Penerjemah: Jeffery Liu


Xie Lian tidak pernah membayangkan bahwa para pelayan itu akan benar-benar menepati janji mereka dan tidak mengarahkan kelompok biksu dan kultivator ke tempatnya berada. Sebaliknya, para pelayan mengarahkan kelompok itu menuju kamar seseorang yang lain.

Tampaknya, selain mereka berdua, ada ‘wanita yang sangat aneh’ dengan seorang anak kecil yang datang ke penginapan ini untuk menginap.

Mata Surga dan kelompoknya saling memandang dan membuat gerakan tangan hampir seragam, siap untuk menendang pintu terbuka. Tiba-tiba, cahaya di dalam ruangan padam dan bayangan wanita di dalam ruangan itu menghilang. Mengikuti setelah itu adalah bunyi ‘gedebuk, gedebuk’ dari serangkaian langkah kaki cepat dan tergesa-gesa dan seorang wanita menyentak pintu terbuka, sambil berseru, “APA YANG KALIAN SEMUA LAKUKAN PARA LELAKI BERKUMPUL DI DEPAN PINTU KAMARKU DI TENGAH MALAM INI? NYONYA LELUHURMU AKAN MANDI, APA YANG KALIAN RENCANAKAN? HAH?!”

Wanita ini tampak begitu langsing dan sensual dalam sosoknya yang terungkap, wajahnya tidak menampakkan aura surgawi; Meskipun dia memiliki aura seperti seekor ayam jantan yang hendak bertarung, dia tetap sepenuhnya seorang wanita. Dia mendecakkan lidahnya, menggulung lengan bajunya dan terus mengumpat, “DAN DISINI JUGA ADA BEGITU BANYAK BIKSU DAN KULTIVATOR. BUKANKAH KALIAN PENDETA YANG BERIMAN? APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA SUMPAH KESUCIANMU?!”

Beberapa biksu bergumam, “Ini hanya salah paham, hanya salah paham …”

Wanita itu mengangkat alisnya dengan sangat tinggi, mengangkat tangannya seolah siap untuk menyerang, “APAKAH AKU PEDULI JIKA ITU KESALAHPAHAMAN ATAU SEBUAH PERTEMUAN, ENYAHLAH SEKARANG ATAU NYONYA LELUHUR INI AKAN MEMBERIKANMU BAK MANDI YANG BAGUS!”

“OI OI OI, WANITA DERMAWAN INI, BAGAIMANA KAMU BISA SEPERTI INI? HATI-HATI DENGAN KALIMAT-KALIMAT BIJAKMU!”

“Ayo pergi dari sini …”

Meskipun Xie Lian tidak mengenali wajah wanita itu, dia masih bisa mengenalinya dari suaranya dan auranya yang terasa begitu akrab. Sesaat kemudian, dia berseru dalam bisikan, “Lan Chang?”

“Betul. Ini dia.” Hua Cheng menjawab.

Melihat kerumunan itu membubarkan diri mereka, Lan Chang tampak menghela napas lega, melirik ke sekeliling dan kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa, menutup pintu. Dia tidak memakai riasan tebal seperti biasa, menunjukkan kepada dunia wajahnya yang polos, dan sementara ada cukup banyak kerutan di sekitar matanya, usianya terlihat jelas, dia tiba-tiba tampak sedikit lebih elegan, dan Xie Lian hampir tidak mengenalinya. Jika dia menampilkan dirinya seperti ini hari itu di Aula Bela Diri Besar, klaim Pei Ming untuk tidak bersalah mungkin tidak akan meyakinkan. Sebelumnya ketika Gunung TongLu dibuka kembali dan iblis-iblis itu dibangkitkan untuk pertama kalinya, ada sejumlah besar monster dan iblis yang lolos dari segel mereka di sekitar, dan Lan Chang dan roh janin ada di antara mereka. Jika ‘wanita yang sangat aneh’ yang dimaksud pelayan adalah Lan Chang, maka itu tidak berarti anak yang dia bawa adalah …

Xie Lian berbisik kepada Hua Cheng, “Roh janin pasti bersamanya. Makhluk itu terlalu berbahaya, kita tidak bisa membiarkan mereka lepas seperti ini.”

Namun, penginapan tempat mereka berada cukup dipenuhi dengan keganjulan, dan ada sekelompok master fana yang sedang mengejar Hua Cheng. Tidak akan mudah bagi mereka untuk menangkap mereka dalam keadaan seperti ini.

Kerumunan biksu dan kultivator itu berhasil sampai ke tangga, dan pelayan itu bertanya, “Jadi? Apakah itu adalah orang yang dicari tuanku?”

“Bukan!” Mata Surga menjawab, “Huh! Izinkan aku bertanya kepadamu, apakah kamu melihat seorang kultivator dengan anak kecil?”

Petugas itu memikirkannya dan berkata, “Tidak ada anak kecil, tetapi ada seorang kultivator yang kesepian.”

Mendengar ini, gerombolan itu kembali bersemangat, dan mereka bertanya dengan suara rendah, “Di mana dia?”

Petugas itu menjawab dengan suara rendah juga, “Di sini.”

Kali ini, dia menunjuk kamar yang berbeda. Kerumunan itu saling menatap lagi, dan sekali lagi menyelinap dalam langkahnya.

Namun tiba-tiba, kali ini, ketika mereka masih berada tiga kaki jauhnya dari pintu, tiba-tiba ada suara tajam yang menerobos udara, dan sebuah jimat kuning melesat dari celah pintu, menyapu pipi Mata Surga dan mendarat di dinding di belakangnya. Tertegun, semua orang pergi untuk melihat jimat itu, dan menemukan jika jimat itu setengah tertanam ke dinding seperti pelat baja.

Beberapa dari mereka hendak masuk ke dalam ruangan tetapi Mata Surga menghentikan mereka, “Itu bukan dia! Tapi seseorang yang berada di dalam pastilah sangat mengesankan, jangan ada yang gegabah dan memulai sesuatu yang ceroboh.” Kemudian dia memasang gerakan merayu dengan tangannya untuk menyapa dan memanggil, “Maaf telah mengganggumu, tuan yang terampil. Ini hanyalah kesalahpahaman.”

Yang ada di dalam ruangan tidak menanggapinya sama sekali, benar-benar gaya seorang master yang terampil. Kerumunan itu kemudian mundur dan seseorang bertanya, “Dao-xiong, mengapa kamu mengatakan jika orang yang berada di dalam ruangan itu bukan dia? Bukankah tangan kultivator sampah yang melemparkan senjata tersembunyi sebelumnya sama kuatnya?”

Kultivator sampah … Xie Lian harus benar-benar memikirkannya sebelum dia sadar bahwa ‘senjata tersembunyi’ itu adalah Incorruptible Chastity Meatball‘Baiklah…’

Mata Surga menjawab dengan suara rendah, “Tentu saja itu bukan dia. Mereka berdua melemparkan senjata tersembunyi, tetapi tangan dan kekuatan yang ada di dalam ruangan itu sedikit lebih lemah dari kultivator sampah itu … “

Dia belum menyelesaikan kata-katanya sebelum tujuh atau delapan jimat kuning datang menembaki dari belakang mereka, memaku ke pintu dan dinding seperti panah. Kerumunan itu ketakutan dan lari ke bawah tanpa sepatah kata pun. Melihat semua orang pergi, Xie Lian diam-diam membuka pintu, mengeluarkan jimat kuning dari dinding, dan kembali ke kamar. Hua Cheng menggunakan dua jarinya untuk menyalakan jimat kuning itu, dan hanya dengan sekali pandang, dia dengan ringan membuangnya. “Mata Surga benar-benar tidak terlalu buruk.”

Di permukaan jimat kuning itu ada lapisan aura spiritual, itulah sebabnya jimat itu setajam pisau, sekuat baja ketika ditembakkan, dan menembus begitu dalam ke dinding.

Namun sebelumnya, Xie Lian melemparkan bakso itu dengan sangat kuat sehingga bakso-baksu itu tertembak seperti pelet besi, dan semuanya dilepaskan melalui kendali kekuatannya sendiri tanpa tambahan kekuatan spiritual. Lagipula, dia telah menghabiskan waktu berabad-abad tanpa kekuatan spiritual, dan sudah lama terbiasa bergantung pada dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu alih-alih bergantung pada kekuatan spiritual miliknya. Mata Surga telah menggunakan ini untuk menentukan perbedaan kekuatannya.

Xie Lian mau tak mau bertanya-tanya, ‘Berapa banyak jenis orang yang berkumpul di penginapan ini? Mengapa bahkan ada seorang kultivator yang menginap di sini? Mungkinkah dia juga ada di sini untuk mengalahkan kejahatan? Sangat normal jika para biksu dan kultivator fana itu tidak melihat apa-apa, tetapi dengan tingkat keterampilan individu ini, bagaimana bisa dia tidak merasakan sesuatu yang aneh tentang penginapan ini? Bagaimanapun juga, sekarang aku benar-benar tidak bisa membiarkan para biksu dan kultivator ini menemukan San Lang yang ada di sini. Jika mereka mulai berbicara dan orang di ruangan itu sengaja mendengarnya, itu mungkin menambah pihak lain lagi dalam pengejaran mereka. Yang ini mungkin tidak mudah ditangani seperti halnya kelompok mereka.’

Kelompok itu segera kembali ke bawah dan kembali ke lobi, duduk kembali di meja panjang itu. Xie Lian mengintip melalui lubang yang diciptakan Hua Cheng dan salah satu pelayan berkata, “Aku akan pergi, meminta dapur untuk menyiapkan pesananmu segera, aku berharap tuanku berkenan untuk menunggu sedikit lebih lama, hehehe.”

“TUNGGU! Singkirkan air ini juga. Cuci gelasmu dengan benar sebelum disajikan.”

“Tentu saja, tentu saja. Hehehe.”

Pelayan itu pergi dengan wajah penuh senyum, dan mungkin dia berjalan menuju dapur. Xie Lian sepertinya ingat bahwa dapur itu terletak di belakang penginapan, jadi dia memutuskan untuk menggendong Hua Cheng, membalik jendela untuk mendarat di luar penginapan. Dia berputar ke belakang dan mengambil beberapa kerikil kecil, memegangnya di tangannya kalau-kalau dia perlu menggunakannya nanti.

Dia menyelinap ke dinding di luar dapur. Hua Cheng menyodok dindng itu lagi, dan sebuah lubang kecil muncul di dinding, seolah-olah tembok itu terbuat dari tahu. Xie Lian mendekat untuk melihat pemilik seperti apa yang dimiliki oleh tempat yang dipenuhi aura kegelapan ini.

Cahaya dari dapur tampak redup, hanya beberapa lampu sekarat yang menyala, dan tidak ada yang bisa dilihat. Tapi mendengarkan dengan seksama, ada suara berderak datang dari suatu tempat.

Xie Lian mengubah beberapa sudut pandangannya dan akhirnya menemukan bahwa suara itu datang dari bawah kompor. Pandangannya terhalang oleh kompor itu sendiri, tetapi di sebelah meja kompor itu ada kaki manusia. Jelas pria itu sudah mati, tetapi kaki itu masih tampak berkedut seiring dengan suara mengunyah dan menikmati.

Saat itu, beberapa pelayan memasuki dapur, “Rajaku …”

Di belakang kompor, seorang lelaki yang kusut dan kotor tiba-tiba mengangkat kepalanya, mulutnya tengah mengunyah sesuatu, dan dia menjawab dengan murung, “APA?!”

Bibir pria itu ditutupi dengan darah segar, matanya memancarkan cahaya hijau, dan di mulutnya menjuntai tangan manusia seperti kaki ayam. Ekspresi dari sosok itu tampak mengerikan, tetapi masih bisa dengan mudah dilihat dan dikenali – itu adalah pria yang dirasuki oleh Qi Rong!

Dengan pipi yang penuh sesak, dia mengisap jari tangan itu yang belum sepenuhnya dimakan, dan sesaat kemudian, dia meludahkan beberapa tulang, mengenai tepat di wajah para pelayan itu. Dia mengutuk, “Kalian sampah tak berguna yang lahir dari tumpukan sampah! Menangis seperti sedang berduka, dan di sini aku pikir kalian membawa makanan untuk leluhur ini. Baiklah… Dimana manusianya? Di mana dagingnya? BUKANKAH AKU SUDAH MEMBERIMU RACUNNYA, KENAPA MEREKA MASIH BISA BERDIRI?”

Tampaknya, orang yang terbaring di tanah dan saat ini sedang diunyah adalah pemilik asli dari tempat ini atau seorang pengembara lain yang lewat.

Para pelayan itu merasa sedih, “Rajaku, bukan karena kami tidak berguna, tetapi gerombolan biksu dan kultivator itu terus mendorong dan membuat segalanya menjadi sulit. Pertama-tama mereka mencibir piring yang kami sajikan karena terlalu berminyak, kemudian mereka mencibir rambut yang ada di piring. Mereka menolak untuk memakan apa pun yang kami sajikan.’

Qi Rong terus mengunyah dengan suara yang terdengar begitu renyah lalu mengisap darah dari sepuluh jari itu, “APA? APA APAAN INI?! LELUHUR INI AKAN MEMASAK MEREKA MENJADI HIDANGAN EKSEKUSI. Mereka harusnya menangis senang karena aku belum membuat mereka berlutut dan menjilati tanah, BRENGSEK MANA yang memberi mereka hak untuk menghina seperti itu? Mereka seharusnya mencoba memakan masakan yang dibuat oleh Putra Mahkota sepupu, SAMPAH ITU LEBIH BURUK DARI KOTORAN, PARA BANGSAT ITU SEHARUSNYA BERLUTUT DI HADAPAN LELUHUR INI DENGAN PERASAAN TERIMA KASIH!”

Xie Lian: “…”

“… Gege, jangan pedulikan apa kata sampah tidak berguna itu.” Hua Cheng mencoba menghibur.

“…ya.”

“ITU SEMUA KARENA KALIAN SAMPAH TIDAK BERGUNA, BAHKAN KALIAN TIDAK BISA MENCUCI PIRING SAMPAI BERSIH!”

Qi Rong melompat berdiri dan mengumpat saat dia memukuli para pelayan itu. Kemarahannya terpuaskan, Qi Rong menggulung lengan bajunya, membersihkan bibirnya yang berlumuran darah dengan sapuan tangannya, dan mengambil spatula, mendentingkan wajan besi disana, sambil memaki ketika dia memberi perintah, “KEMARILAH!!! Buka matamu yang brengsek itu, aku akan membiarkanmu menyaksikan keterampilan leluhur ini! Lihat apakah kalian semua memiliki sesuatu yang buruk untuk dikatakan setelahnya!”

Kobaran api meraung ke langit, dan segera setelah itu, dia memang membuat lagi sebuah hidangan yang sudah tersaji di atas piring, dan dia memerintahkan para pelayan untuk memberikannya kepada kelompok biksu dan kultivator sebelumnya.

Di atas piring itu benar-benar sebuah hidangan; dagingnya berlimpah, sayuran tampak begitu segar, membawa aroma yang menyenangkan, dan memikat. Xie Lian kembali ke kamar tamu di lantai dua dan mengintip ke bawah, dan para biksu dan kultivator itu tampak kagum melihatnya, “Ini terlihat bagus!”

“Ya! Ini dimasak dengan sangat baik, terutama kaki ayam ini benar-benar kaya akan bumbu, lemak dan sangat lembut … bukankah itu sedikit terlalu gemuk dan lembut? Aku belum pernah melihat kaki ayam sepanjang ini?”

Para pelayan menjelaskan, “Oh! Ini adalah spesialisasi penginapan kami, ini bukan kaki ayam khas yang biasanya kalian makan, tetapi ini adalah kaki ayam dari phoenix putih yang langka terutama dengan cakarnya yang sudah dibersihkan. Tidakkah mereka terlihat gemuk dan lembut seperti seorang gadis, sangat memikat dan menggoda bukan?”

“Kamu benar. Tapi aku lebih suka kulit babi goreng ini; kulit babi agak renyah dan lembut, masak dengan api yang pas … tunggu, mengapa babi ini memiliki tato?”

Para pelayan menjelaskan, “Oh! Itu karena koki kami ingin menunjukkan keterampilan ukirnya yang suci, jadi ini sengaja diukir untuk memamerkan sedikit trik, itu saja.”

“Iga manis dan asam ini sepertinya tidak matang dan sausnya terlalu kental, kamu tidak mencoba menutupi sesuatu yang aneh dengan semua rasa manis dan asam ini, bukan?”

Para pelayan menjelaskan, “Oh! Tidak ada yang semacam itu. Semua yang ada di tempat ini disembelih dan dijual pada hari itu, hanya saja koki kami memiliki rasa yang lebih kuat, itu saja.”

“…”

Melihat bagaimana mereka memuji hidangan di atas piring ini tanpa henti dan tampak sangat bekerja keras, Xie Lian benar-benar tidak bisa menahannya lagi dan melemparkan kerikil kecil yang dia ambil sebelumnya, melemparkannya keluar dari lubang kecil itu.

Tembakan ini mengenai tangan yang digunakan Mata Surga untuk mengangkat cangkir teh yang akan diminumnya untuk ‘detoksifikasi’, dan lengannya gemetaran, menumpahkan air dari cangkir itu. Tumpahan ini memercik tepat di wajah salah satu pelayan yang terus tersenyum.

Air itu tidak panas, tapi rasanya seperti sebuah air mendidih tumpah ke salah satu pelayan disana, dan pelayan itu menutupi wajahnya sambil meratap, “AAHHH!!!”

Sekarang semua orang di meja tampak bingung, dan mereka semua mengangkat senjata mereka, “APA YANG TERJADI?!”

Mata Surga menangkap tangan petugas itu dan menariknya ke samping. Kerumunan disana berteriak “AH”. Fitur wajah pelayan itu setengah meleleh, seolah-olah air telah tumpah di selembar kertas kosong dan tinta di atasnya luntur karenanya. Tampak buram dan kabur, jejak tinta menyebar di sepanjang pipi dan berguling ke bawah.

Wajah dan senyumnya digambar dengan kuas!

“…”

Tanpa ragu, gerombolan itu membalik meja, dan langsung memulai perkelahian dengan para pelayan.

Para pelayan itu memeluk kepala mereka saat mereka dipukuli, melolong, “TUANKU!!! TOLONG HENTIKAN! UM, ITU UM, WANITA YANG SANGAT ANEH DENGAN ANAK KECIL YANG KALIAN CARI!!! KULTIVATOR ANEH ITU ADA DI LANTAI ATAS! MEREKA ADA DI LANTAI ATAS! PERGILAH CARI MEREKA! BIARKAN KAMI PERGI! KAMI HANYA PEKERJA PARUH WAKTU!!!”

“CIH! PEKERJA PARUH WAKTU? APA KAMU BERCANDA?”

“MENCOBA MENIPU KAMI? KALIAN PIKIR KAMI MUDAH DITIPU? SUDAH TERLAMBAT SEKARANG!”

Para pelayan merasa sedih, “Kami tidak berbohong! Itu benar!”

Keributan di lantai bawah menjadi liar, dan melihat tuan-tuan itu berada di atas angin, Xie Lian menggelengkan kepalanya. Dia berhenti memedulikan mereka dan hendak menangkap Lan Chang dan roh janin di tengah-tengah kekacauan ini sebagai gantinya ketika tiba-tiba, bahkan sebelum pintu dibuka, jeritan datang dari koridor. Suara ketakutan Lan Chang terdengar, “Tidak… aku mohon, aku tidak mau pergi! Tolong, aku mohon, biarkan kami pergi! Aku akan berlutut dan bersujud!”

Suara marah seorang pria muda berkata, “Siapa yang peduli dengan sujudmu? Jika kamu pergi, lalu apa yang harus aku … jenderalku lakukan? Persetan, kalian sepasang ibu dan anak benar-benar melakukannya saat ini! Cukup mengatakan hal-hal tidak berguna, kamu ikut denganku!”

Mendengar suara itu, Xie Lian membuka pintu, “Kamu?!”

Di koridor panjang, seorang pemuda berpakaian hitam berdiri di sana menghalangi di depan Lan Chang, ekspresinya tampak gelap. Saat Xie Lian muncul, dia mendongak sedikit dan terperangah, “Kamu?!”

Xie Lian keluar dari balik pintu, “Fu Yao? Mengapa kamu ada di sini?”

Lan Chang melihatnya dan membelalakkan matanya, “… Putra Mahkota?”

“…” Fu Yao memandangnya dari atas ke bawah sejenak, bibirnya bergerak-gerak, tapi setidaknya matanya tidak berputar. Dia bertanya kembali, “Mengapa kamu juga ada di sini?”

Xie Lian menatap dirinya sendiri dan buru-buru menanggalkan jubah wanita itu dan menjawab, “Ceritanya panjang.”

Saat itu, Fu Yao memperhatikan Hua Cheng yang berdiri di sisinya, dan pupilnya menyusut.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments