• Post category:SAYE
  • Reading time:33 mins read

Penerjemah: Jeffery Liu


Lengan Jiang Cheng disilangkan, kaki dilebarkan, dan merasa sedikit tidak menyenangkan.

Tingkat kemampuan orang-orang sebelumnya di lapangan biasa saja. Jika dia mengenakan sepatu basket, dia dan Pan Zhi mungkin bisa mengalahkan mereka dari 2 sampai 5 tanpa masalah. Tapi, melihat mereka bermain sebenarnya cukup menarik—ada rasa keunggulan dari menonton di atas; ambisi besar dan semangat yang membawanya ke sana.1

Tapi, ketika Gu Fei dan kedua temannya berjalan ke lapangan, seluruh suasana berubah.

Karena kemampuan basket Gu Fei… sangatlah bagus. Jika mereka berada di sekolah sebelumnya, Gu Fei pasti akan menjadi orang yang bermandikan kemuliaan dari penonton perempuan selama turnamen SMA yang meliputi seluruh kota.

Oleh karena itu, menonton pertandingan seperti ini tidak lagi membuat Jiang Cheng merasa lebih hebat.

Dia tidak merasakan kebencian terhadap Gu Fei, tapi juga tidak ada perasaan yang bagus. Pada saat seperti ini, pikiran terdalamnya bertentangan anatar ‘hei, orang bodoh ini cukup terampil’ sementara di sisi lain pemikiran ini dengan tegas dikoreksi; ‘cukup terampil pantatku, dia hanya ingin pamer seperti pagar tanaman rambat…’2

“Orang ini cukup terampil ah,” kata Pan Zhi, tanpa mengerti sedikit pun. “Bagaimana kalian bertemu?”

“Dia akan jadi biasa-biasa saja jika dia berada di tim kita yang sebelumnya,” kata Jiang Cheng.

“Oh, kamu anggota tim basket?” sebelum Pan Zhi merespon, Li Yan membuka mulutnya dari sisi lain. Nada suaranya berubah dengan provokasi. “Bagaimana kalau ada seorang pemain yang tidak aktif dan kau yang melanjutkan?”

Jiang Cheng menoleh dan menatapnya: “Tidak.”

“Tidak?” Li Yan terkejut, mungkin berpikir bahwa dia akan dengan senang hati menerima tantangan itu, bukan menolaknya dengan cepat. “Kenapa?”

“Tebak saja.” Jiang Cheng berdiri dan mulai berjalan keluar dari ruang olahraga.

Pan Zhi meregangkan punggungnya dan mengikutinya, meninggalkan beberapa orang yang kebingungan.


“Kau dan kemarahanmu yang tak diketahui,” setelah keluar dari ruang olahraga Pan Zhi mengkerutkan lehernya. “Kau memiliki semacam permusuhan dengan orang itu?”

“Aku baru tiga hari berada di sini,” kata Jiang Cheng.

“Itu benar, waktunya terlalu singkat untuk menimbulkan masalah dengan seseorang.” Pan Zhi menghela napas. “Bagaimana pun juga, semua orang tidak menyenangkan bagimu.”

“Kau terlihat baik-baik saja.” Jiang Cheng melihatnya.

Pan Zhi tersenyum: “Ei, sebenarnya, bagaimana kau bisa mengenalnya? Dari kelas dua?”

“… tetangga.” Jiang Cheng menjawab.

“Di gedung yang sama denganmu?” Pan Zhi bertanya.

“Bersebelahan.” Jiang Cheng menjawab dengan sederhana.

“Ah.” Pan Zhi menanggapi.

Sebenarnya, dia tahu jika Pan Zhi merasa sulit untuk memahami konsep gedung tempat tinggal di wilayah ini. Mereka semua tumbuh di sebuah bangunan dalam ruangan tertutup3 di mana para tetangga datang dalam dua jenis: yang satu dari unit bangunan yang sama, dan yang satu dari perumahan yang sama. Yang pertama didasarkan pada hubungan dengan anggukan kepala, yang kedua didasarkan pada sapuan mata.

Gedung yang bersebelahan—tetangga semacam ini adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar berbuhungan dengan mereka.

Jiang Cheng mendesah ringan. Ada ilusi palsu bahwa dia ada di sana untuk berpartisipasi dalam peristiwa “Metamorfosis.”4

“Apa ada gunung di sini? Ayo kita lihat salju.” Pan Zhi bertepuk tangan.

“Mendaki gunung di cuaca dingin seperti ini? Apa kau tidak takut kalau otakmu akan membeku, ini bukan hal yang bagus,” ujar Jiang Cheng. “Dan kau belum pernah melihat salju?”

“Ini jauh lebih besar dari salju yang kita miliki ah,” Pan Zhi merangkul bahunya. “Cheng’er5 kakak akan membawamu menghirup udara segar. Ini hanya perubahan keadaan, apa masalahnya. Ini hanya perubahan orang tua, apa masalahnya… ini adalah hal yang besar, bagaimana aku harus mengatakan ini…”

“Tentu, ayo mendaki gunung.” Jiang Cheng geli melihatnya saat dia melambaikan tangannya. “Pergilah ke neraka, apa masalahnya.”


Setelah ikut bertanding dalam pertandingan di lapangan, Gu Fei merasa tubuhnya nyaman dan rasa kantuk dari dua hari terakhir akhirnya lenyap. Dia memakai mantelnya dan berbalik untuk melihat kembali orang-orang di lapangan yang matanya dipenuhi dengan sukacita, dia akhirnya memutuskan untuk pergi: “Terima kasih.”

“Tidak mau main lagi?” seseorang bertanya, mungkin karena kebiasaan.

“Oke, bagaimana kalau kita bermain permainan lain?” kata Gu Fei.

Tidak ada satu pun yang bersuara, wajah mereka penuh dengan rasa malu.

Gu Fei tersenyum dan menutup resletingnya: “Ayo pergi.”

Setelah keluar dari ruang olahraga, Liu Fan melompat-lompat beberapa kali. “Membosankan, aku menyarankan untuk pergi ke pusat rekreasi dan menyewa lapangan, tapi kau bersikeras untuk datang ke sekolahmu.”

“Seberapa jauh lebih menarik yang kau inginkan?” Gu Fei bertanya.

“Apanya yang menyenangkan ketika bermain bola dengan sekelompok anak SMA?” Liu Fan membalas.

“Kau baru lulus SMA dua tahun yang lalu.” Li Yan menatapnya.

Gu Fei menunjukkan jari tengah di depan Liu Fan: “Jika kau bisa menang satu lawan satu denganku, kau bisa mengatakan itu sebebas yang kau mau.”

Semuanya tertawa.

“Sial.” Liu Fan memukul tangannya. “Ayo kita makan, aku lapar.”

“Aku tidak ikut.” Gu Fei melihat ponselnya. “Aku akan pulang.”

“Kembali ke toko?” Li Yan bertanya, “Bukankah ibumu yang menjaga toko hari ini?”

“Aku akan mengantar Er Miao untuk pemeriksaan fisiknya. Aku pergi untuk menarik uang beberapa hari yang lalu dan membuat janji untuk hari ini,” kata Gu Fei “Dia harus dibujuk dulu ketika akan pergi ke rumah sakit, itu membuang-buang waktu.”

“Kita akan pergi malam ini untuk nongkrong sebentar,” kata Liu Fan.

“Kita lihat saja nanti.” Gu Fei mengeluarkan kunci motornya. “Aku pergi.”

“Jangan selalu pergi begitu saja tanpa kabar,” kata Li Yan. “Semangatmu hari ini cukup sulit untuk membiasakan diri.”

“Hanya kau yang bermasalah.” Gu Fei berbalik dan pergi.

Ketika kehidupan kurang menarik, waktu cenderung berjalan lambat. Tapi, sekali pun hanya sedikit yang menarik, waktu berlalu seperti air terjun yang tidak dapat dicegah.


Sedikit hiburan dan kesenangan yang dirasakannya bersama Pan Zhi dengan cepat berlalu.

“Apa kau benar-benar tidak akan membawa setumpuk makananmu?” Jiang Cheng berdiri di ruang tunggu stasiun kereta dan melihat pesan di telepon.

“Jika aku bilang mau, apa kau akan kembali ke hotel dan mengantarnya padaku?” Pan Zhi bertanya.

“Jangan dianggap serius, aku tidak punya hal yang lebih baik untuk dikatakan.” Jiang Cheng menatapnya.

“Aku membawa makanan untuk kau makan karena aku takut kau tidak akan menemukan tempat untuk membelinya saat ini,” keluh Pan Zhi. “Jadi, kau akan kembali atau aku harus datang lagi tanggal satu Mei?”6

“Aku tidak akan kembali,” kata Jiang Cheng. “Aku sudah bilang aku tidak akan pernah kembali lagi.”

“Siapa yang tahu kenapa kau begitu keras kepala.” Pan Zhi berkata, “Kalau begitu aku akan datang. Aku akan membawa orang-orang dari kelas untuk nongkrong juga. Bagaimana dengan itu?”

“Kita akan lihat saat waktunya tiba.” Jiang Cheng bersandar ke dinding di samping. “Lagipula aku tidak terlalu akrab dengan mereka. Setelah beberapa bulan tidak bertemu satu sama lain, aku meragukan jika mereka akan bersedia datang. Ini juga bukan tempat wisata.”

“En, kalau begitu kita akan memutuskannya nanti.” Pan Zhi menganggukkan kepalanya.

Keduanya terdiam beberapa saat. Pan Zhi yang awalnya duduk, tiba-tiba berdiri dan menatap mata Jiang Cheng.

“Apa yang kau inginkan!” Jiang Cheng terkejut dengan tindakannya dan menunjuk padanya. “Jangan gunakan mulutmu! Aku akan menamparmu.”

“Ayo kita saling berpelukan.” Pan Zhi merentangkan tangannya.

“Sial.” Jiang Cheng sedikit termangu tapi masih membuka tangannya dan memeluknya.

“Jangan lupakan aku,” kata Pan Zhi. “Aku serius.”

Jiang Cheng menghela napas dengan ringan: “Kunjungilah aku tanggal satu Mei, dengan begitu aku tidak akan melupakanmu.”

Pan Zhi tersenyum: “Oke.”


Selama beberapa hari sebelum sekolah dimulai, Li Bao Guo hanya memasak satu hidangan secara keseluruhan—dia tidak di rumah untuk waktu makan lainnya.

Awalnya, Jiang Cheng berusaha memasak mie untuk dirinya sendiri, tapi ketika dia memasuki dapur dan melihat tumpukan panci, wajan, piring dan mangkuk berserakan di mana-mana serta wadah rempah-rempah ditutupi dengan lapisan lemak, semua minatnya untuk memasak segera menghilang.

Selama beberapa hari itu, dia menggunakan aplikasi pesan antar makanan dan makan dari setiap restoran dalam radius satu kilometer yang diminatinya hanya dengan melihat menunya. Dia makan seperti itu hingga semester baru akhirnya dimulai.

Jiang Cheng cukup terkejut ketika wali kelasnya yang baru memanggilnya sehari sebelum sekolah.

“Ayahmu tidak menjawab teleponnya,” kata wali kelas.

Ini tidak terlalu mengejutkan—pendengarannya tidak bagus, dan dia selalu berjudi. Jiang Cheng melewati bangunan yang Li Bao Guo gunakan untuk bermain kartu beberapa kali, dan setiap kali dia lewat, dia bisa mendengar suara dan kegembiraan di lantai atas menyeruak hingga ke bawah.

Nama belakang wali kelas itu adalah Xu. Berdasarkan suaranya, dia terdengar seperti pria paruh baya dengan semangat yang tinggi. Ini mengurangi sedikit kecemasan yang dirasakan Jiang Cheng terhadap lingkungan barunya.


Salju mulai turun di pagi hari saat pendaftaran sekolah—persis seperti yang dikatakan Pan Zhi. Tidak pernah ada kesempatan untuk melihat hujan salju yang lebat seperti sebelumnya.

Ini benar-benar terasa cukup menarik.

Setelah memasuki gerbang sekolah, dia memperhatikan murid-murid di sekitar dan merasa seolah-olah tidak ada banyak perbedaan. Sama-sama menjadi siswa SMA dan juga banyak wajah yang asing, tetapi perasaan tidak nyaman dan aneh itu luar biasa tajam.

Dia bahkan memberikan perhatian khusus untuk mendeteksi wajah Gu Fei di antara para murid, tapi dia tidak ada di sana.

“Jiang Cheng, nama yang bagus.” Wali kelas, paman Xu, memang seorang paman7, paman yang punya kesempatan masuk akal untuk memiliki alkohol di pagi hari. “Nama belakangku adalah Xu, nama lengkap Xu Qi Cai, wali kelasmu, dan aku mengajar kalian pelajaran bahasa. Semua teman sekelasmu memanggilku Lao Xu8, Xu Zong9.”

“Lao Xu… Zong.” Jiang Cheng membungkuk sedikit sebagai perilaku baik—disiplin. Ada yang salah mengenai gelar-gelar itu, terasa tidak benar.

“Mari kita mengobrol dulu, jam pelajaran pertama adalah kelas bahasa dan setelah sesi kajian individu, aku akan mengantarmu.” Lao Xu menunjuk ke arah kursi di samping. “Silakan duduk.”

Jiang Cheng duduk.

“Pindah ke sekolah lain ketika kelas dua cukup jarang.” Lao Xu tersenyum. “Terutama yang dipindahkan ke sini… aku melihat rapormu sebelumnya, nilaimu bagus, ah.”

“Nilainya biasa saja,” jawab Jiang Cheng.

“Bukan biasa saja, tapi sangat bagus. Jangan terlalu rendah hati.” Lao Xu mulai tertawa tapi kemudian mendesah sebelum dia dengan tenang berkata, “Sayang sekali kamu harus pindah ke sini.”

Jiang Cheng tidak menanggapi dan hanya menatap Lao Xu.

Wali kelasnya yang sebelumnya juga berkata, “Sayang sekali, kualitas pengajar dan asal usul siswanya sangat kurang…” tapi sekarang Lao Xu juga mengatakan sesuatu seperti itu, yang mana membuat Jiang Cheng terkejut.

“Aku lihat bahwa nilaimu dalam ilmu sains lebih baik daripada ilmu sosial.” Lao Xu memberitahu. “Kenapa kamu memilih untuk berada di kelas sosial10?”

Jiang Cheng merasa pertanyaan ini sulit dijawab—karena ayah dan ibunya berharap bahwa dia akan memilih kelas sains. Dia tidak membiarkan jawaban yang dipenuhi dengan sifat gila, bodoh, dan remaja yang pemberontak keluar dari mulutnya. Meskipun dia telah melakukannya, mengatakannya dengan keras tetap saja membuatnya merasa bahwa dia benar-benar bodoh.

Dia ragu untuk sesaat dan akhirnya berkata, “Saya suka wali kelas di kelas kami, dia mengajar sastra.”

“Aku mengerti.” Lao Xu terkejut. “Aku harap kamu juga akan menyukaiku. Agak sulit mengajar ilmu sains dari sini.”

“Oh.” Jiang Cheng menatap wajahnya.

Setelah melihat satu sama lain untuk beberapa saat, Lao Xu mulai tertawa. Jiang Cheng segera mengikuti dan tertawa—wali kelas ini sebenarnya menarik.

Setelah bel untuk jam pelajaran pertama berdering, Lao Xu mengapit amplop di lengannya, mengambil USB dan menaruhnya di saku. “Ayo, aku akan membawamu ke kelas.”

“En.” Jiang Cheng menyampirkan tas sekolahnya di bahu dan mengikutinya keluar dari kantor.

Dari apa yang Lao Xu siratkan, Si Zhong tidak betul-betul sekolah yang bagus. Sekolah itu cukup besar, hanya saja tata letak gedungnya agak unik. Kelas lain dikategorikan berdasarkan nilai, hanya pada tahun kedua dan ketiga jurusan ilmu sosial dimasukkan ke dalam gedung tua tinggi bertingkat tiga dengan tangga di tengah sebagai garis pemisah—di kiri untuk tahun kedua, di kanan untuk tahun ketiga.

Jiang Cheng merasa seperti dirinya hampir menjadi pemuja fatalisme; dia bahkan bisa berakhir di bangunan kumuh setelah pindah sekolah. Tak disangka-sangka lantai itu diberi ubin kayu… ubin kayu yang begitu kuno sehingga warna alaminya terkelupas, yang membuat orang merasa seolah jika menginjaknya akan jatuh dari lantai tiga sampai lantai paling bawah.

“Ini bangunan tua.” Lao Xu menjelaskan kepadanya. “Jangan memandang rendah usianya karena desainnya sangat logis. Para guru yang mengajar di kelas ini tidak perlu menggunakan mikrofon atau meninggikan suara, para siswa paling belakang bisa mendengar dengan sangat jelas.”

“Oh.” Jiang Cheng menganggukkan kepalanya.

“Kelas kita di lantai tiga.” Lao Xu melanjutkan. “Kamu tidak bisa melihat ke kejauhan dari ketinggian ini, tapi masih ada cukup pemandangan ke arah lapangan.”

“En.” Jiang Cheng terus mengangguk.

“Sekolah kita…” Lao Xu terus berbicara saat berjalan. Ketika dia melirik ke atas saat berbelok ke sudut tangga, dia tiba-tiba berteriak. “Gu Fei! Kau terlambat lagi!”

Nama ini menyebabkan alis Jiang Cheng berkedut tak terkendali. Dia juga mengangkat kepalanya ke atas tangga hanya untuk melihat seseorang yang dengan lamban berjalan ke atas memutar kepalanya—bahkan ada kantong susu yang menggantung di mulutnya.

Meski berdiri membelakangi cahaya, Jiang Cheng masih bisa menyadari jika orang itu memang Gu Fei dan bukan hanya seseorang dengan nama depan dan belakang yang sama.

“Selamat pagi, Xu Zhong.” Gu Fei masih memiliki kantong susu di mulutnya, yang mana membuat ucapannya tidak jelas. Dia melirik ke arah Jiang Cheng—mungkin memiliki perasaan yang sama terhadap Jiang Cheng—dia sudah tidak lagi terkejut dengan bentuk pertemuan ini.

“Kau terlambat dan masih berkeliaran, kenapa kau tidak pergi ke kelas?!” Lao Xu menunjuknya. “Sekolah baru saja dimulai dan kau sudah bermalas-malasan.”

Gu Fei tidak membalas. Sebagai gantinya dia berbalik, mengambil beberapa langkah besar menaiki tangga dan menghilang di koridor lantai tiga.


Si Zhong ini memang tak ada bandingannya dengan sekolahnya yang sebelumnya. Bel yang menunjukkan dimulainya kelas telah berbunyi dan para guru juga telah memasuki ruang kelas, namun koridor masih dipenuhi dengan siswa yang tidak memiliki niat untuk masuk ke dalam kelas mereka. Sebaliknya, mereka hanya terus bersandar di sandaran tangga dan saling mengobrol seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Di kelas dua, koridor itu dipenuhi oleh tumpukan siswa yang malas. Jiang Cheng berpaling ke sisi lain koridor untuk melihat kelas tiga, mereka juga dalam keadaan yang sama. Dia memperhatikan sedikit lebih lama tapi tidak melihat Gu Fei yang baru saja datang.

Lao Xu memasuki ruang kelas paling dekat dengan tangga, Jiang Cheng mengikuti dan mengintip ke dalam ruang kelas dari ambang pintu. Ada tanda yang terlihat: kelas dua (8).

8, tidak buruk, akhirnya ada sesuatu yang bisa membawanya pada keberuntungan—meskipun dia tidak yakin bagaimana 8 ini bisa membuatnya kaya.11

Ada banyak orang yang juga berdiri di koridor luar kelas 8, tapi tidak ada yang bergerak bahkan setelah melihat Lao Xu yang telah memasuki kelas. Sebaliknya, setelah melihat Jiang Cheng juga memasuki kelas, mereka bergegas ikut masuk, barangkali karena penasaran dan berharap mendapatkan pertunjukan yang bagus.

Lao Xu berdiri di depan podium di atas peron yang kecil dan melihat ke bawah pada puluhan orang yang tak bisa tenang sama sekali; dia tampak sabar menunggu semua orang untuk diam.

Selama itu pun, Jiang Cheng berdiri di samping podium dan menerima semua jenis tatapan dan perselisihan yang sunyi.

Dia merasa sangat tidak nyaman. Biasanya, jika seseorang menatapnya dengan cara seperti itu, dia hanya akan menatap balik dengan ekspresi ‘apa yang kamu lihat’12 dan tidak takut atau membiarkannya terpengaruh. Tapi dengan kelas yang terisi lebih dari selusin orang dan mereka semua menatapnya secara bersamaan, dia merasa agak rugi—terlalu banyak target akan mengakibatkan kehilangan target karena semua wajah terhubung menjadi satu.

Dewa Kejengkelan hendak mengamuk di dalam tubuhnya, tapi Jiang Cheng berusaha menahan api13 di dalam dirinya itu dan melihat ke arah Lao Xu. Lao Xu masih menunjukkan ekspresi tenang di wajahnya ketika dia terus menatap puluhan siswa yang tidak mampu mengendalikan diri mereka sendiri.

Dia tiba-tiba merasa seolah-olah pendapat yang sebelumnya dia miliki terhadap wali kelasnya ini adalah kesalahan—dia tidak bersikap baik dan ramah. Dia seharusnya menjadi rupa yang tidak memiliki kuasa untuk menghalangi para siswanya dan berusaha untuk tidak pernah menyinggung siapa pun.

Beberapa saat kemudian, situasi ini tidak menunjukkan tanda sekecil apapun akan berakhir. Jiang Cheng, yang menghadapi perjuangan pahit dari ambang ledakan, sejujurnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia bertanya, “Apa kita menunggu mereka semua diam?”

Lao Xu menoleh kepadanya.

Dan pada saat itu juga, puluhan orang, yang berdengung seperti iblis berbisik di telinga mereka, benar-benar tenang sekaligus.

Setelah kemarahan Jiang Cheng muncul, akan sulit untuk dikontrol. Dia biasanya akan mencoba untuk menekannya sebelum kemarahan miliknya benar-benar mencapai puncaknya, tetapi jika tidak bisa dikendalikan, maka, ‘siapa yang peduli’.

Baginya, harus berdiri di sana seperti orang idiot selama setidaknya tiga menit, sementara semua orang menatap dan membicarakannya diam-diam, hampir sama dengan memiliki tas yang berisi peledak yang menyatu di antara kedua kakinya.

Kontrolnya sudah meledak, dunia ini tidak ada aku.

“Baiklah, biarkan aku memperkenalkan…” Lao Xu menggenggam telapak tangannya dan tersenyum.

“Jiang Cheng, siswa pindahan.” Jiang Cheng menyela ucapannya dengan suara tenang. “Apa aku sudah bisa duduk sekarang?”

Lao Xu terkejut selama beberapa saat.

Ketika seseorang di kelas itu bersiul, kelas segera meledak menjadi kekacauan yang bercampur dengan suara yang keras. “Cukup badass ah!”

“Kalau begitu kamu sudah bisa duduk. Kamu bisa duduk di…” Lao Xu melihat ke beberapa bangku belakang. “Di sana, Gu Fei, angkat tanganmu.”

Dari bangku pertama hingga bangku terakhir, satu demi satu semua kepala menoleh ke belakang seolah-olah mereka sedang memainkan pemainan ‘berikan kentang panas ini kepada-‘—mata Jiang Cheng mengikuti arah yang sama sampai…

Dia melihat Gu Fei, yang duduk di bangku terakhir dengan kaki berada di ujung meja sekolah berlaci14 dan setengah batang roti goreng15 yang masih ada di mulutnya.

Jiang Cheng tiba-tiba merasakan kekuatan yang kuat berteriak di seluruh tubuhnya, mendorongnya untuk menulis sebuah novel berjudul: “Raja Penipu—setiap kebetulan di dunia ini adalah milikku.”

Gu Fei mengangkat tangannya dengan sangat acuh tak acuh.


Gu Fei tidak bicara dengan siapa pun, dia juga tidak tidur. Dia hanya menundukkan kepalanya dan mengeluarkan sepasang earphone, memasukkannya ke dalam telinga dan memulai mendengarkan musik.

Seorang anak laki-laki dari meja di depan mulai menubruk meja mereka di belakang, setiap tubrukan diiringi dengan putaran kepala dan panggilan: “Da Fei.”

Meja itu bergoyang.

“Da Fei.”

Meja itu bergoyang lagi.

“Hei, Da Fei.”

Meja itu bergoyang untuk ketiga kalinya.

“Da Fei?”

Jiang Cheng menatap dengan penuh perhatian pada kata-kata di buku dan berdebat antara pilihan menampar kepala orang itu dengan telapak tangannya atau menampar kepala orang itu dengan buku pelajarannya, pada akhirnya, dia meraih dan menarik earphone di telinga Gu Fei.

Ketika Gu Fei menatapnya, dia balik menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Da Fei, hei, Da Fei.” Orang di depan menerjang meja lagi.

“En.” Gu Fei memberikan jawaban dan terus menatap Jiang Cheng.

Jiang Cheng juga masih menatapnya dengan tatapan acuh tak acuh dan blak-blakan.

“Pinjamkan kameramu untuk aku gunakan. Aku akan mengembalikannya padamu besok,” kata orang di depan.

“Tidak.” Gu Fei memalingkan wajahnya.

“Sial, jangan pelit ah. Aku hanya ingin mengambil beberapa foto secara acak,” kata orang itu.

“Persetan.” Gu Fei menyelesaikan percakapannya, menempelkan earphone kembali ke telinganya dan terus mendengarkan musik.

“Hanya untuk satu malam.” Orang itu menerjang meja lagi. “Aku akan mengembalikannya padamu besok pagi.”

Meja bergetar.

“Sialan. Da Fei, Da Fei…” Orang itu terus menerjang meja.

Jiang Cheng tidak mengerti kenapa percakapan ini harus dilakukan selama berlangsungnya pembelajaran—kenapa harus dilakukan dengan memukul meja, kenapa orang itu begitu gigih bahkan setelah ditolak, dan dia juga tidak mengerti kenapa Gu Fei tidak mau meminjamkan kameranya, kenapa sikapnya begitu arogan, dan kenapa dia sanggup menanggung keadaan dari mejanya yang terus ditubruk.

Dengan itu, dia mengangkat kakinya dan dengan kasar menendang kursi orang yang duduk di depan mereka.

Suara itu cukup keras, dan bergema.

Orang itu dengan keras menghantam mejanya dari arah tendangan.

“Apa-apaan?” Orang itu memalingkan kepalanya dengan sengit.

Sementara itu, para siswa di sekitar mereka mengarahkan pandangan mereka ke arah ledakan keras itu terjadi.

“Tolong jangan tubruk mejanya.” Jiang Cheng menatapnya dan berkata dengan tenang. “Terima kasih.”

Kesadaran orang itu mungkin belum kembali ketika dia membuka mulutnya tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


15 Agustus 2020


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. “会凌当绝顶” – “Ada rasa keunggulan dari menonton di atas; ambisi besar dan semangat yang membawanya ke sana.” Aku tidak akan mengatakan ini terjemahan yang paling akurat—kalimat ini 会凌当绝顶 (Hùi líng dàng jùe dǐng) sebenarnya berasal dari tokoh sejarah yang terkenal di China—DùFǔ 杜甫 (seorang penyair) dan bab tentang “望岳” (Wàng Yùe). Dù Fǔ berdiri di puncak gunung Tai (泰山 – ) dan menggambarkan skenario spektakuler serta mengekspresikan karakteristik ambisius dan tak kenal takut dari puisi (dirinya) yang mampu mendaki ke puncak. Ada banyak cara untuk memahami ayat ini, tetapi dalam konteks ini, kamu bisa memikirkan Jiang Cheng berpikir “aku yang terbaik” sambil menonton pemula ini bermain. Pemandangan yang dilihat dari atas gunung.
  2. Flower trellis 花架子 (di sini diartikan pagar tanaman rambat) – artinya dia hanya memperhatikan kecantikan dan bentuk untuk memamerkan ketampanannya.
  3. Perumahan—kompleks apartemen biasanya dikembangkan dalam kelompok oleh real estate. Perumahan berisi sejumlah bangunan berdasarkan desain yang sama, yang dikelompokkan dalam semacam pembatas dengan taman yang sama, di bawah tanah dan di atas tanah, dan semacamnya. Dapat dipahami sebagai komunitas orang yang tinggal di ‘lingkungan’ yang sama. Hal ini bisa memiliki keragaman dalam bentuk perumahan tetapi dengan kerukunan dalam perencanaan. Penduduknya menerima beragam fungsi masyarakat seperti pusat komersial, pusat rekreasi, dan sekolah—yang semuanya terletak di dekatnya dan mudah dijangkau oleh masyarakat di komunitas ini. Lantai pertama bangunan yang menghadap ke luar biasanya disewakan dan dirancang sebagai etalase. Tetangga dari sebelah jalan akan mengartikan orang dari perumahan lain seperti ini. Ini adalah daerah yang telah mengalami rencana perkotaan dan panorama yang ketat sedangkan tempat Jiang Cheng pindah tidak memiliki perasaan seperti ini karena usia bangunannya.
  4. Sebuah tayangan realiti di TV di mana orang-orang (biasanya selebriti) dibawa ke lingkungan di mana yang tidak pernah mereka temui dan memiliki sedikit pengetahuan dan hidup dalam gaya hidup itu selama beberapa hari untuk mengalami dan mempelajari aspek kehidupan yang berbeda.
  5. Cheng’er—dia menambahkan itu agar terdengar lucu sebagai 儿 (Er)-anak: non-suku kata dimi. Akhiran. Tapi Erhua—pengucapan “er” setelah rhotacization dari suku kata terakhir. Paling umum di antara jenis ucapan di China utara, khususnya dalam dialek Beijing, sebagai akhiran kata benda, meskipun beberapa dialek juga menggunakannya untuk tujuan tata bahasa lain. Standar bahasa Cina yang digunakan dalam fitur rekaman dan pemeriksaan pendidikan yang diproduksi oleh pemerintah erhua hingga taraf tertentu, seperti 哪儿 nǎr (“di mana”), 一点儿 yìdiǎnr (“sedikit”), dan 好玩儿 hǎowánr (“menyenangkan”). Bahasa sehari-hari dalam dialek utara lebih luas erhua daripada bahasa yang distandarisasi. Dialek Mandarin barat daya seperti memiliki Chingqing dan Chengdu juga memiliki erhua. Sebagai kontras, banyak orang Cina selatan yang menggunakan dialek non-Mandarin mungkin sulit melafalkan bunyi itu atau mungkin memilih untuk tidak melafalkannya, dan biasanya menghindari kata-kata dengan erhua sewaktu berbicara bahasa Cina standar; misalnya, ketiga contoh di atas dapat digantikan dengan sinonim 哪里 nǎlǐ, 一点 yìdiǎn, 好玩 hǎowán.
  6. Tanggal 1 Mei—hari buruh internasional/hari buruh di Cina dan belahan bumi utara. Liburan umum. Peringatan pencapaian selama pergerakan buruh. Dianggap sebagai “May Day” tapi tidak dengan makna yang sama dengan Festival May Day musim semi tradisional.
  7. “Paman”—大叔 inilah istilah baru yang tampaknya muncul di antara generasi muda ketika merujuk pada pria paruh baya sekitar usia 50-an. Kurasa ada semacam pendekatan pada istilah ini? Beberapa menganggapnya tidak sopan?; pada catatan lain, dalam budaya asia untuk panggilan seseorang, paman/bibi/, dan lain-lain. Tidak selalu berarti bahwa mereka berhubungan denganmu tapi itu lebih dari istilah menghormati mereka yang lebih tua darimu atau mendekati usian orangtuamu.
  8. “Lao Xu” – 老徐 Xu tua.
  9. “Xu Zhong” – 徐总 bos Xu.
  10. SMA di Cina dipisahkan ke dalam jurusan IPA dan jurusan sosial di mana setelah memilih untuk berada di salah satu atau yang lain, sebagian besar kursusmu akan fokus di area yang dipilih.
  11. 8 八, diucapkan “bā” dalam sajak Cina dengan “fā” yang berarti “menjadi kaya” yang telah lama dianggap sebagai angka paling beruntung dalam budaya Cina.
  12. “Apa yang kamu lihat” (你瞅啥) sejenis provokasi: di bagian timur laut Cina, ada dua cara untuk memprovokasi seseorang dengan matamu. Yang pertama adalah menatap seseorang tanpa perasaan(kedua mata memandang mereka dengan jelas)dan yang kedua adalah memandang mereka dengan mata yang menyipit (gunakan sudut matamu untuk memandang mereka dengan jijik). Jika kamu tahu bahwa orang lain memandangmu dengan menghina dan ingin mengatakan sesuatu, kamu cukup mengatakan ‘apa yang kamu lihat!’ yang berarti, ‘kau memandang rendah aku!’.
  13. Api—dia menahan amarahnya.
  14. [15] Roti yang dimakan Gu Fei

  15. [15] Roti yang dimakan Gu Fei

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments