• Post category:SAYE
  • Reading time:40 mins read

Mengusap bahunya saat mereka berjalan.

Penerjemah: Jeffery Liu


Karena perilaku menonton film mereka yang sangat tidak tepat, mereka berdua telah menghabiskan sepuluh tisu basah dari kemasan kecil yang diberikan bioskop kepada mereka. Mereka kemudian berulang kali memeriksa untuk memastikan bahwa tidak ada apapun di pakaian mereka. Setelah menyeka tangan mereka hingga bersih, keduanya menemukan bahwa film horor ini — di mana teriakan sepertinya diputar di seluruh film — sekarang benar-benar di luar pemahaman mereka.

“Kenapa wanita ini …” Gu Fei bertanya dengan berbisik saat dia mengambil kantong plastik kecil dan memasukkan semua tisu berantakan di dalamnya, “Ai, apa dia ini masih wanita dari sebelumnya?”

“… Wanita yang mana?” Jiang Cheng bertanya.

“Itu… ada berapa banyak wanita disana?” Gu Fei mengintip ke layar.

“Sekitar tiga ba. Yang ini pasti wanita yatim piatu yang dibicarakan orang itu.” Jiang Cheng menebak dari asumsinya.

“Orang mana yang bilang dia yatim piatu?” Gu Fei bertanya.

“… Bagaimana kalau kamu mainkan saja Craz3 Match yang terbelakangmu itu ba?” Jiang Cheng meliriknya, “Kita duduk di belakang, jadi itu tidak akan mengganggu orang lain.”

Gu Fei mulai terkekeh: “Apa kamu punya masalah denganku? Oh, jadi kamu bisa memahaminya?”

“Tidak.” Jiang Cheng menjawab, “Tapi seperti yang kamu lihat, aku tidak berencana menanyakannya kepadamu.”

Gu Fei mencibir sambil meneguk minumannya: “Apa benar-benar ada kamera pengintai inframerah?”

“Soal itu, aku benar-benar tidak yakin.” Jiang Cheng memeriksa tembok sekeliling sebelum menjawab dengan nada yang sangat tenang, “Aku pernah melihat sebuah postingan di Klub Tianya1 dimana satu demi satu, orang-orang mengakui hal memalukan yang mereka lakukan ketika menonton film. Tetapi kemudian tiba-tiba seseorang muncul dan menjawab dengan, ‘Sebagai seorang projeksionis, izinkan aku memberitahumu semua hal yang kalian lakukan, kita bisa melihat semuanya di ruang pemantauan. Kamera pengintai kami semuanya inframerah…’ dan aku merasa kata-kata itu telah memberikan kesan psikologis yang sangat dalam, tidak hanya untuk orang-orang di utas itu… tetapi juga untuk diriku sendiri.”

“Itu masuk akal.” Gu Fei mencondongkan tubuh ke telinganya dan berbisik, “Lihat, ini sangat gelap. Jika mereka menggunakan kamera keamanan biasa, mereka tidak akan bisa menangkap apa pun.”

“Duduklah dengan benar.” Jiang Cheng duduk tegak.

“Baiklah~” Gu Fei juga duduk tegak.

Mereka melanjutkan untuk menonton film di mana pada titik tertentu, mereka sama sekali tidak mengerti alur ceritanya seperti apa.

Dan mereka secara tak terduga tetap seperti itu sampai film itu berakhir.

°

Ketika lampu di ruang pemutaran film menyala, Jiang Cheng buru-buru menunduk untuk sekali lagi memeriksa apakah mereka berdua masih memiliki sisa yang tidak sedap dipandang di tubuh mereka. Dia kemudian memeriksa lantai untuk melihat apakah ada sesuatu yang mereka abaikan, dan baru kemudian dia akhirnya berdiri.

Dia tidak tahu mengapa, tetapi ketika dia melihat pasangan muda yang berjalan berpasangan dengan tangan saling memeluk, Jiang Cheng merasa seperti dia memiliki tiga kata ‘Aku belum puas’2 tertulis di seluruh wajahnya.

Mereka yang memiliki hati nurani yang bersalah akan melihat semua orang sama seperti mereka. Oleh Kaisar Langit.

“Periksa bagian belakang celanaku.” Jiang Cheng, merasa sedikit tidak nyaman, berbalik menghadap ke belakang ke arah Gu Fei, “Apa ada sesuatu?”

“Kamu…” Gu Fei menghela napas, “Sudut macam apa yang bisa menembak ke belakang ah?”

“Brengsek, brengsek!” Jiang Cheng berbalik dengan kesal, dan mengangkat Gu Fei, “Ayo! Orang pincang!”

Setelah Gu Fei berjalan dua langkah menuju lorong, dia tiba-tiba beralih menjadi melompat dengan satu kaki.

“Sialan.” Jiang Cheng melihat ke depan dan menemukan bahwa petugas tiket dari pintu masuk telah masuk, dan berdiri di samping kursi roda, menunggu. “Layanan seperti itu…”

“Lain kali, aku akan meminjamkan barang ini padamu,” kata Gu Fei. “Agar kamu juga bisa merasakannya.”

“Apa yang bisa dirasakan tentang ini? Kalau aku ingin merasakan sesuatu, maka itu seharusnya merasakan kamu menggendongku ke atas gunung yang kamu bicarakan sebelumnya.” Jiang Cheng menyeringai.

“Baik. Saat kita berdua pergi suatu hari nanti, aku akan menggendongmu.” Kata Gu Fei.

°

Jatuh cinta dan berkencan – dia tidak tahu harus bagaimana prosesnya. Bagaimanapun, ketika keduanya meninggalkan bioskop, mereka bersiap untuk mencari tempat makan, tetapi masih terlalu pagi, jadi mereka hanya duduk di alun-alun.

Alun-alun ini sangat ramai karena ada event yang telah disatukan oleh beberapa bangunan komersial. Ada begitu banyak orang disana; mereka yang bernyanyi, mereka yang menari, dan bahkan mereka yang berjalan untuk melakukan peragaan busana.

“Aku melihat foto yang kamu posting di Momenmu sebelumnya.” Jiang Cheng melihat ke arah tertentu, “Apa foto-foto itu diambil di sini? Saat kedua bibinya memperebutkan sebuah kipas.”

Gu Fei tertawa terbahak-bahak. Dia mengeluarkan ponselnya dan membaliknya, lalu membawanya ke hadapannya: “Apa kamu membicarakan tentang yang ini?”

“En.” Jiang Cheng mengangguk, “Kapan ini diambil?”

“Musim panas lalu, di sini.” Gu Fei menjawab, “Mereka bahkan mulai berkelahi menggunakan fisik.”

“Brengsek. Jadi bagaimana itu diselesaikan?” Jiang Cheng bertanya.

“Seorang lelaki tua datang dan mematahkan kipas itu menjadi dua, lalu memberikan dua bagian itu untuk masing-masing dari mereka.” Gu Fei menjawab.

Jiang Cheng tertawa terbahak-bahak, lalu menghela napas sambil merenungkannya: “Apa bagusnya kipas itu sampai diperebutkan seperti itu?”

“Ada berbagai macam orang di dunia ini.” Gu Fei mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya, “Kalau kamu duduk di sini sepanjang hari, kamu bisa melihat semua jenis orang.”

“Apa kamu sering melihatnya?” Jiang Cheng menatap orang-orang yang datang dan pergi di alun-alun.

“En, dan kalau kamu melihat melalui lensa kamera, itu adalah cerita yang lain.” Gu Fei mengangkat tangan kirinya di depannya dan membentuk setengah bingkai dengan ibu jari dan jari telunjuknya, “Coba saja.”

°

Jiang Cheng tercengang untuk sementara waktu. Dia melihat sekeliling mereka – tidak ada yang memperhatikan. Jadi, dia mengulurkan tangan kanannya dan juga membentuk setengah bingkai dengan ibu jari dan jari telunjuknya, menghubungkannya dengan jari-jari Gu Fei.

“Dengan cara ini, kamu akan melihat orang dengan sudut pandang yang berbeda, dan tidak akan ada banyak gangguan.” Gu Fei perlahan-lahan menggerakkan tangannya dan tangan Jiang Cheng pada saat yang sama, sebelum berhenti ketika bingkai jari itu menghadap seorang gadis yang berdiri linglung di atas panggung. “Apa dia seorang pejalan kaki? Atau penggemar? Atau apakah dia hanya melamun?”

Jiang Cheng tidak menanggapi.

Saat aku menatapku, siapa yang menatapku?” Gu Fei dengan lembut menyanyikan sebuah syair, “Bahu bersinggungan yang kau lihat, tidak masalah kalau kau melewatkannya …

“Lagu apa itu?” Jiang Cheng bertanya. Melodinya sangat asing, tapi lincah dan menyenangkan, terdengar sangat bagus.

“Bukan lagu apapun.” Gu Fei terkekeh, “Aku menyanyikannya secara acak.”

Jiang Cheng membeku sebelum berbalik menatapnya: “Lalu liriknya?”

“Dibuat secara acak.” Gu Fei menjawab, “Aku bisa secara acak menemukan delapan ratus kata untuk lirik jelek ini.”

Jiang Cheng tersenyum dan tidak terus berbicara. Dia mengikuti jari Gu Fei dan menyaksikan orang-orang secara bertahap melewati bingkai jari mereka.

Sisi Gu Fei yang satu ini tersembunyi sangat dalam, sedemikian rupa sehingga Jiang Cheng sering lupa bahwa dia sebenarnya adalah orang yang sensitif dan teliti – bahkan sedikit artistik.

°

Karena Gu Fei adalah orang pincang, dan jika ada orang pincang yang melaju di jalanan dengan langkah-langkah yang kuat pada saat itu, mereka tidak dapat berjalan terlalu jauh setelah menyelesaikan aktivitas “mengamati” yang mereka lakukan di alun-alun, dan hanya langsung makan siang di kedai makanan terdekat.

Siapa yang tahu apakah itu karena mereka baru saja berpacaran hari ini, dan bahkan mengalami terlalu banyak kegembiraan di bioskop, makan siang mereka berdua hari ini bahkan tidak sebanyak sarapan mereka.

“Aku harus membeli beberapa kue beras goreng saat kita pulang nanti,” kata Gu Fei. “Kita pasti akan lapar nanti sore.”

“Sebaiknya kita makan kue beras goreng lagi nanti.” Jiang Cheng teringat rasa kue beras goreng tempo hari, dan tiba-tiba merasa sedikit lapar.

“Tidak masalah.” Gu Fei merenung sejenak, “Sebenarnya …”

“Sebenarnya, kita bahkan tidak perlu makan di sini.” Jiang Cheng menatapnya, “Benar?”

“Tepat sekali.” Gu Fei tersenyum, “Ai, IQ ini berhasil mengejar Jiuri sekarang.”

Saat dia mengendarai sepeda kembali dengan Gu Fei, Jiang Cheng terus merenung dalam pikirannya; mereka akan pulang nanti, dan kemudian mereka akan langsung menuju ke toko kue beras goreng ketika mereka pulang, lalu mereka akan makan kue beras goreng.

Lalu?

Mereka akan kembali ke rumah masing-masing?

Atau … membiarkan Gu Fei pergi ke tempatnya?

Apa yang akan mereka lakukan di sana?

Memikirkan hal ini, dia tiba-tiba merasa sangat malu. Sebenarnya, dia tidak perlu melakukan sesuatu dengan Gu Fei, tetapi jika mereka benar-benar harus melakukan sesuatu, maka itu juga cukup normal – itu tidak seperti sebelumnya. Namun, yang penting adalah bahwa tujuan utamanya bukanlah untuk benar-benar melakukan apa pun, dan selain itu, mereka sudah melakukan sesuatu di bioskop…

Dia tidak bisa menahan perasaan bahwa jika kata-kata “mampirlah ke tempatku sebentar” keluar dari mulutnya, kata-kata itu akan membawa rasa ambiguitas yang tidak bisa dijelaskan.

Kenapa semua ini sangat kacau?!

Bagaimana bisa pria seperti dia begitu merepotkan?!

°

“Mau mampir ke tempatku setelah kita makan kue beras goreng?” Jiang Cheng menoleh untuk bertanya.

“En.” Gu Fei menyandarkan dahi ke punggungnya seperti biasa ketika dia mengangguk, “Sangat bagus, aku juga bisa menyalin pekerjaan rumahmu.”

“Apa kamu benar-benar tidak bisa melakukannya atau kamu hanya tidak ingin melakukannya?” Jiang Cheng sedikit terdiam, “Aku melihat dari ujian tengah semestermu, kamu tidak terlihat seperti benar-benar tidak bisa melakukannya ah. Awalnya aku mengira kamu akan mendapat peringkat di angka terbawah ne.”

“Aku terlalu malas untuk melakukannya.” Gu Fei tersenyum.

Jiang Cheng awalnya ingin terus berbicara, tetapi kemudian tidak membuka mulutnya lagi setelah beberapa pertimbangan.

Jawaban tenang Gu Fei membuatnya merasa bahwa akan sangat berlebihan baginya tidak peduli apa yang dia katakan, dan dia juga tidak ingin dianggap seperti Lao Xu. Poin krusialnya adalah, mungkin, itu karena dia juga agak sensitif, dia selalu merasa jika nada suara Gu Fei selalu membawa sedikit ketidakberdayaan dan ketenangan yang datang dari tidak ingin terus mendiskusikan suatu topik.

“Ayo mampir dulu ke toko. Beberapa orang membawa barang hari ini, dan aku tidak tahu apakah ibuku mengerti apa yang harus dilakukan.” Gu Fei berbicara lagi.

“Baiklah,” jawab Jiang Cheng.

°

Ketika mereka tiba di pintu masuk, Jiang Cheng memarkir sepedanya, menyandarkan kakinya ke tanah, dan keterampilan akting Gu Fei segera kembali online sekarang setelah mereka kembali ke area pabrik baja. Untuk bahkan turun dari bagian belakang sepeda, dia membutuhkan setidaknya lima detik.

“Tidakkah kamu pikir reaksimu berlebihan?” Jiang Cheng berbalik untuk melihatnya.

“Aku sakit ne.” Gu Fei mengerutkan alisnya.

“Sial.” Jiang Cheng tidak bisa menahan tawanya, “Aku akan menangis di sini.”

“Ayo cepat bantu aku.” Gu Fei tetap tenggelam dalam aktingnya.

Jiang Cheng menyandarkan sepeda ke dinding, lalu datang untuk menopangnya untuk memasuki toko. Tepat ketika mereka mengangkat tirai ke samping, mereka mendengar suara yang akrab berteriak: “Gu Fei, apa yang terjadi padamu?!”

Jiang Cheng dan Gu Fei berdiri tercengang di pintu pada saat yang sama, menganga ke arah Lao Xu yang berdiri di depan meja kasir.

Yo!” Ibu Gu Fei yang berdiri di belakang konter berteriak, “Apa ini karena jatuh atau berkelahi ah?”

“Jatuh,” jawab Gu Fei dengan satu kata.

“Kakimu patah?” Lao Xu berjalan mendekat, “Apa ini sangat serius?”

“Tidak terlalu serius.” Gu Fei melirik Lao Xu, “Kenapa kau ada di sini?”

“Xu-laoshi datang untuk kunjungan orang tua-guru.” Ibu Gu Fei membawakan sebuah kursi, “Cepat dan duduklah ba. Kakimu seperti ini tapi kamu tidak mengatakan sepatah kata pun padaku, dan masih punya waktu untuk berlarian kesana kemari.”

Gu Fei duduk tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.

°

Mengetahui fakta bahwa Lao Xu ada di sini, Jiang Cheng merasa bahwa mereka mungkin tidak bisa makan kue beras goreng untuk sementara waktu. Ditambah, Li Baoguo bahkan pergi mencari Lao Xu hari itu… dia merasa bahwa dia harus melarikan diri sebelum Lao Xu menyadari keberadaannya dan bereaksi.

Tapi saat dia berbalik dan mengangkat tirai untuk pergi, Lao Xu sudah memanggil namanya: “Jiang Cheng! Kebetulan sekali, aku juga mencarimu.”

“Ah.” Jiang Cheng tidak menanggapi saat dia dengan paksa mengangkat tirai pintu masuk dengan tangannya.

“Tunggu aku sebentar. Setelah ibu Gu Fei dan aku selesai berbicara, ayo kita bicara sebentar,” Lao Xu dengan cepat menambahkan.

Jiang Cheng tetap diam.

“Tunggu aku sebentar.” Lao Xu berkata sekali lagi, “Tunggu aku sebentar.”

Jiang Cheng menghela napas. Nada suara Lao Xu benar-benar membuatnya tidak bisa pergi secara paksa, jadi dia hanya bisa – dengan sedikit depresi – menyetujuinya.

Ketika Lao Xu dan ibu Gu Fei pergi ke halaman belakang, dia mengambil bangku dan duduk di samping Gu Fei.

Tapi saat dia duduk, Lao Xu berjalan kembali ke toko: “Gu Fei, bagaimana kalau kamu ceritakan apa yang terjadi dengan kakimu nanti?”

“Aku jatuh.” Gu Fei menjawab, “Aku mengendarai sepeda motorku terlalu cepat dan terbalik.”

“Apa lukanya serius?” Lao Xu berjalan di depannya dan memeriksanya.

“Tidak apa-apa.” Gu Fei menarik kakinya, sedikit tidak terbiasa.

“Jangan bergerak.” Lao Xu melambaikan tangannya, kemudian meluruskan pinggangnya kembali, “Kamu boleh izin selama beberapa hari ba, tetap tinggallah di tempat tidur.”

“… Oh.” Gu Fei mengangguk.

Lao Xu menghela napas sebelum menuju ke halaman belakang lagi.

°

“Kenapa Lao Xu datang?” Jiang Cheng bertanya dengan berbisik.

“Dia harus mengunjungi kita semua sebulan sekali.” Gu Fei menjelaskan, “Fokus utamanya adalah pada keluargaku, kemudian Wang Xu dan yang lainnya.”

“Dia benar-benar tidak kenal lelah.” Jiang Cheng mengerutkan alisnya. Lao Xu memang seseorang yang dapat dihitung sebagai orang yang berdedikasi pada karirnya, “Aku pikir dia akan berbicara denganku tentang Li Baoguo sebentar lagi.”

“Sepertinya begitu. Selain Li Baoguo, sebenarnya tidak ada hal lain yang membuatnya mengkhawatirkanmu.” Gu Fei tertawa.

“Li Baoguo datang ke sekolah beberapa waktu yang lalu, dan berbicara dengan Lao Xu entah tentang apa.” Jiang Cheng mengulurkan kakinya, sedikit kesal, “Aku heran apa yang sebenarnya dia pikirkan?!”

Gu Fei tidak menanggapi dan hanya mengulurkan tangan untuk menepuk kakinya beberapa kali, “Dengarkan saja apa yang Lao Xu katakan nanti, jangan biarkan itu mempengaruhimu. Bukankah hanya rumahmu yang ternyata bukan rumahmu, dan putranya yang ternyata bukan putranya?”

“En.” Jiang Cheng melirik ke arah halaman belakang dan menggenggam tangan Gu Fei.

“Setelah kamu selesai berbicara dengan Lao Xu, telepon aku, dan kita akan pergi membeli kue beras goreng untuk kita sendiri.” Kata Gu Fei.

“Aku sudah tidak bisa makan lagi, nafsu makanku hilang.” Jiang Cheng menanggapi.

“Kalau begitu kamu bisa melihatku makan.” Gu Fei menjawab, “Aku masih memiliki nafsu makan.”

“Brengsek.” Jiang Cheng tertawa.

°

Lao Xu berbicara dengan ibu Gu Fei di halaman belakang selama sepuluh menit sebelum kembali ke toko.

“Xu-laoshi, bawalah kotak susu ini ba.” Ibu Gu Fei mengambil sekotak susu, “Terima kasih atas kerja keras Anda dan maaf sudah merepotkan selama ini.”

“Tidak perlu, tidak perlu, tidak perlu…” Lao Xu dengan tergesa-gesa melambaikan tangannya, “Ini adalah sesuatu yang harus saya lakukan. Itu bagian dari tugas saya sebagai guru, jadi tidak perlu terlalu kaku. Saya sudah sangat senang ketika orang tua murid dapat bekerja sama dengan saya.”

“Saya pasti akan bekerja sama, saya pasti akan bekerja sama.” Ibu Gu Fei mengulangi sambil terus memasukkan susu ke tangan Lao Xu, “Xu-laoshi, Anda …”

“Ibu.” Gu Fei berdiri dan memblokirnya, “Aku akan membawanya ke rumah Xu-laoshi besok.”

“Tidak masalah kalau begitu.” Ibu Gu Fei mengangguk.

“Saya benar-benar tidak membutuhkannya, sungguh, saya tidak membutuhkannya.” Lao Xu mundur sambil memberi isyarat kepada Jiang Cheng, “Jiang Cheng, ayo, ayo! Ayo kita bicara di luar!”

Jiang Cheng berdiri, melirik Gu Fei, dan Gu Fei memberinya senyuman sambil membuat isyarat “telepon aku” dengan tangannya.

Jiang Cheng mengangguk, lalu berbalik untuk mengikuti Lao Xu keluar.

°

Lao Xu berjalan di depan, dan dia mengikuti di belakangnya tanpa mempercepat langkahnya untuk mengejar ketertinggalan.

Meskipun itu seperti yang dikatakan Gu Fei, bahwa bahkan jika mereka membicarakan masalah mengenai Li Baoguo, itu bukan masalah besar karena yang ada hanyalah fakta bahwa dia menolak untuk pulang, mood baik yang dia alami sepanjang pagi ini benar-benar lenyap.

Jika bukan karena senyuman Gu Fei tadi, dia benar-benar ingin berpaling dan diam-diam melarikan diri dari Lao Xu.

“Ayo kita minum teh dulu.” Lao Xu berbalik dan berkata.

“Mau minum teh?” Jiang Cheng agak terkejut. Jumlah dirinya datang kesini benar-benar sudah tidak bisa dihitung sedikit, dan meskipun dia tidak pernah mengamati dengan cermat karena semua yang ada di sekitar area ini hanyalah etalase kecil yang kotor3, dia masih dapat memastikan bahwa tidak akan ada tempat semacam kedai teh di sekitar sini.

“Kamu tidak suka minum teh?” Lao Xu terkekeh, “Masuk akal, kamu adalah anak muda ma4. Aku cukup terkejut ketika Gu Fei membawaku untuk minum teh di sini untuk pertama kalinya, ternyata anak nakal itu suka minum teh juga ne.”

“Ah.” Jiang Cheng sedikit heran.

Dia hanya tahu bahwa Gu Fei suka memasukkan lemon ke dalam airnya tetapi sama sekali tidak menyadari bahwa Gu Fei juga suka minum teh.

Dia tiba-tiba merasa sedikit tidak senang.

Bahkan Lao Xu tahu tentang itu, jadi kenapa dia tidak?

Jika Lao Xu tahu, bukankah Bu Shi Hao Niao dan Li Yan juga akan tahu? Apakah Ding Zhuxin juga tahu? Apakah Wang Xu juga tahu …

Jiang Cheng dengan tenang sedikit berdecak.

Ck, ck.

°

Tempat minum teh ini adalah toko teh yang kotor. Jiang Cheng telah melewati tempat ini beberapa kali tetapi tidak pernah mempedulikannya sebelumnya.

Sebenarnya, itu juga bukan kedai teh khusus, hanya meja teh kecil di dekat jendela. Pada dasarnya, tempat ini memang menjual teh; kalau kamu ingin minum teh, maka kamu hanya perlu membeli dan merebusnya.

Lao Xu meminta sepoci teh hijau dan keduanya duduk. Jiang Cheng tetap diam, sedikit linglung, dan baru sadar kembali ketika Lao Xu menuangkan secangkir teh untuknya. “Terima kasih, Xu-zong.”

“Apa kamu puas dengan hasil ujian tengah semestermu?” Lao Xu bertanya.

“Tidak ada masalah ba,” Jiang Cheng menanggapi.

“Jika kita berbicara tentang standar Si Zhong, kamu sudah melakukannya dengan sangat baik.” Lao Xu berbicara sambil membuka kantong teh untuk dirinya sendiri, “Tapi ketika aku memeriksanya, kecuali nilai sempurna yang kamu dapat di tiga mata pelajaran itu, mata pelajaran lain memiliki beberapa nilai yang dikurangi. Ini tidak mengacu pada skor totalmu di mana kamu kehilangan nilai dari tulisan tanganmu yang jelek …”

“Jadi Anda ingin memberitahuku tentang masalah ini?” Jiang Cheng bertanya, “Jika ujian akhir memiliki pertanyaan seperti sebelumnya, maka saya yakin akan bisa unggul dari tempat kedua dengan seratus poin lagi.”

“Kamu bajingan.” Lao Xu tertawa, mengeluarkan folder dari tasnya dan meletakkannya di depannya, “Ini adalah lembar soal yang aku dapatkan ketika aku meminta seorang teman untuk mengambil beberapa dari sekolah lamamu, tetapi karena aku tidak mengenal siapa pun di afiliasi sekolah menengah, yang aku dapat berasal dari San Zhong5. Namun, poin utama dan kesulitannya aku yakin hampir sama…”

Jiang Cheng tercengang.

“Kalau kamu punya waktu, kamu bisa mengerjakan beberapa dan mengatur waktunya sendiri.” Lao Xu melanjutkan, “Setelah kamu selesai, aku akan menemukan beberapa guru untuk membantu mengoreksinya untukmu. Bagaimana menurutmu?”

Jiang Cheng tidak pernah menyangka bahwa Lao Xu akan bertindak sejauh ini untuknya. Dia membuka folder itu dan di dalamnya memang ada banyak koleksi lembar soal untuk berbagai mata pelajaran.

“Xu-zong, Anda …” Dia menatap lembar soal itu, tidak tahu harus berkata apa.

“Ini adalah sesuatu yang memang harus aku lakukan, sangat normal.” Lao Xu menjelaskan, “Aku sudah berada di Si Zhong selama bertahun-tahun, dan ini pertama kalinya aku melihat bibit yang bagus sepertimu, jadi tentu saja aku harus melakukan yang terbaik.”

“Terima kasih.” Jiang Cheng dengan hati-hati menutup folder itu.

°

“Ada hal lain yang ingin aku bicarakan denganmu ah, dan kamu mungkin sudah menebaknya juga.” Lao Xu memulai, “Tentang situasi keluargamu ne, aku tahu kalau kamu tidak bersedia untuk berbicara tentang hal itu, dan aku juga tidak akan memaksa. Tapi, aku hanya khawatir hal itu akan memengaruhi studimu, jadi aku harap kamu bisa…”

“Apakah Li Baoguo menemui Anda dan mengatakan ini?” Jiang Cheng mengangkat pandangannya untuk menatap Lao Xu.

“Dia tidak bicara terlalu banyak, hanya tentang kamu yang menolak untuk pulang.” Lao Xu menghela napas, “Dan juga dia sakit… Jiang Cheng ah, aku bisa mengerti kalau kamu tidak ingin pulang, tapi aku berharap kamu bisa berbicara dengannya tentang hal itu. Bagaimana kalau…”

“Aku mengerti,” Jiang Cheng memotongnya.

Lao Xu juga tidak melanjutkan dan hanya menghela napas lagi: “Aku benar-benar tidak dapat memahami bagaimana Li Baoguo bisa memiliki seorang putra sepertimu.”

Jiang Cheng menatapnya.

“Li Hui, putra tertuanya,” Lao Xu menggerakkan tangan saat dia memulai. “Dulu juga adalah muridku. Ai, dia benar-benar tidak melakukannya dengan baik, benar-benar tidak melakukannya dengan baik.”

Jiang Cheng tertawa. Meskipun dia benar-benar tidak mau bertanya, dia masih membuka mulutnya: “Dia sakit?”

“Masalah dengan paru-parunya ba. Dia juga sangat tidak jelas saat membicarakannya,” jawab Lao Xu.

“Oh.” Jiang Cheng mengerutkan kening. Dengan bagaimana Li Baoguo terus-menerus merokok dan minum setiap hari, dan batuk dari pagi sampai malam, dia tidak akan merasa aneh sama sekali jika paru-parunya benar-benar bermasalah.

Tapi apa sebenarnya “masalah paru-parunya” itu?

°

Lao Xu tampaknya tidak banyak bicara pada hari itu dibandingkan dengan biasanya; setelah dia selesai berbicara, dia minum dua cangkir teh, dan membiarkan Jiang Cheng pergi.

“Aku akan pergi setelah aku selesai minum.” Lao Xu berkata, “Kamu bisa pergi dulu ba. Ayahmu… pihak Li Baoguo, aku masih harus berkomunikasi dengannya.”

“En.” Jiang Cheng berdiri, mengambil folder dari Lao Xu, dan membungkuk kepada Lao Xu, “Terima kasih Xu-zong.”

Ai.” Lao Xu mungkin tidak pernah menemui siswa yang akan bersikap seperti ini sebelumnya, jadi dia buru-buru berdiri dan juga membungkuk kembali kepadanya, “Sama-sama ba, sama-sama ba.”

Jiang Cheng berbalik dan keluar dari kedai teh… tidak, toko teh itu.

Saat dia perlahan berjalan menuju toko keluarga Gu Fei, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Gu Fei.

“Kamu sudah selesai?” Gu Fei mengangkat teleponnya.

“En.” Jiang Cheng menjawab, “Apa kamu bisa pergi sekarang?”

“Kue beras goreng?” Gu Fei bertanya.

“Tentu saja.” Jiang Cheng menjawab.

“Kalau begitu datanglah dan bantu aku ba,” kata Gu Fei.

°

Jiang Cheng mendekat dan menopang Gu yang Pincang keluar toko. Kemudian, dia menggunakan sepeda untuk memboncengnya menuju ke tempat kue beras goreng, sebelum membantunya masuk ke toko dan duduk.

“Sangat menyenangkan.” Gu Fei tersenyum, “Ketika aku mengalami patah tulang dan sejenisnya sebelumnya, aku harus turun dari tempat tidur dan berdiri sendiri. Tidak ada yang mengajakku makan sebelumnya.”

“Itu karena tulangmu bahkan tidak patah sekarang, oke?” Jiang Cheng menundukkan kepalanya untuk memindai menu, bersiap untuk memesan beberapa hidangan dingin juga. Setelah membaca sekilas dua kali, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya lagi, “Berapa kali kamu patah tulang sebelumnya?”

“Tidak banyak.” Gu Fei menjawab, “Hanya tiga atau empat kali. Tidak ada yang sangat serius, aku hanya menyebutkannya untuk membuat kamu merasa sedikit kasihan padaku.”

“Brengsek.” Jiang Cheng memelototinya, lalu beberapa detik kemudian, dia tiba-tiba menekan satu tangan ke dadanya, dan menggunakan tangan lainnya untuk menopang dirinya di dinding di sebelahnya. Dia kemudian menjalin alisnya, dan dengan ekspresi sedih, dia berkata dengan susah payah, “Sa… sa-sangat menyakitkan… Aku m-mungkin tidak bisa… menahannya lagi…”

“Astaga … sial.” Gu Fei pertama kali dikejutkan olehnya dan hendak berdiri, tetapi ketika dia akhirnya bereaksi, dia tertawa begitu keras sehingga dia bahkan tidak bisa memegang cangkirnya dengan benar lagi, “Keterampilan aktingmu luar biasa, aku hampir menelepon 120.”6

Xueba seperti kami memiliki cukup banyak keterampilan, kamu tidak perlu merendahkan diri.” Jiang Cheng memperbaiki postur tubuhnya dan terus melihat-lihat menu. Dia tidak memiliki keberanian untuk memberitahu Gu Fei bahwa ia pernah mencoba membuat ekspresi ini sebelumnya di depan cermin ketika dia sedang sikat gigi – ia sudah lama menyempurnakannya7

°

Setelah mereka selesai makan kue beras, mereka benar-benar kenyang. Saat dia membawa Gu Fei kembali ke apartemen sewaan miliknya, dia terus menggosok perutnya saat dia mengendarai sepeda.

Ketika mereka tiba di bawah, Gu Fei turun dari sepeda dan menunggunya untuk menopangnya. Dia mengamati sekeliling mereka dan menemukan bahwa tidak ada satu pun bayangan, dia langsung menuju ke gedung itu sendiri: “Apa kamu memiliki kecanduan?”

Gu Fei tersenyum saat dia mengikutinya.

Ketika Jiang Cheng baru saja membuka pintu, Gu Fei memeluknya dari belakang, menempel di samping telinganya, dan mengusapnya: “Aku baru saja makan kue beras goreng, jadi aku tidak akan menciummu.”

“Ah.” Jiang Cheng tertawa, “Aku bahkan makan beberapa acar sayuran…”

“Ayo kita saling berpelukan saja ba.” Gu Fei mengaitkan pintu kamar dengan kakinya, menutup pintu, dan mendorongnya ke kamar tidur, mengusap bahunya saat mereka berjalan, “Kamu bau kue beras goreng.”

“Brengsek.” Jiang Cheng menggunakan sikunya untuk mendorongnya menjauh, “Enyahlah.”

“Tidak apa-apa, aku cukup pandai mengatasi berbagai hal.” Gu Fei mengusapnya beberapa kali lagi.

Ketika Jiang Cheng berbalik, dia tersandung di tempat tidur di sebelahnya, dan Gu Fei memanfaatkan situasi itu untuk menekannya, mengirim keduanya jatuh ke tempat tidur.

“Sial, tempat tidur ini terbuat dari papan kayu!” Jiang Cheng menggunakan tangannya untuk menjatuhkan diri di atas tempat tidur, “Kalau kamu menggunakan sedikit lebih banyak kekuatan lagi, kita berdua bisa langsung menghantam lantai!”

Gu Fei tersenyum tetapi tidak berbicara. Dia menundukkan kepalanya dan mencium bibirnya, lalu berbaring di atas tubuhnya dan membenamkan wajahnya di lekuk lehernya, tidak bergerak.

°

Tak ada satu pun dari mereka bergerak setelah itu. Begitu saja, mereka tetap diam.

Gu Fei bisa mendengar suara napas Jiang Cheng, dan bahkan bisa merasakan denyut nadi lembut di lehernya.

Sesuatu yang sedikit ajaib adalah bahwa meskipun mereka berada di ruang terpencil ini, dan terperangkap dalam keadaan di mana dua orang saling berpelukan erat, imajinasinya secara tak terduga tidak menjadi liar8.

Dia hanya merasa sangat nyaman, dan hanya ingin tetap seperti ini selamanya – hanya melamun tidak masalah, tertidur juga baik-baik saja.

Ai.” Jiang Cheng memasukkan tangannya ke dalam pakaian Gu Fei dan mengusap pinggangnya, “Aku baru sadar kalau kamu lebih berat dari kelihatannya.”

“Apa kamu tidak bisa bernapas?” Gu Fei bertanya.

“Aku masih bisa bertahan selama satu menit lagi.” Jiang Cheng menjawab.

Gu Fei terkekeh, lalu membalik untuk berbaring di sampingnya.

“Apa kamu akan menyalin pekerjaan rumahku nanti?” Jiang Cheng berbalik menghadapnya, menatapnya.

“En.” Gu Fei juga membalikkan wajahnya, “Bagaimana denganmu?”

“Aku harus mengerjakan beberapa soal.” Jiang Cheng menjawab, “Lao Xu benar-benar menemukan beberapa lembar soal untukku,”

“… Brengsek.” Gu Fei sedikit tercengang, “Lao Xu benar-benar …”

“Sebenarnya, Pan Zhi sudah membantuku menemukan beberapa lembar soal, dan aku sudah menyelesaikan semuanya.” Jiang Cheng menjelaskan, “Tapi aku masih harus mengerjakan lembar soal yang dari Lao Xu.”

“En.” Gu Fei duduk.

“Bantu aku mengawasi waktunya.” Jiang Cheng menyelinap dari tempat tidur dan duduk di depan meja di sampingnya, “Kamu bisa duduk …”

“Aku akan menyalin pekerjaan rumahmu setelah kamu selesai mengerjakan lembar soalmu.” Gu Fei bersandar di kepala tempat tidur sambil menatapnya, “Kamu bisa menulis ba.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Jiang Cheng mengulurkan tangannya untuk menggosok ujung hidungnya.

°

“Aku akan menjadi pengawas9 untukmu,” kata Gu Fei.

Jiang Cheng tidak menanggapi, mengambil satu set lembar soal, menundukkan kepalanya, dan mulai memeriksanya.

Gu Fei melirik waktu, menetapkan satu jam untuk Jiang Cheng, dan kemudian menoleh untuk diam-diam menatapnya.

Jiang Cheng memiliki kemampuan yang sangat dia kagumi, dan itu adalah kemampuan untuk membenamkan dirinya dalam sesuatu dalam satu detik. Mulai dari detik dia menundukkan kepalanya dan mendaratkan pandangannya di lembar soal, seolah-olah segala sesuatu di sekitarnya telah menghilang.

Keadaan semacam ini adalah sesuatu yang belum pernah dilihat Gu Fei pada orang lain – termasuk Yi Jing.

Jiang Cheng benar-benar istimewa. Dia benar-benar berbeda dari orang lain.

Berbeda dari orang lain.

Gu Fei menutup satu mata dan melihat profil samping Jiang Cheng melalui lingkaran yang dia bentuk dengan tangannya.

Sejak penanya mendarat di atas kertas, aura yang menyelimuti tubuhnya yang secara tidak sadar akan menarik tatapan seseorang tampak dipenuhi dengan kebanggaan – jenis kebanggaan yang akan membuat seseorang ikut bangga kepadanya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. Klub Tianya (天涯) — salah satu forum Internet paling populer di Cina. Didirikan pada 14 Februari 1999. Klub ini menyediakan layanan BBS, blog, mikroblog dan album foto. Politisi telah menggunakan Klub Tianya untuk berkampanye, menjawab pertanyaan dari konstituen, dan mengumpulkan dukungan.
  2. 意犹未尽 Idiom yang berarti belum sepenuhnya mengekspresikan diri, ingin melanjutkan sesuatu, dll.
  3. 灰头土脸
  4. ma (嘛) partikel modal yang menunjukkan jeda untuk penekanan.
  5. San Zhong (三 中) – Sekolah Menengah No. Tiga.
  6. 120 — Di China, hubungi 120 kalau kamu membutuhkan perawatan darurat dan pertolongan pertama.
  7. (炉火纯青) Idiom. “Api kompor berwarna biru murni” yang berarti bahwa sesuatu telah mencapai puncak kesempurnaan, mendapatkan hasil yang mereka inginkan, menguasai keterampilan seseorang hingga sempurna, dll.
  8. 想入非非
  9. 监考 — orang yang memantau siswa selama ujian.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments