Penerjemah: Jeffery Liu


Melihat kesadaran Xie Lian akhirnya kembali, Hua Cheng membuka bibirnya perlahan, seolah-olah menarik dirinya sendiri. Namun, dalam keadaan yang mengerikan seperti itu, Xie Lian tidak bisa memperdulikannya lagi. Dia mengangkat kedua tangannya, melingkarkannya ke leher Hua Cheng dan bergerak untuk menyedot kembali kekuatan spiritual yang Hua Cheng sembunyikan.

Jelas dengan gerakan Xie Lian itu, Hua Cheng tidak menyangka dia melakukan ini dan itu membuatnya terkejut ketika kekuatan spiritualnya mengalir kembali kepada Xie Lian. Takut dia akan melepaskan diri, Xie Lian menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya, membalik tubuh mereka dan mendorong Hua Cheng ke tanah, menekannya. Gelombang arus yang dingin mengalir ke tubuhnya dan mengalir ke dalam tenggorokannya dan menuju perutnya, begitu hangat dan menyenangkan. Pada saat itu, pintu kayu kecil Kuil PuQi berderit terbuka, dan bayangan seperti ulat hijau raksasa merangkak keluar dari kuil, “Brengsek, bangsat mana yang berani-beraninya melakukan ini?! Pencuri sialan? Berani-beraninya kamu datang ke rumahKU untuk mencuri, dan mengganggu tidurKU?! Achoo! Leluhur ini akan menunjukkan kepadamu sesuatu …” Dia terdiam ketika dia melihat dua orang lain yang berada di luar kuil yang terlihat saling memeluk satu sama lain, saling berciuman dengan penuh semangat, siluet mereka saling tumpang tindih, satu merah dan yang lainnya putih, siapa lagi? Seketika, dia menjerit, “YIIIEEEEEAAAAAAHAHHHHHHHHH!!”

Hua Cheng mengangkat tangannya dan pada awalnya berniat untuk meraih bahu Xie Lian, tetapi mendengar Qi Rong membuat suara, dia memutar pergelangan tangannya dan Qi Rong berteriak ketika dia dilemparkan kembali ke dalam dengan pintu yang terbanting menutup di belakangnya dengan suara PANG! Baru saat itulah Hua Cheng menggulingkan tubuh mereka sekali lagi dan menekan tubuh Xie Lian. Dia mengangkat wajahnya, napasnya keras, matanya gelap dan berkilauan, “Yang Mulia!”

Xie Lian tidak memiliki waktu untuk menjelaskan mengenai apa yang ada di dalam kepalanya; dia mengangkat lengannya dan mengaitkannya di leher Hua Cheng, menariknya ke bawah sekali lagi. Setelah menyedot kekuatan spiritual yang cukup, ia tersedak batuk sebelum berteriak, “MANTRA-PERGANTIAN-JIWA!”

Namun kali ini, tepat ketika jiwanya ditarik keluar, bahkan sebelum dia terlempar ke atas, dia merasakan seperti ada sebuah tembok yang menghalangi jiwanya, dan kesadarannya segera kembali pulih ke tubuhnya sendiri. Dia bergumam “Ah” dengan kaget. Membuka matanya, di atasnya masih ada langit malam berbintang dan wajah cemas Hua Cheng. Xie Lian terduduk dan memeluk kepalanya sendiri, bergumam, “… Aku tidak bisa melewati semua ini lagi.”

Apakah Shi Qing Xuan sudah mati? Atau apakah Iblis Air Hitam Xuan memperkuat penghalang pada tubuhnya? Bagaimanapun, bagaimanapun juga, dia tidak bisa kembali ke tubuh Shi Qing Xuan. Bahkan jika dia bergegas menuju ke Laut Selatan, dia pasti sudah terlambat.

Melihat Xie Lian yang dipenuhi dengan kebingungan, Hua Cheng berkata, “Yang Mulia, aku minta maaf.”

Xie Lian menatapnya. Hua Cheng menambahkan, “Tapi, orang luar tidak mungkin bisa ikut campur dalam urusan ini.”

Xie Lian melambaikan tangannya, “… Kamu tidak perlu meminta maaf. Sejujurnya, bahkan jika aku ada di sana aku tidak akan bisa berbuat banyak.”

Dengan Mantra Pergantian Jiwa, dia hanya bisa memasuki tubuh Shi Qing Xuan. Namun, Shi Qing Xuan tidak lebih dari manusia biasa, dan bahkan jika Xie Lian bisa membantunya membebaskan diri dari belenggu besi itu, bagaimana mungkin dia bisa bertarung melawan Tuan dari Sarang Iblis Air Hitam? Bahkan melarikan diri pun mustahil.

Setelah dia menenangkan diri, Xie Lian dengan cepat kembali ke susunan komunikasi spiritual dari surga, “Ling Wen, apakah kalian semua ada disana dan sudah bersiap pergi?”

“Yang Mulia!” Seru Ling Wen, “Kenapa kamu terdiam untuk waktu yang lama? Kami sudah mengirim sejumlah pejabat surgawi ke Laut Selatan. Yang Mulia Qi Ying sudah kembali, jadi dia ikut berangkat bersama mereka dan memberikan bantuannya sedikit, tetapi Sarang Iblis Air Hitam tidak mudah dimasuki, siapa yang tahu kapan kita akan menemukan mereka.”

Xie Lian berseru, “Tunggu, aku akan pergi dengan kalian semua. Mungkin aku masih mengingat jalannya. Tapi aku perlu merepotkanmu untuk mengirim seseorang untuk menjemputku dari Kuil PuQi.”

“Sangat baik. Dia baru saja tiba.” Kata Ling Wen.

Sedikit terkejut, Xie Lian memalingkan kepalanya. Hua Cheng telah menghilang, tetapi dua orang pejabat junior tampak datang dari arah Desa PuQi, dan di belakang mereka diikuti seorang pemuda tinggi dan berambut hitam bergelombang. Itu adalah Quan Yi Zhen.

Xie Lian memiringkan kepalanya untuk menyambutnya. Quan Yi Zhen tidak mengerti formalitas semacam itu jadi dia tidak membalas isyarat itu, tetapi Xie Lian tidak keberatan dengannya. Dia melihat sekeliling tetapi tidak melihat bayangan Hua Cheng di mana pun, dan dia mengerti bahwa Hua Cheng memberinya ruang untuk berurusan dengan permasalahan ini.

Keduanya dan para pejabat junior itu kemudian berangkat ke Laut Selatan. Mengikuti saran Xie Lian, mereka pergi keluar dari jalan mereka untuk mengumpulkan lebih dari sepuluh peti mati besar yang telah membawa orang mati untuk mempersiapkan situasi yang tidak terduga. Setelah kapal yang mereka naiki terapung melalui perairan selama lebih dari enam jam, mereka segera melihat pemandangan aneh di permukaan laut.

Sejumlah mayat ikan tengkorak raksasa mengambang di permukaan laut dan mereka bertabrakan dengan kapal yang dinaiki Xie Lian dan yang lainnya. Banyak dari pejabat surgawi yang ada disana langsung terkejut, “APAKAH KITA SUDAH SAMPAI?!”

“Itu tidak mungkin.” Xie Lian berkata, “Jika kita sudah memasuki Sarang Iblis Air Hitam, kapal ini tidak akan terus mengapung di perairan dan tidak akan bergerak secepat ini juga.”

Namun, ini jelas sisa-sisa pertempuran yang dilakukan oleh Jenderal Pei dan Master Air pada malam sebelumnya. Quan Yi Zhen bersandar di sisi pagar kapal, mempertahankan posisi kesulitan tertingginya ketika tiba-tiba, dia berkata, “Ada sebuah pulau hitam di depan. Apakah itu pulau yang dimaksud?”

Xie Lian memusatkan matanya kearah pulau yang dimaksud Quan Yi Zhen dan disana benar-benar ada pulau yang berbayang. Juga, jika dilihat dari jauh, pulau itu memang menyerupai Pulau Air Hitam!

Xie Lian sedikit mengernyit, “Itu benar-benar terlihat seperti pulau yang dimaksud. Tetapi bagaimana bisa pulau itu dapat ditemukan dengan mudah, dan kapal ini juga tidak tenggelam? Semua orang tetap waspada, ini mungkin jebakan.”

Tetapi ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, dia menyadari jika itu bukanlah jebakan. Di pantai pulau itu ada sosok seseorang, di bawah sinar matahari yang cerah, sosok itu tampak menebas kayu dengan pedang suci yang dimaksudkan untuk membunuh musuh kini digunakan untuk membuat sebuah peti mati. Di sampingnya sudah ada tiga peti mati lengkap, dan dia tengah membuat peti mati keempat saat itu. Xie Lian segera mulai melambaikan tangan, “JENDERAL PEI! Itu Jenderal Pei! Ini adalah pulau yang dimaksud tanpa keraguan!”

Kapal itu segera mengubah arahnya dan mengarahkannya dengan cepat ke pulau itu. Ketika Pei Ming melihat bahwa bala bantuan telah tiba, dia tidak tampak sangat senang, tetapi sebaliknya dia melemparkan pedangnya ke tanah, menggosok hidungnya dan bertanya, suaranya terdengar muram, “Kalian semua datang tepat ketika aku sudah selesai membuat semua ini, apa apaan.”

“Sudah merupakan hal yang luar biasa bahwa ada orang yang muncul.” Kata Quan Yi Zhen. “Ketika semua orang mendengar kedatangan ini adalah untuk menyelamatkanmu, tidak ada yang memiliki waktu untuk melakukannya.”

“…” Pei Ming memiliki ekspresi seperti dia tidak ingin repot berurusan dengan anak-anak dan menoleh ke arah Xie Lian, “Yang Mulia, Kamu sudah kembali? Bagaimana kamu membangun kapal ini? Bagaimana kapal itu bisa mengapung di perairan Sarang Iblis?”

“Aku tidak berpikir itu karena kapalnya,” kata Xie Lian, “Kutukan Sarang Iblis Air Hitam telah dilepaskan.”

Terkejut, Pei Ming mengujinya dengan pedangnya sendiri, dan benar saja, hanya dengan satu ayunan, satu pohon besar jatuh. Kekuatan spiritualnya telah kembali. Bicara sejenak, Pei Ming menggelengkan kepalanya, “Seandainya aku tahu jika kutukannya sudah dilepaskan, aku tidak akan bekerja keras untuk membangun peti mati ini.”

Memang benar dia sudah melakukan pekerjaan tanpa lelah sepanjang malam. Dia membuat peti mati untuk empat orang, tetapi tiga dari mereka sekarang sudah tidak lagi berguna.

Sekelompok pejabat surgawi memasuki pulau itu dan langsung berlari ke jantung hutan. Hantu-hantu kecil yang menyergap di hutan belum pernah melihat formasi pertempuran seperti itu dan mereka semua lari ketakutan, melarikan diri ke kiri dan ke tengah. Begitu mereka mencapai Danau Air Hitam di balik pepohonan, mereka tidak bertemu dengan makhluk yang tak terlihat. Tanpa gangguan dari hambatan spiritual asing, mereka melakukan beberapa pemeriksaan dan mereka dapat menembus batas, melepaskan ilusi, dan dengan segera, penjara besi dan Manor Bawah Air muncul tepat di depan mata mereka.

Begitu mereka memasuki Manor Bawah Air, Xie Lian segera mengumpulkan sisa-sisa kerangka berjubah hitam sebelumnya dan menyelipkannya, memegangnya di tangannya saat dia berlari menyusuri semua bagian istana itu. Dengan segera, mereka menemukan aula besar yang dimaksud. Di atas dinding berbintik-bintik itu, dua belenggu baja berdarah sudah kosong. Sebuah mayat tanpa kepala terbaring di lantai di tengah aula, darahnya sudah mengering, dan sekelompok pria gila melemparkan benda-benda acak ke sana. Saat pejabat surgawi memasuki aula, kelompok orang gila itu menjadi lebih bersemangat.

Ketika Pei Ming masuk, dia tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berani mengenali siapa mayat itu. Terguncang, dia berseru, “… Shui-shixiong!”

Xie Lian sudah memiliki pengetahuan tentang ini dan memberikan perintahnya, “Semua orang yang ada disini tolong cari Tuan Master Angin di tempat ini dan di seluruh pulau ini, atau … mayatnya.”

Namun, tidak peduli seberapa telitinya mereka mencari, tidak ada jejak Shi Qing Xuan di pulau itu.

Apakah Iblis Air Hitam Xuan sudah membawa Master Angin pergi? Atau mungkin Master Angin dibunuh secara langsung dan mayatnya tenggelam ke dasar laut, dan dagingnya dimakan ikan-ikan disana?

Meskipun Shi Wu Du mengamuk di bagian paling akhir dan memprovokasi He Xuan untuk membunuhnya dengan keras, dia sekarang telah mati, tetapi dia tidak terbunuh oleh tangan Shi Qing Xuan sendiri, jadi apakah He Xuan masih akan mengubah nasib Master Angin?

Mengusir orang gila menjengkelkan itu, Pei Ming sedikit berjongkok di lantai, dan tenggelam dalam pikirannya untuk waktu yang lama sebelum dia menghela napas, “Shui-shixiong. Kamu telah hidup dengan penuh kebanggaan seumur hidupmu tetapi berakhir seperti ini. Aku bahkan tidak tahu apakah matamu tertutup1. Sungguh, semakin tinggi kamu mendaki, semakin keras kamu jatuh. Hidup ini penuh dengan kejutan, dan seseorang tidak bisa lepas dari apa pun yang datang kepadanya. Bahkan ketika manusia telah menjadi dewa, kita tidak memiliki nasib baik untuk menghindari takdir pada akhirnya.”

Quan Yi Zhen tidak memegang sentimen yang begitu dalam seperti itu dan berlari dengan tenang di Manor Bawah Air. Ketika dia melewatinya, dia sedikit melirik mayat itu dan menganggapnya aneh, “Di mana kepalanya?”

“Kepalanya diambil oleh Iblis Air Hitam Xuan.” Jawab Xie Lian.

“Dendam macam apa, kebencian macam apa yang dipegang Master Sarang Iblis terhadapnya? Dan dimana Qing Xuan? Master Bumi? Apakah ketiga pejabat Air Bumi Angin semuanya telah binasa?”

“Itu adalah dendam yang hebat, dendam yang hebat.” Xie Lian berkata, “Mengenai Tuan Master Bumi, itu tergantung pada apa yang kamu tanyakan. Master Bumi yang asli ada di tanganku, Master Bumi yang palsu adalah orang yang mengambil kepala Tuan Master Air.”

“Apa?!”

Xie Lian menatapnya dan berkata dengan lembut, “Jenderal Pei tidak tahu, bukan? Nama asli Iblis Air Hitam Xuan adalah He, namanya adalah Xuan.”

Mendengar ini, wajah Pei Ming sedikit berubah. Tampaknya, Pei Ming dan Ling Wen tidak sepenuhnya dalam kegelapan sehubungan dengan hal-hal yang telah dilakukan Shi Wu Du. Hanya saja, seberapa banyak yang mereka ketahui tentang semua ini, itu tidak diketahui.

Segala sesuatu yang harus dilaporkan, dilaporkan, semua yang perlu ditangani, akan diselesaikan. Ketika Xie Lian kembali ke Desa PuQi sekali lagi, satu hari telah berlalu. Langkah Xie Lian tampak lambat karena kelelahan.

Ketika dia kembali ke Kuil PuQi dan membuka pintu, dia bisa mendengar Qi Rong menggonggong dan berteriak, “HUA CHENG KAMU BRENGSEK! XIE LIAN KAMU BANGSAT! APAKAH KALIAN BERDUA TIDAK MEMILIKI PERASAAN MALU SEDIKIT PUN AAHHH BRENGSEK! BRENGSEK MACAM APA YANG MELAKUKANNYA DI TENGAH MALAM SEPERTI ITU BENAR-BENAR MENGERIKAN!!! MATA TUAN BESAR INI BENAR-BENAR SUDAH BUTA, KALIAN BERHUTANG PADAKU!!!”

Tidak ada yang lain kecuali kata-kata kasar dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya dan Xie Lian segera diingatkan tentang citra yang menakutkan mengenai bagaimana ia dan Hua Cheng bergiliran saling memegang satu sama lain di atas kekuatan hisapan di atas tanah pada malam sebelumnya. Dia tidak berpikir itu memalukan pada saat itu, tetapi sekarang dia tidak bisa melarikan diri dan hampir menutup pintu kuilnya untuk melarikan diri. Hua Cheng menyandarkan kursinya ke belakang, sepatu botnya tersilang dan menumpuk di atas meja, tetapi begitu dia mendengar Xie Lian mendorong pintu masuk, dia menurunkan kakinya dan dengan santai menampar bagian belakang kepala Qi Rong, menjatuhkannya. Dia bangkit, “Gege.”

Xie Lian mengangguk dan menutup pintu di belakangnya, melangkahi Qi Rong yang diikat seperti cacing hijau kecil di tanah dan duduk. “Apakah Gu Zi dan Lang Ying pergi bermain?”

“Ya, aku membiarkan mereka keluar. Kamu sudah bekerja keras.” Kata Hua Cheng.

“Tidak, kamulah yang bekerja keras.” Kata Xie Lian.

Hua Cheng tersenyum. Lalu dia berkata, “Aku pikir gege akan menyalahkan aku.”

Xie Lian menggelengkan kepalanya, “San Lang tidak perlu banyak berpikir. Aku benar-benar tidak menyalahkanmu. Faktanya, kamu benar tentang semua ini. Orang luar benar-benar … tidak mungkin bisa ikut campur dalam masalah ini.”

Setelah beberapa pemikiran, dia masih bertanya, “San Lang, menurutmu apa yang akan dilakukan Iblis Air Hitam Xuan terhadap Tuan Master Angin?”

Hua Cheng terdiam beberapa saat sebelum dia menjawab, “Aku juga tidak tahu. Air Hitam adalah seseorang yang agak eksentrik. Dia sudah menahan penderitaannya sendiri selama bertahun-tahun, tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan.”

‘Tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan’ – Xie Lian tiba-tiba teringat bahwa ini juga adalah komentar yang sama yang diucapkan oleh banyak pejabat surgawi di Pengadilan Tinggi untuk Hujan Darah Mencapai Bunga.

Air Hitam yang Menenggelamkan Kapal muncul dari Gunung TongLu, membantai jutaan hantu. Hujan Darah Mencapai Bunga juga sama. He Xuan telah bertahan selama bertahun-tahun sendirian; saat Hua Cheng bertahan sendirian juga merupakan hal yang sama tidak kurang suatu apapun.

Apa yang membuat Air Hitam yang Menenggelamkan Kapal bertahan hingga saat ini adalah kebencian. Lalu, bagaimana dengan Hujan Darah Mencapai Bunga?

Apa yang membuat Hua Cheng menjadi Hua Cheng hari ini?

Dalam sekejap, banyak pemikiran yang terlintas dalam benak Xie Lian, dan dia menggelengkan kepalanya, membuang kalimat ‘seseorang yang spesial, berasal dari keluarga bangsawan mulia dan ramah’, dan mengatur kembali pikirannya. “Tapi, San Lang, ada sesuatu yang tidak aku mengerti. Seluruh urusan dengan Master Air ini dia lakukan dengan penipuan, seharusnya itu dilakukan dengan sangat rahasia. Tipuannya bertahan begitu lama, jadi bagaimana cara Air Hitam mempelajari kebenaran? Jika kamu merasa tidak nyaman untuk menjawabnya, kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku.”

“Dia melarikan diri dan memindahkan wilayah kekuasaannya dan bahkan bertindak menjadi pejabat surgawi palsu, jadi apa yang membuat kita merasa tidak nyaman?” Hua Cheng menjawab, “Sederhana saja, sebenarnya. Malam itu ketika Air Hitam telah mati, Shi Wu Du pergi untuk mengkonfirmasi kematiannya. “

“Karena hanya ketika mangsanya mati, Pendeta Kata-Kata Kosong akan menemukan target berikutnya?” Xie Lian bertanya-tanya.

“Ya. Air Hitam tidak tahu siapa orang itu tetapi dia mengingat wajah itu. Hanya setelah dia menjadi hantu dan tahu lebih banyak tentang urusan surga dan bumi barulah dia menemukan bahwa manusia itu adalah Dewa Air.”

Pantas. Tapi semua ini cukup membingungkan. Mengapa Dewa Air yang terhormat pergi mengamati bagaimana manusia mati dengan begitu tiba-tiba? Xie Lian bertanya, “Tapi ini seharusnya tidak membuatnya berpikir untuk mengubah nasib, bukan?”

Hua Cheng menjawab, “Itu sebabnya dia menyamar sebagai Master Bumi asli dan menyusup ke surga untuk menyelidikinya. Cukup berani jika aku harus mengatakannya sendiri.”

“Jika bukan karena membunuh Master Bumi asli setelahnya dan menyeret lebih dari dua ratus nelayan, maka dia benar-benar bisa disebut sebagai sosok yang berani dan pintar.”

Namun, Hua Cheng berkata, “Gege, aku tidak tahu apakah Master Bumi yang sebenarnya dibunuh olehnya. Tapi, orang yang menyeret para nelayan itu ke Laut Timur yang berangin, aku takut itu adalah orang lain.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Mati dengan mata tertutup berarti beristirahat dengan tenang.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments