Penerjemah: Jeffery Liu


Pada awalnya, Xie Lian telah merencanakan untuk memamerkan keterampilan kulinernya, tetapi setelah malam ini, kepercayaan dirinya turun satu juta kali lipat.

Hua Cheng menyarankan agar dirinya bisa membuat makan malam sebagai gantinya, tetapi bagaimana mungkin Xie Lian bisa memiliki wajah untuk memintanya memasak setelah Hua Cheng beberapa hari terakhir ini sudah membantunya seperti memperbaiki pintu dan membersihkan kuilnya juga? Bagaimana mungkin seorang tuan rumah bisa memperlakukan tamu mereka dengan cara seperti ini? Selain itu, siapa dirinya bisa memperlakukan seorang Raja Iblis Agung yang terhormat seperti ini?

Beruntung Xie Lian membawa cukup banyak persediaan makanan ketika dia kembali dari kota sebelumnya dan meskipun sebagian besar telah Xie Lian masukan ke dalam panci untuk memasaknya, masih ada beberapa roti dan kue, sayuran dan buah-buahan yang tersisa, sehingga mereka bisa memakan apa yang mereka miliki saat ini. Tapi setelah memakannya, lalu apa?

Esok harinya, masalah itu telah diselesaikan dengan sendirinya. Pagi itu sangat cerah, pintu Kuil PuQi dibuka ketika ada sekelompok gadis desa yang mengetuk pintu kuil untuk datang menawarkan satu panci besar bubur dan ayam panggang. Gadis-gadis desa itu tampak malu-malu dan gelisah, jadi tujuan mereka untuk datang ke tempat ini cukup jelas. Xie Lian tidak bisa melakukan apapun dan hanya mengela napas kagum, berpikir jika kecantikan dan ketampanan mungkin benar-benar dapat mengisi perut seseorang.

Ayam panggang itu dibagi untuk dua anak, Lang Ying dan Gu Zi; Xie Lian hanya memakan bubur dan Hua Cheng tidak menyentuh apa pun. Dia tersenyum, “Gege sangat populer di daerah ini.”

Xie Lian tertawa, “Jangan menggodaku, San Lang. Mereka jelas-jelas sedang mabuk tetapi tidak pada pengaruh anggur.”

Setelah kejadian memakan satu mangkuk sup buatan Xie Lian, Qi Rong masih diikat di luar kuil selama satu malam penuh, dia terus melolong dan memekik, meneriakan kata-kata seperti, “Aku lebih suka ditangkap oleh Lang Qian Qiu, dibantai menjadi jutaan keping, daripada terjebak di sini dan diberi makan racun olehmu!” “Putra Mahkota sepupu, aku salah, tolonglah, aku mohon, beri aku penawar racunnya!” Dan dia bahkan tampaknya telah berhalusinasi dan menjadi delusional. Gu Zi kecil merasa ngeri hanya dengan mendengarnya. Menjelang pagi hari, Qi Rong masih ada di depan kuil namun tubuhnya mengerut dan tampak seperti apa yang ada di dalam tubuhnya telah tersedot sampai kering, wajahnya benar-benar hijau, dan dia tampak menjilat bubur yang dipegang oleh Gu Zi di tangannya sebelum akhirnya mendapatkan kembali kekuatannya, dia mengatakan sesuatu dengan suaranya yang parau dan serak, “Omong kosong! Populer? Siapa yang akan datang untuknya?? Lihatlah penampilan lusuh itu! Juga, jangan terlalu menyombongkan dirimu sendiri, Hua Cheng keparat. Kamu paling banyak hanya dapat menarik beberapa jalang desa dari tempat-tempat terpencil seperti ini. Mereka hanya menempel dan mendatangimu karena kamu berpakaian sangat mewah. Jika kamu berpakaian sebagai pengemis, aku ragu mereka bahkan akan melihatmu!”

Xie Lian berpikir, itu sama sekali tidak benar. Bahkan jika Hua Cheng berpakaian seperti pengemis, Xie Lian percaya, jika Hua Cheng pergi untuk meminta-minta dan mengemis dia pasti akan mendapatkan gunungan emas. Tetap saja, dia tidak mengatakan apa-apa, dan mulai melakukan pekerjaan rumahnya dengan santai. Setelah beberapa saat, gelombang aroma lain tercium ke luar kuil dan Qi Rong yang merasakan aroma itu mulai meraung lagi, “APA YANG KAU LAKUKAN SEKARANG?! BRENGSEK!”

Xie Lian menjawab dengan hangat, “Panci rebusan ‘Love for All Seasons’. Aku memanaskannya.”

Mendengar ini, Hua Cheng bertepuk tangan dengan lembut, “Nama yang bagus.”

“KAU MEMBERI NAMA PADA SAMPAH ITU?!?! BERHENTI!!!”

Takut jika Xie Lian benar-benar akan memberinya makanan dari masakannya lagi, hanya mengetahui masakan itu benar-benar dipanaskan mengingatkan Qi Rong akan ingatannya yang mengerikan, jadi dia tidak berbicara apapun lagi. Setelah selesai makan, Lang Ying diam-diam mengumpulkan peralatan makannya seolah-olah dia akan mencuci piring dan Xie Lian mencaci, “Biarkan saja. Pergilah bermain. Aku bisa mengurus ini.”

Mungkin Hua Cheng tidak diizinkan memasak, tetapi dia masih bisa mencuci piring. Hua Cheng menyaksikan Lang Ying yang tampak pergi dan membawa Gu Zi keluar untuk bermain dan berkata, “Biarkan aku yang melakukannya.”

Xie Lian menolak tawaran itu, “Tidak ada alasan bagimu untuk melakukannya. Duduk saja.”

Sebelum dia selesai berbicara, saat itu, mereka mendengar Qi Rong yang tampaknya bosan dengan tidak ada yang hal harus dilakukan setelah mengisi perutnya mulai membuat ejekan, berbicara dengan nada manisnya, “Hei jalang, apa yang kamu lakukan dengan terus berkeliaran di sekitar tempat ini? Apakah aku membuat hati kecilmu yang lembut itu bergetar?”

Iblis itu sebelumnya terus berkata tentang bagaimana ia tidak peduli pada seorang gadis desa tetapi saat ini dia berbalik dan mulai menggodanya, dan godaannya benar-benar begitu hambar! Xie Lian menggelengkan kepalanya, berpikir mungkin lebih baik baginya untuk menyeret Qi Rong masuk, jangan sampai dia menakuti orang-orang ketika Ia berada di luar. Tanpa diduga, bahkan sebelum dia membuka pintu, suara kekaguman dari penduduk desa terdengar, “Wah, benar-benar keindahan zaman!”

“Mengapa wanita cantik ini datang ke desa kami …”

“Aku belum pernah melihat wanita secantik ini dalam hidupku! Dan mereka bahkan ada dua!”

Segera setelah itu, ada serangkaian ketukan di pintu Kuil PuQi. Xie Lian bingung, ‘Keindahan zaman? Mereka bahkan ada dua? Mengapa dua gadis cantik dengan keindahan zaman ini mengetuk pintu kuilku? Ah, mungkinkah itu? Apakah pedagang kaya itu membawa istri-istri barunya untuk membalas rasa terima kasih mereka sebelumnya?’ Berpikir bahwa ini bisa terjadi, Xie Lian buru-buru meraih tanda “Tolong donasi dan bantu renovasi kuil ini”, siap untuk meletakkannya di luar. Tetapi kemudian, dia mendengar suara dingin dari salah seorang wanita, “Benda apa ini di depan pintu? Benar-benar membakar mata.”

Segera, suara wanita lain datang, terdengar bingung, “Mungkin untuk menjaga pintu? Tidak mungkin. Tidak ada alasan untuk tenggelam begitu rendah hanya untuk menggunakan binatang buas yang begitu vulgar ini bukan?”

Meskipun suara-suara itu adalah suara seorang wanita, tetapi Xie Lian yakin dia pernah mendengar dua suara itu sebelumnya. Mereka adalah Master Angin Qing Xuan dan Master Bumi Yi!

Awalnya dia ingin segera membuka pintu, tapi kemudian, dia memutar kepalanya, dan melihat Hua Cheng yang masih ada di belakangnya yang dengan malas tengah membersihkan meja altar, dan Xie Lian menghentikan tangannya, dengan hati-hati mengintip keluar melalui celah pintu sebagai gantinya.

Di luar pintu berdiri dua orang wanita ramping dan lembut. Yang satu mengenakan jubah kultivasi putih, bibirnya merah, bentuk tubuhnya menawan dan sensual, cambuk ekor kuda ada di salah satu tangannya, matanya tampak cerah; yang lain adalah seorang wanita berpakaian hitam, kulitnya seputih salju, alisnya indah dan tajam, namun ekspresinya gelap, tangannya mengepal, tampak menatap ke kejauhan. Wajah kultivator wanita berjubah putih itu dipenuhi dengan senyuman, dia tampak melambaikan tangannya di depan tubuhnya, “Haha, terima kasih semuanya, terima kasih! Tidak perlu memberi terlalu banyak pujian, tidak perlu membuat pertunjukan seperti itu. Aku sangat bermasalah jika kalian semua terus bersikap seperti ini. Sudah cukup sekarang, terima kasih. Haha.”

Xie Lian: “…”

Di sekeliling mereka tampak kerumunan besar penduduk desa yang masih menatap keindahan tubuh mereka berdua, dan setelah kerumunan itu melihat keindahan dari sosok dua orang wanita itu, mereka mulai menunjuk Qi Rong dan mulai berbisik satu sama lain. Qi Rong sama sekali tidak senang dan berteriak dengan marah, “APA YANG KALIAN LIHAT! LALU KENAPA JIKA LELUHUR INI LEBIH SUKA BERBARING DI TANAH! DIAMLAH KALIAN BRENGSEK! TIDAK ADA HAL YANG BISA DILIHAT DISINI!” Para penduduk desa melihat betapa anehnya perilaku pria itu, tampak kejam dengan wajah hijaunya, dan mereka mulai membubarkan diri karena ketakutan. Shi Qing Xuan menoleh ke arah Qi Rong, “Ini … tuan muda hijau, apakah Yang Mulia Putra Mahkota ada di dalam kuil?”

Mendengar wanita itu memanggil Xie Lian sebagai “Yang Mulia Putra Mahkota”, Qi Rong segera kehilangan minat pada dua wanita cantik di depannya, dan mendecakkan lidahnya, “TSK! Jadi, kalian adalah pejabat yang menyebalkan dari Surga Atas! Seolah leluhur ini adalah seekor anjing yang menjaga pintunya. Dengarkanlah, di sini, aku …” Dia sama sekali belum menyelesaikan kalimatnya sebelum Ming Yi yang tampak murung mendekatinya, dan kemudian terdengar suara ratapan diikuti dengan suara pukulan. Dari posisi Xie Lian, dia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Ming Yi dan hanya bisa melihat Shi Qing Xuan menyapu cambuk ekor kudanya, menegur, “Ming-Xiong, tidak baik menggunakan kekerasan!”

Ming Yi berkata dengan dingin, “Apa yang harus ditakuti? Bukankah dia bilang dia bukan binatang buas yang dijinakkan.”

“…”

Untuk mencegah Qi Rong benar-benar dipukuli sampai mati, Xie Lian hanya bisa membuka pintu dan mengangkat tangannya untuk menghentikannya, “Tuanku! Kasihanilah dia! Jangan pukul dia, dia tengah merasuki tubuh seseorang yang hidup!”

Melihat bahwa Xie Lian telah membuka pintu, Ming Yi membalik keliman hitamnya dan melepaskan sepatu botnya dari punggung Qi Rong. Shi Qing Xuan di sisi lain bergegas dan mencengkeram tangan Ming Yi dengan gerakan membungkuk, “Yang Mulia, aku datang beberapa hari lebih awal! Ada apa dengan orang itu? Dia begitu penuh dengan esensi iblis, kamu tidak bisa menyembunyikannya, apakah kamu menganggap kami buta? Baiklah, mari kita bicara di dalam. Kali ini aku memiliki sesuatu yang sangat penting, aku butuh bantuanmu …” Saat dia berbicara, dia berjalan mengelilingi Qi Rong yang sedang berbaring di tanah dan menyeberangi ambang pintu. Hua Cheng masih di dalam, jadi bagaimana mungkin Xie Lian berani membiarkan mereka masuk, dan dia buru-buru berteriak, “Tunggu!”

Namun, sudah terlambat. Kuil PuQi hanya sebesar itu dan kuil itu tidak memiliki tempat untuk bersembunyi. Dengan segera, mereka berdua melihat sosok yang ada di belakang tubuh Xie Lian, disana tampak berdiri Raja Iblis Agung yang pada saat itu tengah mencuci piring. Empat pasang mata bertemu; bunga api tampak terbang. Hua Cheng tersenyum menampakkan giginya, namun senyum itu sama sekali tidak terlihat menyenangkan dan matanya tidak memiliki jejak kegembiraan sedikit pun.

Dalam sekejap, pupil Ming Yi tampak menyusut, dan dia mundur sejauh tiga kaki. Shi Qing Xuan melemparkan kipas Master Anginnya, dan memasang kuda-kuda untuk menyerang, sangat khawatir, “HUJAN DARAH MENCAPAI BUNGA!”

Di luar pintu, wajah pucat Qi Rong tampak meraung marah, “DAN AKU ADALAH LENTERA HIJAU YANG MENGEMBARA PADA MALAM HARI! BAGAIMANA MUNGKIN TIDAK ADA SATU PUN DARI KALIAN MENGENALIKU KETIKA KALIAN MEMUKULIKU TAPI LANGSUNG MENGENALI DIA HANYA DALAM SATU TATAPAN?!”

Ming Yi pernah menyusup ke Kota Hantu dan menghabiskan bertahun-tahun sebagai mata-mata dan menjadi bawahan di bawah perintah Hua Cheng. Baru-baru ini identitasnya telah diketahui dan dia berhasil ditangkap oleh Hua Cheng, kemudian dikunci di dalam labirin bawah tanah dan dipukuli. Ketika seorang musuh saling berhadapan, mata mereka tampak merah dan dipenuhi dengan aura kemarahan, Kuil PuQi yang begitu kecil dan mungil itu dipenuhi bau racun di dalam dan luar. Hua Cheng melemparkan kain di tangannya dan menyeringai, “Tuan Master Bumi terlihat bersemangat.”

Ming Yi juga menjawab dengan dingin, “Tuan Raja Iblis juga terlihat santai seperti biasa.”

Setelah memberikan salam ala kadarnya, kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Hua Cheng bahkan lebih menusuk, ekspresinya tampak begitu dingin.

Dia memperingatkan, “Pergilah. Aku tidak peduli urusan penting apa yang kalian miliki. Jangan datang ke tempat ini lagi.”

Meskipun dia takut pada Hua Cheng, tetap saja dia menolak untuk mundur dengan lemah lembut dan Ming Yi menjawab dengan suara serius, “Untuk datang ke sini bukanlah kehendakku!”

Aroma racun yang menguar saat itu benar-benar akan berubah menjadi bahan peledak. Di sebelah mereka, Xie Lian menjadi lebih gugup, “A-apa, Master Angin, apa yang harus kita lakukan?”

Shi Qing Xuan mengetuk kipasnya di kepalanya beberapa kali dan berkata, “Aku tidak berharap Hujan Darah Mencapai Bunga juga akan ada di sini! Bukankah kalian baru saja bertemu? Kenapa kamu bersama dengannya lagi begitu cepat? Pokoknya, jika ini bisa diselesaikan tanpa tinju, itu akan lebih baik. Kekerasan itu buruk. Jika mereka mulai bertarung, kita harus menahan mereka.”

“Aku setuju.” Qi Rong berharap keduanya akan mulai berkelahi dan telah mendengarkan kata-kata mereka dengan penuh perhatian. Saat itu dia tiba-tiba berbicara, “Ohh – jadi kau wanita murahan Master Angin itu???”

Baik Xie Lian dan Shi Qing Xuan menoleh untuk menatapnya. Itulah bagaimana Qi Rong memanggil Shi Qing Xuan ketika dia berada di dalam guanya sendiri, tetapi bahkan di depan orang yang dimaksud dia berani mengutuknya seperti ini, Xie Lian tidak tahu apakah itu karena keberanian atau kurangnya kemampuan mentalnya. Shi Qing Xuan selalu dibesarkan dalam rahmat yang bermartabat, jadi ini mungkin pertama kalinya dia mendengar orang lain mengutuknya dengan cara ini. Dia berkedip, tampak bingung, lalu menoleh ke arah Xie Lian, “Yang Mulia. Tunggu sebentar.”

Kemudian, dia keluar dari kuil dan menutup pintu. Di luar, sekali lagi terdengar suara ratapan putus asa dari Qi Rong dan suara dari beberapa pukulan. Beberapa saat kemudian, Shi Qing Xuan membuka pintu untuk kembali, dan dia telah berubah kembali menjadi bentuk prianya. “Baiklah, apa yang kita bicarakan tadi. Aku merasa agak lapar, jadi bagaimana kalau kita semua duduk dan makan sesuatu? Tidak ada yang tidak bisa dinegosiasikan, dan tidak ada yang tidak bisa diselesaikan di meja makan.”

“…”

Meskipun Xie Lian sedikit banyak tidak ingin mereka mulai bertarung di dalam Kuil PuQi, tapi Hua Cheng tampaknya sangat marah atas seluruh urusan penyusupan yang dilakukan Ming Yi, dan tanpa mengetahui cerita di dalamnya, sepertinya agak mustahil untuk membuatnya duduk dan menikmati santapan dan mengobrol. Namun, Hua Cheng tampaknya tidak keberatan dengan gagasan itu, dan setelah beberapa saat yang membeku, es di wajahnya menghilang dan dia berbalik untuk terus mencuci piring. Setelah selesai, dia berjalan ke arah panci dan menyendok semangkuk penuh sup Love for All Season.

Melihat Hua Cheng yang terlebih dahulu mundur dan menghentikan pertarungan yang sebelumnya hampir terjadi, sosok yang lain menghela napas lega. Langkah selanjutnya adalah mengubah topik pembicaraan dan menghidupkan suasana, jadi Shi Qing Xuan kemudian bertanya, “Yang Mulia, apa yang ada di dalam panci itu? Sepertinya masih panas?”

“Oh. Aku yang membuatnya.” Kata Xie Lian.

Sup yang ada di dalam panci itu sudah lama direbus, rasanya benar-benar meresap, dan sebagian besar baunya sudah menghilang. Meskipun warnanya masih benar-benar mencurigakan, tetapi bentuknya sudah meleleh karena rebusan sebelumnya, tampak jauh lebih baik daripada malam sebelumnya. Mendengar jawabannya, Shi Qing Xuan bergetar dengan kegembiraan, “Benarkah? Aku tidak pernah memakan apa pun yang dibuat oleh tangan seorang pejabat surgawi! Ayo, ayo, mari kita coba.”

Dia berkata ketika dia pergi untuk mengambil dua set peralatan makan dan mengisi dua mangkuk itu dengan sup buatan Xie Lian. Sejujurnya, Xie Lian benar-benar ingin menghentikannya pada awalnya. Namun, karena langkah Hua Cheng benar-benar dipenuhi keyakinan, mengubur benih kepercayaan di dalam dirinya, dan ditambah pagi itu dia telah mengubah bumbu sesuai dengan saran yang diberikan oleh Hua Cheng saat dia memanaskan rebusan sup itu, sehingga pikiran “mungkin aku berhasil” muncul dalam benaknya. Setelah beberapa keraguan, dia masih tidak mengatakan apa-apa, dan diam-diam menyaksikan dengan penuh harap ketika Shi Qing Xuan menyerahkan mangkuk berisi sup itu kepada Ming Yi. “Ayo, Ming-Xiong. Ini milikmu.”

Ming Yi melihat isi mangkuk dan memalingkan wajahnya, tampak tidak menginginkannya sama sekali.

Itu adalah sikap yang kasar. Shi Qing Xuan marah, dan memaksakan mangkuk itu padanya, memaksanya tanpa henti, “MAKAN! Bukankah kamu mengatakan jika kamu lapar di jalan sebelumnya?”

Hua Cheng dengan malas mengangkat satu sendok sup dari dalam mangkuknya dan meniupnya, membawanya ke bibirnya lalu menelannya. Dia tersenyum pada Xie Lian, “Hari ini lebih ringan. Rasa dan bumbunya tepat.”

Xie Lian juga tersenyum, “Benarkah? Aku menambahkan lebih banyak air hari ini.”

Hua Cheng menyendok satu suapan lagi ke dalam mulutnya dan tersenyum senang, “Gege sudah melakukan yang terbaik.”

Menyaksikan Hua Cheng tampak seperti sedang mencicipi makanan yang begitu lezat dan penuh cita rasa, itu sangat meyakinkan. Sesaat kemudian, Ming Yi mengambil mangkuk itu. Shi Qing Xuan tersenyum, “Itu lebih baik!” Dan keduanya menyendok satu suapan sup itu pada saat yang sama, dan mencicipinya.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments