Penerjemah: Jeffery Liu, naza_ye


Seperti yang dia duga, di wajah remaja itu ada bekas luka bakar yang serius. Namun, di bawah bekas luka merah darah itu, samar-samar bisa terlihat tiga atau empat wajah manusia yang sangat kecil.

Wajah-wajah manusia itu seukuran telapak tangan bayi, tersebar miring di pipi dan dahinya. Karena sebelumnya mereka telah terbakar, masing-masing wajah itu terlihat kisut dan tampak seolah memekik kesakitan. Dengan wajah-wajah manusia mini yang tampak memekik dan aneh itu berdesakan di wajah manusia yang pada awalnya normal, itu benar-benar lebih menakutkan daripada hantu apa pun!

Dalam waktu singkat itu, setelah dia melihat wajah itu, Xie Lian merasa seolah-olah dia dilemparkan ke dalam mimpi buruk. Ketakutan yang luar biasa membuat seluruh tubuhnya mati rasa, sampai-sampai dia tidak sadar saat dia berdiri. Dia juga tidak menyadari ekspresi seperti apa yang muncul di wajahnya, tetapi itu pasti sangat menakutkan.

Remaja itu sudah perlahan dan ragu saat melepas perbannya, dia sudah merasa tidak nyaman. Melihat reaksinya, dia pun mundur dua langkah, tampak menyadari bahwa Xie Lian tidak bisa menerima wajahnya yang seperti ini. Seolah ingin melindungi dirinya sendiri, tiba-tiba dia menutupi wajahnya yang menakutkan itu, melompat dari tanah, sebelum berteriak dan melarikan diri menuju ke kedalaman hutan.

Xie Lian mengejarnya dan berteriak, “Tunggu! Kembali!”

Tetapi karena dia telah berdiri diam selama beberapa saat sebelum akhirnya bereaksi, dan dengan bagaimana remaja itu lebih hafal rute-rute di gunung 1, tidak perlu dikatakan lagi bahwa remaja itu akan menghilang tanpa jejak. Tidak peduli seberapa keras Xie Lian berteriak, dia tidak akan keluar. Dengan tidak ada orang di sekitar untuk membantu pencariannya, dan kekuatan spiritualnya yang begitu lemah, membuatnya tidak bisa menggunakan array komunikasi spiritual; dia pun berlari mengelilingi gunung dan mencari selama satu jam tanpa hasil.

Ketika angin dingin bertiup, pikiran Xie Lian menjadi lebih jernih dan kemudian dia sadar bahwa secara acak meraba-raba seperti lalat rumah tanpa kepala tidak akan menghasilkan apa-apa. Dia mengumpulkan pikirannya kembali dan berpikir, “Mungkin dia akan kembali pada mayat Little Ying.”

Xie Lian kemudian kembali ke Kuil Ming Guang―tetapi dia terkejut.

Xie Lian disambut oleh sekumpulan orang berpakaian serba hitam yang semuanya berkumpul di hutan di belakang kuil. Dengan wajah serius, mereka dengan hati-hati menurunkan empat puluh atau lebih mayat dari posisi tergantung mereka di atas pohon. Di depan hutan berdiri sosok yang tinggi dengan tangan bersedekap, sedang mengawasi sekelompok orang itu. Kepalnya menoleh, memperlihatkan wajah elegan namun dingin milik seorang pria muda, yang ternyata adalah Fu Yao. Sepertinya dia telah melakukan perjalanan kembali ke Surga, sebelum membawa kembali sekelompok pejabat surgawi turun dari Aula Istana Xuan Zhen untuk datang membantu.

Xie Lian baru saja hendak berbicara ketika suara langkah kaki datang dari belakang. Itu adalah Nan Feng yang juga telah selesai mengantarkan penduduk desa dan baru saja kembali. Ketika dia melihat pemandangan itu, dia melirik Fu Yao dan bertanya, “Bukankah kamu kabur seorang diri?”

Cara dia mengatakan itu sangat tidak menyenangkan, menyebabkan Fu Yao mengangkat alisnya untuk menunjukkan ketidaksenangannya. Xie Lian tidak ingin mereka mulai berdebat pada saat-saat kritis seperti sekarang sehingga dia menyela, “Aku yang meminta dia kembali untuk membawa bala bantuan.”

Nan Feng menyeringai, “Lalu di mana bala bantuan kita? Aku pikir setidaknya, kamu akan membuat Jenderal-mu datang secara pribadi.”

Fu Yao menjawab dengan acuh tak acuh, “Ketika aku kembali, aku mendengar bahwa Jenderal Pei Kecil sudah sampai di sini. Jadi, aku tidak membuang-buang waktu untuk mencari Jenderal kami. Terlebih lagi, bahkan jika aku mencoba untuk menemukannya, dengan betapa sibuknya dia, dia tidak akan memiliki waktu untuk datang.”

Sejujurnya, menurut pemahaman Xie Lian terhadap Mu Qing, bahkan jika Jenderal itu punya waktu, dia masih tidak akan datang secara pribadi. Tapi Xie Lian saat ini tidak punya waktu untuk berpikir lebih banyak tentang topik itu dan dengan lelah berkata, “Kalian jangan berdebat sekarang, bantu aku menemukan remaja yang diperban dulu.”

Nan Feng mengerutkan alisnya dan bertanya, “Bukankah barusan dia bersamamu, mengawasi mayat gadis itu?”

Xie Lian menjawab, “Aku menyuruhnya melepas perbannya dan membuatnya takut.”

Bibir Fu Yao berkedut. “Itu tidak mungkin. Crossdressing-mu belum mencapai titik menakutkan.”

Xie Lian menghela napas. “Salahkan aku karena begitu gelisah sehingga aku tidak bereaksi tepat waktu. Little Ying baru saja meninggal, jadi emosinya sudah terpancing. Lalu, dia pikir aku takut dengan wajahnya. Mungkin dia tidak sanggup menahan pukulan itu, jadi dia kabur.”

Fu Yao mengempiskan hidungnya dan bertanya, “Apakah dia benar-benar sejelek itu?”

Xie Lian menjawab, “Itu bukan pertanyaan apakah dia jelek atau tidak. Dia… memiliki Penyakit Wajah Manusia.”

Mendengar tiga kata itu, gerakan dan ekspresi Nan Feng dan Fu Yao segera menegang.

Mereka akhirnya mengerti mengapa Xie Lian begitu gelisah.

Delapan ratus tahun yang lalu, Kota Kerajaan, Kerajaan Kuno Xian Le telah tersapu oleh wabah. Pada akhirnya, seluruh kerajaan pun musnah.

Wabah itu, ketika orang jatuh sakit, pembengkakan kecil pertama kali akan muncul di tubuh mereka. Lalu, pembengkakan akan tumbuh semakin besar dan lebih keras, dan mulai terasa sakit. Segera setelah itu, mereka akan mulai menyadari bahwa pembengkakan itu akan mulai menjadi tidak rata, memiliki tiga tempat cekung dan satu cembung, terlihat seperti… mata, mulut dan hidung.

Setelah itu, fitur-fiturnya akan menjadi lebih jelas hingga akhirnya, akan menyerupai sesuatu yang mirip dengan wajah manusia. Dan jika diabaikan, lebih banyak wajah manusia akan tumbuh di tubuh mereka. Dilaporkan bahwa beberapa wajah tumbuh begitu lama sehingga mereka menumbuhkan karakteristik mereka sendiri dan bahkan dapat membuka mulut mereka untuk berbicara atau berteriak.

Dan nama wabah ini, adalah Penyakit Wajah Manusia!

Wajah Fu Yao berubah beberapa kali sebelum dia melepaskan tangannya yang bersedekap dan berkata, “Bagaimana mungkin! Wabah itu sudah diberantas berabad-abad yang lalu. Tidak mungkin muncul lagi.”

Menanggapinya, Xie Lian hanya mengatakan satu baris kalimat. “Aku tidak salah melihat.”

Nan Feng dan Fu Yao menyadari bahwa mereka sepenuhnya tidak bisa membantah. Apa yang dikatakan Xie Lian, tidak ada yang bisa membantahnya.

Xie Lian lebih lanjut menambahkan, “Wajahnya memiliki bekas luka bakar sebelumnya, mungkin karena dia mencoba untuk membakar wajah-wajah itu.”

Bagi mereka yang menderita penyakit wajah manusia, banyak dari mereka, memiliki reaksi pertama mengambil pisau dan memotong benda mengerikan itu dari tubuh mereka, atau menggunakan api untuk membakarnya sampai mati. Mereka tidak akan ragu-ragu untuk memutuskan anggota badan atau mematahkan tulang mereka jika mereka terjangkit penyakit itu.

Nan Feng berbicara sambil bergumam, “Kalau begitu, dia sepertinya bukan orang biasa. Dia mungkin bahkan sudah hidup di bumi ini selama beberapa abad. Tapi yang lebih penting, apakah penyakit itu menular?”

Meskipun dengan semua masalah ini membuat mereka menjadi sakit kepala, masalah ini masih merupakan sesuatu yang telah Xie Lian renungkan dengan tenang. Dia menjawab dengan pasti, “Tidak. Penyakit wajah manusia sangat menular. Jika penyakit pada remaja itu menular, maka semua orang di Gunung Yu Jun sudah terinfeksi olehnya sekarang mengingat berapa lama dia telah bersembunyi di sana. Dia seharusnya… ​​sudah sembuh. Hanya saja, dia tidak bisa menghilangkan bekas luka yang tertinggal.”

Mereka bertiga tidak bisa mengambil risiko dengan ceroboh. Fu Yao tampaknya memiliki posisi yang cukup tinggi di Aula Istana Xuan Zhen, dan dengan demikian memanggil Pejabat Surgawi untuk menjelajahi setiap inci Gunung Yu Jun. Meskipun demikian, mereka masih tidak bisa melacak keberadaan remaja itu. Sayangnya, dia pasti sudah melarikan diri dari gunung dan menghilang di dalam keramaian.

Untuk saat ini, mereka hanya bisa kembali ke Surga dan meminta bantuan Aula Istana Ling Wen untuk masalah ini sebelum menunggu kabar lebih lanjut. Penyakit di tubuh remaja itu tidak menular. Setidaknya satu fakta tersebut adalah sesuatu yang harus dibahagiakan. Tapi Xie Lian mengingat kembali penampilannya yang menakutkan. Jika penampilannya itu diketahui setelah meninggalkan gunung, dia takut semua orang akan melihatnya dan menyebutnya sebagai monster, dikutuk, dipukuli dan bahkan dibunuh. Akan lebih baik untuk menemukannya sesegera mungkin.

Tanpa ingin menunda lebih lama di Gunung Yu Jun, dia mengambil mayat Little Ying dan menuruni gunung. Karena dia begitu tidak fokus, hanya ketika penyaji teh berteriak padanya, baru dia sadar bahwa dia hampir memasuki kedai Xiaofeng Xian Dian sambil memegang mayat di tangannya. Dia berulang kali meminta maaf dan pergi mencari seseorang untuk membantunya mengubur mayat Little Ying sebelum kembali ke kedai. Setelah dia akhirnya mengurus semuanya, dan kemudian duduk, Xie Lian diam-diam menghela napas.

Satu masalah akhirnya selesai; namun dia merasa seolah beberapa hari terakhir setelah kenaikannya ini lebih melelahkan daripada mengumpulkan sampah selama satu tahun penuh di dunia manusia. Mendaki ke atas dan turun ke bawah, melompat ke atap dan melompati dinding, berguling, berteriak, dan bahkan melakukan perubahan kostum dan melakukan crossdressing. Semua tulang di tubuhnya seperti akan remuk dan lepas, namun masih ada banyak teka-teki yang belum terpecahkan dan ujung yang longgar untuk ditangani. Dia benar-benar ingin menggantungkan tanda di punggungnya bertuliskan, ‘Naik tidak sebaik mengumpulkan sampah‘ dan mempromosikannya ke dunia manusia.

Fu Yao membalik ujung depan jubahnya dan duduk di sebelah tangan Xie Lian. Tidak bisa menahannya lagi, dia memutar bola mata ke arahnya dan bertanya, “Mengapa kamu masih memakai pakaian itu?”

Setelah melihat dia memutar matanya, Xie Lian diliputi perasaan akrab yang tidak bisa dijelaskan. Baru pada saat itu dia akhirnya melepas gaun pengantin yang telah dikenakannya selama ini. Saat dia menyeka pemerah pipi dan bedak, dia merasa sedikit sedih. “Lalu bukankah itu berarti aku berpakaian seperti ini sepanjang waktu ketika aku berbicara dengan Jenderal Pei Kecil? Nan Feng, seharusnya kamu mengingatkanku soal ini terlebih dahulu.”

Fu Yao berkata, “Mungkin karena kamu terlihat terlalu senang saat memakainya.”

Nan Feng berlarian sepanjang hari, tetapi sekarang dia juga akhirnya mendapat kesempatan untuk duduk dan beristirahat. Dia berkata, “Tidak perlu mengingatkan. Jenderal Pei Kecil tidak akan peduli dengan apa yang kamu kenakan. Bahkan jika kamu berpakaian sepuluh kali lebih aneh dari pakaianmu saat ini, dia tidak akan mengucapkan sepatah kata pun saat dia kembali.”

Xie Lian merasa bahwa malam ini, dia benar-benar telah memberi Pejabat Surgawi kecil ini begitu banyak kerja keras, jadi dia menuangkan secangkir teh untuknya. Setelah berpikir kembali pada ekspresi dingin Jenderal Pei Kecil dan membandingkannya dengan ekspresi gila Xuan Ji, dia berkata, “Jenderal Pei Kecil ini benar-benar tenang. Ketenangan yang luar biasa.”

Nan Feng meminum secangkir teh itu dan kemudian menimpali dengan sedikit merasa keberatan, “Kamu seharusnya tidak menilainya hanya dengan melihat penampilannya yang tampak sopan dan lembut. Seperti pendahulunya, mereka berdua sulit untuk dihadapi.”

Xie Lian sedikit banyak mulai mengerti, dan mengenai masalah ini, Fu Yao juga setuju dan berkata, “Pei Su adalah seorang pemula yang naik sekitar dua ratus tahun yang lalu, tetapi kekuatannya sangat kuat dan dia naik pangkat dengan sangat cepat. Ketika dia diangkat oleh Jenderal Pei, dia baru saja beranjak dewasa. Apakah kamu tahu apa yang dia lakukan pada saat itu?”

Xie Lian bertanya, “Apa?”

Fu Yao dengan dingin membalas dengan satu baris kalimat, “Dia membantai semua orang di kota yang berhasil direbutnya.”

Ketika Xie Lian mendengar itu, dia termenung tetapi tidak terkejut. Di Pengadilan Surgawi, kaisar, raja dan jenderal ada di mana-mana. Ungkapan “Sebuah pencapaian militer dihasilkan dari sepuluh ribu tulang mengering” digunakan untuk menggambarkan masalah menaklukkan dan mempertahankan sebuah kerajaan. Jika kamu memiliki keinginan untuk menjadi abadi, pertama-tama kamu harus menjadi individu yang terkenal. Dan di bawah kaki kami, kami berjalan di jalan berdarah. Fu Yao menyimpulkannya, “Di Pengadilan Surgawi, hanya ada beberapa orang yang mudah bergaul, dan tidak ada yang bisa dipercaya.”

Xie Lian mendengarkan nadanya, yang terdengar seolah-olah berasal dari orang yang berpengalaman dalam memperingatkan anak muda, dan ingin tertawa. Dia menduga mungkin Fu Yao telah melalui banyak hal di Pengadilan Surgawi, sehingga dia merasa sangat paham tentang topik ini untuknya sampai berbicara sedemikian rupa. Tetapi dia juga tahu bahwa meskipun dia telah naik sebanyak tiga kali, waktu yang dia habiskan di surga setiap kenaikannya begitu cepat dan singkat, seperti umur kaktus yang mekar pada malam hari, hilang dalam sekejap mata. Jika seseorang mendiskusikan masalah tentang memahami makhluk abadi di sekitar mereka, dia benar-benar tidak cocok dengan dua Pejabat Surgawi kecil ini.

Tampak tidak setuju dengan kata-kata Fu Yao, Nan Feng berkata, “Jangan menjadi orang yang terlalu waspada. Ada yang baik dan yang buruk di mana-mana, dan masih ada beberapa Pejabat Surgawi yang bisa dipercaya di Pengadilan Surgawi.”

Namun Fu Yao menjawab, “Haha, Pejabat Surgawi yang bisa dipercaya, apakah kata-katamu itu merujuk pada Jenderal-mu?”

Nan Feng menjawab, “Apakah merujuk pada Jenderal-ku atau bukan, aku tidak tahu. Tapi yang jelas bukan Jenderal-mu.”

Menghadapi situasi seperti ini, Xie Lian sudah lama terbiasa, tidak lagi di luar kewajaran. Selain itu, masih ada sesuatu di pikirannya, jadi dia bahkan tidak punya energi untuk mencoba dan mengalihkan topik pembicaraan.

Dengan semua hal yang telah terjadi di Utara, dia kembali ke Surga. Pertama, dia pergi ke Istana Ling Wen untuk memberitahunya tentang situasi mengenai remaja yang dibalut perban, mempercayakan Ling Wen untuk mencarinya di dunia manusia. Mendengar berita itu, wajah Ling Wen menjadi serius dan menyetujui permintaannya. Dia menambahkan, “Aula Istana Ling Wen akan melakukan segalanya untuk mencarinya semampu kami. Tetapi siapa yang menyangka bahwa kunjungan ke Utara ini akan berkaitan dengan begitu banyak hal. Kami benar-benar telah menyusahkanmu, Yang Mulia.”

Xie Lian menjawab, “Aku harus berterima kasih kepada dua Pejabat Surgawi kecil itu karena telah secara sukarela membantu, dan Jenderal Pei Kecil dari Istana Ming Guang. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada mereka.”

Ling Wen berkata, “Karena masalah itu disebabkan oleh hubungan buruk Pei Tua, maka secara alami Pei Kecil akan menghadapinya. Dia sudah terbiasa membereskan kekacauan, jadi tidak perlu berterima kasih padanya. Jika Yang Mulia tidak melakukan hal lain, saat kamu kembali, bolehkah aku merepotkanmu untuk memeriksa array komunikasi spiritual? Semua orang masih perlu berkumpul dan mendiskusikan masalah ini.”

Xie Lian juga memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab. Setelah meninggalkan Istana Ling Wen, dia berputar-putar tanpa tujuan, sebelum dia menemukan dirinya berada di sebuah jembatan batu kecil.

Jembatan batu itu menyeberangi sungai yang mengalir. Air sungai disana begitu jernih, sehingga kamu bisa melihat dengan jelas pergerakan awan yang melayang di bawahnya. Melewati air yang mengalir dan awan, kamu bahkan bisa melihat gunung-gunung yang bergelombang dan bentangan besar kota-kota berbentuk persegi dari dunia di bawah sana. Dia berpikir dalam hati: “Ini adalah tempat yang bagus” dan kemudian duduk di atas jembatan, sebelum diam-diam melafalkan kata sandi dan bergabung dalam array komunikasi spiritual.

Saat dia masuk, dia bertemu keributan heboh yang jarang terjadi di dalam array komunikasi spiritual. Banyak suara berbicara satu sama lain, semuanya sangat kacau. Hal pertama yang dia dengar adalah kutukan Feng Xin, “Sialan! Apakah kalian sudah memilih gunung mana untuk menahannya? Hantu wanita Xuan Ji itu sudah gila, tidak peduli seberapa banyak kami menanyainya, dia hanya akan berteriak-teriak ingin melihat Jenderal Pei dan menolak memberi tahu kami keberadaan Hantu Hijau Qi Rong!”

Jenderal Pei Kecil berkata, “Jenderal Xuan Ji selalu merupakan seseorang yang keras kepala dan bersemangat.”

Suara Feng Xin menjadi lebih marah, “Jenderal Pei Kecil, apakah Jenderal Pei-mu itu sudah kembali? Cepat dan biarkan dia menemui hantu wanita itu, dan tanyakan padanya tentang keberadaan Hantu Hijau Qi Rong sehingga kita bisa menyingkirkannya lebih cepat!”

Feng Xin paling tidak terbiasa berurusan dengan wanita. Untuk membuatnya menginterogasi seorang hantu wanita, Xie Lian tidak bisa tidak bersimpati padanya.

Jenderal Pei Kecil menjawab, “Tidak ada gunanya bahkan jika dia bertemu dengan Jenderal Pei. Dia hanya akan menjadi lebih gila setelah dia melihatnya.”

Suara lain kemudian terdengar, “Hutan Mayat Gantung lagi… selera Qi Rong selalu kelas rendah, tidak menyenangkan.”

“Bahkan Alam Hantu mereka pun menghinanya karena memiliki selera yang mengerikan, jadi sudah jelas bagi semuanya bahwa seleranya memang kelas yang sangat rendah.”

Semua Pejabat Surgawi berinteraksi secara damai. Jelas mereka semua sangat akrab satu sama lain. Sebagai pendatang baru yang pernah naik delapan ratus tahun yang lalu, Xie Lian seharusnya tetap diam di tempatnya tanpa berbicara. Tetapi setelah dia mendengarkan sebentar, dia tidak bisa menahan diri untuk memotong, “Maaf, apakah itu tentang Hutan Mayat Gantung di Gunung Yu Jun? Apakah Hantu Hijau Qi Rong juga ada di wilayah itu?”

Karena dia tidak begitu sering berbicara di dalam array komunikasi spiritual, suaranya tidak dikenal semua orang. Ketika para Pejabat Surgawi sedang berpikir apakah mereka harus menjawabnya atau tidak, orang pertama yang menjawabnya tanpa disangka-sangka adalah Feng Xin. Dia menjawab, “Hantu Hijau Qi Rong tidak ada di Gunung Yu Jun. Tapi yang terjadi di Hutan Mayat Gantung adalah perbuatan hantu wanita Xuan Ji, karena permintaannya dan sebagai persembahkan untuknya.”

Xie Lian lanjut bertanya, “Apakah Xuan Ji adalah bawahan Hantu Hijau?”

Jenderal Pei Kecil menjawab kali ini. “Benar. Jenderal Xuan Ji meninggal beberapa ratus tahun yang lalu, meskipun dia memiliki kebencian, dia selalu tidak berdaya untuk menyebabkan masalah. Tetapi kejadian itu hanya berlangsung sampai dua ratus tahun yang lalu. Hantu Hijau Qi Rong menemukannya dan melihat bahwa dia memiliki selera yang sama dengannya sehingga dia sangat menghargainya. Dia pun mengambilnya dan menjadikannya salah satu bawahannya, menyebabkan kekuatan spiritualnya meningkat secara signifikan.”

Makna di balik kata-katanya itu pada dasarnya adalah, hantu wanita Xuan Ji yang menyebabkan masalah tidak bisa menyalahkannya pada Jenderal Pei, karena dia awalnya tidak memiliki kemampuan untuk menyebabkan masalah. Jika mereka ingin menyalahkan seseorang, maka yang harus disalahkan adalah Hantu Hijau Qi Rong, karena dialah yang telah mengambil Xuan Ji dan memberinya kemampuan untuk menyakiti orang-orang. Awalnya, Pejabat Surgawi yang hadir semuanya berpikir bahwa ini semua adalah bencana yang disebabkan oleh karma Jenderal Pei. Mereka hanya tidak menyuarakan pendapat mereka dengan keras, tetapi Jenderal Pei Kecil masih bisa merasakannya. Dengan peringatan yang tidak lembut dan tidak berat yang ditujukan pada mereka semua, mereka segera menyembunyikan pikiran mereka lebih dalam lagi ke dalam hati mereka. Xie Lian bertanya lagi, “Lalu apakah Gunung Yu Jun telah diselidiki secara menyeluruh? Seharusnya di sana ada roh anak-anak.”

Kali ini, suara Mu Qing yang muncul, tidak terdengar dingin atau hangat saat dia bertanya, “Roh anak-anak? Roh anak apa?”

Xie Lian berpikir dalam hati, Fu Yao mungkin tidak memberitahunya tentang detailnya. Bahkan mungkin dia yang keluar membantunya pun dirahasiakan, jadi dia tidak menyebut nama Fu Yao kalau-kalau itu bisa membuatnya mendapat masalah. Dia menjawab, “Di dalam tandu, aku mendengar tawa seorang anak yang berbicara dengan menyanyikan lagu anak-anak sebagai peringatan. Pada saat itu, ada dua pejabat surgawi kecil lainnya yang hadir, namun tidak satu pun dari mereka yang merasakan keberadaannya, jadi kekuatan spiritual roh anak ini seharusnya luar biasa.”

Mu Qing berkata, “Tidak ada roh anak-anak yang ditemukan dalam pencarian di Gunung Yu Jun.”

Xie Lian merasa ini sangat aneh, bukankah roh anak itu datang untuk memperingatkannya? Ketika dia memikirkan hal itu, dia tiba-tiba teringat sesuatu yang lain dan bertanya, “Ngomong-ngomong, aku juga bertemu dengan seorang remaja yang bisa memerintahkan kupu-kupu perak berkeliling di Gunung Yu Jun. Apakah ada yang tahu siapa itu?”

Array komunikasi spiritual yang ribut dan kacau tiba-tiba menjadi hening saat kata-kata itu keluar.

Reaksi semacam ini, Xie Lian sudah menduganya, jadi dia hanya menunggu dengan sabar. Setelah beberapa saat, Ling Wen akhirnya bertanya, “Yang Mulia Putra Mahkota, apa yang baru saja kamu katakan?”

Mu Qing dengan dingin menjawab untuknya, “Dia baru saja berkata, dia bertemu Hua Cheng.”

Akhirnya mendapatkan nama remaja berpakaian merah itu, Xie Lian berada dalam suasana hati yang baik. Dia tersenyum dan berkata, “Jadi namanya Hua Cheng? Hm, nama itu cocok untuknya.”

Setelah mendengar nada dan kata-katanya, semua Pejabat Surgawi di dalam array tidak bisa berkata-kata. Beberapa saat kemudian, Ling Wen dengan terbatuk lembut dan bertanya, “Ini… Yang Mulia Putra Mahkota, apakah kamu pernah mendengar apa yang disebut Empat Bencana Besar?”

Xie Lian berpikir, “Ini memalukan, tapi aku hanya tahu tentang Empat Kisah Terkenal.”

Empat Kisah Terkenal yang Xie Lian sebutkan itu adalah kisah-kisah anekdot yang begitu dipuji-puji tentang masa sebelum empat Pejabat Surgawi dari Pengadilan Surgawi naik―Tuan Muda yang Menuangkan Anggur, Putra Mahkota Yang Menyenangkan Dewa, Jenderal yang Mematahkan Pedangnya, dan Putri Yang Membelah Tenggorokannya. Dari empat kisah tersebut, Putra Mahkota Yang Menyenangkan Dewa sebenarnya merujuk pada kemunculan tiba-tiba Putra Mahkota Xian Le selama pertunjukan bela dirinya. Bagaimanapun keempat kisah itu terjadi bukan karena pejabat surgawi mana yang memiliki kekuatan lebih, melainkan kisah manakah dari mereka yang lebih mendalam, kisah yang tersebar paling jauh di antara orang-orang yang menyebarkan kisah mereka dengan antusias.

Berita dari dunia luar selalu menjadi sesuatu yang sulit Xie Lian ikuti. Menyebutnya kurang informasi dan bodoh tidak bisa lebih dekat dari kebenaran. Satu-satunya alasan mengapa dia mengetahui tentang Empat Kisah Terkenal adalah karena dia sendiri adalah salah satu dari empat kisah itu. Ungkapan ‘Empat Bencana Besar’ mungkin adalah istilah terkenal baru untuk menyebut empat kisah tersebut, tetapi Xie Lian belum pernah mendengarnya. Namun, karena mengandung kata ‘Bencana’, itu pasti bukan sesuatu yang baik.

Dia berkata, “Aku menyesal telah mengatakan ini, tetapi aku belum pernah mendengarnya sebelumnya. Bolehkah aku bertanya apa itu Empat Bencana Besar?”

Mu Qing menjawab dengan dingin, “Yang Mulia Putra Mahkota telah berlatih di alam fana selama berabad-abad namun masih tetap tidak mengetahui berita semacam itu. Benar-benar membuat orang lain penasaran dengan apa yang telah dia lakukan selama ini di sana.”

Normalnya, yang dia lakukan adalah makan, tidur, ketrampilan menjual dan mengumpulkan sampah. Xie Lian tertawa ketika berkata, “Sebagai orang biasa, ada banyak hal yang bisa membuatmu sibuk dan itu cukup menyibukan. Tidak lebih mudah daripada menjadi Pejabat Surgawi.”

Ling Wen menjawab, “Empat Bencana Besar, dan tolong perhatikan baik-baik, Yang Mulia. Mereka adalah Air Hitam Menenggelamkan Kapal, Cahaya Hijau Mengembara Malam Hari, Bencana Berpakaian Putih, dan Hujan Darah Mencapai Bunga. Merujuk pada empat Raja Iblis dari alam hantu yang telah menyebabkan sakit kepala untuk Pengadilan Surgawi.”

Manusia di alam fana, ketika mereka berjalan ke atas, mereka menjadi dewa; dan ketika mereka berjalan ke bawah, mereka menjadi hantu.

Dewa-dewa yang abadi menetapkan Surga sebagai tempat tinggal mereka, memisahkan diri dari alam fana dan hidup tinggi di atas ketika mereka mengabaikan manusia dan semua makhluk hidup. Sementara alam hantu, belumlah terlepas dari alam fana. Iblis dan hantu berbagi dunia yang sama dengan manusia. Sementara beberapa bersembunyi dalam bayang-bayang, yang lainnya mengambil bentuk sebagai manusia, bercampur dalam kerumunan manusia, dan berkeliaran di antara mereka.

Ling Wen melanjutkan, “Air Hitam Menenggelamkan Kapal adalah iblis air yang kuat. Meskipun dia telah mencapai tingkat ‘Kehancuran’, dia jarang keluar untuk menyebabkan masalah dan tidak menonjolkan diri. Sangat sedikit orang yang pernah melihatnya sebelumnya, jadi, dia tidak begitu perlu dikhawatirkan.”

“Cahaya Hijau Mengembara Pada Malam Hari adalah hantu dengan seleranya yang kelas rendah, yang gemar menggantung mayat berdarah terbalik di hutan, Hantu Hijau Qi Rong. Namun, dia adalah satu-satunya dari empat bencana yang belum mencapai tingkat ‘Kehancuran’. Kenapa dia menjadi bagian dari itu? Mungkin karena rasa cintanya yang selalu menyebabkan masalah sepanjang tahun, menjadi gangguan besar. Mungkin juga karena dengan menambahkannya, menjadikan empat bencana, jumlah yang lebih mudah untuk diingat. Jadi, tidak ada yang mau mempertanyakannya.”

“Sedangkan untuk Bencana Berpakaian Putih, Yang Mulia mungkin lebih akrab dengan yang satu ini. Namanya Bai WuXiang 2.”

Duduk di tempat yang agak tinggi di atas jembatan batu, Xie Lian tiba-tiba merasakan sakit yang menusuk tajam di hatinya dan perlahan-lahan menyebar ke seluruh tubuhnya setelah mendengar nama itu. Tangannya sedikit gemetar sebelum dia secara tidak sadar mencengkeramnya.

Jelas, dia sangat akrab.

Dikatakan bahwa ketika ‘Kehancuran’ lahir ke dunia, mereka akan menjadi orang yang menghancurkan kerajaan dan melemparkan dunia ke dalam kekacauan. Ketika Bai WuXiang muncul, kerajaan pertama yang dia musnahkan adalah Kerajaan Xian Le.

Xie Lian tetap diam. Ling Wen melanjutkan, “Meskipun demikian, Bai Wuxiang sudah mati. Kita tidak akan menyebut-nyebutnya lagi, dan bahkan jika dia masih ada di dunia ini, dia tidak akan menjadi sorotan untuk sekarang.”

“Yang Mulia Putra Mahkota, kupu-kupu perak yang kamu lihat di Gunung Yu Jun juga disebut Roh Kupu-Kupu Maut. Tuan mereka adalah anggota terakhir dari empat bencana, dan orang paling terakhir yang ingin diprovokasi oleh Pengadilan Surgawi saat ini, ‘Hujan Darah Mencapai Bunga’, Hua Cheng.

Di Alam Surgawi, untuk menjadi seseorang yang mampu memikul gelar “terkenal” adalah Kaisar Dewa Bela Diri Surgawi dan Putra Mahkota Xian Le. Meskipun signifikansi keduanya bisa dikatakan bertentangan satu sama lain, popularitas mereka berdua relatif pada tingkat yang sama. Di Alam Hantu, yang bisa dikatakan setara dengan reputasi kedua dewa itu, tidak lain adalah Hua Cheng. Selain dia, tidak ada orang lain.

Jika seseorang ingin mengenal Pejabat Surgawi, orang itu hanya perlu berjalan-jalan, menemukan kuil mereka untuk dikunjungi, memeriksa patung Ilahi mereka, mempelajari cara berpakaian mereka, dan senjata memesona macam apa yang mereka bawa. Dengan begitu, orang itu bisa memahami mereka sampai batas tertentu. Jika orang itu ingin lebih memahami mereka, dia hanya perlu mendengarkan beberapa legenda tentang mereka yang diturunkan dari satu orang ke orang yang lain, dan menonton drama teater tentang mereka. Orang macam apa mereka sebelum kenaikan mereka, apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, semua informasi itu akan digali dan ditelanjangi oleh mereka yang tertarik. Tetapi ketika menyangkut Iblis dan hantu, mereka berbeda. Orang macam apa mereka sebelumnya, dan bagaimana penampilan mereka sekarang, informasi itu semuanya diselimuti misteri.

Nama Hua Cheng pastilah palsu, dan penampilannya pun pasti juga palsu. Karena dia dalam rumor kadang-kadang berwujud sebagai remaja yang temperamental dan tidak menyenangkan, kadang-kadang pria cantik yang lembut, baik dan elegan, dan kadang-kadang lagi hantu wanita cantik dengan hati beracun. Tidak ada habisnya apa yang dikatakan tentang dia. Tentang penampilannya yang sebenarnya, satu-satunya hal yang pasti adalah bahwa dia berpakaian serba merah dan sering muncul bersama hujan darah dan angin kotor ketika kupu-kupu perak mengejar kerah dan lengan bajunya.

Sedangkan kelahirannya, ada lebih banyak lagi versi tentangnya. Beberapa mengatakan dia adalah anak cacat yang lahir tanpa mata kanan yang telah diintimidasi dan dihina sejak kecil sehingga membenci dunia. Beberapa mengatakan dia adalah seorang prajurit muda yang mati berjuang untuk kerajaan kuno, dan jiwanya belum menyerah pada nasibnya yang seperti itu. Ada juga yang mengatakan bahwa dia menjadi orang sentimental bodoh akibat rasa sakit karena kematian kekasihnya; dan ada satu lagi yang mengatakan bahwa dia adalah monster.

Versi yang paling aneh, dikatakan bahwa―dan itu benar-benar hanya rumor. Bahwa Hua Cheng sebenarnya adalah Pejabat Surgawi yang telah naik. Namun, setelah dia naik, dia melompat turun dan merendahkan diri menjadi hantu. Tapi itu hanya legenda yang tidak banyak beredar, jadi apakah itu benar atau tidak, hal itu tidak diketahui, dan hanya sedikit yang benar-benar memercayainya.

Namun, bahkan jika itu benar, masih harus menjadi salah. Karena itu merupakan penghinaan bagi Surga karena ada seseorang di dunia ini yang benar-benar rela menyerah menjadi dewa dan lebih suka melompat turun dan menjadi hantu. Singkatnya, semakin banyak orang membahas tentang dia, semua itu hanya akan menjadi semakin kacau dan membingungkan, dan semuanya menjadi semakin misterius.

Adapun mengapa semua Pejabat Surgawi dalam hal ini takut pada Hua Cheng, ada banyak alasan. Misalnya, sifat buruk atau baiknya tidak bisa ditentukan. Kadang-kadang dia kejam dan gemar membunuh, kadang-kadang dia anehnya melakukan tindakan yang baik. Alasan lainnya adalah seberapa besar kekuatannya di alam fana dan berapa banyak penyembah yang dia miliki.

Benar, orang-orang berdoa kepada para dewa, berdoa untuk berkah dan perlindungan mereka agar jauh dari serangan iblis dan hantu, sehingga Pejabat Surgawi memiliki banyak penyembah. Namun, Hua Cheng, hantu, sebenarnya juga memiliki sejumlah besar penyembah. Sampai pada titik di mana dia memiliki kekuatan yang cukup untuk menutupi langit hanya dengan satu tangannya.

Sekarang, diperlukan penjelasan untuk hal itu. Ketika Hua Cheng pertama kali muncul, dia melakukan sesuatu yang sangat terkenal.

Dia secara terbuka mengundang tiga puluh lima Pejabat Surgawi untuk bertarung. Isi undangannya adalah bahwa dia akan bertarung melawan Dewa Bela Diri dalam seni bela diri, dan Dewa Sastra dalam perdebatan.

Dari tiga puluh lima Pejabat Surgawi itu, ada tiga puluh tiga di antara mereka yang merasa itu konyol, tetapi mereka semua geram oleh provokasinya dan menerima tantangan itu. Mereka bersiap untuk bekerja sama dan memberi pelajaran kepada hantu itu.

Yang pertama bertarung dengannya adalah Dewa Bela Diri.

Dewa Bela Diri adalah dewa terkuat di Surga, masing-masing dari mereka memiliki jumlah penyembah yang banyak dan kekuatan spiritual mereka pun luar biasa. Melawan hantu pemula kecil adalah sesuatu yang hanya selangkah dari kemenangan. Tapi siapa yang menyangka bahwa satu pertempuran itu akan berakhir dengan penghancuran total. Bahkan alat spiritual mereka benar-benar hancur menjadi abu oleh pedang melengkung yang sangat aneh milik Hua Cheng.

Hanya setelah bertarung, baru mereka mengetahui bahwa Hua Cheng telah lahir dari Gunung Tong Lu.

Gunung Tong Lu adalah gunung berapi, tapi itu bukan poin yang penting. Poin pentingnya adalah bahwa ada kota di dalamnya, bernama Kota Gu. Tempat seperti apa Kota Gu itu? Itu bukan kota tempat semua orang membuat racun 3 , tetapi kota itu sendiri adalah racun.

Setiap seratus tahun, sepuluh ribu hantu akan berkumpul dan saling membunuh satu sama lain, membunuh sampai hanya satu dari mereka yang tersisa, yang berhasil melawan racun. Meskipun, sudah berkali-kali, hasilnya tidak ada satupun yang tersisa. Namun, selama ada satu orang yang selamat sampai akhir, maka dia akan menjadi Raja Iblis. Dalam beberapa ratus tahun terakhir, Kota Gu hanya memiliki dua hantu yang tersisa sampai akhir. Dan keduanya seperti dugaan, menjadi Raja Iblis yang dikenal oleh semua orang di alam fana.

Hua Cheng adalah salah satu dari mereka.

Para Dewa Bela Diri telah dikalahkan sepenuhnya. Lalu, giliran Dewa Sastra.

Jika mereka tidak bisa mengalahkannya dalam pertarungan bela diri, maka mereka setidaknya bisa mengalahkannya dalam perdebatan, kan?

Sayangnya, para Dewa Sastra juga tidak bisa menang. Hua Cheng telah melintasi langit dan bumi dan bisa mengatakan tentang masa lalu dan memperdebatkan masa kini. Dia kadang-kadang mendidik mereka, kadang-kadang jahat, kadang-kadang tidak mau menyerah, kadang-kadang licik, kadang-kadang berwawasan luas, kadang-kadang berpengalaman, dan kadang-kadang memasang perangkap. Itu benar-benar debat yang rapat, tajam dan pandai. Dia mengutip bukti sebagai cadangan, menipu orang-orang dengan kebohongan, dan menyerang ketika dia mau. Beberapa Dewa Sastra dimarahi olehnya dari langit ke bumi, dari zaman kuno hingga sekarang. Mereka sangat marah sampai mereka bisa batuk darah dan mencapai cakrawala mendung.

Hua Cheng menjadi terkenal dalam satu pertempuran.

Namun, jika hanya semua itu yang terjadi, tidak akan cukup untuk menyebutnya menakutkan. Apa yang menakutkan adalah bahwa setelah kemenangan yang luar biasa itu, dia meminta tiga puluh tiga Pejabat Surgawi untuk memenuhi janji mereka.

Sebelumnya, kedua belah pihak telah membuat kesepakatan: jika Hua Cheng kalah, maka dia akan menyerahkan abunya. Jika para Pejabat Surgawi kalah, maka mereka semua akan secara sukarela melompat turun dari Surga dan menjadi manusia biasa mulai dari sekarang. Jika bukan karena Hua Cheng yang bertindak begitu sombong, dengan taruhan yang begitu besar dan dengan bagaimana tiga puluh tiga Pejabat Surgawi yang percaya bahwa mereka tidak mungkin kalah, mereka tidak akan setuju untuk bertarung dan berdebat dengannya.

Namun, tidak ada satu pun Pejabat Surgawi yang memenuhi janji mereka. Meskipun tidak memenuhi janji yang telah mereka buat adalah sesuatu yang memalukan, tapi pikirkan saja, ada tiga puluh tiga dari mereka yang kalah. Jika hanya ada satu dari mereka yang kalah, maka tentu saja itu akan sangat memalukan. Tetapi ketika ada begitu banyak dari mereka yang sama-sama kalah, itu sama sekali tidak memalukan. Mereka bahkan bisa saling menggoda tentang hal itu. Dengan demikian, mereka mulai membuat kesepakatan secara diam-diam; mereka semua akan berpura-pura bahwa semua itu tidak pernah terjadi. Bagaimanapun, manusia begitu pelupa, lima puluh tahun lagi, mungkin tidak akan ada yang mengingatnya.

Mereka memperhitungkannya dengan cukup baik, tetapi hal yang tidak mereka perhitungkan adalah bahwa Hua Cheng tidak begitu mudah untuk dihadapi.

Tidak memenuhi janjimu? Baiklah, dia bisa membantu.

Jadi, dia membakar semua kuil dari tiga puluh tiga Pejabat Surgawi itu di alam fana.

Itu adalah mimpi buruk yang sekarang dibicarakan para dewa abadi dengan wajah pucat―Hantu dalam balutan merah membakar tiga puluh tiga kuil sipil dan militer.

Kuil dan para penyembah adalah sumber kekuatan spiritual terbesar dari pejabat surgawi. Dengan kuil mereka yang sudah tidak ada, ke mana penyembah mereka akan pergi untuk berdoa kepada dewa mereka? Dan dari mana dupa mereka berasal? Dengan kekuatan mereka yang terluka parah, untuk membangun kembali kuil mereka akan membutuhkan waktu minimal seratus tahun, dan bahkan, mereka mungkin tidak akan bisa memulihkan kekuatan mereka seperti sebelumnya. Bagi Pejabat Surgawi, itu benar-benar bencana yang menghancurkan yang bahkan lebih mengerikan daripada Bencana Surgawi.

Pejabat Surgawi yang lebih kuat dari tiga puluh tiga pejabat surgawi itu memiliki beberapa ribu kuil, sementara yang lebih lemah memiliki beberapa ratus. Jika seseorang menambahkan semuanya, akan ada lebih dari sepuluh ribu kuil. Tapi Hua Cheng benar-benar membakar semuanya hanya dalam satu malam. Tidak ada yang tahu bagaimana dia melakukannya, tetapi dia berhasil melakukannya.

Itu benar-benar gila.

Para Pejabat Surgawi mengeluh dengan sedih kepada Jun Wu, tetapi dia juga tidak berdaya, dan tidak ada yang bisa dia lakukan. Tantangan itu adalah sesuatu yang telah disetujui oleh para Pejabat Surgawi sendiri, dan janji mereka pun mereka buat sendiri. Hua Cheng juga sangat licik, dia hanya menghancurkan kuil dan tidak menyakiti siapa pun. Jadi itu sama saja dengan menggali lubang, dan menanyakan apakah para pejabat surgawi mau melompat ke dalamnya. Kemudian, para pejabat surgawi itu memilih untuk menggali lubang lebih dalam sebelum terjun sendiri ke dalamnya. Jadi, jika sudah seperti itu, apa yang bisa dilakukan?

Awalnya, ketiga puluh tiga Pejabat Surgawi itu ingin mengalahkan hantu kecil sombong itu di hadapan seluruh dunia, sehingga mereka memilih untuk mengadakan kompetisi bela diri dan sastra tersebut dalam mimpi banyak penguasa dan bangsawan dari dunia manusia. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kekuatan Ilahi mereka di depan para penyembah mereka. Siapa yang menyangka bahwa apa yang mereka tunjukkan kepada para bangsawan dan penguasa itu malah menjadi pertunjukkan mereka yang benar-benar dikalahkan? Sehingga, setelah mimpi itu, banyak penguasa yang memilih untuk berhenti berdoa kepada Pejabat Surgawi dan beralih untuk berdoa kepada hantu. Tiga puluh tiga Pejabat Surgawi itu kehilangan para penyembah dan kuil mereka, dan secara perlahan mereka pun menghilang tanpa jejak. Banyak kekosongan akhirnya terisi ketika generasi baru Pejabat Surgawi naik.

Sejak saat itu, setiap kali nama ‘Hua Cheng’ disebutkan di dunia manusia, banyak Pejabat Surgawi akan gemetar ketakutan. Bahkan hanya mendengar pakaian merah dan kupu-kupu perak sudah membuat rambut mereka berdiri. Beberapa takut membuatnya jengkel atau tidak senang, karena jika begitu dia akan datang menantang mereka dan kemudian membakar kuil mereka. Beberapa takut karena dia telah mengancam mereka, sehingga mereka tidak bisa bergerak melawannya. Beberapa takut karena Hua Cheng memiliki kekuatan untuk menutupi langit dengan satu tangannya di dunia manusia, jadi kadang-kadang, ketika Pejabat Surgawi melakukan sesuatu di sana, mereka tidak punya pilihan lain selain menemui dan memintanya untuk membimbing mereka. Setelah hal itu berlangsung selama beberapa saat, sebagian dari Pejabat Surgawi juga menjadi penyembahnya karena mentalitas yang aneh.

Dengan demikian, sikap Surga terhadap orang ini adalah kebencian, ketakutan, dan rasa hormat, sekaligus.

Dan di antara tiga puluh lima Pejabat Surgawi itu, dua yang tidak menerima tantangannya adalah dewa bela diri Xuan Zhen, Jenderal Mu Qing, dan Nan Yang, Jenderal Feng Xin.

Mereka tidak menerima tantangan itu, tapi bukan karena mereka takut pada Hua Cheng. Mereka sama sekali tidak mempedulikannya dan merasa tidak perlu peduli, dan oleh karena itu mereka tidak setuju untuk bertarung. Siapa yang menyangka bahwa itu adalah keputusan yang menguntungkan dan bijaksana?

Namun, hanya karena mereka tidak menerima tantangannya, bukan berarti Hua Cheng telah melupakan mereka. Saat mereka keluar di Festival Hantu untuk melakukan inspeksi, mereka telah bertemu satu sama lain dan berkelahi berkali-kali. Sehingga, Feng Xin dan Mu Qing keduanya memiliki bayangan fisiologis yang tertinggal di hati mereka karena ‘Kehancuran’ gila pemilik kupu-kupu perak itu.

Meskipun mendengarkan semua itu, otak Xie Lian masih penuh dengan kupu-kupu perak, berkilau dan transparan saat terbang dengan riang di sekelilingnya. Tidak peduli seberapa keras dia berpikir, dia tidak bisa menghubungkan mereka dengan apa yang dirumorkan. Dia tidak bisa menahan diri untuk berpikir, “Apakah kupu-kupu perak kecil itu menakutkan? Mereka tidak seburuk itu… mereka sangat imut.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. telah terbiasa bersembunyi dan melarikan diri dalam kegelapan
  2. Artinya: Bai = Putih, WuXiang = Tanpa Wajah.(Si Putih Tanpa-Wajah)
  3. Gu 
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
V10n4 Kaneshiro (@v1v10n4)

kupu2nya imut kaya pemiliknya hehehhe

Ran
Ran
1 month ago

Imut