• Post category:SAYE
  • Reading time:33 mins read

…dan kamu juga tidak lebih baik.

Penerjemah: Jeffery Liu


Tidak ada terlalu banyak waktu untuk berpikir di dalam mobil. Kupu-kupu sosial1 Pan Zhi sedang berbicara, dan Jiang Cheng tidak dapat terus merenungkan hidupnya tanpa terlibat dalam percakapan sesekali. Tapi begitu dia menanggapi beberapa kali, dia akan kehilangan akal sehatnya.

Terserahlah, sebaiknya biarkan saja untuk saat ini. Jiang Cheng melihat ke belakang kepala Gu Fei. Bukan berarti mereka bisa pergi ke luar bersama setiap hari seperti ini, jika dia terus memikirkan segalanya, itu hanya akan mempengaruhi suasana hatinya. Bukan masalah jika itu hanya mempengaruhi suasana hatinya, tetapi Gu Fei sangat tanggap sehingga dia pasti akan terpengaruh.

Ketika mereka tiba di luar taman, Jiang Cheng mengeluarkan dompetnya untuk membayar ongkos, tetapi Pan Zhi mengulurkan tangan dan menghentikannya saat dia mengeluarkan dompetnya sendiri, “Aku sudah meminta sejumlah uang kepada ibuku sebelum aku datang. Kamu tidak harus bersikap seperti tuan rumah.”

“Bagaimanapun juga, aku adalah kakekmu ……” Jiang Cheng berjuang untuk menarik tangannya.

“Aku tahu, kakek, tolong biarkan aku memenuhi tugas sebagai anak.” Pan Zhi terus memblokir tangannya.

Dalam lebih dari sepuluh detik mereka terus seperti itu, Gu Fei mengeluarkan sejumlah uang dan membayar pengemudi, lalu keluar dari mobil.

“Sialan!” Pan Zhi berteriak, lalu buru-buru mengusir Li Yuqing dari mobil. “Bagaimana kita bisa membiarkan Gu Fei yang membayar!”

“Kasihan sopirnya, orang itu harus menjemput penumpang berikutnya.” Kata Gu Fei.

Pan Zhi mengeluarkan uangnya dan memasukkannya secara paksa ke dalam saku Gu Fei, lalu berbalik dan lari seperti embusan angin menuju taksi kedua, “Disini! Ayo, turun!”

“Kenapa kamu yang membayar?” Jiang Cheng bertanya.

“Kalian berdua terlalu sibuk satu sama lain, jika aku tidak segera membayar, kalian mungkin masih sedang bermesraan sekarang.” Gu Fei meliriknya. “Itu tidak akan terlihat baik ……”

“Diamlah,” Jiang Cheng tertawa dan melihat ke loket tiket. “Aku akan melihat berapa harga tiket masuknya, mungkin ada promo.”

“Aku punya izin tinggal,” Gu Fei mengeluarkan kartu dari sakunya. “Aku akan membawa kalian masuk.”

“Bagaimana caranya?” Jiang Cheng berkata. “Kami tidak memilikinya.”

“Aku kenal seseorang,” Gu Fei tersenyum. “Tempat kecil seperti ini, aturan yang mereka punya tidak seketat itu. Katakan saja kepada mereka untuk diam dan ikuti dibelakangku dengan ID milik mereka.”

Setelah semua orang turun dari taksi, Gu Fei memimpin mereka menuju gerbang samping. Jika bukan karena Gu Fei yang memimpin jalan, mereka mungkin tidak akan memperhatikan jalan di sana, mereka juga tidak akan melihat gerbang di ujung jalan.

 “Kami sudah sampai, apa kau ada di sini?” Gu Fei berbicara dengan seseorang di telepon saat mereka berjalan.

“Apa kakinya sudah baik-baik saja sekarang?” Li Song bertanya dari belakang. “Aku ingat kemarin kakinya bahkan tidak bisa menyentuh tanah?”

“Mungkin hampir sembuh,” kata Pan Zhi. “Ingat semester lalu saat tanganku dibidai, apakah aku bisa bergerak atau tidak, itu tergantung pada suasana hatiku hari itu.”

“…… Itu, kau benar-benar menakjubkan.” Kata Li Song.

Mereka semua terkikik bersama karenanya. Jiang Cheng menghela napas, “Ketika kita sudah sampai di sana, kalian bisa cekikikan, tapi jangan mengatakan apa-apa.”

“Baik.” Hu Feng segera menjawab.

Mereka semua menutup mulut mereka, dan bertahan sebentar sebelum tertawa histeris sekali lagi.

Gu Fei berbalik dan menatap mereka, lalu menatap Jiang Cheng. Jiang Cheng datang dan berjalan di sampingnya, “Rasanya seperti mereka semua senang pada sesuatu pagi ini.”

“Bukankah kamu sering melakukannya juga?” Kata Gu Fei.

“Omong kosong,” kata Jiang Cheng, lalu teringat saat dia terkikik seperti orang idiot dengan Gu Fei selama beberapa bulan terakhir, itu memang cukup sering. Dia merasa seperti orang bodoh hanya dengan memikirkannya, jadi dia menghela napas. “Mungkin hanya saat aku bersamamu aku bertingkah seperti sedang melakukannya, dan kamu sendiri juga tidak jauh lebih baik.”

“Lagipula kita masih muda.” Kata Gu Fei.

Gerbang sampingnya sangat kecil dan biasa-biasa saja. Hanya ada dua orang yang memeriksa tiket di pintu gerbang, seorang pria dan seorang wanita.

Gu Fei berjalan ke samping pria yang dimaksud dan menyerahkan kartu di tangannya. Kepala pria itu melongok ke belakang Gu Fei dan menghitung kepala-kepala di depannya, menekan beberapa lubang pada kartu dan melirik masing-masing ID mereka, kemudian membiarkan mereka masuk.

“Orang itu terlihat sedikit familiar?” Setelah mereka di dalam, Jiang Cheng berkata setelah perenungansingkat.

“Kakak Liu Fan.” Gu Fei tersenyum.

“Hah?” Jiang Cheng terkejut. “Dia terlihat jauh lebih serius dari Liu Fan.”

“Liu Fan akan terlihat serius juga dalam beberapa tahun,” kata Gu Fei. “Begitulah kehidupan orang-orang ini. Bermain-main selamabeberapa tahun sebelum kembali ke apa yang disebut jalan yang benar, lalu menetap dan melakukan sesuatu seperti yang seharusnya. Berkencan, menikah, lalu punya anak, begitu lancar dan tenang selama sisa hidup mereka.”

“Apakah begitu?” Jiang Cheng menatapnya. Cara Gu Fei berbicara sangat tenang, tetapi ketika dia mendengarkan, dia tiba-tiba merasakan perasaan sedih.

“Setidaknya seperti itulah yang terlihat di permukaan,” kataGu Fei sambil tersenyum. “Mengenai apakah mereka punya ide lain di dalam diri mereka, aku tidak tahu, tapi siapa kiranya orang yang tidak punya ide? Bahkan Wang Xu ingin pindah ke kota besar terdekat dan membuka restoran pai daging.”

Dan kamu?

Jiang Cheng ingin sekali bertanya, bagaimana denganmu?

Apa kamu juga akan mengikuti ‘jalan yang benar’ ini, dan seperti semua orang di sekitarmu, menjalani sisa hari-harimu dengan seperti itu?

Tapi dia tidak bertanya.

Dia sekali lagi teringat pertanyaan Gu Fei.

Rumah berhantu itu berada di ujung terjauh taman, dan tidak semuanya merupakan bagian dari taman. Dalam beberapa tahun terakhir, taman mengalami perluasan dan membawa ruang-ruang di dekatnya ke dalamnya. Rumah berhantu tersebut dulunya adalah pabrik tua yang memakan cukup banyak lahan.

“Tempat ini dulunya adalah gundukan pemakaman yang ditinggalkan,” Pan Zhi sedangmembaca informasi mengenai rumah berhantu itu. “Dimana hanya berisi mayat yang tidak diklaim ……”

Aiiya kedengarannya menakutkan.” Kata Li Yuqing.

“Setelah pabrik dibangun, hal-hal aneh terus terjadi ……” Pan Zhi lanjut membaca. “Pekerja shift malam akan selalu mendengar suara nyanyian yang berasal dari ruangan yang kosong ……”

“Sial,” kata Jiang Cheng pelan. “Mereka mengatakan itu seperti itu nyata.”

“Bagaimana jika itu benar-benar nyata?” Kata Gu Fei. “Kami memiliki banyak lahan liar yang tidak terpakai di sekitar sini, dan ada banyak juga pemakamanyang terbengkalai. Ada banyak sekolah sebenarnya dibangun di atas pemakaman.”

“Tutup mulutmu.” Jiang Cheng menatapnya.

“Apa kamu tahu kalau perguruan tinggi teknik di sebelah SMA Sizhong ……” Gu Fei menyelesaikan setengah kalimat, lalu berhenti dan menatapnya. “Kamu tidak takut, ‘kan?”

Jiang Cheng tidak menjawab.

Gu Fei terdiam sesaat, lalu mulai tertawa, “Aku tidak pernah menyangka kalau kamu akan takut pada hal-hal ini.”

 “Aku bahkan takut dengan kecoak,” kata Jiang Cheng. “Kamu punya masalah dengan itu?”

“Tidak,” Gu Fei menegakkan ekspresinya dan berdehem.”Tidak. Sejujurnya aku sendiri sedikit takut pada kecoak, dan laba-laba……”

Jiang Cheng sebenarnya sangat suka menonton film hantu, film horor, film apocalypse, film sci-fi …… Tapi alasan dia suka menonton film hantu adalah karena film-film itu membuatnya takut.

Bukan yang lain, dia hanya takut pada hantu. Hantu adalah sesuatu yang dia yakini tidak ada, namun juga sesuatu yang sangat dia takuti.

Ketika dia masih muda, dalam perjalanan pulang dari sekolah ketika dia melewati lorong, dia akan selalu memusatkan perhatiannya pada ujung koridor yang berubah menjadi tangga. Dia takut begitu dia mencapai sudut, akan ada ……

“BIARKAN AKU!” Raungan menggelegar Pan Zhi tiba-tiba terdengar dari belakang.

Masih benar-benar tenggelam dalam ingatan masa kecilnya yang menakut-nakuti dirinya sendiri sampai membuat dirinya sendiri merinding, Jiang Cheng begitu terkejut oleh suara ini sehingga dia hampir menembakkan semua rambut di tubuhnya langsung dari folikel mereka. Dia tidak berhasil menahan diri saat dia berteriak juga, “AH BRENGSEK!”

“Ada apa!” Pan Zhi terguncang oleh teriakannya, butuh beberapa saat baginya sebelum ia melanjutkan.”Aku sudah mengatakan sebelum aku datang kalau aku akan membayar tiket rumah hantunya, aku sangat menantikan ini.”

“Oh,” Jiang Cheng memelototinya sebentar, lalu melambaikan tangannya. “Ayo pergi, beli tiketnya.”

“Mungkin di dalam cukup gelap.”Gu Fei terkekeh dan berkata pelan.

“Tidak apa-apa, bukannya itu tidak mungkin kalau mereka memiliki bohlam 200 watt yang bersinar di tempat yang disebut rumah hantu ini?” Jiang Cheng berkata.

“Maksudku,” Gu Fei mendecak. “Kalau kamu takut, tidak ada yang bisa melihat kalau kamu memelukku.”

“…… Oh,” Jiang Cheng menatapnya dengan ujung matanya. “Atau mungkin tuan, tidak perlu bagiku untuk berpegangan padamu, jangan terlalu banyak berpikir.”

“Kalau kamu tidak berpegangan padaku,” Gu Fei mengintip ke belakang Jiang Cheng. “Mungkin akan ada orang lain ……”

Jiang Cheng berbalik dan melihat Xu Meng, yang sedang mengusap lengannya dengan Li Yuqing dan melompat di tempat. Dia segera dipaksa kembali ke akal sehatnya dan menatap Gu Fei, “Aku bilang sekali lagi padamu, berhati-hatilah.”

“Mmn.” Gu Fei tersenyum dan mengangguk.

Karena ini adalah hari libur 1 Mei, ada lebih banyak orang dari biasanya yang mengantri di luar rumah hantu. Ketika mereka berdiri di luar menunggu untuk masuk, mereka bisa mendengar suara teriakan orang-orang yang berada didalam.

“Apa menakutkan?” Pan Zhi berbalik dan berkata pada Jiang Cheng. “Mendengar teriakan mereka.”

“Tidak tahu,” kata Jiang Cheng. “Saat kita masuk nanti, siapa yang tahu bagaimana kedua gadis ini akan berteriak.”

“Aku ingin masuk sendirian,” Pan Zhi mendecakkan lidahnya. “Aku sudah bertanya tapi mereka tidak akan membiarkanmu melakukannya sendirian.”

Jiang Cheng hendak mengatakan sesuatu, ketika sekelompok orang yang tampak begitu ketakutan berlomba keluar dari gedung. Ada pria dan wanita diantara mereka; pipi gadis-gadis itu berlinang air mata, bahkan rambut mereka berantakan.

“Aku tidak akan pernah datang kesini lagi ……” Salah satu gadis berkata sambil menyeka air matanya.

“Ah,” Xu Meng menghentakkan kakinya dengan gugup. “Orang-orang ini masuk saat kita membeli tiket. Bukankah mereka mengatakan semuanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit? Mereka sudah keluar bahkan sebelum selesai? Apa memang sangat menakutkan?”

“Mungkin mereka tersesat.” Jiang Cheng berkata.

“Kita harus memastikan untuk tetap bersama,” Xu Meng sedikit khawatir. “Yuqing, kau pegang aku.”

“Mhm,” Li Yuqing mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Kami akan berjalan di tengah, anak laki-laki bisa berjalan di depan dan belakang.”

Mereka terus mendiskusikan formasi untuk beberapa saat, tetapi pada saat giliran mereka untuk masuk tiba, mereka masih belum mencapai kesepakatan apapun.

“Lupakan,” Pan Zhi melambaikan tangannya. “Ayo pergi!”

Saat ia berjalan ke dalam, sisa kelompok yang belum juga membuat keputusan mulai saling mendorong di sekitar pintu, takut ditinggalkan.

“Sial,” kata Jiang Cheng pelan saat dia mengikuti mereka melewati pintu kecil. “Kenapa aku merasa ini sedikit me ……”

Di luar, ada bermil-mil jauhnya langit biru yang tampak begitu jernih,tetapi begitu mereka melewati pintu kecil itu, matahari tiba-tiba menghilang. Satu-satunya yang tersisa adalah lorong sempit dan gelap di depan mereka, yang tidak memiliki satu jendela pun.

Jiang Cheng tiba-tiba membeku di tempatnya, tangannya dengan cepat meraih ke belakang, “Gu Fei?”

“Di sini.” Gu Fei menepuk tangannya.

Pikiran Jiang Cheng sedikit lebih tenang, dia melihat ke belakang lagi untuk mengkonfirmasi jika posisi Gu Fei dengannya cukup dekat, “Jangan jauh-jauh.”

“Mhm.” Sudut mulut Gu Fei sedikit terangkat.

Sungguh senyum yang menawan, pikir Jiang Cheng sedikit putus asa. Dalam keadaan ini, bahkan senyum Gu Fei tidak dapat membangkitkan pikiran yang tidak pantas darinya.

Pan Zhi dan yang lainnya ada di depan, berjalan ke depan sambil terus memutar kepala mereka. Lorong ini sebenarnya bukan bagian dari rumah hantu, tapi lorong itu sendiri sudah memberikan kesan horor.

Beberapa bagian dinding yang terkikis air memiliki alga yang tumbuh di atasnya. Jiang Cheng curiga jika alga-alga ini pasti palsu, tetapi tidak berani menyentuhnya untuk memastikan.

Tidak ada satu orang pun dalam kelompok itu yang berani terlalu dekat ke samping, jadi mereka semua berdesakan ditengah. Saat mereka mendekati pintu hitam pekat yang merupakan pintu masuk resmi rumah hantu, Jiang Cheng melihat beberapa sidik jari berdarah di dinding.

“Ya Tuhan, lihat ini.” Li Yuqing berkata pelan.

“Jangan paksa aku melihatnya, Jangan paksa aku melihatnya, aku tidak melihat apa-apa.” Ada sedikit getaran dalam suara Xu Meng.

Jiang Cheng mengulurkan tangannya ke belakang, meraih jaket Gu Fei dan menggenggamnya dengan erat. Gu Fei menghela napas dan meraih tangannya, lalu membungkuk dan berkata dengan suara yang sangat rendah, “Ternyata kamu memang punya nyali, tidakkah kamu takut mengulurkan tanganmu dan mengambil sesuatu yang lain?”

Jiang Cheng menggertakkan gigi saat dia berbalik dan berkata, “Diam.”

Setelah memasuki ruangan pertama, mereka semua terdiam. Mata mereka belum terbiasa dengan kegelapan tempat itu; sekeliling mereka gelap gulita, dan tidak ada satu pun suara yang terdengar.

“Apa kita semua …… ada di sini?” Hu Feng bertanya.

“Ya.” Kata Pan Zhi.

“Mari berhitung?” Kata Hu Feng.

“Aneh,” kata Pan Zhi. “Satu.”

“Dua.” Kata Hu Feng.

“Tiga.” Li Song juga membuka mulutnya.

“Empat.” “Lima.” LiYuqing dan Xu Meng berkata pada waktu yang hampir bersamaan.

“Enam tujuh.” Gu Fei menimpali.

“…… Ah, aku di samping tujuh.” Jiang Cheng berkata.

Mereka baru saja mulai tertawa, ketika terdengar suara perempuan di tengah tawa mereka yang datang entah dari mana, “Delapan ……”

Suara yang terdengar datar ini menyebabkan semua orang tiba-tiba terdiam.

“Sialan!” Pan Zhi, yang tertawa terbahak-bahak, berteriak. “Siapa disana!”

“AHHH——” Di bawah pimpinan Xu Meng dan Li Yuqing, mereka semua langsung berteriak dalam waktu yang hampir bersamaan.

Jiang Cheng tidak bersuara, tapi dia menggenggam tangan Gu Fei begitu erat dalam genggaman maut karena ketakutan.

APA KAU BERCANDA!

Ada aktor di rumah hantu ini!

Rumah hantu kota kecil yang sangat menyebalkan ini!

Dan seolah itu belum cukup, mengapa sang aktor begitu berdedikasi pada pekerjaannya!

Suara mereka terdengar jauh lebih keras dari jeritan yang mereka dengar sebelumnya di luar, orang-orang yang menunggu di luar mungkin mengira mereka dibawa pergi oleh hantu.

“Ada lampu!”Pan Zhi berteriak. “Ada lampu! Aku melihat saklar lampunya di dinding! Aku akan menyalakan …… “

Dengan “pukulan”, ruangan itu tiba-tiba dibanjiri cahaya. Tapi lampu ruangan itu segera mulai berkedip-kedip dengan liar.

Jiang Cheng merasa bahwa pada saat ini, dia mengalami dua kali keterkejutan dan kengerian. Yang pertama adalah bahwa di bawah lampu yang berkedip-kedip, dia bisa melihat ruangan tempat mereka berdiri memiliki dinding yang dipenuhi teks berdarah yang berbunyi “TOLONG AKU” “DIA DI SANA” dan “JANGAN PERGI KE DALAM”. Yang kedua adalah bahwa dia tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan tangannya yang masih menggenggam erat tangan Gu Fei.

Meskipun dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang punya pikiran untuk memperhatikan detail seperti itu. Kedua gadis itu sudah merangkul satu sama lain, bahkan Hu Feng berpegangan pada lengan Pan Zhi.

Bahkan jika dia dan Gu Fei berpelukan pada saat ini, itu tidak akan aneh sedikit pun …… tapi saat dia akan melepaskan tangan Gu Fei, pintu yang sebelumnya tertutup di sisi lain dari ruangan tiba-tiba terbuka. Sebelum ada yang sempat bereaksi, sebuah sosok jatuh dari sisi lain pintu dan menggantung diri dari kusen pintu.

“OH SIALAN!” Gu Fei, yang kebetulan menghadap ke arah itu dan yang menyaksikan semuanya, segera melompat dan meraih Jiang Cheng ke dalam pelukannya.

Jiang Cheng sudah dipenuhi pikiran horor, bahkan tanpa melihat apa yang terjadi, dia juga berteriak dan memeluk Gu Fei.

Sekali lagi mereka menjadi sekelompok orang yang terus berteriak, dan masing-masing berpegangan pada orang di samping mereka.

Setelah setidaknya sepuluh detik mereka menjerit dengan mata tertutup, mereka akhirnya berhasil menenangkan diri secara perlahan.

“Sialan,” Pan Zhi bersandar ke dinding dengan satu tangan, dan menatap sosok yang tergantung di pintu. “Itu palsu!”

“Tentu saja brengsek, apa kamu benar-benar berpikir akan ada orang sungguhan yang tergantung di sana.” Jiang Cheng menarik napas dua kali. “Aku pikir kita harus mencoba untuk tenang, kita bahkan baru di ruang pertama dan kita sudah berteriak selama dua menit. Kelompok yang terdiri dari tiga orang yang datang sebelum kita bahkan tidak berteriak dengan menyedihkan, ini terlalu memalukan.”

Cahaya lampu masih berkedip-kedip, tapi pemicunya pasti berjalan sendiridan sudah selesai, tidak ada insiden lain yang lebih menakutkan terjadi.

Pan Zhi mendorong orang palsu yang digantung itu, dan benda itu tidak bergerak lagi. Dia menjulurkan kepalanya dan memeriksa sekitarnya, “Ada cahaya disana, ayo lewat sini?”

Mereka perlahan-lahan melewati ambang pintu.

“Dan kupikir kamu punya nyali?” Jiang Cheng menggosok lengannya yang sakit, tempat Gu Fei berpegangan dengan cengkeraman mautnya, dan menatap Gu Fei, berkata pelan. “Kalau aku lebih pendek, apa kamu akan langsung naik ke atas kepalaku?”

“Hei,” Gu Fei melihat orang palsu yang digantung itu lagi, mempertimbangkan sejenak, lalu tertawa. “Aku tidak bilang aku tidak takut …… Persetan, yang tadi itu membuatku takut setengah mati.”

Setelah putaran pertama ketakutan itu, semua orang akhirnya terbiasa dengan suasana horor tempat itu. Merupakan sebuah prestasi ketika mereka sampai di ruangan sebelah dan mendengar suara isakan pelan, tidak ada satupun dari mereka yang berteriak keras.

“Dikendalikan oleh suara,” Pan Zhi menunjuk ke sudut. “Pasti otomatis aktif saat kita masuk.”

Ruangan itu cukup besar, seperti bekas ruang mesin kecil. Ada dua meja ampelas listrik besar di tengah ruangan, dengan noda darah di atasnya, dan pakaian compang-camping berlumuran darah berserakan di lantai.

“Mereka membuatnya ……” Pan Zhi mendekat untuk melihat, tapi salah satu tumpukan pakaian di lantai tiba-tiba bergeser dan memperlihatkan setengah potongan tangan. “AHHH——”

Tidak ada orang lain yang mendekat, dan tidak ada satu pun orang yang mendapatkan pengalaman yang intens secara visual seperti yang dialami Pan Zhi. Mereka semua mundur selangkah dalam ketakutan, tetapi Pan Zhi mendapat ketakutan yang begitu besar sehingga dia menjatuhkan diri ke lantai, dan masih bersikeras meneriakkan sisa kalimatnya, “—REALISTIS! Brengsek!”

Jiang Cheng tidak bisa menahan tawanya.

“Pintu sebelah mana selanjutnya?” Pan Zhi menghela napas.

“Bukankah hanya ada satu?” Gu Fei melihat ke dua pintu di depan mereka. “Yang di kanan adalah pintu keluar darurat, mungkin menuju ke luar.”

“Oh,” Pan Zhi melirik dan melihat cahaya kecil di bawah pintu di sebelah kanan, yang diberi label “Keluar”. “Kalau begitu ayo pergi ke kiri.”

Li Yuqing segera mengikutinya, dengan tangan yang terus menggenggam kemeja Pan Zhi.

“Jangan menarikku saat kamu gugup, kamu hampir menyeret celanaku ke bawah sekarang.” Pan Zhi menatapnya.

“Oh.” Li Yuqing membeku sesaat, lalu tidak bisa berhenti tertawa.

Di luar ruangan ini ada koridor lain, dengan dinding di sisi kanan, danderetan ruangan lain di kiri. Tidak ada jalan keluar di depan, mereka harus mencari jalan keluar melalui salah satu ruangan ini.

Jiang Cheng merasa sarafnya yang tegang perlahan mulai sedikit tenang. Meskipun dia dan Gu Fei berjalan di belakang kelompok, posisi yang paling sering mati dalam film horor, namun …… Dia melirik ke arah Gu Fei yang berada di sampingnya.

Dia tidak merasa seperti seseorang yang akan disingkirkan dalam waktu dekat.

“Apa menurutmu mungkin ada sesuatu di belakang kita?” Gu Fei bertanya pelan.

“Oh sial, jangan menakut-nakutiku.” Kata Pan Zhi dari depan.

“Kami berenam di belakangmu,” kata Jiang Cheng. “Apa yang harus ditakuti?”

“Siapa yang tahu,” kata Pan Zhi. “Kamu sering nonton film horor, bukankah selalu ada orang di depan yang hanya berjalan dan berjalan, lalu berbalik dan melihat bahwa dialah satu-satunya yang tersisa.”

“Ini rumah hantu buatan manusia,” Hu Feng mengingatkannya. “Bahkan jika ada aktor, kecil kemungkinannya jika mereka bisa menyeret seseorang pergi.”

“Dengan kemampuan berkelahi milik Jiang Cheng, mereka bahkan tidak akan bisa mendekat sampai setengah jalan sebelum berubah menjadi hantu sungguhan.” Kata Li Song.

Dalam situasi yang sangat gugup, sangat mudah bagi tombol tawa seseorang untuk bertindak seolah-olah terjebak dalam posisi ‘aktif’. Hanya satu kalimat ini sudah cukup untuk memicu putaran tawa yang tak bisa dijelaskan dari seluruh kelompok. Mereka melihat sekeliling dengan perasaan penuh ketakutan, tetapi pada saat yang sama tidak bisa menghentikan tawa histeris dari diri mereka.

 “Ah, bodoh.” Jiang Cheng berseru sambil menghela napas.

Sekarang lebih jelas dari sebelumnya, bahwa sementara seluruh kelompok itu begitu histeris, dia tidak bergabung. Dia ingat bahwa bahkan di masa lalu, dia jarang bergabung dengan kelompok yang terus mengeluarkan tawa cekikikan bodoh seperti mereka. Paling-paling dia akan tertawa bersama Pan Zhi setiap kali dia akan tertawa seperti orang idiot, untuk menunjukkan bahwa mereka berada di pihak yang sama.

Hanya ketika dia bersama Gu Fei …… Dia berbalik dan melirik Gu Fei.

Gu Fei ada di kanan dan sedikit di belakang. Ruangan yang baru mereka masuki memiliki lampu berwarna merah tua yang terus berkedip menyala dan mati pada interval yang aneh. Meskipun suasananya menakutkan, ketika dia melihat Gu Fei menunjukkan giginya padanya, dia masih berpikir jika pria itu sempurna dalam semua sudut 720 derajatnya2.

Benar-benar terlalu tampan!

Jauh lebih tampan dari pada hantu yang meneteskan darah yang baru saja masuk dari pintu di belakangnya ……

Oh BRENGSEK SIALAN!

“AHHH—brengsek brengsek BRENGSEK-” Ketika suara itu keluar dari mulutnya, ia berpikir bahwa akan lebih baik jika ia tertawa bersama sebagai gantinya, suaranya hampir retak di tengah jeritan itu.

Dalam benaknya, sangat jelas bahwa ini adalah aktor yang mendapat bayaran ekstra dengan wig miring. Tetap saja, itu sangat membuatnya takut sehingga jantungnya praktis melompat keluar dari tenggorokannya dan menyerahkan dirinya pada Gu Fei.

Gu Fei masih mengolok-oloknya ketika mereka memasuki ruangan, tetapi mendengar teriakannya, dia juga mulai berteriak tanpa menoleh ke belakang. Saat Jiang Cheng berbalik, meraih tangan Gu Fei, dan terjun ke sekelompok orang di depannya, dia merasa bahwa setiap kebanggaan yang dia miliki selama hampir 18 tahun terakhir akan dibuang di tempat ini.

Beruntung orang-orang di depan mereka bahkan lebih teliti dalam membuang harga diri mereka. Gadis-gadis itu jatuh begitu saja ke lantai, sementara Hu Feng dan Li Song melesat ke kanan saat mereka berteriak dengan dua kali desibel suara mereka.

Di bagian paling depan, Pan Zhi berbalik dan melebarkan matanya, tetapi dia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara saat dia tersandung ke belakang. Benar-benar tidak jelas apakah ia mencoba untuk menjauh dari Jiang Cheng dan Gu Fei, atau hantu dengan wig miring di belakang mereka.

Sejak ketika hantu itu memasuki ruangan hingga berbalik dan menabrak kusen pintu, lalu melarikan diri dengan tangan melingkari kepalanya, waktu hanya baru berlalu selama beberapa detik. Namun ruangan yang penuh dengan anak muda yang hidup itu kini sudah kelelahan karena semua teriakan itu.

Jiang Cheng terengah-engah untuk beberapa saat dan mengatur napas, lalu menghela napas, “Ah, ini benar-benar …… produksi besar.”

“Menurutmu apakah ada kamera keamanan di sini?” Pan Zhi bertanya.

“Ya,” Gu Fei menunjuk ke atas kusen pintu. “Jika kita jatuh seperti ini beberapa kali lagi, para penjaga mungkin akan datang dan dengan paksa menyingkirkan kita.”

“Tunggu,” Pan Zhi menunjuk pada mereka berdua, dan tertawa setelah berpikir sejenak. “Mungkin kalian berdua harus melanjutkan dengan mata tertutup, aku benar-benar tidak akan menyangka bahwa dua orang yang terlihat paling berani akan begitu ……”

Pandangan Pan Zhi jatuh ke tangan mereka, dan berhenti sejenak, “Aku hampir patah hati saat kalian berlari ke arahku.”

Jiang Cheng terkekeh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sorot mata Pan Zhi membuatnya menghela napas lega.

Dia menemukan jawabannya.

Kecerdasan Pan Zhi sebenarnya cocok dengan namanya. Lagipula, persahabatan mereka begitu kokoh sehingga mungkin dia hanya perlu melihat sekilas untuk memikirkan semuanya3.

Jiang Cheng memandang Pan Zhi. Mungkin bukan karena dia tidak ingin memberi tahu Pan Zhi tentang ini, melainkan karena dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Dia mencuri pandang ke Gu Fei.

Gu Fei memiringkan kepalanya, dengan sangat diam-diam mengangkat sudut mulutnya, dan tersenyum padanya.

Hati Jiang Cheng tiba-tiba menjadi lembut, dia sangat ingin pergi dan memeluk Gu Fei dengan erat.

“Ayo pergi,” Pan Zhi memberi isyarat. “Ikuti dengan seksama, pegang ujung kemeja orang di samping kalian jika harus, berpegangan pada satu sama lain jika kalian mau ……”

Dia kemudian berbalik dan menatap Jiang Cheng, dan berkata dengan senyuman dalam suaranya, “Dan cepatlah saling berpegangan tangan dan pegang erat-erat.”

“Sialan.” Jiang Cheng tertawa, dan diam-diam mengucapkan sepatah kata padanya. Idiot.

Kalian berdua. Pan Zhi mengucapkan kata-kata itu tanpa suara kembali padanya.

Jiang Cheng mengulurkan tangan untuk meraih tangan Gu Fei dan meremasnya. Gu Fei balas meremas tangannya, dengan agak kuat. Jiang Cheng segera meremasnya, dengan kekuatan yang meningkat. Dan lagi Gu Fei membalas……

Tepat sebelum mereka sampai di pintu, Jiang Cheng mendengar suara daribuku-buku jarinya yang retak. Dia berbalik untuk memelototi Gu Fei.

Gu Fei dengan cepat menyatukan tangannya, dan dengan lembut meretakkan buku-buku jarinya juga.

Jiang Cheng melawan keinginan untuk tertawa. Dengan ekspresi serius, dia menyusul sisa kelompok itu. Dia curiga jika Pan Zhi tahu betapa bodohnya tindakan kakeknya di dekat Gu Fei, dia mungkin akan memutuskan persahabatan mereka.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Social butterfly merupakan sebutan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan orang banyak, termasuk orang-orang baru.
  2. Pepatah umumnya adalah 360 度 无 死角, yang secara harfiah bukanlah sudut mati dari semua 360 derajat, ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sangat tampan sehingga mereka terlihat menarik dari semua sudut.
  3. “Zhi” [智] dari Pan Zhi berarti intelek atau cerdas. 
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments