebuah tulisan riang, elegan, syair yang dipenuhi dengan pujian kemuliaan Kerajaan XuLi, dia yakin bahwa esainya akan keluar dan menjadi pemenangnya. Dia membayangkan bahwa begitu hasil kontes terungkap, dia pasti akan mengambil tempat teratas, dan jika dia mengungkapkan bentuk aslinya setelahnya dan mengungkapkan bahwa tempat teratas sebenarnya adalah klon dari Jing Wen ZhenJun, pasti namanya akan diturunkan dengan indah ke generasi masa depan.

Jika semuanya benar-benar terjadi sesuai apa yang direncanakannya, itu pasti akan menjadi akhir yang bahagia. Namun tanpa diduga, terjadi kecelakaan yang sangat canggung.

Setelah upacara berakhir dan papan peringkat terungkap, pemenang esai terbaik bukanlah ‘Ode to XuLi’ milik Jing Wen, tetapi sebuah wacana kritis politik yang disebut ‘Not XuLi’.

Pergantian peristiwa ini mungkin terdengar sangat aneh, tetapi bagi para pengamat, itu agak menarik. Xie Lian bertanya, “Apakah San Lang pernah membaca esai ‘Not XuLi’ itu?”

“Aku sudah membacanya berkali-kali.” Hua Cheng berkata, “Jika gege ingin membacanya, aku akan membacakan ringkasannya untukmu lain kali.”

Xie Lian buru-buru berkata, “Tidak, tidak apa-apa. Tapi, untuk bisa mengalahkan Jing Wen ZhenJun yang sudah naik, aku membayangkan esai itu pasti ditulis dengan sangat baik.”

Hua Cheng berkomentar, “Itu tidak buruk, tapi juga tidak terlalu luar biasa. Hanya saja situasi politik di Kerajaan XuLi tidak terlalu bagus pada saat itu, orang-orang disana penuh dengan keluhan, jadi ketika mereka melihat potongan tulisan seperti itu, tulisan itu sangat sesuai dengan selera mereka. Ditambah lagi, esai seperti ‘Ode to XuLi’ sudah terlalu banyak, jadi orang-orang sudah bosan hanya untuk membacanya. Ketika membandingkan keduanya, secara alami ‘Not XuLi’ akan menang.”

Xie Lian mengangguk ringan, “Tidak ada yang namanya nomor satu dalam sastra, itu semua subjektif. Sesuatu seperti ini sebenarnya bukan maslaah, terutama jika kontennya bahkan tidak sama.”

“Benar.” Hua Cheng berkata, “Jing Wen juga berpikir begitu pada awalnya.”

Orang-orang XuLi kemudian mencari penulis ‘Not XuLi’ di mana-mana, tetapi tentu saja tidak ada yang berani mengklaimnya. Siapa yang berani mengklaim hal seperti itu? Mereka yang tamak akan ketenaran dan mereka para pembohong dengan cepat terungkap. Segera, karena petugas sudah mengetahui hal ini, festival seremonial menghapus esai pemenang itu.

Adapun Jing Wen ZhenJun, meskipun dia tidak terlalu senang dengan kontes itu dan tidak senang dengan itu, butuh waktu beberapa bulan sebelum dia melupakan semuanya. Hanya saja, tragedi itu, setelah beberapa bulan berlalu, sebuah berita mengejutkan mulai menyebar di antara para dewa sastra di Pengadilan Tinggi – orang yang menulis ‘Not XuLi’ dan memenangkan peringkat teratas dalam Festival Seremonial Dewa Sastra XuLi sudah berhasil ditemukan, dia ditangkap dan dikurung di penjara. Dan orang ini adalah seorang wanita muda yang menjual sepatu di jalanan!

Bagaimana ini bisa terjadi!

“… Pe, penjual sepatu?” Xie Lian berkata dengan kagum.

“Ya.” Jawab Hua Cheng. “Itu adalah pekerjaan Nangong Jie ketika dia masih menjadi manusia fana.”

Tidak heran dia mendengar orang-orang menyebut Istana Ling Wen ‘Istana Sepatu Aus’ dengan susah payah, dan itu bukan hanya sekali atau dua kali. Sejak Xie Lian merasa tidak benar untuk menanyakan akar dari hal-hal seperti itu, dia tidak pernah mempelajari dari mana istilah itu berasal.

Awalnya, tidak ada yang bisa menghubungkan ‘Not XuLi’ dengan seorang gadis penjual sepatu. Namun, gadis muda itu kadang-kadang membantu orang lain menulis surat atau soneta untuk mendapatkan penghasilan tambahan, dan suatu hari, salah satu majikan menemukan tulisannya mirip dengan esai peringkat atas itu, dan dia kemudian melaporkannya, seperti itulah bagaimana dia bisa tertangkap.

Setelah mengetahui berita ini, Jing Wen ZhenJun mengayunkan kuasnya dan segera menunjuk gadis muda itu yang bernama Nangong Jie ke surga.

Harus diketahui bahwa pada saat itu, jumlah pejabat surgawi wanita sangat sedikit. Bukan karena tidak ada, tetapi kebanyakan dari mereka mengendalikan bunga dan tanaman, kerajinan dan bordir, menyanyi atau menari atau keterampilan lainnya. Bahkan ketika menunjuk wakil pejabat, tidak seorang pun ingin menunjuk seorang wanita untuk menjadi wakil pejabat mereka di Pengadilan Rendah. Dewa sastra wanita bahkan lebih jarang. Para wanita sastra di istana dewa semuanya adalah mereka yang memiliki kecantikan yang terasa dingin, dan mereka tidak menguasai apapun yang berhubungan dengan sastra, tetapi jiwa-jiwa mereka lebih pada melakukan tugas seperti menggiling tinta dan menyiapkan kertas; mereka tidak dianggap sebagai pejabat surgawi, lebih seperti objek yang akan dihargai.

Tindakan Jing Wen ZhenJun menerima pujian dari bantalan simpati bakat antara dewa sastra, dan semua orang mengklaim gadis kecil ini memiliki keberuntungan terbaik untuk dapat bertemu dengan seseorang seperti Jing Wen ZhenJun yang memiliki mata kebijaksanaan. Tidak hanya dia lolos dari pengadilan, dia juga bisa naik ke atas pohon untuk menjadi burung phoenix, benar-benar kisah yang indah.

Namun, pada saat ini, karakter utama dari ‘kisah indah’ ​​ini akan saling menghancurkan satu sama lain.

Pada akhirnya, Jing Wen berkata, “Aku sangat menghargaimu, tetapi kamu membuatnya terdengar seperti aku memiliki niat buruk.”

Ling Wen selalu menjadi seseorang yang memperlakukan orang lain dengan sopan, tidak pernah terdengar merendahkan atau mengejek, namun, sekarang suaranya dipenuhi dengan nada penuh ejekan, “Tolonglah. Benar-benar tidak perlu bagimu untuk berkeliling memberi tahu semua orang betapa kamu sangat menghargai aku. Jika kamu benar-benar melakukannya, kamu tidak akan membuatku memberikan teh dan air serta melayani semua orang di istana selama bertahun-tahun, membersihkan meja, berjalan ratusan mil hanya untuk mengambil satu set naskah puisi, dan tanpa henti mengirimkan hadiah ke pejabat surgawi lainnya setiap hari libur.”

Xie Lian merenung dan menyadari bahwa tampaknya semua itu memang benar-benar terjadi. Ketika dia pertama kali naik, setiap kali dia melihat Ling Wen, dia selalu sedang menjalankan tugasnya. Justru karena dia menjalankan banyak tugas sehingga Xie Lian samar-samar mengingat karakter seperti itu. Jing Wen membalas, “Pada akhirnya, kamu hanya kesal karena aku menolak untuk mempromosikanmu. Tetapi mengapa kamu tidak memikirkan mengapa aku tidak mempromosikanmu?”

“Kenapa?” Ling Wen berkata, “Aku juga ingin tahu mengapa. Ketika aku masih fana, aku memiliki waktu luang untuk membaca dan menulis, bahkan ketika aku dikurung di penjara, setidaknya aku masih bisa bercermin dengan tenang di dinding. Setelah diangkat, tidak ada hari bagiku untuk tidak bekerja untukmu, menjalankan tugas dan bersujud. Jika kamu ingin menyiksaku, maka itu ide yang cukup bagus.”

“NANGONG!” Teriak Jing Wen, “Kamu masih berani menolak mengakui kesalahanmu bahkan sekarang?!”

Ling Wen membalas, “Dan kesalahan apa yang telah aku lakukan?”

“Apakah kamu akan mengatakan itu semua adalah salahku?” Jing Wen menuntut, “Apa yang aku lakukan dengan membuatmu melakukan semua itu jelas demi kebaikanmu sendiri. Jika kamu bahkan tidak bisa mengurus hal-hal kecil seperti itu, apa hakmu untuk melakukan hal-hal yang lebih penting? Aku memberimu kesempatan untuk berkultivasi dan melatih pikiranmu. Kamulah yang tidak mampu tetapi kamu masih berani menyalahkanku karena tidak mempromosikanmu? Kamu sudah berpikir terlalu tinggi pada dirimu sendiri, tapi bagaimanapun juga kamu adalah seorang wanita, kamu tidak akan bisa mencapai setinggi itu. Kamu harus mengakui kebenaran ini!”

Ling Wen tertawa terbahak-bahak, tampak marah, dan suaranya menurun, “Baiklah! Kamu bilang aku tidak bisa mencapai setinggi itu, kalau begitu, bolehkah aku bertanya padamu, apakah tinggi Istana Jing Wen pernah mencapai puncaknya bahkan sampai ke lutut Istana Ling Wen-ku??”

Xie Lian bisa mencium aroma tebal dari kemarahan masa lalu mereka dan kemarahan mereka tampak semakin tebal, dia berpikir dalam hati bahwa dia tidak bisa membiarkan mereka terus berbicara lebih lama. Tanpa pilihan lain, ia menggunakan metode yang sangat brutal.

Dengan tinju yang kuat ia memukul tanah, dan bersamaan dengan ledakan besar yang mengejutkan, secara instan, sebuah kawah besar terbentuk bersamanya di tengah.

Hua Cheng langsung mengerti apa yang dia rencanakan dan berteriak, “Gege!”

Xie Lian mengibaskan tangannya untuk menyingkapkan debu di udara dan terbatuk beberapa kali, “Cara ini adalah yang paling langsung. Aku akan mengurus sisi ini! San Lang, kamu dan Jenderal Pei Kecil … berbaringlah di samping!”

Awalnya dia ingin Hua Cheng dan Pei Su mencoba melakukan hal yang sama di sisi lain, tetapi di bawah kondisi mereka saat ini mereka berdua tampak tidak mampu melakukannya. Seolah Hua Cheng akan mendengarkannya dan dengan patuh berbaring. Dia melakukan hal berlawanan dari yang Xie Lian perintahkan, memanggil E-Ming, dan menjatuhkan pedangnya, menusuk tanah.

Serangan ini dan tinju Xie Lian sebelumnya menciptakan efek yang sama. Keduanya bergiliran untuk menghasilkan satu suara besar setelah yang lain, mereka berdua melangkah lebih jauh dan mendorongnya menjauh satu sama lain. Setelah melakukan serangan beberapa kali, Xie Lian berhenti untuk mendengarkan, tetapi Pei Ming dan Ling Wen tampaknya tidak memiliki reaksi seperti mereka tidak mendengar suara ledakan yang dia ciptakan.

Adapun Jing Wen, Ling Wen tampaknya telah menikamnya tepat dimana rasa sakitnya berada, dan dia mencibir ketika topeng kesopanannya dicabut, kembali menggunakan nada pahit ketika dia menyebut mereka pasangan sialan, “Nangong Jie, berhenti mengibas-ngibaskan ekormu seperti orang celaka yang menang di depanku! Jika bukan karena aku yang menunjukmu ke surga, siapa yang tahu berapa banyak bibit yang kamu lahirkan di penjara!”

Sekarang kata-kata itu terdengar sangat vulgar dan tangan Xie Lian nyaris tergelincir. Bahkan Pei Ming tidak bisa mendengarkan lagi, “Kamu setidaknya pernah menjadi dewa sastra sekali, tidak bisakah cara bicaramu sedikit berkelas?”

“Lihat, Nangong,” tuduh Jing Wen, “Lihat bagaimana kekasihmu melindungimu! Memangnya kamu siapa, Jenderal Pei, berani-beraninya menuduhku tidak berkelas?”

“Dalam benakmu, siapa yang bukan kekasihku?” Ling Wen meludah, “Kamu mencari pembalasan? Ayo bicara mengenai pembalasan!”

Xie Lian telah melompat cukup jauh sekarang, dan dia sekali lagi membanting tanah. Kali ini, Jing Wen di ujung yang suaranya muncul dari kupu-kupu perak merasa khawatir, “Suara apa itu?!”

Jantung Xie Lian melonjak, itu arah yang benar!

Pei Ming dan Ling Wen keduanya juga mendengar suara itu. Pei Ming ragu-ragu bertanya-tanya, “Apakah seseorang mulai bertarung di atas?”

Lebih keras, Xie Lian berlari beberapa meter dan memukul lagi dengan keras. Pei Ming berseru, “Sekarang lebih dekat! Sungguh pukulan yang kuat! Itu datang dari atas!”

Mereka disini!

Xie Lian tidak melempar tinju lain; dia mengeluarkan Fang Xin dan menusukkan pedang itu ke bawah –

Aura pedang itu meletus dan tanah bergemuruh ketika gua itu ambruk. Segera setelah itu, dia jatuh ke dalam gua bawah tanah yang mengerikan. Di dalam hati Xie Lian berdoa agar dia tidak menghantam Pei Ming dan Ling Wen, dan dia melambaikan debu di udara ketika dia bangkit dengan kedua kakinya sendiri, berbalik dengan pedang di genggamannya, dan memanggil, “Jing …”

Saat sosok ‘Jing Wen ZhenJun’ itu memasuki pandangannya, Xie Lian tidak mampu melanjutkan kalimatnya dan hanya melebarkan kedua matanya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. “Wen” adalah kata untuk “Sastra”; “Jing” adalah kata untuk “Rasa hormat”; “Jing”, nada yang sama tetapi karakter yang berbeda adalah kata untuk “Keheningan”.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments