• Post category:SAYE
  • Reading time:28 mins read

Aku ingin, berlari bebas, di matamu. Aku ingin, dalam satu pandangan, akan bertahan seumur hidup.

Penerjemah: Jeffery Liu


Begitu pikiran tidak sehat semacam ini muncul di benak seseorang, ini seperti seekor anjing bodoh yang berjuang untuk mendapatkan makanan, tidak dapat ditahan sampai semua makanan hingga mangkuknya dikunyah sampai habis, jika tidak, itu tidak akan pernah berakhir.

Namun saat ini, bukan saja dia tidak bisa mengunyah mangkuknya, dia bahkan tidak bisa memakan makanannya.

Dia menatap Gu Fei cukup lama. Pada akhirnya, yang bisa dia lakukan hanyalah menampar punggung bawahnya dengan murung dan menarik ikat pinggang celana olahraga Gu Fei, mencubit pipi pantatnya.

“Hei,” Gu Fei melompat karena terkejut dan berbalik untuk menatapnya. “Apa yang sedang kamu lakukan?”

“… menamparmu,” Jiang Cheng menarik celananya kembali untuknya.

“Kita sedang ada di ruangan yang penuh dengan anak di bawah umur,” Gu Fei mulai tertawa. “Perhatikan perilakumu.”

“Ini tidak seperti aku melakukan sesuatu ah,” Jiang Cheng bersandar ke kursinya. “Apa, anak di bawah umur tidak diizinkan untuk mencubit dan … bermain-main.”

Gu Fei menatapnya sebentar lalu menyeringai sambil menyipitkan matanya: “Apa kamu memikirkan sesuatu yang memalukan1见不得人 memalukan; atau tidak layak untuk dilihat atau diungkapkan.?”

“Seperti?” Jiang Cheng juga menyipitkan matanya.

Gu Fei tidak menjawab. Dia bersandar ke samping dan meletakkan lengannya di belakang kursinya, menatapnya lagi, dan mulai tertawa.

“Apa yang kamu tertawakan?” Jiang Cheng bertanya dengan wajah serius.

Gu Fei masih tidak menjawab. Dia terus menatapnya sambil tertawa; wajahnya menunjukkan ekspresi penuh arti dan senyuman yang mengatakan, ‘Aku mengerti segalanya’, yang menyebabkan pertahanan Jiang Cheng benar-benar hancur.

“Oke tidak,” Jiang Cheng berdiri untuk menuangkan secangkir air untuk dirinya sendiri dan duduk kembali. “Seorang pria selalu memamerkan dirinya sendiri2君子坦荡荡 → 君子坦蛋蛋, jun zi tan dan dan 君子坦蛋蛋 adalah plesetan dari idiom asli jun zi tan dang dang 君子坦荡荡, artinya tindakan seorang pria adalah murah hati dan terbuka, adil dan tidak perlu ditanyai – atau dapat menjadi bukti pertanyaan; jun zi tan dan dan 君子坦蛋蛋, dandan adalah istilah sehari-hari untuk bola, atau testis, jadi ini bisa diterjemahkan menjadi “seorang pria telanjang/mengekspos bolanya” hahaha, katakan apa pun yang kamu inginkan.”

“Kita tentu saja memamerkan diri kita sendiri,” Gu Fei tertawa terbahak-bahak. “Apa yang kamu pikirkan?”

“Apa yang kamu pikirkan?” Jiang Cheng berdecak.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan,” Gu Fei meraih cangkir di tangan Jiang Cheng dan menyesap air di dalamnya, lalu mengembalikan cangkir itu ke tangan Jiang Cheng. “Kamu juga tahu kalau aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan.”

“Ah,” Jiang Cheng memikirkannya dan tertawa. “Aku sedang memikirkan beberapa hal yang tidak tahu malu, tapi jika kamu tidak membicarakannya, aku benar-benar tidak pernah memikirkannya.”

“Aku juga,” kata Gu Fei.

“Haruskah aku mempercayaimu,” Jiang Cheng menatapnya. “Ngomong-ngomong, kamu mengatakannya sendiri, kamu sangat tersembunyi.”

“Bukannya aku tidak memikirkannya sama sekali…” Gu Fei mulai tertawa lagi, hanya setelah beberapa saat, dia akhirnya bisa berbicara lagi. “Tapi itu karena aku mengingat sesuatu yang aku lihat sebelumnya.”

“Apa itu?” Jiang Cheng bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Jadi, ada seorang pria ‘kan, yang memiliki pacar laki-laki. Keduanya memiliki hubungan yang sangat baik,” kata Gu Fei dengan suara rendah sebelum dia berhenti dan melirik ke belakang untuk memeriksa Gu Miao lalu menarik kursinya lebih dekat ke Jiang Cheng dan mendekat ke telinganya, “Dan kemudian itu, kamu tahu … mereka tidur bersama…”

Jiang Cheng tersedak; dia berbalik dan mulai terbatuk: “Brengsek, hanya itu?”

“Aku belum selesai,” kata Gu Fei. “Apa kamu sudah selesai batuk?”

“Ya, aku sudah selesai,” Jiang Cheng berbalik dan menempelkan telinganya ke arah Gu Fei. “Lanjutkan.”

“Dan baru pada saat itulah mereka menyadari bahwa… uhhh… mereka… mereka… sama,” Gu Fei berbicara dengan sedikit kesulitan. Ketika dia mencapai poin utama, suaranya sangat rendah, seolah-olah telah disensor. “Terlebih lagi, mereka berdua cukup gigih dan tidak bisa diubah, jadi yang bisa mereka lakukan pada akhirnya hanyalah saling menggesek milik satu sama lain hampir selamanya3天荒地老 – tianhuang dilao, idiom, sampai akhir dunia.…”

Jiang Cheng bahkan tidak punya waktu untuk memproses bahwa apa yang dikatakan Gu Fei adalah jenis yang membuat seseorang tersipu, dan tertawa terbahak-bahak. Hanya setelah mengeluarkan beberapa rangkaian tawa ini, dia akhirnya berhasil mengendalikan dirinya sendiri.

“Sialan,” Jiang Cheng berbalik untuk melihat Gu Fei. “Apa maksudmu mengatakan ini?”

“Lelucon setelah makan,” Gu Fei juga menahan senyumnya dan memilih untuk menampilkan wajah yang penuh dengan keseriusan saat dia menjawab.

“Kita sudah selesai makan berabad-abad yang lalu, dari mana asal ‘setelah makan’ ini,” kata Jiang Cheng. Dia merenungkannya cukup lama, dalam jumlah waktu yang membentang beberapa lusin detik. Ketika dia membuka mulutnya lagi, suaranya bahkan lebih disensor daripada suara Gu Fei sebelumnya – itu sudah cukup untuk menutup bilah hitam. “Lalu kamu … itu … ah? Apa?”

“Apanya yang apa ?” Gu Fei membeku.

“Persetan,” Jiang Cheng juga melihat ke arah Gu Miao. Gu Miao mungkin terjebak pada sebuah pertanyaan; dia memegang pensil dan menggambar lingkaran di selembar kertas … dengan sangat penuh perhatian. Jiang Cheng meninggikan suaranya sedikit, “Apa kita perlu saling menggesek milik satu sama lain sampai selamanya?”

“Ah,” Gu Fei menatapnya, mungkin tidak tahu bagaimana harus merespon. “Ah.”

Untuk dua orang, yang hanya menggosok jamur satu sama lain sebagai aktivitas paling intim mereka, tiba-tiba melompat ke topik tidur bersama, dan pada saat yang sama, merujuk langsung ke pertanyaan posisi level 124Mungkin maksudnya konten 18+. yang memalukan, suasananya langsung menjadi tidak dapat dijelaskan.

tiba-tibacanggung.jpg.

Tak satu pun dari keduanya tahu bagaimana melanjutkan percakapan ini, jadi mereka hanya saling menatap.

Gu Miao memecah keheningan tepat pada waktunya, meskipun tidak disengaja, dan menghancurkan suasana ini. Dia kemungkinan besar tidak bisa menjawab soal matematika apa pun atau menggambar lingkaran yang cukup bulat yang membuatnya mulai menusuk kertas dengan pensil di tangannya.

Ketika Gu Fei berbalik untuk mengambil pensil dari tangan Gu Miao, timah pada pensil itu patah dan bahkan kayunya sendiri hancur karena ditusuk berkali-kali.

Jiang Cheng menoleh, tercengang, dan tiba-tiba mengerti mengapa Gu Fei bersikeras untuk tidak membelikannya pensil mekanik. Dengan kekuatan pukulan seperti itu, pensil mekanik akan datang dan pergi secara instan, sedangkan pensil kayu masih bisa digunakan lagi setelah diasah.

Bahkan tanpa pensil di tangannya, gerakannya tidak berhenti. Dia menggedor meja dengan tinjunya, ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Bahkan, dia sangat tenang. Hanya dari ritme meja yang terus-menerus dipukul, seseorang dapat mengatakan bahwa dia tidak terlalu puas.

“Er Miao, Er Miao, lihat aku, Er Miao.” Gu Fei tidak menghentikannya. Dia hanya berjongkok di sebelah meja dan mengulangi kata-kata ini. “Er Miao, lihat gege, Er Miao……”

Pikiran Jiang Cheng yang sebelumnya disensor menghilang dengan suara gedoran dan pengulangan dari bujukan Gu Fei yang tak ada habisnya. Dia tidak yakin apa yang bisa dia lakukan pada saat seperti ini, dan hanya menonton dalam diam.

Gu Miao bukan anak biasa, tindakannya juga tidak bisa disebut anak nakal. Selain memiliki hati yang sabar, tidak ada solusi lain.

Jiang Cheng menatap Gu Fei, tidak dapat berempati dengan perasaannya saat ini … Dia juga tidak bisa membayangkan sampai sejauh mana dia akan bertanggung jawab untuknya jika dia sendiri berada di posisi ini.

Itu bukan kesepakatan sekali atau dua kali atau satu atau dua hari. Gu Miao mungkin memiliki perawakan kecil untuk anak seusianya, tapi dia masih berusia 10 tahun. Selama bertahun-tahun, bagaimana Gu Fei bisa bertahan, dia takut membayangkan ini.

Tapi dia perlahan mulai memahami bagaimana suasana pucat dari ketidakpedulian yang dimilikinya menjadi temperamen yang menentukan Gu Fei.

Amukan kecil Gu Miao berlangsung selama lebih dari sepuluh menit. Di bawah ucapan sabar Gu Fei, dia akhirnya menatapnya dan menghentikan gerakan tangannya.

“Kamu tidak perlu mengerjakan soal yang tidak bisa kamu kerjakan.” Mata Gu Fei hanya tertuju padanya saat dia berbicara dengan perlahan. “Tidak perlu marah, mengerti?”

Gu Miao menatapnya tanpa reaksi apa pun.

“Anggukkan kepalamu untuk memberi tahu gege kalau kamu mengerti,” lanjut Gu Fei.

Gu Miao mengangguk.

“Cheng-ge haus,” Gu Fei menunjuk Jiang Cheng. “Apa kamu bisa menuangkan secangkir air untuknya?”

Jiang Cheng tertangkap lengah. Begitu dia mendengar ini, dia langsung berpikir untuk mengambil cangkirnya dan meminum air di dalamnya, tetapi Gu Miao sudah mengangguk dan bangkit, berjalan ke arahnya, dan mengambil cangkir itu dari tangannya.

“Aku …” Jiang Cheng tidak yakin harus berkata apa.

Gu Miao melihat ke dalam cangkir yang masih setengah penuh dan menuangkan isinya ke lantai. Dia kemudian berjalan ke samping untuk mengisi ulang dan menyerahkannya kembali padanya.

“Terima kasih, cantik5小美人儿 cantik, Saehan ingin mengubahnya menjadi ‘ratu’; mengacu pada bagaimana Wang Xu memanggil Gu Miao.,” Jiang Cheng menerima cangkir itu dan segera meminum setengahnya. “Kupikir aku akan mati karena kehausan.”

Untungnya, Gu Miao memiliki kecerdasan yang tidak biasa yang dimiliki anak biasa, jika tidak, berdasarkan kalimat ini, Jiang Cheng akan dibuang ke dalam klasifikasi idiot total.

“Apa Cheng-ge bisa bermain skateboard bersamamu selama setengah jam?” Gu Fei bertanya.

“Tentu,” Jiang Cheng segera meletakkan cangkirnya dan berjongkok di depan Gu Miao. “Ayo berseluncur sebentar, oke?”

Mata Gu Miao bersinar sesaat sebelum dia menganggukkan kepalanya. Dia menjentikkan kakinya ke tepi skateboard yang diposisikan di dekatnya di lantai. Menangkap papan dengan tangannya, dia berbalik dan berjalan keluar.

“Terima kasih atas kerja kerasmu,” Gu Fei menghela napas lega. “Cheng-ge.”

“Pijat kaki Cheng-ge-mu nanti,” Jiang Cheng berdiri dan mengikuti Gu Miao keluar.

Suhu di luar masih cukup nyaman untuk sesi skateboard, tidak dingin maupun panas. Angin bertiup melewati tubuhnya saat dia berdiri di atas papan dan berseluncur ke depan; itu cukup menyenangkan.

Mengenakan potongan rambut bob barunya yang seperti boneka dan ekspresi tenang yang keren, Gu Miao bergiliran mengendarai skateboard dengan Jiang Cheng.

Setiap kali dia dengan mahir melompat ke skateboard dan melakukan segala macam gerakan yang sangat sulit, Jiang Cheng akan terus-menerus berpikir bahwa jika waktu berhenti pada saat ini, atau setidaknya dalam kondisi saat Gu Miao bermain skateboard, betapa hebatnya segalanya.

Gu Miao tidak akan lagi diliputi kesusahan, dan Gu Fei tidak lagi harus menanggung tekanan yang selama ini dia hadapi.

Jiang Cheng meluncur melewati pintu masuk toko dan melirik Gu Fei, yang berjongkok di tangga dengan rokok di mulutnya, yang juga balas menatapnya. Jiang Cheng mengulurkan tangannya dan menjentikkan jari ke arahnya.

Gu Fei segera menjawab gerakannya dengan siulan; suara angin bernada tinggi yang mirip dengan desah angin di cabang-cabang pohon mengalir lebih dari sepuluh meter sebelum memudar.

Percakapan mereka sebelumnya menyebabkan imajinasi Jiang Cheng menjadi liar6想入非非 xiǎngrùfēifēi – untuk membiarkan imajinasi seseorang menjadi liar; untuk menikmati fantasi., tetapi setelah bermain skateboard dengan Gu Miao selama setengah jam dan bermandikan keringat, pikiran liar itu sejenak ditekan.

Dia ingat pernah membaca artikel di sekolah menengah yang membahas manfaat olahraga sebagai metode untuk menghentikan kebiasaan buruk masturbasi… Saat itu dia menganggapnya sebagai omong kosong, tapi sekarang saat dia memikirkannya, mungkin ada beberapa pembenaran untuk itu setelah semua yang terjadi…

Tapi begitu Gu Miao duduk kembali di meja untuk membereskan buku-bukunya, dan Gu Fei berjalan ke ruang dalam dan melambaikan tangan padanya, Jiang Cheng menyadari bahwa artikel itu masih berisi omong kosong.

Dia masuk ke kamar, melingkarkan lengannya di sekitar Gu Fei, dan mulai menggigit. Dia hanya berhenti dan mengambil napas panjang yang tajam ketika Gu Fei menggigit bahunya dengan keras.

“Brengsek? Kenapa kamu tidak menggigit wajahku saja?” Dia menggosok bahunya dan mempertahankan volume suaranya yang rendah kemudian mengulurkan tangan dan meraih pinggang Gu Fei: “Apa kamu memiliki identitas tersembunyi sebagai vampir huh!”

Hah, bicaralah yang benar, seperti kamu tidak menggigitku saja,” Gu Fei menggerakkan bahu Jiang Cheng sedikit ke arahnya dan menarik bajunya untuk menutupi bekas giginya. “Beberapa gigitan lagi, dan kita tidak akan berhasil keluar dari pintu ini.”

“Aku …” sebelum Jiang Cheng bisa menyelesaikan kata-katanya, suara Gu Miao menendang meja terdengar.

Keduanya menjauh dari satu sama lain dengan kecepatan dewa. Pada saat Gu Miao menyeret ransel kecilnya ke dalam ruangan, Jiang Cheng dan Gu Fei sudah terpisah setidaknya satu meter. Gu Fei berdiri di dekat jendela dan Jiang Cheng di samping tempat tidur. Dia bahkan berhasil mengeluarkan ponselnya dengan kecepatan yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan sulap dan berpura-pura menggulirnya dengan mudah.

“Sudah selesai beres-beres?” Gu Fei bertanya.

Gu Miao mengangguk.

“Cheng-ge,” Gu Fei memanggil Jiang Cheng lagi, suaranya menahan tawa. “Keterampilan aktingmu itu.”

“Ayo pergi?” Jiang Cheng mendongak dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

“En,” Gu Fei mengangguk.

Akhir-akhir ini, Gu Miao sangat lekat dengan Gu Fei. Ketergantungan semacam ini mungkin berasal dari Gu Fei yang tidak menghabiskan banyak waktu bersamanya selama liburan 1 Mei. Sekarang, jika Gu Fei tidak ada di rumah pada malam hari, dia akan duduk di tempat tidurnya dan melamun, tidak tidur sama sekali.

“Apa kamu punya keluhan,” Gu Fei diam-diam bertanya kepada Jiang Cheng ketika mereka mencapai persimpangan.

“Keluhan apa?” Jiang Cheng bertanya.

“Aku ingin pergi ke tempatmu malam ini …” Gu Fei berdeham, “… untuk nongkrong sebentar.”

“……Aku tidak begitu haus,” Jiang Cheng menatapnya.

“Aku bilang untuk nongkrong sebentar, bukan bercinta sebentar,” kata Gu Fei. “Selain itu, berdasarkan perilakumu barusan, mengatakan bahwa kamu tidak haus benar-benar tidak meyakinkan……”

“Persetan,” Jiang Cheng memotongnya, ingin tertawa. “Ini adalah masyarakat yang beradab, jaga kata-katamu sedikit di jalanan.”

“Tunggu aku di kios sarapan lagi besok pagi,” kata Gu Fei.

“En,” jawab Jiang Cheng. Sejak kakinya “terluka”, Gu Fei dipenuhi dengan tekad dan kegigihan yang tidak normal yang pada gilirannya menyebabkan dia tidak pernah terlambat bahkan sekali pun.

“Selamat malam,” Gu Fei mengayunkan setang dan bersiul pada Gu Miao yang sedang berlarian di atas skateboard-nya di trotoar pejalan kaki.

“Selamat malam,” Jiang Cheng mencubit bagian belakang tangan Gu Fei.

Jiang Cheng kembali ke kamarnya dan melakukan rutinitas hariannya mandi dan berganti pakaian. Saat dia berdiri di depan cermin, dia memeriksa bekas gigitan Gu Fei. Secara keseluruhan itu baik-baik saja; tidak terlalu menonjol meskipun dua bekas gigi taring itu tertancap cukup dalam, berjarak cukup dekat ke lehernya, dia harus mengenakan kemeja berkerah besok.

“Dia pasti anjing yang berubah jadi manusia!” Dia menggertakkan giginya di depan cermin, dan berbalik untuk kembali ke kamarnya, lalu setelah itu, duduk di depan meja untuk memulai mengerjakan tugas.

Dengan tingkat kesulitan tugasnya yang cukup rendah, masih ada setengah ruang di otaknya untuk merenungkan konten lain sambil terus menulis.

Yaitu, pertanyaan yang menyebabkan jantungnya berpacu dan akar telinganya terbakar tanpa henti hanya dengan memikirkannya – posisi.

Dia tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan masalah ini dengan sangat detail, sesungguhnya, akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa setiap kali dia dan Gu Fei melakukan itu, saat dia mendengarkan dia terengah-engah di samping telinganya, dia tidak pernah memikirkan kemungkinan atau skenario lain selain Gu Fei berada di bawahnya…

Tapi setelah Gu Fei tiba-tiba menceritakan padanya cerita seperti itu, dia menyadari bahwa imajinasinya sendiri mungkin terlalu disederhanakan, mungkin, itu membutuhkan sedikit lebih banyak warna – semacam kedalaman.

Posisi atas dan bawah ini… dia menatap ujung penanya; tanpa pengalaman praktis … dia tidak dapat merasakan perasaan seperti apa yang masing-masing dari keduanya akan timbulkan.

Tapi.

Untuk pria yang begitu murah hati, tidak terkendali, tampan, seperti dirinya, tidak sepenuhnya tidak bisa dinegosiasikan baginya untuk memberi jalan kepada pacarnya—bagaimanapun juga, Gu Fei lebih muda darinya sebulan. Jadi, jika Gu Fei …… meskipun dia tidak yakin, tetapi jika …… So What?7So what? – pada raw memang dalam bahasa Inggris. “Lalu apa?” atau “Jadi, apa?”

Jiang Cheng berdecak, masalah besar.8Digunakan untuk mengekspresikan penghinaan seseorang untuk sesuatu yang dianggap mengesankan atau penting oleh orang lain.

Namun, dibandingkan dengan masalah atas atau bawah yang belum ditetapkan, Jiang Cheng memiliki lebih banyak perhatian terhadap kurangnya persiapan mentalnya sendiri untuk, pada dasarnya, menggunakan senjata dan peluru sungguhan untuk bermain dengan Gu Fei.

Gu Fei juga tidak menunjukkan indikasi ingin melakukannya. Setidaknya, mereka berdua cukup puas setelah setiap pelepasan yang tak tahu malu.

Mungkin, apinya belum mencapai puncaknya?9火候 huohou – 1. Durasi dan tingkat pemanasan, pemasakan, peleburan. 2. Tingkat pencapaian, 3. Momen penting; Secara keseluruhan, itu berarti sesuatu belum mencapai kedewasaan, atau pada dasarnya waktu sesuatu itu belum tiba.

Jiang Cheng memegang batang pena di mulutnya dan mengayunkannya ke atas dan ke bawah.

Betapa memalukan. Kepalanya langsung dibanjiri dengan hal-hal semacam ini di tengah kegiatannya mengerjakan tugas.

Baik Jiang Cheng maupun Gu Fei tidak melanjutkan topik pembicaraan mereka sesudahnya. Keesokan harinya, ketika siluet Gu Fei muncul di persimpangan dan berjalan menuju kios sarapan, Jiang Cheng segera merasakan sapuan kenyamanan menyapu hatinya.

Persetan, apa pentingnya memikirkan hal semacam itu, hanya dengan melihat orang ini saja sudah cukup.

Hanya pada saat ini, hal tersebut mengejutkannya. Menatap lekat-lekat pada wajah seseorang sebenarnya bukanlah hal yang bodoh – semuanya tergantung pada siapa orang itu.

Ambil contoh hari ini, ketika dia sedang mendengarkan penjelasan guru, dan pada saat yang sama, menatap Gu Fei, bahkan suara dengungan guru yang tak ada habisnya saat itu tidak lagi terdengar seperti dia sedang membacakan kitab suci agama dengan keras. Satu-satunya masalah utama adalah dia tidak bisa menatap Gu Fei sepuasnya di kelas Lao Lu. Lao Lu adalah guru yang setia, dalam pelajaran dan sejenisnya, dan kegembiraan terbesarnya adalah mengarahkan penunjuknya ke bagian paling belakang kelas: “Jiang Cheng, kamu jawab pertanyaan ini.”

Selama periode belajar mandiri, Jiang Cheng menumpu tubuhnya di atas meja saat dia menulis tugasnya, namun tatapannya terus menyapu ke wajah Gu Fei dari waktu ke waktu. Gu Fei meliriknya, menatap matanya sekilas. Dia tersenyum lalu menunduk dan mengusap ponselnya beberapa kali.

Ponsel Jiang Cheng bergetar. Dia mengeluarkannya, hanya untuk melihat bahwa itu adalah pesan dari 小兔子乖乖. [Kelinci kecil yang lembut]10Gentle little bunny.

– kamu terus menatapku hari ini, ya pacar

Jiang Cheng tersenyum, matanya menyapu ke arahnya. Gu Fei masih memainkan ponselnya dengan kepala menunduk.

– kenapa kamu tidak melihat ke arahku?

– Aku suka bagaimana kamu menatapku seperti ini

“Kenapa?” Jiang Cheng bertanya pelan dengan kepala di atas meja.

“Aku merasa aman11踏实 aman; jauh di sepanjang garis bebas dari kecemasan, memiliki ketenangan pikiran..” Gu Fei menoleh dan tersenyum saat kakinya menyentuh kaki Jiang Cheng di bawah meja.

– Aku ingin, berlari bebas, di matamu. Aku ingin, dalam satu pandangan, akan bertahan seumur hidup.12一个眼神,就到老 secara harfiah, hanya satu pandangan/lirikan, akan bertahan hingga usia tua.

Jiang Cheng melihat setiap kata yang dikirim Gu Fei. Dia mengamati sekeliling untuk memastikan tidak ada yang akan memperhatikan mereka, kemudian mengulurkan tangan dan mengusap kaki Gu Fei dengan penuh kasih sayang.

Ketika kelas berakhir pada sore hari dan mereka keluar dari gerbang sekolah, mereka melihat Benni13Benni atau BenBen (奔奔) – BenBen Chang’an (Hanzi: 长安奔奔; pinyin: cháng ān bēn bēn) atau kadang-kadang Changan Benni adalah hatchback city car 5 pintu yang diproduksi oleh Changan Automobile. jelek milik Liu Fan diparkir di pinggir jalan. Li Yan berada di kursi pengemudi.

“Ayo, masuk.” Li Yan melambai. “Mereka sudah pergi duluan, kita bertemu di depan rumah sakit.”

Gu Fei masuk ke mobil: “Apa operasinya sudah dilakukan?”

“Sudah tadi pagi. Dia mungkin sedang berbaring di tempat tidur dengan pantatnya di udara, menikmati segala perasaan luar biasa dari semua rasa kehidupan. Entah itu manis, pahit, asam, atau pedas.” Li Yan menjawab.

“Dari mana asal asam dan manisnya,” Jiang Cheng duduk di kursi belakang dan melihat keranjang buah raksasa di sampingnya. Bahkan ada kartu ucapan yang tersangkut di dalamnya. Dia membaca kata-kata yang tertulis di atasnya, “‘Semua orang menanggung bunga aster kecil’14雏菊 (chuju) daisy, atau krisan yang merupakan istilah populer untuk anus, karena kalian pasti tahu kenapa. … sungguh, hanya dari masing-masing kata-kata yang tulus dan ramah ini, tidak mungkin dia bahkan bisa merasakan kepedasannya, yang tersisa hanyalah kepahitan yang lengkap.”

“Dia pasti akan merawat kalian masing-masing, satu per satu, begitu dia keluar.”

“Hitung dirimu,” kata Li Yan.

“Kenapa kau tidak bertanya apakah dia berani,” Gu Fei berdecak.

Setelah mereka bertemu dengan “Bu Shi Hao Niao” di pintu masuk, kelompok itu membawa keranjang buah yang ‘ingin dipukul’ ke ruang pasien bagian rawat inap.

Bangsal rumah sakit diatur dengan baik. Kamar tiga orang Liu Fan hanya ditempati oleh dua pasien. Ketika mereka masuk, Liu Fan sedang berbaring tengkurap dan memainkan ponselnya.

Mendengar suara orang masuk, dia berbalik untuk melihat. Namun, begitu dia mengidentifikasi penyusup yang tidak diinginkan, dia berteriak dengan penuh keyakinan: “Li Yan, aku akan memukulmu sampai mati suatu hari nanti!”

“Kita semua bersaudara di sini,” Li Yan meletakkan keranjang buah di meja samping tempat tidur. “Bagaimana kami bisa membiarkanmu terbaring sendirian di rumah sakit ini, ne.”

“Kalau begitu cepat dan beri tahu dokter untuk memberi kalian masing-masing potongan yang bagus dan kita semua akan berbaring di sini bersama-sama ah!” Liu Fan memelototi mereka. “Ai, sialan, Jiang Cheng! Kau orang yang cukup baik, tapi kau juga di sini untuk ikut bersenang-senang ?!”

“Aku hanya lewat,” jawab Jiang Cheng.

“Aku akan mengingat kalian untuk ini,” Liu Fan mengacungkan tinjunya ke arah mereka. “Aku tidak akan melupakan ini seumur hidupku!”

“Fan-ge, bagaimana rasanya?” Liu Yu membungkuk untuk bertanya.

“Rasanya seperti lubang pantat yang meledak! Perasaan apa! Apa kau ingin mencobanya huh!!” Tatapan kematian Liu Fan masih terpancar di matanya.

Kelompok itu tertawa terbahak-bahak.

Keluarga pasien di ranjang sebelah mereka mengerutkan kening, mungkin mereka juga memiliki keluhan tentang mereka yang begitu berisik. Tapi sejujurnya, dengan sekelompok bro yang berkumpul bersama sedemikian rupa dan kata-kata besar, “jangan memprovokasiku” tergantung dengan cemerlang di masing-masing wajah mereka, mereka tampak seperti anggota dunia kriminal yang sedang memeriksa wilayah kekuasaan. Di mana kiranya anggota keluarga itu akan menemukan nyali untuk mengeluarkan suara setelah beberapa pandangan awal…

“Diamlah sedikit,” kata Gu Fei, bersandar ke dinding.

Baru kemudian orang-orang mengumpulkan suara mereka dan menghibur Liu Fan, sambil menahan tawa mereka.

Seperti lubang pantat yang meledak.

Ck ck.

Jiang Cheng berdiri di samping Gu Fei, juga bersandar di dinding. Tapi dia tidak sepenuhnya mendengarkan percakapan mereka, dia hanya memikirkan satu kalimat itu.

Meskipun dikatakan dengan sangat berlebihan, sangat bisa dibayangkan bahwa pengalaman pertama tidak akan menjadi pengalaman yang menyenangkan… ck ck.

Tatapan Jiang Cheng jatuh pada Gu Fei.

Kepala Gu Fei bersandar ke dinding, garis-garis yang membentang dari leher hingga tulang selangkanya menggambarkan lengkungan yang indah dan seksi.

Jika bukan karena kelompok di sekitar mereka, dia akan segera naik dan menjilatnya.

Ck, ck.

Dengan Gu Fei seperti ini, bagaimana dia bisa tega menyakitinya?15这样的顾飞,他怎么能忍心? // 忍心 memiliki hati untuk melakukan sesuatu; kalimat itu tidak persis mengatakan ‘…untuk menyakitinya’, tetapi lebih ke menghindarinya, karena bagaimana bisa ada yang tega menyakiti seseorang yang mereka sukai/cintai, adalah apa yang Saehan pikirkan; jika ada yang punya saran lain, silakan.

Tidak dapat tinggal terlalu lama dengan Liu Fan, mereka diantar oleh perawat dengan anggapan bahwa mereka mengganggu istirahat pasien.

“Kalian semua mau pergi kemana?” Li Yan berdiri di lift dan bertanya. “Aku punya mobil Liu Fan, aku bisa mengantar kalian.”

“Antar kami kembali,” jawab Gu Fei.

“Ayo kita semua pergi ke tempat Da Fei kalau begitu. Sudah lama sejak terakhir kali kita minum.” kata Luo Yu.

“En,” jawab Gu Fei.

Lift turun dua tingkat sebelum berhenti. Bahkan sebelum pintu terbuka, teriakan kacau di sisi lain bisa terdengar dengan jelas.

Ketika pintu akhirnya terbuka, teriakan itu segera mencapai puncaknya.

“Kalian semua hanya ingin menipu uangku!” Suara seorang pria berteriak terdengar. “Operasi apa! Memaksaku untuk dirawat di rumah sakit! Laozi16老子 laozi, “Aku, ayahmu” (biasa dikatakan dalam kemarahan, atau karena penghinaan)/Aku (digunakan dengan arogan atau bercanda) menolak untuk melakukan operasi apapun! Radioterapi omong kosong apa! Semuanya hanya dilakukan untuk menipu uangku! Kalian sudah merampas uangku dan sekarang kalian mengatakan bahwa itu tidak cukup? Mau bertaruh, aku akan mengacaukan tempatmu ini ah!”

“Da Shu17Da Shu 大叔 – nama/istilah yang mengacu pada pria paruh baya/seperti paman. Seperti halnya Ge ge (kakak laki-laki), Jie Jie (kakak perempuan), A yi (wanita paruh baya/bibi)…dst., rencana perawatannya bisa didiskusikan dengan dokter yang merawat Anda, obat-obatan yang digunakan untuk Anda juga sudah diperinci …”

Jiang Cheng berdiri membeku di dalam lift. Ketika pintu terbuka, dia segera melihat seorang pria di sisi lain, melambaikan tangannya ke udara; semacam kemarahan yang terdistorsi memenuhi seluruh wajahnya.

Ayah kandungnya, Li Baoguo.

“Aku tidak ingin melihat daftar apa pun! Aku tidak ingin menerima perawatan lagi! Kembalikan uangku!” Li Bao Guo mendorong para dokter dan perawat di sekitarnya. “Biarkan aku mati! Aku tidak akan membiarkan kalian semua menipu uangku! Jika kalian semua tidak mengembalikan uang yang aku berikan, aku tidak akan membiarkan ini berakhir!”

Orang-orang yang baru saja memasuki lift masih terpaku di luar, menggosipkan masalah itu dengan suara gumaman satu sama lain. Bahkan ada seseorang yang berdiri tepat di antara pintu, terhuyung-huyung untuk menonton drama itu dimainkan.

Jiang Cheng membuat sedikit gerakan, tapi Gu Fei langsung mencengkeram lengannya.

Li Yan berdiri di dekat pintu. Setelah melirik ke arah mereka, dia mendorong pria yang berada di ambang pintu dan menekan tombol tutup.

Pria yang didorong itu berbalik, tampak seolah-olah dia masih ingin masuk kembali, tetapi ketika melihat ke dalam lift, dia menghentikan langkahnya.

Tidak ada orang lain yang mengucapkan sepatah kata pun. Begitu lift mencapai lantai dasar, Gu Fei menarik lengan Jiang Cheng keluar dari lift.

“Kalau begitu kita akan pergi sekarang, haruskah kita menunggumu di toko atau…” Li Yan bertanya.

“Di toko, ibuku mungkin sudah tidak ada di sana lagi,” jawab Gu Fei.

“En,” Li Yan dan yang lainnya berbalik untuk pergi.

Jiang Cheng dengan kaku mengikuti Gu Fei ke sudut lobi.

“Cheng-ge?” Gu Fei memanggilnya.

“En,” jawab Jiang Cheng.

“Masalah ini ……” Gu Fei ragu-ragu. “Kamu tidak bisa terlibat.”

Jiang Cheng menatapnya tanpa mengatakan apapun.

“Kamu tidak bisa memperbaikinya,” Gu Fei menatap lurus ke matanya. “Kamu tidak punya cara untuk memperbaiki masalah ini. Kamu bisa menunggu dia pulang dulu, lalu pergi dan berbicara dengannya. Tapi kamu tidak bisa pergi ke sana sekarang, apa kamu mengerti maksudku?”

“Aku mengerti,” Jiang Cheng memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, dan perlahan mengembuskannya.

Tentu saja, dia mengerti apa yang dimaksud Gu Fei.


Bab SebelumnyaBab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments