Penerjemah: Jeffery Liu


Fu Yao berkata, “… KAMU?!”

Hua Cheng memasang ekspresi yang begitu dingin dan mengabaikannya. Adapun Lan Chang, saat dia melihat mereka berdua, dia berbalik untuk melarikan diri. Fu Yao memperhatikannya dan berbalik, “BERHENTI DISANA!”

Dia belum melangkah keluar ketika sebuah pita sutra putih panjang tampak terbang dan mengikat pergelangan kakinya. Lan Chang segera jatuh ke tanah, memeluk perutnya sendiri saat dia membalik. Sepertinya roh janin itu masih tersembunyi di dalam perutnya. Xie Lian berkata ketika dia menarik RuoYe kembali, “Jika kamu ingin dia berhenti, kamu harus melakukan ini … hanya berteriak seperti tadi tidak ada gunanya. Ngomong-ngomong, kamu berbicara tentang jenderalmu sebelumnya, apa yang terjadi dengan jendralmu?”

Fu Yao tidak menanggapinya. Dia bergumam dan pergi untuk meraih lengan Lan Chang, tampak seperti dia benar-benar marah sekarang. Bukan saja saat ini dia dengan paksa menangkap dan menarik seorang wanita, tindakannya benar-benar tak kenal ampun dan keras, tapi dia benar-benar mengutuk menggunakan kata-kata seperti ‘persetan’ sebelumnya; dia bukanlah Fu Yao yang mereka kenal sebelumnya. Namun tanpa disangka-sangka, sebelum dia bisa menarik Lan Chang ke atas, perutnya tiba-tiba membengkak seperti balon, sesosok putih keluar dari dalam perut itu dan menjerit ketika sosok itu menerjang wajah Fu Yao.

Itu adalah roh janin!

Setiap kali ia kembali ke dalam rahim ibunya, ia akan menghemat energi yang dimilikinya. Dengan demikian, serangan yang dilakukannya kali ini benar-benar berbahaya, dan Fu Yao harus fokus untuk melawannya, mengangkat tangannya untuk memukul sosok itu. Roh janin itu dipukul mundur seperti bola dan menabrak dinding penginapan dengan keras, lalu dia menerjang ke arah Xie Lian.

“Tangkap! Jangan biarkan dia lari!” Fu Yao berteriak.

Sebelum Xie Lian bergerak, Hua Cheng sudah melindunginya dengan berdiri di depannya. Bola seperti roh janin itu menghentikan serangannya secara mendadak tepat di depannya, dan dia beralih untuk menyerang Fu Yao sekali lagi. Bundelan bola hantu ini memantul dan mengamuk di koridor, tapi selain kekacauan yang mereka timbulkan, tampaknya di lantai bawah juga terjadi kekacauan yang lain. Mereka bisa mendengar teriakan-teriakan para ‘pelayan’ di lantai bawah yang masih terus memohon belas kasihan: “Tuan-tuanku, aku meminta kemurahan hatimu! Kami yang rendahan ini juga terpaksa melakukan ini untuk makan!”

“Ya, kami tidak akan melakukan ini lagi! Sejujurnya, kami hanya mencuri beberapa ayam di dekat tempat ini untuk dimakan, semuanya adalah perbuatan Tuan … Tuan Hijau, yang memaksa kami untuk menjadi bawahannya sehingga kami melakukan semua perbuatan ini, dia ada di dapur sekarang!”

Melihat bahwa situasinya sekarang telah jatuh ke dalam kekacauan total, Xie Lian tiba-tiba teringat sesuatu dan melompat turun dari lantai dua. Qi Rong ada di dapur, kakinya bersilang, menggigit dengan giginya dan tampak riang sembari menunggu ‘makanannya’ siap disajikan. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh yang besar; Xie Lian telah menendang dan menghancurkan dinding disana dan melompat dengan agresif, “Qi Rong! Di mana Gu Zi?”

Kedatangan dewa bela diri klasik ini benar-benar mengejutkan Qi Rong, “KAMU?! Mengapa kamu ada di sini? TIDAK BISAKAH KAMU DATANG SEPERTI ORANG-ORANG NORMAL BIASANYA?!”

Sama sekali tidak goyah ketika mendengar kata-katanya, Xie Lian kemudian bangkit menghampirinya dan memukul sosok itu, menekan tubuhnya di atas talenan seperti bebek, “Hentikan omong kosongmu! Apa yang kamu lakukan kepada anak itu?”

Qi Rong menyunggingkan seringaiannya, “Hehehe, lihatlah, bukankah tanah ini ditumpuk dengan mereka?”

Dengan apa tanah itu ditumpuk? Tulang manusia!

Api kemarahan menyala di hati Xie Lian, dan dia meremas tubuh Qi Rong lebih keras dengan kekuatannya. Qi Rong kemudian mulai meraung dan melolong, “OW OW OW OW LENGANKU! LENGANKU PATAH! PATAH PATAH! PUTRA MAHKOTA SEPUPU, TUNGGU SEBENTAR! OKE, OKE, OKE, AKU AKAN BERKATA JUJUR, AKU BERBOHONG, AKU TIDAK MEMAKANNYA! AKU TIDAK! AKU BERNIAT MEMAKANNYA TAPI AKU BELUM MEMAKANNYA UNTUK SEKARANG!”

“Di mana dia sekarang?” Xie Lian menuntut.

“BERHENTI MENGHANCURKAN LENGANKU, BERHENTI MENGHANCURKAN LENGANKU! Aku akan memberitahumu, si Kaki-Penyeret kecil itu dikurung di dalam gudang di samping, CEPAT PERGI DAN KAMU AKAN MELIHATNYA!”

Xie Lian memerintahkan RuoYe untuk mengikat Qi Rong, dan dia kemudian membuka pintu kecil di samping dapur. Benar saja, Gu Zi meringkuk di dalam gudang itu. Xie Lian merasakan napasnya masih berembus di bawah hidungnya dan napasnya stabil, wajahnya yang kecil memerah, tampak tengah tertidur lelap. Namun, ketika Xie Lian mengangkat anak itu, dia bisa merasakan tubuh anak itu terasa begitu panas ketika dia menyentuhnya seperti dia terserang demam, dan jantung Xie Lian menegang.

Pada saat itu, para biksu dan kultivator sebelumnya tiba di sana, dan begitu mereka memasuki dapur, mereka menginjak tanah yang dipenuhi dengan tulang manusia dan hampir tergelincir. Adegan itu benar-benar mengejutkan dan mengerikan, dan mereka semua berteriak, “HUH? BENAR-BENAR PEMBENTUKAN YANG ANEH!”

“JADI SEMUA HIDANGAN YANG ADA DI LUAR … MEREKA SEMUA … DIBUAT DARI DAGING MANUSIA?!”

“Sudah kubilang aku belum pernah melihat kaki ayam sepanjang itu!”

Tepat pada saat yang sama, terdengar suara gemuruh keras lainnya, dan lubang baru ditinju melalui langit-langit, seikat bola putih jatuh. “APA ITU?!” gerombolan itu berteriak.

Segera setelah itu, Fu Yao melompat turun dari lubang itu juga, melemparkan lebih dari sepuluh jimat kuning dari ayunan tangannya, sambil berteriak, “ENYAHLAH! JANGAN MENGHALANGI PEKERJAANKU!”

“AH! ITU ADALAH MASTER YANG BERBAKAT!” kerumunan itu berteiak.

Kemudian, Lan Chang menyeret dirinya dan berguling ke bawah, “BERHENTI MEMUKULI DIA!”

“AP-! SEORANG WANITA!” kelompok itu berteriak lagi.

Jimat berwarna kuning itu terus melesat dan menyerang seperti paku besi, seperti pisau terbang, dan sementara Xie Lian menghindari serangan jimat itu hanya dengan sedikit menggeser tubuhnya, Qi Rong tidak bisa menghindarinya, dan semua jimat itu menikam lurus ke punggungnya. Dia meratap dengan sedih, “PEMBUNUH HANTU!!!”

Kelompok itu segera berkerumun dan berkumpul di sekelilingnya untuk memeriksa jimat yang ditempakan Fu Yao, terengah-engah, “Wow, sebuah keterampilan yang luar biasa dalam menembak jimat …”

Dapur tua itu tiba-tiba menjadi sempit dan penuh sesak, begitu dipenuhi dengan suara keras dan berisik. Fu Yao mengejar roh janin itu dan terus melompat-lompat, Lan Chang mengejar Fu Yao seperti dia sudah benar-benar gila. Setengah dari wajah Qi Rong berubah bentuk ketika Xie Lian menekannya di atas talenan, punggungnya berubah menjadi target untuk jimat-jimat kuning yang dilemparkan Fu Yao sambil terus diperhatikan oleh kerumunan disana, dan Lan Chang disisi lain hendak menginjaknya dari waktu ke waktu. Dia meratap dengan menyedihkan, “MENGAPA? MENGAPA ADA BANYAK ORANG DISINI? KAMU SIAPA? DAN SIAPA KAMU? TIDAK ADAKAH DARI KALIAN YANG AKAN MEMBIARKAN AKU MAKAN??? MENGAPA SEMUANYA MENJADI SELALU SEPERTI INI TIDAK PEDULI KEMANA AKU PERGI??? MENGAPA KALIAN SEMUA MENYERANGKU??”

Ketika dia meratap, matanya berputar dan melihat melalui dinding dapur yang roboh ke bagian luar penginapan. Hua Cheng tampak seperti tidak memperhatikan kekacauan di dalam, dan duduk dengan tenang di bawah pohon dengan waktu luang yang cukup untuk membangun sebuah istana kertas dengan lembaran kertas emas. Siapa yang tahu sudah berapa lama dia bermain-main disana, tapi di depannya, sudah ada sebuah rumah kecil mewah yang terbuat dari lebih dari sepuluh lembaran kertas emas.

Qi Rong langsung mengubah nadanya dan berteriak dengan suara yang begitu keras, “SEMUA ORANG LIHATLAH KE LUAR, CEPATLAH! HUJAN DARAH MENCAPAI BUNGA BERUBAH MENJADI BOCAH LAKI-LAKI!!! JIKA KALIAN SEMUA PERNAH DISINGGUNG DAN DIRUGIKAN OLEHNYA PERGILAH SEKARANG!!! JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN INI, JIKA KALIAN MELEWATI DESA INI TIDAK AKAN ADA TOKO LAINNYA … !!!”

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah pisau daging berdarah dingin, yang tampak berkilau, dan berdarah dimasukkan ke dalam mulutnya di antara giginya. Gagang pisau daging itu dicengkeram di tangan Xie Lian.

Xie Lian tersenyum, “Hm? Apa yang kamu teriakkan?”

Qi Rong tidak melihat maupun menyadari bagaimana Xie Lian bisa menusukkan pisau itu ke dalam mulutnya; dia hanya bisa merasakan sesuatu yang dingin di bibirnya dan ujung lidahnya merasakan ada sesuatu yang sangat tajam. Meskipun dia tidak terluka dengan adanya serangan tiba-tiba itu, jika dia mencoba bergerak bahkan satu inci, mulutnya akan berdarah, dan suaranya akan teredam di tenggorokannya.

Namun, kerumunan itu sudah melihat sosok Hua Cheng yang tengah membangun sebuah istana kertas emas jauh di luar penginapan, “APAKAH ITU DIA?!”

“MUNGKIN!”

Dengan Gu Zi yang ada di salah satu tangannya, dia menarik RuoYe dengan tangannya yang lain, dan Xie Lian kemudian berlari keluar untuk mengejar mereka. Qi Rong masih terikat oleh RuoYe, dan dia menjerit saat dia terseret di tanah, “XIE LIAN KAMU BANGSAT, KAMU PASTI SENGAJA MELAKUKAN INI AKU BELUM PERNAH MELIHAT SESEORANG YANG LEBIH JAHAT DARIMU KAMU ORANG SUCI PALSU AAAAAAHAHHHHHH– “

Kerumunan itu kemudian berkumpul di sekitarnya, “Apakah kita … harus menyerang?”

“Hati-hati dengan tipu daya miliknya. Bagaimana kalau kita amati dulu?”

Tepat pada saat yang sama, Hua Cheng selesai membangun sebuah istana emas kecil miliknya, dan dia bangkit berdiri, mengangkat alisnya ketika dia memandangi bangunan kecil itu yang dibangunnya sendiri, dan dengan lembut menendangnya.

Flop, flop, flop, istana emas itu pun runtuh.

Dan penginapan itu juga mengeluarkan suara bergemuruh ketika jatuh ke dalam kehancuran.

Ilusi itu rusak. Xie Lian berbalik dan melihatnya, di belakangnya bukanlah penginapan, tetapi sebuah pondok kecil yang tampak sudah rusak dan runtuh, salah satu jenis pondok kecil yang biasa ada di perbukitan tandus seperti ini. Penginapan sebelumnya ada karena dibuat oleh mantra ilusi.

Kerumunan biksu dan kultivator yang belum memutuskan apakah mereka akan menyerang, kini semuanya dihancurkan, jatuh ke dalam tumpukan kayu-kayu busuk dan jerami-jerami usang. Xie Lian berlari ke sisi Hua Cheng, “San Lang, tidakkah menggunakan kekuatan seperti ini akan memengaruhimu?”

Hua Cheng melambaikan tangannya dengan tenang dan lembaran-lebaran kertas emas itu semuanya menghilang ke udara. “Jangan khawatir, gege, sesuatu yang kecil seperti ini bukanlah apa-apa.”

Saat itu, sepotong atap yang hancur tampak bergerak, dan Fu Yao mendorong sekumpulan jerami di atasnya, berseru dengan marah, “KAMU SAMA SEKALI TIDAK TERGANGGU, TAPI AKU TERGANGGU DISINI!”

Dia akhirnya menangkap roh janin itu, namun penglihatannya tiba-tiba menjadi gelap, dan ketika dia melihat ke atas, atap busuk itu hancur menjadi dua bagian dan terjatuh, runtuh tepat di atasnya, sungguh suatu bencana! Fu Yao mencabut jerami-jerami dari rambutnya dan menghentakkan kakinya di depan Xie Lian dan Hua Cheng, memelototi Hua Cheng yang saat itu tampak lebih pendek darinya dan mengamuk, “KAMU … Kamu sengaja melakukan ini!”

Hua Cheng berkedip tetapi tidak menanggapinya sama sekali, tetapi dia juga tidak mengejek, hanya mengangkat matanya yang hitam pekat untuk melihat Xie Lian. Xie Lian segera menjatuhkan lengannya, meraih pundaknya dan menariknya ke belakang, “Tidak, tidak, tentu saja tidak. Anak-anak tidak tahu bagaimana cara mengendalikan diri mereka … maaf, Fu Yao.”

Fu Yao mengawasinya dengan perasaan tak percaya dengan rambut di kepalanya yang tampak berantakan, “… Anak-anak? Yang Mulia, apakah kamu benar-benar berpikir jika aku begitu buta sehingga tidak mengenali siapa anak ini?”

Xie Lian menjawab dengan polos, “Apa yang kamu bicarakan? Anak ini adalah anak kecil yang sangat normal.”

“…”

Fu Yao menatap Hua Cheng dan memicingkan matanya, tetapi kemudian di belakangnya terdengar bunyi berderit yang samar, dan sepertinya Lan Chang juga mendorong sepotong atap dan merangkak keluar. Fu Yao berbalik padanya. Xie Lian menghela napas lega, menempatkan Gu Zi di tanah, tetapi ketika dia melakukannya, suara yang terdengar ragu-ragu muncul di telinganya, “… Yang Mulia?”

Xie Lian segera menegakkan tubuhnya, “… Feng Xin?”

Itu benar-benar Feng Xin di ujung yang lain, dan suaranya terdengar seperti dia mendesah penuh kelegaan, “Syukurlah! Kata sandi verbalmu belum berubah sama sekali.”

Xie Lian tanpa suara tertawa datar. Delapan ratus tahun yang lalu ketika ia mengaktifkan kata sandi verbal untuk pertama kalinya, kata sandinya adalah ‘Bacalah Sutra Etika seribu kali’; delapan ratus tahun setelahnya, kata sandinya tidak pernah berubah, dan Feng Xin benar-benar mengingatnya. Xie Lian ingat bagaimana Feng Xin tertawa sampai suaranya berubah menjadi serak ketika dia pertama kali mendengar kata sandi verbal itu bertahun-tahun yang lalu, dan Xie Lian sama sekali tidak bisa menahan perasaan nostalgia miliknya meskipun saat itu bukanlah waktu yang tepat.

“Ya, kata sandiku tidak berubah. Bagaimana keadaan di Pengadilan Tinggi? Apakah Kaisar Surgawi sudah diberitahu tentang permasalahannya dengan Ling Wen?”

Hua Cheng mendengar Xie Lian tengah berbicara dengan seorang pejabat surgawi Pengadilan Tinggi dan secara sadar melangkah menjauh, meletakkan tangannya di dahi Gu Zi untuk memeriksa apakah dia sakit. Disisi lain, suara Feng Xin bertambah serius, “Sama sekali tidak baik. Dia sudah tahu. Seluruh Pengadilan Tinggi sedang dalam kekacauan sekarang.”

Xie Lian menghela napas berat, “Semua koordinasi dan pengaturan urusan di Pengadilan Tinggi selalu dikelola oleh Ling Wen, jadi kekacauan seperti itu tidak bisa dihindari. Tidak bisakah dewa sastra lain menggantikannya?”

“Mereka sudah mencobanya tetapi mereka sama sekali tidak efektif.” Feng Xin berkata, “Biasanya mereka yang paling rajin mencemooh Istana Ling Wen, seperti mereka bisa melakukan pekerjaan dengan lebih baik jika mereka memiliki posisinya. Sekarang kita membutuhkan mereka untuk mengambil alih tugasnya, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya bahkan setengah dari apa yang Ling Wen lakukan. Hanya mengorganisir dan mengatur berita dan informasi saja sudah membuat mereka pusing; sejumlah dewa sastra semuanya jatuh dan menolak untuk mengambil posisi itu.

Xie Lian menggelengkan kepalanya dan Feng Xin menambahkan, “Dan bukan hanya Ling Wen, tetapi sesuatu juga terjadi kepada Mu Qing. Dia dikurung pada awalnya, tetapi dia memukuli dan melukai pejabat penjaga dan melarikan diri.”

“Apa?!”

Mendengar ini, dengan sebuah dorongan Xie Lian langsung menatap Fu Yao. Pemuda berpakaian hitam itu hanya mengatakan sesuatu kepada Lan Chang, dan sementara ada sesuatu seperti ketidaksenangan di wajahnya, ada lebih banyak kegelisahan. Xie Lian berjalan lebih jauh dan menurunkan suaranya, “Apa yang terjadi dengan Mu Qing? Bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini???”

“Dia tidak hanya dikurung, seluruh Istana Xuan Zhen telah ditangguhkan untuk menunggu penyelidikan.” Feng Xin menjawab, “Itu semua karena roh janin itu.”

Suara Xie Lian semakin lembut, “Apa yang terjadi dengan roh janin itu? Apakah dia benar-benar memiliki keterkaitan dengan kasus ini?”

“En.” Feng Xin berkata, “Semua iblis dan monster yang disegel di semua tempat telah meloloskan diri kali ini; Mu Qing bertanggung jawab atas hantu wanita Lan Chang dan roh janin itu, tetapi dia tidak berhasil menangkap mereka, dia membiarkan mereka pergi. Tetapi selama pengejarannya, roh janin itu dengan jelas mengenali Mu Qing dan berkata, orang yang mengukirnya dari rahim ibunya dan membentuknya menjadi hantu kecil adalah Mu Qing.”

“Itu tidak mungkin!” Xie Lian berkata, “Tidak mungkin! Meskipun Mu Qing adalah seseorang … Yah, dia tidak memiliki alasan untuk melakukan sesuatu seperti ini?”

“Siapa yang tahu.” Feng Xin berkata, “Tapi rupanya, ada metode kultivasi jahat yang melibatkan penggunaan bayi yang sudah meninggal untuk mempercepat kenaikan seseorang. Sekarang ada sejumlah orang yang curiga apakah kenaikannya juga bermasalah, jadi mereka berencana untuk mengurungnya terlebih dahulu sebelum meluangkan waktu untuk menyelidiki semua tindakannya di masa lalu, namun siapa yang tahu ternyata dia tidak bisa duduk diam dan memutuskan melarikan diri. Sekarang semua orang percaya dia bersalah dan dia melarikan diri karena kejahatan itu.”

“Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu.” Xie Lian berkata, “Ini, benar-benar tidak benar. Jika Mu Qing adalah pelakunya, lalu mengapa roh janin dan Lan Chang tidak mengenalinya di Aula Bela Diri Besar sebelumnya, dan mereka menuduhnya saat sudah ditangkap? Bukankah ini jelas-jelas sebuah fitnah?”

“Aku juga baru menyadari dan menemukan semuanya telah berkembang ke titik ini, aku sama sekali tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi.” Feng Xin berkata, “Sepertinya Lan Chang dan roh janin itu tidak tahu siapa perapal mantra itu. Tetapi ketika hantu kecil itu pertama kali dibentuk dan muncul, roh itu memiliki momen kejernihan acak, dia kehilangan kendali pada dirinya, dan meninggalkan bekas luka pada individu itu. Ketika roh janin itu berkelahi dengan Mu Qing, ia melihat ada bekas gigitan di lengan Mu Qing, dan itu adalah sebuah luka lama yang sudah berumur ratusan tahun.”

“… Apakah tanda gigitan ini cocok dengan rongga roh janin itu?” Tanya Xie Lian.

“Sangat cocok.” Jawab Feng Xin.

“Dan bagaimana Mu Qing menjelaskan mengenai bekas luka ini?” Xie Lian bertanya dengan sungguh-sungguh.

“Dia mengakui bahwa dia telah melihat roh janin itu sebelumnya,” kata Fen Xin, “Tapi dia tidak mengakui dirinya sebagai pelakunya, dia berkata jika dia menyelamatkan roh janin itu dan hanya berbuat baik tetapi dia berakhir digigit olehnya. Sebuah pengakuan seperti ini, dia mungkin juga tidak mencoba menjelaskan apa pun.”

Itu benar, hanya karena ‘membantu dengan berbuat baik’, ‘mencintai dan melindungi anak-anak’, ‘berbuat baik tanpa meninggalkan nama’, di dalam pikiran semua orang, semua itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan Mu Qing. Mu Qing selalu ‘kesepian’, tidak pernah menunjukkan kebaikan yang tidak perlu, dan tidak benar-benar berteman dengan seseorang sampai pada titik yang bisa disebut intim di surga. Sekarang sesuatu telah terjadi, tidak ada yang akan mempercayainya bahkan jika dia mencoba untuk berdebat, dan tentu saja tidak ada yang akan berbicara atas namanya. Ini mungkin salah satu alasan mengapa dia memilih untuk melarikan diri dan menyelidiki kebenarannya sendiri.

“Semuanya benar-benar masih berada di luar kendali di sini, Yang Mulia,” Feng Xin berkata, “Di mana kamu? Kaisar Surgawi mengatakan pengumpulan iblis mungkin tak bisa dibendung dan tak bisa ditahan saat ini. Cepat kembali dan bergabunglah dengan majelis!”

“Aku saat ini …” Xie Lian memulai.

Namun sebelum dia melanjutkan, suara dingin Fu Yao tiba-tiba terdengar dari belakangnya, “Kamu bicara dengan siapa?”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments