Penerjemah: Jeffery Liu, naze_ye


Tentu saja, itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah Xie Lian katakan dengan keras. Namun, tidak heran jika ekspresi Nan Feng dan Fu Yao berubah saat mereka mendengarnya menyebutkan kupu-kupu perak. Bisa diasumsikan bahwa mereka juga menderita di tangan pemilik kupu-kupu perak itu bersama dua Jenderal mereka.

Seorang Pejabat Surgawi bertanya, “Yang Mulia Putra Mahkota, kamu bertemu Hua Cheng. Dia, dia, dia… apa yang dia lakukan padamu?”

Nada seperti itu, kedengarannya lebih seperti dia bertanya, “Apakah kamu kehilangan lengan atau kehilangan kaki?”

Xie Lian berkata, “Dia tidak melakukan apa-apa, hanya…”

Ketika dia berbicara pada titik itu, dia benar-benar kehilangan kata-katanya. Xie Lian mulai berpikir di kepalanya, “Hanya apa? Tidak seperti dia bisa mengatakan, ‘dia hanya merampok tanduku, dan kemudian memegang tanganku dan membimbingku sepanjang jalan’.”

Setelah terdiam sesaat, dia hanya bisa berkata, “Dia hanya menghancurkan array membingungkan milik hantu wanita Xuan Ji yang ada di Gunung Yu Jun, dan kemudian membawaku masuk.”

Sebagian besar Pejabat Surgawi mulai memikirkan kata-katanya, entah bergumam sendiri atau tetap diam. Hanya setelah beberapa saat seorang Pejabat Surgawi bertanya, “Semuanya, bagaimana menurut kalian?”

Hanya dengan mendengarkan suara mereka, Xie Lian sudah bisa membayangkan semua Pejabat Surgawi yang berulang kali menggelengkan kepala mereka.

“Tidak ada pendapat, aku benar-benar tidak punya pendapat!”

“Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan, itu agak mengerikan.”

“Seperti biasa, tidak ada yang bisa memahami apa yang ingin dilakukan Hua Cheng…”

Meskipun Xie Lian baru saja diberitahu reputasi Hua Cheng sebagai Raja Iblis, namun terhadap orang ini, Xie Lian tidak benar-benar berpikir bahwa dia menakutkan. Jika dia benar-benar harus mengatakan sesuatu, dia pikir kali ini, bahkan bisa dianggap bahwa Hua Cheng telah membantunya. Singkatnya, doa pertama untuk berkah yang dia terima setelah dia naik dan kembali ke Surga seharusnya bisa dianggap selesai untuk masalah ini.

Sudah lama disepakati bahwa semua pahala yang didapatkan dari kasus Gunung Yu Jun akan dianggap sebagai milik Xie Lian. Terlepas dari berapa lama waktu berlalu sebelum akhirnya Pejabat itu ingat untuk menebus sumpahnya karena kematian putrinya, dia tetap memenuhi janjinya dengan patah hati, meskipun dia akhirnya membayar lebih sedikit. Namun, setelah mengumpulkan dari sana-sini dan karena mereka menguranginya sedikit, delapan juta, delapan ratus delapan puluh ribu pahala itu kurang lebih dianggap sudah terbayar.

Tanpa hutang, tubuh Xie Lian terasa ringan dan bebas, hatinya kini telah merasa jernih layaknya pemandangan langit yang tak terbatas. Dengan semangat tinggi, dia sepenuhnya bebas dari rasa khawatir dan sangat bahagia. Xie Lian memutuskan untuk menjadi dewa dengan benar, dan akan lebih baik jika dia bisa setidaknya sedikit berteman dengan Pejabat Surgawi lainnya.

Meskipun biasanya array komunikasi spiritual di Surga dalam keadaan yang damai, ketika dalam keadaan sibuk, teriakan para pejabat surgawi yang tergabung di dalamnya bisa berlangsung selama berhari-hari. Selain itu, ketika suasana hati para Pejabat Surgawi sedang dalam keadaan baik, dan mungkin saat mereka melihat sesuatu yang menarik, mereka akan membicarakannya di dalam array komunikasi spiritual. Ketika saat itu tiba, mereka akan tertawa kecil untuk sesaat.

Meskipun Xie Lian tidak tahu suara siapa saja yang tergabung di sana, dia masih diam mendengarkan semua orang berbicara. Namun, dia tidak bisa terus diam selamanya. Jadi, setelah dia mendengarkan pembicaraan mereka sebentar, dia kadang-kadang tampak mengatakan sesuatu dengan hangat, seperti:

“Itu benar-benar sangat menarik.”

“Aku membaca puisi singkat yang sangat indah, biarkan aku membaginya dengan semua orang.”

“Ada rahasia kecil yang sangat efektif untuk mengatasi nyeri pinggang dan kaki, biarkan aku membaginya dengan semua orang.”

Namun, sangat disayangkan, setiap kali dia mengatakan sesuatu yang telah dipilihnya dengan hati-hati dan cukup bermanfaat bagi tubuh dan pikiran, array komunikasi spiritual akan menjadi hening. Setelah beberapa saat, Ling Wen benar-benar tidak tahan lagi dan akhirnya mengatakan padanya secara pribadi, “Yang Mulia, sesuatu yang kamu katakan dalam array komunikasi spiritual semuanya sangat baik, namun, aku khawatir bahkan seorang Pejabat Surgawi yang beberapa dari mereka berusia seratus tahun lebih tua darimu tidak akan membicarakan hal-hal semacam itu.”

Xie Lian mulai merasa sedikit tertekan. Pada kenyataannya, dia jelas bukan yang paling tua. Namun, ketika dia bersama Pejabat Surgawi lainnya, mengapa dia bisa dibilang seperti orang tua yang tidak bisa mengikuti topik anak muda?

Dia mungkin terlalu lama tinggal jauh dari Surga. Juga, selalu bodoh dan kurang informasi, dan tidak pernah begitu peduli tentang hal-hal yang berasal dari dunia luar.

Karena dia tidak bisa memperbaikinya, maka lebih baik lupakan saja. Xie Lian menyerah untuk masalah ini, dan hasilnya, dia merasa sedikit lebih baik.

Namun, dia masih memiliki satu masalah yang tersisa: bahkan sampai sekarang, belum ada seorang pun di dunia manusia yang telah membangun sebuah kuil baru untuknya. Tidak, mungkin ada, tetapi yang jelas, Surga tidak menemukan satu pun ketika mereka mencari dan dengan demikian tidak ada catatan tentang itu.

Harus diingat bahwa seorang dewa bumi lokal pun memiliki semacam kuil. Tetapi bahkan sampai hari ini, Xie Lian, seseorang yang dengan sungguh-sungguh naik menjadi Pejabat Surgawi dan bahkan telah melakukannya tiga kali, tidak memiliki satu pun kuil dan seorang pun penyembah yang akan membakar dupa untuknya. Benar-benar sangat canggung.

Meskipun, itu hanya Pejabat Surgawi lain yang merasa canggung untuknya. Xie Lian sendiri masih berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Selain itu, suatu hari, dia terbawa suasana untuk bercanda dan tiba-tiba terinspirasi, “Jika tidak ada yang mau memberiku persembahan, maka tidak apa-apa jika aku memberikan persembahan untuk diriku sendiri, bukan?”

Semua Pejabat Surgawi tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Siapa yang pernah mendengar tentang Pejabat Surgawi yang memberikan persembahan kepada diri mereka sendiri?!

Menjadi begitu menderita sampai pada tingkat ini sebagai seorang dewa, perasaan seperti apa yang masih tersisa?!

Sedangkan Xie Lian, dia sudah lama terbiasa dengan keheningan yang canggung setiap kali dia berbicara. Dia berpikir bahwa menghibur dirinya sendiri dan membuat dirinya tertawa juga bisa dianggap sebagai sesuatu yang menarik. Jadi, setelah membuat keputusan, dia sekali lagi melompat turun ke dunia manusia.

Kali ini, ketika dia mendarat, lokasinya adalah di desa pegunungan kecil bernama Desa Pu Qi 1.

Meskipun dikatakan bahwa tempat ini adalah desa pegunungan, pada kenyataannya, hanya sebuah lereng perbukitan kecil. Xie Lian melihat bahwa tempat ini memiliki pemandangan yang sangat bagus, dengan perbukitan hijau, perairan yang jernih, dan sawah yang menjangkau kaki langit.

Dalam hatinya, dia berpikir, “Kali ini, aku benar-benar mendarat di tempat yang bagus.”

Xie Lian kembali melihat ke sekeliling dan melihat sebuah gubuk rusak dan reyot di atas bukit. Ketika dia bertanya kepada orang-orang tentang gubuk itu, semua penduduk desa berkata, “Gubuk rusak itu telah ditinggalkan dan tidak memiliki pemilik. Kadang-kadang ada pengembara yang masuk ke sana untuk bermalam. Kamu boleh tinggal di sana kalau kamu mau.”

Bukankah itu persis seperti apa yang Xie Lian inginkan? Dia segera berjalan ke arah gubuk.

Hanya setelah berjalan lebih dekat Xie Lian menyadari bahwa meskipun gubuk kecil itu terlihat cukup bobrok dari jauh, sebenarnya dari dekat terlihat lebih bobrok lagi. Dua dari empat pilar di sudut gubuk sudah lapuk dan membusuk. Begitu angin bertiup, seluruh gubuk akan mulai mengeluarkan bunyi berderit, membuat orang merasa ragu setiap waktu apakah pilar itu akan jatuh.

Namun, ‘kerusakan’ seperti ini masih berada pada tingkat yang bisa diterima oleh Xie Lian. Setelah memasuki gubuk dan melihat sekeliling, dia mulai membersihkan barang-barang di dalam sana.

Ketika penduduk desa melihat ini, mereka semua sangat terkejut. Seseorang benar-benar akan tinggal di gubuk itu? Jadi, mereka semua berkumpul di sana dan mengawasinya yang tampak sibuk.

Berlawanan dengan apa yang orang duga, penduduk desa di sini sangat antusias. Mereka tidak hanya memberinya sapu, setelah melihat penampilannya yang kotor setelah membersihkan tempat itu, mereka juga memberinya beberapa kastanye air yang baru dipetik. Kulitnya sudah dikupas sehingga masing-masing kastanye air itu berwarna putih dan lembut, manis dan berair.

Xie Lian berjongkok di depan gubuknya yang rusak dan selesai memakan kastanye air. Dia menyatukan telapak tangannya sebagai tanda atas rasa syukurnya. Saat itu, dia memutuskan dalam hatinya untuk menyebut tempat ini Kuil Pu Qi.

Ada sebuah meja kecil di dalam Kuil Pu Qi. Setelah membersihkannya dua kali, meja itu bisa digunakan sebagai meja persembahan. Selagi Xie Lian terus menyibukan dirinya, penduduk desa yang mengelilinginya menyadari bahwa anak muda ini benar-benar ingin membuat tempat untuk membangun kuil kecil.

Mereka semua merasa bahwa hal itu bahkan lebih tidak biasa dan aneh, sehingga mereka satu per satu datang untuk bertanya, “Kuil ini, untuk siapa kamu memberikan persembahan?”

Xie Lian terbatuk pelan sebelum berkata, “Ah, kuil ini untuk Putra Mahkota Xian Le.”

Semua orang merasa jengkel, “Siapa itu?”

Xie Lian berkata, “Aku… juga tidak tahu. Aku pikir dia adalah seorang Putra Mahkota.”

“Oh, apa yang dia lakukan?”

“Dia mungkin seseorang yang menjamin perdamaian.” Dan mengumpulkan sampah di pinggir jalan.

Semua orang mulai dengan sungguh-sungguh bertanya, “Lalu Yang Mulia Putra Mahkota ini, apakah dia bisa memberi kekayaan dan kemakmuran?!”

Xie Lian berpikir dalam hatinya, tidak berhutang uang saja sudah cukup bagus. Kemudian, dia berkata dengan suara hangat, “Sangat disesalkan, tapi sepertinya itu tidak mungkin.”

Satu demi satu, orang-orang mulai memberinya saran. “Berikan saja persembahan kepada Master Air, itu akan mengundang kekayaan! Dupa yang dibakar di sini pasti akan makmur.”

“Atau mungkin kamu bisa memberikan persembahan kepada Ling Wen ZhenJun! Siapa tahu, mungkin seseorang dari desa kami akan menjadi Zhuangyuan 2!”

Seorang wanita dengan malu-malu dan dengan sedikit takut berkata, “Itu… apakah kamu… apakah kamu sudah mempertimbangkan itu…”

Xie Lian mempertahankan senyumnya dan berkata, “Itu?”

“Jenderal Ju Yang. 3

“….”

Jika dia benar-benar membuka Kuil Ju Yang, dia takut Feng Xin akan segera menembakkan panah dari Surga untuk menghancurkannya!

Setelah membersihkan Kuil Pu Qi, masih ada beberapa yang kurang seperti pembakar dupa, qiantong (sesuatu yang biasanya ada di kuil) dan berbagai benda lainnya. Namun, Xie Lian benar-benar melupakan hal yang paling penting―patung Ilahi. Dia membawa topi bambunya dan berjalan keluar pintu, oh benar, pintu juga tidak ada.

Setelah berpikir sebentar, Xie Lian memutuskan bahwa gubuk ini jelas perlu dibangun kembali. Jadi, dia menulis sebuah tanda dan meletakkannya di depan pintu. Bertuliskan: “Kuil ini bobrok. Silakan menyumbang untuk renovasi kuil ini untuk mengumpulkan pahala kebajikan.”

Setelah meninggalkan gubuk dan berjalan selama tujuh atau delapan li 4, dia tiba di sebuah kota. Untuk alasan apa dia pergi ke kota? Yah, secara alami untuk berkeliling dan mencari makanan untuk dimakan. Oleh karena itu, dia sekali lagi mengambil pekerjaan lamanya.

Dalam legenda dan cerita rakyat, dikatakan bahwa makhluk abadi tidak lagi butuh makan. Kenyataannya, sangat sulit untuk dikatakan. Meskipun mereka yang memiliki kekuatan besar benar-benar bisa menyerap kekuatan spiritual yang mereka butuhkan dari sinar matahari, hujan, dan embun. Tetapi masalahnya adalah―meskipun mereka bisa melakukannya, jika itu tidak perlu, siapa yang mau melakukannya? Mengapa mereka ingin melakukan hal seperti itu?

Tetapi beberapa Pejabat Surgawi mengharuskan lima isi perut agar selalu bersih dan murni karena mereka mempraktikkan jalur Buddhisme. Memang, orang-orang itu tidak tahan dengan ikan dan daging yang berminyak dari dunia manusia. Jika mereka dikotori oleh sesuatu seperti itu, itu sama saja seperti manusia yang memakan lumpur atau serangga mentah yang beracun, sehingga mereka akan mulai muntah dan diare. Jadi masalahnya, bukan karena mereka tidak makan, mereka hanya memakan sesuatu yang lahir di tempat yang bersih dan murni, hal-hal yang menjanjikan umur panjang. Seperti buah abadi dan binatang spiritual yang akan meningkatkan kemanjuran kekuatan spiritual.

Namun, masalah semacam itu tidak berlaku untuk Xie Lian. Dengan kutukan yang ada padanya, dia tidak berbeda dengan manusia, dan dengan demikian dia bisa memakan segalanya. Dan karena dia adalah veteran berpengalaman dari seratus pertempuran, apa pun yang dia makan, dia tidak akan mati. Apakah itu roti kukus yang sudah tergeletak selama satu bulan, atau kue-kue yang telah ditumbuhi beberapa jamur hijau, dia pasti akan baik-baik saja setelah memakan semua itu. Karena dia memiliki tubuh semacam itu yang menentang surga, dia benar-benar baik-baik saja selama periode ketika dia mengumpulkan sampah. Sebaliknya: membuka kuil berarti kehilangan uang, mengumpulkan sampah berarti menghasilkan uang, jadi mengumpulkan sampah benar-benar lebih baik daripada naik ke surga.

Dia tampak seanggun giok Cina dengan aura seorang yang hidup abadi, jadi dia memiliki keuntungan saat mengumpulkan sampah. Tidak butuh waktu lama sebelum Xie Lian selesai mengumpulkannya sebanyak satu tas besar.

Dalam perjalanan kembali ke kuil, dia melihat seekor sapi tua menarik gerobak dengan jerami di atasnya menumpuk setinggi langit. Xie Lian ingat bahwa dia sepertinya telah melihat gerobak itu di Desa Puji sebelumnya, jadi mereka tampaknya akan melewati jalan yang sama. Dia bertanya apakah dia bisa menumpang pulang, dan pemilik gerobak mengangkat dagunya, menunjukkan dia boleh naik ke gerobak.

Jadi, Xie Lian duduk di atas gerobak dengan sekantong besar sampah. Hanya setelah dia naik baru Xie Lian menyadari bahwa di balik tumpukan jerami yang tinggi, sudah ada seseorang yang berbaring di sana.

Bagian atas tubuh orang ini tersembunyi oleh tumpukan jerami. Lutut kaki kirinya ditekuk dan menopang kaki kanannya, dan sepertinya dia menggunakan lengannya sebagai bantal untuk beristirahat. Dia tampak sangat santai dan puas. Sikap puas orang ini sebenarnya adalah satu-satunya hal yang membuat Xie Lian agak iri. Sepasang sepatu bot hitam itu tampak kencang, pas di kakinya yang ramping, lurus, dan tampak cukup nyaman untuk di pandang.

Xie Lian mengingat apa yang dilihatnya di balik kerudung pada malam itu di Gunung Yu Jun dan tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat sepatu bot itu sekali lagi. Setelah dia memastikan bahwa tidak ada rantai perak yang tergantung di sepatu bot yang terbuat dari entah bulu binatang apa itu, dia berpikir, “Dia pasti Tuan Muda dari suatu keluarga yang kabur untuk bermain, kan?”

Gerobak itu dengan lamban bergoyang-goyang di jalan. Masih membawa topi bambu di punggungnya, Xie Lian mengambil gulungan dan bersiap untuk membaca. Di masa lalu, dia tidak pernah begitu memperhatikan semua berita yang beredar di dunia luar. Namun, karena banyaknya keheningan canggung yang telah dia sebabkan, dia memutuskan bahwa mungkin sebaiknya dia belajar.

Setelah gerobak sapi bergoyang-goyang untuk entah berapa lama, mereka melewati hutan. Xie Lian mengangkat kepalanya untuk melihat-lihat ke empat penjuru arah, hanya untuk melihat ladang-ladang hijau bergelombang, dan dedaunan maple indah yang menyerupai api, menghadirkan pemandangan menarik di antara celah-celah pegunungan di hutan belantara. Pemandangan seperti itu sangat memabukkan, menembus hati seseorang dengan suasananya yang dingin dan segar. Xie Lian tidak bisa tidak menatap kosong ke kejauhan.

Ketika dia masih muda dan masih berkultivasi di dalam Kuil Huang Ji, Kuil Huang Ji dibangun di atas gunung. Daratan pegunungan disana tertutup oleh hutan maple, tampak secemerlang emas dan sekuat api. Situasi dan pemandangan ini mebuat Xie Lian sulit untuk tidak mengingat masa lalunya. Dia menatap ke kejauhan beberapa saat sebelum dia menundukkan kepalanya untuk kembali melihat gulungannya.

Setelah dia membuka gulungan itu, saat dia pertama kali memandang, dia melihat barisan kata yang berbunyi:

Putra Mahkota Xian Le, yang naik tiga kali. Dewa bela diri, iblis yang menyebabkan wabah, dewa sampah.

“…”

Xie Lian berkata, “Baiklah, jika kamu memikirkannya dengan hati-hati, mengenai dewa bela diri dan dewa sampah, sebenarnya tidak ada banyak perbedaan di antara keduanya. Semua dewa adalah sama, semua makhluk hidup adalah sama.”

Pada saat itu, tawa ringan terdengar dari belakangnya ketika sebuah suara berkata, “Apakah itu benar?”

Remaja itu berbicara dengan nada malas, “Orang selalu suka mengatakan bahwa semua dewa adalah sama, semua makhluk hidup adalah sama. Tetapi jika itu memang benar, semua dewa dan makhluk abadi yang bermacam-macam itu tidak akan ada.”

Suara itu datang dari balik tumpukan jerami di gerobak. Xie Lian berbalik untuk melihat dan menyadari bahwa remaja itu masih terbaring di sana dengan lesu. Dia sepertinya tidak ingin bangun, jadi dia mungkin baru saja mengucapkan kalimat itu tanpa terlalu memikirkannya. Jadi, Xie Lian menjawab sambil tersenyum, “Apa yang kamu katakan juga masuk akal.”

Dia berbalik dan terus melihat gulungannya, yang mengatakan:

Banyak orang percaya bahwa sebagai iblis yang membawa wabah, benda apa pun yang memiliki tulisan tangan atau lukisan Putra Mahkota Xian Le memiliki kemampuan untuk mengutuk seseorang. Jika kamu menempelkannya ke punggung seseorang atau mungkin pintu masuk utama keluarga seseorang, itu akan menyebabkan ketidakberuntungan pada keluarga atau orang tersebut.

“…”

Penjelasan semacam ini membuat orang sulit untuk mengatakan apakah mereka berbicara tentang dewa atau hantu.

Xie Lian menggelengkan kepalanya, dan tidak tega untuk terus melihat penjelasan yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Dia memutuskan bahwa akan lebih baik jika dia pertama-tama mencari tahu tentang semua pejabat surgawi yang saat ini ada di Surga. Dengan cara ini, dia bisa menghindari ketidaktahuannya tentang siapa saja kah mereka, sesuatu yang agak kurang sopan. Dia ingat bagaimana penduduk desa baru saja menyebutkan tentang Master Air dan dengan demikian, dia pun mulai mencari-cari penjelasan tentang Master Air di gulungan. Dia membalik halaman ke kalimat yang mengatakan:

Master Air Wu Du. Menguasai air dan juga kekayaan. Karenanya, di dalam toko dan rumah-rumah pedagang, mereka semua akan memiliki patung Master Air untuk memastikan kekayaan dan kemakmuran mereka.

Xie Lian merasa agak bingung. “Karena dia adalah dewa air, lalu mengapa dia juga memegang kekuasaan atas kekayaan dan kemakmuran?”

Pada saat itu, remaja yang berbaring di belakang tumpukan jerami berbicara lagi, “Ketika rombongan pedagang mengirimkan dagangannya, mereka harus terlebih dahulu mengangkutnya melalui jalur air. Jadi, setiap kali sebelum mereka berangkat, mereka akan pergi ke kuil Master Air dan membakar lilin dupa yang tinggi. Mereka akan berdoa agar perjalanan mereka lancar, dan berjanji untuk melakukan ini dan itu begitu mereka kembali. Karena sudah sejak lama begitu, Master Air juga mulai secara bertahap memegang kekuasaan atas kekayaan dan kemakmuran.”

Remaja itu benar-benar secara rinci menjelaskan apa yang membuat Xie Lian kebingungan. Xie Lian berbalik dan berkata, “Jadi seperti itu? Menarik. Mungkin, Master Air ini adalah Pejabat Surgawi yang sangat kuat.”

Remaja itu mencibir dan berkata, “Ya, Air yang Menindas Langit.”

Nada suaranya membuatnya tampak seperti dia tidak terlalu peduli pada Pejabat Surgawi ini. Juga tidak terlihat seperti dia mengatakan sesuatu yang baik. Xie Lian bertanya, “Apa itu ‘air yang menindas langit’?”

Remaja itu dengan santai berkata, “Ketika sebuah kapal melewati sungai besar, apakah kapal itu akan bergerak atau diam, semua tergantung pada satu kata darinya. Jika seseorang tidak memberi persembahan kepadanya, kapal mereka hanya akan terbalik, sangat menindas. Itulah sebabnya dia diberi julukan, yang tepatnya adalah ‘Air yang Menindas Langit’. Memiliki ide yang kurang lebih sama dengan Ju Yang, Jenderal ‘Maskulinitas Luar Biasa’ dan Jenderal ‘Menyapu Lantai’.”

Untuk Pejabat Surgawi yang terkenal dengan gelar yang luar biasa, mereka semua biasanya memiliki beberapa julukan di alam fana dan surga. Mirip dengan Xie Lian Bahan Tertawaan dari Tiga Alam, Orang Aneh yang Terkenal, Pembawa Ketidakberuntungan, Anjing Liar, uhuk uhuk, dan sebagainya. Biasanya, memakai julukan untuk memanggil Pejabat Surgawi adalah sesuatu yang sangat tidak sopan. Misalnya, jika seseorang berani memanggil Mu Qing Jenderal ‘Penyapu Lantai’ di depan wajahnya, Mu Qing pasti akan menjadi sangat marah. Xie Lian mencatat bahwa dia tidak bisa menggunakan nama panggilan itu sebelum berkata, “Teman, kamu masih sangat muda, tapi ternyata ada banyak hal yang kamu ketahui.”

Remaja itu berkata, “Aku tidak tahu banyak. Hanya menganggur. Saat aku memiliki waktu luang, aku akan memeriksanya, itu saja.”

Di dunia manusia, orang-orang bisa menemukan banyak risalah tentang mitologi di mana pun mereka berada, semuanya mengisahkan tentang para dewa dan hantu. Kisah-kisah itu memuat hal-hal yang besar tentang kebaikan dan keburukan, hingga hal-hal kecil yang sepele. Beberapa dari mereka adalah kisah palsu, dan beberapa lagi adalah kebenaran. Jadi, meskipun remaja ini tahu banyak, itu tidak bisa dianggap terlalu aneh. Xie Lian meletakkan gulungannya dan berkata, “Kalau begitu, teman, kamu tahu banyak tentang para dewa. Tetapi, apakah kamu juga tahu tentang hantu?”

Remaja itu bertanya, “Hantu yang mana?”

Xie Lian mengatakan, “Hujan Darah Mencapai Bunga, Hua Cheng.”

Ketika dia mendengarnya, remaja itu tertawa kecil dua kali sebelum dia akhirnya duduk. Saat dia berbalik, tatapan Xie Lian tiba-tiba berkilat.

Dia melihat bahwa remaja ini berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Pakaiannya lebih merah dari daun maple, dan kulitnya putih seperti salju. Sepasang mata miliknya bersinar seperti bintang, mengandung senyum ketika dia meliriknya dengan curiga. Remaja itu sangat tampan; namun, ekspresinya mengandung sedikit keliaran yang tidak bisa digambarkan. Rambut hitamnya diikat longgar, dan bahkan diikat sedikit miring. Tampak sangat kasual, seperti dia melakukan apa pun yang dia inginkan.

Mereka berdua saat ini melewati hutan maple yang berapi-api dan berwarna-warni. Daun maple menari ketika mereka jatuh, satu per satu, dan bahkan sebuah daun jatuh ke pundak sang remaja. Remaja itu dengan ringan meniupnya, membuat daunnya jatuh, dan baru kemudian dia mengangkat kepalanya untuk menatap Xie Lian. Dengan senyum yang tidak terlihat seperti senyuman, dia berkata, “Apa yang ingin kamu ketahui? Jangan ragu untuk bertanya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Pu Qi berarti kastanye air dalam bahasa Cina.(Si Putih Tanpa-Wajah)
  2. Peraih nilai tertinggi dalam ujian kerajaan
  3. Karakter Cina yang dia gunakan di sini adalah versi ‘Maskulinitas Luar Biasa’.
  4. Satuan jarak Cina, sekitar 0,5 km.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments