Penerjemah: Jeffery Liu


Pedang itu bergetar semakin tak terkendali. Xie Lian bingung apa yang harus dia lakukan, dan dengan lembut membelai di sepanjang bilah pedang lengkung itu, “Maafkan aku, maafkan aku, aku tidak melihat jika itu adalah kamu, aku tidak akan melakukannya lagi.”

Setelah membelainya beberapa kali, E-Ming memicingkan matanya, dan getarannya akhirnya berhenti. Xie Lian kemudian bertanya, “Di mana tuanmu?”

Tiba-tiba, sebuah suara datang dari belakangnya, “Tebak saja.”

Xie Lian melihat ke belakang dan segera bangkit, merasa sangat terkejut sekaligus senang, “San Lang? Mengapa kamu datang?”

Di belakangnya adalah sosok seorang pemuda yang tampak mendekatinya dengan aura kesombongan yang menguar. Itu adalah Hua Cheng. Dia mengikat rambut hitamnya menjadi gaya ekor kuda yang bengkok seperti sebelumnya, mengenakan tunik putih, dan jubah luar berwarna merahnya diikatkan di sekitar pinggangnya, lengan bajunya digulung, memperlihatkan lengan putih pucat dan tegas serta tato di salah satu dari lengan itu. Ketika dia berjalan, lonceng perak kecil di sepatunya berdentang, terdengar cukup lembut, tampak sangat mirip seorang anak muda desa yang tegap, namun sangat santai. Sepotong rumput liar tergantung di bibirnya dan dia tersenyum pada Xie Lian, “Gege.”

Xie Lian awalnya berencana mengunjungi Hua Cheng untuk mengucapkan terima kasih yang pantas setelah mengantarkan kedua anak ini ke kuil miliknya, tetapi sekarang Hua Cheng sendiri yang muncul di depan matanya. Dengan malas, Hua Cheng mendekatinya dan mengeluarkan pedang perak itu dari tanah hanya dengan satu tangan, memandanginya, lalu mengangkatnya untuk meletakkannya di atas bahunya. “Gege sedang sibuk di sini, tidak perlu merepotkanmu dengan melakukan perjalanan ke sana, jadi aku memutuskan untuk datang sendiri. Kamu juga melupakan ini.”

Xie Lian melihat sebuat topi bambu di punggung pemuda itu, Hua Cheng kemudian melepasnya dan memberikannya kepada Xie Lian. Xie Lian benar-benar melupakan topi ini ketika Ia berada di mansion pedagang kaya itu, dan Xie Lian sedikit terkejut, lalu segera berkata, “Aku benar-benar lupa tentang topi ini, terima kasih karena membawakannya untukku.”

Tepat ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia tiba-tiba mengingat apa yang dia katakan kepada Hua Cheng setelah sesuatu itu terjadi pada malam sebelumnya, “Aku mencari topi bambuku, topi bambu milikku hilang”. Omong kosong itu diucapkan oleh Xie Lian karena kebingungan yang tiba-tiba menyerangnya saat itu tetapi Hua Cheng benar-benar pergi dan menemukan topi bambu untuknya, dan Xie Lian merasakan gelombang rasa malu, takut jika Hua Cheng akan menggodanya karena sesuatu yang terjadi sebelumnya. Beruntung, Hua Cheng bahkan tidak menyebutkan masalah itu, dan mengganti topik pembicaraan setelah beberapa saat. “Gege mengambil dua anak lagi?” Dia berkata sambil menepuk kepala Gu Zi, mengacak-acak rambutnya menjadi berantakan. Gu Zi tampaknya takut kepadanya, bergegas bersembunyi di belakang Xie Lian. Xie Lian memberitahunya, “Jangan khawatir, gege ini adalah orang yang baik.”

Namun, Hua Cheng berkata, “Tidak, aku orang yang sangat buruk.” Meskipun kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia kemudian membalik tangannya dan seekor kupu-kupu perak kecil dilemparkan keluar dari lengan bajunya, kupu-kupu itu mengepakkan sayap-sayap kecilnya, terbang dengan lembut ke arah Gu Zi. Mata kecil Gu Zi tampak melebar, menatap kupu-kupu perak kecil itu dengan mata yang tidak bergerak, dan dia kemudian mengulurkan tangannya untuk mencoba menangkapnya terlepas dari dirinya sendiri.

Dengan itu, penjagaan yang dia keluarkan terhadap Hua Cheng sebagian besar telah berkurang. Kemudian, Hua Cheng dengan acuh tak acuh mengalihkan pandangannya ke arah Lang Ying, tetapi tatapannya sangat berbeda. Ketika dia menatap Lang Ying, matanya tampak dingin dan tajam, benar-benar tidak ramah dan tidak bersahabat sama sekali. Lang Ying menundukkan kepalanya dan juga menyusut ke belakang Xie Lian dengan cemas.

Xie Lian memegang topi bambu yang diserahkan Hua Cheng sebelumnya di tangannya dan berkata, “Karena kamu sudah datang, ayo masuklah. Apa yang kamu lakukan dengan membersihkan Kuil PuQi?”

“Ini tidak lebih dari pekerjaan membersihkan rumah, tidakkah kamu pikir semuanya terasa jauh lebih menyegarkan sekarang karena semua sampah sudah dibersihkan?”

“…” Xie Lian kemudian mengingat Qi Rong yang hilang, dan bertanya-tanya apakah Hua Cheng benar-benar membuangnya seperti sampah? Saat itu, tedengar suara ratapan yang tiba-tiba datang dari belakang Kuil PuQi, “HUA CHENG KAU BRENGSEK, PERGILAH KE NERAKA DAN MATILAH DI DALAM PANCI PENUH MINYAK PANAS YANG MENDIDIH! PEMBUNUHAN! HUA CHENG MELAKUKAN PEMBUNUHAN!!!”

Gu Zi berteriak, “Ayah!” Dan dua kaki kecilnya berlari, bergegas keluar, dan Xie Lian buru-buru mengikutinya. Ada sungai kecil di belakang Kuil PuQi, dan di situlah ia biasanya mencuci pakaian dan mencuci beras. Pada saat itu, Qi Rong tampak ditenggelamkan ke dalam air sungai itu, tubuhnya diikat begitu erat oleh RuoYe, mati-matian menjaga kepalanya di atas air, meraung dengan sekuat tenaga, “AKU TIDAK AKAN KELUAR, AKU MENOLAK UNTUK KELUAR! AKU AKAN TETAP BERADA DI DALAM TUBUH INI SAMPAI MATI! AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!!”

Hua Cheng tampak meludahkan potongan rumput liar di mulutnya, “Kamu menganggap dirimu seperti seorang pahlawan? Sampah tidak berguna.”

Xie Lian menjelaskan dengan sedih, “… Aku menangkapnya beberapa hari yang lalu di gunung. Dia merasuki tubuh seseorang dan tidak mau keluar. Pria itu masih hidup, jadi jika kita secara paksa merobek jiwanya, daging tubuh ini tidak akan bisa bertahan. Sejujurnya … apakah San Lang memiliki ide yang mungkin bisa kita lakukan “

Hua Cheng menjawab, “Hm? Kamu ingin ide tentang bagaimana membuat dia menderita nasib yang lebih buruk daripada kematian? Ada banyak.”

Apa yang dikatakan Hua Cheng benar-benar sebuah ancaman. Qi Rong mengumpat, “KALIAN BERDUA! PASANGAN PANCI YANG RUSAK DAN TUTUP YANG MEMBUSUK! BERHATI ULAR DAN KALAJENGKING! GUrglegurglegurgle…” Qi Rong belum menyelesaikan kalimatnya sebelum tubuhnya sekali lagi tenggelam di sungai. Meskipun setiap kali Xie Lian melihat sosok Qi Rong saat ini, dia akan langsung mengingat tentang gambaran bagaimana tubuh ibunya dilebur menjadi abu dan hatinya benar-benar dipenuhi dengan kesedihan, tubuh itu tetap milik orang lain dan karenanya, harus dipertahankan bagaimanapun caranya. Jadi, dia kemudian mengambil Qi Rong dari sungai dan menyeretnya ke pintu depan Kuil PuQi.

Qi Rong sama sekali belum makan selama seharian penuh dan satu malam sebelumnya, perutnya benar-benar kempis karena kelaparan, dan setelah diganggu oleh Hua Cheng, dia benar-benar dipenuhi amarah tetapi sama sekali tidak memiliki energi untuk melampiaskannya. Qi Rong melahap pai daging yang sejak tadi dipegang oleh Gu Zi yang didapatnya dari rumah pedagang kaya sebelumnya tanpa meninggalkan satu remah pun, tampak benar-benar malang dan menyedihkan. Xie Lian menggelengkan kepalanya dan memperhatikan bahwa anggota tubuh Qi Rong tampak kaku, mungkin karena mantra yang dibuat oleh Hua Cheng yang membuatnya tidak bisa melakukan apapun, jadi dia kemudian memanggil, “RuoYe, kembalilah.”

RuoYe telah menghabiskan waktu berhari-hari dengan mengikat Qi Rong dan sudah merasa sangat dirugikan karenanya, jadi dengan panggilan dari Xie Lian, dia segera meluncur dan membungkus dirinya dalam lingkaran di sekitar seluruh tubuh Xie Lian seperti ular putih. Xie Lian mendorong pintu kuil itu hingga terbuka dan menghibur sutra putih itu saat dia melakukannya, melepaskannya dari tubuhnya sendiri, “Baiklah, baiklah. Aku akan memandikanmu dan mencucimu, jangan merasa buruk. Bermainlah di samping.”

Dengan demikian, RuoYe menyeret dirinya sendiri dan dengan sedih melayang ke samping. Hua Cheng juga dengan santai melemparkan E-Ming, dan E-Ming sendiri tampak memasang pose yang begitu bermartabat untuk mendarat dan kemudian berdiri. Di dinding itu, RuoYe tiba-tiba menemukan sebuah pedang perak yang tampak berkilau tengah bersandar di sebelahnya, dan dengan sangat hati-hati mulai mendekatinya. Mata pada gagang pedang E-Ming juga berputar dan melihat ke atas, matanya tampak dipenuhi penilaian atas sesuatu. Fang Xin disisi lain diam-diam tidak bergerak, tidak menunjukkan pengakuan apa pun.

Xie Lian telah menghabiskan beberapa hari terakhir ini dengan belajar memasak dan merasa dia mungkin telah memperoleh wawasan yang cukup, dan hatinya dipenuhi dengan kepercayaan diri yang tinggi. Xie Lian ingin memamerkan keahliannya dan menjamu Hua Cheng dengan benar, Xie Lian menahannya untuk berada di kuil milikinya untuk makan, dan tentu saja Hua Cheng menyetujuinya dengan riang. Ketika mereka kembali dari kota, Xie Lian telah membeli banyak bahan makanan, dan dia menumpuk semua bahan makanan itu di atas altar. Mengambil pisau daging, mengiris dan memotong sesuatu, mendentingkan dan mendentangkan panci. Meja altar itu bisa digunakan sebagai meja tulis, meja dapur, dan juga meja makan; segala peralatan apapun bisa diatur disana, semua anak-anak bahkan bisa duduk disana, benar-benar sebuah meja yang berisi seratus kegunaan. Hua Cheng bersandar di dinding dan mengawasinya, tetapi akhirnya dia tidak bisa untuk hanya mengawasi dan akhirnya berkata, “Apakah kamu butuh bantuan?”

Xie Lian berada di puncak semangatnya dan menjawab, “Tidak perlu. Aku hanya perlu bantuan dari RuoYe, itu sudah cukup.” Kemudian Xie Lian membuang beberapa bungkusan kayu bakar yang sama sekali belum dipotong. PA! Seperti seekor ular beludak penyerang, sang sutera putih itu mencambuk batang-batang kayu dengan potongan-potongan setebal paha seseorang itu untuk memotongnya menjadi batangan-batangan kayu yang lebih tipis.

Setelah memamerkan keterampilannya, RuoYe melengkung menjadi bentuk yang berlebihan dan aneh di depan E-Ming dan Fang Xin, seolah-olah menunjukkan kekuatan dan keindahannya. Peragaan kecantikan itu tidak bertahan lama sebelum Xie Lian bergerak lagi dan meletakkan sebuah piring di tanah lalu melemparkan sebuah kubis besar. RuoYe baru saja akan menyerang ketika tiba-tiba, kilatan mata E-Ming melintas, dan pedang itu terbang dari tanah, berputar keluar, kilatan cahaya perak dari pedang itu begitu berkilau. Daun-daun kubis tampak memenuhi udara, dan ketika daun-daun kubis itu hendak mendarat di tanah, daun itu sudah dipotong tipis dan bersih menjadi sepiring penuh. Xie Lian berjongkok untuk mengambil satu piring penuh berisi potongan kubis dan hendak memuji ketika dirinya melihat potongan-potongan kubis itu, “Luar biasa. Kamu memotong lebih baik daripada Ruoye!”

Dengan seketika RuoYe tampak menempelkan dirinya ke dinding, tampak seperti seseorang tengah menahannya, dan setelah sutera putih itu menyentuh dinding, tidak ada tempat lagi baginya untuk berlari. Namun E-Ming disisi lain, dia mulai memutar-mutar matanya dengan penuh kegilaan, aura kesombongan dan kepuasan terpancar dari matanya, seperti ia telah mencapai kondisi kesucian. Di antara saber dan sutera itu, Fang Xin masih tetap tidak tergerak. Xie Lian sama sekali tidak memperhatikan pertempuran kecil di antara perangkat spiritualitu, dan hanya fokus untuk melemparkan segala macam sayuran dan bumbu yang berbeda ke dalam panci. Dia berbalik untuk bertanya, “Ngomong-ngomong, berapa lama kamu akan tinggal untuk kali ini, San Lang?”

San Lang telah memperhatikan tindakannya sepanjang waktu dan sepertinya dia ingin menasihatinya tentang sesuatu pada awalnya, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa. Dia tersenyum, “Tergantung. Jika tidak ada yang terjadi di Kota Hantu, aku akan menetap disini dan bermain selama beberapa hari. Jika aku ada disini, berharap gege tidak akan keberatan.”

Xie Lian buru-buru berkata, “Kenapa aku harus merasa keberatan? Selama kamu juga tidak keberatan dengan tempatku yang sempit ini.” Terus mengobrol dan mengoceh, Xie Lian memberi tahu Hua Cheng semua tentang bagaimana hantu perempuan itu menyalahkan semua pejabat surgawi dan menyebabkan masalah saat mereka tiba di Aula Bela Diri Besar. Tentu saja, dia menahan diri untuk tidak menyebutkan bagaimana dia sendiri yang sudah dituduh dan membuatnya harus meneteskan darahnya sendiri pada pedang Yan Zhen. Kemudian, dia mengingat Jun Wu yang sebelumnya pernah mengatakan tentang Hua Cheng yang telah menanam mata-mata di alam surga, jadi mungkinkah Hua Cheng sudah tahu segalanya? Beruntung, entah apakah dia tahu atau tidak, dia tidak menunjukkannya sama sekali, dan hanya tampak mendengarkannya dengan saksama. Xie Lian bertanya, “San Lang, menurutmu siapa ayah dari roh janin itu?”

Hua Cheng mendongak dan tersenyum tipis, “Sulit dikatakan. Mungkin, Ikat Pinggang Emas itu benar-benar hanya sesuatu yang diambilnya dari tanah.”

Jawaban yang begitu samar-samar seperti ini sama sekali tidak seperti gaya Hua Cheng yang biasanya, dan Xie Lian tampak bingung. Namun segera setelah itu, suara panci yang tampak menggelegak menghilangkan fokusnya.

Setelah dua kali dupa, ia membuka penutup panci itu.

Biasanya, semua yang dimakan oleh Qi Rong adalah persembahan untuk Xie Lian dari penduduk desa, dan meskipun itu tidak lebih dari roti kukus dan acar, mie dan telur, buah-buahan liar atau yang lainnya, setidaknya itu adalah makanan yang cocok untuk dimakan oleh seorang manusia. Saat tutup panci itu terbuka dan aroma isinya tercium ke luar Kuil PuQi, Qi Rong mulai memaki dan menulikan telinga siapapun yang mendengarnya, “DEWA BRENGSEK XIE LIAN! KEBAIKAN HATIMU BENAR-BENAR TELAH BERUBAH MENJADI HITAM! BUNUH SAJA AKU DENGAN PEDANG ITU SEKARANG JUGA! BERSIKAP BEGITU BAIK HANYA UNTUK MEMBUATKU MENDERITA DENGAN KUTUKAN INI?! AKU BISA MELIHAT NIATMU ITU!!!”

Sebelum Xie Lian membuka penutup panci itu, Xie Lian benar-benar dipenuhi dengan kepercayaan diri yang tinggi. Sekarang, dia kembali mulai meragukan dirinya sendiri. Dia mencoba yang terbaik dan mengerahkan begitu banyak upaya tetapi apa yang dihasilkannya hanyalah ini, Hua Cheng masih mengawasinya di sebelahnya, Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia benar-benar akan membuat Hua Cheng memakan semua ini??? Mendengarkan Qi Rong menjerit seperti dia hampir dibunuh oleh seorang pembunuh berdarah dingin, Xie Lian menjadi lebih kehilangan semangatnya. Xie Lian merasakan jika Hua Cheng tampak menyilangkan kedua tangannya dan berniat untuk keluar sebelum dirinya mengangkat tangan untuk menghentikannya, “Jangan pikirkan dia.”

Xie Lian menghela napas, mengisi mangkuk di genggamannya dengan sesuatu dari dalam panci, dan berkata kepada Hua Cheng, “Jangan makan apapun dari panci ini. Tunggu disini sebentar,” Lalu dia keluar, mengantar Gu Zi dan Lang Ying pergi mengambil seember air, mengirim mereka pergi dari tempat itu, sebelum akhirnya berjongkok dengan mangkuk itu, ekspresinya benar-benar menyenangkan dan sabar, “Sepupu kecil, saatnya makan.”

Qi Rong terkejut sekaligus takut, “APA.. APA YANG KAMU LAKUKAN? APA YANG KAMU RENCANAKAN?! XIE LIAN AKU PERINGATKAN KEPADAMU, AKU MEMILIKI TUBUH SESEORANG YANG MASIH HIDUP DI TANGANKU, SEBAIKNYA KAMU MEMIKIRKANNYA LAGI! SIAPA PUN ORANG YANG MEMAKAN SAMPAH INI AKAN TERBEBAS DARI BELENGGU TIGA ALAM, TERBEBAS DARI PUTARAN RODA DHARMA 1, TIDAK ADA SIAPAPUN…”

Qi Rong terdiam ketika melihat Hua Cheng yang berada di dalam kuil, menyendok satu mangkuk penuh dari apapun itu dari dalam panci, duduk di sebelah meja altar, dan memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya, wajahnya tidak berubah sama sekali, begitu kokoh seperti gunung. Qi Rong terguncang sampai ke dalam hatinya. Suatu pemikiran yang sama sekali belum pernah dia pikirkan tiba-tiba terlintas dari dalam benaknya –

Seperti yang diharapkan dari Iblis Golongan Tertinggi!

Xie Lian menekan mangkuk itu ke depan wajah Qi Rong dan berkata dengan tenang, “Tidak apa-apa jika kamu tidak mau memakannya. Asal kamu mau keluar.”

Namun sesuatu seperti itu tidak akan pernah terjadi. Qi Rong menggigit giginya sendiri dengan begitu erat. Namun, Xie Lian meremas pipinya dan memaksa Qi Rong untuk membuka mulutnya, membuang seluruh isi mangkuk itu langsung ke dalam tenggorokannya.

Detik berikutnya, jeritan tajam menembus langit di atas Kuil PuQi.

Mangkuk di tangan Xie Lian sudah kosong, dan Qi Rong yang berada di tanah memasang ekspresi yang begitu buruk, bahkan suaranya terdengar begitu serak seperti suara orang tua yang terbuang sia-sia, dia mengerang, “… Aku … benci … “

Karena bahkan dengan memaksa Qi Rong untuk memakan seluruh isi dari dalam mangkuk itu dia masih menolak untuk keluar, Xie Lian sama sekali tidak tahu apakah ia harus senang atau sedih. Meskipun dia benar-benar ingin memaksa Qi Rong keluar sesegera mungkin, tapi karena dia tidak berhasil, dia hampir berpikir jika apa yang telah dia masak sepenuh hati tidaklah buruk, dan mungkin itu bahkan sesuatu yang layak untuk dimakan dan dia sedikit bahagia. Berbalik, dia melihat Hua Cheng yang juga tampak memiliki mangkuk di tangannya, memakan isinya dengan begitu santai, mengawasinya saat dia makan, dan isi dari mangkuk itu hampir kosong. Mata Xie Lian menyala dan dia bangkit, “San Lang, kamu sudah selesai?”

Xie Lian berpikir jika Hua Cheng akan menolak untukmemakan masakannya pada awalnya dan terlalu malu untuk menawarkannya kepada Hua Cheng, tetapi siapa yang tahu ternyata Hua Cheng sendiri yang pergi dan memakannya. Hua Cheng terkekeh, “Yeah.”

“…” Xie Lian mendesaknya dengan sangat hati-hati, “Bagaimana menurutmu?”

Hua Cheng juga tampak menyeruput sup itu sampai habis dan tersenyum, “Tidak buruk. Agak kental. Cobalah membuatnya sedikit lebih ringan lain kali.”

Xie Lian menghela napas lega dan mengangguk, “Baiklah, aku akan mengingatnya. Terima kasih atas tanggapanmu.”

Qi Rong: “UUUUGGGGGHHHHHHHHH – !!!”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. [ 六道 輪回 ] Roda Dharma – Keyakinan Buddha di enam alam keberadaan: Surga, Asura, Manusia, Hewan, Hantu, Neraka.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments