Penerjemah: Jeffery Liu


Xie Lian sedikit terkejut, “Lalu siapa yang mungkin melakukannya? Secara teknis, badai seperti ini seharusnya tidak melibatkan lebih dari lima puluh orang.”

“Aku menduga itu mungkin orang yang sama yang mengirim kultivator bercangkang kosong yang menyebabkan insiden di Banyue Pass.”

Jika itu benar, maka sepertinya memang selalu ada tangan yang mendorongnya ke jantung setiap kasus setiap saat. Merasa sedikit bingung, Xie Lian bertanya-tanya, “Apa yang orang itu cari?”

Hua Cheng menggelengkan kepalanya, tetapi tampaknya juga tenggelam dalam pikirannya. Saat itu, terdengar suara tawa anak-anak yang tengah bermain yang datang dari luar, kedua matanya yang tajam segera menyapu pandang ke luar kuil. Mengikuti tatapannya, Xie Lian melihat ke luar jendela, apa yang dia hanyalah dua anak kecil yang tengah bermain di luar; Gu Zi naik di atas bahu Lang Ying, tampak riang dan ceria.

Tentu saja, tipu muslihat Master Air yang begitu berani dan kurang ajar dalam melakukan penggantian yang curang, Master Angin yang menjadi penipu, Master Bumi yang juga seorang penipu, dan bahwa kepala Master Air yang telah dipisahkan dari tubuhnya tidak ditemukan, keempat kasus ini, masing-masing dari mereka lebih bersifat eksplosif daripada yang berikutnya, meledakkan surga seketika seperti empat bom, menimbulkan gelombang pasang yang membanjiri Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tengah.

Dengan seketika membuat semua orang terkejut dan terguncang; tidak ada yang tahu apa yang harus dikatakan mengenai masalah ini, dan suara jangkrik memenuhi Aula Bela Diri Besar. Bahkan tangan milik Jun Wu tampaknya tidak bisa menopang kepalanya lagi.

Karena Ming Yi tidak pernah benar-benar berusaha bersahabat dengan siapa pun, dan hanya seseorang seperti Shi Qing Xuan yang gemar mengganggu orang lain dan menganggap hubungan mereka adalah sejenis hubungan akrab yang berhasil berhubungan baik dengannya, hampir tidak ada orang lain yang dekat dengannya. Namun, ketika mereka menyadari bahwa salah satu rekan mereka sendiri adalah salah satu dari sang Raja Iblis Agung yang legendaris, goncangan itu benar-benar terlalu hebat.

Untuk memainkan peran sebagai Master Bumi dengan benar, di masa bertahun-tahun yang lalu, Raja Iblis ini telah bekerja keras mengumpulkan sejumlah besar penyembah di alam fana, dan ia bahkan berhasil menduduki posisi sepuluh besar selama Pertempuran Lentera di Perjamuan Festival Pertengahan Musim Gugur, benar-benar menakutkan, seperti yang diharapkan dari Raja Iblis Agung.

Tanpa menyebutkan dendam antara Iblis Air Hitam Xuan dan Master Air Wu Du, sesungguhnya pembunuh sejati di balik Master Bumi yang asli tidak diragukan lagi adalah Iblis Air Hitam Xuan, tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi mengenai hal itu. Dengan demikian, Pengadilan Tinggi secara resmi mengeluarkan perintah penangkapan. Namun, semua orang tahu bahwa jika Raja Iblis Agung selalu bersembunyi, dia tidak akan mudah ditemukan.

Seperti yang mereka katakan, begitu seorang pria jatuh, semua orang akan menginjaknya. Di masa lalu, Master Angin dan Master Air berdiri dalam kebesaran dan kemuliaan dengan ratusan penyembah dan panggilan yang mereka miliki. Setiap kali Shi Wu Du muncul, dia akan selalu dipuji dan disambut. Namun sekarang dengan kematiannya yang begitu tiba-tiba, semua pendukungnya bahkan tidak berani menghela napas. Shi Qing Xuan sangat suka berteman dan murah hati, namun semua ‘teman baik’ yang tak terhitung jumlahnya itu kini menghilang entah ke mana. Pei Ming mengumpulkan mayat Shi Wu Du tanpa kepala itu, dan pada hari pemakamannya, tempat itu sangat sunyi dan kosong, tidak ada orang yang menghadirinya. Selain Xie Lian dan Ling Wen, tidak ada banyak pejabat surgawi yang hadir dalam pemakaman Master Air.

Xie Lian mencatat, dalam beberapa hari terakhir, entah itu sengaja atau tidak, tetapi sudah ada sekelompok orang yang membakar dan menodai Kuil Angin dan Air. Meskipun dia tidak tahan melihatnya dan mencoba menghentikan mereka beberapa kali, tetapi seiring berjalannya waktu, ketika orang menemukan doa mereka tidak lagi dijawab, tindakan agresi hanya akan bertambah buruk. Dia bisa menghentikan mereka sekali, tetapi dia tidak bisa menghentikan mereka selamanya. Dalam sepuluh tahun lagi, mungkin bahkan hanya dalam beberapa tahun, orang-orang akan sepenuhnya melupakan dua pejabat surgawi Angin dan Air yang dulu berkuasa di puncak surga. Dia tidak bisa menahan perasaan melankolik yang dimilikinya.

Setelah pemakaman selesai, Xie Lian menoleh ke arah Ling Wen, “Mengenai keberadaan Tuan Master Angin … Qing Xuan sekarang ada di tanganmu. Kami mengandalkanmu.”

Ling Wen memasang ekspresi serius, tidak tersenyum selama berhari-hari, “Tanpa permohonan dari Yang Mulia, aku masih akan melakukan yang terbaik untuk melaksanakan tugasku.”

Namun disisi lain, Pei Ming berkata, “Yang Mulia, daripada membiarkan Istana Ling Wen menyeret kaki gerobak sapi tua mereka yang rusak, mengapa tidak meminta bantuan Hujan Darah Mencapai Bunga-mu secara langsung, lihat apakah Ia bisa bertanya kepada Air Hitam Gila mengenai kemana dia membawa Qing Xuan? Dia sudah mengambil kepala Shui-shixiong, apa lagi yang dia inginkan?”

Xie Lian menggelengkan kepalanya dan menjawab tanpa daya, “Jenderal Pei, tolong jangan berpikir hal-hal begitu penting. Jika seorang Raja Iblis Agung ingin melakukan sesuatu, apakah dia perlu melaporkannya kepada yang lain?”

Mendengarnya, Pei Ming tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ketika Xie Lian kembali ke Kuil PuQi, ada banyak penduduk desa di sekitar kuil yang saling berbisik. Xie Lian tidak perlu bertanya untuk mengetahui apa yang terjadi, karena tepat di dalam Kuil PuQi, datang suara lolongan dan jeritan yang datang dari dalam. Kepala Desa tampak begitu ketakutan dan gugup, menariknya, “Daozhang, sepupu kecilmu yang gila, dia dia dia, dia …”

Dalih yang diberikan Xie Lian mengenai identitas Qi Rong kepada dunia adalah bahwa Qi Rong adalah sepupunya yang lebih muda dan gila, dia ditolak oleh orang lain tanpa ada yang mau merawatnya, jadi Xie Lian membawanya karena kewajiban. Pada tingkat tertentu, ini bukanlah kebohongan.

“Apakah dia menggila lagi? Jangan khawatir, dia telah dikunci dengan benar. Dia tidak akan melarikan diri. Semua orang bisa pulang sekarang.” Kata Xie Lian.

Semua penduduk desa bergumam, “Oh. Ayo pergi, ayo pergi.” Sebelum mereka membubarkan diri mereka, Kepala Desa memberi Xie Lian sekeranjang telur, “Um, Daozhang, Xiao Hua1-mu…”

Xie Lian pada awalnya bingung, “??? Xiao Hua???” Kemudian dia sadar, “Oh, San Lang? Kemudian dia ingat bahwa mengenai identitas Hua Cheng, dia mengatakannya kepada dunia luar bahwa Hua Cheng adalah adiknya yang melarikan diri dari rumah dan datang untuk bermain, dan ketika mendengar Kepala Desa memanggil Hua Cheng seperti itu, Xie Lian merasa sedikit bingung.

“Ya. Xiao Hua-mu sudah membantu kami memperbaiki beberapa barang lagi hari ini, Kamu harus memberinya hadiah dengan baik malam ini.” Kata Kepala Desa.

“Ya! Beri dia beberapa suplemen, kuatkan dia dan selalu dukung dia. Dia akan menjadi lebih baik saat melakukan tugas berikutnya!”

Xie Lian tidak bisa menahan senyumnya, “Aku akan melakukannya, aku akan melakukannya. Pasti, itu pasti.”

Ketika dia membuka pintu, Lang Ying sudah tertidur meringkuk di sudut. Qi Rong terbaring di tanah seperti mayat dan meratap, tampak seperti bagian dalam tubuhnya terbakar. Gu Zi memijat bahunya, memukul-mukul punggungnya, “Ayah, apakah kamu sudah lebih baik?”

“…”

Xie Lian melepaskan topi bambu dari kepalanya dan meletakkan telur-telur yang dibawanya, “Ada apa denganmu? Apa kamu makan sesuatu yang buruk?”

Qi Rong meludah, “Selama kamu tidak memasak apapun untukku, aku tidak akan menderita sakit perut bahkan jika aku menjilat kotoran dan lumpur di tanah!”

Mendengar dia berkata dengan begitu berlebihan seperti itu, Xie Lian menyelipkan tangannya di lengan bajunya, “Kalau begitu, apakah kamu benar-benar akan mencoba menjilati hal-hal itu dan kita lihat apakah kamu sakit perut setelahnya?”

“CIH, CIH, CIH!” Qi Rong meludah lagi, “Apa-apaan yang dikatakan Tuan Tua ini? Kamu menunjukkan hati jahatmu lagi, mencoba mencari cara berbeda untuk menyiksaku! AIYOYOYOYOYOYO, anakku yang baik, itu bagus, itu bagus, sekarang pukul di sisi ini. Hehehehe ~ Aiiiieee brengsek, sebenarnya apa terjadi, aku menjadi sangat buruk akhir-akhir ini, seperti kucing sialan yang kepanasan. APAKAH AKU SAKIT?! PUTRA MAHKOTA SEPUPU! AKU SAKIT! ITU PASTI KARENA KAMU YANG SUDAH MENYIKSAKU DAN MEMBUATKU SAKIT! Kamu dewa berhati seputih salju sialan, sepertinya kamu kehabisan darah!”

Xie Lian berjongkok dan merasakan dahinya, “Apakah tubuhmu merasa terbakar?” Setelah jeda dia menjatuhkan tangannya dan mengerutkan kening, “Tidak kok. Kamu tidak sedang berpura-pura, bukan?”

Qi Rong hendak mulai memaki lagi dan Gu Zi berkata dengan sedih, “Daozhang, ayahku tidak berbohong padamu. Dia merasa tidak enak akhir-akhir ini, dan dia selalu meratap untuk waktu yang lama.”

Menatap Qi Rong yang terus menggeliat dan bergerak tidak nyaman di lantai, Xie Lian menggelengkan kepalanya dan bangkit berdiri untuk mencari kotak obat ketika dia tiba-tiba menyadari bahwa kotak sumbangan miliknya terasa berat. Kotak sumbangan itu baru dibangun oleh Hua Cheng sehingga seharusnya tidak ada apa-apa di dalamnya. Bingung, Xie Lian mengambil kunci dan membukanya, setelah melihat apa yang ada di dalamnya, dia terperangah. Dia sekali lagi dibutakan oleh kotak yang penuh dengan batangan emas yang bersinar.

PA! Xie Lian dengan cepat menutup kotak sumbangan itu lagi.

Bukankah dia sudah mengembalikan kotak sumbangan berisi emas batangan yang diberikan oleh Master Air? Siapa lagi yang mungkin memberinya hadiah seperti ini???

Tidak mungkin Hua Cheng; dia tidak akan melakukan sesuatu yang begitu sederhana dan vulgar seperti memberi dan mengisi kotak sumbangan miliknya dengan emas batangan. Xie Lian menoleh dan bertanya, “Qi Rong, apakah ada yang datang?”

Qi Rong menunjuk ke wajahnya dan berkata, “OI, APA YANG SALAH DENGANMU. APAKAH KAMU BENAR-BENAR MEMBUATKU MENJADI SEORANG ANJING PENJAGA? KAMU PIKIR KAMU GOLONGAN TERTINGGI? BAHKAN GOLONGAN TERTINGGI SEKALIPUN TIDAK AKAN MENJADI TIDAK TAHU MALU SEPERTI INI. BAHKAN AIR HITAM BRENGSEK DAN HUA CHENG BANGSAT TIDAK AKAN BERANI MEMBUATKU MENJADI ANJING PENJAGA!”

BANG! Pintu Kuil PuQi ditendang terbuka oleh seseorang, dan itu adalah Hua Cheng yang masuk. Saat dia melihatnya, Qi Rong langsung membisu, dan diam-diam menggeliat ke samping, tidak berani lagi menyebut apa yang telah dia lihat malam sebelumnya.

“San Lang, kamu sudah kembali.” Kata Xie Lian.

Hua Cheng tersenyum riang, “Ya.”

“Terima kasih atas kerja kerasmu.” Xie Lian berkata, “Kepala Desa memberikan beberapa hal untukmu dan memintaku agar bisa memberimu hadiah, jadi kita akan makan sesuatu yang enak malam ini.”

“Kedengarannya bagus.” Hua Cheng berkata, “Tapi, gege, apakah kamu ingin pergi ke tempatku malam ini?”

“Kota Hantu?” Xie Lian bertanya.

“En.” Hua Cheng menjawab, “Dan bawa benda ini juga.” Dia menunjuk Qi Rong, “Lihat apakah ada cara yang bisa kita lakukan untuk menarik jiwanya keluar.”

Bergumam sejenak, Xie Lian menyetujuinya, “Itu mungkin ide yang bagus. Bagaimanapun, itu tidak baik untuk terus menyeret kaki kita pada masalah ini.” Tentu saja, alasan yang paling penting adalah karena Qi Rong makan terlalu banyak, dan Kuil PuQi-nya tidak bisa lagi menahan pengeluarannya hanya untuk Qi Rong.

Ketika Qi Rong mendengar mereka akan mengirimnya ke Kota Hantu, dia tampak begitu ketakutan dan menolak sekeras yang dia bisa. Namun, penolakannya tidak didengar oleh siapapun. Semburan asap tampak muncul setelahnya, Qi Rong diubah menjadi daruma hijau oleh Hua Cheng, dan Gu Zi menggendongnya di tangan ketika mereka pergi ke Kota Hantu.

Kota Hantu ramai seperti biasanya, mereka berjalan menyusuri jalan utama, semua hantu yang ada disana mengingat Xie Lian. Melihat bahwa dia kembali datang untuk berkunjung, mereka semua berteriak, “PAMAN BESAR! … Ah, tidak, Teman Tuan Chengzhu, kamu datang lagi!”

“Kwek! Apakah itu karena kamu sudah melewatkan makanan jalanan khas milik kami, kwek!”

Xie Lian membawa keranjang telur yang diberikan Kepala Desa sebelumnya dan memberikannya sebagai oleh-oleh dari dunia fana. Banyak dari mereka yang menerima telur itu merasa sangat gembira, beberapa memutuskan untuk memakannya bersama dengan darah mereka sendiri, dan beberapa menyatakan mereka akan menetaskan monster setinggi delapan kaki dari telur mereka. Hua Cheng melepaskan mantra pada Qi Rong dan setelah ledakan asap hijau, pria yang dirasuki oleh Qi Rong muncul di jalan, tampak memeluk kepalanya sendiri dan berjongkok sebagai bentuk pertahanan terakhir yang dimilikinya, tidak berbicara sepatah kata pun. Beberapa hantu menangkap aroma tubuhnya dan berseru, “Eh? Bukankah ini Hantu Hijau?”

Kerumunan hantu disana mulai mendekat dan mengelilinginya, dan mencium sesuatu yang sepertinya akan membuat mereka semua dipenuhi dengan gairah, “HAHAHAHHAHAHA, DIA BENAR-BENAR HANTU HIJAU! SI IDIOT *** ADA DI SINI LAGI HAHAHAHAHAHHAHA!”

“BUKANKAH KAMU SUDAH CUKUP DIKALAHKAN TERAKHIR KALI HAHAHAHAHA DAN KAMU MASIH BERANI-BERANINYA DATANG KE TEMPAT INI LAGI!”

“Awasi si kecil,” Hua Cheng berkata, “Mengenai si besar, pikirkan cara untuk menyeretnya keluar tanpa melukai tubuh yang dirasukinya.”

“BAIK TUANKU!”

Setelahnya, beberapa hantu wanita cantik mulai memeluk Gu Zi, menyenandungkan lagu pengantar tidur kecil dan menidurkannya. Iblis, monster, dan hantu lainnya kemudian mulai bermain permainan kejar-kejaran dengan Qi Rong. Satu berteriak ketika dia melarikan diri, dan sekelompok hantu panas mengejar di belakangnya. Hua Cheng dan Xie Lian menyaksikan mereka untuk sesaat lalu berbalik dan masuk ke dalam Kuil QianDeng.

Keduanya melangkah ke dalam aula dengan santai dan mendekati altar. Altar itu masih ditutupi dengan kuas, tinta, dan kertas. Hati Xie Lian merasa agak berat baru-baru ini, dan ketika dia melihat perlengkapan menulis itu, dia memiliki niat untuk melonggarkan suasana hatinya dan tersenyum lembut, “Terakhir kali ketika aku mengajarimu, aku bilang kamu harus berlatih ketika kamu memiliki waktu. Tapi, aku pikir kamu belum berlatih akhir-akhir ini,”

Hua Cheng berdeham, “Gege, kamu sudah memberikan hadiah milikku kepada orang lain, apa yang akan aku makan malam ini?”

Xie Lian menirunya dan mengangkat alisnya sedikit, “Jangan mengubah topik pembicaraan.”

“Aku bisa berlatih pedang tetapi tidak dengan kaligrafi.” Hua Cheng berkata, “Jika gege tidak ada di sampingku untuk mengajariku, aku mungkin akan membuat banyak kesalahan ketika harus berlatih seorang diri, dan tulisanku akan menjadi semakin buruk.”

Alis Xie Lian naik lebih tinggi, “San Lang sangat pintar, bagaimana mungkin ada sesuatu yang tidak kamu kuasai?”

Hua Cheng mengambil sebuah kuas dan mencelupkannya ke dalam tinta, terlihat sangat rendah hati, “Itu benar. Aku berharap gege mau mengajariku.”

Xie Lian menghela napas, “Kenapa kamu tidak menulis sesuatu terlebih dahulu.”

Karena itu, setelahnya Hua Cheng dengan sangat serius menulis dua buah ayat. Xie Lian mengawasinya sedikit tetapi benar-benar tidak bisa menatapnya lagi, “… berhenti, berhenti. Kamu … sebaiknya berhenti saja.”

Tidak perlu membuang-buang kertas dan tinta lagi. “Oh.” Hua Cheng berkata dengan patuh dan benar-benar berhenti, menyingkirkan kuas yang dipegangnya. Xie Lian menggelengkan kepalanya, “San Lang, jangan … jangan bilang siapa pun bahwa aku mengajarimu cara menulis.”

Gege, aku mencoba yang terbaik.” Hua cheng tampak cemberut. Cara dia berbicara benar-benar terdengar seperti dia sedang sedih. Raja Iblis Agung yang penuh kebanggaan; jika namanya disebut, ketiga dunia akan menggigil ketakutan. Namun saat ini dia berdiri seperti seorang murid muda, dengan patuh mendengarkan kritik yang diberikan Xie Lian. Setelah memberikan beberapa poin penting lagi, Xie Lian memegang tangannya lagi seperti terakhir kali, “Ayo coba lagi. Cobalah serius kali ini. “

“Baiklah.” Hua Cheng berkata,

Keduanya tenggelam dalam tulisan yang mereka susun. Setelah menulis sebentar, Xie Lian bertanya dengan santai, “Mengapa masih ‘Rasa Sakit dari Perpisahan’2?”

Hua Cheng menjawab dengan santai, “Aku menyukai puisi ini.”

“Aku juga menyukainya,” kata Xie Lian, “Tapi, apakah San Lang memiliki puisi lain yang kamu sukai? Setelah kamu terbiasa menulis puisi ini, kamu bisa mencoba menulis yang lain.” Secara kasar, puisi ini memiliki begitu banyak kata. Mereka berdua telah menulisnya lebih dari sepuluh kali, jadi sudah waktunya untuk mengubahnya dan menulis sesuatu yang berbeda. Namun, Hua Cheng tetap bersikeras, “Hanya ini.”

Setelah menempatkan kembali kuas yang dipegangnya pada tempatnya, dia dengan ringan meniup tinta hasil tulisannya dan tersenyum, “Jika aku menyukai sesuatu, maka hatiku tidak akan memiliki ruang untuk yang lain, dan aku akan selalu menghargainya. Seribu kali, sejuta kali, tidak peduli berapa tahun terlewati, semua ini tidak akan berubah. Puisi ini juga seperti itu.”

“…” Xie Lian tersenyum kecil, “Apakah itu benar.”

“En.” Hua Cheng menjawab.

“…”

Xie Lian melepaskan tangannya dan berdeham dengan tenang, “Kalau begitu, baiklah. San Lang adalah pria yang sentimental. Itu bagus … oh, kenapa kamu tidak berlatih lagi sendiri. Ah, benar juga. Qi Rong tampaknya tidak enak badan akhir-akhir ini.”

Hua Cheng meletakkan kertas dan mengambil kuasnya lagi, “Kenapa dia tidak enak badan?”

Xie Lian berbalik dengan punggung menghadap Hua Cheng, “Dia mengatakan sesuatu seperti dia merasa gelisah. Tetapi aku sudah melihat kondisinya dan sepertinya itu bukan disebabkan oleh tubuh pria itu.Tidak mungkin karena cuacanya buruk, bukan?”

Di belakangnya, Hua Cheng bertanya, “Sejak kapan kondisinya mulai seperti itu?”

“Seharusnya itu dimulai beberapa hari terakhir.” Xie Lian menjawab, “Hari ini sangat buruk …”

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, perasaan seperti sebuah firasat tiba-tiba muncul di benaknya. Saat itu, terdengar suara PA yang begitu jelas di belakangnya, seperti sebuah benda yang dijatuhkan dari udara.

Xie Lian berbalik, “SAN LANG?!”

Kuas yang ada di tangan Hua Cheng sebelumnya telah jatuh, mendarat di atas kertas seputih salju, memotong jejak tinta yang panjang dan tak menentu. Ekspresi Hua Cheng cemberut, tubuhnya tidak stabil, dia menahan tubuhnya dengan tangan memegangi ujung altar, sementara tangan lainnya menutupi mata kanannya.


Catatan Penulis MXTX:

Kondisi Hua Hua juga mulai memburuk! Ini adalah musim [ ] lagi!


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Little Hua/Hua Kecil.
  2. [離思] ‘Rasa Sakit dari Perpisahan’ adalah judul puisi yang ditulis Hua Cheng di chapter 97.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
whaleian
whaleian
7 months ago

“musim [ ]” Musim apa woi?! ( ꈨຶ ˙̫̮ ꈨຶ )