Penerjemah: Jeffery Liu, naza_ye


Wajah remaja itu menunjukkan ekspresi mengejek, namun dia tetap tampak memiliki ekspresi ketenangan yang tidak bisa dijelaskan seolah-olah dia mengetahui segalanya. Meskipun dia memiliki suara seorang remaja, suaranya sedikit lebih dalam dibandingkan dengan anak laki-laki seusianya dan sangat menyenangkan untuk didengar. Xie Lian duduk tegak di atas gerobak sapi, masih serius berkonsentrasi. Dia merenung sejenak sebelum berkata, “Hujan Darah Mencapai Bunga, terdengar agak mengesankan. Teman, maukah kamu memberi tahuku bagaimana dia bisa dipanggil dengan sebutan itu?”

Sebagai rasa hormat, Xie Lian memutuskan untuk tidak menambahkan kata ‘muda’ setelah kata teman’ 1. Remaja itu duduk santai, dengan tangan yang dia letakkan di atas lututnya yang terangkat. Dia merapikan manset di lengan bajunya sebelum dengan acuh tak acuh berkata, “Kisah di baliknya tidak begitu mengesankan. Sebutan itu hanya karena Hua Cheng pernah membasmi sarang hantu lain, dan saat dia selesai, hujan darah mulai turun di seluruh gunung. Ketika dia pergi, dia melihat bunga yang terkena tetesan hujan darah itu dengan menyedihkan di sisi jalan yang dilewatinya, jadi dia memutuskan membuka payungnya untuk memayungi bunga itu.”

Xie Lian membayangkan pemandangan itu dan hanya merasa bahwa di tengah hujan darah dan angin, ada beberapa keanggunan dan sentimen yang saling terkait dalam. Dia kembali mengingat, legenda tentang bagaimana hantu berpakaian merah yang membakar tiga puluh tiga kuil, sebelum dia berkata sambil tertawa, “Apakah Hua Cheng sering bertarung di mana pun dia pergi?”

Remaja itu menjawab, “Tidak bisa dikatakan sering, aku pikir itu tergantung suasana hatinya.”

Xie Lian bertanya, “Orang seperti apa dia sebelum dia meninggal?”

Remaja itu menjawab, “Dia pasti bukan orang yang baik.”

Xie Lian bertanya, “Seperti apa wajahnya?”

Saat pertanyaan itu diajukan, remaja itu mengangkat mata untuk menatapnya. Dia memiringkan kepalanya dari sisi ke sisi sebelum berdiri dan berjalan ke arah Xie Lian, kemudian kembali duduk di sampingnya. Remaja itu menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, “Menurutmu? Seperti apa wajahnya?”

Setelah menatapnya lebih dekat, Xie Lian merasa bahwa remaja ini lebih menarik saat dilihat dari dekat. Selain itu, wajah remaja ini juga memiliki jenis ketampanan yang memberi sedikit kesan pada seseorang seperti diserang, seperti pedang tajam yang terhunus. Itu adalah gambaran yang sangat memesona yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh seseorang; membuat siapa pun tidak berani menatap lurus ke matanya.

Tatapan mereka hanya bertemu sebentar, dan Xie Lian bahkan sudah tidak tahan untuk terus menatapnya. Setelah sedikit menundukkan kepalanya ke samping, Xie Lian berkata, “Menjadi Raja Iblis yang terkenal, bisa diasumsikan bahwa dia telah banyak mengubah penampilannya, jadi dia seharusnya memiliki banyak penampilan.”

Ketika remaja itu melihat bagaimana Xie Lian memalingkan wajahnya, remaja itu mengangkat alis dan berkata, “Benar. Tapi terkadang dia masih menggunakan penampilan aslinya. Penampilan yang sedang kita bicarakan adalah dirinya yang asli.”

Xie Lian tidak yakin apakah perasaannya salah, tetapi dia merasa seolah-olah jarak antara mereka berdua semakin jauh. Jadi, dia sekali lagi menoleh ke kembali sebelum berkata, “Kalau begitu aku merasa dirinya yang asli pasti bisa remaja seperti kamu.”

Mendengarnya, mulut remaja itu melengkung ke atas sebelum dia berkata, “Kenapa begitu?”

Xie Lian berkata, “Bukan ‘kenapa begitu’, karena kamu bisa mengatakan apa pun, maka aku juga bisa memikirkan apa pun. Semuanya bisa menjadi apa pun yang kita inginkan.”

Remaja itu tertawa dua kali sebelum berkata, “Mungkin… Meskipun, dia buta di salah satu matanya.”

Dia mengetuk titik di bawah mata kanannya dan berkata, “Yang ini.”

Pernyataan itu bukan sesuatu yang tidak diketahui orang. Sebelumnya, Xie Lian juga sedikit mendengar tentang ini. Dalam versi legenda tertentu, Hua Cheng mengenakan penutup mata hitam di mata kanannya, menutupi matanya yang telah hilang. Xie Lian berkata, “Lalu, apakah kamu tahu apa yang terjadi dengan matanya?”

Remaja itu menjawab, “Nhn, pertanyaan itu, banyak orang yang ingin mengetahuinya juga.”

Ketika orang lain ingin tahu apa yang membuat Hua Cheng kehilangan mata kanannya, mereka sebenarnya hanya ingin tahu apa kelemahannya. Tetapi saat Xie Lian menanyakan hal itu, dia murni hanya ingin tahu. Xie Lian belum mengucapkan kata-kata selanjutnya sebelum remaja itu berkata, “Dia menggali keluar matanya sendiri.”

Terkejut, Xie Lian bertanya, “Kenapa?”

Remaja itu menjawab, “Dia menggila.”

…Setelah menggila, dia bahkan menggali keluar matanya sendiri. Rasa ingin tahu Xie Lian terhadap Hujan Darah Mencapai Bunga, Raja Iblis yang berpakaian merah ini, terus bertambah. Menurutnya, itu tidak sesederhana hanya ‘menggila’, tetapi karena remaja itu sudah mengatakannya seperti itu, mungkin tidak ada penjelasan yang lebih detail. Xie Lian lanjut bertanya, “Lalu, apakah Hua Cheng memiliki kelemahan?”

Xie Lian tidak mengharapkan jawaban apa pun dari bocah itu untuk pertanyaan ini, tetapi dia pikir dia akan menanyakannya siapa tahu ada hasilnya. Jika kelemahan Hua Cheng bisa dengan mudah diketahui oleh orang lain, maka subjek yang dibicarakan bukanlah Hua Cheng. Tapi, siapa sangka remaja itu akan menjawab tanpa ragu, “Abunya.”

Jika seseorang bisa mendapatkan abu dari hantu, maka mereka akan memiliki kekuatan untuk memerintahkan hantu tersebut. Jika hantu itu tidak mematuhi perintah mereka, seseorang bisa menghancurkan abunya, yang akan memadamkan wujud mereka dan membuat jiwa mereka hancur dan berserakan. Itu adalah pengetahuan umum. Namun, ketika yang dibicarakan disini adalah Hua Cheng, bahkan pengetahuan umum itu tidak akan berarti banyak. Xie Lian tertawa dan berkata, “Aku khawatir tidak ada yang bisa menemukan abunya. Jadi, kelemahan ini sama saja dengan dia tidak memilikinya.”

Namun remaja itu menjawab, “Tidak juga. Ada juga situasi di mana hantu akan berinisiatif untuk memberikan abunya.”

Xie Lian berkata, “Seperti bagaimana dia menantang ketiga puluh tiga Pejabat Surgawi itu untuk bertarung, dengan memberikan abunya sendiri sebagai taruhan?”

Mengejek, remaja itu berkata, “Tidak mungkin.”

Meskipun dia tidak mengatakan itu sepenuhnya, Xie Lian masih bisa mendengar makna di balik kata-katanya. Mungkin maksudnya ‘Bagaimana mungkin Hua Cheng kalah?‘. Remaja itu melanjutkan, “Ada tradisi di Alam Hantu. Bahwa, jika seorang hantu telah memilih seseorang, maka mereka akan mempercayakan abunya kepada orang itu.”

Pada kenyataannya, itu sama dengan menyerahkan hidupnya sendiri ke tangan orang lain. Untuk pengabdian semacam itu, kisah menyentuh seperti apa yang bisa diimajinasikan oleh seseorang? Terpikat pada hal itu, Xie Lian berkata, “Jadi ternyata bahkan Alam Hantu pun akan memiliki kebiasaan sentimental semacam ini.”

Remaja itu berkata, “Mereka melakukannya. Tapi tidak banyak hantu yang berani melakukannya.”

Xie Lian menduga itulah masalahnya. Jika ada iblis di dunia ini yang akan menipu atau memikat hati manusia, maka akan ada juga manusia yang membodohi iblis. Akan ada banyak eksploitasi dan pengkhianatan yang terus berlanjut. Dia berkata, “Jika itu diserahkan dengan tulus, namun hasilnya hanya tulang yang patah dan abu yang tersebar, itu memang akan membuat hati seseorang sedih.”

Namun, remaja itu tertawa sebelum berkata, “Apa yang perlu ditakutkan? Jika itu aku, setelah memberikan abuku, aku tidak akan peduli jika orang itu ingin mematahkan tulangku, atau menyebarkan abuku, atau hanya membuangnya untuk bersenang-senang.”

Xie Lian tersenyum sebelum dia tiba-tiba ingat bahwa terlepas dari bagaimana mereka berdua berbincang begitu lama, dia masih belum mengetahui nama remaja itu. Dia berkata, “Teman, bagaimana aku harus memanggilmu?”

Remaja itu mengangkat tangan untuk meletakkannya di atas alisnya, menutupi matanya dari cahaya matahari terbenam yang berwarna jingga kemerahan. Dia menyipitkan matanya, membuatnya tampak seperti tidak terlalu menyukai sinar matahari. Dia berkata, “Aku? Di keluargaku, aku peringkat ketiga. Semua orang memanggilku San Lang 2.”

Remaja itu tidak mengambil inisiatif untuk memberi tahu Xie Lian nama aslinya, jadi Xie Lian tidak bertanya lebih lanjut. Dia menjawab, “Nama keluargaku adalah Xie, dan namaku adalah karakter tunggal Lian. Melihatmu menuju ke arah ini, apakah kamu juga pergi ke Desa Puji?”

San Lang bersandar di tumpukan jerami. Dia menyelipkan kedua tangannya di bawah kepala sebagai bantal dan menyilangkan kakinya sebelum berkata, “Aku tidak tahu. Aku memilih jalan secara acak.”

Sepertinya ada cerita di balik apa yang telah dia katakan. Xie Lian berkata, “Ada apa?”

San Lang menghela napas sebelum dengan santai berkata, “Ada pertengkaran di rumah, dan aku diusir. Aku berjalan selama beberapa saat tetapi tidak ada tempat untuk pergi. Hari ini, aku merasa sangat lapar sampai hampir pingsan di ujung jalan utama, dan baru pada saat itulah aku mencari tempat secara asal untuk berbaring.”

Meskipun pakaian bocah ini terlihat cukup kasual, kualitasnya sangat bagus. Selain itu, dengan cara bicaranya yang halus dan bagaimana dia tampak sangat pendiam, memiliki waktu untuk membaca ini dan itu, yang paling tahu segalanya, Xie Lian sudah lama curiga bahwa dia adalah seorang tuan muda dari keluarga kaya yang kabur untuk bermain. Seorang bocah laki-laki yang dimanjakan yang sudah berkeliaran sendirian di luar begitu lama pastilah menghadapi banyak kesulitan di sepanjang jalan. Itu adalah sesuatu yang bisa Xie Lian hubungkan. Mendengar bahwa dia lapar, Xie Lian mulai mengobrak-abrik kantongnya, tetapi hanya bisa menemukan satu buah roti kukus. Saat dia menyadari bahwa roti itu belum berjamur, dia merasa senang dalam hatinya sebelum dia berkata kepada remaja itu, “Apakah kamu ingin memakannya?”

Remaja itu mengangguk, jadi Xie Lian memberikan roti kukus itu padanya. San Lang menatapnya dan bertanya, “Kamu tidak punya lagi?”

Xie Lian berkata, “Aku baik-baik saja, aku tidak lapar.”

San Lang mendorong roti kukus itu kembali kepadanya dan berkata, “Aku juga baik-baik saja.”

Melihat itu, Xie Lian mengambil kembali roti kukus itu untuk kemudian membaginya menjadi dua bagian. Dia lalu sekali lagi memberikannya kepada remaja itu setengah bagian dan berkata, “Kalau begitu kamu ambil setengah, dan aku akan ambil setengah.”

Baru pada saat itulah remaja itu mau mengambil roti kukus tersebut, menggigitnya bersamanya saat mereka duduk berdampingan. Melihat bagaimana dia duduk di sisinya dan menggigit roti itu sambil terlihat bertinggah cukup baik, Xie Lian tidak bisa tidak merasa seolah-olah dia telah berbuat salah padanya di suatu tempat.

Gerobak sapi bergerak naik dan turun di sepanjang jalan gunung yang tidak rata, ditarik perlahan ketika matahari mulai berangsur-angsur terbenam di barat. Mereka berdua duduk di atas gerobak dan terus berbincang. Semakin banyak mereka berbicara, semakin Xie Lian merasakan betapa anehnya remaja ini. Meskipun usianya masih muda, setiap kata dan tindakannya memiliki kesan tentang dirinya. Dia tampak sama sekali tidak terganggu, seolah-olah dalam luasnya jarak antara surga dan bumi, tidak ada apa pun di dunia ini yang tidak dia ketahui atau membuatnya kacau. Hal itu membuat Xie Lian percaya bahwa dia mengerti banyak hal, dan cukup dewasa meskipun masih sangat muda. Namun, kadang-kadang, dia juga akan mengungkapkan antusiasme yang dimiliki oleh seorang anak muda pada umumnya. Ketika Xie Lian berkata bahwa dia adalah Master dari Kuil Pu Qi, remaja itu berkata, “Kuil Pu Qi? Sepertinya ada banyak kastanye air untuk dimakan di sana, aku menyukainya. Untuk siapa Kuil Puji itu dibangun?”

Setelah sekali lagi ditanyai pertanyaan yang menyebabkan sakit kepala ini, Xie Lian terbatuk pelan dan berkata. “Putra Mahkota Xian Le. Kamu mungkin tidak tahu tentang dia.”

Senyum malas muncul di wajah remaja itu, tetapi sebelum dia bisa menjawab, gerobak sapi tiba-tiba tersentak dalam guncangan yang tiba-tiba.

Keduanya bergoyang-goyang dia atas gerobak. Xie Lian khawatir remaja itu akan jatuh sehingga dia mengulurkan tangannya untuk memeganginya. Tapi siapa sangka, saat dia menyentuh remaja itu, San Lang bertindak seolah-olah dia terbakar oleh sesuatu yang panas dan melepaskan tangan Xie Lian dengan paksa.

Meskipun ekspresinya hanya sedikit berubah, Xie Lian masih merasakannya. Dia berpikir dalam hati, mungkin bocah ini sebenarnya membencinya? Namun selama perjalanan ini, jelas mereka asyik berbincang. Namun, saat ini, tidak ada waktu untuk berpikir lebih jauh tentang hal itu. Berdiri, dia bertanya, “Apa yang terjadi?”

Pria tua yang mengendarai gerobak sapi berkata, “Aku juga tidak tahu apa yang terjadi! Huang Tua, mengapa kamu berhenti bergerak? Ayo, cepat jalan!”

Pada saat itu, matahari sudah terbenam dan senja telah datang. Namun gerobak sapi yang mereka tumpangi masih ada di dalam hutan gunung; di mana pemandangan di sana tampak suram dan gelap. Sapi tua itu dengan keras kepala tetap diam dan tidak bergerak dari tempatnya, menolak untuk bergerak dan bersikap temperamental. Semua desakan yang dilakukan pria tua itu tidak berpengaruh pada si sapi, karena ia bertindak seolah-olah ingin mengubur kepalanya sendiri ke tanah. Ekornya bergoyang-goyang seperti cambuk saat sapi itu terus mengeluarkan suara. Xie Lian merasa ada sesuatu yang tidak beres dan baru saja hendak melompat keluar dari gerobak, ketika tiba-tiba, pria tua itu menunjuk sesuatu di depan sana dan mulai berteriak.

Xie Lian berbalik, hanya untuk melihat di depan jalan gunung sana, banyak kelompok api hijau di timur dan barat yang terbakar samar-samar. Kelompok berpakaian putih yang memegang kepala mereka saat kelompok itu berjalan perlahan-lahan ke arah mereka.

Melihat itu, Xie Lian segera berkata, “Lindungi!”

Ruoye melepaskan diri dari pergelangan tangannya sebelum mengitari gerobak sapi, menciptakan cincin mengambang di udara yang melindungi mereka bertiga dan sapi itu. Xie Lian menoleh dan berkata, “Hari apa ini?”

Pria tua itu belum menjawab ketika remaja di belakangnya berkata, “Festival Hantu.”

Di pertengahan bulan ke-tujuh, Pintu Hantu terbuka. Dia tidak melihat tanggal ketika dia pergi, tapi hari ini kebetulan adalah hari Festival Hantu!

Xie Lian menurunkan suaranya dan berkata, “Jangan berjalan sembarangan. Kita telah bertemu kejahatan hari ini. Jika kita berjalan di jalan yang salah, kita tidak akan bisa kembali.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1.   Huruf pinyin yang dimaksud disini adalah 小朋友 yang secara langsung diterjemahkan menjadi ‘teman kecil’ tetapi dalam konteks ini dapat dipahami sebagai ‘teman muda’. Pada dasarnya, meskipun akan lebih alami bagi Xie Lian untuk mengatakan itu (karena dia sangat tua haha), dia memilih tidak menambahkannya untuk menghormatinya.
  2. Ini bisa secara kasar diterjemahkan sebagai ‘putra ketiga’ jika digunakan oleh anggota keluarga, tetapi juga bisa digunakan sebagai kasih sayang antara kekasih.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments